Wednesday, July 15, 2015

Apa yang dimenangkan?



Meraih kemenangan.

Itu selalu tema utama yang diusung menjelang hari raya Idul Fitri. Memenangkan perang dengan hawa nafsu. Mencapai ‘fitri’ seperti dulu ketika dilahirkan.

Kenyataannya, saya malah jarang sekali merasa menang setiap habis Ramadhan. Justru, saya sering merasa saya kalah, KO. Boro-boro merasa ‘fitri’, merasa ‘lebih baik dari kemarin’ saja tidak pernah bisa.

Saya mungkin menang perang melawan lapar. Perang melawan ngantuk. Perang melawan ketololan maksimal dan akut setiap jam 2 siang sampai 5 sore selama puasa Ramadhan.

Tapi apakah saya menang perang melawan keinginan mencela orang?. Mungkin nggak diucapkan, tapi selaluuu saja ada yang tercetus dalam hati. Walaupun selalu diikuti ‘astaghfirullah’ sesudahnya. Apakah saya menang melawan ngomel? – pada anak, pada rekan kerja, pada suami, pada ART, pada orang sekitar yang saya anggap menjengkelkan lah. Nyatanya, kadang masih ngomel juga. Walaupun, ya itu, pasti diikuti ‘astaghfirullah’ dalam hati.

Kenyataannya, memang sulit menjaga hati. Padahal tujuan Ramadhan adalah membersihkan hati dan jiwa dari segala karat yang lalu. Dan bukan cuma ibadah siang malam. Tapi itu bukan pekerjaan mudah. Bikin laporan penelitian jauh lebih mudah dibanding menjaga dan membersihkan hati. Makanya saya bisa bikin laporan dalam waktu 3 hari. Tapi dalam waktu 30 tahun lebih ini, rasanya saya masih belum bisa menjaga hati.

Saya percaya bahwa Allah tidak segalak guru saya waktu SD dulu, yang pasti langsung menjewer telinga kami kalau tidak bisa menjawab pertanyaan di depan kelas. Allah dengan segala ke-Maha-annya, saya yakin punya ruang yang luas untuk memahami ciptaan-Nya yang super lemah dan super bodoh ini. Jadi saya juga percaya Allah akan memahami usaha kita untuk menjadi baik, bahkan dengan kesalahan-kesalahan yang selalu berulang kita lakukan.

Tapi ya saya tidak tahu sih apa sebetulnya definisi menang di mata Allah. Saya tidak akan pernah tahu, pastinya, sampai kelak saya kembali pada-Nya mungkin.

Jadi saya tidak pernah merasa menang karena saya tidak tahu definisinya. 

Apakah dengan melakukan tarawih di setiap malam Ramadhan?. Apakah dengan menegakkan tahajjud di setiap malamnya?. Atau dengan menunaikan zakat fitrah?. Atau dengan mengheningkan diri di penggalan malam di 10 malam terakhir Ramadhan, dengan doa yang tulus memohon ampun dan merendahkan diri di hadapan-Nya?. Apakah dengan melakukan semuanya kita terjamin menang?. Saya tidak tahu. Kemenangan yang hakiki buat saya adalah di saat saya berpulang kelak. Di saat perhitungan demi perhitungan yang dilakukan di saat itu bisa membawa saya pada posisi yang paling baik di sisi Allah.

Dan dengan tidak merasa menang, semoga saja setiap kali Ramadhan saya bisa terus bertahan untuk melawan kebodohan diri sendiri. Untuk selalu bisa bilang pada diri sendiri, “Nyong, loe tuh belum melakukan apa-apa. Ibadah dan amalan loe masih jauuuuuhhhh bahkan dari kata cukup, tahu?!”.

Dan setiap kali merasa demikian, setiap kali pula saya merasa ngelangut saat Ramadhan akan berakhir. 10 malam terakhir Ramadhan selalu terasa seperti sebuah kesedihan panjang sebelum ditinggal kekasih tercinta. Di malam takbiran, yang terasa hanya kepasrahan, dan selalu ada sepenggal penyesalan, perasaan bahwa saya belum memanfaatkan waktu yang diberikan sebaik mungkin. Dan saya masih menjadi manusia yang merugi.

Semoga saja saya masih dikasihani oleh Allah yang Maha Penyayang, masih diberi kesempatan untuk berusaha makin dekat pada definisi-Nya tentang menang, yang adalah hanya hak Dia untuk menentukan dan memberikan predikat Pemenang itu kelak.

Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga kita tidak pernah lupa bahwa kita mungkin belum menang...apalagi, fitri...

Sampai Ramadhan berikutnya. Aamiiin... 

(R I R I)

Tuesday, June 23, 2015

Di bawah naungan masjid



Saya tidak datang dari keluarga yang sangat religius. Ibu saya memang selalu mengingatkan kami untuk berbuat baik pada orang lain, jujur, dan jangan terbuai cara-cara praktis untuk mendapatkan uang karena Allah tidak menyukai cara-cara itu. Tapi terlepas dari itu, orang tua saya tidak pernah sangat menekankan pengajaran agama di rumah. 

Waktu lulus SMP, Mama mendaftarkan saya ke sebuah SMA Islam swasta di Jakarta. Alasan beliau ‘sederhana’ (kalau bisa dikatakan sederhana. Setelah jadi orang tua, saya jadi sadar tidak pernah ada niat yang sederhana dalam mendidik anak): beliau ingin saya (dan kakak saya yang sudah duluan sekolah disitu sejak SMP), mendapat pengajaran agama yang beliau mungkin tidak bisa berikan di rumah. Padahal waktu itu saya sudah diterima tanpa tes di SMAN 8. Saya masih inget banget guru-guru di SMP saya kebakaran jenggot ada yang ‘membuang’ kesempatan itu begitu saja dan sayapun kena marah sampai dipanggil Kepala Sekolah...sampai lalu mereka ketemu ibu saya. Matek kon diceramahi :D

Saya waktu itu sih senang-senang saja karena saya juga tidak terlalu ingin masuk SMA Negeri gara-gara pertimbangan super praktis: saya nggak mau selama kelas 1, masuk siang pulang sore yang artinya saya akan kehilangan kesempatan tidur siang selama setahun!. Saya tahu sih diterima di SMAN 8, tanpa tes pula!, itu bergengsi sekali. Tapi yaaaa buat saya kesempatan tidur siang jauh lebih penting daripada gengsi.

Tapi mau tidak mau saya deg degan juga. Karena dari melihat kakak saya yang waktu itu naik kelas 3 SMA, di SMA Islam ini ada pelajaran Bahasa Arab, yang kabarnya susah pake banget walaupun gurunya katanya juga baik pake banget. Tapi ya seperti biasa, saya dengan kebiasaan ‘lihat aja nanti lah’, melenggang masuk ke SMA ini.

Masa-masa SMA yang indahpun saya lalui. Iya lho indah. Merencanakan kabur bareng. Bikin surat palsu supaya lolos dari satpam yang jaga pintu sekolah. Ngumpet di aula sekolah karena dicari-cari guru. Sampai bikin kebetan untuk ulangan pelajaran Al-Quran yang kebetannya diselipin di Al-Quran (gila ya. Adalah suatu keajaiban dan murah hatinya Allah SWT saya masih hidup sampai detik ini setelah melakukan kejahatan super kayak gitu...astaghfirullah...). Kenangan-kenangan manis yang saya tidak bisa lupa sampai detik ini.

Tapi, begitu saya dewasa (gak mau bilang tua. Karena menurut definisi WHO yang terbaru, usia 18 – 65 tahun itu adalah PEMUDA. Terlepas dari uban yang bertebaran), saya baru sadar ada kenangan manis lain yang muncul pelan-pelan dari alam bawah sadar saya. Kenangan yang lalu menjelma jadi sebuah kerinduan yang hilang timbul.


Jejak ingatan dan kerinduan

SMA ini berada di kompleks salah satu masjid besar di Jakarta Selatan. Dan layaknya berada di lingkungan masjid, selalu ada lantunan merdu orang membaca Al-Quran sebelum azan yang jadi penanda bahwa waktu belajar sudah berakhir dan kami harus ke masjid untuk shalat dzuhur berjamaah sebelum pulang, atau sebelum kegiatan ekskul atau praktikum waktu sudah kelas 3.

Di hari Jumat, ini juga adalah penanda bahwa kami harus ikut ke masjid. Dan buat saya dan teman-teman ‘se-gang’ yang semuanya perempuan, itu juga artinya saat buat cekikikan cerita saat Pak Ustad ceramah. Untung tidak pernah ada ulangan: ceritakan kembali isi ceramah hari Jumat lalu. Bisa nggak lulus SMA saya.

Kami, mau tidak mau, jadi dekat dengan suasana masjid.

Bahkan dengan segala kelakuan kacau kami (atau, saya tepatnya...menurut teman-teman se-gang, saya yang paling ‘free will’ kalau soal beribadah...hehehe...bener banget sih), kami menikmati berada dalam masjid.

Pasti semua umat muslim (atau bahkan yang non-muslim seperti yang beberapa teman non-muslim saya cerita dari pengalaman mereka masuk masjid), merasakan ada ketenangan berada dalam masjid. Masjid buat kami juga adalah tempat yang mengingatkan bahwa bagaimanapun kelakuan kami, tapi panggilan Allah adalah sesuatu yang harus kami jaga teguh (walaupun ya kenyataannya saya juga bukan orang yang shalatnya selalu terjaga. Lebih baik ngaku daripada nggak, kan?).

Dan dengan rumah yang berada dekat sebuah masjid kecil yang jujur saja bahkan sampai sekarang tidak pernah membuat saya simpati pada usaha mereka untuk syiar Islam, untung juga saya pernah sekolah di lingkungan masjid lain yang masih mengingatkan saya pada keindahan Islam dan menjadi muslim. Dan tanpa saya sadari, ada jejak-jejak indah tentang kedamaian masjid dari 3 tahun saya sekolah disitu.


Kedamaian yang mengundang 

Dalam bulan Ramadhan dimana kegiatan masjid dimana-mana jadi semarak, selalu ada kerinduan untuk berada di dalamnya dan bertafakur. Atau bahkan hanya diam mendengarkan gema orang-orang yang berbincang lirih dalam masjid, atau yang membaca Al-Quran dengan suara pelan.

Sayangnya, walaupun saya tinggal dekat masjid, saya tidak pernah bisa mengasosiasikan perasaan damai itu dengan masjid dekat rumah. Dan hasilnya adalah saya tidak pernah bisa melangkahkan kaki saya kesana bahkan di bulan Ramadhan (atau, APALAGI di bulan Ramadhan dimana kebisingan dari pengeras suara jadi makin heboh).

Ingatan dan perasaan saya, selalu kembali ke masjid besar itu. Masjid yang buat saya adalah representasi yang benar dari keindahan dan ketenangan beribadah, keindahan syiar agama tanpa menganggu orang lain, dan kedamaian yang apa adanya.

Untungnya bukan hanya masjid yang dekat bekas sekolah saya itu yang menawarkan kedamaian itu. Saya menemukan masjid-masjid lain yang memberikan hal yang sama. Sayangnya memang tidak dekat dengan rumah. Tapi itu masih lebih baik daripada tidak menemukannya sama sekali.

Semalam saya ajak Tara ke masjid besar lain di kawasan Menteng. Salah satu favorit saya juga karena penceramahnya yang bagus-bagus. Ini pertama kalinya saya ajak Tara ke masjid besar untuk tarawih. Yes, seperti yang sudah saya bilang saya memang ‘free will’ banget soal ibadah. Shalat tarawih, kalau saya ingat (which is jarang banget. Tuh, saya mah mendingan jujur aja kalau ibadah saya emang ngaco), biasanya saya lakukan di rumah saja.

Di perjalanan pulang, saya tanya apakah dia menikmati shalat dan ceramah tadi. Tara menjawab dengan mata berbinar-binar, “Suka banget bunda. Kesini lagi ya besok”.

Saya lalu cerita pada dia kenapa saya ajak dia ke masjid malam ini, dan kenapa sekarang dan bukan beberapa tahun yang lalu misalnya. Saya cerita tentang masjid besar dekat sekolah. Saya bilang pada dia, “Semoga kamu juga bisa ngerasain ketenangan yang bunda rasain kalau ada dalam masjid. Kamu udah mau masuk remaja, kamu udah bisa lihat perbedaan dan bisa ngerti dengan lebih baik. Masjid nggak semuanya seperti yang di belakang rumah” (karena jujur saja saya takut asosiasi Tara semua masjid adalah yang berisik tanpa toleransi karena sejak bayi seperti itulah yang dia hadapi sehari-hari).

Dan benar saja, Tara komentar azan dan suara pak Ustad yang ceramah tadi enak didengar di telinganya. “Merdu dan nggak teriak-teriak”, komentar dia.

Alhamdulillah. Masih ada harapan untuk anak-anak mengenal Islam yang sesungguhnya... Dan masih ada masjid yang menawarkan kerinduan untuk kembali. 

Mungkin kalau saya tidak pernah kenal dengan masjid ini, saya tidak pernah punya kerinduan untuk menemukan kembali kedamaian itu dan mengenalkannya pada anak-anak... Tidak pernah ada kebetulan, selalu ada rencana Allah yang terjalin dalam setiap cerita kehidupan. And for that, I am forever grateful

(R I R I)

Wednesday, June 17, 2015

Nusa Lembongan, Ceningan dan Penida – Saudara kandung Bali yang (belum) setara



Bali, tidak asing sebagai destinasi. Tapi kalau saudara-saudaranya, pulau-pulau yang bertetangga dekat dengan Bali: Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, belum pernah sekalipun kami bertandang kesana walaupun sering baca dan dengar cerita teman-teman.

Liburan pendek kali ini, yang terpaksa jadi pendek karena pekerjaan, akhirnya kami memutuskan untuk menyambangi salah satu diantaranya. 

Awalnya kami menimbang untuk menginap di Nusa Penida. Ada tempat penangkaran burung endemik Bali di pulau ini yang menyediakan penginapan juga, dan buat kami pilihan itu unik dan sepertinya menarik untuk anak-anak. Tapi setelah kami pelajari lagi, the fact bahwa Nusa Penida adalah pulau yang paling belum terbangun dari ketiga rangkaian pulau ini, kami akhirnya memilih untuk menginap di Nusa Lembongan. Kalau tidak dengan anak-anak mungkin akan jadi lain ceritanya.

Perjalanan dari Sanur ke Nusa Lembongan cuma makan waktu 30 menit. Ada banyak pilihan operator kapal cepat dari Sanur. Kami memilih Scoot.

We did not have too many expectations, kecuali: pantainya sepi, pasir yang putih, laut jernih berwarna tosca, dan buat saya pribadi: terumbu karang dan kehidupan bawah air yang indah. Selebihnya, seperti biasa kami menyerah pada nasib.  


Jalan kaki, sewa motor, atau, sewa buggy!

Di ketiga pulau ini jangan harap anda akan dimanjakan oleh tempat penyewaan mobil dimana-mana seperti di pulau Bali. Mobil hanya dimiliki oleh para pemilik usaha. Itupun mobil bak yang disulap jadi mobil penumpang. Para tetua adat di ketiga pulau sepakat bahwa jumlah mobil harus dibatasi. A very wise decision, if you ask me.

Dari berbagai referensi yang kami baca, itu artinya pilihan kami cuma jalan kaki atau sewa motor. Kami pikir, ah OK lah. Jalan kaki harusnya bisa. Sepertinya dari bahan yang kami baca pulau ini tidak sulit untuk dinavigasi ataupun dijalani.

Tiba di Jungut Batu, kami naik mobil bak dari Scoot untuk diantar ke hotel. Baru deh, sadar, hmmm...sepertinya tidak semudah itu jalan kaki di Nusa Lembongan, ataupun di semua pulau ini.

Ketiga pulau ini mempunyai kontur berbukit-bukit. Dan walaupun memang ada jalan-jalan setapak yang ‘terbuat’ dengan sendirinya karena dilalui orang untuk beach hopping, tapi ternyata ya tidak ada penunjuk arah. Kalau tidak ada anak-anak terutama balita, masih bisalah dijalani. Tapi dengan Lila yang baru 4 tahun, dan Tara yang masih suka ngomel kalau diajak jalan kaki terlalu jauh, rasanya jalan kaki nggak bisa jadi pilihan.

Karena saya nggak bisa mengendarai motor, akhirnya kita sepakat cari 2 tukang ojek aja untuk besoknya keliling pulau dan beach hopping.

Kami menginap di sebuah hotel di Tamarind beach (saya nggak ngerti kenapa, kecuali Jungut Batu, semua pantai di pulau ini diberi nama dengan bahasa Inggris. Saya nggak percaya nggak ada nama lokalnya. Nggak sempat nanya juga sih. Tapi gemes juga semua pantainya berbahasa Inggris. Hello...ini pulau punya siapa sih?).










Setelah tidur-tiduran di hotel, sore itu setelah matahari agak ramah sedikit, kami coba jalan kaki ke pantai sebelah: Mushroom beach.

It was an easy walk dari Tamarind ke Mushroom beach. Walaupun saya nggak dapat pemandangan sunset yang spektakuler, tapi ada di pantai sepi berpasir putih ini rasanya damai sekali. 




Kami makan malam di Cafe Bali di Mushroom Beach ini. Dengan open setting, tempat ini membuai sekali untuk berlama-lama



Naaahhh....waktu kami akan kembali ke hotel, kami menemukan ‘harta karun’. Ada sebuah papan yang bertuliskan ‘Sewa Buggy’. Ini dia!. Kamipun bertanya pada pemiliknya. Harga sewa sehari memang mahal dibanding sewa mobil biasa di Bali, Rp 800.000 dari jam 9 sampai jam 5. Kami tidak nawar harganya, tapi kami tawar lamanya. Akhirnya mereka bersedia melepas buggy dari jam 9 sampai jam 7 malam.

Tadinya Cip sedikit kuatir buggy ini tidak kuat untuk naik turun karena beberapa tanjakan memang lumayan curam. Tapi hebat sekali ternyata benda ini, it went up and down effortlessly!. Thanks to it, kami jadi bisa keliling Nusa Lembongan dengan sedikit nyaman. 





A lesser Bali, but not less beautiful... 

Terus mau ngapain di Nusa Lembongan?. First of all: beach hopping!.  

Namanya juga pulau, yaaa dimana-mana pantai dan within short reach semua (apalagi pakai buggy...hehehehe).

Kalau saya ditanya mana pantai yang paling berkesan buat saya, mungkin Dream beach, karena 3  hal: walaupun ombaknya keras dan bikin sedikit serem untuk nyelupin badan tapi ombak yang berkejaran ke pantai dan pantai berpasir lembut itu bikin betah banget, sunset di balik bukit sebelahnya itu cantiiiik sekali, dan, dekat dengan pantai ini ada Devil’s Tear (tuh kan, bahasa Inggris lagi...): jurang-jurang karang dengan hempasan ombak yang kuat sekali. Kalau dapat sudut yang pas, kombinasi sinar matahari dan percikan air laut itu membentuk pelangi...cantik banget. 

Dream beach - ombaknya memang keras, tarikannya kuat


Nggak berani ke tengah karena tarikannya kuat sekali disini

Devil's Tear - pukulan ombak ke karang-karang ini kenceeeng banget. Berdiri di sampingnya pasti lama-lama basah


naaahhh kalau pas anglenya, selalu ada pelangi :)


Sunset dari cafe yang ada di Dream beach ini




Yang agak jadi catatan sedikit sedih buat kami sih ini: semua pantai yang cantik itu selalu sudah dikuasai oleh villa-villa dan restoran-restoran mahal. Untungnya semua pantai masih bisa diakses umum. Semoga aja begitu terus. Cuma yaaa....hihi....agak sedikit risih juga sih. 

Ini Jungut Batu. Mungkin yang paling open space dari semua pantai di Nusa Lembongan. Di bagian yang ini tempat kapal-kapal berlabuh dan sibuk kalau pagi. Tapi kalau siang, lebih sepi. Yang lebih sepi lagi sebetulnya yang lebih ke arah hutan mangrove. Kami lewat tapi tidak mampir ke bagian itu

Disini ombaknya tenang sekali, dangkal dan landai sampai ke tengah jadi aman kalau anak-anak mau berenang. Cuma ada sedikit karang-karang kecil di dasarnya jadi ya mungkin perlu sepatu pantai :)


Apalagi waktu kami mampir ke Sunset Beach (ini sebelahnya Dream Beach). Picture this: pasangan dengan 2 anak, yang satu asik main pasir, satu lagi asik gegayaan, dan emak bapaknya berdiri menantang ombak, dan di belakang kami adalah sebuah beach club yang modelnya seperti El Kabron di Jimbaran (yang nggak gw banget lah...) yang dipenuhi oleh horang kayah yang lagi leyeh-leyeh. Tapi ya secara urat malu kami ini udah terlatih ya bodo amat sih. Nggak ada yang ngusir juga (untungnya). 

Sunset beach dengan beach club di tengah dan beberapa private villas di kanan kirinya. Semoga tempat ini nggak tiba-tiba ditutup untuk umum suatu hari nanti...





Selain beach hopping, bisa nyebrang ke Nusa Ceningan dan exploring pulau itu. Cuma ya itu, harus naik motor atau jalan kaki, buggy tidak bisa nyebrang. Option of jalan kaki langsung ditolak mentah-mentah oleh anak-anak yang udah seharian beach hopping jadi kami cuma nyebrang lirak lirik di atas 'Yellow Bridge' yang menyambung Nusa Lembongan dan Ceningan.

Yang menarik adalah daerah menuju jembatan kuning yang menyambungkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan adalah daerah pertanian rumput laut. Waktu kami lewat di pagi hari, laut masih pasang naik jadi kami nggak ngeh dimana rumput lautnya. Tapi waktu kami lewat lagi di sore hari, laut surut dan baru deh sadar itu rumput laut semua.




The yellow bridge - yang cuma muat motor atau jalan kaki. Jembatannya berderak-derak dan goyang-goyang kalau dilewati, lucu rasanya :)




Setelah puas beach hopping di hari kedua, di hari terakhir kami memutuskan untuk snorkeling.

Snorkeling trips ini pilihannya macem-macem. Yang paling ‘mainstream’ adalah ke 3 titik: Mangrove Point di ujung Nusa Lembongan dimana kita juga bisa lihat Nusa Ceningan di kejauhan, Toya Pakeh dan Crystal Bay di perairan Nusa Penida. Sebetulnya katanya bisa lihat manta ray di Manta Point. Tapi hari itu ombak lumayan besar, dan arus cukup kuat sementara saya harus menggandeng Tara yang baru saja bisa snorkeling, jadi kami minta untuk dibawa ke tempat-tempat yang relatif mudah untuk saya menuntun Tara.

By the way perairan Nusa Lembongan dan Nusa Penida ini terkenal dengan arus kuatnya. Jadi kalau rasanya sedang tidak terlalu fit, lebih baik jangan milih Mangrove Point karena lautnya paling terbuka jadi arusnya juga paling kuat. Yang relatif mudah Crystal Bay karena di antara 2 pulau jadi arus juga nggak terlalu heboh. 

Soal biaya...tadinya saya pikir kok lumayan mahal ya. Saya sempat nanya di Jungut Batu, mereka kasih harga Rp 150.000 per orang untuk tiga destinasi itu. Sebagai perbandingan waktu kami ke Pulau Menjangan, sewa kapalnya hanya Rp 300.000, dan mencakup 2 titik sekitar pulau.

Karena kami nggak nginep di Jungut Batu, kami memutuskan untuk nanya orang hotel supaya bisa dijemput di depan hotel. Kami di-charge Rp 500.000, satu kapal untuk kami saja, ke tiga destinasi itu. Waktu sudah di jalan itu baru saya sadar jauh juga ternyata. Karena untuk pulang dari Crystal Bay di Nusa Penida ke Tamarind beach, practically itu memutari seluruh Nusa Lembongan. 3 jam total termasuk snorkelingnya. 

Kurang lebih begini deh. Starting point dari Tamarind beach, ke tiga titik snorkeling, dan kami praktis memutari Nusa Lembongan dan sebagian Ceningan (garis orange)


And snorkeling is definitely lovely here. Wherever the point was, it was gorgeous.

Bahagia sekali rasanya snorkeling tanpa melihat titik-titik karang yang rusak, kecuali beberapa di Toyapakeh. Menurut bapak yang bawa kapal yang kami tumpangi itu terjadi beberapa tahun lalu dimana orang menjatuhkan sauh tanpa pemahaman tentang terumbu, juga membom ikan. Sekarang sudah teratur....fiuh...thank God. Dan juga tidak ada satupun sampah kecuali sampah alam!. Semoga saja akan bertahan seperti itu selamanya...aamiiin.  

Saya memang jadi rese’ banget soal sampah ini kalau sedang snorkeling. Karena pengalaman terburuk saya snorkeling justru di Bali – di Pulau Menjangan. Saya jadi sibuk jadi pemulung karena banyak sampah terseret arus dari Jawa, dan di dasar laut, di antara terumbu, bukan main sampahnya.

Bahkan waktu snorkeling di Belitung pun sudah ada botol-botol dan gelas-gelas plastik, termasuk kantong plastik. Geraaammmm melihatnya...  Jadi sekarang kalau mau snorkeling itu selalu ada deg-degannya. Bukan deg-degan akan ketemu ikan yang serem, tapi deg-degan pemandangan sampah apa yang akan saya lihat tanpa saya bisa melakukan sesuatu tentangnya...nelangsa rasanya lho. 

Tara's very first real snorkeling! - bahagia rasanya menggandeng dia, dan dia menikmati rahmat Allah yang satu ini: taman bawah laut

Di Mangrove Point

Nusa Ceningan. Kayak ikan paus terdampar ya bentuknya...hehehe

Toya Pakeh




Crystal Bay

Mereka menyapa sayaaaa :)

Pemandangan kembali ke Tamarind beach juga asik lho...menyusuri tebing-tebing karang sepanjang Nusa Lembongan. Ombaknya juga asoy...hehehe...




Jadi ya mungkin memang pulau-pulau ini ‘terlupakan’ bahkan oleh orang Bali sendiri. Tapi tidak kalah cantik dari saudaranya yang sudah terlalu penuh dan beberapa tempat bahkan sudah jenuh turis. Pergi ke tiga ‘nusa’ ini bisa jadi alternatif untuk yang cari ketenangan.

Kalau bicara soal harga mungkin Nusa Lembongan yang punya indeks harga paling tinggi dibanding 2 nusa lainnya yang less developed. Kami nggak nyambangin Penida dan Ceningan tapi ngobrol dengan beberapa orang tampaknya demikian. 

Cuma ya kami merasa harganya masih jauh di bawah resto-resto dan kafe-kafe di Bali yang harganya fantastis bikin mata melotot itu. Contohnya kami makan malam di Cafe Bali di Mushroom Beach berempat sekitar Rp 240.000. Di Bali rasanya kalau judulnya resto di tepi pantai menghadap laut, segitu mungkin hanya untuk 2 orang saja (di El Kabron mungkin cuma dapat minum! :D). Dan rasanya hampir dimanapun kami makan di Nusa Lembongan, dan kami selalu milih tempatnya ya yang tepat di pantai, menghadap laut, ya kira-kira segitulah yang kami keluarkan kalau empat-empatnya makan dan minum. Not a bad deal sih.

Tapi lalu kalau ingat di Gili Trawangan ‘square’ – tempat awal kapal berlabuh di gili ini, ada warung enak banget dengan harga baik banget, yaaaa berasa sih Nusa Lembongan ini lumayan mihil jadinya. Tinggal di pulau, suasana kampung, harga Jakarta...hehe...

Tapi kalau anda bukan termasuk traveler yang manja fasilitas, pecinta pantai dan dunia bawah air, silahkan explore Nusa Lembongan lalu nyebrang ke Ceningan dan Penida sekalian. It’s worth it! (bukan worthed...ehem...). I can assure you they are not less lovely than Bali, walaupun dari segi pembangunan ketiga pulau ini tidak sesemarak Bali (dan saya nggak yakin apakah saya harus mendoakannya supaya sesemarak saudaranya....always a debate, that).

(R I R I)