Monday, October 16, 2017

Mikir, yuk



Sebagai yang kerjanya berusaha memahami perilaku konsumen lewat metode penelitian kualitatif, saya seriiing pake banget ditanya ini, “Emang cukup ya sampelnya cuma segitu?”.

Atau pertanyaannya dibalik, “Sampelnya harus berapa ya supaya datanya valid?”.

Penelitian kualitatif memang nggak seperti partnernya, penelitian kuantitatif, yang keluarannya angka dan persentase sehingga relatif lebih mudah untuk dipahami dan membuat orang merasa ‘aman’ dengan hasilnya. Penelitian kualitatif nggak bersandar pada banyaknya sampel dan pengolahan statistik.

Dulu waktu pertama kali saya kerja di bidang ini, salah satu banyolan yang selalu diarahkan pada kami tim kualitatif adalah, “Ah anak kual kan kerjanya cuma ngobrol sama ngelamun, terus tahu-tahu keluar deh reportnya”.

To some extent mungkin bisa terlihat demikian.

Kerjaan kami menemui responden, lewat diskusi atau wawancara- yang kelihatannya emang cuma ngobrol aja. Lalu dengan metode pengolahan data yang namanya analisa isi (atau kerennya content analysis), kami bikin reportnya - yang bisa juga kelihatannya lagi ngelamun. Analisa isi ini sebetulnya adalah memahami konteks dan makna dari setiap narasi, atau sederhananya cerita tentang sebuah perilaku, yang kami dapat dari responden.

Sepertinya mudah, padahal, kalau tidak sensitif pada hal-hal yang tersirat, hasil penelitian kualitatif ini mudah sekali jadi cuma sekedar subjective judgment dari si penganalisa.

Demikian juga kalau tidak memahami konteks atau situasi dan bahkan juga faktor sosial budaya dan ekonomi yang melingkupi kehidupan responden yang diajak ngobrol. Analisa juga bisa ngelantur entah kemana.

Untuk menghindari hal-hal seperti itulah maka dalam setiap penelitian yang menggunakan metode kualitatif, ada beberapa pakem yang tetap harus dijaga supaya hasilnya baik.

Misalnya, tetap saja ada jumlah sampel minimal yang harus diambil. Walaupun hasil akhirnya adalah pemahaman narasi, tapi dasar bagaimana pemahaman itu dibentuk harus ajeg. Dan harus jelas ada benang merah atau keterkaitan antara narasi satu responden dengan responden lainnya. Benang merah itu yang dalam kualitatif, jadi pegangan peneliti bahwa data yang didapat, memang cukup dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi misalnya, untuk wawancara, minimum sampelnya adalah 3 untuk setiap target responden yang sama. Misalnya kalau mau tahu kenapa orang suka sekali beli KFC, ya minimal harus ada 3 konsumen yang dalam seminggu minimal beli KFC dua kali.

Kenapa harus 3? – karena kalau kita mewawancara 2 orang lalu menemukan perbedaan atau persamaan narasi, belum tentu bisa dipertanggungjawabkan bahwa memang kedua orang itu sama atau berbeda karena bisa saja itu adalah kebetulan. Adanya responden ke-3, akan bisa mendukung perbedaan atau persamaan itu dengan lebih baik karena ada pembanding.

Makin banyak responden tentunya makin baik. Tapi tidak seperti penelitian kuantitatif yang mencari keluasan data, kualitatif mencari kedalaman data buat menjelaskan sebuah gejala. Jadi yaaa memang ndak perlu banyak-banyak sampai ratusan sih respondennya. Asal, prinsip dasar adanya benang merah di paling sedikit 3 responden kalau wawancara, atau 2 kelompok kalau diskusi kelompok, terjadi.

Terus kenapa tahu-tahu saya ngomongin ini?.

Tergelitik dengan sebuah deskripsi perilaku orang tua yang secara rutin membawa anaknya ke salon sekali sebulan, yang lalu dianalisa panjang lebar oleh seorang psikolog senior, yang cukup bikin saya bengong.

Sebetulnya sih bukan masalah perilaku apa yang beliau bahas. Sah-sah saja kok kalau mau beropini tentang sesuatu. Tapi yang membuat saya jadi mengerenyitkan kening (padahal kening ini sudah tidak butuh kerutan tambahan), adalah bagaimana beliau membuat kesimpulan.

Berdasarkan pada wawancara singkatnya dengan petugas salon yang mengurus rambut 2 orang anak, beliau bisa menjabarkan sebuah perilaku dengan semua konsekuensinya. Ini bicara tentang pola asuh juga, lho.

Lalu keluarlah analisa (buat saya sih itu sesederhana pendapat pribadi ya, bukan analisa) bahwa membawa anak ke salon sama artinya dengan mengajarkan gaya hidup hura-hura padahal hidup tidak selalu indah dan berduit. Ke salon dan membuat si anak mematut diri di depan cermin salon adalah mengajarkan pemujaan terhadap kecantikan fisik padahal di usia tersebut (6 – 8 tahun kalau tidak salah), penting juga mengajarkan sisi kecantikan lain.

Itu sebagai hasil dari wawancara dengan petugas salon dan observasi singkat terhadap 2 orang anak. Tanpa ada orang tua satupun yang melakukan hal tersebut, yang diajak ngobrol.  

Saya sebagai praktisi penelitian jelas jadi melotot. Hello, what were you trying to do, mam?.

Yes true bahwa beliau tidak sedang melakukan penelitian. Tapi, yang sangat mengganggu di mata saya adalah karena beliau public figure. Dan profesi beliau adalah seorang praktisi psikologi.

Dalam profesi tersebut ‘penelitian’ adalah satu hal yang mau tidak mau terlekatkan. Melakukan penelitian tentang gejala yang dihadapi adalah tanggung jawab profesi sebelum bisa melontarkan sebuah pendapat, atau dalam konteks konseling, untuk bisa memberikan terapi.  

Saya masih ingat salah satu ajaran yang selalu ditekankan saat kami mulai menghadapi klien: jangan berasumsi, jangan menggunakan personal judgment sebelum terkumpul data yang lengkap.

Saya ingat betul betapa saya dulu harus bolak balik menghadap dosen karena dianggap data yang saya dapat belum menyeluruh karena belum tercakup semua yang harusnya saya ajak bicara untuk dapat kedalaman data yang baik. Itu dulu baru untuk kuliah praktek konseling lho, belum konseling beneran.

Jadi sebagai praktisi yang sudah dikenal publik, beliau justru harusnya jauh lebih sadar untuk tidak jumped into conclusion hanya berdasar pada observasi sesaat. Bicara tentang pola asuh tanpa ngobrol dengan beberapa orang tua untuk memahami motivasi mereka. Itu sudah salah pake banget. Pun jika mungkin benar perilaku itu terjadi di masyarakat, tapi rasanya pengutaraan pendapatnya harusnya bisa jauh lebih berkualitas dengan berdasarkan pada beberapa contoh kasus yang juga melibatkan orang tua yang diajak ngobrol.

Di mata saya, tulisan beliau itu jadi tidak ada bedanya dengan mendengarkan tetangga saya ngegosipin tentang gimana tetangga lainnya merawat anaknya.

Yang lebih membuat saya kuatir adalah, tulisan-tulisan seperti itu beresiko menjadikan masyarakat jadi lebih pintar menyudutkan orang lain tanpa berpikir kritis. Apalagi kemudian implikasi dari tulisan beliau, menurut saya juga tidak main-main karena isinya cukup keras, dengan unsur pembahasan keimanan segala. Padahal, ada kesalahan membangun pendapat yang sangat mendasar di tulisan itu: it was not based on enough NEUTRAL facts.  

 Kata kuncinya itu: fakta yang netral, bukan yang berselimutkan emosi seorang ibu-ibu. Sebagai seorang psikolog, sejatinya beliau harusnya sadar bahwa pengutaraan pendapat beliau tidak bisa dilepaskan dari profesi tersebut. Artinya juga bahwa beliau harusnya menjaga kenetralan dalam mengutarakan sesuatu dan tidak melibatkan emosinya.

Saya sedih melihat gejala demikian, yang pastinya memang bukan hanya dilakukan oleh beliau seorang tapi oleh begitu banyak public figure. Orang-orang yang harusnya punya tanggung jawab, atau at least MERASA PUNYA tanggung jawab yang jauh lebih besar dari orang awam, untuk menegakkan kejernihan berpikir yang baik dan berlogika yang benar.

Opini pribadi is one thing, tapi saat opini itu punya resiko menjadi viral, harusnya bukannya si penulis lebih berhati-hati membangun argumennya?. Apalagi jika si penulis punya embel-embel profesi yang bersentuhan sangat dekat dengan pembangunan kejiwaan, yang sebetulnya sangat dibutuhkan oleh banyak lini di negeri ini.

Ah tapi mungkin ya saya saja yang aneh, ya. Karena toh kenyataannya, pengikutnya banyak.

Ya semoga saja sih mereka yang mengikuti beliau juga bisa menyaring mana yang baik untuk diaplikasikan karena merupakan nilai universal kejiwaan yang dibutuhkan buat membesarkan anak, dan mana yang opini pribadi berselimut emosi. Karena yang terakhir, kalau saya amati, ujungnya cuma bikin panik tanpa solusi. Rasanya kok kita nggak butuh lagi yang begitu. There are enough panic reactions di negara ini. Yang ujungnya cuma bikin pertentangan gak berguna. Enough.

Saya juga nggak berharap semua jadi peneliti. Tapi saya kok ya juga yakin, berpikir kritis itu kan harusnya terjadi setiap saat ya, apapun profesi anda.

Mari, belajar bersama.





Friday, September 22, 2017

Keeping your life simple, may not be that simple (but not impossible to be that simple)








Saya sudah beberapa kali melihat postingan ini. Tapi beberapa kali pula saya membatin: apa iya sesimpel itu sih hidup?.

Faktanya, kan memang nggak ya.

Coba.

Kangen sama mantan (ini salah satu komentar dari teman saya waktu saya share postingan ini tadi pagi: kalau kangen sama mantan telpon aja ya?...haha).

Telpon. Atau nggak usah telpon deh, kirim pesan WA aja.

Resikonya: cuma dibaca nggak dibalas. Nggak kunjung dibaca. Dijawab dengan jawaban netral tapi super pendek. Dijawab dengan jawaban ketus. Dijawab dengan jawaban mesra.

Atau, ngajak teman ketemu (sudah dong….contoh mantan cukup satu saja. Use your imagination).

Resikonya: teman langsung bilang nggak bisa. Kasih alasan macam-macam – yang bisa bikin kita mikir ini orang sebetulnya mau atau nggak sih. Teman langsung bilang iya.

Nah buat semua jawaban itu kan ada efeknya ke hati ya. Bisa bikin baper pulak!.

Saya juga sempat tuh ngintip komentar-komentar di postingan itu, komentar-komentarnya lucu-lucu juga. Tapi semuanya intinya adalah menegasikan premis postingan ini, bahwa life is not that simple woy!.

Tapi, sekarang saya pikir-pikir, sebetulnya hidup memang bisa sesederhana itu, lho.

--

Sekitar sebulan yang lalu, saya hadir di sebuah acara yang isinya sebetulnya membahas kebhinekaan dari perspektif Islam. Sudut pandang yang diambil adalah dari pembahasan tasawuf. Jadi banyak sekali membahas tentang kedalaman hati, rasa, dan merasakan kehadiran Sang Empu di dalam diri.

Salah satu topik yang diangkat si pembicara, adalah tentang cinta dan rasa.

Cinta itu adalah bukti paling nyata dari kehadiran Tuhan. Saat kita bisa merasakan cinta, saat itu juga sebetulnya kita sedang merasakan kehadiran Dia yang paling nyata. Karena cinta adalah Dia, dan Dia adalah cinta.

Lalu apa kemudian salah kita merasakan cinta?.

Nah ini dia yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebetulnya ya, yang suka bikin susah hidup tuh ya kita sendiri.

Si pembicara itu bilang begini kurang lebih: rasa itu tidak pernah salah. Apapun itu. Cinta, rindu, sakit dan banyak sekali rasa yang kita bisa alami. Yang kemudian kadang bikin jadi serba salah adalah, saat kita melibatkan ego untuk bereaksi terhadap perasaan itu.

Misalnya ya itu. Bilang kangen, lalu orangnya lempeng aja, eh kita baper. Ngajak ketemu, lalu orangnya bilang nggak bisa, baper. Nyatain cinta ke gebetan, eh ditolak, baper juga.

Itu yang bikin hidup jadi nggak simple kan ya?. Nah itulah si ego.

Ego ini emang luar biasa nyebelinnya kadang-kadang sih. Baperan itu ya karena kita melibatkan si ego itu. Saat dia mengendalikan hati, saat dia mengendalikan perilaku, kadang semua jadi belibet nggak karuan. Dan ujungnya, kita juga yang susah.

Jadi gimana dong, supaya memang beneran bisa sesederhana itu hidup?.

Kembali pada si pembicara tadi, dia juga bilang: rasa itu tidak pernah salah. Tuhan menciptakan hati untuk kita bisa merasakan karena kalau kita tidak bisa merasakan, apalagi kalau kita tidak bisa merasakan cinta, kita tidak akan pernah bisa merasakan kehadiran Tuhan di setiap lini kehidupan ini. Tapi ya kendalikanlah ego saat kita mau bertindak terhadap perasaan. Itu yang akan menjauhi kita dari banyak kerusuhan hidup.

Begitulah kurang lebih.

Lha piye carane mengendalikan ego?. Susaaahh beuuutt memang sih. Tapi bukan mustahil. Kalau buat saya yang paling manjur, adalah mencari keheningan.

Hening itu bening. Keheningan membantu saya memilah-milah apakah ini rasa, atau ini ego saya sedang bicara. Dan buat saya, rasa memang sesuatu yang harus diekspresikan supaya saya bisa lega, saya bisa jalan terus ke depan. Menyimpan rasa itu ora enak blas.

Tapi kan si ego bandel ini kan pasti akan bereaksi pada keputusan saya buat bilang apapun yang saya rasa ke orang lain. “Ntar kalau gue bilang ke si X kalau kelakuannya itu ngeselin blas terus dia ngeyel, ngeselin banget”. Mikir gitu saja bisa langsung darting, ya toh?.

Nah dalam hening itulah biasanya saya melatih diri buat bilang pada si ego, berdialog pelan-pelan supaya: elo, behave. Gue pengen bilang ini ke orang ini, dan apapun reaksi dia, elo gak boleh kepancing. Keep cool, keep calm. Yang gue cari bukan reaksi orang itu, tapi as simple as gue cuma pengen orang itu tahu perasaan gue gimana. Udah. Titik.

Mungkin kurang lebih adalah: express it but do not expect anything in return. Kuncinya memang bukan expecting something, tapi expressing. Kalaupun ada unsur pengharapan, lebih pada berharap supaya diri sendiri kuat mengatur ego, untuk bisa terus berjalan.

Apakah itu mudah?. Of course nooooottttttttt. Tapi bukan tidak mungkin.

Apakah bisa terjadi sesederhana itu?. Of course noooootttt juga. Tapi, bisa jadi sesederhana itu.

Kuncinya mungkin juga adalah penerimaan terhadap rasa itu sendiri. Akui saja. Karena makin dilawan sebuah rasa, atau makin kita bilang, “Nggak boleh gue ngerasain kayak gini”, terus kita malah ke kanan ke kiri nyari pengalihan perhatian supaya rasa itu hilang, lha malah jangan-jangan makin kuat pula dia dan parahnya makin punya potensi bikin kita baper.

Tapi lawanlah ego. Melatih ego itu juga bikin kita tidak cepat baperan. Itu pentiiing.

Dan waktu ego bisa kita lawan, memang ada rasa ringan sih. Ringan untuk berjalan lurus ke depan tanpa beban. Karena hati juga sudah lega dan menerima keberadaan si rasa, tapi ego sudah mengalah untuk tidak mengikuti maunya sendiri. Karena ya buat apa sih bikin penuh hati dengan menyimpan rasa yang tidak pernah kita ekspresikan lalu jadi busuk di dalam (saya pernah nulis Laci – ya kurang lebih tentang meringankan isi hati lah). 

--

Jadi, sesederhana itukah hidup?. Yaiyalah jawabannya tidaaak, kalau kita tidak kunjung belajar dan berlatih mengontrol si ego yang suka sekali bikin rusuh itu.

Oh iya dan of course ada kesepakatan-kesepakatan sosial tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dan para manusia yang religius juga pasti akan kembali pada pakem-pakem dan dogma-dogma agama tentang apa yang boleh atau tidak.

Ah kalau saya sih make it simple lah: say what you want to say because tomorrow you may not live to say it. Do you want to be in your death bed and have regrets for never saying something?. Saya sih, tidak mau. Tuhan yang menciptakan hati ini saya yakin Maha Mengerti kalau cuma buat mengekpresikan perasaan. Apa yang kita lakukan terhadap si rasa, naah itu dia - balik lagi: seberapa bisa kita kontrol si ego?.

Selamat berlatih mengontrol ego. Mumpung besok akhir pekan. 

(R I R I)



Wednesday, September 13, 2017

Antara kau dan aku







“Mendekatlah padaku. Biarkan aku menghiburmu” 

 “Pantaskah aku mendekat padamu?. Kau begitu suci dan indah”

“Kenapa kau berkata begitu?”

“Kau lebih tahu kenapa. Apalah aku ini. Dengan nistaku. Maksiatku. Amalku yang demikian miskin. Apa pantas aku mendekat padamu dengan segala kotoran yang ada pada diriku?”

“Kau tahu. Bahkan saat kau ada pada jarak yang paling jauh dariku, aku dekat denganmu. Bahkan saat kau dalam kenistaan, aku ada di dekatmu. Saat kau pikir kau sendiri, aku bersamamu. Dan kau masih juga bertanya, apa pantas kau mendekatiku?. Padahal, aku tidak pernah jauh darimu!”

“Tapi kenapa?. Kenapa kau melakukannya?. Buat apa kau tetap dekat?. Pantas rasanya kau tinggalkan saja aku dengan segala kedangkalanku. Segala durhakaku padamu. Durhakaku pada kenapa aku diciptakan. Kenapa kau tetap ada di dekatku?”

“Masih juga kau bertanya?. Sadarkah kau kalau aku menyayangimu?. Tahukah kau kalau aku tidak pernah mungkin meninggalkanmu bahkan dengan segala kenistaan yang menurutmu membuatku pantas meninggalkanmu?. Sadarkah kau bahwa aku tetap dekat, agar engkau bisa merasakan apa itu cinta yang hakiki?. Cinta yang abadi dan akan selalu ada dalam hidupmu bahkan saat kau merasa tidak membutuhkannya?. Cinta yang membuat hidupmu lebih berarti”

“Kau begitu agung. Buat apa kau mencintaiku seperti itu?. Aku cuma akan menodai keagunganmu!”

“Ya ampun. Kau memang keras kepala. Aku menjadi sesuatu yang agung karena cinta kasihku. Pada semua yang bisa kucintai, semua yang bisa kurawat, semua yang bisa kujaga”

“Bahkan saat cintamu tak berbalas?”

“Bahkan saat cintaku tak berbalas. Bahkan saat ada yang berpaling dari kasih sayangku. Bahkan saat ada yang tak percaya pada ketulusan cintaku. Aku akan tetap ada, dekat”

“Dimanakah kau, kalau kau bilang kau selalu dekat?”

“Di sanubarimu. Di relung hatimu yang terdalam. Saat kau mendengar suara-suara lirih dari batinmu. Saat kau merasakan getaran-getaran kesadaran. Saat kau merasakan kehangatan di hari-hari terdinginmu. Saat itulah aku tiupkan kasih sayangku. Saat itulah aku peluk erat dirimu. Karena aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri”

Dan kau membuatku terdiam. Aku tahu rasa itu. Aku pernah merasakan itu. Kau bikin aku tersadar. Bahwa cinta, adalah kau. Dan engkau, adalah cinta. Dan dengan cintamu, tak ada alasan buatku untuk merasa sendiri dalam ketakutan-ketakutanku.

(dialog imajiner kalau saja saya bisa ketemu Tuhan….)

Tuesday, September 12, 2017

Topeng dan kamuflase



Salah satu yang bikin saya nyandu diving adalah melihat betapa cerdasnya Tuhan menciptakan segala bentuk kamuflase buat banyak sekali hewan di laut.

Ada yang bisa berubah warna. Ada yang memang diciptakan warnanya sama dengan tempat dia hidup. Ada yang bahkan bisa menyesuaikan bentuk dan warna tubuhnya dengan tempat persembunyiannya. Ada yang tidak terlihat di siang hari, tapi di malam hari ternyata tubuhnya bisa jadi besar atau bahkan warna warni atau bersinar. 

Wasp fish. Seperti daun ya?. Saya kira tadinya memang daun nyangkut

Lihat mata nggak di pasir?. Ini ikan pari. Dia sembunyi. Tapi warna badannya memang serupa dengan warna pasir

Pipe fish. Tersamar dengan baik dengan warna karang

Stone fish. Favorit saya karena susah membedakan dia dengan coral


Kamuflase ini biasanya tujuannya dua: bersembunyi dari hewan pemangsa, dan jadi pemangsa tanpa terlihat. Yang jelas, apapun bentuknya, segala bentuk kamuflase ini sangat menarik buat diobservasi.

Gimana dengan manusia?.

Kita juga sebetulnya punya mekanisme kamuflase. Malah lebih canggih, mungkin. Kita memang tidak bisa berubah warna kulit, apalagi berubah bentuk (kalau bisa mah asik juga. Kalau mau pakai kebaya bisa selangsing Sophia Latjuba, kalau terancam bisa berubah jadi Big Momma…). Tapi kita dianugerahi kemampuan bermain peran, dan menyesuaikan ekspresi wajah dengan situasi sosial.

Wajah dan ekspresi wajah kita inilah, kamuflase terkeren kita. Topeng yang kita kenakan tiap hari.

Coba, siapa yang bisa nebak, di balik senyuman manis, ada rahasia hati apa yang terpendam?. Betulkah seseorang sedang bahagia hanya karena dia tersenyum?. Atau, di balik air mata dan ekspresi kesedihan, apa sebetulnya yang disimpan?.

Topeng kita bahkan bisa banyak sekali. Dan kita bisa menggantinya sesuka kita – sesuai dengan kebutuhan. Dalam satu hari, mungkin kita pakai beragam topeng sebetulnya. Sadar ataupun tidak.

Kalau hewan di laut berkamuflase untuk melindungi diri dan juga memangsa, rasa-rasanya ya kita juga begitu. 

Demi melindungi diri dari dibilang bodoh, lalu kita pakai topeng kecerdasan – bisa berpendapat (padahal belum tentu juga pendapatnya benar. Pokoke asbun dulu lah). Demi tidak dikasihani padahal hati sedang remuk redam, kita ketawa-ketawa riang gembira. Atau, demi bisa ngibulin orang, pakailah topeng orang alim (ups… Udah gitu aja. Daripada nanti saya dibilang sedang menistakan sesuatu).

Tapi bedanya kita dengan kamuflase para hewan itu, mereka melakukannya dalam batas tertentu. Ya memang karena cuma dikasih segitu sama Sang Empu, mau gimana lagi. Sementara kita, sepertinya keahlian pertopengan kita sebetulnya selalu berevolusi. Makin lama, makin canggih.

Pertanyaannya: kita ini sebetulnya sadar nggak ya bahwa urusan pertopengan ini harusnya juga ada batasnya?. Mau sampai kapan kita berevolusi dengan keahlian ini?. Jangan-jangan banyak masalah di dunia ini muncul ya gara-gara kita terlalu canggih menciptakan topeng-topeng baru.

Terus kenapa tahu-tahu saya ngomongin kamuflase dan topeng?.

Saya sedang geli mengamati bagaimana dunia media sosial membuat kita semua makin pandai bertopeng. An invisible mask, I call it. Invisible karena nggak kita pakai di wajah kita. Kita nggak sedang memainkan ekspresi wajah. Kita sedang memainkan peran yang sangat berbeda dengan kita di dunia nyata.

Dan uniknya, semakin tak terlihat topeng yang satu ini, kok ya makin merajalela pula cara kita menggunakannya. Makin menakjubkan cara kita memanipulasinya.

Itu kadang bikin saya khawatir. Khawatir bahwa kita jadi lupa siapa kita sebetulnya tanpa semua topeng itu. Kita jadi terlalu terbiasa berlindung di balik berlapis-lapis mekanisme kamuflase, sehingga lupa kalau semua itu semu.

Ah. Ngelantur saya sore ini rasanya kok berat ya. Mungkin saya butuh piknik lagi #eeh

Wajah polos anak-anak. Akan ada masanya merekapun akan menggantinya dengan banyak topeng

Mungkin, satu-satunya saat kita luruhkan seluruh topeng kita adalah saat sedang berdialog dengan Sang Empu. Ataaauu....jangan-jangan, masih kita pakai juga topeng itu?.

(R I R I)

Mikir, yuk

Sebagai yang kerjanya berusaha memahami perilaku konsumen lewat metode penelitian kualitatif, saya seriiing pake banget ditanya ini, “E...

Popular Posts