Friday, May 13, 2016

Tatung Festival - the day when men become Gods

Aaahhh something sooooo looooong overdue!. We took this trip on 19 - 22 February, specifically to see tatung festival in Singkawang.  

Singkawang is a small town 3 hours from Pontianak in West Kalimantan. Though small, it has a very unique tradition that makes this town so big and rich in the whole cultural context of Indonesia.   

It is held around 2 weeks after Chinese New Year, or in conjunction with the celebration of Cap Go Meh. While Cap Go Meh itself is celebrated by many Chinese communities in many parts of the world, but in Singkawang, it becomes more than just a parade of dragon and lion dancers that are commonly seen in many Chinese related celebrations. 

The assimilation of Dayak and Chinese tradition has developed a kind of ritual with the intention of calling all the good spirits to protect the community all year round. These spirits, will be called upon to enter the body of tatung - or people that are chosen by the Chinese priest. A person who is chosen to be a tatung should fast for three days before the festival, and there are also other rituals and steps that he or she (yes, there are also women!), must do before the festival begins.

Once possessed by the good spirit, a tatung is believed to have supernatural power, able to ward off any evil spirits even to cure illnesses. 

--
The parade starts off from a shrine, after asking for the blessing of To Pe Kong, one of the saint, so that the whole festival can be smooth. They also dress up - either as Chinese warriors or saints, or as Dayak warriors.













During the parade, they also show that they cannot be harmed by knife, sword, or any other sharp objects. Once in a while they should drink a kind of arrack, or even the blood of chicken, as part of the ritual to keep their power. 

The chair with blades. Yes, they sit on it
Each tatung is followed with a guy holding a bucket with water and flower in it, and a bottle of arrack. Once in a while, they will spray the water to the tatung, and give the bottle for the tatung to drink
Don't try this at home

Not that easy to see but this guy is standing on the chair with blades

Care to hold a blade like that?


Can you blame her for having that smug look on her face, when she can sit on a chair made of blades?
Looking at how the parade was held, listening to all the chants and costumes, I could really feel the true assimilation of Chinese Taoism with Dayak’s animism.

And to be a witness of it, was a bit mind-boggling. Imagine this: the parade started at around 11, nearing the mid-day prayer. So while all the priests and tatung went in and out of the different shrines, accompanied by the rub-a-dub-dub of the drums, in not from a long distance I could hear Quran recital played from the mosque’s loudspeaker noting that it was soon mid-day prayer time.

And to see Chinese lampions all the way from Pontianak to Singkawang, also all over Singkawang, all the dragons and lions, made me felt that it was a totally different place. The experience of seeing tatung festival makes me realise more and more of how abundantly different Indonesia is, something that we should be able to live with peacefully. 

Tatung festival is one of those that I think one should see at least once in a lifetime, to really feel how diverse Indonesia really is.

--

How to get there:

Information on the exact dates for the festival is not easy to get. We have a friend in Pontianak who informed us about the dates. So it is always best to find a local contact to get the right dates. But roughly, it will be around 13 - 14 days after the Chinese New Year, or on the day of Cap Go Meh. It is usually held for 2 days with the final day being the biggest. We came for the first day, and that was already quite an experience.

To go to Singkawang, you should first fly to Pontianak. There are direct flights from Jakarta to Pontianak. Then it is around 3 hours drive to Singkawang. It is an easy drive - with not much traffic on a smooth road.

Be prepared to book your hotel in Singkawang months ahead because many people come to see this festival as it is the biggest tatung parade in the world.

Or you can also stay in Pontianak, take a 3 hours drive to Singkawang, and go back on the same day. We did just that because we could not get a hotel in Singkawang. We noticed that some people did that too.

And we would recommend you spend a day or two in Pontianak.

While Singkawang has tatung festival, Pontianak also has its own: dragon and lion dance festival. Quite a feast to see the colourful dragons and lions. 



 
If you are non-muslim, then you can have a lot of feast in this city!. Lots of various noodle dishes, and a variety of rice. Seafood is also a highlight!. 

If you are interested in a bit of history, then I highly recommend you to go to the Palace of Kadriah. The palace is very beautiful and well maintained. It keeps the story of Sultan Hamid II - who was the original creator of Indonesia's national symbol, the Garuda. This story was never really told publicly. 

A story of how Indonesia's country symbol, the Garuda, was first created by Sultan Hamid II

Beautifully built, beautifully maintained

The throne



The palace's mosque

Inside the mosque
And there is Kapuas river that goes through Pontianak - a huge river with quite an interesting life to observe. 


You can watch life goes by along Kapuas river

Or in the afternoon, there are boats that you can hire to go along Kapuas (we could not do it as it rained. February is unfortunately the rainy season)



Pontianak is actually also a city where the equator line passes right through. There is a park where the equator monument is placed. But when we were there it was under renovation. So if you're lucky, that's also a worth to visit location, maybe. Just to stand right where that line passes through.

(R I R I)





Sunday, May 8, 2016

Membunuh kemanjaan, piknikin hati



Saya tidak dibesarkan dalam keluarga yang kalau melakukan perjalanan selalu menginap di hotel. In fact, selalu di rumah saudara, atau di losmen-losmen kecil. Kadang bahkan, di mobil, atau menggelar tikar di tepi pantai, dan membentang plastik di atas kepala yang diikatkan ke batang pohon dan mobil. Mandi? – ada jerigen air di mobil, dan ada sarung untuk menutup badan saat mandi. 

Ada beberapa perabotan standard yang selalu ada di mobil setiap perjalanan: jerigen untuk air tawar, termos air panas, gelas-gelas plastik, kopi, teh, susu bubuk dan gula (waktu itu belum ada semua produk sasetan, dan nggak ada minimarket padahal almarhum Papa sering sekali ajak kami ke daerah-daerah yang ketlisut entah dimana di peta), selimut dan bantal. Rempong?. Dulu rasanya sih biasa aja.  

Saya baru mengenal nginap di hotel yang pakai bintang-bintang itu waktu kerja. Umur saya sudah 24 tahun. Pertama kali dikirim kerja ke Surabaya. Pengalaman pertama juga naik pesawat sendirian. Sumpah waktu itu persis orang bego karena saya nggak tahu apa yang harus dilakukan waktu check in ke hotel. 

Seiring berjalannya waktu, saya makin banyak melakukan perjalanan. Dan tanpa saya sadar, sepertinya saya mulai kehilangan sisi dimana saya bisa bilang pada diri sendiri, “Ah gitu aja mah gue sanggup”. 

--

Tahun lalu saya sudah memutuskan tahun ini saya harus melakukan sebuah perjalanan yang akan menantang diri saya sendiri. Lompat dari satu pulau ke pulau lainnya. Expect the unexpected. Meluaskan lagi kapasitas otak saya untuk melakukan hal yang baru diluar hal-hal rutin.


Tadinya, destinasi itu bernama Togean. Sebuah kepulauan di wilayah Sulawesi Tengah. Kenapa Togean? – saya baca, tempat itu indah. Di jaman Soeharto dia terkenal dengan pertanian mutiara. Tapi lalu entah bagaimana terlupakan. Dan baru-baru ini saja namanya terangkat kembali.

Dan kenapa Togean? – karena susah menjangkaunya!. Dari Jakarta saya harus ke Luwuk. Dari sana naik mobil dulu ke pelabuhan, lalu naik kapal ke salah satu pulau di Togean yang lamanya sekitar 4 – 5 jam. Baru lompat dari satu pulau ke pulau lainnya dengan perahu yang ada disana (yang, sejauh yang saya cari dengan bantuan mbah Google, kelihatannya tergantung pada nasib baik dan koneksi dengan nelayan setempat saja).

Buat saya itu menantang sekali. Entah kenapa, mungkin faktor usia, rasanya saya ingin menaklukkan angka 45. Merdeka! #eh 

Tapi rencana saya itu harus diubah karena titah suami. Sebandel-bandelnya saya, saya seorang istri yang harus dengar kata suami juga selama yang dia bilang itu masuk akal. Lagipula, daripada saya bikin dia khawatir karena perjalanan yang jauh itu, lebih baik saya nurut. 

Dia mengajukan alternatif lain: Wakatobi. Sebuah taman nasional yang sudah lama juga saya dengar namanya dan dalam kepala saya, lebih terkenal dibanding Togean. 

Karena Wakatobi sepertinya sudah dikenal lebih lama, lalu punya sebuah bandara, di pikiran saya harusnya tempat ini jauh lebih berkembang dibanding Togean yang kedengarannya lebih ‘wild’.
Lalu saya putuskan cari teman saja – lebih karena terpikir 8 hari di jalan, kalau malam saya ngobrol sama siapa nanti?. Dan untungnya ada yang mau ikut. So off I went. 

Ternyata...oh ternyata...8 hari yang menarik sekali. 

--


Ekspektasi saya begini:

  • Pulau-pulau di Wakatobi kurang lebih sudah seperti pulau Seribu. Artinya, listrik sudah ada, penginapan walaupun jenisnya bisa saja homestay tapi paling tidak ada kipas angin (sukur-sukur, AC)
  • Koneksi antar pulau, walaupun bisa aja tetap pakai kapal kayu rakyat, tapi sudah kurang lebih ‘rapi’
  • Salah satu pulau yang saya memang tertarik sekali untuk sambangi, pulau Hoga – yang hanya sekitar 15 – 20 menit naik kapal dari Kaledupa, adalah pusat penginapan para mahasiswa peneliti dari Yayasan Walacea. Jadi, fasilitas pulau ini, sepertinya juga akan sudah berkembang dengan baik
Ternyata satu persatu ekspektasi saya itu gugur dengan sukses.

Listrik, ternyata adalah tantangan terbesar dari pulau-pulau ini. 

Saya memang pernah menginap di Liukang, sebuah pulau kecil 5 menit dari pantai Bira, Sulawesi Selatan. Disana, listrik baru menyala jam 6 sore sampai jam 6 pagi.

Tapi itu stabil – setiap hari jadwalnya seperti itu. 

Naaahhh nggak gitu di Wakatobi. 

Di pulau tempat kami menginap pertama kali untuk 4 hari, Tomia, listrik sudah setahun byarpet. Ada giliran pemadaman, tapi ya kalau apes bisa aja dia mati seenak udel. Jadilah selama 4 hari, kami alami byarpet setiap hari. Masih untung karena di penginapan kami ada genset, lumayan menolong karena masih bisa nyalakan kipas angin karena 2 hari terakhir terutama, udara luar biasa panas.  Tapi begitu ada matahari ya jelas genset tidak dinyalakan. Jadi kami harus pakai lilin untuk di kamar mandi kalau sudah begitu, karena kamar mandinya tertutup dan gelap.


Pulau dengan perkampungan yang cantik

Masih ada rumah-rumah panggung dengan langgam khas Buton disana sini

Mereka ini banyak sekali keliaran sana sini


Dari Tomia, kami pindah ke Hoga. Ini pulau yang saya kira fasilitasnya lebih OK karena selalu jadi pusat tinggalnya mahasiswa penelitian dari luar negeri. Ternyata: listrik belum ada di pulau itu. Setiap penginapan yang ada disitu, harus mengupayakan listrik mereka sendiri dengan mesin mereka sendiri. Jadilah di penginapan kami, listrik hanya nyala dari jam 6 sore sampai 11 malam. 

Tempat Hoga Dive Resort, tempat kami menginap. Don't let the name fool you :) Kamarnya biasa kok...Fasilitas juga minim di tempat ini. Dan kalau anda kesini tidak buat menyelam, kemungkinan besar tidak diterima nginap sini juga, katanya

Tapi memang pantainya cantiiiik sekali

Dan sunset yang menawan bahkan saat berawan


Asiknya, penginapan ini terletak di bawah pepohonan rimbun, dan di belakang penginapan ini masih bersemak. Kebayang nggak, nyamuk dan serangganya?. Seru deh kami bertengkar dengan mereka semua itu begitu sore datang. Plus, tidak ada kipas angin di kamar padahal karena dilingkupi pepohonan, tidak ada angin berhembus ke dalam kamar kami. Asiknya juga, kamar mandi terpisah di belakang kamar. Artinya, begitu lampu mati, yaaa...gelap-gelapan deh jalan ke kamar mandi. Bodohnya kami juga lupa minta senter atau lilin padahal di hari berikutnya kami harus siap-siap jam 4.30 – dimana karena tempat yang tertutup rapat dengan pohon, ya masih gelap gulita. Seru abis!.

Karena kami sudah agak lelah menghadapi kegelapan, kami berharap begitu pindah ke Wangi Wangi yang merupakan pulau paling besar dimana terletak Wanci, ibukota kabupaten Wakatobi, listrik lebih stabil. 

So much for hoping...haha. Walaupun tidak separah di pulau-pulau lainnya tapi tetap ada beberapa kali mati lampu.  

Itu baru soal menghadapi lampu byarpet. 

Yang seru juga waktu kami harus pindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Perjalanan dari Wangi Wangi ke Tomia yang kami tempuh dalam waktu 3 jam masih OK lah. 

Interior kapal dari Wanci ke Tomia

Dari pulau ke pulau di Wakatobi kurang lebih seperti ini kapalnya

Menikmati pagi di atas kapal asik juga - dari Tomia ke Hoga, jam 6.30

Yang menarik, saat kami pindah dari Hoga ke Wangi Wangi. Tadinya saya kira kapal akan membawa kami ke Kaledupa dulu, baru dari sana kami naik kapal menuju Wangi Wangi. Ternyata kapal tidak bisa mendarat ke dermaga Kaledupa karena air terlalu surut. Jadilah kami ‘menyetop’ kapal ke Wangi Wangi di tengah lautan di antara pulau Hoga dan Kaledupa – we practically jumped to the other boat, di tengah lautan. Seru banget!. 


Sebagai lompatan terakhir, dari Wangi Wangi kami menuju Baubau. Naik kapal kayu angkutan rakyat reguler yang berangkat jam 9 malam dari Wanci dan tiba di Baubau jam 6 atau 7 pagi tergantung kondisi laut. Saya memang sudah baca bahwa naik kapal ini artinya adalah kami harus tidur di geladak yang ‘disulap’ jadi semacam pelataran dimana orang bisa berbaring. 

Ini di kapal dari Hoga menuju Wanci. Tapi ya kurang lebih seperti inilah geladak kapal dari Wanci ke Baubau


Jadi kurang lebih saya sudah siapkan mental untuk tidur dengan bau mesin, bau kaki orang, bau keringet orang, dan angin laut malam hari. Eh tapi ternyata, menurut operator tur lokal yang membantu kami mengatur perjalanan ini, sebetulnya ada kabin yang bisa disewa. Wah ya alhamdulillah toh?. Jadilah kami iyakan saat mereka nawarin mau disewakan kabin atau tidak. 

Dan ya namanya nggak pernah naik kapal kayak gitu, culture shock adalah saat lihat tempat tidurnya. Dengan banyak kotoran entah serangga entah cicak entah tikus, dan seprai yang warnanya yaaa gitu deeeh – seperti tidak diganti setelah ditiduri beberapa orang sebelumnya, kami sempat berpandang-pandangan sejenak. Tapi untung masing-masing kami bawa kain jadi ya kami tebarkan di atas tempat tidur itu dan voila, we slept through the night. 

Ini kapal yang kami tumpangi dari Wanci ke Baubau

Tampang pasrah sebelum berangkat
 --


And now, here I am, back in the Big Durian. 

Saya nulis semua di atas itu bukan untuk mengeluh. Bahkan, saya rasanya malu pada saudara-saudara kita disana. Iyaaa memang pasti kita sudah banyak dengar cerita-cerita macam itu. Tapi mengalaminya sendiri, was totally different. It really kicks you in the butt – at least for me. 

Selama 8 hari ini saya tiba-tiba tersadar betapa sudah lama saya terbuai dengan yang namanya stabilitas dan kenyamanan. Betapa saya ternyata sudah demikian renta untuk menghadapi setiap kejutan. Ada hari-hari, terutama setelah hari kelima, dimana saya merindukan stabilitas itu. Sekedar bisa mengalami hari yang mulus tanpa listrik yang byarpet. 

Lalu saya merutuki diri sendiri, “Gila loe Ri, manja banget sekarang”. 

Apakah itu buruk?. Ya nggak juga sih. Kalau kata teman jalan saya kali ini, “Kan kita benernya nggak minta aneh-aneh juga. Standard kita juga nggak tinggi”. Hehehe...iya ada benarnya itu. 

Still, at the same time, saya ingin tetap cukup agile to rough it up. Sekedar untuk mengingatkan diri untuk tidak terbuai dengan kenyamanan yang bisa bikin manja. Karena itu ada bahayanya: kita jadi lupa bahwa di atas semua stabilitas dan kenyamanan yang kita dapatkan, jangan-jangan ada mereka yang terkorbankan secara tidak sengaja. Entah iya begitu atau tidak, tapi mungkin ada baiknya berpikir demikian. 

And the best thing is to experience it yourself, once in a while, cause then it gets stuck somewhere in your mind, and your heart. Bukan buat dibilang jago jadi backpacker, biasa merana, tapi biar hatinya lebih piknik. 

(R I R I)