Thursday, September 8, 2016

Beda generasi, atau, telat berubah?




Akhirnya kesampaian juga saya nonton film Tiga Dara yang direstorasi.

Mengingat film ini dibuat tahun 1957, ‘baru’ 12 tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, saya jujur saja punya bias terhadap kehidupan masa itu. Sebagiannya dari cerita-cerita orang tua, sebagian lagi sebetulnya rekaan otak saya saja sebagai orang yang hidup jauuuh setelah masa itu.

Di bayangan saya, tutur kata si tiga dara dalam film ini pasti yang modelnya masih lemah lembut pada orang tua. Nggak ada tuh bantah-bantahan dengan orang tua – apalagi dengan nenek. Bapaknya pasti tipe yang cuek banget, nggak bisa diajak ngobrol, nggak bisa diajak kolaborasi dan kompromi.

Dengan segala asumsi itu, semalam saya nonton. Dan amat sangat menikmati filmnya. Dan ada rasa bangga juga dengar lagu-lagu gubahan almarhum om saya yang nggak pernah sempat saya kenal, Saiful Bahri.

Selesai nonton, saya malah jadi mikir ini: apa iya sih tiap generasi itu berbeda?.

--

Nonton film ini terus terang buat saya feelingnya ya seperti nonton interaksi antara orang tua dengan anak jaman sekarang saja. Ketiga dara ini sangat open bicara pada ayahnya, bahkan pada neneknya. Nggak mau ya bilang nggak mau. Nggak suka ya bilang nggak suka. Mau ganggu ayah atau neneknya ya diganggu aja. Nggak ada sungkan. Nggak ada batas-batas yang tadinya di kepala saya pasti kaku banget lah.

Nah nggak tau ya apakah memang karena ini film. Tapi salah satu yang bikin saya suka nonton film adalah karena percaya bahwa film menggambarkan sebagian kenyataan dalam masyarakat. Pasti ada bumbunya, tapi saya selalu percaya kalau mau merasakan sebagian denyut suatu masyarakat, nonton lah filmnya.

Film-film Eropa misalnya, selalu terkesan pabeulit. Ada segmen cerita ini, lalu cerita itu, lalu cerita anu, tapi tahu-tahu nanti muaranya satu. Entah gimana ntar pokoknya pasti saling nyambung. Dan...umumnya akhir ceritanya bikin melongo. Entah melongo karena aduuuh ampuuuunn tragisnya (tapi ya hidup memang tragis...piye...), atau melongo karena oalaaah ngono tooooh, atau melongo karena aduh kok ya begitu ya bagusnya (yang ini biasanya karena pemandangannya).

Itu buat saya menggambarkan Eropa yang multidimensi, beragam, dan dihantui masa lalu yang sebetulnya tragis gara-gara Hitler dan saya percaya itu mempengaruhi bagaimana orang Eropa memandang hidup.  

Nah film Tiga Dara kurang lebih buat saya menggambarkan jiwa di masa itu. Indonesia yang sedang membangun, sedang semangat. Filmnya terasa sekali energi positifnya – bahkan dengan topik yang buat perempuan kayak saya yang ngerasain dirasani orang karena umur 30 belum juga menikah, bikin gemes...hahaha. Neneknya pengen ‘tak pites.

Tapi yang saya nikmati sekali adalah bagaimana film ini membuka mata saya tentang interaksi ortu dan anak di masa itu. Ternyata ya, di jaman apapun, kelakuan anak ke ortu ya sama aja kok: ngebantah juga, ngeyel juga. Dan di film itu digambarkan ngebantahnya ya sama aja dengan saya dulu, atau Tara sekarang. Bapaknya juga walaupun sibuk tapi ternyata seru – bisa diajak kompromi dan kolaborasi demi kedamaian kakak beradik itu.

Tapi setelah nonton film itu semalam saya jadi ingin tahu juga sih: jangan-jangan model interaksi seperti itu belum lazim sebetulnya di jaman itu. Jangan-jangan film itu bikin heboh di jamannya karena mendobrak pakem. Nah saya belum sempat browsing tuh. Dan nggak tahu juga apakah ada cerita-cerita tentang bagaimana film yang sangat sukses di jamannya ini, mempengaruhi pandangan masyarakat kala itu.

--
That aside, kita kan suka ngomel ya, “Anak sekarang blablablabla....”. Dan blablabla itu beragam dari dimensi yang positif sampai negatif. Dari yang makin pinter dan kreatif sampai makin kurang ajar dan nggak tahu adat.

Tapi nonton film semalam saya jadi mikir: jangan-jangan itu ketidakadilan penilaian buat generasi selanjutnya. Mungkin iya benar bahwa konteks kehidupan berubah, sarana yang mengelilinginya berubah, sehingga pasti ada sisi-sisi perilaku yang berubah. Tapi jangan-jangan yang kita tuduhkan pada mereka juga tidak benar.

Jangan-jangan kita yang TERLAMBAT berubah. Kita yang masih gagap meningkahi semua perubahan. Masih pakai kacamata lama untuk melihat sesuatu yang sudah jauh berbeda. Jadi alih-alih menyalahkan generasi selanjutnya, jangan-jangan kita yang harus berhenti menilai mereka dan mulai menilai diri sendiri: sudahkah saya paham apa yang sedang terjadi dengan dunia?, dan dengan itu paham bagaimana saya harus beradaptasi?.

--
PR besar, itu: memahami bagaimana kita harus berubah. Karena itu terjadi dengan alami buat anak-anak kita – mereka sedang tumbuh dan besar bersama perubahan itu. Lha kita, gimana nih. Jadi sebetulnya, sama seperti pesan yang saya tangkap dari film Tiga Dara itu adalah, bagaimana kita sebagai orang tua mau mengikuti perubahan yang sedang dialami anak-anak kita. 

Termasuk menghargai setiap pengaruh perubahan itu pada perilaku mereka – selama itu baik. Dan menggiring mereka ke koridor yang baik DAN SESUAI DENGAN PERUBAHAN JAMAN, saat kita merasa arah mereka mulai melenceng. Definisi melenceng pun jangan-jangan harus dikalibrasi juga setiap kali jaman berubah.

Saya sih bisa nulis gini. Pada prakteknya, masih berjuang. Sama sekali tidak mudah. Butuh waktu-waktu dimana saya harus diam dan kontemplasi, terutama saat saya marah pada anak-anak. Lalu bertanya: adilkah saya marah?, is it them or me who was wrong in thinking that they are wrong to be like that?. Ah kadang malah bikin gemes sama diri sendiri.

Mari kita belajar bersama. Semoga kita bisa jadi orang tua yang lebih baik dan lebih ‘change friendly’ :)

(R I R I)


Tuesday, September 6, 2016

Jadi yang biasa aja



Yang butuh cuti adalah mereka yang baru saja cuti. 

Itu selalu berlaku di hidup saya kayaknya. Entah karena yang namanya Murphy’s Law itu benar adanya, atau ya memang itu cuma cara hidup menyeimbangkan keadaan: setelah senang tibalah susah, dan sebaliknya. 

Tanpa bermaksud mengeluh, minggu lalu rasanya berat sekali saya lewati. Padahal baru saja libur. Dan setelah Senin dan Selasa yang juga nggak semudah yang saya kira, baru rasanya ada sedikit waktu buat napas dan berhenti sejenak (ho’oh...padahal wiken rasanya baru kemarin...). 

Dan mungkin saya memang ibu yang sedikit abnormal. Sudah ada di rumah sejak jam 6, saya memang tidak segera cari anak-anak. Yang saya cari adalah kamar dan ketenangan dan kesendirian. Saat sebentar dimana saya bisa sekedar berbaring, memejamkan mata tidak untuk tidur, tapi untuk membiarkan otak saya mengembara kemana-mana.  

Pengembaraan otak saya sore tadi bermuara di satu topik: keadaan ‘biasa aja’, rata-rata, tidak istimewa tapi juga tidak gagal. Topik yang mengganggu saya sejak tadi pagi. 

Ini semua mungkin separonya gara-gara saya sedang baper. 

Sudah September!. Bukan cuma itu, udah lewat tahun ke-5!. Dan saya merasa yang saya lakukan sedang jalan di tempat. Perusahaan yang dibilang rugi ya nggak (alhamdulillah), tapi mau dibilang berkembang ya nggak juga – dia jalan di tempat. 

Not a bad position to be, sih, saya akui. Masih bisa menggaji 8 orang pegawai itu bagaimanapun juga sangat saya syukuri. Tapi bagaimanapun juga, kadang saya nggak bisa menghindari pertanyaan klasik itu: mau dibawa kemana lagi?. 

--

Susah ya kadang-kadang tahu emang kita masih bisa stretch?. Atau juga ini: emang kalau kita lebarkan lagi, kita paksa meluaskan diri, kita sanggup?. Lalu apa konsekuensinya?. 

Saya pernah kerja di perusahaan asing, dimana target selalu dibawa naik-naik ke puncak gunung. Sampai kadang bikin saya bingung ini yang bikin target memang sedang ingin naik gunung atau lagi hang over sehingga dia kira dia burung yang bisa terbang tinggi, tinggi sekali. 

Saya terbiasa dipertanyakan: kenapa cuma segini, apa lagi yang bisa dilakukan; dan saya selalu merasa terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 

Saya selalu kembali pada pertanyaan yang sama: emang kenapa dengan yang sekarang?, kan udah naik, walaupun nggak ke puncak gunung?. Menurut loe orang-orang ini belum kerja sekeras yang loe mau?. Dan biasanya diskusi itu akan berakhir dengan saya yang menyerah berargumen dan cuma bisa bilang: OK now what do you want us to do?. Dan di akhir tahun saya mengirimkan surat cinta yang gegap gempita tanpa sensor sebagai catatan akhir tahun pada bos saya. Cuma buat memuaskan rasa kesal saya saja sih. Dan sedikit harapan saya di-PHK karena terlalu kurang ajar. Tapi sayang saya nggak pernah seberuntung itu walaupun sudah cari gara-gara. 

Saya muak dengan keadaan itu setelah 4 tahun – setelah saya merasa cukup sampai disini saya belajar untuk dipecut dan menahan ngilu karena pecutan. Lalu memutuskan untuk keluar dari lingkaran setan itu.

--

Sekian tahun sesudahnya. Disinilah saya. Di persimpangan itu: mau jadi yang ‘biasa aja’, atau mau dibawa lari lebih kencang lagi?.

Sejak kecil saya rasanya sudah selalu menargetkan diri untuk jadi yang ‘biasa aja’. 

Juara kelas nggak pernah. Juara perlombaan apapun nggak pernah. Saya juara cuma waktu les nari Bali – beberapa kali jadi murid terbaik di tingkatan tari tertentu. Tapi itu juga saya nggak pernah anggap luar biasa – karena saya suka jadi buat saya lumrah saja saya jadi yang terbaik lha wong emang saya suka banget kok. Ajaran almarhum Papa adalah itu: kalau kamu suka buktikan dengan memberikan hasil yang baik.

Tapi sampai sekarang rasanya saya memang nggak pernah niat sampai jungkir balik untuk jadi yang terbaik atau untuk jadi ‘yang tidak biasa-biasa aja’. Semua saya biarkan mengalir. Dan, I never had any problem with that.

Until now.

Mungkin ini juga pertanyaan klasik para wirausaha: mau digedein, atau segini aja?. Kalau digedein, mau segede apa?. Kalau mau dibawa lari, mau seistimewa apa?. Dalam industri dimana the impossible triangle (murah, cepat dan bagus – go figure...) masih sering digunakan untuk membeli jasa, mau gimana supaya tidak bisa dipaksa mengikuti segitiga peyot itu?.

Pening kepala saya mikirinnya. Dan tetap saja saya nggak tahu jawabannya apa. 

Kalau mau jujur kadang-kadang ada keinginan untuk satu waktu saya berhenti melakukan ini (terus yang baca dan kenal saya panas dingin nggak ya....hahahaha...). Cuma lalu ada pertanyaan lain: terus mau ngapain?. Nulis buku cerita anak – ide yang bagus, tapi masalahnya saya juga nggak kreatif-kreatif banget. Jadi travel agent? – ah terlalu pusing ngurusin orang.

--
Aaaand as a consolation to myself, saya mengakhiri pengembaraan otak saya tadi dengan ini: apa sih yang tidak biasa saat di atas langit masih ada langit, di atas yang bagus masih ada yang lebih bagus?. Mau dikejar sampai mana?. Kan sekarang walaupun biasa aja tapi loe baik-baik aja. You still have a life. You can still enjoy your other hobbies. You can still enjoy being a mother of two. Jadi yaaa....it’s OK lah to be mediocre. Untuk tidak jadi ‘sesuatu’, hanya salah satu dari sekian pemain.

Saya tahu banget mikir seperti itu artinya minta dimarahin oleh salah satu rekanan bisnis saya: gilak...mikirnya kayak gitu mah gak maju-maju.

Ah entahlah. Sekarang saya mau bilang it’s OK to be mediocre. Cause without us, there are no stars :) (jadi ceritanya saya minggir, supaya yang lain bisa jadi bintang...that sounds to be a good excuse for now...supaya saya bisa tidur nyenyak malam ini).


There's rainbow after the rain...there are pots of gold at the end of every rainbow... 
#edisibapergalaudikuartalakhirtahunini

(R I R I)

Thursday, July 28, 2016

Makna sepasang tetek



Tunggu. Jangan melotot dulu. Emang lagi males aja saya pake bahasa yang bener. 

Saya bikin tulisan ini karena tergelitik status seorang teman di FB. Intinya istrinya dicela sebagai ibu yang kurang baik karena tidak berhasil memberikan ASI eksklusif.

Astaga, ya. Udah tahun 2016, udah ganti kabinet entah berapa kali, masiiiih aja ada ya yang ngeributin gituan.

Saya juga pernah tuh, ngalami, waktu anak pertama.

Ya namanya juga Mahbar – Mamah Baru (karena bukan muda-muda amat sih waktu itu, pake istilah mahmud ntar diketawain nyamuk), nggak ngerti harus ngapain. Di rumah sakit nggak diajarin gimana cara nyusuin, belajar tebak-tebak sendiri. Nggak ngerti gimana cara mompa ASI. Nggak ngerti kalau ada yang namanya ‘rooming in’ yang jadi hak ibu dan anak.

Begitu udah di rumah, capeeeekkk buangeeettt rasanya karena belum punya mbak (ceritanya sok idealis: gak mau punya babysitter dulu sebulan...BAH!!! – GET REAL!. One of the stupidest ideas I’ve ever had in my entire life!). Sementara little Tara itu jam 10 malam sampai 4 pagi PASTI melek. Jadi begitu matahari tinggi, kesadaran saya lagi ada di tingkat paling bawah. Zombie to the max.  

Belum lagi si nenek yang bahagia punya cucu pertama, pengen bisa mangku si cucu sambil liatin dia mimik susu. Lengkap sudah dilema hidup saya sebagai emak baru. Antara pengen tidur sama pengen tetep nyusuin. Antara pengen ngebiarin omanya kasih susu lewat botol sama pengen si bayi ‘bersih’ dari sufor di umur pertamanya.

Tapi akhirnya saya ngalah sama panggilan badan.

Jadi, di 2 minggu pertama kehidupannya, saya kasih dia susu formula. Kalau saya udah teler di pagi hari, saya biarin tu bayi diserahin ke si oma, disusuin pake botol. Demi saya bisa tidur sejam, demi saya bisa waras lagi. Karena ya itu wong nggak ada mbak, semua harus saya urusin sendiri (termasuk, frantically nge-browse nyari yayasan penyalur babysitter...haha).  

Di masa itu, saya juga ngalami tuh ‘ditegur’. “Mentang-mentang suami kerja di perusahaan sufor niiih”. Iya emang waktu itu Cip kerja di sebuah perusahaan sufor. Atau ini, “Yaaa dilawan capeknya, bisa kok”.  

Elhadhalah, eh njrit. Ini idup gue, sapa lu sok-sok ngejudge. Gitu reaksi pertama di kepala saya.

But then, akhirnya saya ketawa aja. Ngapain ribut. Biarin ajalah. Yang tahu kan saya – sampai dimana kapasitas badan saya.

Tapi jujur ye, kesel juga digituin. Dan jujur juga, ada perasaan, “Jadi, gue gagal nih jadi emak yang harusnya mampu kasih ASI eksklusif. Masa gitu aja gue gagal...”. Sedih juga ye kaaan. Untung aja Cip bisa nenangin saya, bahwa pilihan saya itu juga diambil oleh banyak ibu. Bahwa alasan saya kan bukan karena males, tapi emang karena nggak sanggup. Dan toh, dalam sehari, si bayi cuma ‘kena’ sufor sekali itu aja, pagi. Selebihnya, full dari saya. Dan cuma 2 minggu pertama. Alhamdulillah sampai bulan ke-6 bisa eksklusif juga, walaupun tiap hari saya pontang panting supaya bisa sampai di rumah jam 5 sore karena gak punya simpenan ASI.   

Nah karena pernah ngalami sendiri, saya masih selalu mendidih kalo baca reaksi para IBU YANG LAIN, yang mencela atau bahkan nge-bully mereka yang dianggap nggak berhasil kasih ASI eksklusif.

Aduh please deh ya. Sepasang tetek itu emang diciptain untuk bisa kasih makan bayi. Program ASI eksklusif itu emang dibuat karena manfaat ASI yang luar biasa pada kehidupan bayi. Tapi coba deh dipikir: siapa kita untuk berpikir bahwa semua perempuan HARUS bisa kasih ASI eksklusif?.

Sepasang tetek itu walaupun nempel di badan perempuan kan isinya seringkali nggak bisa dikontrol oleh yang punya badan. Gimana badan seorang perempuan beradaptasi dengan segala perubahan saat dia hamil, melahirkan, lalu menyusui, itu juga gak bisa dikontrol semudah kita ganti channel di TV.

Terus, mau disalahin juga si ibu, dianggap nggak bisa me-manage isi teteknya?. Saya pengen nanya ke orang yang berpikiran gitu: anda bisa nggak me-manage isi kepala anda? *siulsiul*.

Yang menyedihkan, semua kekejaman kritisi itu kok ya datangnya dari sesama pemilik tetek yaaa. 

Tetek loe lebih bagus dari punya yang lain?, lebih bisa sempurna ngasih makan bayi loe?. Ya udah sih alhamdulillah aja...diem aja napa.

Tapi mungkin emang udah begitu ya bawaannya perempuan: merasa superior dari perempuan lainnya itu pentiiiing banget. Sampai lupa, bahwa teteknya dia juga bukan punya dia...itu pinjeman aja dari Tuhan. Lha kok lebih kejam dari Tuhan mengkritisi pemilik tetek lainnya...

Aaaaanywaaayyy....ini tulisan malam hari yang iseng pake banget. Dari seorang ibu buat ibu-ibu lainnya.

Kalau ada yang baca dan kebetulan anda pernah dicela atau dibully seputar masalah ngasih ASI, atau 
anda lagi hamil pertama dan sebentar lagi akan ngadepin masa menyusui (karena biasanya anak kedua dan seterusnya udah cuek sama orang mau bilang apa), pesan saya ini: nggak usah ribetin omongan orang, Sista!. Tahu kan istilah anjing menggonggong kafilah berlalu? – naaahhh...gitu lah. Sebagai ibu, anda adalah kafilah yang mulia – membawa makhluk hidup ke dunia itu tugas super berat!. Jadi lakukan yang anda anggap terbaik. Lupakan orang bilang apa.

Lagian, ya, tetek ya tetek anda kok...urusan apa orang lain dengan tetek anda?.

Gitu deh. Salam emak-emak!.

(R I R I)

Wednesday, July 27, 2016

Berdamai dengan kehilangan



Waktu saya kelas 2 SMP, saya baru tahu apa rasanya kehilangan. 

Ya sebelumnya sih saya pernah kehilangan nenek saya. Saya baru kelas 2 atau 3 SD kalau nggak salah. Tapi walaupun saya dekat dengan nenek, tapi mungkin karena saya waktu itu baru 7 tahun, saya nggak gitu paham apa artinya kehilangan beliau.

Kehilangan berikutnya yang cukup bikin saya tertampar. Teremas-remas. Dan baru itu saya ngerasain ada tempat yang kosong di hati yang sampai sekarang nggak pernah terisi lagi karena saya nggak ingin ada yang ganti mengisi tempat itu.

--

Suatu siang. Saya masih kelas 4 SD. Papa pulang kantor dan bilang, “Ri, ada yang harus diambil tuh, di mobil”. Saya dengan girang lari ke mobil beliau. 2 hari sebelumnya saya ulang tahun, jadi saya pikir tumben nih Papa kasih saya kado.

Buka pintu mobil, celingak celinguk, nggak ketemu apa barang yang harus saya ambil. Saya nggak lihat satu barangpun di kursi. Saya balik ke dalam, “Apaan Pa, nggak ada apa-apa di mobil”. “Lihat di kolong kursi”.

Saya melongok susah payah. And there it was.

A very cute fur ball. Anak anjing. Mungil. Menggigil ketakutan. Mendengkingpun tidak. Tapi saya tahu, saya sudah jatuh cinta.

Saya kasih dia nama Coki. Seperti nama pelukis serba bisa, favorit saya di majalah Hai.

Menentang keinginan Mama, saya biarkan Coki tidur di kamar saya dalam kardus. Awalnya, karena dia keturunan anjing pendek, dia gak berdaya dimasukkan dalam kardus yang cukup besar. Tapi makin lama dia makin besar, dan suatu malam, dia berhasil menumbangkan kardus dan berusaha naik ke tempat tidur saya.

Saya diserahi tanggung jawab penuh pelihara Coki. Papa ajarkan saya kasih vitaminnya, mandiin, nyisirin tiap minggu. Coki punya sabun dan handuknya sendiri. Sisirnya sendiri.

Coki jadi anjing saya. Sebelumnya, semua anjing yang kami pelihara adalah ‘anjing Papa’ atau ya anjing kami. Tapi Coki, anjingnya Riri. 

To cut a long story short, suatu hari, Coki sakit. Dokter sudah bilang dia tidak bisa sembuh. Jadi satu-satunya jalan adalah membuat dia nyaman.

Di suatu pagi, saya sudah nggak inget itu hari ke berapa Coki sakit. Saya kasih dia obatnya, dan saya lihat matanya. Saya pamit mau ke sekolah, tapi Coki mengais-ngais tangan saya dengan lemah sambil merintih. Saya bilang nanti pulang sekolah saya temenin lagi. Tapi dia tetap merintih-rintih sambil terus mengais-ngais tangan saya. Saya lalu minta ijin Papa dan Mama supaya saya boleh nggak sekolah hari itu. Tapi nggak diijinin.

Pulang sekolah, itu adalah kali kesekian kami nggak punya pembantu jadi saya bawa kunci pagar dan rumah, saya langsung lari ke belakang tempat Coki tidur. Dan saya temukan dia sudah kaku.

Saya inget banget saya menjerit. Nangis. Lalu telpon Papa di kantornya. Sambil nangis sesenggukan saya bilang, “Coki mati Pa”. Papa terdiam lama sebelum akhirnya bilang, “Papa pulang”.

Lalu kami berdua menguburkan Coki. Lama saya duduk nangis di kuburannya.

Setelahnya, saya berkabung. Dan setelahnya, saya tahu nggak ada anjing yang bisa gantikan Coki. 

--
Dari kejadian itu saya belajar tentang apa arti kehilangan sesuatu untuk selamanya. Mungkin buat sebagian orang, itu nggak ada artinya karena ‘cuma’ seekor anjing. Tapi buat saya, Coki lebih dari seekor anjing. 

Terlebih lagi ini: dia adalah kado ulang tahun dari Papa...lelaki pertama dalam hidup saya yang mengerti apa mau saya dan apa yang saya butuhkan. And till now, that was probably one of the best birthday presents I’ve ever received.  

Bertahun-tahun setelahnya, saya nggak nyangka bahwa orang yang memberikan Coki, juga akan meninggalkan saya dengan cara yang sama: tanpa pesan, hanya tanda kecil bahwa dia sedang mengingat saya sebelum dia pergi selamanya. Dan, saat kami jauh dari masing-masing.

--
Saya masih inget 2 hari sebelum datangnya kiamat kecil itu di hidup saya. Rabu, 19 Agustus 1998.

Papa telpon ke Melbourne. “Tumben”, batin saya. Biasanya yang nelpon Mama – yang lebih jujur kalau dia kangen. Beliau bertanya saya sedang apa. Saya bilang sedang ngerjain corporate finance yang bikin kepala saya pening. Beliau bilang, “Lari aja keliling flat. Dulu kalau Papa pusing ngerjain tugas, Papa lari keliling kampus”. Papa dan saya memang persis sama: olahraga adalah penawar banyak hal buat kami.

Saya ketawa, “Dingiiin Paaa...bukannya seger malah sakiiiit”. Papa cuma ketawa.

Have I known that would be the last of his laughter that I’d ever listen to, I would  have kept him talking for hours.

Jumat, 21 Agustus 1998. 

Sejak pagi saya gelisah hari itu. Melbourne mendung, angin dingin, bikin bete dan males. Saya mutusin untuk main ke rumah pacar (boleh dong punya pacar...hahaha. Ya sekarang mantan dwong. Dia tinggal di rumah dengan central heating - beda banget dengan flat saya yang dingin melulu karena kelewat miskin untuk selalu nyalain heater yang bikin tagihan listrik melejit).

Entah kenapa saya merasa harus membalas surat Papa yang sudah saya cuekin seminggu. Akhirnya saya tulis surat itu, lalu pulang ke flat untuk sekalian ambil buku karena kami akan ngerjain tugas di kampus.

And then it came, a phone call. A call that I never imagined would happen. 

Kakak saya tersendat bilang, “Ri, lo bisa pulang nggak?”. Saya sambil ketawa bilang, “Lo gila?, gue kan lagi kuliah”. “Tapi lo harus pulang Ri", diam sebentar, "Papa udah nggak ada”. Lalu dia nangis. 

Saya nggak inget lagi apa yang terjadi sesudah saya tutup telpon. Saya cuma inget flatmate saya keluar dari kamarnya (apa jangan-jangan saya menjerit ya...nggak inget...), memeluk saya.

Selebihnya saya mati rasa. Tapi saya masih inget satu: Papa harus dimakamkan tanpa menunggu saya.

Dengan tangan gemetar saya telpon ke rumah, minta bicara dengan Mama, dan cuma minta tolong Papa dimakamkan segera, dengan taburan sekeranjang melati di atas jenazahnya, teriring doa dari saya.

Dan...saya nggak tahu kenapa. Malam itu saya berusaha baca surat Yaasiin buat beliau. Tapi semua huruf itu nggak ‘bicara’ pada saya. Saya cuma bisa menatap nanar Al-Quran di tangan saya. Nggak terbaca satu hurufpun. Apa itu ya yang namanya reaksi shock. Mbuh. 

Saya baru bisa berangkat ke Jakarta jam 7 pagi esok harinya. That night was a nightmare. A real one. Horor. Conjuring mah lewaaaattt.

Jam-jam di pesawat terasa seperti mimpi. Berkali-kali saya cubit tangan saya, meyakinkan kalau ini beneran. Saya di pesawat, harus pulang, untuk melihat pusara Papa. Surat yang saya akan kirimkan buat beliau, tersimpan di tas. Surat terakhir, yang akhirnya ditanam di pusara beliau diiringi tangisan yang tidak bisa saya hentikan begitu melihat pusara dengan tanah yang masih merah.

--
Saya nggak pernah nyangka ada luka yang nggak bisa sembuh. Lha wong saya putus cinta aja lukanya cuma sebulan. Ini kok bertahun-tahun nggak sembuh-sembuh..

Harusnya, saya belajar dari kehilangan Coki. Ternyata, nggak. Sepertinya, buat sebuah luka yang tertinggal karena kehilangan untuk selamanya, tidak ada kehilangan lain yang bisa menyiapkan batin kita.

Mungkin ada yang bilang kok kurang ajar banget nyamain kehilangan anjing dengan kehilangan orang tua. Wah...kalau ada yang berpikir demikian, anda belum tahu betapa kesetiaan dan kasih sayang seekor anjing bisa menembus hati yang paling keras sekalipun. Bahwa punya seekor anjing yang setia, sama rasanya dengan menerima unconditional love dari orang tua.

--

Saya nulis ini sebagiannya karena ingin berdamai dengan luka, dan ingin memberi tahu pada semesta bahwa saya takut. Sampai detik ini, kehilangan Coki dan Papa saat kami berjauhan,  meninggalkan ketakutan yang dalam. Saya tidak ingin lagi ada kejadian itu: ditinggal pergi saat terpisah jarak. Perihnya terasa terlalu dalam, dan terlalu sakit.

Mungkin Tuhan memang menganggap saya cukup kuat untuk menghadapi itu. Tapiiii...kan Tuhan juga tahu kalau saya sebetulnya cemen.

Jadiii yaaah...tulisan ini sebetulnya saya bikin untuk berdamai dengan diri sendiri. Bahwa luka itu akan harus saya bawa seumur hidup, walaupun dia akan selalu berdarah. Dan semoga dengan menuliskan ketakutan saya, semesta akan bersepakat, bahwa tidak seharusnya saya menghadapi lagi luka yang sama. Aamiiiin.    

Coki waktu baru 2 tahun. Selalu diajak kemana-mana. Nemenin saya ke banyak tempat
 (R I R I)