Monday, April 17, 2017

Kerja yang dicinta, cinta yang dikerjakan



Melakukan hal yang baru. At least once, every year. Itu janji saya pada diri sendiri waktu ulang tahun ke 40. Kenapa?, yaaaa….sebagiannya karena saya tidak ingin cepat tua dan pikun. Melakukan hal baru kan artinya saya harus belajar dan beradaptasi. Katanya itu mencegah pikun.

Sebagiannya lagi karena saya memang aslinya pembosan. Saya tidak pernah tahan dengan rutinitas. Jadi saya harus selalu punya alasan untuk mendobrak rutinitas saya sendiri.

Tahun ini, saya lakukan itu dengan pertama kalinya memutuskan untuk ikut dive safari. 5 hari,  yang kerjanya tiap hari cuma diving di spot yang berbeda-beda, di Bali. Melakukan perjalanan sendiri, sudah sering. Tapi yang begini, ya baru ini.

Yang saya temukan, bukan cuma keindahan bawah laut Bali yang menawan. Mulai dari pulau Menjangan di Pemuteran, lanjut ke Tulamben, lalu Padang Bai.

Tapi yang juga asik, seperti biasa kalau saya jalan sendirian, ada cerita manusia yang sebetulnya ada di sekitar kita bahkan mungkin kita juga alami, yang selalu menarik untuk diselami.

--

Di sela-sela sesi penyelaman, saya ngobrol dengan dive guide yang nemenin sepanjang 5 hari itu.

Sempat kuliah di Universitas Hasanudin, jurusan Hubungan Internasional. Di semester 7, dia makin merasa bahwa ini bukan dunianya. Walaupun nilainya baik-baik saja, tapi dia merasa ‘nggak nyambung’ dengan apa yang dipelajari. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kuliah.

Karena senang main online games, temannya menawarkan dia untuk kerja di bidang IT. Dari situ, dia mengumpulkan uang dan mengambil kuliah D3 Informatika. Setelah beberapa lama kerja di Makassar, ada lowongan pekerjaan sebagai tenaga IT di sebuah resort di Bunaken. Iseng, dia coba, dan ternyata diterima.

Bekerja disana membuat dia juga jadi melihat banyak dive instructors. Sebagai pecinta alam (katanya selama kuliah dia lebih sering nongkrong di markas dan ikut kegiatan Mapala dibanding ada dalam kelas), dia tertarik. “Kayaknya kok asik gitu. Saya jadi pengen tahu. Terus saya bilang bos, boleh nggak kalau kerjaan saya udah selesai, saya ikut diving. Eh dibolehin”. 

Mulailah dia belajar. Dari Open water diver, Advanced dan terus sampai Master.  

“Bos saya terus bilang kok kamu kayaknya lebih pantes ngerjain ini ya. Mau nggak jadi dive guide dan instruktur aja. Ya saya nggak mikir lagi, saya iyain karena emang saya seneng. Lagipula saya juga mikir IT mau kemana sih. Saya kan cuma lulusan D3. Mau kuliah lagi udah males lah saya. Dan jadi dive guide juga bayarannya lumayan”. 

Dan sekarang, sudah lebih dari 15 tahun dia melakukan ini.

Seperti banyak pekerjaan, ada suka dukanya. Sebagai dive guide, dia yang harus bertanggung jawab pada keselamatan tamunya. Dan bagaimanapun juga menyelam membutuhkan kondisi fisik yang selalu prima yang kadang membuat dia berpikir bagaimanapun juga usia berpengaruh. Belum lagi selalu ada faktor alam pada setiap penyelaman yang seringkali sulit untuk diperkirakan sehingga dia harus selalu siaga.

Tapi sampai sekarang dia juga masih menemukan momen yang membuatnya senang misalnya kalau harus menemani tamu ke spot yang jadi favoritnya. 

“Kayak yang spot kita berikut ini nih mbak, itu favorit saya karena suka ketemu yang lucu-lucu aja. Saya juga seneng kalau tamunya bisa ketemu yang mereka cari. Jadi ya walaupun capek, tapi masih ada lah yang saya enjoy dari kerjaan ini. Tapi kalau ada yang bilang eh kamu enak ya ngerjain hobi tapi dibayar, ya saya bingung juga. Hobi kalau udah jadi kerjaan kan ya sama aja kayak kerjaan yang lain. Ada tanggung jawab disitu, udah nggak bisa lagi dibilang hobi”. 

Waktu dia bilang begitu, saya jadi ingat kata-kata ‘find your passion and make it your job’, or something around that line, yang pernah sangat populer. Entah apakah sekarang masih populer. Tapi sejak pertama saya dengar kalimat itu, saya tidak pernah setuju.

Passion itu melibatkan emosi. Emosi, paling sedikit delapan puluh persennya, melibatkan hati. Padahal, pekerjaan membutuhkan faktor logika yang sangat besar karena ada unsur profesionalitas dan tanggung jawab disitu. Persis seperti yang dibilang si Pak dive guide itu.

Jadi alih-alih bilang bahwa itu adalah passion si dive guide ini, saya sih bilang bahwa dia beruntung bahwa akhirnya menemukan apa yang dia senang lakukan, dan lalu dibayar untuk itu.

Dan memang tidak bisa dipungkiri, bahwa bekerja di bidang yang sangat kita senangi itu melegakan. Dive guide saya mengakui itu. “Tetap capek dan ada beratnyalah. Tapi ya seneng karena paling nggak saya nggak ngerasa terpaksa ngelakuin ini”. 

Itu, adalah rejeki.

--

Cerita lain bergulir dari dive guide lainnya yang saya temui waktu harus berbagi kapal dengan 2 kelompok tamu lain.

Seorang perempuan. Bahasa Inggrisnya bagus sekali. Dia kebetulan menemani tamu yang kedengarannya dari Perancis. Dengar dia berbincang dengan tamunya saya sudah menduga ini harusnya bukan orang yang sekedar belajar bahasa Inggris demi jadi guide.

Selesai diving, baru saya sempat ngobrol.

Ternyata dia lulusan UI, fakultas MIPA jurusan Biologi. Melanjutkan S2 di Queensland, jurusan Biologi Kelautan.

Kembali ke Indonesia, cita-citanya adalah menjadi peneliti laut. Melamar ke LIPI, dan tidak diterima dengan alasan yang menurut saya teramat sangat konyol. 

“Di LIPI itu mbak, kalau ada 2 kandidat yang kemampuannya sama, tapi satu perempuan dan satu lagi laki-laki, yang akan diterima ya yang laki”, katanya.

“What?, kok konyol, atas alasan apa?”, tanya saya. 

“Nggak tahu juga ya. Mungkin karena lebih mudah kali ya buat laki-laki untuk ditempatkan dimana aja, termasuk tempat terpencil”.

“Lho tapi kalau udah ngelamar jadi peneliti kan udah tahu dong harusnya resikonya, mau dia perempuan atau laki. Iya gak sih?. Aneh banget”, seperti biasa, saya selalu nyolot kalau dengar masalah ketidaksetaraan seperti ini.

Sambil ketawa, dia, “Ya gitu lah mbak kenyataannya. Terus saya sempat kerja di NGO setahun. Wah selama itu kerja saya cuma berantem sama kantor pusat. Terus saya lihat ada dive center ini, saya coba ngelamar, diterima. Orang tua saya sih protes, ngapain sih kamu udah S2 malah cuma jadi dive guide. Ah akhirnya saya bilang mereka lho kenapa, pays very well, better than jadi peneliti, dan hidup di Bali jauh lebih enak dibanding di Jakarta yang bikin pusing”. 

Waduh…ini mah rejeki kuadrat, kalau ada ‘tinggal di Bali’ in the equation, batin saya.

Tapi dengar ceritanya saya juga sedih.

Indonesia mungkin sudah kehilangan peneliti handal yang punya dedikasi tinggi. Perempuan muda ini kelihatan sekali cerdas, dengan kemampuan bahasa yang sangat handal. Entah sudah ada berapa orang seperti dia, yang terlempar keluar dari dunia penelitian Indonesia yang sebetulnya sangat butuh tenaga ahli, cuma gara-gara alasan yang (buat saya sih) tidak masuk akal.

Tapi ya mungkin dengan keberadaan dia di dunia pariwisata, malah ada untungnya juga. Dengan pengetahuan yang dia punya, dia malah bisa menjaga supaya tamunya punya pengetahuan tentang apa yang dilihat. Dan dia juga ikut aktif di usaha tempat kerjanya menjaga lingkungan. Pengetahuan dia tentang laut, tetap sangat berguna.

--

Dua orang dengan dua cerita yang serupa.

Dua-duanya sama-sama masih menyelami dunia yang mereka cintai, di tempat yang kaya dengan semua yang mereka suka.

Dua-duanya sama-sama melalui ‘perjalanan’ sebelum akhirnya mendarat di tempat mereka sekarang.
Dua-duanya tidak berangkat dari premis, “Saya kerja untuk cari uang”, tapi dari melakukan hal yang mereka sukai, mereka menemukan bahwa itupun bisa menghidupi.

Do what you love and the money will follow, kata sebuah quote entah oleh siapa.

Tidak semua orang bisa seberuntung itu. Tapi menurut saya, semua orang harusnya berusaha untuk menemukan jalan itu. Karena kerja, mau tidak mau kita lakukan lebih dari separo usia kita. Kalau bukan mengerjakan yang kita cintai, betapa tersiksanya…  

Menemukan yang kita cinta lakukan sekaligus bisa menghidupi, seperti menemukan jangkar. Perjalanan hidup terus bergulir, tapi kita tahu jangkar itu membuat kita aman dan tenang dengan apapun pilihan yang ada di depan kita

(R I R I)

Thursday, April 6, 2017

Berhentilah belajar jadi Tuhan



Sudah seminggu saya wara wiri ke beberapa penjuru Jakarta buat sebuah kerjaan yang mengharuskan saya ketemu dengan horang-horang kayah yang asetnya milyaran. Seminggu pula saya sudah dengar banyak sekali cerita menarik dari setiap individunya.

Salah satunya, 2 hari lalu.

--

Seorang bapak, usianya 55 tahun. Pengusaha yang asetnya sudah 2 digit milyar, anak sudah besar-besar. Gayanya santai, sangat terbuka, ramah, dan sangat rendah hati.

Cerita ngalor ngidul tentang bisnisnya, dan beberapa hal lain, saya tiba di pertanyaan tentang agama karena kebetulan si bapak menyinggung tentang keadaan saat ini yang dia gambarkan sebagai, “Ngeri sekali lho. Orang kenapa ya nggak ngebiarin aja orang mau beragama kayak apa, itu kan urusan masing-masing sama Tuhan”. 

Saya tanya si bapak memang agamanya apa. Dan bergulir sebuah cerita menarik.

Dia mengaku ‘mencari agama’ sejak remaja. Terlahir di keluarga muslim, dengan seorang nenek yang dia sebut sebagai Ustadzah, dan keluarga yang cukup taat, ternyata tidak cukup membuat dia merasa inilah agama yang benar.

Dia mencari dan belajar dari banyak orang dan ustadz, termasuk neneknya. Tapi masih ada ketidakpuasan di hatinya. Masih ada pertanyaan: apakah iya ini yang paling benar?.

Lalu di usia remaja, dia ikut-ikut teman yang kebetulan beragama Kristen. Dia pun kembali mencari orang-orang terbaik, pendeta-pendeta yang menurut orang paling bagus dalam mengajarkan pakem-pakem dalam alkitab. Tapi tetap saja dia merasa belum puas.

Kemudian dia belajar tentang agama Katolik. Dia menyebutkan nama beberapa pemuka agama Katolik yang saya juga pernah dengar katanya bagus. Tapi itupun, belum membuat dia puas. 

“Akhirnya, saya memutuskan, agama itu malah bikin orang jadi bingung. Si A menerjemahkan 1 ayat begini, nanti ngobrol dengan si B, lain lagi. Nah, gimana kita tahu mana yang benar?. Padahal itu kan ayat katanya dari Tuhan, tapi yang menerjemahkan siapa? Manusia kan?. Nah, gimana kita tahu mana manusia yang bener nerjemahinnya?. Jadi mulai dari situ saya mutusin ah nggak penting agama apa, yang penting saya percaya pada Tuhan yang sudah menciptakan saya, bumi dan langit. Itu saja. Sudah cukup. Jadi kalau ditanya agama saya apa, di KTP sih Kristen, tapi saya nggak beribadah dengan cara Kristen. Saya memilih untuk berdialog langsung dengan Tuhan, tanpa segala batasan kitab dan ayat. Dan terbukti kok, sejak itu, rejeki saya lancar. Saya nggak lagi ngerasa gelisah, tenaaang rasanya hati ini”.

Dan memang, sejak ketemu pertama kali, saya memang menangkap kesan teduh dan adem itu dari si bapak. Wajah yang sangat menenangkan. Seperti ketemu seorang bapak yang siap mengayomi, siap mendengarkan keluh kesah kita. Suaranya lembut. Dalam menjelaskan sesuatu  juga tenang, runut, dan tidak ada sedikitpun dari suaranya yang merendahkan. Tidak ada kesombongan disitu.

Beda pake banget dengan suara pak Ustadz dari masjid belakang rumah yang selalu teriak-teriak sampai saya kesel, dan bikin saya beberapa kali pakai sumbat kuping daripada terus merutuki baik suara maupun isi ceramahnya. Atau air muka so-called habib yang saat ceramah di mata saya terlihat beringas, tidak ada alur kasih sayang pada sesama pada ekspresinya.

--

Apa yang dia ceritakan, bagaimana dia menceritakannya, dan kesan yang ditinggalkan si bapak, melekat erat di benak saya.

Perjalanan seseorang mencari Tuhan-nya, yang buat saya sangat inspiratif. Saya tidak pernah melakukan itu. Sebagiannya sih jujur saja karena saya takut menemukan hal-hal yang akan membuat keimanan saya goyah. Rasanya saya belum cukup kuat untuk menghadapi kegoyahan semacam itu. Tapi sebagiannya lagi untungnya saya masih menemukan ada saja yang meyakinkan saya bahwa saat ini, menjadi muslim, masih bisa menjaga hubungan saya dengan Tuhan.

Tapi saya juga percaya bahwa ada begitu banyak jalan menuju Tuhan – dalam arti harafiah kematian maupun menemukan siapakah Tuhan dan bagaimana cara terbaik menjalin hubungan dengan Sang Pencipta. Saya tidak pernah terlalu peduli dengan segala aliran, dan jujur juga, agama. Buat saya, setiap agama mengandung kebenaran. Jadi bahkan apa yang dianut si bapak inipun, mengandung kebenaran.

Dan hubungan tiap manusia dengan Tuhan adalah sangat personal. Tidak ada yang berhak menghakimi dan melabel. Karena kitapun tidak tahu apakah Tuhan sebetulnya berkenan atau tidak dengan bagaimana cara seseorang menggamit dan berdialog dengan Dia. Jika benar ada hari akhir, dimana semua amal ibadah kita akan dinilai oleh Sang Empu, maka itulah kebenaran yang hakiki. Bukan disini. Bukan di bumi, and certainly bukan oleh kita.

Lalu kenapa kita tidak pernah belajar untuk berhenti belajar jadi Tuhan, ya?. Kenapa ada banyak sekali orang yang masih saja sibuk menilai tingkat keimanan dan kepercayaan orang lain terhadap Tuhan, padahal, siapakah dia? siapakah kita untuk melakukan itu?.

Mungkin yang baca tulisan ini ada yang membatin dalam hati: kebenaran kan sudah tergariskan dalam ayat-ayatNya, gue nggak lagi belajar jadi Tuhan kok, gue cuma ngikut apa yang ada dalam ayatNya.

Atau jangan-jangan ada yang membatin: itu si bapak sesat banget sih, masa kayak gitu.

Nah, saya juga ingin bertanya balik: tiap agama, dalam tiap kitabnya, jangan-jangan punya lho ayat yang sama yang menyatakan bahwa jalan itulah yang paling benar menuju Tuhan. Lalu, mau sampai kapan kita berdebat?. Kenapa tidak belajar legowo menerima bahwa perbedaan itu ada!. Buat apa terus melabel, terus mencari pembenaran atas ini dan itu, terus merasa gue yang paling benar?.

Whatever your religion is, bahkan ber-Tuhan atau tidak, itu kelak masing-masing dari kitalah yang harus bertanggung jawab. Dan jangan-jangan,  ya, nanti kita juga ditimbang berdasarkan pertanyaan ini: seperti apakah kamu sudah memperlakukan mereka yang berbeda, mereka yang juga Aku ciptakan tapi memilih jalan kepadaKu dengan cara yang berbeda denganmu?.

Nah. Kamu, gimana mau jawab pertanyaan itu?.

Siapa yang akan diberikan cahaya oleh Tuhan, dengan cara apa, ya terserah Tuhan, bukan begitu?

(R I R I)

Saturday, April 1, 2017

Buat sebuah Rasa


Adalah rasa
Yang membuat kita
Disebut manusia

Adalah juga rasa
Yang membedakan kita
Dari hewan yang digembala

Adalah rasa
Yang sejatinya
Memampukan kita untuk berkarya

Dan rasa
Yang harusnya
Membuat kita lebih peka

Tapi kemana dia
Kemana rasa yang harusnya kita pelihara
Supaya kita tidak menyakiti sesama

Kemana dia
Saat harusnya
Kita bisa berdiri bersama

Mungkin kita lupa
Bahwa dengan rasa
Harusnya semua jadi indah 

Rasa apa?
Ah, kamu tahu rasa apa
Atau rasa yang mana

Kalau kamu tidak tahu
Mungkin kamu harus bertanya
Pada para hewan yang dibelenggu

(Jogging di Bonbin Ragunan pagi ini, masih disesapi kesedihan. Kesedihan akan apa yang terjadi saat ini. Dan tiba-tiba, saya ingin mendoakan sebuah rasa…).
 
R I R I

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts