Saturday, September 13, 2014

Cerita dari Perbatasan



“This country never did anything for me”. 

Saya sering mendengar kalimat itu – dengan berbagai versinya, dari sesama orang Indonesia. There was a point in my life, dimana sayapun mempertanyakan hal yang sama. Apalagi di saat para elit politik mempertontonkan dagelan yang baru. Saat para wakil rakyat makin membuat saya bertanya apa masih pantas mereka disebut wakil rakyat, saat cuma pantatnya saja yang duduk di gedung tempat wakil rakyat harusnya bekerja, tapi hati dan otak mereka ada di kantong masing-masing.

Dan hal yang sama selalu jadi pertanyaan saya ketika saya punya kesempatan jalan-jalan ke pulau-pulau lain di luar Jawa. 



Belum lama ini saya dapat kesempatan ke Bintan. Seperti biasa, kerja sehari, selebihnya saya sempatkan jalan-jalan. Saya ditemani oleh seorang Pak Supir yang punya berbagai macam pengalaman. Dari menemani para Jenderal sampai menjemput TKI. 

Dalam salah satu makan siang kami, setelah kenyang menyantap seafood yang endang bambang dengan harga yang cuma setengah harga di Jakarta, kami ngobrol sambil menikmati pemandangan lepas pantai dan angin yang sepoi-sepoi. 

Dari tempat kami, hanya 30 menit perjalanan dengan kapal cepat ke Malaysia. Dan si bapakpun menggulirkan cerita tentang TKI. 

Baru beberapa bulan lalu beliau dikontak seorang tekong – atau penampung TKI ilegal. Ada sekelompok TKI yang harus dijemputnya di sebuah daerah di Bintan yang memang jadi salah satu titik berangkat para TKI ilegal karena jalur ini adalah jalur nelayan jadi tidak ada pemeriksaan imigrasi. Salah satu dari TKI itu orang Flores, yang sudah 7 tahun tidak pulang ke Indonesia.

Orang ini bercerita apa yang harus mereka jalani untuk sampai ke Indonesia. 

Dia sendiri awalnya berangkat ke Malaysia dengan ijin kerja. Tapi ternyata tiba disana, ada ketidakcocokan gaji dengan majikannya. Sementara paspornya ditahan oleh si majikan. Karena tidak tahan dengan gaji dan kondisi kerja, ia pergi dan mencari kerja di perkebunan yang biasa menerima TKI ilegal dan tidak pusing dengan surat-surat. 

Setelah 7 tahun, ia ingin pulang. Dan apa yang diceritakan Pak Supir kepada saya tentang perjalanan itu yang sekali lagi bikin saya bertanya, apa yang sudah dilakukan negara pada orang-orang seperti ini. 

Dari perkebunan tempat si buruh Flores ini bekerja, ada 60 orang yang diangkut dengan truk kontainer. Mereka menempuh perjalanan selama 3 jam untuk mencapai sebuah pantai. Iya, truk kontainer yang tanpa jendela. Bayangkan 3 jam berada di dalamnya, dengan 59 orang yang lain. Mungkin masih untung mereka berangkat di malam hari. 

Tiba di tempat tujuan, ada 2 orang yang pingsan. Tapi boro-boro diurus, dilirikpun tidak oleh baik supir maupun tekong yang menemani mereka. Kabarnya, kalaupun ada yang meninggal, mayatnya akan dilempar begitu saja di tengah perkebunan ataupun ke laut. As simple as that, seolah-olah badan itu adalah karung berisi benda tak berharga. 

Dari tepi pantai tempat mereka diturunkan di tengah malam itu, mereka harus jalan ke dalam laut menuju kapal cepat yang menunggu mereka beberapa meter selepas pantai. 

Si Flores ini kebetulan membawa handphone dan benda itu terjatuh ke dalam laut saat dia menaikkan barang bawaannya ke atas kapal. Saat dia mau mengambil barang itu, si tekong bilang padanya pilih handphone atau naik ke kapal. Artinya kalau dia memilih ambil handphone, dia akan ditinggal. Tak ada kompromi. Akhirnya dia memilih untuk naik ke kapal. 

Di atas kapal si tekong bilang lupakan sajalah barang yang jatuh itu. Buruh Flores ini tanya kenapa dia tidak diijinkan mengambil. Penjelasannya sederhana: kalau dia mencari dulu barang yang jatuh itu, artinya membuang waktu. Dengan membuang waktu, ada kemungkinan mereka akan tertangkap polisi pantai dan itu membahayakan semua orang. Jadi apa harus mengorbankan semua orang demi satu benda?. A simple logic.

Dan bukan hanya ada satu buruh yang seperti itu. Kita semua juga tahu di Malaysia dan Singapura ada banyak sekali yang seperti itu. Pertanyaan yang muncul di hati saya: apa yang sudah ditawarkan Indonesia kepada orang-orang ini?. 

Ini masalah hidup. Mencari nafkah, memenuhi kebutuhan fisik, hal paling dasar dari hirarki kebutuhan manusia menurut Pak Maslow. Jika ada sekian banyak orang yang berani menyabung nyawa untuk pergi ke negeri seberang, apa artinya?. Sedemikian gagalnyakah Indonesia memberikan penghidupan yang layak?. Negeri yang dikaruniai tanah yang subur makmur loh jinawi, mana buktinya?. 



Ini bukan masalah baru, saya tahu. Kita pasti sering baca di koran atau majalah. Kita bahkan juga berinteraksi dengannya setiap hari – yang paling dekat: para asisten rumah tangga. Kalau ngobrol dengan mereka pasti ada saja cerita serupa dengan versi yang berbeda yang kita akan dengar. 

Tapi berada di pantai cantik itu, memandang ke seberang dimana tampak samar di horizon garis-garis yang menandakan negeri tetangga, saya jadi ingin menangis. Saya ingin menangis mengingat para keluarga yang ditinggalkan. Dan para jiwa yang tak terlindung. Kemana negara?.




"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu." — John Fitzgerald Kennedy. Kita juga kenal dengan kalimat ini. Tapi saya sering bertanya: siapa yang mampu berpikir seperti itu?. 

Saat perut keroncongan, anak harus disekolahkan, rumah reyot bocor setiap hujan, siapa yang sanggup berpikir apa yang dia bisa berikan pada negara?. Dan mereka harus berjuang sendiri mempertaruhkan nyawa, tanpa negara membantu mereka untuk selamat. 

Kita bisa saja bilang orang-orang itu saja yang tidak puas dengan apa yang mereka bisa dapatkan di negeri sendiri. Terlalu mudah tergiur dengan gaji besar. But wait. Kalau taruhannya adalah mati, lalu dilempar ke semak-semak tidak diurus, masa iya semuanya hanya demi gaji yang lebih besar?. Saat saya juga dengar cerita tentang kekayaan yang tertimbun di kantong-kantong orang-orang tertentu saja di sebuah daerah, yang sebetulnya adalah cerita basi, apa iya lalu salah jika ada yang merasa lebih baik mencari hidup di negeri seberang?.   


Ini baru cerita dari salah satu pulau perbatasan. Dan ada begitu banyak pulau, dengan masing-masing cerita pedihnya. Kemana negara?..

.....saya tidak tahu siapa yang bisa menjawab. Saya rasa bahkan bapak-bapak dan ibu-ibu wakil rakyat itu juga banyak yang tidak tahu...  

30 menit dari sini, Malaysia... Salahkah mereka tergoda dengan negara tetangga?


Friday, August 22, 2014

Empati....kemana kamu?

Dua atau tiga hari lalu, ada status teman di Fesbuk yang bilang pelajaran empati harusnya ada dalam kurikulum sekolah.

Empati. Apaan sih itu?.

Ada salah satu kutipan yang selalu saya ingat, yang saya nggak sengaja baca di sebuah dinding gereja di Melbourne, yang menurut saya sangat pas menggambarkan empati: Don't do unto others what you don't want others do unto you (iya saya Muslim, jangan rewel kalau saya pakai kutipan dari agama lain. Sensitif itu kadang nggak ada gunanya, lho). Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang kamu nggak mau orang lain lakukan terhadapmu. Keren abis, menurut saya. Makna paling inti dari empati.

Mengacu pada status teman saya, saya membatin: lalu apa iya empati itu tugas sekolah?.

Saya ingat almarhum Papa (iya. Gw emang bangga banget sama bapak gw, gimana dong..) yang secara tidak langsung membuat saya paham tentang kutipan itu tadi.

