Saturday, January 30, 2016

Kejutan



Tahun lalu, saya pernah cerita kalau tahu-tahu saya menemukan benjolan di payudara kiri saya, dan setelah dicek kelihatannya tidak berbahaya. Dokter waktu itu menyarankan saya cek 3 bulan lagi, karena yang ‘kelihatannya tidak berbahaya’ itu bisa saja tahu-tahu melucu dan jadi berbahaya.

Beberapa minggu lalu, saya cek lagi. Dan, cerita yang sama berulang: hasil USG sepertinya tidak berbahaya. Tapi juga tidak bisa dipastikan karena letak si benjolan yang di daerah lemak sehingga hasilnyapun tidak terlalu jelas. Dokter Radiologi sempat bilang, “Kalau saya sih ya Bu, saya akan milih buang aja. Ini jelas tumor kalau dari bentuknya. Sepertinya benign. Tapi, karena tidak jelas begini, daripada beresiko ke depannya, lebih baik dibuang. Tapi ya nanti gimana diagnosa dokter onkologinya ya Bu. Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan”.

Dengan ketidakpastian itu, sekali lagi, saya ketemu dengan dokter onkologi. Jujur saja saya sebetulnya sudah cenderung untuk memutuskan dibuang saja. Karena ini sudah saya simpan setahun. Untungnya tidak makin besar walaupun juga tidak mengecil. Artinya dia diam-diam saja disitu. Tapi rasanya kok ya seperti menyimpan musuh dalam selimut kalau saya diamkan.

Anyway, dokter onkologi pun AKHIRNYA dengan tegas menyarankan supaya dibuang saja benjolan ini. “Mumpung ini baru 1 senti. Bisa aja kita biarin karena ini memang kelihatannya benign. Ibu jaga makan, jaga stres. Dan cek tiap tiga bulan. Tapi kalau kita tahu sejak dini itu bisa dibuang supaya tidak berkembang, ya kenapa harus dibiarin toh?”.

Dan dokter menjelaskan ini hanya operasi kecil, sehari sesudahnya saya boleh pulang. Dan saya pribadi, mengingat ini akan jadi kali ke-9 saya dioperasi (iya...rekor dalam keluarga memang, tiap kali saya harus masuk rumah sakit pasti gara-gara harus dioperasi...entah kenapa...), PD aja lah. Sounded easier daripada operasi yang sudah-sudah yang biasanya makan waktu 3 hari di rumah sakit.

So be it. Akhirnya hari operasi ditentukan. 27 Januari. Sepertinya ini kado ulang tahun yang terlambat dari hidup yang saya nggak tahu berapa panjang atau pendek ini...haha.

Tapi ada sesuatu yang mungkin saat dijelaskan, informasi itu saya simpan jauuuuuuhhhh di belakang kepala saya.

Dokter juga menjelaskan bahwa segera setelah benjolan dikeluarkan, akan dilakukan serangkaian tes patologi untuk cek apakah itu jinak atau ganas. Jika ganas, maka setelah operasi, akan ditentukan tindakan selanjutnya yang bisa saja berupa radiotherapy atau chemotherapy tergantung stadium keganasannya.

Saya dengar penjelasan itu. Jelas. Terang. Tapi entah gimana, saya nggak simpan di kepala. Atau mungkin juga entah gimana, ada sesuatu dalam hati dan kepala saya yang bilang, “You’ll be just fine. This will be over soon. Kan hasil-hasil tes lain udah jelas nunjukin nggak ada apa-apa”. Dengan itu, saya santai.

Tapi sepertinya saya terlalu santai.

--

Operasi jam 2 siang. Sekitar jam 5 saya kembali ke ruang rawat inap.

Saya bangun, Cip di sebelah saya. Saya heran lihat gimana Cip memandang saya lama sebelum cerita apa hasil operasinya. Ternyata ada 3 benjolan. Yang jelas tumor hanya 1. 2 lagi cuma lemak yang mengeras. Dokter juga menelusuri sampai ke kelenjar di ketiak untuk memastikan tidak ada jejak-jejak apapun disitu. Dan hasilnya clear. All clear. Hasil patologi juga memastikan tumornya jinak.

Cip ceritakan semua itu dengan runut dan tenang. Tapi saya tahu matanya. Saya kenal ada apa di mata itu. Hampir 15 tahun menikah dengan orang yang nggak banyak omong ini bikin saya cukup kenal dengan air muka dan isi matanya. Ada kelegaan luar biasa disitu. Sesuatu yang saya lihat pertama kali hampir 12 tahun yang lalu setelah saya selesai dioperasi cesar saat melahirkan Tara.

Bukan cuma kelegaan bahwa operasi sudah berakhir. Tapi bahwa saya baik-baik saja. Bahwa (insya Allah) cerita tidak akan ada sambungannya dan kami akan baik-baik saja. 

Disitu saya baru sadar. Eh buset, implikasi operasi ini kelihatannya saya anggap enteng banget. Saya pun lupa ada orang-orang terkasih yang justru lebih stres daripada saya nunggu hasilnya. Dan saya juga lupa bahwa tanpa mereka, nggak mungkin saya juga bisa sesantai itu menjalani operasi.

--

Hidup itu penuh dengan kejutan. Ada yang manis, ada yang sedikit kecut, ada yang kecut banget, ada yang super pahit.

Pulang dari rumah sakit, Cip bilang, “Kita beruntung. Kalau masih ada kelanjutan dari operasi ini, it’s a totally different ball game. Aku nggak tahu akan sekuat apa kita. Aku nggak tahu gimana harus ngadepinnya”. 

And that’s very true. Nggak ada yang pernah bisa memprediksi sekuat apa kita sebetulnya menghadapi peperangan. Peperangan melawan ketakutan dalam diri sendiri. Because at the end of the day it’s always a fight with yourself. Dan itu adalah kejutan yang paling nggak menyenangkan, menurut saya. Super pahit.

Alhamdulillah Tuhan juga berjanji bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu yang tidak akan sanggup kita pikul. So I guess, Tuhan sekali lagi menunjukkan kasih sayangnya dengan memberikan kejutan yang masih bisa kami hadapi bersama.

Entah apa lagi kejutan yang akan harus kami hadapi di depan. One thing for sure, selalu ada jaring-jaring kasih sayang yang menguatkan. Dari Tuhan, dan dari orang-orang terkasih sekeliling kita. I am forever grateful for their existence.. 


R I R I

(kejutan lain yang nggak penting adalah ‘operasi kecil’ ini meninggalkan 3 bekas jahitan, dan berhari-hari tidak bisa mandi di udara yang sumuk ini. OK sip. Rasanya saya juga belajar untuk menerima kejutan dari setiap operasi, sekecil apapun dia. Karena badan nggak bisa diatur :D)

Thursday, January 14, 2016

We're not scared....we're too tough to be scared...

17 Juli 2009. Bom di JW Marriott merobekkan Jakarta. Merobek Indonesia. Sekali lagi. Setelah sebelumnya tahun 2002 ada bom di Bali.

Saya ingat betul setelah peristiwa bom di Marriott itu saya menulis sebuah note pendek karena jengkel.

Waktu itu, harusnya, Manchester United datang ke Indonesia. Gara-gara bom, hilang sudah kesempatan Indonesia tertera, lagi, di peta dunia. Saya masih ingat perasaan saya waktu itu: sedih, marah. Padahal saya bukan penggemar sepak bola. Tapi yaelah...mau didatangi MU gitu looohhh...bangga dong. Tahu-tahu ada sekelompok orang tolol yang egois yang berpikir tindakan mereka bisa bikin nama mereka nampang di layar berita dan bisa lebih ngetop dibanding MU.

Dini hari di tanggal 18 Juli, Cip minta ijin untuk keluar rumah. Dia lalu nongkrong di Starbucks Thamrin. Lalu dia menulis ini  http://paragraflepas.blogspot.co.id/2009/07/0215-dinihari-starbuck-thamrin-dan-bom.html.

Hari ini, Jakarta dirobek lagi. Ironisnya, kali ini, bom meledak tepat di tempat dimana Cip menuliskan ‘kekagumannya’ pada daya tahan orang Jakarta, yang cuma dalam hitungan beberapa jam, life continued as usual di kafe yang jadi salah satu ikon kemajuan hidup (dan kemapanan, to some extent). Hidup memang penuh kejutan. 

--

Saat kejadian, saya kebetulan sedang berada tidak jauh sebetulnya dari gedung Sarinah. Saya sedang di sebuah kafe di Grand Indonesia. Lalu tiba-tiba, ada berita bertubi-tubi masuk dari berbagai WA group di hape saya.

Awalnya, saya tidak percaya. Lama-lama, membaca setiap berita yang masuk, tangan saya makin dingin. Jantung saya berdebar. Saya ingin menangis kuat-kuat (dan akhirnya saya menulis ini sambil meneteskan berbutir-butir air mata).

Saya tidak takut. Saya sedih. Saya marah. Marah bukan main. Another bomb?, and you think you can cripple us with fear?. Oh Mr. and Ms. (bukan tidak mungkin kan ada perempuan yang terlibat?) Terrorist, think again.

Betul bahwa saya kesal membayangkan apa pula efeknya bom ini pada keadaan ekonomi. Tahun lalu saja bisnis sudah gonjang ganjing. Baru mau mulai optimis, tahu-tahu ada lagi kelompok orang tolol yang pengen ngetop. Yang entah karena ideologi tolol apa mereka pikir tindakan mereka adalah tindakan yang mulia. Bahwa membunuh sekelompok orang yang tidak berdosa itu wajar saja demi mencapai ideologi tolol mereka. 

Terlepas dari kekesalan itu, saya merasakan marah luar biasa pada sekelompok pengecut yang harus mengandalkan diri pada bom dan timah panas untuk menghasilkan rasa takut. Cara paling mudah, memang. Tapi rasanya, itu sebuah bukti bahwa kita memang tidak bisa underestimate kebodohan manusia-manusia tertentu.

Mereka pasti nggak belajar sejarah dengan benar. Sehingga lupa bahwa ini adalah negara yang harus mendapatkan kemerdekaannya melalui bertahun-tahun perjuangan. Entah sudah berapa bom dan timah panas yang harus dihadapi nenek moyang, bahkan kakek dan nenek kita (sampai generasi saya harusnya nenek dan kakeknya masih ikut berjuang dulu). 

Lupa kalau kita pernah survive dengan sangat baik di krisis hebat tahun 1998. Tahun lalu walaupun megap-megap tapi kita juga survive. 

Lupa juga kalau ini adalah negara yang penuh dengan manusia yang cerdas, dan humoris. Yang dengan cepat menghasilkan meme-meme lucu yang bikin orang ketawa walaupun degdegan belum hilang. 




Mungkin ada yang bilang jangan bercanda tentang keadaan seperti ini. Tapi jujur saja, menurut saya, ITU YANG SELALU DAN SELALU DAN LAGI DAN LAGI MENYELAMATKAN INDONESIA!. Potong kuping gue kalo nggak. 

Bayangkan aja kalau orang Indonesia ini pemurung, fatalistis. Matek. Mungkin sembuhnya lama banget dari kejadian-kejadian seperti ini. Tapi nggak, kita memilih untuk tetap ketawa, walaupun tanpa melupakan bahwa ada PR besar di depan nih gara-gara kejadian ini. Tapi sebagian besar dari kita tetap memilih untuk tertawa dan melangkah, secepat itu, dalam hitungan jam. 

--

Saya selalu yakin, good humour, friendship, compassion, yang ada dalam jiwa orang Indonesia, will prevail. Dan akan selalu menyelamatkan kita dari keadaan sekelam apapun. We've proven that, again and again!. 

Itu yang dilihat Cip tanggal 18 Juli 2009 jam 2.15 dini hari, hanya beberapa jam setelah pemboman Marriott. Sebuah kafe yang tetap terisi pengunjung, walaupun para pelayannya bilang turun drastis dibanding biasanya. Tapi tetap, ada yang milih duduk-duduk di kafe dan menikmati dini hari!. Persetan dengan bom dan teroris.

Sekarang ini saya ingin sekali bilang di muka para teroris itu: FUCK YOU!, you don’t scare us!. Kita sudah teruji!. 




#IndonesiaKuat #Indonesiatidaktakut 

(R I R I)

Thursday, October 29, 2015

Bikin Anakmu Bangga



Seumur hidup, saya nggak pernah punya target dalam kerjaan. Beneran. Ajaran orang tua saya cuma: cari kerjaan yang kamu suka jadi kamu nggak menderita walaupun harus lembur, jujur, dan kerja sebaik kamu bisa jangan mikir dulu hasilnya gimana. Kalau rejeki kamu ada disitu, you’ll get what you deserve. 

Jadi, seperti kebanyakan hal dalam hidup saya, saya jalani pekerjaan saya seperti air yang mengalir. Yang saya perjuangkan waktu lulus kuliah terutama pesan orang tua yang pertama: cari yang kamu suka. Alhamdulillah, jalan itu terbuka. Alhasil, sampai sekarang saya tetap di bidang yang sama yang saya tahu saya bakal betah kerja disitu. 

Tapi 11 tahun yang lalu, saya sempat goyah. 

--

Saya mencintai pekerjaan saya sebagai consumer and market researcher. Saya seneng kepo-in konsumen. Saya seneng kerja bareng klien mengupas masalah pemasaran yang mereka hadapi. Dan 11 tahun lalu, saya juga menikmati tempat kerja saya. Dan saya seneng banget kerja sama bos saya – saya belajar banyak dari dia. Menurut saya, kami adalah tim yang kuat. Sampai tahu-tahu, bos saya ini memutuskan untuk berhenti. Dan, mengajukan nama saya sebagai penggantinya pada para petinggi di Singapura sana. 

Saya cuma bisa melongo waktu dia menyampaikan hal itu pada saya dengan muka lempengnya. 

Saya masih ingat kejadiannya. Waktu itu saya masih cuti melahirkan. Gendut. Bau susu. Berdaster. Bos saya menjenguk ke rumah. Kami duduk di teras rumah saya. Dan jeng jeeeng...tahu-tahu seperti dikasih bom. Rasanya, saat itu dunia saya gonjang ganjing. Gempa setempat.

Saya hampir berteriak pada dia waktu bilang, “Loe gila apa?, gue bisa apa?, gue nggak mungkin gantiin elooo. Kalo loe resign, gue resign!”. Eh dia malah ketawa. “Bisa lah. Loe kan udah di tim ini dari sejak awal, loe tahu semuanya dari A sampai Z”. Waktu itu pengen saya cakar dia... 

Malam itu, saya cerita pada Cip. Saya cerita kekhawatiran saya. 

Katakanlah para petinggi itu cukup nggak waras untuk percaya pada saya untuk duduk di posisi kunci itu, emang saya bisa?. Plus, saya baru melahirkan. Kami menunggu 2 tahun untuk punya Tara. 2 tahun yang panjang, dengan 6 bulan yang menyebalkan untuk segala terapi dokter, sebelum akhirnya saya ngambek dan malah tahu-tahu hamil. 

Terus, apa jadinya kalau saya di posisi itu. 

Bayangan saya, jadi GM lalu MD, kan nggak gampang. Ngurusin orang. Ngurusin angka ngejar target jualan (OMG...this I was really frightened of). Belum lagi tarik ulur dengan regional, global dan tetek bengek lainnya. Benang kusut. Itu yang ada di kepala saya. 

Nah terus gimana dengan ngurusin anak dong?. Belum apa-apa saya sudah merasa bersalah pada Tara. Gimana benerannya. Saya takut sekali pikiran saya tersita oleh pekerjaan benang kusut itu. Gimana Tara... Lha kerjaan yang saya sudah pegang saja pasti sudah menyita waktu. Gimana kalau harus ngerjain lebih dari itu... 

Saya ceritakan semuanya pada Cip. Saya tanya, “Aku harus gimana. Aku pengen keluar aja”. 

Cip, dengerin semuanya dengan gayanya yang biasa: muka lempeng tanpa ekspresi. Selesai saya cerita (yang padahal udah siap mau nangis karena bingung banget), dia nanya, “Apa yang kamu takutin sih. Kan kamu nggak sendirian Ri. Ngurusin Tara juga nggak sendirian, ada aku. Di kantor kamu punya tim".

Saya diam. Namanya takut ya takut aja keleeeuuusss...biar kata rame-rame juga.

Tapi ‘wejangan’ Cip berikutnya yang bikin saya berpikir ulang. 

Intinya: you have a daughter, make her proud to be your daughter and TO BE A WOMAN. Show her that a woman can be on top even when she’s married and just had a baby. Show her what a woman is made of. Show her that a woman has strength. Ambil pekerjaan itu demi supaya anakmu bisa bilang satu hari nanti: bundaku bisa lho, jadi aku juga harus bisa. Bikin dia bangga – akan dirinya, dan akan bundanya. Dan: ajari dia untuk jadi perempuan yang kuat, seperti bunda.

Dan dia juga bilang betapa jadi perempuan di dunia itu nggak mudah. Apalagi jadi perempuan bekerja, dan seorang ibu. Kalau bukan bundanya sendiri yang nunjukin kalau perempuan bisa jadi apa saja yang dia mau asal usaha sekuat dia bisa, siapa lagi. 

That shut me up. Completely. Dan membuat saya melongo. And a decision was made.

Sebulan kemudian saya terbang ke Singapura menghadapi panel para petinggi. Dan ternyata mereka memang cukup nggak waras untuk percaya pada saya.

And 11 years from then, here I am. 

--

Beberapa hari lalu Tara ribut tentang tugas Bahasa Inggrisnya: harus bikin monolog tentang an extraordinary person. Saya ikut bantu cari. Menyarankan sejumlah nama, yang semuanya perempuan (saya memang minta dia supaya cerita tentang tokoh perempuan). Tapi rupanya dia belum juga menentukan pilihannya.

Sampai lalu suatu malam, “Bunda, aku mau bunda aja deh yang aku jadiin monolog”. 

Saya kaget. “Haah?, tapi kak, aku kan nggak extraordinary. Achievement ku kan cuma punya anak dua yang manis-manis aja”.

Kata-kata Tara berikutnya bikin saya hampir menangis, “Ah bunda, jangan nyela diri sendiri gitu dong. Bikin company itu kan achievement”. 

Penutup Tara di script-nya tentang saya, yang akhirnya betul-betul bikin saya menangis:

My mom is special because she works very hard, but she always has time for me and my sister. She always supports me. She is the best mom I can ever have.
--

Apakah dia sudah bangga pada Ibunya? – saya nggak nanya, dan itu nggak penting...yang penting dia tahu saya tidak pernah jauh dari dia. That’s what matters now.

Dan yang akan bikin anak akan bangga pada orang tuanya jangan-jangan memang bukan pencapaian kita. Tapi, seberapa banyak di tengah hiruk pikuknya kehidupan, kita tetap ada di sisi mereka - mendengarkan, menemani, mendukung. Presence, is still the greatest gift we can ever give to our children. 

--

Beberapa hari setelahnya, Cip, “Kan aku yang saranin dia supaya bikinnya tentang bundanya aja”. Ah...

Betul, kita memang harus bertanya: sudahkah kita bikin anak kita bangga pada kita?... Karena anak selalu punya keinginan ingin bikin orang tuanya bangga... But, have we done the same?


(R I R I)

Tuesday, October 27, 2015

Menggawangi Anak



Hari Minggu lalu, sebagai bagian dari kerjaan, saya ngintilin seorang konsumen dari pagi sampai sore. Usianya 23 tahun, cowok. Baru kerja hampir 2 tahun. 

Kami mulai ngobrol di rumahnya. Dalam panjang lebar ngobrol, saya sempat tanya apakah dia merokok. Dia jawab nggak. 

Dari rumahnya kami ke kafe karena dia bakal hangout dengan teman-temannya. Sampai disana, dia bilang, “Diluar aja ya mbak, biar bisa ngerokok”. Lah. Kagetlah saya. Saya bilang, “Tadi loe bilang loe nggak ngerokok”. Dia sambil ketawa, “Ya kalau di rumah harus keliatan baek lah mbak. Gue benernya nggak boleh ngerokok ama nyokap karena asma. Tapi yaaa...kalau udah diluar rumah badung nggak apa-apalah”. 

Lalu dia cerita juga tentang gimana dia memperlakukan adiknya yang juga laki-laki, “Gue bilang ama adek gue juga gitu, loe silahkan badung tapi jangan bawa ke rumah. Loe mau ngebo’at, silahkan asal jangan jadi junkie. Mau mabok sana asal pulang ke rumah loe udah waras. Mau tidur ama cewek mana juga terserah asal pulang jangan bawa piala yang bisa ngomong, gue hajar loe kalo sampe kejadian”. 

Wah. Menarik tuh prinsip: it’s OK to be bad outside, but when you’re at home, be good.

Saya nggak tahu sih apakah banyak anak muda yang mikirnya kayak gitu. Dulu waktu saya masih mudaan dikit (which baru yaaahhh 5 – 6 tahun lalu...cekakaaaakkkk...), rasanya sih ada sisi itu pada saya. 

Saya yang memang relatif lebih jahil dan nekat dibanding kakak saya yang manis itu, memang rasanya selalu punya strategi supaya orang tua saya nggak tahu betapa sintingnya saya, kadang-kadang. Cuma ya saya nggak pernah ‘mendefinisikannya’ sejernih dan sejelas si cowok itu. 

Lalu ada lagi cerita dari dia, bahwa saking dia bandelnya waktu SMA, orang tuanya melarang dia untuk sekolah ke luar kota. Sementara adiknya, sekarang kuliah di Malang. 

Sebelumnya, beberapa hari sebelum kerjaan ini, saya juga ngobrol dengan teman saya yang lain yang juga punya 2 anak. Dia cerita tentang anak keduanya yang menurut dia lebih nekat, suka bikin aturan sendiri, selalu ngeles kalau dibilangin. Dengerin cerita dia, saya membatin, “Lah kok kayak gue dan si Lila ya...” (Lila itu anak saya yang kedua, yang lebih sering bikin saya speechless padahal baru 4 tahun).  

Teman saya ini juga bilang bahwa dia kayaknya nggak akan ngelepas anak keduanya ini sekolah ke luar kota karena nggak kebayang nanti gimana kelakuannya kalau jauh dari orang tua yang bisa memonitor. 

Wah, kok mirip ya: kalo badung, jangan dilepas dari rumah. 

Saya lalu jadi inget waktu lulus SMA, milih sekolah untuk kuliah. Jaman itu harus ikut Sipenmaru. Saya ikut yang IPC – yang boleh pilih program IPS dan IPA. Urutan sekolah yang saya pilih waktu itu: FKUI (gaya banget...padahal sih tahu pasti nggak tembus), FK-Unpad, dan terakhir, FPsikologi-UI. 

Saya masih inget banget tuh komentar kakak saya, “Jangan sampe loe keterima di Unpad...jadi apa loe kalo sendirian di Bandung. Pasti bengalnya makin jadi”. Dan saya juga inget ibu saya waktu itu cuma ketawa tapi matanya mengamini kata-kata kakak saya. Saya cuma bisa merengut (karena jujur saat itu saya pengen banget keluar rumah – pengen tahu apa rasanya hidup sendiri, emang gue bisa survive kalo gak ada nyokap bokap deket gue?...gitu).

Dan tampaknya mestakung (baca: semesta mendukung) kakak dan ibu saya, saya diterima di UI. Saya keluarin jurus lain: minta boleh ngekos di Depok. 

Wuidih. Belum juga lengkap alasan saya minta boleh ngekos, ibu saya udah duluan membombardir dengan macam-macam alasan untuk bilang, “Nggak usah”. Kakak saya nambahin. Bapak saya, seperti biasa, cuma diam (he was always my ally...saya tahu tuh beliau mau aja mengiyakan, tapi emang enak dicerewetin dua perempuan lainnya?...hihi...kasian deh).  

Dan alhasil, saya ngendon di rumah sampai kuliah kelar. Sampai akhirnya sekian tahun setelah itu saya ambil S2 dan AKHIRNYAAA, I was free to try to live on my own. 

Apakah waktu itu saya badung? – hahahaa...yaiya laaahh...rugi udah tinggal sekian mil jauhnya terus saya nggak badung. Tapi toh saya baik-baik saja. Kuliah kelar dengan nilai yang tidak memalukan dan tepat waktu. That was my proof bahwa saya bisa kok dipercaya tinggal sendirian. 

--

Cerita-cerita tadi itu bikin saya mikir: sejauh mana ya harusnya sebagai orang tua kita ‘menggawangi’ anak?. Ngejaga mereka in the name of their own safety and future?.

Saya juga cerita ke Cip soal ini. Komentar dia menarik juga, “Lho kalau nggak dibiarin anak lepas dari kita, gimana mereka mau belajar untuk ngontrol dirinya dong. Dia bandel harusnya nggak jadi alasan untuk ngebiarin anak belajar kan?”. 

Saya juga inget dulu dia pernah bilang kalau orang tua ragu melepas anaknya untuk melakukan sesuatu, itu artinya si ortu juga ragu dong sama dirinya sendiri. Ragu bahwa apa yang mereka sudah ajarkan itu tertanam di benak anak, ragu apakah AJARAN MEREKA sebagai orang tua bisa dipercaya untuk anak bisa menjaga dirinya sendiri. Eh makjleb. Bener juga ya (sambil garuk kepala yang tak gatal).

Naaahhh saya belum tahu nih jawabnya apa, apa tindakan yang paling benar. Anak saya belum sampai di tahap dimana mereka bakal memberontak. Saya masih punya 2 – 3 tahun lagi mungkin untuk ngadepin ‘tsunami emosi’ dan pertengkaran-pertengkaran klasik antara remaja dan ortunya.
Dan nggak tahu juga apa nanti anak-anak akan mengadopsi prinsip it’s OK to be bad outside but be good at home. Dan apakah saya akan cukup canggih untuk ‘membaui’ kelakuan mereka. Let’s see...let’s see...saya masih harus mengasah insting :)


(R I R I)

Friday, October 16, 2015

Terdampar, dan Tertampar



Ini malam terakhir kami di Istanbul. Sudah seminggu kami kelayapan di kota ini, dan beberapa tempat diluar kota. 

Ini perjalanan yang sempat kesandung, hampir saja batal karena beberapa alasan. Salah satunya: ibu kami khawatir melepas dua anak perempuannya kelayapan di negeri yang menurut beliau berbahaya. Rupanya, berita-berita ISIS, adanya WNI yang hilang entah diculik atau melenyapkan diri disini untuk bergabung dengan ISIS, dan ada cerita anak temannya yang sempat hilang beberapa hari, membuat beliau khawatir luar biasa. 

Iya. Umur kami memang sudah kepala 4. Saya sudah punya anak 2. Salah satunya hampir remaja. Tapi yaaa namanya mamak-mamak susah untuk tidak khawatir. Tapi saya nggak akan cerita tentang drama jadi mamak (yang saya rasakan siiih...adakalanya saya ingiiin waktu sesekali berhenti supaya anak-anak tidak cepat besar...hiks...). 

Anyway, seperti biasa kami percaya insya Allah akan baik-baik saja asal tetap eling lan waspada. Jadi sudah, berangkatlah kami. 

Begitu kami tiba, needless to say Istanbul was mind-boggling. Kota ini besaaaarrr. Penduduknya 14 juta jiwa. Straddling between Europe and Asia. Dengan gang-gang kecilnya. Dengan kepadatannya. Dengan ketidakteraturan tapi juga teratur – nah bingung kan?. To top it off: dengan keterbatasan bahasa. Kami nggak ngerti bahasa Turki, pastinya, mereka juga terbatas sekali bahasa Inggrisnya. 

Tapi...ada yang selalu menyelamatkan kami: kebaikan hati. 

Saat pusing di pinggir jalan nyari di Google Maps dimana letak sebuah gedung, tahu-tahu ada shopkeeper nyamperin (yang tadinya saya cuekin karena setelah beberapa hari disini, ada satu hal tentang pria Turki: selain ganteng, mereka doyaaan merayu...jadi mendingan usaha sendiri dulu sebelum nanya terus malah mereka ngerayu). Dia nanya, “What are you looking for?”, dengan bahasa Inggris yang sangat bagus (not to mention ganteng juga...hadeuh...salah fokus melulu deh pokoknya disini). Saya bilang lagi cari kantor pos. Dan dia nunjukin jalannya. Dan kami nggak dirayu supaya mampir di tokonya. 

Di saat lain, kami naik bis keluar kota. Tahu-tahu pak ‘kenek’ (kelewat keren sih dibilang kenek wong berseragam rapi kok yaaa...), lewat bawa nampan isi kue. Kami nggak ambil karena kami pikir harus bayar. Kakak saya tanya pada ibu di sebelah kami dan dia yang akhirnya jelasin kalau semua gratis: kue, air, Coke...you name it. Si ibu panggil si Kenek Keren (nggak yang ini nggak ganteng, tapi kan kasian dibilang kenek ngebayangin kayak yang di Jakarta...beda banget soale), supaya dia bawain lagi kuenya buat kami.

Ibu yang sama pula yang nolongin kami waktu tahu-tahu bis berhenti, lalu ada tentara bersenapan masuk. Panik dong. Ternyata pengecekan identitas. Makin panik, karena baru sadar paspor kami semua ada di hotel. Ibu itu yang nolong jelasin ke si tentara bahwa kami turis, dan ke kota ini hanya untuk berkunjung sehari lalu balik ke Istanbul di hari yang sama. Selameettt... (pake deg-degan setengah modar....pake senapan boookkk...serius benerrr). 

Di stasiun, saat kami sadar jumlah uang di Istanbul Card (ini kartu yang bisa dipakai untuk naik trem, kereta, dan ferry) sudah menipis, kami ke mesinnya untuk nambah kredit. Karena nggak ngerti gimana caranya, dan ya pastinya lah instruksinya dalam bahasa Turki dan nggak ada bahasa Inggrisnya, kami berdiri di belakang seorang bapak untuk observasi gimana caranya. Eh, tahu-tahu dia berbalik, ngomong dalam bahasanya, tapi intinya dia mau nolongin kami menambah kredit di kartu kami. 

Dia tunjuk uang yang saya pegang, dia ambil kartu dari tangan saya, dia masukkan uangnya dan voila – kartu sudah terisi. Dia nanya, apakah kami akan naik kereta (dengan bahasanya pula), kami nunjuk ke arah trem. Kami berpisah, setelah berjabat tangan dan saying a simple goodbye dan saya ber-thank you thank you berkali-kali.

--
Entah sudah berapa kali sebetulnya saya mengalami these random acts of goodness dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan. Tapi mengalaminya di negeri asing, yang bahasanya saya nggak ngerti sama sekali, rasanya seperti menemukan oasis di padang pasir (not that I’ve experienced that...tapi kalau baca cerita Tintin sih kebayang deh rasanya gimana). 

Saya tidak pernah percaya agama akan menyelamatkan dunia (dengan resiko saya dibenci beberapa pemeluk agama yang fanatik...yang mudah-mudahan nggak pernah tahu saya tinggal dimana). Tapi saya percaya bahwa kebaikanlah yang bisa melakukan itu. Selama masih ada orang baik di dunia, rasanya masih ada harapan.

Nah pertanyaannya nih yang jleb jleb jleb saat saya bertanya pada diri sendiri sambil ngelamun tadi di trem: kapan loe terakhir melakukan random acts of goodness to a total stranger?. Eeerrrrrrr.....kok lama sekali saya harus mikir ya. Yes, ketampar bolak balik. Yes, maluuuu....

Lha kalau baik sama teman, saudara, kenalan, itu mah biasa. Tapi berbuat baik pada orang yang kita nggak kenal? – itu doing goodness for goodness’s sake bukan?. Yang menurut saya kayaknya nilainya lebih tinggi karena nggak ada agenda selain ya berbuat baik aja gitu. 

--
Kita baru saja masuk tahun baru Hijriyah, dan sebentar lagi 2015 pun bakal berakhir. Mungkin, ini saatnya saya mencanangkan resolusi: do as many random acts of goodness as you possibly can to total strangers, supaya dunia terus berputar... (eh mampus, bikin resolusi kok di blog yang dibaca banyak orang ya...haha...jangan ngecek ya nanti gue udah kerjain atau belum!. Yang penting niaaaatttt). 

Dan saya akan cerita ke Ibu saya – bahwa Istanbul nggak membahayakan kok, karena masih ada orang baik disana sini.


(R I R I – menemukan kebaikan di Istanbul yang sensual ini, ternyata sama menyenangkannya dengan melihat banyaknya cowok ganteng disini #eh).