Tuesday, November 29, 2016

Rekrutmen Gelap Mata


Saya kerja di industri riset pemasaran, alias marketing research, yang bisa dibilang minim talenta dan peminat. Industri ini, walaupun sekarang memang relatif lebih dikenal dibanding dulu waktu saya pertama kerja di dalamnya, tetap saja belum jadi sebuah industri yang bisa menarik banyak kandidat.

Jadi setiap kali saya harus cari talenta baru, lumayan besar usaha yang harus dilakukan. Mau cari senior? – dijamin nama yang muncul ya 4L: Lu Lagi Lu Lagi. Saking banyaknya orang-orang baru yang kurang mau bertahan di industri ini. Dan ya akhirnya saya memang harus berusaha cari orang-orang baru, bagaimanapun sulitnya, dilatih dengan benar, dan berdoa semoga shelf life-nya lebih dari 2 tahun. Aamiin. Begitu terus.

Kesulitan merekrut  bukan cuma baru sekarang saja saya alami, tapi dari dulu. Ini problem mengakar di industri ini. Tapi ya alhamdulillah sekarang tim saya lumayan lengkap, dan sedang baik-baik saja. Semoga baik-baik terus.

Tapi ada masanya, dulu saat saya masih kerja di korporat maupun juga waktu saya sudah berdiri sendiri, saya mengalami agak putus asa mencari kandidat baru. Nah, di masa-masa seperti itu, saya biasanya lalu sering melakukan kesalahan atas nama ‘gelap mata’ dan ‘kepepet’.

Biasanya dimulai dari: tim sudah mulai merintih kekurangan orang, usaha mencari kandidat sudah lama dan belum menghasilkan yang layak rekrut, energi mulai terkuras karena pekerjaan dan kelelahan mengelola emosi tim supaya tidak turun gara-gara kapasitas. Mulailah muncul pikiran, “Duh kalau ada yang bagus udah deh rekrut aja dulu, dilatih and deal with it”.

Nah yang bikin gelap mata kalau keadaan sudah begitu biasanya ya yang kasat mata. Latar belakang pendidikannya. Universitas negeri. IPK 3 (atau lebih). Bahasa Inggrisnya bagus. Hasil tesnya OK. Hasil interview not bad. Yuk mari kita jaring.

Saking ingin cepat dapat anggota tim, saya kadang lupa bahwa rekrutmen itu lebih dari itu. Saya lupa ada yang namanya rekam jejak.

Padahal, bahkan saat merekrut pemula pun, rekam jejak itu penting. Seperti apa dia waktu kuliah. Seperti apa kegiatan dia di luar kampus. Bagaimana dia beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam hidupnya. Contoh-contoh kasus seperti apa yang bisa dia berikan untuk meyakinkan kami bahwa dia akan cukup tangguh menghadapi tantangan kerja di industri yang bisa bikin orang jungkir balik ini kalau kurang canggih membagi waktu dan pikiran.  

Gara-gara mau buru-buru, ada kejadian-kejadian dimana kadang saya mengabaikan yang tersirat. Karena biasanya saat wawancara sebetulnya saya suka punya feeling. Ini orang ini akan bermasalah disini, disitu dan sebagainya. Tapi kalau sedang kepepet, biasanya saya abaikan itu. Ujungnya saat benar bermasalah saya biasanya cuma bisa self-toyor.  

Yang membayar siapa? – ya semua, satu tim. Dan kadang it can be very costly – dalam hal energi dan waktu terutama.

--

Terus kenapa tahu-tahu saya ngomongin rekrutmen?.

Saya sebetulnya sedang mengobservasi semua kandidat Gubernur itu waktu tiba-tiba saya kok teringat semua pengalaman buruk saya dengan rekrutmen gelap mata.

Sebetulnya kan proses yang kita sedang lakukan sama saja: kita sebagai rakyat akan merekrut seseorang yang akan mengelola uang pajak kita, membuat kota ini jadi lebih baik dan lebih layak untuk hidup, dan kita yang menggaji.

Pertanyaannya: kita ini cukup tahukah kompetensi macam apa yang harus dimiliki oleh seorang Gubernur?. Dan cukup tahukah kita pekerjaan dan tantangan macam apa yang harus dia penuhi kelak demi membuat kita-kita yang membayar gajinya ini senang dan ndak malah ngedumel?. Cukup terbukakah mata kita – mata yang di kepala dan mata hati, untuk bisa menilai dengan cukup netral kompetensi dan juga rekam jejak setiap kandidat itu?. Cukup punya aspirasi yang jernihkah kita tentang Jakarta harus jadi kota seperti apa?. Aspirasi yang masuk akal dan realistis lho ya, dengan jumlah penduduk yang minta ampun banyaknya dan tingkat ekonomi yang berjarak sedemikian rupa dari si miskin hingga si kaya.

Dan cukup jernihkah hati kita untuk bisa memilah antara KEPENTINGAN, dan KEBUTUHAN. Kepentingan, selalu berdiri atas nama uang. Dan saat uang berbicara, rasanya ada banyak hal yang bisa jadi kabur sekabur-kaburnya.

Sama saja dengan memilih kandidat untuk perusahaan. Merekrut seseorang yang masuk kriteria untuk kejar target misalnya – itu kepentingan banget menurut saya. Padahal jangan-jangan betul bahwa orang tersebut bisa ‘memecut’ timnya sehingga target tercapai, tapi dengan korban berjatuhan dimana-mana dengan beragam alasan dari kelelahan emosional sampai ada yang memilih untuk keluar. Sounds familiar? – oh come on...hal ini terjadi berulang kali di korporat. Let’s not hide.

Sementara, kebutuhan berdiri atas kepentingan orang banyak. Kalau di perusahaan, ada kepentingan tim, dengan menimbang juga anggota tim yang lain, budaya perusahaan dan sebagainya. Selain tentunya kebutuhan perusahaan untuk berkembang dan menghasilkan keuntungan. Mempertimbangkan kebutuhan adalah bicara dengan otak dan hati yang seimbang.

Bicara tentang Jakarta, cukup tahukah kita mana yang jadi kepentingan, dan mana yang kebutuhan – termasuk kebutuhan kita sebagai warga kota. Kepentingan untuk berdamai dengan para anggota dewan sehingga semua kantong terisi sama rata, atau kebutuhan kita untuk melihat bahwa dana dikelola dengan bersih dan bermanfaat?. Kepentingan untuk jadi orang nomor satu saja, atau kebutuhan kita akan sosok yang bisa jadi pemimpin yang bisa kita banggakan hasil kerja dan kemampuannya yang mumpuni?.

Mengobservasi apa yang terjadi sekarang ini, terlebih setelah tadi pagi membaca berita tentang hasil polling tentang posisi dari ketiga kandidat, saya sangat khawatir kita sedang gelap mata hanya gara-gara satu kejadian. Saya sangat khawatir saat ada pernyataan yang maknanya kurang lebih adalah keahlian dan kompetensi itu nomor dua yang penting dia BUKAN anu (daripada kena UU ITE, saya sensor sajalah).

Hilang pula kesadaran kita untuk melihat rekam jejak mereka. Hilang pula kejernihan berpikir kita untuk menimbang dia sebagai a whole person dan bukan cuma programnya yang kedengarannya bombastis fantastis. 
Jangan-jangan banyak orang lupa bahwa mereka ini akan digaji oleh kita lho. Lha kalau lalu memilih orangnya tidak berdasarkan kompetensi yang ajeg, milihnya hanya gara-gara emosi sesaat, artinya, kita rela dong uang kita terbuang percuma?. Wah, saya mah udah kapok mengalami yang begitu. Sudah terlalu banyak uang kita terbuang percuma oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang (katanya) terhormat. 

--

Semoga saja saya dan pikiran saya yang kadang kelewat naif ini salah. Semoga saja di bulan Februari nanti kita bisa memilih dengan kesadaran 100% bahwa ini adalah orang yang kita yakin bisa membuat kota ini jadi kota yang lebih baik.

Dan yang lebih penting ini: bisa meneruskan segala yang baik yang sudah dimulai dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. Sudahlah, jangan melulu punya pikiran buruk. Bagaimanapun juga, let’s admit dalam 2 tahun terakhir ada banyak hal yang membaik di Jakarta.

Lalu juga semoga orang itu punya komitmen untuk tetap bersih sehingga kita (eh salah, saya deh) tidak perlu ngedumel saat bayar pajak.  

Aamiiin.


(R I R I)

Tuesday, November 15, 2016

The lives we've touched



Waktu tadi pagi saya nyalakan telpon genggam dan melihat di beberapa grup WA seliweran berita duka tentang Prof. DR. Sarlito W. Sarwono, atau yang kami di Fakultas Psikologi UI kenal akrab sebagai Mas Ito, saya spontan menangis. 

Padahal, kalau dibandingkan dengan beberapa teman-teman lainnya, saya tidak pernah punya interaksi yang dekat dengan beliau. Saya hanya pernah jadi mahasiswi yang duduk di setiap kelas yang beliau ajar, dan setiap kali pula saya terinspirasi.

Ada banyak hal yang diam-diam saya pelajari dari Mas Ito.

Pertama: beliau adalah orang pertama yang membongkar persepsi di kepala saya bahwa lulusan psikologi nanti ujungnya jadi psikoterapis atau kerja di bidang kepegawaian atau HRD. Pandangan klasik itu terbongkar oleh kuliah perdana Mas Ito yang saya sekarang sudah lupa di semester berapa, mata kuliah apa. The mind forgets, but the heart remembers how it felt. Begitulah kurang lebih.

Beliau membuka mata saya bahwa pada hakekatnya psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia. Jadi, dimanapun ada manusia terlibat di dalamnya, psikologi bisa diterapkan. Dan nggak perlu punya ijin praktek sebagai psikolog untuk melakukannya.

Kedua: beliau mengenalkan filsafat dengan cara yang sangat membumi. Beliau dan Prof. Fuad Hasan adalah dua orang yang mengubah bagaimana saya memandang mata kuliah filsafat. Bukan lalu berarti saya jadi senang baca buku filsafat, tapi mereka berdualah yang berhasil membuat saya tidak merasa ‘bego-bego banget’ saat harus berurusan dengan mata kuliah filsafat.

Ketiga: beliau membuat saya tertarik mengamati gejala sosial.

Salah satu mata kuliah yang beliau ajar adalah Psikologi Sosial (dan juga Psikologi Seksual – yah ini namanya saja udah bikin saya rajin datang kuliah...dengan beliau sebagai pengajar, makin rajin lagi saya hadir karena cara beliau ngajar selalu seru). Gara-gara beliau saya memutuskan mengambil topik skripsi yang menurut saya akan punya relevansi yang jauh lebih besar buat komunitas tertentu dan bukan cuma jadi sekedar syarat buat lulus. Beliau menginspirasi saya buat menulis sebuah karya buat masyarakat, at least, buat teman-teman saya di fakultas begitu saya lulus.

Beliau memang nggak jadi pembimbing skripsi saya, padahal saya ngarep banget. Tapi bagaimanapun juga, ada banyak hal dari Mas Ito sebagai salah satu tokoh Psikologi Sosial yang punya pengaruh besar buat saya saat saya menyusun skripsi yang makan waktu setahun buat kelar itu.

Selepas kuliah, saya rajin menunggu tulisan-tulisan beliau di media massa. Terutama saat ada kejadian-kejadian tertentu di masyarakat. Tulisan beliau selalu bernas, diulas persis sama dengan cara beliau mengajar di kelas – to the point, tanpa basa basi, tapi ‘nancep’.

Demikianlah peran seorang Mas Ito di hidup saya. Dan untuk semua itu ada begitu banyak air mata yang saya keluarkan buat beliau sejak tadi pagi.

--

Sejak semalam saat saya menerima kabar beliau koma, saya sudah berniat: kalau ini adalah saat terakhir Mas Ito, maka saya harus datang to pay my last respect. Saya harus berucap terima kasih, walau cuma dalam hati, atas  semua yang telah saya dapatkan dari beliau.

Saya bilang Cip kalau saya akan melayat.

Sambil siap-siap, saya bilang dia, “Di umur kita ini, udah nunggu aja ya. Ortu siapa yang akan pergi. Guru kita yang mana yang bakal pergi juga. Kadang-kadang tahu-tahu ada temen juga yang pergi. Harusnya udah giliran kita ya ninggalin legacy...kita gimana nih...ninggalin apa kita?”.

Cip, yang sudah sangat sering dengar saya melontarkan keresahan semacam, cuma senyum dan bilang, “Ah kamu...”.

Tapi bagaimanapun juga pikiran itu tetap menggantung di benak saya. Lalu pergilah saya masih dengan pertanyaan itu di kepala, ke rumah duka tadi pagi. Dan saya terhenyak.

Para tamu yang tak henti datang. Lalu kenangan-kenangan akan beliau yang terus menerus mengalir, baik di dinding-dinding media sosial, di grup WA, semua menyadarkan saya akan banyaknya hidup yang telah tersentuh oleh beliau.

Lalu saya jadi merenung lagi sepulangnya dari melayat: have I touched other people’s lives in a meaningful way that when I’m gone, people can feel that my life was worth something?.

Atau jangan-jangan perasaan saya selama ini benar, bahwa saya masih saja terlalu sibuk mengurusi diri sendiri, masih saja belum memampukan diri untuk menyumbangkan waktu saya untuk orang lain, selain tentunya untuk keluarga (bahkan untuk keluarga pun jangan-jangan masih kurang). Sehingga kelak, jangan-jangan memang saya tidak meninggalkan jejak berarti bagi kemanusiaan, paling tidak pada diri manusia-manusia yang pernah berinteraksi dengan saya.

Atau jangan-jangan, saya malah membuat terlalu banyak orang jadi sebal dan muak dengan kehadiran saya yang egois. 

Bukan karena ingin dihormati saya jadi mikir kayak gitu. Tapi saya percaya bahwa inti dari jadi manusia di bumi ini adalah menjadi sosok yang punya manfaat buat manusia lainnya. Dan itu buat saya artinya manfaat buat manusia-manusia di luar keluarga saya – karena bermanfaat buat keluarga ya sudah kewajiban mutlak, tidak bisa ditawar. Tapi buat mereka di luar lingkaran keluarga,  itu adalah kewajiban dalam arti yang lebih luas: kewajiban kemanusiaan. 

Buat apa saya hidup kalau cuma bisa menunaikan kewajiban yang memang tidak bisa ditawar?.

--

Susah sekali menjawab pertanyaan itu. Sudah 10 tahun lebih saya punya pertanyaan itu, dan setiap mau tutup tahun saya selalu bertanya pada diri sendiri, “OK, loe udah melakukan apa tahun ini, udah menyentuh hidup orang lain dengan cara apa, yang bikin hidup loe bermanfaat buat orang lain selain keluarga loe, selain sedekah ya bok?”. 

Dan selalu, saya tidak pernah bisa menjawab. Atau, jawabannya selalu, “Belum cyiiiinn....udah ngapain gueee???....gak tauuukkk....”.

Dan hasilnya saya selalu tiba pada perasaan ngelangut yang sama. Nelangsa karena masih merasa diri jalan di tempat.  

Darn it. It’s gonna be 2017 soon. I will turn 46. 4 years to 50. What will I do with my life?, with those years that will disappear?.

Mungkin...mungkin...jawabnya ada pada bagaimana saya harus menyikapi hidup. Mungkin. Atau mungkin as simple as jadi orang yang tidak menyebalkan di media sosial, di tempat kerja, di rumah, saat ngumpul sama teman.

Ah. Another excuse. 

Terima kasih lho Mas, sampai Mas Ito pergipun tetap menginspirasi...

(R I R I)


Thursday, November 10, 2016

Tempat Main



Sejak beberapa minggu lalu saya kesel kalau baca Facebook. Yaaa mungkin harusnya nggak kesel ya, tapi saya kan manusia biasa, gimana dong. Mau jadi malaikat sudah nggak mungkin. 

Saat berita yang dibaca itu lagi, itu lagi. Dengan segala analisanya. Oh dan tak kurang cercaan dari mereka yang merasa benar – baik itu dari yang sebetulnya saya juga sependapat tapi merasa nggak perlu saya utarakan di ranah sosial, sampai yang memang betul-betul bikin saya pengen toyor karena penalaran masalah yang menurut saya nggak ‘lurus’.

Either way, semua berita dan cerita yang berakar pada si penistaan agama itu saya yakin sudah bikin banyak orang cukup gerah.

Lalu tahu-tahu, dari belahan dunia yang lain, datang berita yang mengejutkan. Trump jadi Presiden!.

Uwoooowww....what a shock!.

Muncul lagi segala analisa. Dari foto-foto seksinya the First Lady, segala meme, sampai analisa yang serius tentang bagaimana caranya mengenali kandidat dengan benar supaya bisa memilih dengan benar pula (dan dalam hati saya: benar menurut siapa?. Cuma Tuhan yang tahu...).

Ah. Jujur nggak ada yang saya baca. Headlines-nya aja, cukup. Karena, lihat isi timeline berubah saja saya sudah seneeng banget!.

Seminggu terakhir, ke-eneg-an saya pada isi timeline sudah maksimal. Jadi yaaa berita-berita yang sekarang sedang seliweran paling tidak bikin saya sedikit lega. Saya lega lihat teman-teman sebangsa, senegara, sebahasa, berhenti berdebat!.

Debat berkepanjangan yang akarnya menurut saya adalah ini: kita sepertinya kehilangan ruang dalam diri untuk memberikan maaf dan sadar bahwa terus menerus mencoba membuktikan seseorang bersalah itu menghabiskan energi!.

Kita juga masih saja mudah terjebak pada yang kasat mata, tanpa mencoba melihat yang tersirat yang jangan-jangan adalah masalah yang lebih serius untuk dihadapi.

Kita kehilangan ruang juga kelihatannya untuk berpikir bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan - jangan-jangan lebih banyak dibanding jalan menuju Roma.  Dan bahwa bagaimana seseorang memahami ayat-ayat suci adalah cara masing-masing individu mencari jalan menuju Tuhan. Jadi kenapa harus maksa semua orang untuk ikut cara kita berpikir karena menurut kita itu adalah cara terbaik menuju Tuhan?. That’s non-sense.

Tapi saya nggak mau ngebahas itu berpanjang-panjang.

Yang saya lihat menarik dari kejadian berganti dengan cepatnya isi timeline dalam hitungan jam, adalah kadang-kadang timeline itu jadi mirip seperti tempat Lila, anak saya yang baru umur 5 tahun itu, main.

Kadang berantakan luar biasa. Dan penuh dengan macam-macam mainan – dari buku gambar, Lego, bola, slime, topeng Batman-nya. Pokoknya beraneka ragam. Warna warni. Berbagai bentuk. Berbagai ukuran mainan.

Adakalanya juga hanya ada satu atau dua mainan disitu. Ini biasanya kalau dia memang sedang sangat suka dengan mainan itu. Entah Lego, entah menggambar. Kadang juga cuma jubah dan topeng Batman-nya yang menurut dia ‘cool’ itu.

Nah timeline Facebook kadang seperti itu.

Kalau sedang tidak ada topik panas, sebetulnya saya nikmati banget. Warna warni. Macam-macam topik. Macam-macam pendapat. Tidak linier.

Sama seperti kalau saya lihat tempat main Lila kalau sedang berantakan dengan macam-macam mainan. Iya sih ada pusingnya, tapi saya juga senang karena itu artinya dia sedang bereksplorasi. Dia sedang berimajinasi dan belajar banyak hal.

Timeline Facebook yang isinya beragam buat saya menunjukkan kita sedang belajar banyak banget. Sedang membuka diri pada begitu banyak hal. Menikmati banyak sisi dalam hidup.

Keragaman isi membuat saya merasa kita sedang bergerak. Kita tidak terpaku pada hal yang itu-itu lagi. Dan itu artinya ada kesempatan buat kita untuk membuat hidup jadi lebih baik. Buat diri sendiri, dan juga buat orang lain.

Tapi kalau isi timeline mulai seragam, berminggu-minggu (bahkan pernah berbulan-bulan deh rasanya), itu biasanya membuat saya khawatir.

Kalau saya biasanya seneng lihat tempat main Lila berisi satu atau dua mainan saja karena itu artinya lebih mudah minta dia beresin mainannya, tidak demikian kalau saya lihat timeline Facebook jadi tidak beragam.


It’s as if kita berhenti berevolusi. Kita terpaku pada hal yang itu lagi, itu lagi. Kita tidak kemana-mana. Cuma sibuk meyakinkan masing-masing pihak siapa yang benar siapa yang salah. 

Dan, buat apa?. Hidup kan tidak mungkin dibuat satu dimensi. Sejak kita lahir dunia ini sudah multidimensi, jadi kenapa sekarang jadi ngotot-ngototan?.

Nah mungkin saya yang lebay meracau begini. Kan Facebook cuma dunia maya?. Dan sama seperti Lila butuh tempat bermain, Facebook adalah lahan bermain juga. Di dunia nyata nggak begitu.

Ya mungkin. Dan anyway....selalu ada tombol unfollow.

(Pssttt....di Facebook sudah ada iklan tentang another demo tanggal 25 November...buka pendaftaran...).
 
Mari kerja lagi.

(R I R I)

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts