Friday, December 9, 2016

Mendung (semoga) tak selamanya kelabu



(Sebuah catatan akhir tahun yang mungkin terlalu cepat dibuat)

Iya. Baru 9 Desember. Minggu pertama di bulan terakhir tahun ini baru akan berakhir. Tapi, walaupun kerjaan masih menumpuk, setengah otak, hati dan badan saya sudah ada di itinerary liburan akhir tahun kami. Jadi demi menghormati setengah yang sudah suasana liburan itu, saya putuskan bikin sekarang saja catatan ini.

Dalam hidup ada naik dan turun. Ada mendung ada hujan ada matahari.
Catatan terbesar saya tahun ini ada pada 2 mendung: saat saya pikir semangat sedang runtuh, dan mendung yang saat ini terjadi di sekitar kita sebagai sebuah Indonesia.

--
Semangat yang (dikira) hilang.

Gara-gara tahun lalu bisnis merana, saya tidak punya optimisme besar saat memulai tahun ini. Ditambah saya tahu ada 2 anggota tim yang akan meninggalkan tim selama 3 – 4 bulan karena melahirkan. Jadi saya tidak berani berpikir bahwa kami akan menutup tahun ini dengan hasil yang luar biasa.


Tapi saya tidak tahu apakah karena kami satu tim ternyata lebih tangguh dari perkiraan saya, atau memang seperti kata orang: rejeki tidak akan lari kemanapun kalau memang sudah jadi jatah kita, ternyata bahkan di awal bulan Desember ini kami sudah bisa menutup buku perusahaan, dan mulai menabung buat tahun depan. Alhamdulillah.

Hasil yang sangat diluar perkiraan saya, karena ini adalah tahun dimana tiba-tiba di tengah tahun, semangat saya turun ke titik yang lumayan rendah. Galau yang menurut saya sempat bikin saya tidak efektif menjalankan fungsi sebagai the leader of the pack, yang seharusnya jadi mercusuar. Saya redup. Dan ada saat dimana saya ingin matikan saja lampu itu.

Tiba-tiba saja  saya merasa lelah. Merasa mungkin ada baiknya saya tinggalkan sejenak dunia pekerjaan saya, untuk menelusuri jalan lain  yang saya juga belum tahu apa. Entah kenapa saya didera perasaan bahwa this is tiring, this is not going anywhere, this is not something that I want to do anymore. Ada rasa frustrasi, merasa saya jalan di tempat. Penyebabnya? – sampai sekarangpun saya tidak tahu. Mungkin cuma kejenuhan. Mungkin perasaan bahwa saya belum kunjung melakukan banyak hal buat orang di sekitar saya.

Emosi itu tidak hilang bahkan sampai awal November, saat dimana seharusnya saya mulai melakukan business review untuk persiapan pertemuan tahunan kami di awal Desember untuk merencanakan 2017.

Di tengah kegalauan dan energi yang luar biasa rendah, saya memutuskan untuk bertanya pada teman-teman satu tim: what do they think of 2016, and what do they wish for 2017?.

What my team has shared with me, was a lot more than what I wished I would find. Saya sempat termenung di depan laptop dan, mbrebes mili (ah...gimanapun juga saya perempuan).

Saya tidak menyangka akan menemukan energi sebesar itu: kegembiraan (padahal ada saat-saat dimana kami jungkir balik luar biasa karena keterbatasan tenaga dan waktu), appreciation of team work, energi karena melakukan dan mengalami banyak hal yang baru (padahal dari kacamata saya, kita tidak melakukan apapun yang baru), perasaan bahwa we were moving forward to something bigger and better.

Jujur semua itu bikin saya kaget. Di tengah energi pribadi yang super depleted, ternyata, orang-orang di sekitar saya justru mengalami yang sebaliknya. 

Saat saya harus merangkum semua masukan mereka, saya jadi tahu kenapa kami bisa mencapai apa yang kami capai padahal saya merasa gagal memompa semangat buat mereka: they already have it in them. Semangat buat terus lari dan maju. Semangat buat terus menopang satu sama lain. Dan rasa memiliki terhadap apa yang sudah dibangun.

Saya tidak tahu darimana mereka dapat semua itu, karena rasanya saya tidak melakukan apa-apa. Saya juga tidak tahu apa yang membuat mereka percaya bahwa ini adalah tempat yang tepat buat mereka menumpahkan energi dan semangat itu. Yang jelas, saya jadi sadar bahwa saat saya merasa ‘sendiri’ dan lelah, maybe all that I need to do is just to sit down with them and hear their thoughts and I’ll be back up again.

Di dalam rapat tahunan kami, saya sempat bilang pada teman-teman sebagai apresiasi bahwa bahkan dengan ketiadaan 2 manager handal kami di semester kedua tahun ini, tim tetap bisa bekerja dengan hasil yang keren: tanda bahwa a leader has done a good job adalah bukan saat dia ada dan tim bisa bekerja efektif, tapi justru saat dia tidak ada, tim bisa bekerja dengan efektifitas dan hasil yang sama baiknya.

Di saat yang sama, dalam hati saya juga bilang pada diri sendiri: a leader should also realise that she is not the only solution, she has others’. She is not the only beacon. When the light is low, she can empower others to create a new one so the light can still be on. 

Saya selalu tahu ada orang-orang hebat di sekitar saya. Proud to work with them


Saat manusia belajar jadi Tuhan. 

Dengan resiko saya dicap menistakan Tuhan menggunakan kalimat itu sebagai catatan kedua saya, tapi entah kenapa itu yang bolak balik muncul di kepala saya melihat semua kejadian belakangan ini.

Jangan marah dulu. Tapi coba renungkan dan coba kita jujur pada diri sendiri (oh iya tentu, me included. Saya juga tidak luput dari kesalahan yang sama kok). Saya kasih satu contoh.

Saya kebetulan terlahir di keluarga Islam, dididik dengan keimanan Islam, otomatis mendapat cap muslim. Dalam kitab suci saya, mereka yang diluar Islam, ada capnya sendiri. Yang paling sering disebutkan: kafir.

Betapa seringnya kata-kata itu dilontarkan. Entah dengan sembarangan, atau dengan kedalaman emosi. Tapi saya sering membatin: iya sih ada definisinya di kitab suci kafir itu siapa dan seperti apa, tapi lalu apakah harus semudah itu pula kita mencap seseorang kafir dan lalu meneriakkannya ke seluruh jagat raya?.

Apakah jangan-jangan sebetulnya ada pesan tersirat dari Tuhan: iya Aku berikan kalian sebuah definisi tapi hak prerogatif untuk menilai tetap ada di tanganKu, karena ayat itu juga datang dari Aku.

Saya tidak pernah berani melontarkan kata kafir karena selalu terpikir seperti itu. Saya takut bahwa jangan-jangan ada hal lain, yang tidak terlihat oleh mata awam saya yang pastinya tidak setajam mata Tuhan, untuk menilai seseorang kafir atau tidak.

Berbeda dengan misalnya saya ditanya: apa warna baju yang dipakai anak kamu tadi waktu berangkat ke sekolah?. Saya bisa bilang hijau. Sesuai dengan perintah sekolah. Tapi mendefinisikan kafir – bukannya itu juga mendefinisikan isi hati?. Dan siapa yang tahu isi hati orang?.

Pertanyaannya: adakah yang pernah berpikir sebelum mencap kafir, bahwa menilai keimanan seseorang tidak semudah mendefinisikan warna baju?. Dan bahwa hanya Tuhan yang tahu isi hati tiap ciptaannya?. Siapa kita sok tahu mencap seseorang?.   

Contoh lain lagi.

Saat ada kejadian dimana terjadi pengumpulan massa, yang menimbulkan banyak keharuan di kalangan sesama pemeluk agama saya, saya malah merasa sedih. Saya nangis, tapi nangis karena melihat apa yang diusung.

Lihat salah satu isi spanduk yang dibawa: Penjarakan si anu. Lalu jeritan setelah Pakde pergi dari podium, yang intinya penjarakan si anu, jika tidak maka mereka siap revolusi.

Apa yang sedang diperjuangkan, sih?. I have no issues dengan kumpul-kumpulnya, but I have a big issue dengan misi di dalamnya.

Apa doa yang sedang dipanjatkan?: keselamatan bagi SEMUA NO MATTER WHO THEY ARE, atau keselamatan buat diri kita sendiri, yang sepaham?. Keadilan bagi SEMUA NO MATTER WHO THEY ARE, atau keadilan bagi diri kita sendiri, yang sepaham?.  

Kehadiran spanduk berisi tuntutan akhir, dengan nada memaksa, padahal proses pengadilanpun belum berjalan – baik yang di dunia apalagi yang di akhirat, di sebuah acara yang katanya damai, buat saya menohok rasa keadilan saya sebagai manusia. Dan itu: merasa jadi Tuhan kah kita untuk langsung tahu bahwa dia memang patut dipenjarakan?.

I am not talking about my religion, I am talking about humanity. Mungkin saya akan dihujat sekuler bilang begini. Atau sesat karena membela si penista. Ada saja yang sedang latihan jadi Tuhan. Padahal, saya tidak bicara atas nama orang, saya tidak membela siapapun KECUALI RASA KEMANUSIAAN DAN JADI MANUSIA.

Lha itu: KITA MANUSIA BUKAN TUHAN. Tapi buat saya akhir-akhir ini sepertinya banyak sekali yang sedang belajar jadi Tuhan. Mengadili tingkat keimanan orang lain. Memberikan cap pada orang lain. Menghujat sesamanya hanya karena berdiri berseberangan dalam hal pendapat. Pendapat lho ya, kita tidak bicara soal iman. Atau masih ada saja yang merasa berhak melarang ibadah di suatu tempat.

Hmmm...ya jangan-jangan ada yang baca tulisan ini lalu bilang: lha kamu sendiri sedang belajar jadi Tuhan, Ri, dengan menuduh ada yang sedang belajar jadi Tuhan. Hahahaha...iya ya jangan-jangan. Tak apalah. Saya hanya ingin menumpahkan uneg-uneg yang bikin eneg selama beberapa minggu terakhir ini.

I mean, come oooonnn people. Kita butuh berdiri bersama. Whatever happened to: let’s agree to disagree but let’s park that disagreement because we have a goal to achieve together?.

Tujuannya apa? – ebuseeettt....banyak!.

Kita ini belum 100% aman dari krisis ekonomi. Di rapat kami kemarin saya sempat melongo juga.
Iya sih kita satu-satunya negara di ASEAN (atau Asia ya), yang masih mengalami positive economy growth tahun ini. Tapiiii...perkembangan ekonomi kita lebih rendah dibanding prediksi. Ekspor kita terhambat karena kondisi ekonomi global yang juga turun terutama Cina. Keuangan negara masih defisit, dan turun terus. Pendapatan dari migas turun terus. Infrastruktur kita masih parah pake banget dan Pakde sedang kerja keras membuatnya lebih baik. Pendidikan kita masih minta ampun lucunya (apalagi dengan moratorium UN yang sudah kadung bikin girang tahu-tahu dibatalkan...huh...maumu apa Pak Menteri?).

Masalah kita banyaaakk sodara-sodara. Dan itu semua butuh kita bersatu. Indonesia butuh stabilitas. Butuh fokus dari para bapak dan ibu pengelola negara supaya kita aman-aman saja tahun depan. Kalau harus mengurusi ranah iman, ranahnya Tuhan, kapan selesainya?.

Apapun perbedaan yang ada, mari kita pinggirkan dulu. Kita bantu lah para pengelola negara dengan menahan diri untuk tidak baper-an.

Saya sempat gemas luar biasa baca komentar-komentar tentang bagaimana pemerintah meng-handle issue penistaan agama misalnya. Mau langsung dipenjara?. Hadeuh – katanya damai, lha kok berangasan. Apa paham 100% bagaimana pertimbangan para bapak dan ibu itu?. Lha kalau tidak yo mbok meneng wae toh. Sabar. Tunggu.

Katanya kalau memang Tuhan berkehendak akan terjadilah yang terbaik menurut keputusanNya. Tapi terus baper. Yang tidak ikut menekan pemerintah dihujat, dicela. Piye?. Sampeyan sehat?.

Padahal kapan hari yang minta patung Buddha diturunkan saja dimaafkan oleh yang punya kuil, lho. Itu kan juga penistaan agama, ya sayangnya memang agamanya orang lain bukan agama kita sendiri. Ndak malukah kita pada mereka yang memaafkan itu? (jawab sendiri).

Ini baru satu kasus yang menggelembung. Pelajarannya buat para pejabat sih: ya hati-hati dengan congormu. Tapi pelajaran buat kita: kapan mau berhenti belajar jadi Tuhan?. Atau ini: sadarkah bahwa kita sedang belajar jadi Tuhan dengan menghakimi dan mengadili orang lain dengan segala asumsi yang ada di kepala kita?. Jadi apakah jangan-jangan kita juga sedang menistakan sesuatu?.

Untuk catatan yang ini saya sebetulnya hanya ingin mengajak merenung. Kembali pada kemanusiaan. Pada sebuah sandaran bahwa tidak ada manusia yang diciptakan sama. Tuhan melakukannya pasti dengan sebuah maksud dan saya yakin bukan semata supaya kita bertengkar melulu. Jadi buat apa terus berdebat?. Apalagi berdebat yang urusannya adalah semata urusan pribadi dengan Tuhannya, Penciptanya. 

Mari kembali pada kodrat sebagai manusia dan kenapa kita diturunkan di bumi ini: supaya berguna bagi manusia lainnya. Sudahkah anda?. Dan pikirkan apakah semua perdebatan dan pengadilan tentang keimanan orang lain itu berguna bagi kemanusiaan...rasanya sih...tidak. Urus dululah hati kita masing-masing karena para pujangga saja sudah sejak dulu bilang: hati orang lain siapa tahu.  

--

Salam damai bagi semua. Bagi Indonesia yang saya yakin sama-sama kita cintai. Semoga, seperti yang saya pribadi alami tahun ini dalam kehidupan kerja saya, mendung yang ada cepat terangkat lewat cahaya-cahaya lain yang menyinarkan energi positif. Aamiiin. 

Salah satu slide yang dibuat oleh partner bisnis saya waktu meeting lalu. Foto tempat yang sama, dengan suasana yang sangat beda. Tepat sekali menggambarkan suasana Indonesia. Kita sekarang ada di kanan, saudara-saudara. Masih mau bertengkar?.


(R I R I)

Tuesday, November 29, 2016

Rekrutmen Gelap Mata


Saya kerja di industri riset pemasaran, alias marketing research, yang bisa dibilang minim talenta dan peminat. Industri ini, walaupun sekarang memang relatif lebih dikenal dibanding dulu waktu saya pertama kerja di dalamnya, tetap saja belum jadi sebuah industri yang bisa menarik banyak kandidat.

Jadi setiap kali saya harus cari talenta baru, lumayan besar usaha yang harus dilakukan. Mau cari senior? – dijamin nama yang muncul ya 4L: Lu Lagi Lu Lagi. Saking banyaknya orang-orang baru yang kurang mau bertahan di industri ini. Dan ya akhirnya saya memang harus berusaha cari orang-orang baru, bagaimanapun sulitnya, dilatih dengan benar, dan berdoa semoga shelf life-nya lebih dari 2 tahun. Aamiin. Begitu terus.

Kesulitan merekrut  bukan cuma baru sekarang saja saya alami, tapi dari dulu. Ini problem mengakar di industri ini. Tapi ya alhamdulillah sekarang tim saya lumayan lengkap, dan sedang baik-baik saja. Semoga baik-baik terus.

Tapi ada masanya, dulu saat saya masih kerja di korporat maupun juga waktu saya sudah berdiri sendiri, saya mengalami agak putus asa mencari kandidat baru. Nah, di masa-masa seperti itu, saya biasanya lalu sering melakukan kesalahan atas nama ‘gelap mata’ dan ‘kepepet’.

Biasanya dimulai dari: tim sudah mulai merintih kekurangan orang, usaha mencari kandidat sudah lama dan belum menghasilkan yang layak rekrut, energi mulai terkuras karena pekerjaan dan kelelahan mengelola emosi tim supaya tidak turun gara-gara kapasitas. Mulailah muncul pikiran, “Duh kalau ada yang bagus udah deh rekrut aja dulu, dilatih and deal with it”.

Nah yang bikin gelap mata kalau keadaan sudah begitu biasanya ya yang kasat mata. Latar belakang pendidikannya. Universitas negeri. IPK 3 (atau lebih). Bahasa Inggrisnya bagus. Hasil tesnya OK. Hasil interview not bad. Yuk mari kita jaring.

Saking ingin cepat dapat anggota tim, saya kadang lupa bahwa rekrutmen itu lebih dari itu. Saya lupa ada yang namanya rekam jejak.

Padahal, bahkan saat merekrut pemula pun, rekam jejak itu penting. Seperti apa dia waktu kuliah. Seperti apa kegiatan dia di luar kampus. Bagaimana dia beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam hidupnya. Contoh-contoh kasus seperti apa yang bisa dia berikan untuk meyakinkan kami bahwa dia akan cukup tangguh menghadapi tantangan kerja di industri yang bisa bikin orang jungkir balik ini kalau kurang canggih membagi waktu dan pikiran.  

Gara-gara mau buru-buru, ada kejadian-kejadian dimana kadang saya mengabaikan yang tersirat. Karena biasanya saat wawancara sebetulnya saya suka punya feeling. Ini orang ini akan bermasalah disini, disitu dan sebagainya. Tapi kalau sedang kepepet, biasanya saya abaikan itu. Ujungnya saat benar bermasalah saya biasanya cuma bisa self-toyor.  

Yang membayar siapa? – ya semua, satu tim. Dan kadang it can be very costly – dalam hal energi dan waktu terutama.

--

Terus kenapa tahu-tahu saya ngomongin rekrutmen?.

Saya sebetulnya sedang mengobservasi semua kandidat Gubernur itu waktu tiba-tiba saya kok teringat semua pengalaman buruk saya dengan rekrutmen gelap mata.

Sebetulnya kan proses yang kita sedang lakukan sama saja: kita sebagai rakyat akan merekrut seseorang yang akan mengelola uang pajak kita, membuat kota ini jadi lebih baik dan lebih layak untuk hidup, dan kita yang menggaji.

Pertanyaannya: kita ini cukup tahukah kompetensi macam apa yang harus dimiliki oleh seorang Gubernur?. Dan cukup tahukah kita pekerjaan dan tantangan macam apa yang harus dia penuhi kelak demi membuat kita-kita yang membayar gajinya ini senang dan ndak malah ngedumel?. Cukup terbukakah mata kita – mata yang di kepala dan mata hati, untuk bisa menilai dengan cukup netral kompetensi dan juga rekam jejak setiap kandidat itu?. Cukup punya aspirasi yang jernihkah kita tentang Jakarta harus jadi kota seperti apa?. Aspirasi yang masuk akal dan realistis lho ya, dengan jumlah penduduk yang minta ampun banyaknya dan tingkat ekonomi yang berjarak sedemikian rupa dari si miskin hingga si kaya.

Dan cukup jernihkah hati kita untuk bisa memilah antara KEPENTINGAN, dan KEBUTUHAN. Kepentingan, selalu berdiri atas nama uang. Dan saat uang berbicara, rasanya ada banyak hal yang bisa jadi kabur sekabur-kaburnya.

Sama saja dengan memilih kandidat untuk perusahaan. Merekrut seseorang yang masuk kriteria untuk kejar target misalnya – itu kepentingan banget menurut saya. Padahal jangan-jangan betul bahwa orang tersebut bisa ‘memecut’ timnya sehingga target tercapai, tapi dengan korban berjatuhan dimana-mana dengan beragam alasan dari kelelahan emosional sampai ada yang memilih untuk keluar. Sounds familiar? – oh come on...hal ini terjadi berulang kali di korporat. Let’s not hide.

Sementara, kebutuhan berdiri atas kepentingan orang banyak. Kalau di perusahaan, ada kepentingan tim, dengan menimbang juga anggota tim yang lain, budaya perusahaan dan sebagainya. Selain tentunya kebutuhan perusahaan untuk berkembang dan menghasilkan keuntungan. Mempertimbangkan kebutuhan adalah bicara dengan otak dan hati yang seimbang.

Bicara tentang Jakarta, cukup tahukah kita mana yang jadi kepentingan, dan mana yang kebutuhan – termasuk kebutuhan kita sebagai warga kota. Kepentingan untuk berdamai dengan para anggota dewan sehingga semua kantong terisi sama rata, atau kebutuhan kita untuk melihat bahwa dana dikelola dengan bersih dan bermanfaat?. Kepentingan untuk jadi orang nomor satu saja, atau kebutuhan kita akan sosok yang bisa jadi pemimpin yang bisa kita banggakan hasil kerja dan kemampuannya yang mumpuni?.

Mengobservasi apa yang terjadi sekarang ini, terlebih setelah tadi pagi membaca berita tentang hasil polling tentang posisi dari ketiga kandidat, saya sangat khawatir kita sedang gelap mata hanya gara-gara satu kejadian. Saya sangat khawatir saat ada pernyataan yang maknanya kurang lebih adalah keahlian dan kompetensi itu nomor dua yang penting dia BUKAN anu (daripada kena UU ITE, saya sensor sajalah).

Hilang pula kesadaran kita untuk melihat rekam jejak mereka. Hilang pula kejernihan berpikir kita untuk menimbang dia sebagai a whole person dan bukan cuma programnya yang kedengarannya bombastis fantastis. 
Jangan-jangan banyak orang lupa bahwa mereka ini akan digaji oleh kita lho. Lha kalau lalu memilih orangnya tidak berdasarkan kompetensi yang ajeg, milihnya hanya gara-gara emosi sesaat, artinya, kita rela dong uang kita terbuang percuma?. Wah, saya mah udah kapok mengalami yang begitu. Sudah terlalu banyak uang kita terbuang percuma oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang (katanya) terhormat. 

--

Semoga saja saya dan pikiran saya yang kadang kelewat naif ini salah. Semoga saja di bulan Februari nanti kita bisa memilih dengan kesadaran 100% bahwa ini adalah orang yang kita yakin bisa membuat kota ini jadi kota yang lebih baik.

Dan yang lebih penting ini: bisa meneruskan segala yang baik yang sudah dimulai dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. Sudahlah, jangan melulu punya pikiran buruk. Bagaimanapun juga, let’s admit dalam 2 tahun terakhir ada banyak hal yang membaik di Jakarta.

Lalu juga semoga orang itu punya komitmen untuk tetap bersih sehingga kita (eh salah, saya deh) tidak perlu ngedumel saat bayar pajak.  

Aamiiin.


(R I R I)

Tuesday, November 15, 2016

The lives we've touched



Waktu tadi pagi saya nyalakan telpon genggam dan melihat di beberapa grup WA seliweran berita duka tentang Prof. DR. Sarlito W. Sarwono, atau yang kami di Fakultas Psikologi UI kenal akrab sebagai Mas Ito, saya spontan menangis. 

Padahal, kalau dibandingkan dengan beberapa teman-teman lainnya, saya tidak pernah punya interaksi yang dekat dengan beliau. Saya hanya pernah jadi mahasiswi yang duduk di setiap kelas yang beliau ajar, dan setiap kali pula saya terinspirasi.

Ada banyak hal yang diam-diam saya pelajari dari Mas Ito.

Pertama: beliau adalah orang pertama yang membongkar persepsi di kepala saya bahwa lulusan psikologi nanti ujungnya jadi psikoterapis atau kerja di bidang kepegawaian atau HRD. Pandangan klasik itu terbongkar oleh kuliah perdana Mas Ito yang saya sekarang sudah lupa di semester berapa, mata kuliah apa. The mind forgets, but the heart remembers how it felt. Begitulah kurang lebih.

Beliau membuka mata saya bahwa pada hakekatnya psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia. Jadi, dimanapun ada manusia terlibat di dalamnya, psikologi bisa diterapkan. Dan nggak perlu punya ijin praktek sebagai psikolog untuk melakukannya.

Kedua: beliau mengenalkan filsafat dengan cara yang sangat membumi. Beliau dan Prof. Fuad Hasan adalah dua orang yang mengubah bagaimana saya memandang mata kuliah filsafat. Bukan lalu berarti saya jadi senang baca buku filsafat, tapi mereka berdualah yang berhasil membuat saya tidak merasa ‘bego-bego banget’ saat harus berurusan dengan mata kuliah filsafat.

Ketiga: beliau membuat saya tertarik mengamati gejala sosial.

Salah satu mata kuliah yang beliau ajar adalah Psikologi Sosial (dan juga Psikologi Seksual – yah ini namanya saja udah bikin saya rajin datang kuliah...dengan beliau sebagai pengajar, makin rajin lagi saya hadir karena cara beliau ngajar selalu seru). Gara-gara beliau saya memutuskan mengambil topik skripsi yang menurut saya akan punya relevansi yang jauh lebih besar buat komunitas tertentu dan bukan cuma jadi sekedar syarat buat lulus. Beliau menginspirasi saya buat menulis sebuah karya buat masyarakat, at least, buat teman-teman saya di fakultas begitu saya lulus.

Beliau memang nggak jadi pembimbing skripsi saya, padahal saya ngarep banget. Tapi bagaimanapun juga, ada banyak hal dari Mas Ito sebagai salah satu tokoh Psikologi Sosial yang punya pengaruh besar buat saya saat saya menyusun skripsi yang makan waktu setahun buat kelar itu.

Selepas kuliah, saya rajin menunggu tulisan-tulisan beliau di media massa. Terutama saat ada kejadian-kejadian tertentu di masyarakat. Tulisan beliau selalu bernas, diulas persis sama dengan cara beliau mengajar di kelas – to the point, tanpa basa basi, tapi ‘nancep’.

Demikianlah peran seorang Mas Ito di hidup saya. Dan untuk semua itu ada begitu banyak air mata yang saya keluarkan buat beliau sejak tadi pagi.

--

Sejak semalam saat saya menerima kabar beliau koma, saya sudah berniat: kalau ini adalah saat terakhir Mas Ito, maka saya harus datang to pay my last respect. Saya harus berucap terima kasih, walau cuma dalam hati, atas  semua yang telah saya dapatkan dari beliau.

Saya bilang Cip kalau saya akan melayat.

Sambil siap-siap, saya bilang dia, “Di umur kita ini, udah nunggu aja ya. Ortu siapa yang akan pergi. Guru kita yang mana yang bakal pergi juga. Kadang-kadang tahu-tahu ada temen juga yang pergi. Harusnya udah giliran kita ya ninggalin legacy...kita gimana nih...ninggalin apa kita?”.

Cip, yang sudah sangat sering dengar saya melontarkan keresahan semacam, cuma senyum dan bilang, “Ah kamu...”.

Tapi bagaimanapun juga pikiran itu tetap menggantung di benak saya. Lalu pergilah saya masih dengan pertanyaan itu di kepala, ke rumah duka tadi pagi. Dan saya terhenyak.

Para tamu yang tak henti datang. Lalu kenangan-kenangan akan beliau yang terus menerus mengalir, baik di dinding-dinding media sosial, di grup WA, semua menyadarkan saya akan banyaknya hidup yang telah tersentuh oleh beliau.

Lalu saya jadi merenung lagi sepulangnya dari melayat: have I touched other people’s lives in a meaningful way that when I’m gone, people can feel that my life was worth something?.

Atau jangan-jangan perasaan saya selama ini benar, bahwa saya masih saja terlalu sibuk mengurusi diri sendiri, masih saja belum memampukan diri untuk menyumbangkan waktu saya untuk orang lain, selain tentunya untuk keluarga (bahkan untuk keluarga pun jangan-jangan masih kurang). Sehingga kelak, jangan-jangan memang saya tidak meninggalkan jejak berarti bagi kemanusiaan, paling tidak pada diri manusia-manusia yang pernah berinteraksi dengan saya.

Atau jangan-jangan, saya malah membuat terlalu banyak orang jadi sebal dan muak dengan kehadiran saya yang egois. 

Bukan karena ingin dihormati saya jadi mikir kayak gitu. Tapi saya percaya bahwa inti dari jadi manusia di bumi ini adalah menjadi sosok yang punya manfaat buat manusia lainnya. Dan itu buat saya artinya manfaat buat manusia-manusia di luar keluarga saya – karena bermanfaat buat keluarga ya sudah kewajiban mutlak, tidak bisa ditawar. Tapi buat mereka di luar lingkaran keluarga,  itu adalah kewajiban dalam arti yang lebih luas: kewajiban kemanusiaan. 

Buat apa saya hidup kalau cuma bisa menunaikan kewajiban yang memang tidak bisa ditawar?.

--

Susah sekali menjawab pertanyaan itu. Sudah 10 tahun lebih saya punya pertanyaan itu, dan setiap mau tutup tahun saya selalu bertanya pada diri sendiri, “OK, loe udah melakukan apa tahun ini, udah menyentuh hidup orang lain dengan cara apa, yang bikin hidup loe bermanfaat buat orang lain selain keluarga loe, selain sedekah ya bok?”. 

Dan selalu, saya tidak pernah bisa menjawab. Atau, jawabannya selalu, “Belum cyiiiinn....udah ngapain gueee???....gak tauuukkk....”.

Dan hasilnya saya selalu tiba pada perasaan ngelangut yang sama. Nelangsa karena masih merasa diri jalan di tempat.  

Darn it. It’s gonna be 2017 soon. I will turn 46. 4 years to 50. What will I do with my life?, with those years that will disappear?.

Mungkin...mungkin...jawabnya ada pada bagaimana saya harus menyikapi hidup. Mungkin. Atau mungkin as simple as jadi orang yang tidak menyebalkan di media sosial, di tempat kerja, di rumah, saat ngumpul sama teman.

Ah. Another excuse. 

Terima kasih lho Mas, sampai Mas Ito pergipun tetap menginspirasi...

(R I R I)


Thursday, November 10, 2016

Tempat Main



Sejak beberapa minggu lalu saya kesel kalau baca Facebook. Yaaa mungkin harusnya nggak kesel ya, tapi saya kan manusia biasa, gimana dong. Mau jadi malaikat sudah nggak mungkin. 

Saat berita yang dibaca itu lagi, itu lagi. Dengan segala analisanya. Oh dan tak kurang cercaan dari mereka yang merasa benar – baik itu dari yang sebetulnya saya juga sependapat tapi merasa nggak perlu saya utarakan di ranah sosial, sampai yang memang betul-betul bikin saya pengen toyor karena penalaran masalah yang menurut saya nggak ‘lurus’.

Either way, semua berita dan cerita yang berakar pada si penistaan agama itu saya yakin sudah bikin banyak orang cukup gerah.

Lalu tahu-tahu, dari belahan dunia yang lain, datang berita yang mengejutkan. Trump jadi Presiden!.

Uwoooowww....what a shock!.

Muncul lagi segala analisa. Dari foto-foto seksinya the First Lady, segala meme, sampai analisa yang serius tentang bagaimana caranya mengenali kandidat dengan benar supaya bisa memilih dengan benar pula (dan dalam hati saya: benar menurut siapa?. Cuma Tuhan yang tahu...).

Ah. Jujur nggak ada yang saya baca. Headlines-nya aja, cukup. Karena, lihat isi timeline berubah saja saya sudah seneeng banget!.

Seminggu terakhir, ke-eneg-an saya pada isi timeline sudah maksimal. Jadi yaaa berita-berita yang sekarang sedang seliweran paling tidak bikin saya sedikit lega. Saya lega lihat teman-teman sebangsa, senegara, sebahasa, berhenti berdebat!.

Debat berkepanjangan yang akarnya menurut saya adalah ini: kita sepertinya kehilangan ruang dalam diri untuk memberikan maaf dan sadar bahwa terus menerus mencoba membuktikan seseorang bersalah itu menghabiskan energi!.

Kita juga masih saja mudah terjebak pada yang kasat mata, tanpa mencoba melihat yang tersirat yang jangan-jangan adalah masalah yang lebih serius untuk dihadapi.

Kita kehilangan ruang juga kelihatannya untuk berpikir bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan - jangan-jangan lebih banyak dibanding jalan menuju Roma.  Dan bahwa bagaimana seseorang memahami ayat-ayat suci adalah cara masing-masing individu mencari jalan menuju Tuhan. Jadi kenapa harus maksa semua orang untuk ikut cara kita berpikir karena menurut kita itu adalah cara terbaik menuju Tuhan?. That’s non-sense.

Tapi saya nggak mau ngebahas itu berpanjang-panjang.

Yang saya lihat menarik dari kejadian berganti dengan cepatnya isi timeline dalam hitungan jam, adalah kadang-kadang timeline itu jadi mirip seperti tempat Lila, anak saya yang baru umur 5 tahun itu, main.

Kadang berantakan luar biasa. Dan penuh dengan macam-macam mainan – dari buku gambar, Lego, bola, slime, topeng Batman-nya. Pokoknya beraneka ragam. Warna warni. Berbagai bentuk. Berbagai ukuran mainan.

Adakalanya juga hanya ada satu atau dua mainan disitu. Ini biasanya kalau dia memang sedang sangat suka dengan mainan itu. Entah Lego, entah menggambar. Kadang juga cuma jubah dan topeng Batman-nya yang menurut dia ‘cool’ itu.

Nah timeline Facebook kadang seperti itu.

Kalau sedang tidak ada topik panas, sebetulnya saya nikmati banget. Warna warni. Macam-macam topik. Macam-macam pendapat. Tidak linier.

Sama seperti kalau saya lihat tempat main Lila kalau sedang berantakan dengan macam-macam mainan. Iya sih ada pusingnya, tapi saya juga senang karena itu artinya dia sedang bereksplorasi. Dia sedang berimajinasi dan belajar banyak hal.

Timeline Facebook yang isinya beragam buat saya menunjukkan kita sedang belajar banyak banget. Sedang membuka diri pada begitu banyak hal. Menikmati banyak sisi dalam hidup.

Keragaman isi membuat saya merasa kita sedang bergerak. Kita tidak terpaku pada hal yang itu-itu lagi. Dan itu artinya ada kesempatan buat kita untuk membuat hidup jadi lebih baik. Buat diri sendiri, dan juga buat orang lain.

Tapi kalau isi timeline mulai seragam, berminggu-minggu (bahkan pernah berbulan-bulan deh rasanya), itu biasanya membuat saya khawatir.

Kalau saya biasanya seneng lihat tempat main Lila berisi satu atau dua mainan saja karena itu artinya lebih mudah minta dia beresin mainannya, tidak demikian kalau saya lihat timeline Facebook jadi tidak beragam.


It’s as if kita berhenti berevolusi. Kita terpaku pada hal yang itu lagi, itu lagi. Kita tidak kemana-mana. Cuma sibuk meyakinkan masing-masing pihak siapa yang benar siapa yang salah. 

Dan, buat apa?. Hidup kan tidak mungkin dibuat satu dimensi. Sejak kita lahir dunia ini sudah multidimensi, jadi kenapa sekarang jadi ngotot-ngototan?.

Nah mungkin saya yang lebay meracau begini. Kan Facebook cuma dunia maya?. Dan sama seperti Lila butuh tempat bermain, Facebook adalah lahan bermain juga. Di dunia nyata nggak begitu.

Ya mungkin. Dan anyway....selalu ada tombol unfollow.

(Pssttt....di Facebook sudah ada iklan tentang another demo tanggal 25 November...buka pendaftaran...).
 
Mari kerja lagi.

(R I R I)