Sunday, February 19, 2017

Belajar dari tragedi



Setelah seminggu yang lumayan bikin otak capek, dan sebuah Sabtu yang lumayan bikin kaki pegel, saya memutuskan malam minggu akan saya habiskan dengan berteman dengan kasur dan bantal.

Pilihan buat baca buku saya alihkan dengan nonton film. Bongkar-bongkar Netflix, ketemu film yang dulu nggak sempat saya tonton. The Boy in the Striped Pajamas.

--
Di-release tahun 2008, film ini dibuat berdasarkan sebuah novel karya John Boyne berjudul sama. Novel yang diilhami oleh sejarah kamp konsentrasi di masa Nazi.

Film ini bercerita tentang pertemanan antara Bruno (yang dimainkan bagus banget oleh Asa Butterfield, mungkin ada yang lebih ingat dia main dalam film Ender’s Game) anak seorang tentara Jerman, dengan Shmuel (dimainkan oleh Jack Scanlon, yang juga keren banget mainnya) seorang anak Yahudi yang tinggal di kamp konsentrasi.

Bruno dan keluarganya harus pindah dari Berlin ke pinggiran Jerman karena sang ayah ditugaskan kesana. Dari jendela kamar di rumah baru mereka, Bruno melihat sebuah ‘pertanian’ dengan orang-orang yang menurut dia aneh karena semua mengenakan piyama.

Dia sangat ingin berkunjung ke pertanian itu dengan harapan bisa menemukan anak lain untuk diajak main karena dia bosan dan kesepian di rumah besar mereka. Tapi orang tua Bruno melarang dia untuk kesana.

To cut the story short, Bruno menemukan cara untuk pergi ke tempat itu dan berteman dengan Shmuel.

Dari sinilah cerita yang bergulir berkali-kali bikin saya menghela napas karena tiba-tiba hati terasa berat. It all felt so real, karena kepolosan anak-anak selalu menyuarakan kejujuran.

Misalnya saja ini:



Shmuel: I wish you'd remembered the chocolate.


Bruno: Yes, I'm sorry. I know! Perhaps you can come and have supper with us sometime.

Shmuel: I can't, can I? Because of this.

[points the electric fence]

Bruno: But that's to stop the animals getting out, isn't it?

Shmuel: Animals? No, it's to stop people getting out.

Bruno: Are you not allowed out? Why? What have you done?

Shmuel: I'm a Jew.


  

Belakangan, Bruno belajar apa artinya menjadi Yahudi dari tutor yang didatangkan orang tuanya ke rumah, Herr Liszt, yang mulai menanamkan paham-paham ultra-nasionalis dan anti-Semit.

Dan kecuali ibunya, semua orang di sekitarnya memberikan pesan yang sama. Bahwa Yahudi memang pantas untuk disakiti, karena mereka, “Dangerous, vermin and evil”, dibahasakan oleh kakak perempuan Bruno.

Bahwa bangsa Yahudi, “They are not people. They are less than people”, kata ayahnya.

Bahkan di satu sesi belajar, saat Bruno bertanya pada Herr Liszt setelah beberapa kali menemui Shmuel tanpa sepengetahuan siapapun, “There is such thing as a nice Jew, though, isn't there?”. Jawaban tutornya membuatnya makin bingung, “I think, Bruno, if you ever found a nice Jew, you would be the best explorer in the world”.

--

The world is a wonder in every children’s eyes. Dan ‘eyes’ disini bukan cuma berarti mata, tapi setiap indrawi dan rasa mereka.

Menonton film ini, saya jadi bertanya: dunia macam apa yang akan mereka punya di benak mereka saat ada banyak orang dewasa yang menanamkan begitu banyak kebencian terhadap manusia lainnya?.

Saya jadi terpikir apa yang terjadi belakangan ini. Not just in the past month, tapi sejak 2 – 3 tahun yang lalu.

Saling cerca. Saling maki. Saling merasa benar. Dan…semua belajar jadi Tuhan dan menganggap punya hak menghakimi yang lainnya semata karena merasa benar. Mungkin juga, termasuk saya.

Oh kita bisa saja bilang, “Anak gue kan nggak baca semua itu”. Atau, “Itu kan cuma kalau sama temen, tapi kan sama anak nggak”.

Really?. Saat kita para orang tua selalu mengeluh betapa sering anak mengakses gadget?. With or without us, mereka bisa mengakses informasi dari mana saja sekarang.

Atau bahkan, apakah kita tahu apa yang mereka dapatkan di sekolah atau lingkungan lainnya?. Baik itu dari teman, dari petugas di kantin, bahkan, dari guru?.

Minggu lalu Lila cerita kalau dia dilarang gurunya main dengan anak laki. Saya tanya dia, kenapa?. Dia bilang dia nggak tahu. Saya bilang dia lain kali kalau dilarang, tanya kenapa nggak boleh. Karena dalam logika saya kenapa nggak boleh main dengan anak laki?. In her age, it is very important to play with everyone supaya dia tahu apa bedanya dan juga apa persamaannya jadi perempuan dibanding jadi laki-laki.

Ini cuma contoh. Larangan yang mungkin buat orang tua lain sepele dan hal kecil. Tapi tidak buat saya. Kelihatannya kecil tapi kalau nggak diusut alasannya dan anak paham kenapa, buat saya itu tidak sepele.

Kalau mengaitkan itu dengan kejadian akhir-akhir ini, bisa saja kita berkelit bahwa yang terjadi terutama saat ini di negeri ini, tidak sebanding dengan sebuah tragedi kemanusiaan macam the holocaust itu. Kecil, kok, nggak masif. But get this: semua yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Ya kan?. Lha kita semua ini kan asalnya juga kecil banget, dari sel sperma dan sel telur yang bertemu. Can you get smaller than a cell?.

Tapi entah apakah ada yang sadar bahwa yang kecil jika dipelihara lama-lama akan tumbuh. Dan jujur saja saya ngeri mengamati yang terjadi sekarang.

Sadarkah kita apa yang sedang kita pelihara?. Paling tidak dalam diri kita sendiri. Menanamkan kebencian pada kaum lain. OK mungkin kebencian terlalu kasar, ketidaksukaan deh. Apakah itu satu saat tidak akan terlontar keluar saat kita ngobrol dengan anak?, atau kelihatan dari perilaku kita?. Dan amat naif kalau kita masih berpikir anak kita terlindung dari yang demikian.

Saat anak terhadapkan pada informasi yang bernada kebencian, eh ketidaksukaan, apapun bentuknya. Dan sejumlah orang dewasa dengan congkaknya berteriak-teriak di sekitar mereka. Belagak jadi Tuhan. What kind of a world are they going to craft in their mind?. Apa yang akan mereka pikirkan tentang manusia lainnya?. Kita sedang membuat generasi yang seperti apa, sih?.

Sering saya membatin, does the world need that much hatred?, do we?. Amat mudah mengajarkan kebencian, teman, tapi sulit untuk mengajarkan kelembutan dan empati sehingga kita bisa jadi manusia yang MANUSIAWI pada manusia lainnya. Nah, pusing gak lo?.

--

Tragedi selalu punya 1001 sisi untuk dibahas. Dia juga punya 1001 sisi untuk bikin kita belajar tentang apa maknanya jadi manusia.

Beberapa orang mungkin menyebut karya-karya yang didasarkan pada berbagai tragedi kemanusiaan sebagai sesuatu yang disturbing, dark. Saya melihatnya sebagai jendela buat melihat ke dalam diri kita masing-masing dan bertanya: am I prepared to become a better human being by admitting that those dark forces lie within us and we have to keep on fighting them so the world can be a better place for all.

Maukah kita mengakuinya?. Dan, mampukah kita menahan diri dari godaan yang bisa membuat semua dark forces itu keluar dari jiwa dan menjadikan kita monster?. Demi sebuah dunia yang lebih baik buat anak dan cucu kita.

Oh ada juga bagian dari film itu yang bikin saya merasa dicubit. Saat nenek Bruno meninggal, dan mereka berdoa di pemakaman, saya jadi mikir. How do you face God when you have consciously hate other people?. Saat kita yang ada di liang kubur, gimana kita akan mempertanggung jawabkan sentimen kita terhadap manusia lain kelak pada Si Pencipta?. Sang Maha yang telah meletakkan kita di bumi sebagai sejumlah manusia yang berbeda-beda. What will we tell God about how we have behaved to one another?. 

Silahkan bertanya pada diri masing-masing.

Selamat berhari Minggu. Maaf, kadang-kadang memang saya semuak ini pada lunturnya kemanusiaan. Dan kadang-kadang saya semenyebalkan ini bikin tulisan yang mengganggu pikiran, bahkan di hari Minggu.

(R I R I)



Sunday, February 12, 2017

Mempertahankan cinta



Baru hari ini saya sempat nonton La La Land yang sudah dibahas kanan kiri. Komentar yang saya baca, kayaknya banyak sekali seputar baper gara-gara kedua tokoh film ini memilih untuk berpisah demi mengejar impian masing-masing.

Tara bahkan cerita ada temennya yang nangis nonton ini gara-gara, “Sedih banget filmnya katanya”.

Tapi mungkin pada dasarnya saya memang suka cerita tragedi, makin banyak yang baper saya malah makin penasaran apa sih ceritanya. Dan, saya suka musikal. Buat saya segala garapan musikal patut ditonton karena ini sesuatu yang tidak linier. Ada olah suara, olah tubuh, dan segala olah lainnya yang kalau mau dipikir gimana bikinnya kok ya super njelimet. Bikin film biasa aja udah njelimet, apalagi film musikal.

Dan, betul, saya terpukau.

--

Yang main jelas lah keren. Literally cantik dan ganteng (Ryan Gosling gitu loh…hadeuh…plus main piano….hadeuh…). Mainnya juga bagus banget. Alur cerita yang mengalir halus banget – nggak ada sepenggalanpun film itu yang bikin saya pengen ngalihin mata ke tempat lain. Menyihir, mengikat, bikin betah.

Cerita tentang cinta yang harus patah tengah jalan karena persimpangan mimpi. Buat saya itu nggak bikin baper sih. Malah rasanya itu realistis sekali: when you think your feet can take you somewhere much further if your heart is not tied to someone or something, then might as well free yourself up so you can move faster. Nggak mudah memang. Tapi yah siapa sih yang pernah menjanjikan hidup bakal mudah?. Apalagi kalau sudah berurusan dengan hati.

Saya malah terkesan dengan cerita tentang cinta Sebastian pada jazz. Jazz yang murni, seperti akarnya di New Orleans dulu saat karena kendala bahasa orang nggak bisa ngobrol tapi malah menemukan musik untuk menyatukan mereka. Jazz yang berubah setiap saat dimainkan, penuh improvisasi, setiap pemain punya hak tampil dengan caranya dan alatnya sendiri.

Betapa keukeuhnya dia harus punya jazz club di sebuah klub samba-tapas, sampai rela tiap pagi nongkrong minum kopi di depan tempat itu, ngebayangin one day it may become his. Dan kalau dia bisa bikin klub itu, dia juga keukeuh bahwa hanya jazz yang murni yang akan dimainkan disitu.

Dia tahu jazz seperti yang dia cintai itu makin lama makin pudar cahayanya, terancam punah. Tapi justru karena itu dia yakin dia harus mempertahankannya dengan caranya sendiri.

Tapi memang, dia kere. Main dari satu klub ke klub lainnya, yang dia yakini punya pakem yang sama dengan dia, nggak bikin dia makin dekat dengan mimpinya. 

Lalu dia ketemu Keith, teman lama yang ngajak dia main dalam jazz band yang dibentuk Keith. Awalnya dia menolak. Tapi karena dia pikir Mia, pacarnya, ingin dia lebih sukses, akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan Keith demi mendapatkan uang.

Dan disini saya suka banget dengan konfliknya.

Saya suka dengan perbincangan Keith dan Sebastian di latihan pertama mereka, “You are better than any players here but you are a pain in the ass”. 

Keith yang memasukkan unsur electronic dance ke dalam aransemennya, yang buat Sebastian adalah dosa besar untuk pakem jazz yang dia cintai. Sementara dari kacamata Keith, jazz tidak akan selamat kalau tidak berevolusi, jika tidak bisa menarik minat anak muda. Jazz di klub yang dicintai Sebastian cuma didatangi orang tua. 

“You want to be revolutionary, but you stay traditional”.  Itu, menurut saya keren banget. Dan, bener banget terutama buat jaman sekarang.

Coba saja lihat sekitar kita. Banyak hal yang kalau kita menolak buat berevolusi seiring jaman, pasti akan punah. Batik, contohnya. Ada masanya batik dianggap sakral tapi juga dianggap cuma cocok untuk orang tua.

Lalu, batik pelan-pelan beradaptasi. Model baju batik mulai beragam. Lalu dibuat tas beraneka bentuk dan cara aplikasi. Dibuat jadi aksesoris yang lucu. Bahkan di alat rumah tangga. Tiba-tiba semua orang jadi cinta batik. Padahal bisa jadi sebelumnya mau pakaipun tidak, kecuali mungkin sebagai daster atau baju kondangan.

Persis seperti yang dikatakan Keith. Mau revolusioner, mau mengubah atau mempertahankan sesuatu, tapi mikirnya tetap harus tradisional ya ruwet.

--

Kita boleh saja cinta pada sesuatu – apapun itu dari profesi sampai hobi, tapi lalu bukan berarti kita harus keukeuh dengan bentuk ‘dasar’ sesuatu itu. Mempertahankan cinta terhadap apapun itu seringkali tidak salah, tapi cara mengekspresikannya agar tetap relevan dengan jaman yang mungkin perlu ditelaah. Jangan-jangan memang perlu ada sedikit (atau banyak, tergantung apa yang kita pertahankan), adaptasi agar dia jadi bisa diterima dalam konteks masa kini. Apalagi kalau ada urusannya dengan cari penghasilan dari situ.

Tapi ya itu juga harus dikembalikan ke diri kita masing-masing. Yang kita cari apa?. Kalau mau dapat hasil yang lebih baik (alias hepeng lebih lancar), menurut saya evolusi itu penting sekali. Kalau hanya cari kepuasan emosional, uang sedikit ya nggak apa-apa tapi ada kepuasan dengan mempertahankan yang tradisional itu, ya monggo. 

Semua ada konsekuensinya, dan tentunya butuh pemikiran yang berbeda.

--

Dan, gara-gara cerita cinta Seb pada jazz ini, sementara orang lain baper karena Mia dan Sebastian putus, saya malah baper karena lalu terpikir gimana supaya profesi yang saya cintai bisa berevolusi. Dan gimana saya bisa berevolusi sebagai pribadi supaya tetap relevan di dunia yang terus berubah.

Mari menyambut hari Senin. 

Yang satu realistis, satu idealis. Mau jadi yang mana? - tergantung mau mencapai apa kita. Tapi jangan-jangan, selalu ada jalan tengah.



(R I R I)

Saturday, February 4, 2017

Cuma kita yang tahu


Kemarin malam, kakak saya tahu-tahu nanya, “Emang kalo udah seumur kita gini harus ya reuni?”. 

Saya cuma nyengir, nggak tahu harus jawab gimana pertanyaan itu.  

Tadi pagi, seperti biasa saya jogging sendirian. Saat favorit saya di ujung minggu, dimana saya sibuk dengan pikiran saya sendiri. Dan entah kenapa, tahu-tahu tadi saya ingin jogging ditemani Keane, salah satu band Inggris favorit saya. 

Dari sekian banyak lagu Keane, salah satu yang bermakna sekali buat saya adalah lagu Somewhere Only We Know.  

Tadinya, saat pertama saya dengar lagu ini, dia seperti menyuarakan isi hati saya terutama di saat-saat dimana saya butuh sendiri. Sebuah lagu yang paham bahwa kadang ada saja masanya saya ingin melarikan diri ke sebuah tempat yang cuma saya yang tahu dimana, dan kenapa saya harus kesana. 

Melarikan diri bukan karena saya nggak hepi dengan keadaan, tapi karena saya memang kadang-kadang butuh waktu untuk sendiri dan menata pikiran dan hati supaya bisa berlari lagi.  

Tadi, lagu ini nongol dari playlist Keane. Dan karena sedang jogging, saya jadi fokus dengerin liriknya.

"Somewhere Only We Know"
I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my feet
Sat by the river and it made me complete

Oh simple thing where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin

I came across a fallen tree
I felt the branches of it looking at me
Is this the place we used to love?
Is this the place that I've been dreaming of?

Oh simple thing where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin

And if you have a minute why don't we go
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything
So why don't we go
Somewhere only we know?



Mendengarkan lirik lagu ini lagi, tiba-tiba, saya tahu jawaban untuk pertanyaan kakak saya kemarin.

Ketemu teman lama itu sebagian besarnya adalah mengingat kembali banyak hal yang cuma kita yang tahu. Ada banyak cerita yang kalau kita ceritakan pada orang lain, mungkin bukan cuma dia nggak ngerti, tapi juga bingung ngapain hal kayak gitu kok dikerjain.

Dan kadang seiring dengan berjalannya waktu, dan usia, adakalanya butuh untuk kembali ke masa dimana hidup lebih simpel, lebih sederhana. Nggak banyak intrik, nggak banyak pertanyaan. Yang ada cuma setumpuk tugas, sukur-sukur bisa lulus dengan nilai yang nggak bikin malu diri sendiri dan orang tua, dan dapet kerjaan yang sukur-sukur bisa bikin kita nggak minta uang lagi ke orang tua.

Atau saat hidup cuma berkutat sekitar main sepeda sampai sore dan bau keringet, pulang, mandi, nonton sebentar, belajar kalau nggak males, lalu tidur.

Atau saat bekerja adalah juga nongkrong di pantry kantor sambil ngebanyol dan ketawa sampai sakit perut, melepas penat gara-gara deadline yang selalu jadi musuh bersama tapi juga kawan yang harus diakrabi karena memenuhinya memungkinkan kita terima gaji setiap bulan. Hmmm….yang ini mungkin kedengarannya bukan sesuatu yang sederhana, tapi tetap saja, cara kita mengakrabi hal sehari-hari ini kadang cuma kita yang tahu.

Apakah lalu kebutuhan untuk kembali ke semua itu baru muncul saat umur sudah kepala 4?, ya mungkin karena di umur inilah kita mulai mikir kalau orang yang paling ngerti apa yang sudah kita alami, ya orang-orang yang dulu pernah mengalaminya juga.

Atau mungkin seperti kata Keane: This could be the end of everything, so why don't we go, somewhere only we know?. Bahwa kita nggak tahu berapa lama lagi waktu yang kita punya, jadi kenapa kita nggak kunjungi lagi ‘tempat’ yang cuma kita yang tahu, sebelum segalanya berakhir. 

Somewhere, or something, that only we know, because we have shared it together. It may be a place, it may be a story. Whatever it is, it has made our lives sweet and memorable. 


(R I R I)