Wednesday, August 12, 2009

Mimpi, atau Tuntutan?

“Ri, kita ni santai banget nggak sih?”. Sering sekali Cip tanya seperti itu, kalau kami sedang ngobrol tentang pendidikan anak kami. Saya sih ketawa saja. Biasanya saya bilang, ”Ah udah deh. Lha wong ibu bapaknya aja underachievers gini. Apa adil kita tuntut Tara meraih bintang?. Kita buat aja dia sadar bahwa bermimpi itu baik, tapi jangan kita paksa dengan mimpi-mimpi kita”.

Nah, itu dia kan susahnya. Mimpi yang baik itu, jaman sekarang, yang kayak apa sih. Kalau saya sih hanya ingin Tara happy dengan pilihan yang dia buat sekarang, atau di masa depan. Saya cuma ingin dia hidup tanpa menyusahkan dirinya sendiri, and most importantly, orang lain. Dan tentunya, apa yang dia dapat, halal dan baik menurut nilai-nilai yang kami anut. Itu juga yang diyakini Cip.


Problemnya, sering sekali kami menemui
orang-orang yang lalu bikin kami berpikir, apa jangan-jangan mimpi kami terlalu sederhana, ya?.


Hari ini saya ikut parent orientation di sekolah Tara. Ini pertama kalinya saya ikut, karena baru ini juga Tara sekolah ’serius’ sekeluarnya dari taman bermain. Para orang tua dari anak-anak di TK A, dikumpulkan di satu ruangan. Guru di depan menjelaskan kurikulum sekolah, dan bagaimana mereka menjelaskan bahasa Inggris, angka dan Iqra’ kepada anak-anak. Saya suka dengan yang saya dengar. Tidak muluk-muluk.


Yang menarik, adalah pertanyaan beberapa ibu-ibu.
”Kenapa nggak diajarkan menghitung juga bu?”. ”Bagaimana ya caranya supaya anak
saya cepat lancar berbahasa Inggris?”. ”Eks-kul sekolah ini ada apa saja ya bu? Kenapa nggak ada bahasa Inggris juga ya?”. Saya jadi membatin, extended version dari pertanyaan suami saya tadi: waduh, apa kami yang terlalu santai, atau ibu-ibu ini yang kompetitif, atau memang dunia sudah sedemikian kejam pada anak-anak?. Bayangkan saja, anak-anak ini baru TK A, usia mereka baru 4 tahunan, dan sudah diharapkan berbahasa Inggris yang lancar?. Sudah diharapkan bisa berhitung?. Waduh, batin saya, ini saya harus kasihan pada kami orang tua, atau pada anak-anak ya?.


Baru-baru ini karena tugas dari kursus yang sedang saya ikuti, saya membaca sebuah artikel dari Mas Andreas Harsono, seorang jurnalis senior. Judulnya ’Republik Indonesia
Kilometer Nol’. Diterbitkan hampir 6 tahun yang lalu di majalah Pantau edisi Desember 2003, bercerita tentang Aceh. Salah satu kepingan cerita disitu adalah bagaimana pendidikan di Aceh merana gara-gara pertikaian dan konflik. Di kelas, Mas Andreas menuturkan keprihatinannya waktu itu. Bagaimana bisa pemulihan Aceh diharapkan baik, sementara pendidikan, sebagai sebuah sendi yang amat penting dalam kehidupan, berada pada titik yang paling mengenaskan.

Sementara pagi ini. Saya berada di ruang kelas yang apik, dihiasi dengan berbagai hiasan khas sekolah TK, dan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang bikin hati saya agak ciut. Bagaimana anak-anak dari sebuah Aceh, atau bagian lain negeri ini, akan bersaing kelak, di tengah segala keterbatasan mereka, menghadapi produk ambisi Jakarta?. Dan bagaimana pula ya, saya dan Cip, harus menghadapi konflik batin kami sendiri. Yang masih ingin membiarkan Tara
dengan segala kepolosan anak-anaknya, tidak dibebani banyak hal yang bersifat ‘pelajaran formal’. Tidak sekarang.


Akhirnya, untuk berdamai dengan diri sendiri, saya bilang pada diri saya, peduli setan. Biar saja kalau ada ibu-ibu yang ingin anaknya ikut eks-kul 7 hari dalam seminggu. Pasti selalu ada perbedaan antar manusia kan?. Toh so far Tara kelihatannya baik-baik saja. Saya juga percaya pada sekolah yang kami pilih. Sekolah yang tidak muluk-muluk memberikan PR atau hafalan kepada anak TK. Persyaratan utama saya waktu memilih TK. Selebihnya, asal saya masih punya waktu membacakan cerita buat dia, masih bisa ngobrol ngalor ngidul, masih bisa ajak dia ke panti asuhan dan taman kota tidak cuma ke mal,
dan dia masih senang dengan les nyanyinya yang penuh dengan main-main, cukup dululah.

Apakah dengan itu saya sudah mempersiapkan dia untuk bersaing kelak?. Mungkin sudah, mungkin belum. Perjalanan kami masih amat panjang. Jadi, nanti sajalah saya cari tahu.


sekarang, yang penting, dia senang ke sekolah...

(RIRI)

No comments:

Post a Comment

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts