Sunday, October 23, 2016

Change, Challenge, and Courage



Change is the only constant in life. 

Sering banget denger itu ya. Dan sekarang ini, entah gara-gara kedekatan yang luar biasa dengan gadget yang namanya smartphone yang kadang-kadang sialnya mendekatkan kita pada berbagai berita dari seluruh penjuru dunia, atau memang bumi berputar lebih cepat; rasanya perubahan demi perubahan terjadi in a blink of an eye.

Tapi adakalanya juga, kita ngerasa, “Kok gue nggak berubah-berubah sih ya. Kok gue tetep aja rasanya sebloon dulu. Nggak melakukan sesuatu yang baru. Muter disitu-situ aja. Reinventing the wheel. Again and again and again”, dan lalu tiba-tiba merasa muak pada diri sendiri karena merasa stagnan.

Saya sedang tiba di titik itu. Sejak beberapa bulan yang lalu. Restless with myself. Feeling that I need to change something, anything, dalam bagaimana dan apa yang saya kerjakan. Di dunia yang sudah sekian tahun saya selami ini.

Bukannya malah merasa makin tahu saya merasa makin bodoh. Makin nggak tahu apa-apa. Dan, merasa nggak kunjung berubah di saat dunia tampaknya menuntut perubahan dalam gimana saya kerja dan menyelami pekerjaan saya.

Lalu saya mutusin saya harus belajar lagi dari sesama praktisi. Pergilah saya minggu lalu ke sebuah konferensi. 2 hari yang dipenuhi oleh sejumlah orang-orang keren yang mempresentasikan hasil kerjanya. Studi-studi kasus yang membuka mata saya, dan membuat saya belajar tentang hal-hal baru dan memberikan ide-ide yang segar.

Tapi bukan itu saja yang saya bawa pulang.  

--

Karena acara itu dilakukan di negeri jiran, saya menggunakan kesempatan itu buat ketemu teman-teman lama. Dan, dari merekalah, saya mendapatkan sesuatu yang lain.

Kami sudah lama nggak ketemu. Beberapa di antaranya malah sudah hampir hitungan 2 digit tahun. Lalu bertemulah kami di sebuah restoran – 9 of  us. Dan seorang teman berinisiatif supaya kami saling cerita apa saja kegiatan kami saat ini, and how life has been treating us.

Human stories, were then always interesting and impactful.

Ada yang mencoba jadi wirausaha, yang sangat berbeda dengan dunia korporat yang dulu dia geluti. Buka food stall di bandara Changi, karena dia suka masak dan punya resep andalan warisan ibunya. Tapi setelah setahun lebih, memutuskan untuk menghentikannya karena ada terlalu banyak tantangan dan beberapa di antaranya sulit untuk diatasi. Padahal, business was good. Keuntungan juga lumayan. Tapi dia memutuskan bahwa ada terlalu banyak hal yang harus dikorbankan, salah satunya adalah kedekatan dengan anak-anaknya.

Sekarang, teman ini sedang mencari pekerjaan lagi. Dengan uang tabungan yang sudah menipis karena digunakan untuk membuka usahanya. Dengan seorang istri dan dua orang anak.

Yang bikin saya sangat ingin memeluk dia saat dia cerita adalah ini: bagaimana wajahnya tetap berseri dan tersenyum saat cerita. Saya ingin memeluk dia dan bilang, “Thank you for STILL being the same person that I knew, the same person who is now sitting there making me ashamed at how much time I felt like giving up while my problems were nothing compared to yours!”.

Saya tetap menangkap dia yang sama yang saya kenal bertahun-tahun lalu sebagai seorang yang mumpuni di bidangnya di dunia korporat, yang selalu penuh kegembiraan. Malam itu kami duduk bersama, dia cerita tentang kehidupannya dengan senyum padahal dia juga tahu sekarang sulit untuk menemukan kembali pekerjaan yang sama dengan posisi yang sama dan pendapatan yang sama di usia yang tidak muda lagi.

Bagaimana tetap dengan senyum dan optimisme dia bilang, “I will take whatever job that I can get as long as I can learn about it and from it. Doesn’t matter if the pay is lower than what I usually got. But that will be a way to go somewhere. I will do it”.