Banyak hal-hal kecil yang beliau lakukan dalam kesehariannya. Misalnya sekali dua hari, beliau selalu keliling halaman rumah kami yang ditanami macam-macam pohon, dan memastikan tidak ada satupun cabang yang menjulur ke lahan tetangga dan menjatuhkan entah daun atau buah busuk ke halaman orang. Papa punya golok pribadi khusus untuk memotong dahan dan cabang pohon. Beliau juga memastikan aliran air dari garasi mobil saat beliau mencuci mobil, tidak mengalir ke jalan karena itu fasilitas umum - beliau buatlah selokan kecil yang mengalirkan balik air itu ke tanah halaman kami sendiri (dan akhirnya terserap balik oleh tanah kami - keren abis ya bapak gw!). Saat saya mulai belajar nyetir, beliau cerewetnya minta ampun: jangan pencet klakson sembarangan!; matiin lampu kamu kalau ada orang jalan berlawanan arah sama kita di jalan yang sempit, silau buat orang itu!; jangan parkir sembarangan nanti orang susah lewat!.

Mama juga melakukan banyak hal yang mengajarkan kami tentang itu. Tapi mungkin karena saya jauh lebih banyak menghabiskan waktu bersama almarhum Papa, yang banyak sekali nempel di kepala saya ya perilaku beliau.

Iya. Perilaku. Beliau bukan orang yang banyak omong. Tapi apa yang beliau lakukan, jadi contoh luar biasa buat kami anak-anaknya.

Jadi saya yakin bahwa empati itu dibentuk dari rumah. Berakar dari para orang tua. Ditularkan pada anak-anak. Sekolah mungkin bisa membantu menyuburkannya, tapi akar itu dibentuk dari rumah kita sendiri.

Lalu ada banyak sekali fenomena di sekeliling kita sekarang, yang bikin saya jadi suka bertanya pada diri sendiri: kemana si empati itu?, liburan?. Atau tepatnya kemana mereka yang seharusnya menularkan empati?. Lupa?.

Seperti misalnya yang baru heboh sekarang soal pilpres. Keputusan hukum sudah keluar. Lalu kita gimana?.

Yang mendukung si pemenang pasti senang. OK fine.

Yang tadinya tidak mendukung - OK lah kalau masih tidak ikhlas. Tapi apa iya perlu mendoakan yang buruk-buruk?. Jujur saya sedih..

Bukan sedih karena saya kebetulan mendukung yang menang, tapi sedih karena ya itu: si empati itu lagi-lagi tidak muncul.

Saya pernah ada dalam posisi dimana saya yakin ada banyak orang yang ragu saya bisa memimpin. Di awal umur 30. Perempuan pula. Baru melahirkan pula - namanya ibu baru emang bisa bagi perhatian dengan baik?. Emang saya punya kemampuan untuk itu?. Apalagi perusahaan sedang dalam titik harus lari sekencang mungkin mengejar kompetisi, emang punya nyali dan energi buat ngadepin itu?.

Sayapun meragukan diri saya sendiri. Ada pertengkaran hebat di hati saya. Kalau bukan karena dukungan keluarga dan teman-teman terdekat, saya nggak akan berani ambil tantangan itu. Ada orang-orang yang percaya saya bisa. Dan saya nggak mau mengecewakan orang-orang itu dengan tidak mencoba.

Terus apa hubungannya dengan Presiden baru?.

Pernah nggak sih teman-teman yang terus menerus menguarkan aura negatif itu berpikir bagaimana rasanya perasaan diragukan, apalagi didoakan untuk gagal?. Atau saya balik pertanyaannya: kalau elo digituin, mau?. Dan pernah nggak sih teman-teman mikir bahwa ada orang-orang yang percaya dia bisa, apa akan kita biarkan dia tidak mencoba?. Kalau elo digituin, mau?.

Ya ya ya of course ini konteksnya adalah negara dengan sekian juta ratus ribu sekian keinginan dan agenda dan entah apa lagi. Ya pasti ada sekian juta ratus ribu sekian alasan untuk tidak berempati. Tapi pernahkah kita sadar, bahwa ini juga adalah tentang kita?. Kalau dia gagal, yang kena getahnya juga siapa?. Kalau kita sudah berdoa supaya dia gagal - guess what, seluruh fakultas di tubuh kita juga akan berusaha supaya dia gagal. Terus, gimana?. Daripada ngedoain gagal bukannya mendingan doa yang baik-baik saja untuk semua?.

Kekuatan doa katanya bisa menolak bala. Itu saya yakin dan sudah buktikan sendiri. Lha kalau ada yang nggak percaya pada kemampuannya, atau pada siapa di belakangnya, atau ada kekhawatiran dia dikuasai kekuatan-kekuatan jahat, ya lakukanlah sebaliknya: doakan dia mendapat pertolongan dan petunjuk dari segenap penjuru semesta supaya tidak gagal, karena kegagalan dia akan berimbas ke kita juga, bukan?. Daripada ngedoain dia gagal. Terus ntar, kita-kita juga yang susah, bukan?.

Dan pernahkah terpikir bahwa kemampuan berempati itu juga artinya adalah memperbaiki hati kita sendiri?. Emang loe gak capek mantengin kapaaan ni orang gagal yaa?. Emang nggak pernah ya ngebayangin apa yang terjadi dengan hati dan seluruh sel di badan loe saat loe berpikir negatif?.

Empati itu rasanya bukan cuma berkaitan dengan orang lain, tapi juga dengan diri kita sendiri. Berempatilah pada segenap bagian dari tubuh ini - yang setiap hari sudah kita dera untuk melakukan apa yang harus kita lakukan. Yang setiap hari sudah kita 'rusak' dengan kebiasaan-kebiasaan buruk kita: makan nggak bener, istirahat nggak bener, gerak badan nggak bener. Maukah kita tambah bebannya dengan menyimpan pikiran dan energi negatif?. Kasihan juga Tuhan yang sudah memberikan tubuh yang sedemikian sempurna.


Yah ini sekedar renungan aja. Dan ini tidak cuma terbatas pilpres. Tapi juga keseharian kita.

Berempati itu secara nggak langsung juga membuat kita berpikiran positif tentang banyak hal di sekitar kita, karena kita kan juga nggak mau disakiti kan. Jadi....jangan biarkan dia liburan dan pergi dari hati kita...

Wednesday, July 2, 2014

Perjalanan sebuah Pilihan

Ibu saya dulu kalau jengkel lihat kelakuan orang-orang yang nggak tahu aturan, misalnya nggak bisa antri, atau nyalip sembarangan di jalan raya, atau buang sampah sembarangan, suka bilang kalau orang Indonesia ini harus masuk kamp konsentrasi dulu baru bisa bener kelakuannya.

Beliau yang pernah ngerasain jaman Jepang, PRRI, dan masa-masa kebangkitan setelah kemerdekaan, selalu bilang koruptor itu dibunuh aja, nggak perlu diadili. Di mata beliau, orang-orang ini nggak pantas hidup karena nggak bisa menghormati atas apa negara ini bisa berdiri – darah para pejuang, yang mempertaruhkan banyak hal bahkan nyawa, demi bisa merdeka.


Waktu di awal-awal maraknya pencalonan presiden, dari Gita yang ganteng sampai Sang Satria Bergitar yang bermodal pasukan pencinta Soneta, ibu saya bingung. Satu pagi, beliau nanya, “Jadi harus milih siapa kita nanti ya Ri?, bingung”. Oh ya. Beliau sudah berusia 77 tahun, dan masih semangat ikut Pemilu.

Saya ketawa. Saya bilang tunggu aja nanti saat pilihan sudah mengerucut. Saya juga bilang, doain aja ada yang beres yang bisa dipilih.

Waktu mencuat nama Prabowo, di pagi yang lain, ibu saya nanya lagi, “Menurut kamu gimana Prabowo, Ri?”.

Saya yang baru malam sebelumnya ngobrol sama Cip, dan sekali lagi belajar sejarah, bilang, “Kalau mau ide kamp konsentrasi dan semua koruptor dibunuh, mungkin Prabowo orang yang paling tepat sih Ma. Kalau nggak ada pilihan lain selain dia, ya mungkin Riri akan pilih dia. Iya sih dia punya sejarah hitam, tapi untuk ngelibas orang-orang kampret di pemerintahan, ya mungkin dia yang paling bisa. Lihat aja sejarah 1998. Komando dia yang bikin itu bisa terjadi. Iya sih bakal banyak korban, tapi if that’s what it takes to be better, ya mau gimana lagi”.

Ibu saya manggut-manggut. Beliau yang pernah berinteraksi sangat dekat dengan keluarga Soemitro, terutama sang Ibu lewat usaha dagang barang-barang antik yang pernah ditekuninya, cerita gimana Prabowo dalam keluarga tersebut memang digadang-gadang jadi presiden satu saat nanti.

Lalu beliau bilang, “Tapi jangan sampai ah kejadian lagi kayak 98, ngeri Ri. Kamu nggak disini sih waktu itu. Tiap hari kita deg-degan. Tiap uni ke kantor, Mama nggak tenang takut dia nggak bisa pulang, atau malah nggak pulang sama sekali kena peluru nyasar”. Iya, saya waktu itu memang sedang sekolah di Down Under, jadi cuma ikuti berita lewat TV, dan lewat surat-surat almarhum Papa. Yang saya masih ingat betul adalah salah satu surat dari almarhum, nggak lama setelah Soeharto lengser, yang meminta saya supaya tidak berpikir untuk pulang, supaya mencari kehidupan di negara lain, karena Indonesia kacau balau.

Saya memperhatikan wajah Ibu saya waktu beliau cerita keadaan waktu itu, dan membatin, well, harga perubahan memang mahal. Tapi jika itu yang harus dibayar, apakah kita mau mengambil resiko untuk tidak berubah?.

Lalu, muncul nama Jokowi. Saya sebagai warga Jakarta, ada rasa kecewa karena maunya beliau lanjutkan perjuangan beliau mengubah wajah dan tatanan kota Jakarta. Tapi lalu melihat Ahok yang dengan ketegasan dan kegigihan yang sama meneruskan apa yang sudah dimulai, saya mulai adem. Dan saya mulai mengobservasi kemana Jokowi akan melangkah.

Di tengah ketidakpastian siapa yang akan jadi cawapres masing-masing kubu, di salah satu weekend waktu saya lagi pacaran sama Cip, saya bilang, “You know what, kalau Jokowi pasangan sama Jusuf Kalla, selesai. Aku akan pilih mereka”. Cip, yang biasanya selalu punya bahan buat berdebat, manggut-manggut, “Iya, itu pilihan paling waras”.

Kenapa saya bilang gitu?.

Sudah 3 tahun saya putar haluan. Dari orang yang digaji, jadi orang yang tiap bulan harus mikir kami punya cash flow cukup kuat nggak ya untuk menggaji tim. Dari orang yang harus ngikutin perintah orang lain, jadi orang yang harus bisa berembuk dengan para partner menemukan jalan tengah menentukan mau dibawa kemana perahu yang sudah dibuat ini.

Memang 3 tahun ini pengalaman yang singkat. Tapi dalam 3 tahun, saya merasakan sekali gimana kebobrokan sistem di negara ini membuat kami seringkali meringis kesal. Urusan ijin, urusan pajak, urusan ketenagakerjaan, yang semuanya UUD – Ujung-Ujungnya Duit. Belum lagi urusan internet yang sampai hari gini masih aja lambat seperti siput. Penggambaran super nyata dari kerja beberapa badan pemerintahan, menurut saya.

Jadi dalam logika praktis saya, dengan Jokowi dan JK yang keduanya adalah juga pengusaha, yang pasti juga pernah merasakan sakitnya berurusan dengan segala sistem yang kacau, mereka pasti tahu apa yang harus diubah (DIUBAH ya bukan DIRUBAH. Karena tidak ada yang akan jadi rubah. Sekilas pelajaran Bahasa Indonesia....). Dengan demikian semoga saja pergerakan ekonomi akan makin lancar, negara bisa makin makmur. Aamiiin.


Lalu gimana dengan pilihan pertama saya, Prabowo?. Ya waktu kedua capres ini belum menentukan pilihan, saya masih mengambang. Tapi begitu Prabowo menyatakan koalisinya dengan Hatta Rajasa, lalu Golkar ikut dalam gerbong, lalu PKS, lalu PPP, that was it for me.

Sebagai anak dari orang tua yang PNS, kemuakan saya pada Golkar dan segala yang bersinggungan dengan partai ini sudah mengakar. Seragam KORPRI yang orang tua saya kenakan seminggu sekali, dan keharusan mencoblos Golkar again and again padahal hati nurani mereka tidak setuju, buat saya adalah lambang represi yang luar biasa.

Waktu lulus kuliah dan ibu saya meminta supaya saya melamar ke salah satu badan pemerintahan, dengan tegas saya bilang, “Nggak Ma. Sampai kapanpun kalau masih ada pilihan lain, Riri nggak mau jadi pegawai negeri. Nggak mau jadi kayak Mama dan Papa yang sepanjang usia kerja harus menentang sistem hanya supaya bisa tetap jadi orang yang benar di mata Allah. I’m not that strong”.

Segala yang dimungkinkan terjadi gara-gara Golkar, cukup bikin saya mau muntah. Satu partai itu saja, cukup membuat saya yakin kubu pertama is not my choice.

Sejarah hitam Prabowo is one thing. Tapi kalau saja dia menunjukkan itikad baik dengan berkoalisi dengan pihak yang lebih putih, mungkin akan lain cerita. Saya pernah bilang pada Cip, “Coba dia milih Dahlan Iskan jadi cawapres. Nah seru tuh. Orang pasti bakal bingung mau bilang apa, dan gak malah pada berantem kayak sekarang” (udah jangan dibahas Dahlan Iskan bakal mau atau nggak kalau dulu diminta....this is not for debating :)).


Saya nulis ini bukan mau membela kubu yang akan saya pilih, seperti beberapa pendukung yang bikin saya geleng-geleng kepala saking hebohnya pembelaannya, sampai saya kadang mikir, “Kenape sih bro, sis, santai aja. Ntar darah tinggi sapa yang nanggung?”. Saya cuma sedang kilas balik aja. Sekedar membuat catatan sejarah – yang siapa tahu jadi cerita lucu buat Tara dan Lila kelak. Bahwa ada satu masa dimana negerinya heboh harus belajar memilih dengan santun, harus belajar memilih dengan logika dan bukan dengan emosi. Dan bunda mereka di masa itu cuma berpegang pada logika sederhana dan praktis saja. Lalu melanjutkannya dengan observasi dan ngobrol sana sini untuk memantapkan pilihan.

Lalu gimana dengan ibu saya?. Di pagi yang lain lagi, beliau nanya, “Jokowi gimana Ri?”. Saya bilang, “Mikir gini aja Ma, mau nggak nanti tahu-tahu Aburizal jadi menteri?. Hatta Rajasa pula yang jadi capres – jejak dia gimana Mama pasti tahu kan?. Atau tahu-tahu si Rhoma Irama jadi Menteri”. Ibu saya langsung merengut, “Ih, amit-amit...”.


(R I R I)

Sunday, June 15, 2014

Penggaris, Gunung Kembar, dan Langkah Negeri



Gara-gara belum bisa move on alias ketagihan sejak ‘kerja sehari’ di Kelas Inspirasi Jakarta #3 bulan April lalu, saya dan teman-teman sekelompok (yang diberi nama keren ‘Sixpiration’ oleh salah seorang dari kami – kelompok nomor 6 J), berencana akan balik lagi ke sekolah tempat kami mengajar sehari, di SDN Kembangan Utara 06 Pagi. 

Hari dan bulan berlalu. Di tengah kesibukan kami masing-masing, dan UKK di sekolah, akhirnya kami baru melaksanakan niat ini tanggal 14 Juni 2014.

Karena hanya berenam, kunjungan kali ini kami memutuskan untuk hanya mengajar siswa kelas 4 dan 5. Jadilah kami memisahkan diri menjadi 2 trio – trio pertama bertanggungjawab mengajar kelas 4 dan 5 A, dan trio lainnya mengajar kelas 4 dan 5 B. 

Well, kata ‘mengajar’ mungkin kurang tepat, berbagi sambil bersantai mungkin lebih tepat. 

Rencana kami sederhana saja. Saat melakukan Kelas Inspirasi, juga kalau dengar cerita-cerita dari para fasilitator KI, rasanya yang dibutuhkan anak-anak ini adalah budi pekerti, dan perilaku-perilaku baik yang sederhana dan bisa mereka lakukan dalam keseharian mereka. Jadi kami memutuskan untuk mencari video sederhana yang bisa menampilkan perilaku sehari-hari. 

Pilihan kami jatuh pada video dari Greeneration tentang sampah (Petualangan Banyu di Negeri sampah: http://www.youtube.com/watch?v=wvN5XUp-gFk) dan listrik (Petualangan Banyu dan Elektra Menyalakan Kota http://www.youtube.com/watch?v=Dk9Qonlxv6E). Kami akan nobar, kedua kelas akan nonton film yang berbeda. 

Setelahnya kami akan minta mereka menggambar. Kelas yang nonton tentang sampah, membuat gambar tentang lingkungan yang bersih dari sampah dan bagaimana menjaganya. Kelas yang nonton tentang listrik, membuat gambar tentang listrik di lingkungan mereka dan bagaimana jika pasokan listrik tiba-tiba habis. Lalu beberapa orang akan diminta cerita tentang gambar mereka. 

Saya kebetulan ada di trio yang berbagi tentang sampah. 

Awalnya jujur saja saya skeptis mereka akan bisa duduk diam dan menonton video ini. Karena saat ditanya, “Mau nonton nggak?”. Kompak, “Mauuuuu!!!”. Dan ada yang nyeletuk, “Mau film setan bu!”. 

Ehem...dalam hati saya, yah sudahlah, kalau mereka tahu-tahu meninggalkan kelas karena bosan dengan film ini, yang cuma berdurasi 14 menit lebih, paling tidak kami sudah berusaha.

Saat film berlangsung, saya senang juga melihat mereka kelihatan cukup tertarik. 

Menunggu film diputar

Menyimak...

Deretan paling depan yang bergelimpangan :)


Setelah nonton, kita ajak mereka tanya jawab seputar film yang barusan ditonton. Siapa tokohnya, apa ceritanya dan sebagainya. Waktu saya tanya, “Kalian pernah nggak buang sampah sembarangan?”. Banyak sekali yang jawab, “Pernaaahhh!!”, sambil tertawa. Saya tanya kenapa, jawabnya, “Males cari tempat sampah”, ada yang bilang, “Nggak ketemu tempat sampah”. Ada lagi, “Temen-temen lain juga buang sembarangan”. 

Hehe....saya cuma bisa nyengir dalam hati. PR besar nih mengubah perilaku seperti ini, yang dilakukan tanpa merasa bahwa itu salah. Artinya sih sepertinya kalau nanti kami berkunjung lagi, pesan tentang jangan buang sampah sembarangan itu tampaknya harus diulang....lagi, lagi dan lagi jika perlu. 

Selanjutnya, acara menggambar. Mereka kami bagi dalam kelompok bertiga atau berempat, dan menggambar lingkungan yang bersih dari sampah. 

Nah ini yang jadi sumber kejutan buat saya. 

Saya pernah membaca ulasan Prof. Sarlito di link ini: http://www.toktokwow.com/2014/06/anak-anak-masih-diajari-menggambar.html?m=1. Ya saya pikir menggambar gunung kembar dengan garis lurus-lurus yang notabene tidak akan kita temukan di alam semesta, itu hanya terjadi di masa kecil saya. Ternyata....saya salah besar. 

Ada 2 hal kompak yang dilakukan hampir semua (jika tidak semua) siswa: (1) mengeluarkan penggaris, dan (2) mengeluarkan buku gambar berisi gambar-gambar mereka sendiri dan mencari mana yang bisa mereka tiru (mungkin memang hari Sabtu ada ekskul menggambar – saya tidak tahu, karena semua murid menyimpan buku gambar dan karya mereka di tas masing-masing).

Dan saya lumayan kaget lihat banyak sekali gambar gunung – kembar maupun tidak, dengan pakem dan aura yang kurang lebih sama. Dan saya juga kaget melihat semua kelompok menggunakan penggaris untuk membuat beberapa elemen dari gambar mereka – dari membuat horizon, sampai membuat tepi jalan. Bahkan teman sekelompok saya bilang ada yang menggunakan busur untuk memastikan garisnya tegak lurus!. 

Kejadian ini terjadi juga di kelompok trio lainnya. Bahkan teman saya sampai ada yang berkomentar, “Geometrical freak banget deh jadinya kesannya mereka ini”. 

Ada satu dua kelompok di kelas ini yang gambarnya berbeda - bukan gunung dengan pakem yang sama. Tapi perilaku MENIRU APA ADANYA, dan tidak berusaha mengubah elemen apapun dari apa yang mereka tiru, itu ada di setiap kelompok. 

Mencari contoh...pilihan mereka jatuh pada gunung kembar...

Mencontoh gambar pegunungan

Walaupun tidak terlalu terlihat, kelompok ini sudah siap dengan penggaris untuk menggambar horizon

Walaupun mencontoh gambar yang sudah pernah dibuat sebelumnya, tapi lumayanlah kelompok ini menggambar sesuatu yang cukup berbeda - rumah pohon
Ini juga berbeda, walaupun masih tetap dengan mencontoh: mencontoh gambar di depan buku tulis, dan membuat Si Penjaga Kebersihan. Paling tidak ada 'twist' yang dilakukan kelompok ini terhadap stimulus yang mereka contoh. Sayangnya hanya satu kelompok yang melakukan pengolahan itu


Selesai acara menggambar ini, kami pulang ke rumah masing-masing. Saya dengan beban di benak saya. 

Ini sudah tahun 2014. Yang saya hadapi kemarin itu adalah generasi kesekian di bawah saya. Tapi kenapa pakemnya tidak juga kian berubah?. 

Tidak, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini juga mungkin adalah salah satu dampak dari perilaku pembiaran kita semua, yang sering tidak lakukan apa-apa walaupun sudah tahu ada yang salah. Ya termasuk saya. 

Ini adalah sekali lagi potret pendidikan kita – yang tidak pernah jauh dari hafalan, yang tidak pernah jauh dari ini benar dan itu salah. Yang kedua itu tidak ada salahnya jika yang kita lihat adalah bukan perilaku yang harusnya kreatif dan bebas dari kungkungan. Kalau ini adalah acara berbagi tentang hukum – mungkin saya tidak merasa ada beban... Ini adalah menggambar – perilaku yang ada di tiap anak yang pada dasarnya senang corat coret. Anak-anak yang punya ranah kreatif yang luas. Dan semuda itu pula, di kelas 4 SD, ranah itu sudah terdistorsi.

Sementara saya percaya kreatifitas anak harus dipupuk dan bukan dipatahkan. Karena kreatifitas bagi saya adalah keterbukaan cara berpikir. Dan itu yang akan membantu negeri ini, sekarang dan di masa depan, untuk bisa melangkah lebih jauh. Saya saja suka jengkel kalau Tara sudah bilang, “Tapi kata bu Guru kayak gitu”. Biasanya saya akan ceramah panjang lebar bahwa dia harus punya pemikirannya sendiri, apapun yang bu Guru sudah utarakan di kelas.

Dan baru saja 3 hari yang lalu, di perayaan ulang tahun ketiga usaha saya dan teman-teman, kami baru saja juga merayakan gegap gempitanya Indonesia. Yang sedang berubah. Yang makin kinclong dan jadi perhatian dunia. Lalu tiba-tiba, di tempat yang lain, saya melihat ada sesuatu yang seperti sudah jadi tumor, di dalam sebuah sistem yang harusnya jadi dasar semua perubahan: pendidikan.

Lalu apa yang akan kita, atau saya, lakukan kemudian?. Ini adalah generasi kesekian yang akan jadi penerus saat saya mungkin sudah bongkok dan pikun dan terlalu lelah untuk melangkah. Mau jadi apa mereka, dan negeri ini, kalau saya tetap diam?. 

Kejadian kemarin meyakinkan saya bahwa saya tidak boleh berhenti. Tidak sekarang. Tidak selamanya. 

Mungkin sesi berikutnya adalah sesederhana meminta mereka menggambar apapun yang belum pernah mereka gambar, tidak mencontoh punya teman, menggambar apa saja yang ada di benak mereka dan menceritakannya setelah selesai. Saya percaya sekali kegiatan menggambar itu stimulasi asik untuk otak anak-anak. Sederhana, tapi mengena.

Semoga langkah-langkah kecil sekarang, kelak bisa mengubah segelintir dari mereka. Tidak perlu muluk-muluk mengubah semuanya. Satu atau dua orang saja, semoga bisa berubah. Demi negeri. 


(R I R I)