Wednesday, November 17, 2010

Sepiring jajanan, dan sebungkah kenangan

Siapa sih yang nggak suka jajanan. Dan rasanya sih kalau orang Indonesia, harusnya suka ngemil. Saya sering sekali dengar komentar klien dari luar negeri, yang selalu bilang orang Indonesia itu suka sekali ya snacking!. Sampai saya berpikir harusnya mencirikan orang Indonesia itu dengan dua hal dong ya: murah senyum dan tidak berhenti mengunyah.

Biasanya tiap orang juga punya jajanan favorit.

Kalau saya, salah satu jajanan favorit saya adalah siomay.


Dulu waktu di SD, kalau saya punya uang jajan (yang sering sekali tidak terjadi), pasti saya beli siomay ala kadarnya. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan tepat, pokoknya bentuknya bukan bulat-bulat, tapi pipih. Saya paling suka siomay tahu gorengnya. Dulu buat saya rasanya itu sudah enak sekali. Dan sekarang saya masih sering kangen dengan itu, tapi tidak tahu harus cari dimana.

Tukang siomay lain yang jadi favorit saya ada di tempat saya les menari Bali, di Gedung Wanita lama di Jalan Diponegoro. Kalau sedang beruntung, Mama akan membelikan sepiring siomay itu setelah selesai latihan menari. Wah, itu tob markotob, jauuuhhh kelasnya di atas si tukang siomay yang jualan di sekolah. Jadi, kalau dibelikan siomay itu, saya akan menikmatinya sampai piringnya licin tandas, bahkan bumbunya pun tak bersisa. Sayangnya, setelah les di tempat itu sekitar 4 atau 5 tahun, gedung itu dialihfungsikan menjadi gedung Pramuka, jadi sanggar kami terpaksa pindah tempat latihan. Dan saya kehilangan si tukang siomay top itu.

Tapi ternyata saya masih beruntung. Di tempat latihan kami yang baru, di Kuningan, ada tukang siomay lain yang tak kalah topnya. Dan karena waktu itu saya sudah SMP, sudah rutin punya uang jajan sendiri, saya sering sengaja menyisihkan uang di hari les menari hanya supaya saya bisa beli siomay itu. Kalau saya sedang beruntung berhasil merayu Papa, yang selalu menjemput saya, untuk membelikan saya siomay, biasanya santapan akan ditutup dengan Teh Botol. Dan kalau itu terjadi, wah rasanya…nikmaaatttt sekali (kombinasi kepuasan dari gratis alias uang jajan utuh, plus, bisa minum minuman yang waktu itu buat kantong saya harganya masih tergolong mahal).

Di rumah, saya juga punya tukang siomay langganan. Si abang selalu lewat menjelang maghrib. Jadi kalau sudah saat-saat itu, saya sering duduk di teras, sambil ngobrol dengan Papa yang menikmati teh sore dan rokoknya ,menunggu si tukang siomay. Dan saya selalu beli menu yang sama: 4 siomay, 1 tahu, 1 kentang.

Kadang semua orang di rumah akan beli. Kadang hanya saya dan Papa, atau saya dan kakak saya, atau saya dan Mama. Tapi sering sekali memang kami menghentikan si abang ini.

Saking seringnya saya beli siomay si abang, si abang ini sampai hafal. Kalau lewat di depan rumah saya, dia pasti berhenti agak lama dan membunyikan belnya kalau kebetulan saya sedang tidak di teras, sampai entah saya atau pembantu keluar, dan dia akan bertanya, “Beli siomay gak Neng?”. Dan seringnya sih, kami beli.

Si abang siomay itu juga yang pernah sangat akrab dengan mantan pacar saya di awal-awal masa kuliah. Teman SMA yang tidak pernah terlirik di masa sekolah tapi malah jadi pacar saat sama-sama sudah lulus.

Karena kebetulan si mantan ini juga doyan makan, kalau memang sedang di rumah di saat si abang lewat, pasti dia akan beli. Dan si abang sering menggoda dia, “Ini kesininya sering banget, buat ngapelin atau nungguin siomay saya Mas?”. GR banget si abang itu (tapi akhirnya saya tanyakan juga hal yang sama pada sang mantan…hehe..).

Lalu saya makin sibuk, makin sering tidak ada di rumah di saat si abang lewat. Dan tanpa disengaja, si abangpun terlupakan.


Saya jadi mengingat-ingat lagi semua itu gara-gara pertemuan tidak sengaja dengan si tukang siomay itu beberapa minggu yang lalu. Di suatu sore waktu saya dan kakak kelaparan dan tidak terlalu tertarik untuk makan nasi dan lauk pauknya.

Saya kaget juga waktu membuka pagar dan melihat abang yang sama ini. Tetap dengan gayanya yang sama: suara bel yang sama, model topi yang sama, keramahan yang sama dengan logat sundanya yang kental. Hanya sekarang sudah beruban dan tubuhnya lebih gemuk dibanding belasan (atau malah puluhan ya) tahun yang lalu. Dan saya, tetap dengan menu yang sama.

Kami bertukar sapa. Dia kaget melihat saya sudah punya anak yang tingginya hampir sama dengan ibunya padahal baru 6 tahun (duh…saya akan jadi kurcaci keluarga sebentar lagi…). Dan saya baru sadar sudah sekian lamanya kami tidak bersinggungan. Dan saat transaksi jual beli telah selesai, dan si abang keluar dari pagar, saya baru sadar kalau saya sebetulnya tidak tahu apa-apa tentang si tukang siomay itu. Terbersit sedikit rasa bersalah, karena saya tidak melihat dia sebagai individu yg utuh, yang bukan sekedar tukang siomay.

Untuk menebus rasa bersalah, saya pandangi dari balik pagar punggung si abang berlalu menggenjot sepedanya, dan mendoakan semoga dia dan keluarganya selalu diberkahi kebahagiaan dan keselamatan.


Gara-gara pertemuan itu juga saya jadi sadar, jajanan bukan cuma sekedar makanan pengisi perut. Ada banyak kenangan yang tercetak disitu. Entah kenangan masa kecil, masa pacaran, masa masih susah-susahnya punya uang terbatas, dan banyak lagi.

Tukang-tukang siomay itu cuma sebagian dari jajanan dan jejak kenangan saya. Daftarnya masih panjang.

Masih ada misalnya tukang nasi goreng di Jl. Birah, tempat saya dan Ciptadi makan setelah nonton Jiffest – kencan ‘beneran’ pertama kami. Sambil makan dan ngobrol ngalor ngidul kami lihat tikus seliweran dan malah ketawa-ketawa dan membayangkan daging di nasi kami adalah daging si tikus-tikus itu. Atau tukang soto di tempat jajan SMA, tempat saya dan salah satu sahabat saya yang paling karib sering makan sambil bertukar cerita saat kami menunggu waktunya praktikum. Atau tukang mie dog-dog (karena dia tidak berbunyi ‘tek-tek’), langganan ayah saya kalau beliau sedang insomnia, dan beliau selalu membangunkan saya dengan mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar saya, menawarkan semangkuk mie rebus, padahal sudah tahu jam 12 malam atau 1 pagi saya tidak pernah ingin makan. Saya biasanya bangun karena tidak tega membayangkan beliau makan sendirian. Ada juga tukang martabak sekaligus kue bantal dan cakwe, yang selalu disambangi keluarga kami di malam minggu sejak saya SD sampai saya SMA.

Dan tukang-tukang jajanan itu masih disitu. Di tempat mereka yang sama. Atau masih melewati rumah dengan suara yang sama. Dan setiap kali melewati tempat-tempat itu, atau mendengar suara-suara khas itu, saya masih bisa mengingat jejak-jejak kenangan yang lekat bersamanya.

Tidak salah memang, kalau dibilang, kadang makanan yang bikin kita tidak bisa beranjak. Cip pernah tanya kenapa saya tidak pernah ingin bekerja di luar negeri.

Jawaban praktisnya tentu saja saya tidak tega meninggalkan ibu saya sendirian di Jakarta. Tapi ada hal lain: saya tidak bisa membayangkan jauh dari jajanan khas yang saya kenal sejak kecil. Alasan bodoh? Mungkin.

Tapi saya masih ingat beberapa malam di Melbourne saat saya dan teman-teman harus mengejar deadline tugas. Kami seringkali berkhayal ada tukang mie tek-tek, atau sate ayam, atau sate padang, sekoteng, bajigur, bakso, yang lewat. Bukan cuma buat mengusir lapar, tapi juga untuk berbagi dan melepas penat. Seru rasanya membayangkan mengerubungi si abang dan merepotkannya dengan berbagai pesanan kami. Dan tiap kali kami membayangkan itu, kami jadi nelangsa. Sangat terasa saat itu betapa hal-hal kecil itu, sebetulnya mengakar di diri.


Saya tidak bisa membayangkan Indonesia tanpa tukang-tukang jajanan itu. Saya tidak ingin negeri ini steril tanpa mereka. Mereka bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian. Kalau mereka tidak ada, yang ada hanya restoran-restoran yang dingin dan impersonal, rasanya kok janggal. Mereka warna warni negeri ini juga, dengan gerobaknya, sepedanya, belnya. Mereka membuat banyak pemukiman menjadi lebih berjiwa.

Semoga saja tidak lebih banyak lagi di antara mereka punah, seperti tukang es lilin yang sampai sekarang saya masih kangeni karena bentuk gerobaknya yang unik seperti perahu, dan es lilin sederhana yang tidak pretensius dengan bercak-bercak tape ketan hitamnya...

(R I R I)

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts