Saturday, August 29, 2009

In the Heat of the Day, I found You

Bourke Street, Melbourne. Where we often went to find refuge during summer


Mid-summer of 1998. It was 5pm. Melbourne had its usual 40 degrees of heat again. That heat at mid-day has left us with a misty and stuffy afternoon. So stuffy that we found it hard to breathe as we walked out of the department store where we found refuge for a couple of hours. We walked through the shaded part of Bourke Street. Too weak to actually go anywhere else. But we had no choice but going to the station. These shopping centres were closed at 5, leaving us with the only option that we tried to avoid all day: home.

And sunset would not arrive until 9. Just imagining it made us felt very dizzy. Thinking of spending the next 3 to 4 hours at home was no comfort. In this heat, home was a place of trapped heat. It was just going to make it harder for us to cope.

And there was no one at home. There was no warmth of togetherness that we so long to feel. To anticipate the fast breaking time together with family or friends. There was just each of us, caring for ourselves. But still, home we went, as we had no other choice.



We separated at Flinders Street station. My two other friends went to other directions. My train arrived first. Luckily, it was an air conditioned train. At least for the next 15 minutes, I was safe.

Reaching my destination, walking onto the heat again, was a bit of a nightmare after that short cooling sensation. But again, I was lucky. My flat was located at a street where it was shaded in the afternoon. So I walked slowly home, as I did not feel that I still had the energy to walk.

Then, home. An empty home. Not sure where my flat mate was. I walked in, and quickly slumped myself at the sofa. Too tired to move anywhere else. Lucky we opened all windows (and lucky we lived in Melbourne. If it was Jakarta maybe I would find the flat empty of our things too), so the heat was not as bad as I thought it would be.

And maybe because I was too tired, I fell asleep on that sofa. When I woke up, it was only 8. The sun still glared, but softer now. I performed ablution, and took my afternoon prayer. After that I took a bath, picked up a book, and just sat quietly in the quiet flat reading my book till it was time to break my fast.

And breaking the fast was no feast. I only made some fried chicken and stir fried veggie the day before. So I ate that left over. But, it was the tastiest, most wholesome food, that I ever tasted in my mouth. And the word ‘Alhamdulillah’ meant a lot more to me.



Alhamdulillah I could experience what it was like to fast in a country where you are not protected. People eat and drink as they please around you. There are no curtains in the restaurants (which I always find silly to do, why cover the most natural activity of human being, even in fasting month?). There is no mosque in the neighbourhood that tells you each time for prayer, so you have to hang on to your own watch.
Alhamdulillah I could experience what it was like to fast far away from my family. What it was like to wake up in that early morning, alone. And to break my fast, alone.
Alhamdulillah I got to experience fasting in such a heat. 40 degrees in almost more than half of fasting month that fell in that year’s summer. And yet, I felt a strange cool sensation in my heart.

Through these experiences, I found You, Allah. I was happy to feel You by myself. In those lonely nights, that scorching heat, the stinging feel of the sun on my skin when I tried to go out during mid-day, that food that I cooked by and for myself. All those experiences, meant a lot more to me than just mere prayers. And I was never one who was diligent with my prayers, You know that. But still, I could feel You that time, through what I did, alone. And for that, thank You.

Though I was with friends, it was also the loneliest Idul Fitri that I ever experienced in my entire life, but it was also the most beautiful one. I missed visiting my grandparent’s and father’s graves (and he was only gone two months before. You know I refused to go back home, despite my mother’s broken voice on the phone a week before Ramadhan begging me to come, because I avoided the reality of not seeing him at home during Ramadhan and Idul Fitri. Oh how I missed him that time). I missed my mother and sister and family, and yet, strangely, I felt very happy. You were there with me when my forehead touched the ground in the Idul Fitri prayer. You were smiling with me. Strangely, that was the first time I felt like crying in my Idul Fitri prayer. I guess I never really felt You. Or I was just too ignorant or too busy with myself to feel You. But that time, I felt You.


And now every Ramadhan, I remember those experiences. And every time I cannot help feeling more grateful for what I have year to year since then.

So again, thank You.


(That Ramadhan in Melbourne, was the most memorable, because I was a minority, and I was ‘alone’. Somehow the experience was ‘blown up’ simply because I was not ‘protected’. Until now I never understand, for instance, why restaurants have curtains during fasting month, when there are others who need to eat, and eating is human. Why cover it up?. Fasting, just like every other ‘ibadah’, is personal, it cannot be forced on others. Nor should we force others to bend their backs just because we are doing our ibadah. It is between you, and your Creator. And by doing so, hopefully, we find our ways to The Creator. Whatever we do. That’s my view)

(RIRI)

Thursday, August 27, 2009

Kalau Proklamasi Diserahkan Pada Soekarno – Hatta..



Kalau proklamasi diserahkan Pada Soekarno-Hatta, tentu tanggalnya bukan 17 Agustus. Dan bisa jadi bukan di tahun keramat itu, bukan 1945. Orang tua akan cenderung hati-hati dan mengatur nafas, saat melihat kekacauan yang serba mendadak. Seperti rontoknya petualangan militer Jepang di Pasifik. Republik compang-camping ini, dengan segala kekisruhannya waktu itu, mana bisa menopang kemerdekaan yang membutuhkan disiplin dan komando?

Hatta dan Soekarno mempercayai perjuangan gradual, persiapan kemerdekaan secara bertahap. Para administrator dan birokrat dilatih pelan-pelan, tentara didisiplinkan, dan kemerdekaan diakui melalui meja perundingan. Apalagi beberapa hari sebelumnya, komandan militer tertinggi Jepang telah menitahkan: Indonesia akan memperoleh kemerdekaan (dari Jepang) tak lama lagi. Titah itu dikeluarkan di Dalat, Vietnam, dan Soekarno-Hatta berada di sana.

Lalu, mengapa harus menempuh resiko, dan bertualang dengan melakukan manuver proklamasi? Bisa-bisa memancing reaksi berdarah yang tak perlu, bukan? Make sense. Rasional. Dan jangan salah, bagaimanapun keduanya besar dalam pendidikan Belanda dan Jepang.

Butuh beberapa orang gila, dan biasanya mereka anak-anak muda, untuk meyakinkan pemimpin yang cenderung berpikir serba hati-hati dan kalkulatif -- macam Soekarno-Hatta -- bahwa proklamasi harus dibacakan secepatnya, seberapapun biayanya! Bagi anak-anak muda ini, kemerdekaan bukanlah tanda-tangan yang lahir dari diskusi-diskusi rasional di ruang sidang. Kemerdekaan adalah luapan jiwa. Kemerdekaan adalah pernyataan kesadaran. Kemerdekaan adalah partisipasi rakyat jelata!

Kemerdekaan juga masalah momentum. Power vacuum yang tercipta oleh kekalahan Jepang, dan keterlambatan Sekutu mendarat di Jawa, hanya akan terjadi dalam hitungan hari. Kalkulasinya sangat sederhana: bertindak cepat, atau sejarah tak akan berpihak lagi.





Anak-anak gila itu bekerja dengan serba cepat. Beberapa orang memutuskan menyekap Soekarno dan Hatta di Rengas Dengklok. Menerbangkannya secara tergesa-gesa di pagi-pagi buta 16 Aug, termasuk mengangkut keluarga mereka. Beberapa anak muda lain menanti disana: menantang debat jagoan-jagoan tua ini. Isi kepala mereka tuntas: merdeka sekarang, dan tidak menanti!

Yang lain melakukan lobi-lobi serentak. Termasuk mendekati beberapa tokoh kunci Jepang yang cenderung mendukung kemerdekaan, ketimbang menyerahkan kembali ke Sekutu. Belakangan mereka mendapati seorang marsekal simpatik yang mensuplai mereka dengan tempat yang aman dari endusan Kempetai dan update terakhir perang Pasifik Raya. Kediamannya nanti akan menjadi bagian sejarah: tempat koordinasi teknis terakhir proklamasi. Living room-nya, menjadi saksi pengetikan naskah proklamasi.

Kelompok ketiga menyisir pulau Jawa, mengabarkan rencana proklamasi yang niatnya hendak dibacakan di Jakarta. Mereka membayangkan, maklumat ini akan diikuti oleh pengambilalihan kekuasaan (dari Jepang) dan pengibaran bendera secara serentak di kota-kota utama pulau Jawa. Ketika mereka meninggalkan Jakarta 14-Aug, mereka tak memiliki kepastian: apakah teman-teman mereka di Jakarta berhasil melobi Soekarno Hatta atau gagal samasekali.
Tapi target mereka bulat dan tunggal: pengibaran bendera dan upacara proklamasi secara serentak di Indonesia, tanggal 16 Agustus. Bukan 17 Agustus..

Sayangnya, tak mudah juga meyakinkan orang tua. Apalagi jika orang-orangnya secerdas Soekarno dan Hatta. Meski kedua jenius ini akhirnya bertekuk lutut pada kegilaan junior-junior-nya, proklamasi tetap terlambat satu hari dari yang semula direncanakan. Bukannya 16 Agustus. Proklamasi baru bisa dibacakan pada keesekokan harinya, jam 10 pagi, di sebuah bangunan sederhana di Jalan Pegangsaan.

Lucunya, beberapa kota, misalnya Cirebon dan Pekalongan, gagal menerima update keterlambatan ini. Pengibaran bendera dan upacara kemerdekaan tetap dilangsungkan sehari sebelumnya, 16 Agustus.



[...]


Saya dan beberapa teman dekat saya, dalam hati selalu merayakan dan menganggap proklamasi terjadi pada tanggal 16 Aug. Dan bukan di tanggal formal yang keramat itu: 17. Ini adalah semacam penghormatan pada peranan kaum muda di tahun-tahun paling menentukan bagi Repoeblik ini: 1945-1949. Sebuah peranan yang banyak dikesampingkan, dan bahkan dilupakan. Tenggelam dibawah dominasi satu dua nama besar..

Kecuali Soekarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, dan beberapa yang lain, Anda mungkin tidak akan pernah mengenal puluhan pemuda-pemuda sinting ini, seandainya nama mereka disebutkan di buku-buku sejarah. A band of rascals, yang ketajaman dan keberaniannya membuat mereka merencanakan dan mengeksekusi salah satu persekongkolan paling penting bagi Indonesia. Yakni kemerdekaannya sendiri.

Sampai sekarang saya bersyukur, merekalah arsitek proklamasi, dan bukan dua nama besar yang sama-sama kita hormati itu. Dalam diri anak muda, memang ada kegilaan. Di saat yang sama, juga ada kejujuran dan keberanian, yang melahirkan sejenis kepekaan akut pada momentum.

Menyerahkannya pada Soekarno-Hatta, pengumuman Merdeka bisa saja baru akan terjadi dua bulan lagi, dua tahun lagi, atau malah sebagaimana versi Belanda: di tahun 1949, ketika Konferensi Meja Bundar berhasil disepakati.

Tapi alhamdulillah, sejarah menempuh jalan lain. Jalan yang diterabas oleh kaoem moeda.

16 Agustus.
Jayalah Repoeblik! Hidup anak muda! Merdeka!

---

Dicatat dengan penuh rasa, ditemani oleh ingatan yang kabur pada dua buku yang pernah amat mencekam masa-masa mahasiswa saya: “Java In A Time Of Revolution: Occupation and Resistance 1944-46” oleh Benedict Anderson, dan “Nationalism and Revolution in Indonesia” oleh George McTurnan Kahin.


(CIP - sebuah note di Facebook tanggal 16 Agustus 2009)

La Ilaha Ila Allah, Rumi, dan Odading..

Puasa selalu mendorong saya untuk membuka kembali buku-buku agama di rak lantai atas yang cenderung berdebu karena jarang tersentuh. Diantaranya adalah buku-buku tentang kumpulan hikmah dalam kisah-kisah ringan..

Salah satu diantara kisah kisah kuno penuh hikmah yang paling berkesan, menceritakan kehidupan para siswa di sebuah padepokan teologi di Jawa Tengah, di abad pertengahan. Di sana siswa dididik filsafat dan teologi keagamaan, agar kelak menjadi para pendakwah dan pemikir yang merintis penyebaran Islam ke seluruh penjuru Jawa.

Mereka mendalami logika Aristotelian, sekaligus mempelajari perdebatan Tahafut antara Ibn Rusyd dan Al Ghazali. Mereka terampil membuktikan keberadaan Tuhan menggunakan nalar maupun perumpamaan. Mereka mempelajari sifat-sifat Allah dan bagaimana membahasakannya ke alam pikir Kejawen. Mereka menguasai teknik debat untuk bertanding dengan para Mpu. Mereka mengenal baik aturan-aturan fikih, dan bagaimana membuat orang terpesona pada agama baru yang demikian trend di Tanah Jawa waktu itu..

Pendek kata mereka adalah anak-anak muda terpilih. Para perintis.

Syahdan, salah satu diantara para siswa, Ngabdi, adalah yang paling bodoh diantara mereka. Ngabdi selalu lambat memahami persoalan teologi yang pelik, terbata-bata dalam perdebatan, dan gagal merujuk nama Imam-Imam besar pada tiap argumen-argumennya. Ngabdi betah menempati nilai terendah di tiap ujian.

Meski terbelakang, Syaikh Puteh, demikian nama guru besar di padepokan ini, mencintai dan bersikap amat sabar pada Ngabdi. Siswa lain tak mengerti. Menurut mereka, dengan logika dan referensi yang tumpul, Ngabdi bukanlah calon paderi perintis sejati.

Sampai tibalah hari itu, ujian terpenting dari yang paling penting. Saat tiap siswa diminta menjelaskan makna La Ilaha ila Allah..

Fulan menjelaskan dengan luar biasa, menyebut semua aliran yang dikenal di dunia Islam, untuk memaparkan keluasan konsep “Tiada tuhan selain Tuhan”. Siswa yang lain memaparkannya dalam bahasa yang puitis. Dan semua, dengan caranya sendiri, menghasilkan argumen-argumen tentang Tuhan – dalam sudut pandang Islam – secara mengesankan.

Tibalah giliran Ngabdi.

Ketika kepadanya ditanyakan makna La Ilaha Ila Allah, si Bodoh gemetar. Dari mulutnya, tak sepatah katapun keluar. Dan yang ia lakukan selanjutnya, adalah berlari ke pekarangan padepokan, mendaki pohon kelapa paling tinggi dan segera menjatuhkan dirinya ke bawah.

Semua siswa terkejut, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Ngabdi. Mereka berteriak menghambur keluar, untuk mendapati teman mereka terbaring di tanah, memar-memar kesakitan. Diantara erangan, Ngabdi menjelaskan secara lirih: bahwa La Ilaha Ila Allah adalah menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan tanpa syarat. Kata-kata tak bisa menggambarkan kedalamannya. Dan tindakan adalah segalanya...


[…]

Kisah Ngabdi, mengingatkan saya pada sebuah bait milik Rumi. Dalam kumpulan “Permata Zikir” itu, buku yang dulu sering saya keloni saat masih kost, Rumi bilang:

A spiritual warrior, first give a way his bread,
But when the light of devotion strikes upon him,
He give away his life..

Seorang pejuang ruhani, pertama-tama akan membagikan harta benda miliknya.
Namun saat cahaya penghambaan menyentuhnya,
Ia menyerahkan hidupnya (untuk pelayanan)..





[...]

By the way, menyerahkan hidup, tak selalu berhubungan dengan tema-tema besar: seperti melayani kemanusiaan, atau menghadapi maut demi keadilan. Bisa juga kejadiannya sehari-hari. Dan ngomong-ngomong tentang kost, di tempat inilah salah satu pengalaman keagamaan paling berkesan pernah saya alami. Sesuatu yang amat sehari-hari. Kejadiannya Ramadhan juga, belasan tahun yang lalu, waktu saya masih kost di Bandung.

Di tempat kami waktu itu, salah satu makanan populer yang banyak ditenteng pedagang kaki lima, blusukan diantara gang-gang kost mahasiswa, adalah “odading”. Orang Jawa menyebutnya bolang-baling. Odading ini biasanya muncul di pagi menjelang orang berangkat kerja, atau sore hari saat anak-anak membutuhkan cemilan. Odading demikian dicintai karena murah, hangat, dan mengenyangkan..

Jadi bunyi teriakan “ooooo-daaa-ding…!” adalah musik yang sangat akrab dengan telinga saya tiap pagi dan sore, kecuali di saat Ramadhan. Mengapa demikian?

Ternyata di bulan Ramadhan, para pedagang odading menyesuaikan ritme jualannya dengan jadwal sahur dan buka kebanyakan orang Jawa Barat, yang mayoritasnya Muslim. Mereka biasanya mulai keluar jam satu dinihari dan bertahan sampai sekitar jam empat pagi menjelang shalat subuh.

Dapat Anda bayangkan situasinya, bukan hanya mereka harus bekerja ekstra keras dengan keluar rumah tengah malam. Omset dagangan mereka -- menurut pengakuan salah satu pedagang yang pernah saya ajak ngobrol -- pun tinggal sepertiga dari biasanya. Ya bayangkan saja, siapa mau sahur atau berbuka dengan ganjel perut bernama odading? Tidak cukup bergizi untuk sahur, dan kurang nikmat untuk berbuka.

Meski demikian, bapak itu tersenyum, waktu saya tanya: “Apa tidak sebal, Pak, tiap Ramadhan tiba? Kan dagangan Bapak jadi tidak laku?”

Jawaban bapak Odading, sungguh diluar dugaan kepala saya yang waktu itu penuh dijejali oleh rumusan agama dan filsafat:
“Ya, enggak atuh, Den! Ramadhan kan nikmat. Lagian kalau Allah menciptakan perut, Allah pasti bertanggung-jawab untuk membuatnya kenyang. Nyamuk saja, makhluk leutik, bisa kenyang. Apalagi saya, Den, makhluk paling mulia di sisi Tuhan. Allah pasti kasihan sama saya. Meski tidak gampang, rejeki Insyaallah teh, selalu ada….”

Jawaban sederhana penuh penghayatan itu membuat hati saya gegar. Bapak ini tentu tidak hidup serba berkecukupan. Namun demikian, kesulitan hidup tak mendorongnya berbuat zalim, menggerutu, atau putus asa.

Alih-alih, si Bapak tetap menjalani hidup dengan penuh keyakinan akan rahmat dan rejeki Allah, yang mengalir melalui benda paling tak penting, bernama odading, yang ia jajakan itu.

Pendek kata, ia menyerahkan diri dan hidupnya, sebagaimana bait puisi Rumi, dan kisah si Ngabdi di atas.





Semenjak kejadian itu, tiap saya mendengar teriakan “oooooo-daa-ding….!” -- atau penjaja makanan lain, di jam-jam yang paling muskil -- yang saya dengar adalah himne tentang keagungan Tuhan. Tasbih, tahmid, dan takbir. Bunyi yang keluar dari kerongkongan si bapak pada dini hari sepi nan gulita itu, mungkin memang nama dari makanan paling remeh yang pernah dibuat manusia: odading.

Tapi nafas yang menggerakkannya untuk tetap yakin pada rejeki Allah, bahkan pada dini hari buta, adalah kepasrahan pada Tuhannya..

Maha Suci Tuhan! Salam Odading! Salam Ramadhan!


(CIP)

Hafalan Shalat Delisa - sebuah perenungan

Salah satu kebiasaan buruk saya, adalah ke toko buku, beli beberapa buku sekaligus, dan tidak membacanya. Kadang-kadang malah saya lupa pernah beli buku apa saja. Itu yang terjadi pada buku yang satu ini.


Hafalan Shalat Delisa. Dikarang oleh Tere-Liye (nama samaran si penulis yang artinya untukmu, dari bahasa India). Saya beli buku ini sudah agak lama. Waktu lihat judulnya, saya tertarik beli karena satu hal: ini cerita yang diangkat dari bencana tsunami di Aceh. Bencana yang besar untuk negeri ini, bahkan dunia. Dan saya memang selalu tertarik membaca cerita-cerita yang terkait dengan bencana. Saya pernah terobsesi dengan bencana Titanic, Pompei, Kratakau, Dieng. Selalu banyak kisah kemanusiaan dari bencana, dan saya selalu ingin tahu ada cerita apa disitu. Waktu saya lihat buku ini, saya ingin tahu ada kisah apa dengan anak kecil bernama Delisa yang jadi pusat ceritanya.

Tapi waktu sudah di rumah, saya tidak tega membacanya, takut nangis. Akhirnya, dia teronggok begitu saja di lemari buku. Dua hari yang lalu, karena kurang kerjaan, saya bongkar-bongkar lemari, dan saya temukan buku ini.

Saya baru selesai membacanya 2 hari yang lalu. Dan, saya tersentuh.


Ini adalah novel fiksi, berlatar belakang bencana tsunami di Lhok Nga, Aceh. Delisa adalah seorang anak perempuan berumur 6 tahun. Bungsu dari empat bersaudara. Abi, ayahnya, bekerja di kapal tanker, yang pulang 3 bulan sekali.

Saat tsunami menghempas Lhok Nga, Delisa sekaligus kehilangan Ummi dan ketiga kakaknya. Ia juga kehilangan kaki kanannya. Beruntung Abi masih menemukannya. Dan seperti banyak penduduk Aceh setelah tsunami, mereka tiba-tiba jadi sebatang kara.

Awalnya saya kecewa dengan bab pertama novel ini. Saya berharap menemukan banyak bahasa Aceh, dan bukan slang gaya Jakarta waktu novel ini cerita tentang interaksi Delisa dengan ketiga kakaknya. Tapi makin lama, novel ini jadi makin menarik.

Dia jadi sarat dengan pesan tentang memahami penderitaan, tentang kebahagiaan dalam kesederhaan, bahkan dalam ketiadaan – rumah, anak, istri, suami, ayah, ibu, harta benda. Kedengarannya sih tema-tema basi, tapi membayangkan ini dari kacamata anak umur 6 tahun, jadi bikin saya terharu. Misalnya, waktu Delisa berpikir: Orang dewasa itu rumit ya? Sering berpikiran yang aneh-aneh. Memandang matahari tenggelam yang indah ini saja, Abi kok menghela nafas panjang? (waktu Abi dan Delisa memandang sunset di pantai Lhok Nga, halaman 165).

Atau waktu Delisa dan ayahnya mendatangi kuburan massal, dan dia tanya dimana kuburan Ummi dan kakak-kakaknya. Abi-nya bilang tidak tahu, karena banyak orang yang dikuburkan disitu. Delisa malah bilang, ”Kalau sebanyak itu, berarti Kak Fatimah, Kak Zahra, dan Kak Aisyah tidak akan kesepian disana, Bi” (halaman 165).

Luar biasa, kalau melihat sesuatu dengan kepolosan anak-anak!.

Novel ini juga dipenuhi catatan-catatan kaki, perenungan si penulis tentang kejadian yang diceritakan. Menariknya, ini novel fiksi, tapi si penulis kelihatannya hanyut dengan ceritanya. Seperti sedang hanyut dengan kejadian nyata, merenunginya, dan menuangkannya jadi pelajaran buat pembaca. Catatan-catatan kaki itu, berisi pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan, tentang keniscayaan, penderitaan, pembalasan. Cukup bermakna. Walau ada beberapa yang saya kurang setuju. Saya selalu merasa terganggu kalau sebuah kejadian yang tidak menyenangkan ’dituduhkan’ pada Tuhan bahwa Dia sedang menghukum kita. Kalau Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dia kan juga tidak mungkin Maha Pemarah, kan?. Anyway...saya masih mencari jawaban buat yang satu itu.

Walaupun di beberapa bagian novel ini terkesan kedodoran, dan saya agak kecewa tidak menemukan satupun anekdot khas Aceh dalam banyak obrolan di buku ini, but it’s worth reading. Lumayan untuk melewatkan hari sambil belajar sesuatu dari penderitaan orang lain, walaupun itu fiksi.

Dan rasanya berguna juga disimpan untuk anak-anak. Biar mereka tahu pernah ada bencana besar melanda negeri ini. Dan biar mereka belajar dari anak yang lain tentang menghadapi kesulitan. Walaupun itu fiksi.

(RIRI)

Monday, August 24, 2009

Trusted Advisor: does it exist in the realm of patient – medical doctor relationship?

I learned about the concept of being a trusted advisor from a training on how to understand client’s needs better. I unfortunately forgot to copy the book so I could not really check the exact definition.

But in essence, being a trusted advisor means that you put off your own agenda and put the other person’s views and thoughts and worries in front you, and being ready to REALLY listen. It is not about offering immediate solution, rather, advising and discussing a solution based on the other party’s needs and issues.


by David H. Maister (Author), Charles H. Green (Author), Robert M. Galford (Author). A very useful book - tells you a lot on how to gain real trust, very applicable to everyday life


I loved the concept. I found it very useful in doing my role as a research consultant.

I thought about it when thinking about what I have to go through now.


A confusing journey

Since last year, my husband and I have been trying to have a second child. Not because many people have asked us, “So when are you going to have another child?” (such an annoying habit!), but more because Tara has been asking for a little one with whom she can play with. We also feel that it is about time we have another one. We often feel sorry thinking that Tara is alone with the adults at home.

So we have been going back to the doctor. I intentionally went back to the same doctor and hospital where we have successfully had Tara, because they know my history. We had Tara not without difficulty. I have a physical condition where my body actually reacts negatively to Cip’s sperm. A condition called anti-sperm antibody. Before we had Tara, I had to take some medicine and undergo some procedure to suppress the antibody. And Alhamdulillah, finally we had a baby.

I was under the impression that I would just need to undergo the same kind of procedure when I went back to the hospital. It turned out, that the doctor who handled my case was no longer in this hospital. He was being replaced with another doctor, who offered another solution, while all I actually wanted to do was just to repeat the previous procedure. My reasoning was very simple: if it worked 4 years ago, what reasons should it not work now? (unless God has forbidden it to work this time). But, this doctor said that with the advancement of technology and all, the new treatment is better. Of course, since we had no idea about medical science, we went along with it.

This treatment is called PLI (don’t ask me what it stands for, forgot already). The procedure involved taking Cip’s blood, and a process where the white blood cells are taken and injected to me. This is supposed to lower down the level of antibody that I have, to a more acceptable level that it will no longer kill the sperm. Each procedure cost us more than a million rupiah. And as a start, I had to take three shots within a period of six months (one shot every two months).

And so, we did it. After two shots, I had to take a blood test to check the level of the antibody. Nothing happened. It was still as high as ever which meant, my body still kills Cip’s sperm. Then the doctor told me that I had to go through other tests to check my body’s resistance to protein, all kinds of protein. He said this test should help me to avoid food that may trigger the level of the antibody to get high. So together with the PLI shot, a certain diet will work better to lower it down.

I underwent the test. It is the same test that you will have to undergo for testing allergic reactions. They tested me for 40 things, by making 20 pricks on the skin of each of my arm. From egg yolk to horse’s fur (or, the essence of it, they said it was produced in France), cockroach’s essence to carrot’s (yes, apparently these have high protein content. Sometimes it is useful to undergo these ridiculous procedures to know some things!).

The result: I was not allergic only to horse’s fur (huh?, and what is the relevance anyway since I am not a jockey). And I had to avoid all kinds of food – from tomatoes to seafood. Pretty annoying. But, I went through the diet. Caused me a lot of headache every single meal time. Still, I thought what was the harm in trying.

Then another PLI shot after a month of that crazy diet. Then another blood test. Another same condition – nothing happened to my antibody. And finally I said to Cip, that’s it, I am not going through any of these stupid procedures anymore. And I also refused to go back to the hospital, or to the same doctor.

Not long ago, a friend of mine referred me to another doctor in another hospital. We went there last week. He offered two options: insemination (which he said is still risky with my condition since it is still possible that the antibody kills the sperm once it is inside), or in-vitro fertilization. He explained to us why these options. His explanation made sense. But still, I could not help wondering why on earth none of these doctors, ever looked at my history?.

Why didn’t they ask me to show them what I went through in the past, how we got Tara?. Why didn’t they even bother to check on the medicine list that I took in the past?. There must have been something that worked there. Why didn’t they put off their own agenda? (of course I understand in-vitro will produce more money both for the doctor and hospital!).



Is this what we have to accept and live for as patients?

I may not be this annoyed if not for the fact that we had gone through something in the past, and we believed (God willing) that it worked. But these doctors, just did not pay attention to it. Which makes me wonder, so why should hospitals have patient’s status anyway?. If it is not going to be looked at again, when patients come back to the hospital with the same condition, then why bother spending money on those pieces of paper, wasting God knows how many trees, for those statuses?. Is it about wanting to protect own's pride, rather than looking at other doctor's treatment to a patient that may have worked in the past?. Or is it simply, for economy reason? (because the protein test that I took, was done in the clinic apparently owned by the doctor from whom I got PLI treatments. Pretty obvious, huh?).

And why bother ‘interviewing’ patients if there is no REAL interest in the first place to know what he or she has gone through in the past?. I felt that there was sympathy in the last doctor in that other hospital that we went to. But still, I think he could have asked more questions, than just right away putting those two (expensive) options on the table for us.

I guess none of us will ever understand on what basis do doctors give options to patients. And I guess different from marketing research where clients (think) they understand what their options are, most of the time, we don’t know nor understand what our options are in the face of medical science. Nevertheless, should we be taken for granted for our lack of knowledge in the field?.

And I am not sure if the concept of Trusted Advisor will ever be applied in the field of medical science here in Indonesia. I don’t think it is difficult to apply it. Though I have experienced how hard it is to put off my own agenda when I am with clients, still, the result of trying to do it, is immense. Being really ‘trusted’ is expensive in human relationship, and it goes a long way, for a long time.

Right now, I just don’t know how and who to trust when it comes to solving my medical condition. I hope soon I will know.


(RIRI)

Thursday, August 20, 2009

Songs that Tara learned at kindergarten

(and everytime she told me a new song, I always ask her, "Can mommy sit in your class, sounds so much fun!!")

(this is a song with the rhyme of ‘are you sleeping, are you sleeping, brother John’)

I am growing
I am growing
Up, up, up
Up, up, up

Bigger and taller
Smarter and happier
Aigazel, here I come


(and this one is totally new - I think the teachers must have created it)

Look to the window
And who do I see
Bunda, ayah (or any other names that she wishes, depending who she sees in front of her), and other friends of me

Hello, hello, hello, how are you
I’m fine, I’m fine
I hope that you are too

Cute songs, aren't they????.....can't wait to hear more of them....

Wednesday, August 12, 2009

Melayani orang lain = melayani diri sendiri

"Maaf ya bu", kata pramugari sebuah budget airline waktu saya berjalan keluar pesawat. "That's not good enough, jeng", kata saya dalam hati, dengan muka masam, masih jengkel.

Tiga bulan lalu, ke Kuala Lumpur, pulang pergi, naik budget airline (tebak sendiri airline apa, saya tidak mau bernasib seperti Ibu Prita). Dalam penerbangan pulang, anak saya minta Milo. Saya tunggu trolley penjualan makanan dan minuman.


Trolley berhenti di dua kursi di belakang kami, dikawal dua pramugari. Anak saya mulai colek-colek tangan saya,
"Bundaa, mana Milo-nya". Lalu trolley maju lagi. Berhenti agak lama di satu kursi di belakang kami, sudah dekat, pikir saya lega karena colekan tangan Tara yang makin rajin. Hahahihi pramugari - oh, bule ganteng di alley minta sesuatu. Salah satu pramugari ke belakang. Tiba-tiba, zuuuiiiing....trolley laju ke depan tanpa berhenti di deretan kami.

Tentunya anak saya menjerit,
"Minta Milo Bundaa!". Saya bilang, "Nanti ya, tunggu lewat lagi". Dan, setelah sebuah panggilan lampu pramugari yang sia-sia, sebuah lambaian tangan, dan akhirnya pengumuman persiapan mendarat, pramugari kembali ke tempat kami, dan berkata, "Oh maaf Milo kami habis". Begitu juga kesabaran saya, dan beraksilah sepasang bibir ini. Si pramugari minta maaf berulang kali.

Tadi sore, saya membeli tiket pesawat di sebuah travel agent di Radio Dalam.


Saya dilayani dengan baik. Sampai, saya mulai curiga: si mbak bertanya ke temannya,
"Malang kodenya apa sih?". Lalu, 10 menit hanya untuk sebuah kwitansi sederhana. 30 menit untuk usaha mencetak tiket, yang akhirnya dikerjakan oleh temannya setelah si mbak ini bertanya ketiga kalinya, "Ini maksudnya apa?". Dan 15 menit untuk usaha menggesek kartu kredit. Sebuah Teh Botol disuguhkan. Saya makin merengut. OK, it's been a long day and I didn't need it to be even longer.

Akhirnya saya ngomel juga. Setelah hampir sejam duduk manis, dan terpaksa membiarkan anak saya yang baru saja sembuh, capek menunggu di mobil. Teh Botol? Murah
banget waktu tunggu saya bagi mereka, ya.


Putting yourself in other people’s shoes

Saya cinta negeri ini. Sungguh. Tapi kejadian-kejadian tidak enak yang menyangkut pelayanan, sering membuat saya berharap sedang berada di tempat lain. Cip kadang-kadang menganggap saya galak. Tapi, kalau harus menunggu hampir sepanjang penerbangan Kuala Lumpur – Jakarta hanya untuk diberitahu barang yang saya minta, habis, apa iya saya kurang sabar?.


Memang tidak semua penyedia jasa seperti itu. Dan rasanya saya cukup toleran tidak mengharapkan semua sama, semua cepat. Yang sering membuat saya jengkel: membuat konsumen menunggu tanpa kejelasan. Buat saya itu dosa besar pedagang, apapun yang didagangkan. Dan makin besar dosanya di mata saya kalau yang didagangkan adalah jasa.


Si pramugari, menganggap senyum manisnya itu cukup untuk membayar kesalahannya. Iya bisa jadi cukup kalau saya lelaki, mungkin. Tapi saya waktu itu membatin. Coba dia yang duduk di tempat saya, bersama anak yang sangat doyan Milo, dicolek-colek berulang kali sambil bilang,
”Bunda mau Milo”, dan setelah segala usaha menarik perhatian pramugari, menunggu, cuma buat mendapatkan kata-kata, ”Milonya habis”.

Saya kadang heran. Sering mereka yang melayani orang lain, dalam bentuk apapun, tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan, bisa dialami oleh mereka sendiri. Mungkin tidak dalam bentuk yang persis sama, tapi miriplah.


Saya ingat salah satu pelatihan service excellence yang pernah saya ikuti. Salah satu ’menu’ training itu adalah, setiap kelompok yang dibentuk, harus melayani kelompok-kelompok lain pada saat makan. Dan pengalaman itu menarik sekali buat saya. Intinya adalah, kalau kita ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Kalau kita tidak ingin dicuekin, maka rasakanlah apa rasanya kalau dicuekin.
Put yourself in other people’s shoes. Atau kata kerennya, yang saya dapat dari jaman kuliah, berempatilah.

Saya tidak tahu berapa banyak perusahaan jasa memberikan pencerahan semacam itu pada pegawainya. Dan rasanya tidak perlu pakai sebuah lembaga pelatihan yang keren. Toh kita sendiri pasti mengalami dilayani.


Coba saja, berapa sering kita ngomel tentang pelayanan di bank. Atau, pelayanan di warung atau restoran. Lama sedikit, kita sudah teriak. Lalu, kenapa kok masih bisa tidak mengacuhkan perasaan orang lain saat kita sendiri melayani mereka. Masih bisa kita mencari-cari alasan, pada saat kita tidak bisa memberikan sesuatu yang dijanjikan dalam kontrak jasa kita dengan pelanggan. Coba kalau kita yang mengalami itu, pasti, ngomel. Atau paling minim, merengut.


Anyway, si travel agent masih lebih baik performanya di mata saya. Karena kemudian, mereka menawarkan mengambil pembayaran tiket ke rumah saya, setelah saya menolak diminta menunggu untuk percobaan penggesekan kartu di toko sebelah. Bolehlah usaha mereka. Yang satu lagi – sejak hari itu, saya bersumpah tidak akan lagi naik budget airline itu. Nah, worth it-kah itu untuk perusahaan?. Ya bisa saja bilang, ah cuma satu. Tapi bayangkan, 30 hari dalam sebulan, tiap hari ada satu pelanggan yang memutuskan seperti saya. Dan terjadi pula dalam setahun, bertahun-tahun.


Dan ada pula sebuah wabah yang namanya
word of mouth. Saya bisa bercerita tentang pengalaman saya kepada teman. Lalu teman itu, ke teman yang lain. Begitu terus. Nah, apakah worth it untuk citra perusahaan?.

Jadi, mari, kalau teman-teman merasa masih harus melayani orang lain dalam bekerja, cobalah ingat-ingat diri sendiri. Apakah teman-teman mau diperlakukan demikian?. Kalau jawabannya tidak, jangan lakukan. Kalau jawabannya iya, maka patut dicoba, dan lihatlah hasilnya.


Yuk, kita sama-sama terus belajar menjadi pelayan yang baik. Mudah-mudahan itu juga akan membawa pada Indonesia yang lebih baik.

(RIRI)

Mimpi, atau Tuntutan?

“Ri, kita ni santai banget nggak sih?”. Sering sekali Cip tanya seperti itu, kalau kami sedang ngobrol tentang pendidikan anak kami. Saya sih ketawa saja. Biasanya saya bilang, ”Ah udah deh. Lha wong ibu bapaknya aja underachievers gini. Apa adil kita tuntut Tara meraih bintang?. Kita buat aja dia sadar bahwa bermimpi itu baik, tapi jangan kita paksa dengan mimpi-mimpi kita”.

Nah, itu dia kan susahnya. Mimpi yang baik itu, jaman sekarang, yang kayak apa sih. Kalau saya sih hanya ingin Tara happy dengan pilihan yang dia buat sekarang, atau di masa depan. Saya cuma ingin dia hidup tanpa menyusahkan dirinya sendiri, and most importantly, orang lain. Dan tentunya, apa yang dia dapat, halal dan baik menurut nilai-nilai yang kami anut. Itu juga yang diyakini Cip.


Problemnya, sering sekali kami menemui
orang-orang yang lalu bikin kami berpikir, apa jangan-jangan mimpi kami terlalu sederhana, ya?.


Hari ini saya ikut parent orientation di sekolah Tara. Ini pertama kalinya saya ikut, karena baru ini juga Tara sekolah ’serius’ sekeluarnya dari taman bermain. Para orang tua dari anak-anak di TK A, dikumpulkan di satu ruangan. Guru di depan menjelaskan kurikulum sekolah, dan bagaimana mereka menjelaskan bahasa Inggris, angka dan Iqra’ kepada anak-anak. Saya suka dengan yang saya dengar. Tidak muluk-muluk.


Yang menarik, adalah pertanyaan beberapa ibu-ibu.
”Kenapa nggak diajarkan menghitung juga bu?”. ”Bagaimana ya caranya supaya anak
saya cepat lancar berbahasa Inggris?”. ”Eks-kul sekolah ini ada apa saja ya bu? Kenapa nggak ada bahasa Inggris juga ya?”. Saya jadi membatin, extended version dari pertanyaan suami saya tadi: waduh, apa kami yang terlalu santai, atau ibu-ibu ini yang kompetitif, atau memang dunia sudah sedemikian kejam pada anak-anak?. Bayangkan saja, anak-anak ini baru TK A, usia mereka baru 4 tahunan, dan sudah diharapkan berbahasa Inggris yang lancar?. Sudah diharapkan bisa berhitung?. Waduh, batin saya, ini saya harus kasihan pada kami orang tua, atau pada anak-anak ya?.


Baru-baru ini karena tugas dari kursus yang sedang saya ikuti, saya membaca sebuah artikel dari Mas Andreas Harsono, seorang jurnalis senior. Judulnya ’Republik Indonesia
Kilometer Nol’. Diterbitkan hampir 6 tahun yang lalu di majalah Pantau edisi Desember 2003, bercerita tentang Aceh. Salah satu kepingan cerita disitu adalah bagaimana pendidikan di Aceh merana gara-gara pertikaian dan konflik. Di kelas, Mas Andreas menuturkan keprihatinannya waktu itu. Bagaimana bisa pemulihan Aceh diharapkan baik, sementara pendidikan, sebagai sebuah sendi yang amat penting dalam kehidupan, berada pada titik yang paling mengenaskan.

Sementara pagi ini. Saya berada di ruang kelas yang apik, dihiasi dengan berbagai hiasan khas sekolah TK, dan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang bikin hati saya agak ciut. Bagaimana anak-anak dari sebuah Aceh, atau bagian lain negeri ini, akan bersaing kelak, di tengah segala keterbatasan mereka, menghadapi produk ambisi Jakarta?. Dan bagaimana pula ya, saya dan Cip, harus menghadapi konflik batin kami sendiri. Yang masih ingin membiarkan Tara
dengan segala kepolosan anak-anaknya, tidak dibebani banyak hal yang bersifat ‘pelajaran formal’. Tidak sekarang.


Akhirnya, untuk berdamai dengan diri sendiri, saya bilang pada diri saya, peduli setan. Biar saja kalau ada ibu-ibu yang ingin anaknya ikut eks-kul 7 hari dalam seminggu. Pasti selalu ada perbedaan antar manusia kan?. Toh so far Tara kelihatannya baik-baik saja. Saya juga percaya pada sekolah yang kami pilih. Sekolah yang tidak muluk-muluk memberikan PR atau hafalan kepada anak TK. Persyaratan utama saya waktu memilih TK. Selebihnya, asal saya masih punya waktu membacakan cerita buat dia, masih bisa ngobrol ngalor ngidul, masih bisa ajak dia ke panti asuhan dan taman kota tidak cuma ke mal,
dan dia masih senang dengan les nyanyinya yang penuh dengan main-main, cukup dululah.

Apakah dengan itu saya sudah mempersiapkan dia untuk bersaing kelak?. Mungkin sudah, mungkin belum. Perjalanan kami masih amat panjang. Jadi, nanti sajalah saya cari tahu.


sekarang, yang penting, dia senang ke sekolah...

(RIRI)

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts