Sunday, March 5, 2017

Consistently consistent



Beberapa tahun yang lalu, saya dan teman sekantor dikenalkan dengan istilah ini: consistently inconsistent. Konsisten dengan inkonsistensi.

Pas dulu pertama denger kita semua bingung, apa nih maksudnya. Begitu dijelaskan lengkap dengan sederet contoh, kita jadi manggut-manggut.

Jadi begini. Kita ini sering sekali nggak konsisten entah dalam bersikap maupun mengambil keputusan. Misalnya kalau contoh jaman dulu di kerjaan kami, katanya mau memperbaiki hasil riset yang diberikan ke klien dengan cara lebih kritis ketika menerima permintaan untuk melakukan riset. Nggak membabi buta bikin proposal tanpa pertama tanya dulu ke klien kenapa dirasa perlu melakukan riset. Minta ketemu dulu atau paling nggak telpon dulu lah supaya jelas isi permintaannya karena kadang yang tertulis dengan yang bisa dijelaskan verbal bisa saja beda.

Nyatanya, demi yang namanya ‘kejar setoran’, kita sering lupa melakukan itu. Begitu terima permintaan riset, langsung bikin proposal tanpa peduli tanya dulu ke klien. Hasilnya, kadang kalah pitching, kadang kliennya iya saja tapi waktu melakukan risetnya malah jadi berantakan karena saling belum paham duduk masalahnya apa. Ujungnya alih-alih bisa kejar setoran malah tekor dari segi profit karena terlalu banyak masalah yang makan biaya sana sini.

Itu baru satu contoh masalah. Ada banyak contoh lah kala itu yang bikin kami kalau lagi ngebahas lalu jadi cengar cengir sambil, “Iya ya, kita ini consistently inconsistent banget emang”.

Bertahun-tahun setelahnya, saya selalu berusaha inget itu saat harus melakukan sesuatu dan berusaha nggak kayak gitu. Nah ndak tahu juga apakah tim saya sekarang masih lihat saya consistently inconsistent, atau nggak. Saya nggak pernah nanya juga sih. Mungkin harus saya tanya kapan-kapan.

Tapi saya tiba-tiba inget itu bukan karena sedang inget dengan urusan kantor. Tapi justru karena seminggu ini saya terpapar dengan sesuatu yang berlawanan dengan itu. Justru, saya melihat sesuatu yang consistently consistent.

--

Mereka yang besar di tahun 80an, harusnya kenal Krakatau. Sebuah band fusion yang keren banget lah di jaman mereka pertama keluar dulu. Lagu-lagunya menemani Riri remaja dulu.

Tahun 2014, mereka bikin Krakatau Reunion. Masih dengan personel yang sama: Indra, Dwiki, Pra, Gilang, Donny dan Trie Utami.

Hari Selasa lalu mereka manggung di kafe Rolling Stone di Jalan Ampera. Saya dan Cip tentunya nggak mau ngelewatin momen itu. Nontonlah kami. Dan masih tetap terpesona.

Masih dengan aransemen yang asik didengar. Masih dengan campuran rock, jazz, pop. Indra dan Dwiki dengan duet yang keren di keyboard maupun keytar, Gilang yang tabuhan drum-nya masih punya power yang asoy, Pra di bass yang masih saja ciamik mendampingi Donny di gitar. Dan Trie Utami. Si kecil centil yang kalau nyanyi selalu ekspresif banget. Dan suara tingginya masih tetap powerful membawakan nada-nada susah yang selalu jadi ciri khas Krakatau (or should I say, Indra?).

They are already in their 50s. Tapi tetap luar biasa konsisten dengan musikalitas mereka. Konsisten dengan power yang dimiliki masing-masing personel, dan sebagai suatu kesatuan. Dan konsistensi mereka mengirimkan kami para pendengarnya terlempar-lempar ke masa lalu sekaligus ke masa kini dengan frekuensi yang sama indahnya.  


--
 Di kali lain, hari Jumat lalu, saya dan beberapa teman nonton Air Supply. Sekali lagi band yang lagu-lagunya dulu jadi teman di masa remaja. Terutama, teman saat jatuh sekaligus putus cinta.

Air Supply sudah malang melintang selama 42 tahun. Graham Russell pada gitar dan vokal, dan Russell Hitchcock – the lead singer, sudah berusia 60an. Dua-duanya dari segi penampilan sudah ‘meng-kakek’. Rambut sudah putih semua. Tapi, di konser lalu, penampilan mereka tetap mampu membuat para pecintanya terlena dengan aransemen yang di-twist disana sini.

Russell Hitchcock masih mantap membawakan nada-nada melengking, dengan napas yang masih prima. Mereka masih nyanyi sambil mondar-mandir di panggung. Bahkan turun dari panggung untuk menyapa para penggemarnya. Graham masih memainkan gitar sambil lompat-lompat. Gonta ganti gitar berkali-kali. Dan suara mereka tetap stabil. Amazing, considering their age, really.

Bandingkan dengan cerita Cip yang nonton Guns and Roses, dia cerita kalau Axl Rose waktu nyanyi ada nada yang fals. Napas sudah tidak sekuat dulu.

Sementara, si duo-kakek dua minggu lalu itu, tetap prima. Mereka manggung 2 jam dengan lagu yang lumayan sambung menyambung satu sama lain. Beyond my expectation, jujur.  


--


Hari ini saya nonton Opera Ikan Asin dari Teater Koma, yang sudah malang melintang selama 40 tahun. Siapa sih yang nggak kenal teater yang satu ini. Setiap produksinya selalu nyentil. Karcis selalu habis. Padahal, setiap kali mereka tampil tidak pernah sebentar. Minimal 3 jam. Dan garapan mereka ceritanya nggak selalu ringan. Tapi tetap dinanti.

Saya sekali lagi menyaksikan teater yang bukan cuma penuh pesan sosial, khasnya Teater Koma, tapi juga permainan prima dari semuanya. 

Tata panggung yang bagus. Peralihan antar adegan yang halus. Cerita yang menarik. Musik yang mungkin buat beberapa kuping akan terdengar kasar dan kurang latihan dengan nada yang ajaib, tapi buat saya justru itu khasnya teater Koma: cukup terpoles tapi tidak kelewatan sophisticated sehingga tidak pernah berjarak dengan penontonnya. 

 --

Semua itu bikin saya inget dengan kata-kata sakral nyelekit itu: consistently inconsistent. Yang saya lihat di minggu ini adalah kebalikan dari itu. Mereka justru menunjukkan gimana, kalau kita bisa ngalahin inconsistency, dan bisa consistently consistent, maka kita akan bisa bertahan selama sekian dekade.

Mereka nunjukin bahwa punya keahlian prima aja tuh nggak cukup. Butuh dedikasi, disiplin, dan keteguhan prinsip buat bertahan di jalur itu, sekaligus cukup fleksibel untuk bisa selalu beradaptasi dengan jaman yang berubah supaya bisa tetap ‘nyambung’. Dan, menyatukan semua itu dengan konsisten, dalam semua lini yang berhubungan dengan apa yang dilakukan.

Apakah lalu ini cuma berlaku di dunia seni?. Saya rasa kok nggak ya. Rasanya kemampuan untuk bisa melakukan itu berlaku untuk semua profesi, kalau memang mau bertahan di jalur yang sama.

Bersandar pada years of experience dan keahlian yang mumpuni saja tanpa lalu konsisten melihat ke bagaimana kita bisa beradaptasi dengan jaman, konsisten mencari cara baru supaya tetap relevan, ya percuma. Sudah mencoba beradaptasi dan fleksibel, tapi melakukannya setengah hati, sebentar iya sebentar nggak, ya percuma. Disiplin membangun prosedur yang benar, tapi pelaksanaannya antara hidup dan mati, ya percuma.

Memang tidak mudah untuk bisa konsisten. Saya juga masih cari cara gimana supaya konsisten untuk bisa melakukan yang diperlukan supaya tetap relevan dengan jaman. Dan namanya juga manusia, ada yang namanya lupa, males, dan kalau perempuan, mood (oh yeah….the beauty of being a woman is that you can always blame the hormones!).

Tapi melihat contoh-contoh di minggu ini, saya jadi malu. Lha kalau mereka saja yang sudah lebih tua bisa, masa saya nggak bisa ya?. Kita, masa nggak bisa?.

Ya mari, kita coba. Mulai besok. Mumpung Senin. Dan masih awal bulan Maret.

(R I R I)

Sunday, February 26, 2017

Generasi mertua baru



Sejak baru menikah, kami tinggal di rumah orang tua saya karena ibu saya tinggal sendiri.

Di awal pernikahan, pas banget kami sedang tidak punya pembantu. Tanpa ada kesepakatan apapun, Cip dan saya berbagi pekerjaan rumah tangga dan nggak ada pakemnya siapa harus kerjakan apa. Pokoknya siapa yang bisa ya kerjakan saja.

Hasilnya, saya dulu sering banget kena tegur ibu saya. Sekarang juga masih tapi jauuuh lebih jarang. Mungkin beliau mulai lelah.

“Riri, kok dibiarin sih Cip nyuci piring di belakang”
“Itu kok suami kamu yang ngurusin cucian"
“Kamu gimana sih suami dibiarin bikin mie sendiri, bukannya dibikinin” 

Saya biasanya kalau ditegur begini, saya samperin Cip nanya, “Kamu ngapain sih ngerjain ini?”. Tentunya sambil cengar cengir. Dia dulu suka jawab, “Bilang Mama, santai aja Ma, mantunya aja gak apa-apa kok dicuekin istrinya”, sambil balas cengar cengir.

Lalu kami punya anak. Dan komentar ibu saya juga tidak berhenti.

“Ya ampun masa Cip yang ngebedong Tara, kamu nggak bisa?”. Nyatanya memang dia lebih jago ngebedong bayi. Bedongan saya luluh lantak dalam waktu kurang dari 3 menit. Kalau dia yang bedong pasti tahan.

“Kok Cip yang belanja ke supermarket sih Ri. Kamu emang nggak bisa?”. Dulu karena saya sering sekali harus kejar waktu supaya sampai rumah sebelum jam 6 sore untuk nyusui Tara yang masih ASI eksklusif, kami sepakat sesekali Cip yang belanja ke supermarket setelah saya kasih daftar belanjaannya karena saya nggak sempat. Dan kami nggak suka ke supermarket di akhir pekan. Sesekali itupun akhirnya sempat jadi rutinitas bahkan setelah Tara sudah nggak ng-ASI karena saya nggak suka belanja bulanan. Grocery shopping is just not my forte, I never enjoy it, believe it or not. 

Dan masih banyak printilan lainnya yang dikomentari ibu saya.

Intinya adalah, menurut beliau, ada kompartemen yang khusus istri, ada yang khusus suami. Demikian beliau melihat kehidupan Datuk dan Nenek, dan demikian pula yang beliau terapkan di pernikahannya.

Dengan pakem tersebut, jadilah saya dan Cip terlihat ajaib di mata beliau. Suami kok cuci piring. Suami kok cuci botol susu anak. Suami kok belanja ke supermarket sambil ngegembol si kecil (iya ini juga. Dulu saya sering harus keluar kota atau negeri karena tuntutan kerjaan. Kalau saya nggak ada, Cip kadang ngajak Tara ikut ke supermarket. Dan kesepakatan kami adalah: kalau masih bisa dipegang sendiri, babysitter di rumah saja. Di mata ibu saya ini juga ajaib…).

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Saya sama sekali tidak sedang menyalahkan ibu saya. Saya juga nggak kesel dikomentari beliau. Itu ekspresi sayang beliau pada saya. Lagipula, saya harus menerima bahwa every person has grown up and accustomed to beliefs and values that existed in that era.

Ibu saya besar di jaman yang beda dengan saya, dan lalu harus beradaptasi dengan jaman yang berbeda pula. Normal saja.

Tapi memang, saat jaman berganti, pasti akan terjadi friksi antara apa yang kita yakini benar dari hasil pendidikan masa lalu kita, dengan apa yang di jaman yang baru diyakini benar.

--

Di akhir tahun 90an, terutama di kota-kota besar, mulai bergaung sedikit demi sedikit tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam menjalankan peran di rumah tangga. Termasuk, dalam pengasuhan anak.

Mungkin sebagiannya adalah hasil dari makin banyaknya perempuan yang bekerja, sehingga makin dibutuhkan peran serta sang suami untuk mengurus anak-anak dan rumah.

Saya banyak baca artikel yang membahas bahwa saat krisis melanda kita di tahun 1998, perempuan ternyata menjadi tonggak penting di masa itu untuk membangun kembali ekonomi rumah tangga. Dan hasilnya, suamipun jadi makin terlibat dengan urusan rumah tangga. Mungkin sebagiannya tadinya ‘mau nggak mau’. Tapi lama kelamaan jadi menjamur.

Waktu saya kembali ke Jakarta di tahun 1999 setelah 2 tahun numpang hidup di negeri orang, saya sempat kaget juga mulai melihat laki-laki yang belanja ke supermarket. Belanja di lorong sayur. Belanja di lorong susu anak (dan membaca tulisan di kemasan, bukan ngeliatin SPG). Belanja di lorong gula dan tepung. Sebuah pemandangan yang bisa dibilang langka saat saya meninggalkan Jakarta 2 tahun sebelumnya.

Dan sekarang, sudah tidak asing melihat para ayah yang menggendong bayi dengan gendongan bayi. Atau ayah yang makan berduaan dengan balitanya. Atau ayah yang menceracau dengan si bayi dengan bahasa bayi yang lucu (apalagi kalau ayahnya juga ‘lucu’….aduh… #eeehhh). Para ayah yang antar jemput anak ke dan dari sekolah. Ayah yang bacain cerita dari buku My Little Pony pada gadis kecilnya di sebuah kafe. Ayah yang pulang kerja lebih cepat untuk mendampingi si kecil belajar.

Emaknya leyeh-leyeh, ayahnya yang jagain anak-anak.
Di kalangan teman-teman sayapun hal-hal semacam ini sudah tidak asing. Kami, Generation X yang kebetulan jarang banget sekarang diomongin thanks to The Millenials yang katanya nyebelin itu, mengadopsi nilai kesetaraan itu dengan cukup mulus menurut saya.

Friksi kami mungkin memang ada pada saat menghadapi para mertua yang asing dengan hal itu. Asing dengan pemandangan suami masak, atau cuci botol susu, atau gendong bayi dengan gendongan bayi yang melilit itu. Atau bahkan dengan istri yang kerja (or in my case, istri jalan-jalan sendirian…my poor mom rolled her eyes on this one, sorry mom :D), sementara bapaknya ngurusin anak.
--

Pengalaman pribadi, dan melihat fenomena kesetaraan di kalangan teman-teman saya sendiri, suka bikin saya iseng mikir tentang masa depan. Bagaimana nanti, saat anak-anak saya dan mereka yang segenerasi dengan anak-anak saya, berhadapan dengan kami para mertua.

Mungkin komentar saya akan beda sekali dengan komentar-komentar ibu saya. Alih-alih mempertanyakan kenapa suami anak saya yang cuci piring, jangan-jangan malah saya yang nyuruh menantu saya cuci piring dan nyapu rumah sementara saya ngajak anak saya shopping.

Akan sangat menarik untuk menunggu saat itu datang. Oh ya tentunya mikir anak nanti menikah bukan sesuatu yang menyenangkan, sih…gimanapun juga buat saya my babies are still my babies. Membayangkan mereka akan keluar dari rumah menjalani hidupnya sendiri, walaupun harus saya akui ada sisi diri saya yang akan sangat feel liberated, tetap saja akan ada sisi hati yang galau.

But still, to wait how we as a generation become in-laws.  Berdiri di garda belakang nontonin dan mungkin juga akan ngrasani gimana anak-anak kita menjalani kehidupan keluarga mereka, adalah sesuatu yang asik untuk ditunggu.

Oh well…every generation has its growing pains. Saya yakin, generasi anak saya bakal punya cerita unik lain tentang berurusan dengan orang tua atau mertua, yang akan sangat beda dengan apa yang saya alami.

Tapi satu hal yang saya syukuri adalah, banyak dari kita yang sudah belajar buat jadi setara di bawah satu atap. Kita sudah belajar bahwa peran suami bukan cuma nitipin sperma dan ngasih uang belanja. Suami, dan ayah, adalah partner sepanjang jalan selama kita mengemban tanggung jawab sebagai orang tua. Anak, nggak akan jadi hebat, kalau ayah dan ibu nggak saling membantu apapun yang harus dilakukan sejak dia lahir sampai kelak bisa berdiri sendiri.

--

Dan kalau masih ada laki-laki yang kepalanya masih terkotak-kotak dengan, “Ini tugas gue, itu tugas istri gue”, daripada dimarahi, mendingan dibilang gini, “Tahu gak sih, loe tuh jadi desirably sexy and irresistible kalau mau gendong anak, mau nyuapin anak, ngobrol asik berdua anak. Pokoknya ikut ngurusin anak. Macho, ganteng dan sexy bangeeeetttt. Ngurusin anak itu male sexiness redefined".

Masa iya ada laki yang nggak luluh digituin. Itu kan layaknya buah zakarnya dicolek. Betul?.

Ya asal jangan mertua yang ngomong gitu.

(R I R I)

Sunday, February 19, 2017

Belajar dari tragedi



Setelah seminggu yang lumayan bikin otak capek, dan sebuah Sabtu yang lumayan bikin kaki pegel, saya memutuskan malam minggu akan saya habiskan dengan berteman dengan kasur dan bantal.

Pilihan buat baca buku saya alihkan dengan nonton film. Bongkar-bongkar Netflix, ketemu film yang dulu nggak sempat saya tonton. The Boy in the Striped Pajamas.

--
Di-release tahun 2008, film ini dibuat berdasarkan sebuah novel karya John Boyne berjudul sama. Novel yang diilhami oleh sejarah kamp konsentrasi di masa Nazi.

Film ini bercerita tentang pertemanan antara Bruno (yang dimainkan bagus banget oleh Asa Butterfield, mungkin ada yang lebih ingat dia main dalam film Ender’s Game) anak seorang tentara Jerman, dengan Shmuel (dimainkan oleh Jack Scanlon, yang juga keren banget mainnya) seorang anak Yahudi yang tinggal di kamp konsentrasi.

Bruno dan keluarganya harus pindah dari Berlin ke pinggiran Jerman karena sang ayah ditugaskan kesana. Dari jendela kamar di rumah baru mereka, Bruno melihat sebuah ‘pertanian’ dengan orang-orang yang menurut dia aneh karena semua mengenakan piyama.

Dia sangat ingin berkunjung ke pertanian itu dengan harapan bisa menemukan anak lain untuk diajak main karena dia bosan dan kesepian di rumah besar mereka. Tapi orang tua Bruno melarang dia untuk kesana.

To cut the story short, Bruno menemukan cara untuk pergi ke tempat itu dan berteman dengan Shmuel.

Dari sinilah cerita yang bergulir berkali-kali bikin saya menghela napas karena tiba-tiba hati terasa berat. It all felt so real, karena kepolosan anak-anak selalu menyuarakan kejujuran.

Misalnya saja ini:



Shmuel: I wish you'd remembered the chocolate.


Bruno: Yes, I'm sorry. I know! Perhaps you can come and have supper with us sometime.

Shmuel: I can't, can I? Because of this.

[points the electric fence]

Bruno: But that's to stop the animals getting out, isn't it?

Shmuel: Animals? No, it's to stop people getting out.

Bruno: Are you not allowed out? Why? What have you done?

Shmuel: I'm a Jew.


  

Belakangan, Bruno belajar apa artinya menjadi Yahudi dari tutor yang didatangkan orang tuanya ke rumah, Herr Liszt, yang mulai menanamkan paham-paham ultra-nasionalis dan anti-Semit.

Dan kecuali ibunya, semua orang di sekitarnya memberikan pesan yang sama. Bahwa Yahudi memang pantas untuk disakiti, karena mereka, “Dangerous, vermin and evil”, dibahasakan oleh kakak perempuan Bruno.

Bahwa bangsa Yahudi, “They are not people. They are less than people”, kata ayahnya.

Bahkan di satu sesi belajar, saat Bruno bertanya pada Herr Liszt setelah beberapa kali menemui Shmuel tanpa sepengetahuan siapapun, “There is such thing as a nice Jew, though, isn't there?”. Jawaban tutornya membuatnya makin bingung, “I think, Bruno, if you ever found a nice Jew, you would be the best explorer in the world”.

--

The world is a wonder in every children’s eyes. Dan ‘eyes’ disini bukan cuma berarti mata, tapi setiap indrawi dan rasa mereka.

Menonton film ini, saya jadi bertanya: dunia macam apa yang akan mereka punya di benak mereka saat ada banyak orang dewasa yang menanamkan begitu banyak kebencian terhadap manusia lainnya?.

Saya jadi terpikir apa yang terjadi belakangan ini. Not just in the past month, tapi sejak 2 – 3 tahun yang lalu.

Saling cerca. Saling maki. Saling merasa benar. Dan…semua belajar jadi Tuhan dan menganggap punya hak menghakimi yang lainnya semata karena merasa benar. Mungkin juga, termasuk saya.

Oh kita bisa saja bilang, “Anak gue kan nggak baca semua itu”. Atau, “Itu kan cuma kalau sama temen, tapi kan sama anak nggak”.

Really?. Saat kita para orang tua selalu mengeluh betapa sering anak mengakses gadget?. With or without us, mereka bisa mengakses informasi dari mana saja sekarang.

Atau bahkan, apakah kita tahu apa yang mereka dapatkan di sekolah atau lingkungan lainnya?. Baik itu dari teman, dari petugas di kantin, bahkan, dari guru?.

Minggu lalu Lila cerita kalau dia dilarang gurunya main dengan anak laki. Saya tanya dia, kenapa?. Dia bilang dia nggak tahu. Saya bilang dia lain kali kalau dilarang, tanya kenapa nggak boleh. Karena dalam logika saya kenapa nggak boleh main dengan anak laki?. In her age, it is very important to play with everyone supaya dia tahu apa bedanya dan juga apa persamaannya jadi perempuan dibanding jadi laki-laki.

Ini cuma contoh. Larangan yang mungkin buat orang tua lain sepele dan hal kecil. Tapi tidak buat saya. Kelihatannya kecil tapi kalau nggak diusut alasannya dan anak paham kenapa, buat saya itu tidak sepele.

Kalau mengaitkan itu dengan kejadian akhir-akhir ini, bisa saja kita berkelit bahwa yang terjadi terutama saat ini di negeri ini, tidak sebanding dengan sebuah tragedi kemanusiaan macam the holocaust itu. Kecil, kok, nggak masif. But get this: semua yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Ya kan?. Lha kita semua ini kan asalnya juga kecil banget, dari sel sperma dan sel telur yang bertemu. Can you get smaller than a cell?.

Tapi entah apakah ada yang sadar bahwa yang kecil jika dipelihara lama-lama akan tumbuh. Dan jujur saja saya ngeri mengamati yang terjadi sekarang.

Sadarkah kita apa yang sedang kita pelihara?. Paling tidak dalam diri kita sendiri. Menanamkan kebencian pada kaum lain. OK mungkin kebencian terlalu kasar, ketidaksukaan deh. Apakah itu satu saat tidak akan terlontar keluar saat kita ngobrol dengan anak?, atau kelihatan dari perilaku kita?. Dan amat naif kalau kita masih berpikir anak kita terlindung dari yang demikian.

Saat anak terhadapkan pada informasi yang bernada kebencian, eh ketidaksukaan, apapun bentuknya. Dan sejumlah orang dewasa dengan congkaknya berteriak-teriak di sekitar mereka. Belagak jadi Tuhan. What kind of a world are they going to craft in their mind?. Apa yang akan mereka pikirkan tentang manusia lainnya?. Kita sedang membuat generasi yang seperti apa, sih?.

Sering saya membatin, does the world need that much hatred?, do we?. Amat mudah mengajarkan kebencian, teman, tapi sulit untuk mengajarkan kelembutan dan empati sehingga kita bisa jadi manusia yang MANUSIAWI pada manusia lainnya. Nah, pusing gak lo?.

--

Tragedi selalu punya 1001 sisi untuk dibahas. Dia juga punya 1001 sisi untuk bikin kita belajar tentang apa maknanya jadi manusia.

Beberapa orang mungkin menyebut karya-karya yang didasarkan pada berbagai tragedi kemanusiaan sebagai sesuatu yang disturbing, dark. Saya melihatnya sebagai jendela buat melihat ke dalam diri kita masing-masing dan bertanya: am I prepared to become a better human being by admitting that those dark forces lie within us and we have to keep on fighting them so the world can be a better place for all.

Maukah kita mengakuinya?. Dan, mampukah kita menahan diri dari godaan yang bisa membuat semua dark forces itu keluar dari jiwa dan menjadikan kita monster?. Demi sebuah dunia yang lebih baik buat anak dan cucu kita.

Oh ada juga bagian dari film itu yang bikin saya merasa dicubit. Saat nenek Bruno meninggal, dan mereka berdoa di pemakaman, saya jadi mikir. How do you face God when you have consciously hate other people?. Saat kita yang ada di liang kubur, gimana kita akan mempertanggung jawabkan sentimen kita terhadap manusia lain kelak pada Si Pencipta?. Sang Maha yang telah meletakkan kita di bumi sebagai sejumlah manusia yang berbeda-beda. What will we tell God about how we have behaved to one another?. 

Silahkan bertanya pada diri masing-masing.

Selamat berhari Minggu. Maaf, kadang-kadang memang saya semuak ini pada lunturnya kemanusiaan. Dan kadang-kadang saya semenyebalkan ini bikin tulisan yang mengganggu pikiran, bahkan di hari Minggu.

(R I R I)