Dalam hati saya, sambil ngeliatin dia setengah menahan air mata karena terharu melihat optimismenya, saya membatin, “If only more and more people think like him, then we will need no motivators” (ups...maaf...tapi jujur...kadang kita hanya butuh mendengarkan cerita orang lain untuk bisa belajar dari pengalaman orang lain, yes?, dan bukan cuma sejumlah kalimat penyemangat).

Lalu ada teman lain yang cerita bahwa dia harus mengubah gaya hidupnya, terutama dalam hal makanan, karena baru saja terbebas dari kanker payudara setahun (atau dua tahun...saya tidak ingat detilnya) yang lalu. Saya yang duduk di sebelahnya spontan merangkulnya – I know how scarry that must have been. She survived, thanks to deteksi dini dan dukungan dari keluarga, tentunya. Tapi sekali lagi saya melihat hal yang sama di wajahnya: keberanian merangkul hidup yang penuh tantangan ini, dengan segala ketidakpastiannya. Keberanian untuk bilang, “I survived. And now I have to make changes in my life to make sure I stay healthy”.

Lalu saya ketemu teman lain lagi di hari berbeda. Seseorang yang bertahun-tahun lalu selalu bikin saya melongo kalau lihat laporan yang dia buat. Yang dulu sering bikin saya berpikir, “Gue kemana aja ya, kok segini doang ilmu gue. Kapan bisa kayak dia”.

Baru punya anak di usia yang sama dengan saya. Berada di industri yang sekarang ini memang sedang nggak asik untuk perusahaan-perusahaan besar apalagi di Singapura. Sejumlah ketidakpastian sebagai pekerja asing. Ketidakpastian tentang apakah jika harus kembali ke negerinya sendiri keadaan akan lebih baik atau malah makin buruk. Dengan seorang anak lucu berusia 18 bulan.

Tapi yang dia bilang pada saya, “I don’t want to think about it. Just think about it when it happens. Worrying about it doesn’t do much now anyway”.

--

Perubahan selalu merangkul kita. Dan kita sendiri juga seringkali menginginkan perubahan dalam kehidupan kita sendiri kan, apapun itu. Tapi perubahan juga bukan sesuatu yang mudah dicapai atau dihadapi.

Yang saya bawa dari pertemuan dengan berbagai teman itu adalah: beranilah menghadapi perubahan itu. Atau bahkan juga beranilah mengubah sesuatu dalam hidup kita. It’s inevitable anyway, what choice do you have but to be brave?. What choice do you have other than embrace it and march on?.

Jatuh, bangun, merangkak di saat kita tadinya sudah bisa berlari. Berjalan perlahan, mungkin harus tertatih, tapi yang pasti, bergerak terus. Rasanya itu yang harus bisa dilakukan saat diterpa perubahan atau harus berubah – apapun itu.

Dan yang saya pelajari dari teman-teman saya itu adalah juga: don’t fuss about the future too much.

Saya diajarkan oleh orang tua saya untuk merencanakan hidup. Sampai sekarang saya percaya itu penting. Tapi rasanya ada satu yang saya lupakan: plan you may, but worry too much about whether your plans are going to happen or not, you may not. Itu, rasanya saya masih harus banyak belajar.

Mendengar cerita teman-teman saya itu, saya seperti dicubit, ditegur: Riri, slow down. Dont’ be too hard on yourself, you’re not doing too bad, in fact you’re OK and that’s OK!.

Hidup memang penuh tantangan. Dan sebentar lagi, tahun akan berganti (kemarin saya lewat Ecobar di Kemang – ini bar pasang penghitung hari di luar, mengarah ke jalan raya, menunjukkan berapa hari lagi dalam tahun itu tersisa, dan sakit perut saya lihat angka disitu: 59). Pasti akan ada lebih banyak perubahan, dan makin banyak dan beragam tantangan yang harus kita hadapi. Apakah kita akan mengkhawatirkannya, sekarang?.

Mungkin jawabannya adalah bukan khawatir, tapi, mencari keberanian macam apa yang harus kita bangun mulai hari ini supaya nggak loyo di tengah jalan.

Atau mungkin, mencari apa yang bisa kita jadikan mercusuar keberanian saat jalan yang harus dilalui terasa berat, dan kita hanya bisa berjalan lambat padahal ingin berlari.

Ada Tuhan, pasti. Tangan Tuhan selalu bekerja dengan cara yang misterius. Itu saya percaya banget. Tapi mungkin, selain itu, kita juga butuh yang kasat mata (tolong saya jangan dilempar ayat..), yang bisa ngingetin, “I am OK and going to be OK no matter what”. Entah siapa, mungkin pasangan kita, teman, guru, mentor, atau bahkan mungkin, anak! (iya, para orang tua, jangan egois, anak kita juga bisa jadi sumber keberanian).

Siapapun itu, ada baiknya keeping them in mind. Sebagai contoh hidup, bahwa whatever balls life may throw at you from whichever curve and angle, we will and shall survive.  

--

Mungkin hujan dan udara ngelangut ini yang bikin saya tiba-tiba jadi nulis yang semelankoli ini. Tapi yang pasti sih saya ngerasa cerita-cerita yang saya dapat minggu lalu terlalu berharga untuk saya simpan sendiri. Walaupun, mungkin, saya yakin kalau Anda sedang baca ini sekarang, Anda mungkin mikir: ah ini kan udah sering banget gue denger.

Doesn’t matter to me. Saya bahagia punya teman-teman yang punya keberanian yang bisa saya contoh. That when I feel like curling myself up and hide from this world, I will remember them and what they have gone through, and I march on taking their courage as my example.

Itu saja.

Not always easy to say be courageous. Jadi, kenapa tidak lihat orang lain yang sudah cukup berani mengambil resiko dalam hidupnya...and move on...and march on... Life was never meant to be easy anyway...

(R I R I)

Sunday, October 16, 2016

Dua konser, dua dunia, untuk satu jiwa



Dalam seminggu kemarin, saya dua kali nonton konser musik. Yang menarik buat saya, adalah betapa bertolak belakangnya kedua konser itu.

--

Yang pertama, konsernya Morrissey.

Jujur saja saya bukan fans beratnya bapak ini. Punya suami dengan selera musik macem-macem yang bikin saya terpapar dengan pemusik ini. Dan memang setelah saya tadinya nggak sengaja dengerin Morrissey dari CD koleksi Cip di mobilnya, saya suka dengan lagu-lagunya.

Ada beberapa lagu Morrissey yang sarat kritik sosial, yang kadang menurut saya diutarakan dengan cara yang cukup kasar kalau dengerin liriknya. Ada juga beberapa lagu yang, kalau didengerin, bukannya jadi seneng, malah bisa jadi depresi karena terlalu banyak kenyataan hidup yang pedih dan bikin nyesek yang dia utarakan dengan cara yang lugas. Tapi ada beberapa lagu yang jadi favorit saya, misalnya Suedehead, First in the Gang to Die, dan ada beberapa yang jujur saya nggak tahu judulnya...hahaha. 

Saya diajak nonton konser ini sebagiannya karena waktu Cip beli tiketnya, dia tahu saya sedang suntuk. Menurut dia kesuntukan saya bisa selesai lewat sesuatu yang beda: nonton konser musik dari pemusik yang nyeleneh. 

Saya nggak nolak juga diajak. Yaelah gratis, ya mosok ditolak. Dan yang ngajak pacar, ya mosok ditolak. Lalu ya kapan lagi saya nonton pemusik nyeleneh kalo nggak sama Cip.

Nah waktu nonton konsernya hari Rabu minggu lalu, di salah satu lapangan terbuka di Senayan (yang becek dan berlumpur karena sehari sebelumnya hujan deras), kami datang agak awal. Konser dimulai jam 8, kami sudah ada disitu sejak jam 7 lewat. Jadi kami sempat nunggu.

Waktu nunggu itu kami disuguhkan kompilasi dari berbagai video clips. Super campur sari. Dari Tina Turner sampai entah penyair siapa. Tapi benang merahnya kurang lebih sama: ada kegetiran, ada kritik sosial, ada kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Ya pokoknya seperti melihat hidup yang naik turun ini lah (tsaaahhh....).

Waktu akhirnya konser dimulai, saya baru paham apa wanti-wanti Cip sebelum nonton: ini pemusik yang sesuka hatinya kalau nyusun line up lagu. Apa yang jadi hits-nya malah belum tentu dia akan nyanyiin, jadi siap-siap aja malah bingung.

Dan iya sih, bener aja. 2 lagu pembuka, saya seneng karena tahu lagunya. Dan terasa juga keseruan para penonton (yang kebanyakan kelihatannya millenials kalau lihat kepala yang belum beruban dan pakaiannya), yang ikut jijingkrakan di 2 lagu pertama.

Begitu lagu ketiga, saya sampai ketawa. Sepertinya orang bingung harus bereaksi seperti apa.

But anyway...sampai sebelum lagu terakhir, saya menikmati sekali walaupun saya nggak kenal beberapa lagunya. Saya menikmati eksperimen Morrissey dengan beberapa alat musik dari negara lain. Termasuk, sebuah gong besar di belakang pemain drumnya. Walaupun eksplorasinya tidak segila dan setotal Sting, tapi saya tetap suka.

Seperti yang sudah dibahas di koran Kompas hari Minggu ini, memang konser ini berhenti mendadak. Setelah lagu yang isinya protes terhadap kebiasaan kita makan daging, protes terhadap gimana para pemakan daging membiarkan pembunuhan terhadap hewan yang dimakan, gimana para pemakan daging seperti menutup mata pada proses yang tidak layak pada banyak hewan di rumah pejagalan, tahu-tahu, dia ngilang. Begitu saja. Penonton ngegerundel. Tapi yaaa....nggak ada tuh yang protes yang gimana gitu.

Menarik banget lihat reaksi penonton yang antara percaya nggak percaya kalau si Morrissey mengakhiri konsernya begitu aja. No goodbye, nothing. Ya belakangan baru saya tahu kalau dia ngambek liat ada penonton yang merokok (memang masukpun dilarang bawa rokok dan tas diperiksa habis di 3 point pemeriksaan. Dasar akal kita ya, atau dasar perokok, I dare say...nemu aja jalan nyelundupin yang nggak boleh).

Waktu belum tahu alasan dia berhenti gitu aja, buat saya itu menarik bahwa penonton seperti pasrah walaupun bingung. Bahwa loe harus punya karya yang cukup gila untuk bisa dimaafkan berperilaku abnormal. Untuk bisa punya sikap bahwa, “Gue di atas panggung karena gue mau dan gue menikmatinya, bodo amat loe suka atau nggak pokoknya gue suka”, yang jelas banget kelihatan dari gimana dia berinteraksi dengan penonton dengan kata-kata seenak udelnya, dari susunan lagu yang dia pilih.

Kalau karya Morrissey bukan yang sarat dengan kritik, dengan pahit getirnya kehidupan yang dia sajikan dengan begitu lugas, mungkin penonton nggak bisa selegowo itu nerima kelakuannya kemarin itu. 

Ini dia pasti sengaja milih pakai Bahasa Indonesia di akhir lagunya yang lumayan bikin depresi karena saya masih makan daging dengan latar video yang luar biasa nyata tentang segala perlakuan terhadap hewan di rumah pejagalan
 -- 


Konser kedua yang saya tonton Sabtu minggu lalu, kali ini dengan si sulung, adalah Vienna Boys Choir.

Sekelompok anak laki yang kebanyakan dari Austria tapi ada juga dari negara lain, dengan suara jernih, menyanyikan komposisi-komposisi dari para komposer terkenal di dunia. Dari Ave Maria, lalu sejumlah lagu klasik, sampai lagu permainan suara binatang, lalu Jali-jali,  Edelweiss, Santa Lucia, dan sejumlah lagu lain yang dinyanyikan dengan suara alto dan soprano sejumlah anak laki yang bikin saya bingung itu latihannya gimana; karena di kepala saya, ngatur anak laki berusia mungkin sekitar 8 – 11 tahunan, bukan masalah mudah.

Indah, tertata, rapi, manis, santun.

Mendengarkan Vienna Boys Choir buat saya seperti menemukan oase di tengah hiruk pikuknya dunia. Bahwa kejernihan suara sekelompok anak-anak, yang membawakan lagu-lagu indah dengan kepolosan mereka, itu pengingat bahwa sekejam-kejamnya hidup, masih ada hal-hal yang menyembuhkan jiwa. Musik, adalah penyembuh. Dan melodi yang dibawakan suara jernih kanak-kanak, adalah penyembuh yang paling manjur bagi luka-luka dalam jiwa.

Lebay ya?. Tapi harus ada yang mau berpikir sedikit lebay saat nonton sejumlah anak di panggung bernyanyi dengan sepenuh hati dan dengan tingkat presisi nada yang luar biasa. Lebay itu perlu saat mendengarkan melodi-melodi lembut mengalun indah. Kalau itu tidak menyembuhkan jiwa, lalu, buat apa ada musik seindah itu?.

--  

Dua konser yang sangat berbeda, tapi buat saya, sama-sama karya yang hebat. Sama-sama menunjukkan dedikasi yang gila.

Ya bayangin, sejumlah anak laki usia segitu, pasti latihannya berjam-jam untuk bisa nyanyi demikian indahnya. Padahal di usia mereka mungkin kalau dibiarin ya mendingan main sepeda, atau lari-larian di lapangan. Seperti kata Tara, “Kok bisa sih ya mereka nyanyi sebagus itu, boys temen-temenku aja kalau ada kerja kelompok aja banyakan mainnya. Mereka ini gimana ya latihannya”.

Sementara Morrissey, pada jalur kegilaannya yang unik dan buat sebagian orang mungkin aneh, tapi buat saya menunjukkan kejujurannya berkarya dari hidup yang memang kadang pahit ini. Dia mendedikasikan dirinya pada kepahitan hidup,  sepertinya. Sementara karya lain mungkin sibuk pada kisah cinta, harus ada penyeimbang macam Morrissey yang mengangkat sisi-sisi gelap kehidupan.

Dua konser yang seperti datang dari dua dunia yang berbeda. Tapi sebetulnya sama-sama menunjukkan betapa musik, jika saja kita mau berhenti dan menghargai setiap nada, lirik, dan bagaimana setiap lagu diciptakan, punya dampak yang besar pada kehidupan, dan pada dunia dalam masing-masing pribadi.

Dengerin Morrissey, saya seperti diingatkan bahwa hidup memang getir, jadi jangan terlena saat kita dalam kebahagiaan karena bisa jadi itu semua semu. Sementara dengan Vienna Boys Choir, saya diingatkan bahwa segetir-getirnya hidup, selalu ada muara-muara ketenangan asal saya masih mau mencarinya dan tidak menyerah pada kegetiran.

--
 
Yah begitulah. Sebuah minggu yang menarik buat saya gara-gara dua hal itu. Entah kapan ada lagi pengalaman menarik seperti itu.

(R I R I)





Saturday, October 8, 2016

Membangun jembatan dalam 1 akhir pekan



Bukan, ini bukan mau bikin cerita tandingan Bondowoso yang berusaha bikin seribu candi buat si cantik Roro Jonggrang. 

Ini cerita tentang membangun jembatan hati. Yang memang, nggak mungkin juga terbangun cuma dalam 1 akhir pekan. Tapi rasanya, usaha menuju kesana, bisa dimulai dari suatu akhir pekan.

--

Waktu remaja, saya ngalami berdebat dengan ibu saya tentang hal-hal yang menurut saya sepele. Saya yang nggak pernah rapi, nggak pernah sudi pakai rok kecuali ke sekolah dan acara pesta, yang kamarnya selalu berantakan kecuali hari Minggu (karena itu hari dimana saya beresin kamar). Dan sederetan hal lain yang selalu sukses bikin saya kena omel. 

Katanya, anak perempuan memang akan mengalami itu dengan ibunya. Akan terjadi gesekan di usia remaja, karena ibu punya ekspektasi tertentu tentang ‘menjadi perempuan’ dan pastinya si anak juga punya ekspektasi dan keinginan yang lain, yang bukan nggak mungkin bertentangan dengan maunya si ibu. Saya, nggak luput dari yang begitu itu.

Lalu ada almarhum Papa. Orang yang dalam masa-masa itu saya anggap sebagai ally, sekutu terbaik karena beliau jarang berkomentar. Dan yang paling saya ingat: sederetan perjalanan berduaan dengan beliau. Saat kami bercerita tentang banyak hal remeh temeh, saat saya kenal siapa Pak Rustam di masa kecil dan masa-masa perang di tanah Jawa.

Saat-saat itu terpatri kuat di benak dan hati saya. Saya hanya ingat sekelebatan kecil tentang tempat-tempat yang kami datangi – yang seringkali entah ada di mana. Tapi, sampai sekarang, saya masih ingat rasa yang ditimbulkannya: nyaman, hangat, aman.

--

Begitu punya anak, yang dua-duanya perempuan, ketakutan saya kembali pada ingatan saya di masa remaja saat saya sering berdebat dengan Mama. Saya tahu hal itu tidak mungkin dihindari, tapi saya juga ingin paling nggak saya masih bisa nyambung dengan mereka.

Masalahnya, saya punya stok sabar yang lumayan tipis.

Cip menjuluki saya ‘the dog whisperer’, karena dua hal. Pertama karena entah gimana anjing galakpun bisa diam kalau saya dekati pelan-pelan. Kedua, karena menurut Cip (dan belakangan saya terpaksa mengiyakan observasinya), kalau saya sudah marah pada anak, keluarlah suara dalam, berat, nggak kenal kompromi, dengan kalimat-kalimat singkat, macam pelatih anjing yang bilang, “Blacky, sit”. Ganti saja itu dengan, “Tara, bisa nggak dengerin aku”. Atau, “Lila, beresin mainannya”. Dan memang, kalau saya sudah begitu, tidak ada satupun yang bakal berani membantah saya.

Cip juga bilang kalau saya kadang terlalu keras pada Tara. Terlalu sering meminta dia melakukan ini itu. Terlalu sering bilang kalau dia salah melakukan sesuatu. Terlalu sering ngomel. Dan dia sering mengingatkan saya supaya kalau mau marah pada Tara, stop and breathe, supaya saya menahan diri dan tidak bikin dia merasa terlalu sering dikritik oleh bunda.

Diingatkan seperti itu pastinya bikin saya takut. Saya berusaha nahan diri kalau sadar darah mulai naik saat menghadapi Tara. Tapi gimanapun juga selalu ada saat-saat dimana suara meninggi dan kami jadi berdebat – apalagi sekarang, saat hormon perempuan di tubuhnya mulai beraksi.

--

Suatu hari, saat Cip dan saya sedang duduk-duduk di warung di siang yang panas di kompleks Angkor Wat, kami ngobrolin anak-anak. Saya menyuarakan kekhawatiran saya: saya sadar saya sering kehilangan kesabaran, apa mungkin nanti Tara akan tetap bisa merasa saya adalah ibu yang bisa jadi tempat dia cerita. Apakah mungkin saya bisa mematri rasa itu di benaknya: nyaman, hangat, aman.

Dan, datanglah tantangan itu dari Cip.

“Travel gih berdua Tara. Over the weekend aja dulu. Nggak usah jauh-jauh. Kalau kalian bisa nggak bertengkar selama 2 hari itu, aku ganti semua expenses kamu di perjalanan”.

Dua hal di ide itu: travel dan tantangan, kontan saya terima. Itu, adalah kesempatan terbaik buat membangun pelan-pelan jembatan yang lebih kuat di antara hati kami. Jembatan yang dibangun di atas sebuah petualangan kecil. Yang mengingatkan saya pada apa yang dulu saya alami bersama almarhum Papa.

Dan saya selalu percaya: perjalanan mengeluarkan kita dari comfort zone. Dan saat itu, kita akan jadi siapa kita yang sebenarnya – tanpa topeng. Itu, adalah saat terbaik buat membuka diri pada siapapun.

Dengan itu, saya mulai petualangan kami yang pertama.

--

Sebuah perjalanan pendek, ke Borobudur dan Punthuk Setumbu untuk lihat sunrise, jalan-jalan ke Yogya, dan ke Prambanan dan sekitarnya.

Perjalanan, yang ternyata, seperti yang saya duga, belum bisa imun dari pertengkaran (dan pastinya, saya nggak jadi dapat ganti biaya perjalanan deh :D).

Tara menikmati naik ke Borobudur dan menunggu sunrise. Tapi ternyata minta dia bangun jam 4 pagi, lagi, keesokan harinya untuk ke Punthuk Setumbu adalah sebuah kesalahan. Kombinasi dia capek karena hari sebelumnya kami jalan cukup lama, dan fakta bahwa, “Ini kan liburan, kenapa sih jadinya aku harus bangun pagi terus”, itu ternyata killer combination untuk bikin dia jengkel.

Tapi kami menikmati kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Kami ketawa ngakak saat Google Maps membuat kami tersesat ke jalan desa yang buntu dan sedang diperbaiki. Kami menikmati obrolan-obrolan remeh temeh. Saya ketawa dengerin Tara cerita tentang sekolah dan teman-temannya.

Saya ganggu dia tentang periode naksir-naksiran, yang ternyata, belum dia rasakan. “Kak, kalau nanti ada cowok bilang suka sama kamu, gimana”. Dan dia jejeritan sambil ketawa bilang, “Aaah bunda, ngapain sih ngomongin itu”. “Lho Kak, itu akan terjadi satu hari nanti lho. Kamu juga akan suka sama cowok satu hari nanti. Sekarang aja belum”. 

Dan dia ngakak nggak bisa berhenti – ngebayangin naksir cowok buat dia ternyata masih sebuah hal yang aneh, lucu, dan ini yang asik: jijik. Saya bilang, “Sekarang mungkin njijik’i, nanti, kalau kamu lebih besar lagi, that may be one of the best feeling you can have: to like and be liked by a guy. Percaya kata bunda deh”. Dan dia malah makin ngakak. 

Di tengah ketawa-ketawa itulah saya coba sisipkan pesan-pesan sederhana tentang menjaga diri dan kehormatannya sebagai perempuan. Saya juga ceritakan kekhawatiran saya tentang masa depannya dan kenapa, saya mungkin sering ngomel. Tapi ternyata, di mata Tara, “Bunda emang kadang-kadang bossy, nyebelin banget kalau lagi gitu. Tapi bunda konyol. Kelakuan bunda kadang-kadang aneh gitu, jadinya lucu aja”. Hmmm....kredibilitas macam apa yang sedang saya bangun di mata anak saya, ya....hahahaha. 

Obrolan-obrolan yang terjadi mengalir begitu saja. Saya juga nggak bermaksud menasehati dia, tapi untuk lebih memahami dia, dan mendengarkan dia dengan sepenuh jiwa raga saya.

Saya juga belajar dalam dua hari itu, bahwa saya yang harus berubah. Saya yang harus beradaptasi.

Perjalanan kemarin mengajarkan saya bahwa saya harus mulai menghormati area yang dia inginkan. Saya harus mulai melibatkan dia, menyusun itinerary misalnya, mencari tempat-tempat asik untuk nongkrong dan makan. Saya harus belajar untuk nggak pakai agenda saya saat merancang perjalanan. 

Saya belajar bahwa mendengarkan dia, sesepele apapun ceritanya, adalah hal yang menyenangkan. Bahkan saat saya nggak ngerti apa yang dia ceritakan, tetap menyenangkan. 

Tara sedang baca sebuah novel karya Tere Liye, dan dia menceritakan cuplikan-cuplikan cerita dari novel itu. I had no idea what she was talking about, tapi mendengarkan dia, yang seperti ingin mengajak saya menyelami apa yang sedang dia nikmati, rasanya menyenangkan sekali. 

--

Waktu nunggu pesawat pulang ke Jakarta, saya kirim pesan via WA ke Cip: I had a great time. Nggak tau apakah Tara juga had a great time. 

Jawaban Cip bikin saya senyum: ah dia kan sebenernya bangga dan sayang sama bundanya, pasti seneng jalan sama kamu, nggak usah ditanya. 

Ya mungkin. Entah, saya memang nggak nanya. Yang jelas, ada candu baru di hidup saya: perjalanan berdua saja dengan dia, dan kelak akan saya lakukan juga dengan adiknya, membangun jembatan-jembatan kecil, yang bikin nyaman, hangat dan aman. 

Kenapa harus berdua saja? – karena, saat itulah saya bisa bikin dia merasa, bahwa saya ada disitu cuma buat dia. Persis seperti yang saya rasakan dulu setiap almarhum Papa ngajak saya pergi berdua. Saat-saat yang kami nikmati sepenuhnya. Cerita-cerita yang kami pupuk pelan-pelan. Dan rasa yang terpatri kuat. Itu, tak tergantikan. Jadi jembatan hati yang abadi, tak lekang oleh waktu.

(R I R I)
Kami sama sekali nggak mirip, kecuali, sama-sama temperamental mungkin :) Moga-moga jembatan-jembatan kecil yang sedang berusaha saya buat, kelak akan tetap bikin kami nyambung, even with all the differences and arguments as she grows up
 

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts