Sunday, January 30, 2011

Aim High! (and I mean real high….)

When we graduated from college, or maybe even before that, I am sure everyone of us had a dream of what we wanted to become, what kind of career we wanted and what kind of life we would want to lead. And when we graduated, we embarked on the journey. Some of us continued on the path that we have dreamed on, and made it. Others found that the journey was not smooth and chose another journey. Some of us are perhaps on the verge of thinking: Is this STILL the right journey, or shall I take another one, a different one?. But whatever it is, most of us continue walking, or maybe perhaps even running.

The end of that journey sometimes is very clear to us, other times, it’s not. But how many of us have actually defined what that end will be – aside from a better life in the future…whatever ‘better’ means which again will be different from one person to the other.

I work in an industry where it is actually difficult to find good talents – and I mean real, good, talents who have enough commitment to stay on and ‘make it’ as their definition of their end of the journey, or to continue on the journey. And sadly, in the whole of my career, I don’t often come across people who are in this industry and really want to ‘make it’. Yes, market research is tough. At times it drives us mad with deadlines and all. But, aren’t all industries have the same story?. It’s all in the mind and our attitude towards it, isn’t it?.

And when I say ‘make it’ – I mean making ourselves indispensable to the industry, not just to the company we work in. And this is not just in the industry I work in, but in any industry. Have we actually aimed that high – not just about climbing the career ladder, but more, to make a stamp, to create a story about us…some sort of an ‘urban legend’ for the industry in which we work.

I keep thinking about this as I sometimes sadly look around me. And again I maybe just talking about market research – where, sometimes, the so called ‘experts’ are still people from out of this country. I have no negative sentiments to them – but, I feel sorry for my own country men and women who actually, if they try hard enough, if they learn hard enough from those expatriates, they can be the same expertise, too!, if not even more.

I see talented people sometimes do not realize they have good talents, and they do not focus on their talent, which is a real pity. And often we look at others and think that we will never get there, rather than think that we CAN get there if we focus and try hard enough.

Sometimes work becomes just as ‘work’ – something routine that we do everyday. But, is that how we want to look at it for the rest of our lives?. Is going up the ladder at work, at the company where we work, is the only aim that we can have?.

I personally stay in market research because I love it. I never care about going up the ladder – as long as I can do what I love doing, that is enough for me. Then one day I stopped and thought, is that it? Is that a high enough aim for my life?. If I love doing what I do now, then, shouldn’t I aim higher than just doing it for the love of it?.

Then I began thinking about making a ‘stamp’. Not having anything to do with pride, but, I believe, that as an Indonesian who loves working in an industry where talents are scarce, it is my tribute to this country too to make myself indispensable to the industry. I should be making a noise, not some foreigners. I should raise the bar for my own country men. If I cannot do it then I cannot claim that I love doing it – an expression of love, is when others can feel it and can benefit from it. At least, that’s what I believe.

If we, as Indonesians, sometimes think that no one in this country does something good for the business, then have we actually done something ourselves?. Everything starts small and most of the time, we should start from ourselves. I always believe Indonesians are creative and smart – I mean, if we can survive these years of difficulty, there must be something good in us.

Or, am I dreaming too much about seeing more of my country men and women to lead the way and make more noise?. I hope I’m not….


(R I R I)

Monday, January 24, 2011

Popo, Cucu dan Air Bah

Di pedalaman Sumatera, di sebuah sungai di tengah hutan, tinggal seekor kura-kura air tawar bernama Popo. Popo mempunyai sahabat bernama Cucu, seekor anak ikan mas.

Popo dan Cucu sangat suka berenang-renang kesana kemari, dan berteman dengan banyak hewan air yang tinggal di sungai itu. Mereka suka menjelajah sampai ke dasar sungai, dan bermain-main di air sungai yang jernih. Jika tiba saat Popo harus keluar dan berjemur, Cucu biasanya akan berenang-renang sendirian bermain dengan teman-temannya yang lain.

Suatu hari, saat Cucu baru saja akan berpamitan pada orang tuanya untuk bermain dengan Popo, ia mendengar ayah dan bundanya yang sedang mengobrol. “Bunda, sadar tidak, kalau banyak sekali akhir-akhir ini ranting-ranting kayu yang hanyut di sungai ini”, kata ayah. “Iya, kadang-kadang ranting-ranting itu melukai teman-teman kita juga lho Yah. Dulu tidak pernah ya. Kalaupun ada ranting, ya ranting kecil dari pohon di pinggiran sungai ini saja”, jawab ibu. “Kata temanku yang dari hulu, ada sekelompok manusia menebang banyak sekali pohon disana. Mungkin itu yang membuat ada banyak ranting dan sisa-sisa pohon ini”. “Wah, kalau pohon ditebangi, bagaimana dengan nasib sungai ini nanti Yah?”. “Ah tak tahulah Bunda, semoga saja tidak akan ada apa-apa”.

Cucu lalu berenang mencari sahabatnya, dan menceritakan apa yang baru saja ia dengar.

“Po, memang kalau pohon ditebangi, apa yang bisa terjadi?”. “Wah Cu, mana aku tahu. Tapi kan sekarang sungai ini baik-baik saja, jadi sudahlah, jangan risaukan pikiranmu dengan obrolan orang tuamu”.

Lalu pergilah mereka bermain-main, dan Cucu melupakan obrolan orang tuanya.

Sekitar seminggu setelah itu, datanglah musim hujan. Cucu dan Popo senang sekali. Karena di musim hujan sungai menjadi semakin dalam, sehingga mereka semakin asik menyelam.

Tapi hujan bertambah deras. 3 hari 3 malam turun tanpa henti. Popo dan orang tuanya harus berlindung di bawah bebatuan di pinggiran sungai, dan tidak bisa bermain dengan Cucu. Cucu sendiri diharuskan orang tuanya untuk tinggal di sarang mereka, sebuah gua kecil yang terbentuk dari gundukan batu.

Di akhir hari ketiga, di tengah derasnya hujan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Dan tanpa disangka, air beserta banyak sekali ranting dan sisa-sisa pohon, mengalir dengan derasnya, dan makin lama semakin besar tanpa bisa dibendung.

Air dan semua ranting serta sisa pepohonan itu, menerjang semua yang ada di hadapan mereka. Termasuk, sarang Popo dan keluarganya. Derasnya air bahkan membuat gundukan batu tempat Cucu dan orang tuanya berlindung, runtuh.

“Cucuuuu, selalu dekatlah dengan kami!” kata ayah dalam kepanikannya. Cucu sangat takut. Ia juga terpikir akan nasib Popo, sahabatnya. Sementara itu Popo dan orang tuanya juga berjuang menyelamatkan diri mereka dari terjangan ranting dan pepohonan.

Dalam air yang deras dan penuh ranting itu, Cucu merasa sangat kelelahan. Dan tiba-tiba ia tersadar bahwa orang tuanya tidak lagi terlihat. “Ayaaaahhhh……bundaaaaa……kalian dimanaaaa?!”. Tapi tidak ada jawaban. Cucu susah payah menghindari setiap ranting. Ia juga melihat teman-temannya berjuang menyelamatkan diri. Dan tiba-tiba ia melihat Popo, “Popoooo….aku disiniiiii!”.

Dua sahabat itu lalu berenang semampu mereka. “Cucu, ayo berenang di bawahku, kau akan terlindung dari ranting”. Dan berenanglah keduanya. Sampai akhirnya mereka tiba di air yang lebih tenang, dan mereka bisa menyelamatkan diri mereka ke pinggir.

Dalam kelelahannya, Popo bertanya, “Cu, mana orang tuamu?”. “Aku tidak tahu, tahu-tahu mereka sudah tidak ada di dekatku. Kau bagaimana?”. “Aku juga tidak tahu”. Dan mereka terdiam.

Setelah air tenang dan kedua sahabat pulih dari kelelahan mereka, Cucu berkata, “Mungkin ini yang dimaksud ayahku. Semua pohon yang ditebang itu jadi merusak sungai kita saat dihanyutkan oleh air dari atas. Tidak ada lagi yang menahan air, jadi semuanya masuk ke sungai, dan membuat melimpahnya air seperti tadi itu. Mengerikan ya Po. Dan sekarang kita tidak punya orang tua”. “Iya ya Cu. Kalau saja para manusia itu tahu apa yang telah mereka lakukan….”, lanjut Popo sedih.

“Ah sudahlah Po, daripada kita bersedih-sedih, yuk kita jelajahi saja tempat baru ini. Siapa tahu kita bisa bertemu teman-teman yang lain”, tukas Cucu. Dan pergilah mereka menjelajahi tempat itu.

Merekapun menemukan beberapa teman mereka yang juga terpisah dari orang tuanya. Walaupun mereka tidak bisa lagi bertemu dengan orang tua mereka, tapi Popo, Cucu, dan anak-anak ikan serta kura-kura lainnya, senang karena mereka tidak sendirian. Dan merekapun berharap, mereka tidak pernah lagi harus mengalami kejadian yang sama kelak. Mereka sama-sama berdoa, semoga manusia sadar bahwa perilaku merusak alam, telah membuat sengsara para binatang penghuni sungai.


(R I R I)

Sunday, January 23, 2011

Negeri morat marit ini, tanah airmu, Nak

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

Melambai-lambai

Nyiur di pantai

Berbisik-bisik

Raja Klana

Memuja pulau

Nan indah permai

Tanah airku

Indonesia!

(Rayuan Pulau Kelapa, ciptaan Ismail Marzuki)


Itu salah satu lagu favorit bunda, Nak

Bunda senang menyanyikan lagu itu

Itu juga salah satu lagu yang dulu sering bunda nyanyikan

Untuk meninabobokan Kakak Tara

Sambil membayangkan Lembah Anai di tanah kelahiran nenek kalian

Atau hamparan pantai-pantai indah berpayung ratusan pohon kelapa

Atau hamparan sawah berbatas hutan

Tempat ayah kalian dulu menghabiskan masa kecilnya

Atau sungai berkilauan diterpa cahaya matahari sore di tengah kebun teh

Berkelok-kelok bagai kalung mutiara

Tempat bunda dan tante kalian bermain di akhir minggu di masa kecil dulu


Bunda tidak tahu, Nak

Apakah kelak saat kalian dewasa

Masih ada tempat-tempat seperti itu untuk kalian nikmati

Tapi tenang saja, Nak

Ayah bunda bertekat untuk terus menjelajah

Dan menyimpan setiap jejak dalam foto

Yang bisa kalian simpan dan lihat kelak

Habis bagaimana lagi, Nak

Ayah bunda bukan birokrat

Yang punya kuasa dan cukup uang

Untuk menahan tangan-tangan rakus

Yang selalu ingin memperkosa tempat-tempat indah di negeri ini


Dan mungkin, Nak

Saat kalian dewasa

Kalian akan bertanya

Apanya yang aman dan makmur?

Sementara ada begitu banyak anak jalanan

Tak terurus dilupakan negara

Banyak sekali orang miskin disana sini

Yang sakitpun tak boleh

Karena ke rumah sakit hanya akan bikin makin sakit

Belum lagi perampokan disana sini

Padahal katanya ini negeri yang subur dan makmur

Jadi harusnya masyarakatpun hidup nyaman


Morat marit memang, Nak

Seperti kain batik tulis indah yang tercabik disana sini

Bunda tidak tahu kenapa jadi begitu

Gara-gara salah urus, katanya

Gara-gara orang-orang yang cuma peduli

Pada kepentingan diri mereka sendiri


Mungkin saat kalian dewasa

Orang sudah lupa akan kasus-kasus menyakitkan hati

Yang menunjukkan betapa tak berdayanya kita

Menghadapi para tikus dan ular

Di setiap pojok ruang pemerintahan

Yang menggerogoti apa yang harusnya jadi milik rakyat

Atau jangan-jangan saat kalian dewasa

Akan ada kasus-kasus yang lebih heboh

Yang lebih menyakitkan hati


Nak, bunda tidak suka menjadi orang pesimis

Tapi kadang ada garis tipis antara pesimis dan realistis

Walaupun yang tipis-tipis itu bikin makin miris

Tapi mau bagaimana lagi, Nak

Rasanya makin lama makin jauh titik terang itu


Pesan bunda pada kalian hanya satu

Apapun yang kalian dengar dan lihat

Cobalah gunakan ‘rasa’

Cobalah tetap mencintai negeri ini

Walaupun satu saat

Mungkin sulit bagi kalian untuk menemukan keindahannya

Mungkin satu saat

Pemerkosaan hak azazi, hak alam untuk berkembang, dan hak-hak lainnya

Akan makin hebat

Tapi, Nak

Orang hanya bisa punya satu tanah air

Dan ini adalah tanah air kalian


Kalian boleh melangkah sejauh apapun kalian mau

Dan meninggalkan ayah bunda tua renta

Menyaksikan kebusukan-kebusukan negeri ini kelak

Jika sang penyelamat tak kunjung datang menyelamatkan keindahannya

Tapi ingatlah, Nak

Ini akar kalian

Dimana kalian lahir dan dibesarkan

Morat maritnya negeri ini

Bukan cermin Indonesia

Itu cuma cermin sekelompok orang-orang biadab

Yang meletakkan uang jadi Tuhan mereka


Mereka lupa, Nak

Bahwa Tuhan sudah menggariskan

Mereka jadi bagian dari tanah air ini

Mereka lupa

Untuk menghormati keputusan Tuhan

Dengan berbuat hal-hal yang baik untuk negeri ini

Janganlah kalian menjadi yang demikian


Nak

Ada pepatah, hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Bunda tidak akan pernah meminta kalian mengikuti pepatah itu

Kalau kata orang Inggris, bullshit

Carilah kehidupan dimanapun kalian ingin

Kehidupan yang bisa membuat kalian punya sesuatu yang lebih

Tapi bukan untuk diri kalian sendiri


Berbuatlah, Nak

Kapanpun kalian berkelebihan

Bukan hanya materi, tapi setiap cuil diri kalian

Berbuatlah sebanyak kalian mampu

Untuk banyak orang yang terlupakan di negerimu

Raga kalian boleh jauh dari ranah Indonesia

Tapi jangan hati kalian

Mungkin kalian hanya akan bisa membantu 10

Dari jutaan orang yang tidak mampu membela diri mereka sendiri

Tapi ingatlah, Nak

Sekecil apapun yang bisa kalian lakukan

Artinya buat orang lain bisa lebih besar

Dari yang kalian bayangkan


Ingatlah, anak-anakku

Leluhur kalian berjuang untuk negeri ini

Kalian tidak kenal dengan mereka

Mereka tinggal cerita dan gundukan makam

Tapi, Nak

Mereka telah berkorban begitu banyak

Untuk memerdekakan tanah ini

Jadi apakah kita juga akan jadi orang yang mengkhianati

Pengorbanan mereka dengan menutup mata hati

Dari penderitaan orang-orang di sekitar kita?


Kita cuma bisa punya satu tanah air, Nak

Dan betapapun kacau balaunya

Inilah tanah air kalian

Cintailah, melalui mencintai sesama yang sedang dalam kesusahan

Hiburlah mereka, sebisa kalian

Dimanapun kalian kelak berada


(R I R I, dalam kegundahan Bunda mengingat akan jadi apa negeri ini saat kalian dewasa kelak. Cuma Allah yang tahu, dan cuma Allah jua tempat kita meminta yang terbaik. Dan Allah hanya ingin, kita tidak hanya mengingat Dia, tapi juga mengingat semua ciptaanNya, sebagai tanda bahwa kita bukan orang-orang yang lupa untuk apa kita diciptakan. Insya Allah...aamiiin)

Monday, January 17, 2011

An excellent customer experience has gone out of the window?, maybe for some... lucky not for all

Saya sering sekali baca keluhan-keluhan teman-teman di status fesbuk tentang buruknya layanan dari beberapa service provider, atau dari manufacturer. Atau juga bagaimana pengalaman teman-teman bersentuhan dengan merek-merek tertentu yang akhirnya membawa pada kekecewaan. Saya sendiri juga mengalaminya beberapa kali.

Dan beberapa kali pula ada komentar dari teman-teman ke status-status itu, yang kadang bunyinya adalah 'menyalahkan' mental orang Indonesia yang memang sudah kadung lalai terhadap kebutuhan orang lain. Tapi jujur, saya masih punya benefit of the doubt. Saya yakin pada dasarnya semua orang bisa memberikan yang terbaik selama disediakan lahan berlatih dan panduan yang baik dan ajeg untuk berperilaku sesuai dengan apa yang harus diusungnya.

Yang sering menggelitik saya juga adalah seberapa sering sebetulnya para pegawai di sebuah perusahaan mengetahui nilai dan visi dari merek yang mereka usung. Dan pendefinisian 'customer experience' itu sendiri. Saya tidak akan membahas definisi textbook, tapi secara sederhana, buat saya customer experience itu bukan hanya pada pelayanan. Tapi juga pada apa yang konsumen lihat, dengar, dan rasakan melalui indera taktil. In essence, the whole sensorial experience yang dialami konsumen.

Idealnya, perusahaan yang baik akan membuat setiap pegawainya memahami apa nilai dan visi dari mereknya. Seperti apakah pengalaman konsumen yang ingin diciptakan oleh si merek. Dan ini berarti, mulai dari cara berpakaian sampai misalnya cara membuang sampah (jika si merek ini mengaku peduli terhadap lingkungan, misalnya). Sayangnya, saya sering sekali melihat banyak merek yang abai dengan hal-hal ini. Dan buat saya itu tidak ada hubungannya dengan mentalitas. Itu erat sekali hubungannya dengan proses pelatihan dan pendalaman si pegawai terhadap nilai-nilai dari merek yang dia wakilkan.

Salah satu contoh saja. Saya dan beberapa teman pernah ke suatu restoran. Tampak depan, dekorasi interior, dan makanan yang disajikan semua sudah sesuai dengan visi merek mereka, yaitu menyajikan suasana tempo doeloe, termasuk masakan-masakan ala babah dan nyonya.

Tapi waktu kami sedang menunggu pesanan, kemudian ada yang sangat mengganggu suasana. Musik yang mereka perdengarkan adalah....lagu-lagu berirama house music. Bayangkan, itu adalah lunch time, dengan suasana tempo doeloe, dengan hidangan babah dan nyonya. Kami langsung berpandang-pandangan. Teman saya langsung berinisiatif memanggil salah satu pelayan dan meminta musiknya diganti. Tanpa suasana tempo doeloe saja musik seperti itu sudah sangat mengganggu untuk menemani orang makan, apalagi dalam konteks restoran tersebut. Musik penggantinya adalah slow pop music ala Kenny Rogers. Yah masih lumayanlah dibandingkan house music.

Selesai kami makan, si pelayan datang dengan tagihan dan membawa lembar isian untuk mendapatkan feedback dari kami sebagai pelanggan. Teman saya langsung bilang, "Makanannya enak, dekorasinya OK. Tapi aduh mbak, masa musiknya begitu sih. Harusnya keroncong kek, atau musik-musik lain yang lebih pas sama dekor dan makanannya". Si pelayan manggut-manggut. Saya belum pernah kembali ke restoran itu jadi saya tidak tahu apakah mereka sekarang mengganti musiknya.

Atau ada lagi pengalaman saya menggunakan jasa sebuah perusahaan online. The website looked very promising. Tapi kemudian saya sangat dikecewakan oleh produk yang mereka berikan. Pastinya, itu akan jadi pengalaman pertama dan terakhir saya menggunakan perusahaan yang sama.

Itu beberapa contoh saja yang bisa digolongkan kurang baik. Pasti teman-teman punya banyak contoh lainnya. Kelihatannya hal kecil. Lha wong cuma musik saja kok ribut. Atau ya resiko menggunakan pelayanan online adalah menerima produk yang tidak sesuai. Tapi rasanya dari hal-hal kecil itu pencitraan merek yang baik bisa dibangun, dan potensi bisnis bisa dikembangkan. Cuma sayangnya banyak hal-hal kecil itu justru diabaikan.

Tapi bukan berarti sebagian besar perusahaan mengabaikan hal-hal itu. Saya baru saja mengalami contoh kasus yang membuat saya merasa amat senang bersentuhan dengan beberapa merek.

Sepulang dari Cirebon kemarin, mobil kami mengalami masalah. Kebetulan kami sudah sekitar 20-30km keluar dari tol Cirebon menuju Ajibarang, Indramayu. Tidak ada satu bengkelpun di hadapan kami kecuali tempat-tempat tambal ban kecil, dan tentunya, sawah.

Cip menelepon orang yang dia kenal di dealer mobilnya. Intinya meminta pertolongan agar dikirimkan mobil pengganti sehingga kami bisa pulang ke Jakarta hari itu juga. Saya sendiri berinisiatif menelepon hotel Santika, tempat kami menginap di Cirebon, untuk menanyakan apakah mereka punya kontak dengan tempat penyewaan mobil. Kami memutuskan agar saya dan Tara pulang dengan mobil sewaan, sementara Cip menunggu bantuan dari dealer mobil yang kemungkinan besar akan makan waktu lebih lama.

Waktu saya telepon Santika, si operator bilang Front Office tidak bisa menerima telepon saya saat itu, dan operatornya sendiri tidak tahu nomer penyewaan mobil. Lalu yang dia lakukan adalah: meminta nomer telepon saya dan berjanji akan meminta Front Office menelepon saya kembali. Saya jujur saja agak skeptis akan ditelepon kembali. Tapi, ternyata within seconds, saya ditelepon kembali oleh pihak Santika. Mereka memberikan nomer telepon salah satu tempat penyewaan mobil yang biasa digunakan pihak hotel.

Mungkin bukan hal yang mengejutkan. Tapi pada saat menghadapai keadaan darurat, hal-hal kecil semacam itu menjadi sangat membekas. Saya sangat berterima kasih pada pihak Front Office Hotel Santika Cirebon yang di tengah kesibukannya (saya tahu hotel saat itu sedang penuh, dan banyak tamu yang check in ataupun check out bahkan pada saat kami keluar dari hotel), masih memiliki waktu untuk mengontak kembali 'bekas' tamunya.

Cip sendiri juga akhirnya dibantu oleh pihak dealer mobil, Tunas. Orang yang ditelepon Cip ada di Jakarta. Tapi dengan segala upayanya beliau mengontak pihak Tunas di Bandung, dan mereka mengirimkan mobil pengganti, sementara mobil yang kami gunakan mereka bawa ke Bandung untuk diperbaiki. Memang Cip harus menunggu cukup lama sampai mobil penggantinya datang. Tapi yang penting adalah kemauan mereka untuk membantu konsumennya, bahkan pada saat mereka tidak mempunyai support system yang cukup dekat dengan tempat kami mengalami masalah.

Ini hanya beberapa contoh kecil dimana saya yakin, para pegawainya diberikan pelatihan yang cukup baik tentang nilai-nilai apa yang harus saya usung. Kebetulan memang Hotel Santika adalah salah satu favorit keluarga kami. Karena di beberapa tempat yang pernah kami inapi, pengalaman yang mereka berikan sangat konsisten, baik dari segi keramahan maupun fasilitas yang mereka sediakan.

Di website mereka, tertera slogan: Everything we do comes from our heart. Sounds very cliche, tapi saya selalu merasakan hal itu setiap kali saya menginap di jaringan hotel ini. Dan di saat darurat kemarin, saya juga merasakan hal yang sama: ketulusan untuk membantu konsumen.

Dan mungkin ada teman-teman yang berpikir, ya pastilah Tunas akan membantu, karena mobil yang kami gunakan adalah mobil kantor. Dealer mobil mana yang akan mengambil resiko untuk berurusan dengan sebuah perusahaan besar jika mereka tidak memberikan pelayanan yang baik terhadap pegawai perusahaan itu. Jadi pasti keadaan apapun mereka akan bantu. Saya tidak tahu apakah itu benar karena kami tidak pernah mengalami masalah yang sama dengan mobil pribadi kami, jadi saya tidak punya perbandingan. Tapi yang jelas, ada keinginan dan usaha dari Tunas untuk membuat konsumen merasa tenang berkendara, apapun alasan mereka melakukannya.

Satu pelajaran penting dari contoh-contoh di atas adalah, seberapapun kecilnya tindakan, itu akan berdampak pada bagaimana konsumen mempersepsikan sebuah merek. Seperti kata peribahasa: rusak susu sebelanga karena nila setitik. Bagi kita yang bekerja pada sebuah perusahaan yang bersentuhan dengan konsumen, pertanyaannya adalah apakah kita akan menjadi 'nila', atau akan menjadi penjaga 'belanga susu' supaya tetap berkualitas baik?. Jawabannya terpulang pada kita, dan seberapa jauh kita mendalami nilai dan visi dari merek yang kita usung di bahu kita masing-masing.

Dan kita rasanya juga punya tanggung jawab, untuk memastikan para kolega kita memahami dengan ajeg apa arti nilai dan visi dari merek tempat kita bekerja. Pertanyaan lanjutannya: apakah teman-teman sudah merasa memahami nilai dan visi dari merek tempat teman-teman bekerja?. Silahkan diskusikan dengan rekan-rekan sekerja apabila rasanya pemahaman yang ajeg itu belum hadir dalam keseharian teman-teman bekerja. Supaya kita tidak menjadi 'nila'.


(R I R I)


Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts