Wednesday, July 2, 2014

Perjalanan sebuah Pilihan

Ibu saya dulu kalau jengkel lihat kelakuan orang-orang yang nggak tahu aturan, misalnya nggak bisa antri, atau nyalip sembarangan di jalan raya, atau buang sampah sembarangan, suka bilang kalau orang Indonesia ini harus masuk kamp konsentrasi dulu baru bisa bener kelakuannya.

Beliau yang pernah ngerasain jaman Jepang, PRRI, dan masa-masa kebangkitan setelah kemerdekaan, selalu bilang koruptor itu dibunuh aja, nggak perlu diadili. Di mata beliau, orang-orang ini nggak pantas hidup karena nggak bisa menghormati atas apa negara ini bisa berdiri – darah para pejuang, yang mempertaruhkan banyak hal bahkan nyawa, demi bisa merdeka.


Waktu di awal-awal maraknya pencalonan presiden, dari Gita yang ganteng sampai Sang Satria Bergitar yang bermodal pasukan pencinta Soneta, ibu saya bingung. Satu pagi, beliau nanya, “Jadi harus milih siapa kita nanti ya Ri?, bingung”. Oh ya. Beliau sudah berusia 77 tahun, dan masih semangat ikut Pemilu.

Saya ketawa. Saya bilang tunggu aja nanti saat pilihan sudah mengerucut. Saya juga bilang, doain aja ada yang beres yang bisa dipilih.

Waktu mencuat nama Prabowo, di pagi yang lain, ibu saya nanya lagi, “Menurut kamu gimana Prabowo, Ri?”.

Saya yang baru malam sebelumnya ngobrol sama Cip, dan sekali lagi belajar sejarah, bilang, “Kalau mau ide kamp konsentrasi dan semua koruptor dibunuh, mungkin Prabowo orang yang paling tepat sih Ma. Kalau nggak ada pilihan lain selain dia, ya mungkin Riri akan pilih dia. Iya sih dia punya sejarah hitam, tapi untuk ngelibas orang-orang kampret di pemerintahan, ya mungkin dia yang paling bisa. Lihat aja sejarah 1998. Komando dia yang bikin itu bisa terjadi. Iya sih bakal banyak korban, tapi if that’s what it takes to be better, ya mau gimana lagi”.

Ibu saya manggut-manggut. Beliau yang pernah berinteraksi sangat dekat dengan keluarga Soemitro, terutama sang Ibu lewat usaha dagang barang-barang antik yang pernah ditekuninya, cerita gimana Prabowo dalam keluarga tersebut memang digadang-gadang jadi presiden satu saat nanti.

Lalu beliau bilang, “Tapi jangan sampai ah kejadian lagi kayak 98, ngeri Ri. Kamu nggak disini sih waktu itu. Tiap hari kita deg-degan. Tiap uni ke kantor, Mama nggak tenang takut dia nggak bisa pulang, atau malah nggak pulang sama sekali kena peluru nyasar”. Iya, saya waktu itu memang sedang sekolah di Down Under, jadi cuma ikuti berita lewat TV, dan lewat surat-surat almarhum Papa. Yang saya masih ingat betul adalah salah satu surat dari almarhum, nggak lama setelah Soeharto lengser, yang meminta saya supaya tidak berpikir untuk pulang, supaya mencari kehidupan di negara lain, karena Indonesia kacau balau.

Saya memperhatikan wajah Ibu saya waktu beliau cerita keadaan waktu itu, dan membatin, well, harga perubahan memang mahal. Tapi jika itu yang harus dibayar, apakah kita mau mengambil resiko untuk tidak berubah?.

Lalu, muncul nama Jokowi. Saya sebagai warga Jakarta, ada rasa kecewa karena maunya beliau lanjutkan perjuangan beliau mengubah wajah dan tatanan kota Jakarta. Tapi lalu melihat Ahok yang dengan ketegasan dan kegigihan yang sama meneruskan apa yang sudah dimulai, saya mulai adem. Dan saya mulai mengobservasi kemana Jokowi akan melangkah.

Di tengah ketidakpastian siapa yang akan jadi cawapres masing-masing kubu, di salah satu weekend waktu saya lagi pacaran sama Cip, saya bilang, “You know what, kalau Jokowi pasangan sama Jusuf Kalla, selesai. Aku akan pilih mereka”. Cip, yang biasanya selalu punya bahan buat berdebat, manggut-manggut, “Iya, itu pilihan paling waras”.

Kenapa saya bilang gitu?.

Sudah 3 tahun saya putar haluan. Dari orang yang digaji, jadi orang yang tiap bulan harus mikir kami punya cash flow cukup kuat nggak ya untuk menggaji tim. Dari orang yang harus ngikutin perintah orang lain, jadi orang yang harus bisa berembuk dengan para partner menemukan jalan tengah menentukan mau dibawa kemana perahu yang sudah dibuat ini.

Memang 3 tahun ini pengalaman yang singkat. Tapi dalam 3 tahun, saya merasakan sekali gimana kebobrokan sistem di negara ini membuat kami seringkali meringis kesal. Urusan ijin, urusan pajak, urusan ketenagakerjaan, yang semuanya UUD – Ujung-Ujungnya Duit. Belum lagi urusan internet yang sampai hari gini masih aja lambat seperti siput. Penggambaran super nyata dari kerja beberapa badan pemerintahan, menurut saya.

Jadi dalam logika praktis saya, dengan Jokowi dan JK yang keduanya adalah juga pengusaha, yang pasti juga pernah merasakan sakitnya berurusan dengan segala sistem yang kacau, mereka pasti tahu apa yang harus diubah (DIUBAH ya bukan DIRUBAH. Karena tidak ada yang akan jadi rubah. Sekilas pelajaran Bahasa Indonesia....). Dengan demikian semoga saja pergerakan ekonomi akan makin lancar, negara bisa makin makmur. Aamiiin.


Lalu gimana dengan pilihan pertama saya, Prabowo?. Ya waktu kedua capres ini belum menentukan pilihan, saya masih mengambang. Tapi begitu Prabowo menyatakan koalisinya dengan Hatta Rajasa, lalu Golkar ikut dalam gerbong, lalu PKS, lalu PPP, that was it for me.

Sebagai anak dari orang tua yang PNS, kemuakan saya pada Golkar dan segala yang bersinggungan dengan partai ini sudah mengakar. Seragam KORPRI yang orang tua saya kenakan seminggu sekali, dan keharusan mencoblos Golkar again and again padahal hati nurani mereka tidak setuju, buat saya adalah lambang represi yang luar biasa.

Waktu lulus kuliah dan ibu saya meminta supaya saya melamar ke salah satu badan pemerintahan, dengan tegas saya bilang, “Nggak Ma. Sampai kapanpun kalau masih ada pilihan lain, Riri nggak mau jadi pegawai negeri. Nggak mau jadi kayak Mama dan Papa yang sepanjang usia kerja harus menentang sistem hanya supaya bisa tetap jadi orang yang benar di mata Allah. I’m not that strong”.

Segala yang dimungkinkan terjadi gara-gara Golkar, cukup bikin saya mau muntah. Satu partai itu saja, cukup membuat saya yakin kubu pertama is not my choice.

Sejarah hitam Prabowo is one thing. Tapi kalau saja dia menunjukkan itikad baik dengan berkoalisi dengan pihak yang lebih putih, mungkin akan lain cerita. Saya pernah bilang pada Cip, “Coba dia milih Dahlan Iskan jadi cawapres. Nah seru tuh. Orang pasti bakal bingung mau bilang apa, dan gak malah pada berantem kayak sekarang” (udah jangan dibahas Dahlan Iskan bakal mau atau nggak kalau dulu diminta....this is not for debating :)).


Saya nulis ini bukan mau membela kubu yang akan saya pilih, seperti beberapa pendukung yang bikin saya geleng-geleng kepala saking hebohnya pembelaannya, sampai saya kadang mikir, “Kenape sih bro, sis, santai aja. Ntar darah tinggi sapa yang nanggung?”. Saya cuma sedang kilas balik aja. Sekedar membuat catatan sejarah – yang siapa tahu jadi cerita lucu buat Tara dan Lila kelak. Bahwa ada satu masa dimana negerinya heboh harus belajar memilih dengan santun, harus belajar memilih dengan logika dan bukan dengan emosi. Dan bunda mereka di masa itu cuma berpegang pada logika sederhana dan praktis saja. Lalu melanjutkannya dengan observasi dan ngobrol sana sini untuk memantapkan pilihan.

Lalu gimana dengan ibu saya?. Di pagi yang lain lagi, beliau nanya, “Jokowi gimana Ri?”. Saya bilang, “Mikir gini aja Ma, mau nggak nanti tahu-tahu Aburizal jadi menteri?. Hatta Rajasa pula yang jadi capres – jejak dia gimana Mama pasti tahu kan?. Atau tahu-tahu si Rhoma Irama jadi Menteri”. Ibu saya langsung merengut, “Ih, amit-amit...”.


(R I R I)

Sunday, June 15, 2014

Penggaris, Gunung Kembar, dan Langkah Negeri



Gara-gara belum bisa move on alias ketagihan sejak ‘kerja sehari’ di Kelas Inspirasi Jakarta #3 bulan April lalu, saya dan teman-teman sekelompok (yang diberi nama keren ‘Sixpiration’ oleh salah seorang dari kami – kelompok nomor 6 J), berencana akan balik lagi ke sekolah tempat kami mengajar sehari, di SDN Kembangan Utara 06 Pagi. 

Hari dan bulan berlalu. Di tengah kesibukan kami masing-masing, dan UKK di sekolah, akhirnya kami baru melaksanakan niat ini tanggal 14 Juni 2014.

Karena hanya berenam, kunjungan kali ini kami memutuskan untuk hanya mengajar siswa kelas 4 dan 5. Jadilah kami memisahkan diri menjadi 2 trio – trio pertama bertanggungjawab mengajar kelas 4 dan 5 A, dan trio lainnya mengajar kelas 4 dan 5 B. 

Well, kata ‘mengajar’ mungkin kurang tepat, berbagi sambil bersantai mungkin lebih tepat. 

Rencana kami sederhana saja. Saat melakukan Kelas Inspirasi, juga kalau dengar cerita-cerita dari para fasilitator KI, rasanya yang dibutuhkan anak-anak ini adalah budi pekerti, dan perilaku-perilaku baik yang sederhana dan bisa mereka lakukan dalam keseharian mereka. Jadi kami memutuskan untuk mencari video sederhana yang bisa menampilkan perilaku sehari-hari. 

Pilihan kami jatuh pada video dari Greeneration tentang sampah (Petualangan Banyu di Negeri sampah: http://www.youtube.com/watch?v=wvN5XUp-gFk) dan listrik (Petualangan Banyu dan Elektra Menyalakan Kota http://www.youtube.com/watch?v=Dk9Qonlxv6E). Kami akan nobar, kedua kelas akan nonton film yang berbeda. 

Setelahnya kami akan minta mereka menggambar. Kelas yang nonton tentang sampah, membuat gambar tentang lingkungan yang bersih dari sampah dan bagaimana menjaganya. Kelas yang nonton tentang listrik, membuat gambar tentang listrik di lingkungan mereka dan bagaimana jika pasokan listrik tiba-tiba habis. Lalu beberapa orang akan diminta cerita tentang gambar mereka. 

Saya kebetulan ada di trio yang berbagi tentang sampah. 

Awalnya jujur saja saya skeptis mereka akan bisa duduk diam dan menonton video ini. Karena saat ditanya, “Mau nonton nggak?”. Kompak, “Mauuuuu!!!”. Dan ada yang nyeletuk, “Mau film setan bu!”. 

Ehem...dalam hati saya, yah sudahlah, kalau mereka tahu-tahu meninggalkan kelas karena bosan dengan film ini, yang cuma berdurasi 14 menit lebih, paling tidak kami sudah berusaha.

Saat film berlangsung, saya senang juga melihat mereka kelihatan cukup tertarik. 

Menunggu film diputar

Menyimak...

Deretan paling depan yang bergelimpangan :)


Setelah nonton, kita ajak mereka tanya jawab seputar film yang barusan ditonton. Siapa tokohnya, apa ceritanya dan sebagainya. Waktu saya tanya, “Kalian pernah nggak buang sampah sembarangan?”. Banyak sekali yang jawab, “Pernaaahhh!!”, sambil tertawa. Saya tanya kenapa, jawabnya, “Males cari tempat sampah”, ada yang bilang, “Nggak ketemu tempat sampah”. Ada lagi, “Temen-temen lain juga buang sembarangan”. 

Hehe....saya cuma bisa nyengir dalam hati. PR besar nih mengubah perilaku seperti ini, yang dilakukan tanpa merasa bahwa itu salah. Artinya sih sepertinya kalau nanti kami berkunjung lagi, pesan tentang jangan buang sampah sembarangan itu tampaknya harus diulang....lagi, lagi dan lagi jika perlu. 

Selanjutnya, acara menggambar. Mereka kami bagi dalam kelompok bertiga atau berempat, dan menggambar lingkungan yang bersih dari sampah. 

Nah ini yang jadi sumber kejutan buat saya. 

Saya pernah membaca ulasan Prof. Sarlito di link ini: http://www.toktokwow.com/2014/06/anak-anak-masih-diajari-menggambar.html?m=1. Ya saya pikir menggambar gunung kembar dengan garis lurus-lurus yang notabene tidak akan kita temukan di alam semesta, itu hanya terjadi di masa kecil saya. Ternyata....saya salah besar. 

Ada 2 hal kompak yang dilakukan hampir semua (jika tidak semua) siswa: (1) mengeluarkan penggaris, dan (2) mengeluarkan buku gambar berisi gambar-gambar mereka sendiri dan mencari mana yang bisa mereka tiru (mungkin memang hari Sabtu ada ekskul menggambar – saya tidak tahu, karena semua murid menyimpan buku gambar dan karya mereka di tas masing-masing).

Dan saya lumayan kaget lihat banyak sekali gambar gunung – kembar maupun tidak, dengan pakem dan aura yang kurang lebih sama. Dan saya juga kaget melihat semua kelompok menggunakan penggaris untuk membuat beberapa elemen dari gambar mereka – dari membuat horizon, sampai membuat tepi jalan. Bahkan teman sekelompok saya bilang ada yang menggunakan busur untuk memastikan garisnya tegak lurus!. 

Kejadian ini terjadi juga di kelompok trio lainnya. Bahkan teman saya sampai ada yang berkomentar, “Geometrical freak banget deh jadinya kesannya mereka ini”. 

Ada satu dua kelompok di kelas ini yang gambarnya berbeda - bukan gunung dengan pakem yang sama. Tapi perilaku MENIRU APA ADANYA, dan tidak berusaha mengubah elemen apapun dari apa yang mereka tiru, itu ada di setiap kelompok. 

Mencari contoh...pilihan mereka jatuh pada gunung kembar...

Mencontoh gambar pegunungan

Walaupun tidak terlalu terlihat, kelompok ini sudah siap dengan penggaris untuk menggambar horizon

Walaupun mencontoh gambar yang sudah pernah dibuat sebelumnya, tapi lumayanlah kelompok ini menggambar sesuatu yang cukup berbeda - rumah pohon
Ini juga berbeda, walaupun masih tetap dengan mencontoh: mencontoh gambar di depan buku tulis, dan membuat Si Penjaga Kebersihan. Paling tidak ada 'twist' yang dilakukan kelompok ini terhadap stimulus yang mereka contoh. Sayangnya hanya satu kelompok yang melakukan pengolahan itu


Selesai acara menggambar ini, kami pulang ke rumah masing-masing. Saya dengan beban di benak saya. 

Ini sudah tahun 2014. Yang saya hadapi kemarin itu adalah generasi kesekian di bawah saya. Tapi kenapa pakemnya tidak juga kian berubah?. 

Tidak, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini juga mungkin adalah salah satu dampak dari perilaku pembiaran kita semua, yang sering tidak lakukan apa-apa walaupun sudah tahu ada yang salah. Ya termasuk saya. 

Ini adalah sekali lagi potret pendidikan kita – yang tidak pernah jauh dari hafalan, yang tidak pernah jauh dari ini benar dan itu salah. Yang kedua itu tidak ada salahnya jika yang kita lihat adalah bukan perilaku yang harusnya kreatif dan bebas dari kungkungan. Kalau ini adalah acara berbagi tentang hukum – mungkin saya tidak merasa ada beban... Ini adalah menggambar – perilaku yang ada di tiap anak yang pada dasarnya senang corat coret. Anak-anak yang punya ranah kreatif yang luas. Dan semuda itu pula, di kelas 4 SD, ranah itu sudah terdistorsi.

Sementara saya percaya kreatifitas anak harus dipupuk dan bukan dipatahkan. Karena kreatifitas bagi saya adalah keterbukaan cara berpikir. Dan itu yang akan membantu negeri ini, sekarang dan di masa depan, untuk bisa melangkah lebih jauh. Saya saja suka jengkel kalau Tara sudah bilang, “Tapi kata bu Guru kayak gitu”. Biasanya saya akan ceramah panjang lebar bahwa dia harus punya pemikirannya sendiri, apapun yang bu Guru sudah utarakan di kelas.

Dan baru saja 3 hari yang lalu, di perayaan ulang tahun ketiga usaha saya dan teman-teman, kami baru saja juga merayakan gegap gempitanya Indonesia. Yang sedang berubah. Yang makin kinclong dan jadi perhatian dunia. Lalu tiba-tiba, di tempat yang lain, saya melihat ada sesuatu yang seperti sudah jadi tumor, di dalam sebuah sistem yang harusnya jadi dasar semua perubahan: pendidikan.

Lalu apa yang akan kita, atau saya, lakukan kemudian?. Ini adalah generasi kesekian yang akan jadi penerus saat saya mungkin sudah bongkok dan pikun dan terlalu lelah untuk melangkah. Mau jadi apa mereka, dan negeri ini, kalau saya tetap diam?. 

Kejadian kemarin meyakinkan saya bahwa saya tidak boleh berhenti. Tidak sekarang. Tidak selamanya. 

Mungkin sesi berikutnya adalah sesederhana meminta mereka menggambar apapun yang belum pernah mereka gambar, tidak mencontoh punya teman, menggambar apa saja yang ada di benak mereka dan menceritakannya setelah selesai. Saya percaya sekali kegiatan menggambar itu stimulasi asik untuk otak anak-anak. Sederhana, tapi mengena.

Semoga langkah-langkah kecil sekarang, kelak bisa mengubah segelintir dari mereka. Tidak perlu muluk-muluk mengubah semuanya. Satu atau dua orang saja, semoga bisa berubah. Demi negeri. 


(R I R I)




Saturday, June 7, 2014

Awal Persahabatan



Di hutan Tanah Tinggi, di sebelah utara Danau Hijau, tinggallah Linglung dan Langit. Mereka adalah anak-anak burung hantu yang tinggal di sebuah pohon beringin tua di hutan Tanah Tinggi. 

Linglung senang sekali makan. Dan, dia punya kelemahan: dia sering sekali kebingungan sendiri mencari sarangnya karena dia pelupa!. Karena itulah ia dipanggil si Linglung oleh teman-temannya. 

Sementara si Langit, suka sekali bertualang. Dia suka sekali mengajak Linglung berjalan-jalan. Tapi adakalanya Linglung lebih suka makan dibanding jalan-jalan bersama Langit. 

Malam ini, Langit ingin sekali jalan-jalan ke daerah lain di sekitar hutan Tanah Tinggi. Dia mengajak Linglung, “Lung, ke arah barat yuk. Kita kan belum pernah kesana. Aku ingin tahu disana ada apa”.
“Malas ah. Aku masih lapar niiiih”. “Ah kamu”, tukas Langit, “Lapar melulu. Makan kan bisa nanti”. “Ohohoho tidak bisaaaa sahabatkuuu, makan itu pentiiiing”, kata Linglung sambil melihat ke bawah mengincar siapa tahu ada tikus yang lewat. 

Karena kesal, Langit akhirnya terbang sendiri. “Hei, mau kemana kamu?”, teriak Linglung. “Jalan-jalan!”. “Hati-hati ya”, kata Linglung, yang lalu menggumam sendiri, “Senang sekali sih dia jalan-jalan, lebih enak juga makan”. 

Linglung akhirnya menyantap 3 ekor tikus lagi. Kekenyangan, dia bertengger di salah satu dahan pohon beringin tempatnya dan Langit tinggal. “Hmmm....mana ya si Langit, kok lama sekali dia pergi”, gumamnya. Linglung lalu terbang ke arah pohon yang paling tinggi di hutan. Dia bertengger di puncak pohon, berusaha melihat ke kejauhan, siapa tahu dia melihat Langit. Tapi, sejauh matanya memandang, dia tidak melihat sahabatnya itu. Dan dia mulai khawatir. 

“Kemana ya dia, biasanya dia kalau pergi sendirian tidak selama ini”, pikir Linglung. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari sahabatnya itu. 

Dia terbang kesana kemari. Tapi tak kunjung dia jumpai sahabatnya. Sampai di Bukit Merah, tempat sekelompok serigala tinggal, dia melihat ada seekor anak serigala sedang duduk di batu. “Hey, anak serigala, apakah kamu melihat ada anak burung hantu lewat sini?”. 

“Anak burung hantu?, tidak. Aku dari tadi duduk disini dan tidak lihat siapa-siapa. Memang kenapa?”, tanya si anak serigala itu. “Aku mencari sahabatku, Langit. Dia pergi tadi, dan dia belum juga pulang. Aku khawatir”, ujar Linglung. 

“Namamu siapa”, tanya si anak serigala. “Aku Linglung, kamu siapa?”. “Aku Lolong. Aku bantu saja kamu mencari sahabatmu itu”. “Wah terima kasih. Kebetulan, soalnya aku kadang bingung kalau terbang jauh dari rumahku, aku suka tidak tahu jalan pulang”. “Ah pantas namamu Linglung. Ayo kita cari temanmu”. 

Mereka berduapun berjalan menyusuri hutan. Tak lama, mereka mendengar suara ramai dan juga ada cahaya di hadapan mereka. “Apa itu ya”, ujar Lolong. “Coba deh aku lihat dari dekat, aku bisa terbang mendekat tanpa mereka mendengar aku”, kata Linglung. Ia lalu terbang mendekat ke salah satu pohon. Ia lalu melihat ada rumah-rumah kecil (yang ia tidak tahu adalah rumah-rumah itu disebut tenda), dan sekelompok manusia sedang berkumpul di tengah api unggun. Tapi yang membuatnya sangat kaget, ada sebuah kotak berpintu (yang dia juga tidak tahu itu disebut sangkar), dan ada Langit di dalam kotak itu!. Langit terlihat ketakutan dan kebingungan. 

Linglung terbang kembali ke tempat dimana Lolong menunggu, dengan terengah-engah, ia berkata pada Lolong, “Aduh, itu sekelompok manusia. Mereka sedang duduk mengelilingi api unggun. Dan, aku lihat, Langit terkurung dalam sebuah kotak!. Aduuuuhh sahabatku, kenapa ia bisa tertangkap manusia”. 

“Tenang dulu Linglung. Tenang. Ayo kita pikirkan bagaimana kita bisa membebaskan Langit”, kata Lolong menenangkan Linglung yang sudah nyaris menangis.\

“Ah aku punya akal. Begini. Aku akan melolong. Manusia biasanya takut kalau mendengar lolongan serigala. Nah kamu gunakan keahlianmu terbang tanpa bunyi itu, untuk menakut-nakuti mereka. Buat suara-suara di semak-semak, dan di pohon-pohon di atas mereka. Nanti pasti lama-lama mereka akan ketakutan dan mudah-mudahan mereka akan meninggalkan api unggun. Saat itulah kita selamatkan Langit”, jelas Lolong. 

“Ide cemerlang!, ayo kita coba!”, kata Linglung. 

Mulailah Lolong melolong sepanjang napasnya. Lalu ia pindah ke tempat yang lain dan mulai lagi melolong. Begitulah ia berpindah-pindah tempat sambil terus melolong. 

Sementara Linglung terbang ke semak-semak. Ia gerak-gerakkan dedaunan. Ia petik buah-buah cemara dan ia lemparkan ke arah manusia-manusia itu. Semua ia lakukan tanpa terlihat oleh para manusia. 

Kelompok manusia itupun mulai terlihat panik. Mereka lari kesana kemari, kebingungan. Anak-anak mulai menangis. Para orang dewasa mengambil obor dan menerangi hutan, mencari sumber suara serigala. Tapi Lolong sangat pandai bersembunyi sehingga tidak bisa dilihat oleh para manusia. 

Lalu tiba-tiba Linglung melihat ada sebuah kain putih di belakang salah satu tenda. Ia lalu menyelinap ke bawah kain itu, lalu terbanglah ia di atas para manusia. Mereka langsung menjerit, “Hantuuuuuuuuuu!!!!!”. Lalu semuanya berlari menjauh dari tenda, dari api unggun, dan, dari sangkar berisi Langit. 

Melihat para manusia itu lari, Linglung bergegas hinggap di sebuah dahan dan melepaskan dirinya dari kain. Ia terbang ke sangkar, “Langit, kamu tidak apa-apa?”. “Ya ampun itu kamu...tidak aku tidak apa-apa. Kamu bisa buka pintu ini?”. Linglung berusaha sekuat tenaga, dan untunglah pintu sangkar itu bisa terbuka dengan mudah. Langit pun keluar dari sangkar dan memeluk sahabatnya, “Kamu tidak tahu betapa leganya aku melihat kamu. Tadi aku kira itu hantu betulan!. Terima kasih ya Linglung, kamu telah menyelamatkan aku”, kata Langit. 

“Aku tidak sendirian, aku dibantu teman baruku, nih kenalkan, namanya Lolong, anak serigala dari Bukit Merah”. “Hai Langit, senang bisa kenal denganmu”. “Wah terima kasih ya Lolong. Baru kenal saja kamu sudah baik hati mau membantu sahabatku mencari aku. Terima kasih banyak”, kata Langit.

“Dia ini lho tadi yang punya akal menakut-nakuti para manusia itu. Kalau aku, sudah mau pingsan tadi melihat kamu dalam kotak terkunci itu”, kata Linglung. “Kamu hebat sekali!, idemu luar biasa!”, kata Langit. “Ah itu kan cuma ide biasa, aku hanya menggunakan yang aku tahu dari ajaran orang tuaku tentang manusia”, kata Lolong tersipu-sipu karena dipuji teman barunya. "Idemu jadi hantu juga super keren lho!", ujar Lolong kepada Linglung. "Hehehe....padahal, aku juga takut hantu lho", kata Linglung. 

“Ayo kita pergi, sebelum para manusia itu kembali lagi kesini”, kata Lolong. 

Lalu merekapun dengan cepat pergi dari tempat itu. Dan sejak malam itu, Linglung, Langit dan Lolong tidak terpisahkan. Mereka bermain dan bertualang bersama. Dengan kedua sahabatnya, Linglung tidak lagi pernah malas menjelajahi hutan di sekitar mereka. Dan bersama, mereka akan menjalani banyak sekali petualangan-petualangan yang seru. 


(R I R I) 


(Cerita ini awal dari seri Lolong, Langit dan Linglung yang kami ceritakan pada anak-anak, mengarang bebas, setiap sebelum tidur. Mengalahkan segala keterbatasan imajinasi kami sebagai orang tua, setiap malam kami 'putar otak' membuat petualangan baru dari tiga sahabat. Dan berharap dari cekakak cekikik mendengarkan cerita karangan bebas yang sering ngawur ini, ada yang tertanam di benak dan hati mereka. Paling tidak, tentang kebersamaan dan kasih sayang...)