Monday, March 26, 2018

Saat agama jadi angka


Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali.

Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)”. Kalau ditanya,"Kenapa?", jawabannya selalu sama, “Susah. Banyak banget yang harus dihapalin”.

Awalnya tentu saja kami anggap itu karena masa adaptasi. Sampai lalu di akhir semester 1, saat terima rapot dan hasil ulangannya dibagikan bersama rapotnya, kami berpikir bahwa mungkin memang buat dia, pelajaran yang satu ini tidak semenarik pelajaran lainnya. Dan bahkan mungkin, terlalu abstrak untuk bisa menjadi pelajaran yang sekedar bisa dihafalkan. Dan, terlalu berbahaya untuk dibiarkan jadi pelajaran yang sekedar bermuara pada hafalan dan sebentuk nilai.

Di ulangan PAI-nya semester lalu, ada pertanyaan: Apakah budi baik dari Nabi Adam SAW yang harus dicontoh?. Jawaban dia: perbuatan baik.

Waktu saya dan kakaknya membaca jawaban itu, kami ketawa. Lalu ayahnya tanya, “Emang jawabannya apa harusnya?”.

Si bungsu cuma menggeleng dan jawab, “Gak tau. Aku lupa”.

Kakaknya, “Bertakwa pada Allah dong adek” (which, menurut bukunya, inilah jawabannya).

Ayahnya, “Salah. Itu kan semua nabi juga begitu (ini juga yang ada di kepala saya waktu menemani si bungsu belajar dan membaca bukunya). Dan Nabi Adam kan manusia pertama yang diciptain Tuhan, emangnya punya pilihan apa dia selain bertakwa sama yang udah nyiptain dia?”. 

Kakaknya diam, dan bilang, “Iya juga ya. Terus apa dong jawabannya”. 

Sambil senyum-senyum ayahnya jawab, “Nabi Adam suka makan buah”. 

Spontan saya dan si Kakak ketawa. Adiknya, bingung, “Maksudnya?”. 

Dan ceritalah ayahnya tentang Nabi Adam yang memakan buah khuldi. “Iya sih dia diusir dari surga, menurut sejarahnya. Tapi kan makan buah itu tetap bagus. Dia diusir dari surga bukan karena makan buah, tapi salah pilih buah. Jadi, bener kan aku, makan buahnya kan perbuatan baik dan harus dicontoh. Tapi ya pilih-pilihlah buah yang paling baik. Dan di cerita Nabi Adam, Tuhan sudah bilang buah apa yang nggak boleh dimakan. Jadi, percayalah kalau Tuhan itu pasti hanya akan memberi petunjuk yang benar. Makanya harus dipatuhi”. 

That sounds just like a joke to you?. Atau bahkan penistaan terhadap nabi?. To me, it was neither.

Buat saya, itu jangan-jangan cara paling sederhana buat bikin anak seumur si bungsu jadi tertarik belajar tentang sejarah nabi dalam agamanya. Dan bikin dia paham apa maksud dari isi buku pelajarannya. Membuatnya menjadi less pedantic, less boring and dare I say, more human.

Dan sore ini, saya mendapat pesan Whatsapp dari gurunya kalau si bungsu harus mengulang ulangan PAI-nya. I was not at all surprised. Tapi di saat yang sama tiba-tiba saja saya jadi terhenyak: mosok agama cuma jadi sebuah angka?.

--

Rasanya dulu waktu saya SMA dan sekolah di sebuah sekolah Islam, saya juga memperlakukan pelajaran-pelajaran agama sama saja dengan yang lain: hasil akhirnya adalah nilai.

Alhasil, yes silahkan menghujat saya, waktu ulangan tulis hafalan Al-Quran dan terjemahannya, yang saya lakukan adalah membuat kebetan dan diselipkan ke dalam Al-Quran. Menghafal surat-surat yang akan diuji dan terjemahannya? – oh get real. There were too many to memorise. Belum lagi keharusan menghafal pelajaran lainnya. Modar. 

Iya saya akui itu bukan kelakuan yang pantas. Tapi yaaa, waktu itu, di kepala saya sebagai murid, pelajaran itu tidak ada bedanya dengan pelajaran Fisika (yang penuh rumus sihir di mata saya). Dan kalau ada nilai jelek di rapot saya, bisa-bisa saya tidak bisa masuk universitas negeri padahal saya yakin Papa tidak akan mau membiayai sekolah saya kalau saya masuk swasta (exaggerating. Tapi beneran sih, dulu saya mikirnya begitu….takut banget….).

Sepraktis itu pikiran saya. Dan pasti bukan cuma saya yang berpikir demikian (walaupun mungkin banyak yang tidak mau ngaku).

Kok bisa begitu ya?. Rasanya sih, jangan-jangan, karena agama selalu diajarkan sebagai sebuah doktrin. Sesuatu yang harus diikuti tanpa ampun. Kalau tidak, kita akan masuk neraka.

Tentu dalam agama apapun, sisi itu akan selalu ada. Itu tidak bisa dihindari (dan karena itu saya bisa memahami kenapa ada orang yang memilih jadi agnostik). Tapi rasanya, agama juga adalah rasa.

Agama adalah perbuatan dan refleksi diri tentang apa makna jadi orang beragama. Agama, adalah cinta. Dan rasanya, dalam bagaimana pelajaran agama diajarkan, sisi ini jarang disentuh. Yang seringkali disentuh, adalah perilaku yang salah dan benar, mana yang bisa bikin kita masuk neraka atau surga. Dua konsep yang sangat abstrak, sangat jauh dari kita, sejauh angan-angan. Dan akhirnya berujung pada beragama karena takut masuk neraka.

Dan itu, sangat menakutkan buat saya. Karena agama jadi kehilangan keindahannya. Kehilangan cintanya.

Kalau saja, agama dan apapun di dalamnya diajarkan melalui pengolahan rasa, melalui cerita, melalui refleksi, melalui lelucon (karena saya yakin kok, para nabi dan rasul juga pasti berkelakar…mereka kan, manusia juga…), mungkin akan lebih menarik. Lebih ‘menghujam’ ke dalam. Dan walaupun akan tetap berujung pada sebuah nilai, paling tidak, mereka menikmatinya. Seperti cerita si bungsu yang selalu excited saat cerita tentang eksperimen pelajaran Science. 

Salah satu guru favorit saya di SMA adalah guru pelajaran Fiqh. Beliau sangat pandai bercerita. Sangat animatif. Setiap perintah ibadah, beliau ceritakan sejarahnya dengan sangat menarik. Saya selalu menantikan pelajaran beliau dulu. Dan memang nilai saya yang paling baik dari semua pecahan pelajaran agama saat SMA dulu ya di pelajaran beliau. Karena cerita beliau tidak berhenti di kuping, tapi terserap sampai ke hati. Yang lain? – masuk kuping kiri keluar kuping kanan, atau sebaliknya. Sama seperti pelajaran Fisika (yang jangan-jangan malah tidak ada yang masuk ke kuping. Makanya nilai ujian akhir saya buat mata pelajaran menyebalkan itu cuma 5).

The point is, sering saya berharap ada sisi yang lebih eksperimentatif saat pelajaran agama diberikan. Ada sisi pengolahan rasa. Mengolah pengalaman dan refleksi diri. Dan tidak berhenti pada doktrin. Atau malah, berhenti bilang kalau tidak ini maka masuk neraka. Yes while there are things like those in the Bible, or Al-Quran, atau apapun kitabnya, tapi kan itupun bisa diajarkan tidak dengan cara yang menakutkan.

Atau di usia anak bungsu saya, mengajarkan mereka melalui role play atau cara teatrikal lainnya dengan setting yang sesuai dengan jaman mereka. Membayangkan dengan imajinasi mereka apa yang akan mereka lakukan now that they know a certain verse, atau tahu tentang sebentuk perilaku nabi dan rasul. Memaknainya sebagai anak jaman now - apa yang bisa mereka lakukan. Dan bukan cuma pandai menghafal dengan ‘kosong’ dan demi nilai.

Itu juga yang sering membuat saya bertanya kenapa sering sekali sekarang orang ingin anaknya hafal Al-Quran?. After memorizing, then what?. Kalau dia punya nilai yang tinggi dalam hafalannya, apa jaminannya perilakunya akan seiring dengan apa yang dia hafalkan?. Apakah pemaknaan juga dinilai, atau juga dibahas dan dipastikan bahwa mereka bukan cuma hafal tapi juga tahu bagaimana bersikap sesuai dengan ayat itu?. Not sure.

Dengan saat seperti sekarang dimana kutipan ayat dengan mudah tersebar kesana kemari. Saat indoktrinasi paham tak berdasar bisa jadi adalah ancaman yang nyata dalam masa depan kita sebagai bangsa, saya sebetulnya khawatir dengan si bungsu saya yang bilang PAI itu pelajaran paling sulit. To me that sounds a mental block. Dan apa jadinya kalau dia punya mental block untuk belajar tentang agamanya di usianya yang masih masih dini ini?.

Anyway. Mungkin saya saja yang overthinking, as usual. Yaaahhh emaknya yang ngebet di Al-Quran juga doesn’t turn out so badly. Masih percaya bahwa pilihan yang ada saat ini dalam diri saya adalah pilihan yang terbaik karena membuat saya tenang dan merasa punya jangkar. Surga atau neraka yang kelak jadi rumah abadi saya? - ah itu urusan saya dengan Sang Maha. Kalian tidak punya hak menilai and I don't give a damn of what others think of where I will go to in the after life anyway.

But maybe, I actually have a point about how religion is being taught in this country. Bahwa jangan-jangan memang harus berubah. Jangan-jangan harusnya pelajaran agama bukan bermuara pada sebuah nilai di rapot, tapi pada pemaknaan yang dalam, yang tidak bisa dilihat dari nilai. Dan karenanya, tidak bisa ada retake dalam ulangan mata pelajaran ini karena itu cuma hanya bikin anak makin alergi dengan pelajaran ini karena, “Susah”. 

Padahal, rasanya sih menurut akal dangkal saya, harusnya belajar agama itu dibuat mudah. Karena Tuhan pasti tidak ingin kita susah buat percaya bahwa Dia ada, lewat pemahaman agama. Apapun agamanya. Mosok untuk mengenal Dia adalah cinta, dibuat susah. Walaupun jatuh cinta juga bukan masalah mudah sih, tapi ya jangan dibuat susah juga, dong.

Atau mungkin harusnya saya mikirnya yang sederhana saja: bikin si bungsu mau belajar PAI supaya tidak pernah retake lagi. Dengan ancaman bahwa kalau dia tidak demikian, rapotnya jelek, dan dia tidak naik kelas.

Ish. 






Thursday, February 22, 2018

Pendidikan yang lemah, dan negeri serba gegar



Baca tulisan tentang anak Indonesia yang nggak tau seberapa bodohnya mereka, itu bener banget (silahkan cek disini: http://indonesiaetc.com/indonesian-kids-dont-know-how-stupid-they-are/).

Yang dewasa juga demikian. Salah satu contoh deh: kita ini bahkan sampai detik ini kayaknya nggak sadar-sadar seberapa bodohnya kita dimainin oleh para politikus.

Kita kira yang bisa ngomong tentang agama ya memang murni ingin berjuang tentang agama. Padahal, pret. Maaf, tapi itu kenyataan yang harus diakui. Akui sajalah bahwa agama memang dagangan yang paling laris. Dan kita ora uwis uwis bodohnya untuk menyadari itu. Dan ora uwis uwis bodohnya untuk sekedar menyadari, betapa tidak ada gunanya beli dagangan agama di atas tanah Indonesia dengan beragam agama yang justru adalah kekayaan sejarah dan masa depan negeri ini kalau kita bisa pelihara dengan baik. Gemes saya.

Kenapa ya bisa begini?.

Pendidikan yang nggak kunjung dibenahi padahal anggaran pendidikan sudah dinaikkan sedemikian rupa rasanya memang jadi akar dari semuanya.

Saat kita berharap ada perubahan, tahu-tahu gebrakan yang keluar adalah gerakan mengantar anak ke sekolah di hari pertama sekolah. Et dah…no wonder sampeyan dipecat.

Sekarangpun saya rasanya belum merasa ada perubahan berarti.

Sudah tahun 2018, tapi sekolah masih saja tetap meminta murid untuk menghafal. Pelajaran yang diberikan dengan tujuan supaya anak mendapatkan pengalaman indrawi, rasanya sangat sedikit dilakukan, jika bukan langka. Padahal dengan cara itulah anak bisa merasa bahwa belajar itu asik dan menyenangkan. Dan apa yang dipelajari akan meresap ke batin dan benak mereka. Oh I’m not talking about harus menggunakan sistem Montessori yang super mahal itu. Tapi as simple as keluar kelas mengamati tumbuhan, misalnya. Cari ulet. Cari cacing. Itu sebetulnya sederhana tapi bisa dilakukan sekolah manapun asal disediakan guidance yang benar.

Ada saja yang bilang ah masa sih seburuk itu. Saya sekarang ingin mengingatkan bahwa anda jangan-jangan terlalu urban biased. Atau jangan-jangan, sekolah swasta (yang mahal) biased – yang memang sudah berusaha untuk mengubah bagaimana pelajaran diberikan, dengan semua keterbatasan yang ada. Ingat bahwa sebagian besar penduduk Indonesia justru tidak punya akses terhadap sekolah yang menurut anda sudah berkurang kecenderungan untuk hafalan dan sudah mulai ada pencernaan ilmu melalui pengalaman. Jadi jangan gunakan pengalaman orang kota sebagai kacamata.

Dan kondisi pendidikan seperti itu sudah berjalan berpuluh tahun lamanya. Dengan konteks seperti itulah bangsa ini terbangun. Dan sepertinya karena itulah kita ini juga jadi sebuah negeri yang serba gegar.

Kalau kita mundur sekian tahun ke belakang, jaman Mbah Harto almarhum, mungkin masih ada yang ingat betapa industrialisasi digenjot habis-habisan. Sawah dan perkebunan banyak yang disulap menjadi pabrik-pabrik besar.

Jiwa Indonesia yang berakar pada tradisi agraris – yang bertumpu pada kebaikan alam dan Sang Maha dan semua yang serba perlahan sesuai proses alamiah, dihadapkan pada perubahan besar. Dan, kitapun mungkin tanpa sadar mengalami gegar pertama: gegar industri.

Kaget menghadapi banyak hal tiba-tiba bisa menjadi serba cepat, walaupun saat itu belum instan. Banyak hal tiba-tiba menjadi lebih mudah. Dan perlahan kita lupa bahwa semua yang terjadi, butuh proses.

Gegar itu diikuti lagi dengan gegar teknologi – internet membuka dunia yang sedemikian luas. Mendekatkan semua yang tadinya begitu jauh dari kita. Lalu kitapun mengalami gegar berikutnya: gegar keterbukaan informasi yang terjadi sedemikian cepatnya seiring runtuhnya pemerintahan simbah.

Kegegaran juga sangat kuat saya rasakan kalau saya mengamati apa yang terjadi di media sosial.

Apapun hot issue yang dilempar ke timeline – dari pelakor sampai politikus busuk, akan dilahap seperti sekelompok piranha yang diberikan daging segar. Dan kelihatannya media sosial yang ‘identity-less’, membuat orang mengalami gegar yang lain: gegar kesopanan. Baca saja komentar-komentar pada tulisan yang kontroversial – anda bisa jadi pusing, muntah, sakit perut, atau kalau anda cukup religius mungkin anda akan berdoa dalam hati semoga yang berkomentar mendapat hidayah (ini kekinian banget sekarang….).  

Semua kegegaran ini kelihatannya tidak pernah sangat terolah dan terobati dengan baik. Dan saya sejak dulu memang menyalahkan sistem pendidikan yang tidak pernah cukup cepat untuk membuat masyarakat beradaptasi dengan semua perubahan. Paradigma pendidikan yang ada rasanya masih sama: yang penting nilai bagus, dan bukan pada pengayaan jiwa dan pemahaman yang dalam terhadap apa yang dipelajari yang terjadi dari proses belajar yang indrawi.  
--

Lalu kita kudu opo?.

Rasanya sih, kita harus kembali pada diri sendiri. Cukup repot kalau kita lagi lagi mengharap pemerintah akan melakukan sesuatu. PR pemerintah sudah cukup bejibun. Negeri ini sudah dibiarkan dalam status quo sekian puluh tahun. Ada banyak hal yang harusnya dikerjakan, belum juga dikerjakan. Pendidikan cuma salah satu di antaranya. 

Mungkin memang kita harus kembali pada masyarakat kecil, dan yang terkecil: keluarga. Sadari dan awasi apa gejala kegegaran yang terjadi di keluarga kita sendiri – anak-anak kita, dan hadapi. Bukan ditakut-takuti dan dengan kepanikan, ya. Eh tapi kalau anda suka ditakut-takuti ya silahkan. Saya lebih suka menggunakan jalur kuno tapi selalu efektif: komunikasi face to face.

Dan saya juga percaya orang tua adalah contoh terbaik (atau terburuk) buat anak. Saya sering tidak bisa paham pada mereka yang menuntut ini itu pada sekolah untuk membentuk akhlak anak. Hello, your children are still your responsibility. And they are only at school for 7 – 8 hours maximum. Sisanya di tempat les, mungkin 2 – 3 jam. Selebihnya? – di rumah kan? (semoga, iya…).

Anda ingin anak anda nggak melototin gadget? – are you doing it?. Seberapa sering anda menjauhkan telpon genggam anda saat bersama anak? (ini sambil self-toyor).

Anda ingin anak anda sopan di media sosial? – perilaku anda, gimana?. How are you commenting?. Apa yang anda bagi di Whatsapp Group keluarga dimana bukan tidak mungkin anak anda juga lihat?. Apa yang anda bagi di Whatsapp Group sekolah?. Yang anda share di Instagram anda?. Anything positive? Uplifting? Atau malah downgrading others, and, yourself?.

Anda ingin anak anda bisa memilih dengan baik dan dengan nalar yang sehat? – anda sendiri pernahkah mengajarkan bagaimana caranya mendapatkan informasi yang baik dan berargumen dengan sehat?. Ini tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Jadi yaaaa….kalau memang mau anak kita lebih pandai dari sebagian besar anak yang terjaring di tes yang diulas dalam link di awal tulisan ini, PR besarnya tetap ada di kita sebagai orang tua. Sistem pendidikan tentu tetap perlu. Tapi dengan yang ada sekarang, rasanya kita sebagai orang tua yang harus lebih rajin meluangkan waktu buat mendidik mereka dan memastikan mereka mendapat pengalaman indrawi yang tidak didapatkan di sekolah.

Jangan pusing baca tulisan saya kali ini. Ditulis spontan karena gemes, sekaligus khawatir dengan masa depan negeri penuh kegegaran ini. Semoga saja, bisa berubah.. 

Oh dan disclaimer: tulisan ini dibuat spontan tanpa baca latar belakang sejarah dan sebagainya, cuma pengamatan dan pengalaman pribadi hidup di Indonesia selama 40 plus tahun ini. Konsumsi blog, beda dengan konsumsi akademis. Mungkin ada yang tertarik bikin tulisan serius tentang ini, sumonggo. 

hmmm.... #sedih




Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts