Tuesday, September 4, 2018

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan


No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga klasik: saya takut gagal. Tipikal pegawai yang tahunya terima gaji tiap bulan, bayar pajak, tiap bulan masih ada yang bisa ditabung, rasanya sudah cukup. Berpikir punya usaha sendiri dengan resiko gagal dan menanggung ‘hidup’ orang lain itu cukup bikin bulu kuduk saya berdiri.

Tapi ada satu titik dalam hidup saya saat saya mikir, “Ah masa gue gak bisa. Cemen banget gue…”. Dan begitulah. Saya juga kebetulan ketemu teman yang rasanya pas jadi partner bisnis, ya sudah, mari melangkah.

Salah satu yang bikin saya berpikir harusnya saya bisa adalah karena I ALMOST hit rock bottom dalam mengelola usaha. Sekali, tapi super nyakitin.

--

11 tahun lalu, saat masih jadi pegawai sebuah perusahaan riset pemasaran multinasional, kantor cabang di Indonesia yang saya pimpin tahu-tahu harus menghadapi ancaman bangkrut. Penyebabnya: klien terbesar perusahaan, memutuskan untuk pindah ke lain hati, alias melalui proses bidding yang panjang, kami kalah dengan perusahaan lain. Ini terjadi di tingkat global alias diputuskan oleh headquarter perusahaan tersebut.   

Sebagai satu mata rantai dari area Asia Tenggara, Indonesia sayangnya salah satu yang terkena dampak paling besar karena disinilah bisnis dari klien tersebut berkontribusi lumayan signifikan dalam pendapatan perusahaan.

I had seen it coming sebetulnya saat kami harus menyusun anggaran untuk tahun 2017, di pertengahan 2016. Saya berusaha sekuat tenaga meminta kantor regional untuk menurunkan ekspektasi mereka, menurunkan target yang ditetapkan, karena saya khawatir dengan hasil dari bidding yang saat itu sedang berlangsung. But of course, mana didengerin cyiiiin. They were confident, dan saya sulit mempertanggungjawabkan alasan saya yang memang tidak bisa dijelaskan di atas kertas, karena yang bicara adalah insting.

So anyway. It happened. Lebih dari 50% pendapatan kantor saat itu, hilang.

Jengkel, marah, sedih. Campur aduk. Karena saya merasa it was not our fault, tapi juga di sisi lain saya sebal karena harusnya ada PR yang saya selesaikan di tahun-tahun sebelumnya. I just didn’t think fast enough to make it happened.

Saat menghadapi kesulitan itu, tiap bulan, pertanyaan saya pada Finance Manager kami selalu sama, “Kita masih punya uang nggak buat bayar gaji anak-anak?”. Saya juga minta gaji saya tidak perlu dibayar kalau memang uang yang ada tidak cukup untuk membayar gaji orang lain.

It was very painful. To feel worried all the time. To feel that you were responsible for other people’s well being.

Luckily we survived that super awful year. Saya mendapat banyak sekali pelajaran dari kejadian itu. Intinya sih, ada 6 yang paling penting, menurut saya.  




1. Saat anda berbisnis, pastikan bahwa bisnis anda tidak bertumpu hanya pada satu pilar – satu sumber. Entah itu supplier bahan baku jika anda memproduksi sesuatu, juga pembeli barang atau jasa anda.   

Pelajaran ini yang paling bermanfaat buat saya dari kesulitan 11 tahun lalu itu. Saat lebih dari 50% pendapatan perusahaan bertumpu hanya pada satu klien saat itu, kami butuh waktu setahun buat menggantikan yang satu dengan beberapa lainnya. Little by little, akhirnya perusahaan punya beberapa pilar pemasukan.

Dan sekarang, saat saya punya bisnis sendiri, setiap tahun kami juga me-review siapa sebetulnya pilar perusahaan ini. Kami punya sekitar 5 perusahaan yang menjadi klien yang cukup reguler yang berkontribusi pada hampir 50% pendapatan perusahaan. Selebihnya in and out. Belum ideal, karena saya inginnya punya 10 klien reguler yang berkontribusi pada 60 – 70% dari pendapatan sehingga bisa merasa lebih ‘aman’.

But the point is: pastikan usaha anda tersebar dengan baik. Tentukan siapa pilar anda, dan bagaimana anda akan mendapatkan dan mempertahankan pilar-pilar usaha anda itu.

Dan kalau dalam hubungannya dengan mata uang, kalau bisa, pastikan baik pengeluaran dan atau pendapatan terjadi dalam lebih dari satu mata uang, ya yang paling sederhana dalam rupiah dan dollar. Dengan demikian kalau ada apa-apa dengan salah satu mata uang, anda relatif bisa merasa lebih aman karena ada unsur saling menutupi atau bahkan ambil untung dari mata uang yang lebih kuat. Tapi saya tahu tidak semua bisnis bisa beruntung melakukan ini. But, it’s not impossible. Apalagi sekarang dimana dunia terhubung dengan sangat erat satu sama lain.  


2. Saat usaha anda dalam kesulitan, DON’T SHOW IT ON YOUR FACE saat anda ketemu tim anda. Dan dalam jaman media sosial sekarang ini, jangan tuliskan kegelisahan anda di media sosial yang bisa dibaca siapapun di tim anda.  

Yang paling melelahkan mental saya waktu itu adalah: setiap kali ke kantor saya harus siap masuk kantor dengan senyum walaupun hati selalu kebat kebit. Jadi kebiasaan saya waktu itu dalam perjalanan ke kantor adalah menyebutkan ‘mantra’ dalam hati: you’ll be OK, you’ll get out of this mess somehow. Dan berdoa, tentunya.

Perusahaan yang dalam kesulitan pasti selalu punya ancaman ini: mem-PHK karyawan saat keadaan jadi makin buruk. Tapi waktu itu janji kami adalah: tidak akan ada PHK. Tapi kan itu sebetulnya easier said than done. Jadi ya tiap hari saya harus berusaha tidak menunjukkan kekhawatiran saya karena saya tahu, itu hanya akan membuat situasi lebih buruk dan menurunkan motivasi orang lain.

So be cheerful no matter what. Ya begitulah memang resiko jadi leader: when things get tough, you should be the FIRST PERSON who can smile and hold other people’s hands (walaupun anda sebetulnya sedang butuh pelukan dan sandaran juga…. #tsaaaah).


3. Celebrate every little win, no matter how trivial it may seem, celebrate it. Nah ini kalau anda mau tulis di media sosial anda, silahkan. Public celebration and acknowledgement is good.  

Saat dalam kesulitan, semua orang butuh hiburan. Jadi waktu itu setiap kali ada yang akan mengirimkan proposal, saya minta menginfo semua orang. Kami semua mendoakannya. Dan jika harus melalui proses bidding dan menang, kami merayakannya. 

As simple as mengucapkan selamat melalui e-mail, atau dengan es krim atau kopi buat semua orang. Kelihatannya sepele, tapi saya yakin itu penting to keep people together, that we were in this together. Tidak ada yang meninggalkan siapapun. Every little win mattered for everyone.

Celebration is an energy. Sesepele apapun kelihatannya, rayakanlah. You never know how good it may make people feel.


4. Be honest.

Menyampaikan berita, apalagi kalau buruk, tidak pernah mudah, pasti. Tapi jujur tentang apa yang sedang dihadapi adalah selalu pilihan yang paling baik. Tapi tentunya, ada hal-hal yang tidak perlu diketahui semua orang karena kalaupun mereka tahu, tidak akan membantu keadaan. 

Dalam situasi sulit itu saya memutuskan setiap bulan saya akan mengirimkan update pada semua orang tentang dimana posisi keuangan kita saat itu, berapa sales saat itu dan apa maknanya buat perusahaan. Saya tahu, itu memberikan orang arah dan kepastian tentang kemana perusahaan sedang menuju. Paling tidak walaupun masih susah, tapi ada info sesusah apa sih.

Memang harus bijak memilih apa yang harus disampaikan, apa yang tidak, but being honest is always your best bet. It’s bad to keep people wondering. Unless you love bad gossips (or hoaxes, in today’s world)


5. Stress the word TEAMWORK. 

No man’s an island. Apalagi saat sedang dalam kesulitan, nggak ada orang yang senang ditinggal sendiri. Kebersamaan, selalu bisa jadi energi yang membakar semangat. Dan itu yang saya alami. Setiap pekerjaan saya selalu katakan itu adalah dari kita, untuk kita. Yaaa memang sih ada unsur kita juga harus berkontribusi pada ‘dompet regional’, tapi kita harus selamatkan dulu diri sendiri. And we couldn’t do it if we didn’t trust ourselves and the teamwork. 

Jadi anda juga jangan sok jadi pahlawan. Jadi pemimpin bukan berarti harus mikir sendirian, kok. Termasuk saat perusahaan sedang dalam kesulitan. Everything doesn’t have to be on your shoulders. Berada di puncak memang bisa terasa sepi, tapi, tidak selalu.


6. Keep your price.

Kalau dalam kesulitan usaha selalu ada godaan memberi diskon asal barang atau jasa cepat terjual. Saya justru berpendapat sebaliknya. Kemurahan hati memberi diskon dan harga yang lebih rendah dari biasanya cuma memberi signal bahwa anda cuma butuh duit. Dalam konteks industri jasa, ini bukan hal yang bijaksana. Bukan itu juga, nanti anda juga yang akan kesulitan mengembalikan harga anda saat bisnis mulai berjalan normal.

Bukan berarti hal ini tidak boleh dilakukan sama sekali, tapi tetap harus ada strateginya. Jangan membabi buta sekedar supaya bisa meningkatkan jualan, tapi intinya harus tetap pada: harga yang diberikan harus tetap sesuai dengan pelayanan yang prima dan itu, tidak pernah murah.

--

Saya ingin membagikan ini sekarang karena mungkin ada yang sedang deg-degan dengan kondisi usahanya thanks to  mata uang kita yang sedang meluncur.

Saya pribadi melihat keadaan ini persis seperti yang dulu saya hadapi: this is not what we want, not because we did anything wrong, not something that we can control, but shit happens out there and unfortunately we have to bear the consequences too. Gak pernah nyaman harus menghadapi hal-hal yang bukan gara-gara kita, tapi kan tetap harus dihadapi.

Jadi kalau, amit-amit, usaha anda ternyata harus merana gara-gara keadaan ini, ya semoga saja ada dari 6 point di atas yang bisa digunakan. Walaupun Darwin bilang yang survive itu bukan karena intelligence, tapi bagaimanapun juga, response to change is led by our intelligence and how strong we are mentally. At least saya percaya demikian dan rasanya sudah kurang lebih membuktikannya.

May we all survive the challenges we face. 


 



Tuesday, August 28, 2018

Perjalanan mengikhlaskan, dan mensyukurinya


Ikhlas. Temennya sabar. Yang susah banget buat dipraktekkan tapi paling sering diucapkan kalau ada suatu kejadian. Yaaaa termasuk saya, sih.

Padahal tahuuuu banget bagaimana susahnya bisa ikhlas.

Ikhlas, buat saya punya banyak sekali elemen.

Ada elemen berserah diri pada keadaan yang sudah terjadi, karena memang tidak bisa diubah. Ada juga elemen mensyukuri yang sudah terjadi, apapun itu, seberapa sulitnyapun melihat sesuatu yang bisa disyukuri dari yang sudah terjadi, karena bisa saja kita mengalami yang lebih buruk. Ada juga elemen hening, menenangkan diri, tidak melawan tapi melihat ke dalam, mengenali apa yang dirasa, lalu menerima semuanya.

Susaaah banget semua itu.

Perjalanan ikhlas yang paling susah yang pernah saya tempuh adalah saat saya harus kehilangan Papa yang mendadak. Tanpa sakit, tanpa tanda apapun, beliau pergi begitu saja.

Cuma 2 hari setelah saya terakhir ngobrol dengan beliau lewat telepon, tahu-tahu telepon berikut yang saya terima adalah berita bahwa beliau sudah dipanggil. Saya beratus ribu kilometer jauhnya dari rumah, sehingga buat melihat jenazah beliau terakhir kali saja saya tidak bisa. Keputusan yang saya ambil sendiri, karena itulah bakti terakhir saya buat beliau, dengan tidak meminta beliau menunggu saya untuk pulang saat beliau bisa pulang ke rumah terakhirnya.

Di hari beliau dimakamkan, saat saya tiba di rumah setelah menghabiskan airmata saya di pusara beliau yang masih merah, saya jadi sadar bahwa hidup tidak akan sama tanpa beliau. Dan itulah titik pertama saya tahu betapa sulitnya mengikhlaskan kepergian beliau. Tiba-tiba saya dihadapkan pada ruang hampa yang mendadak hadir.

Mengikhlaskan rumah kami tanpa beliau yang sering tidur siang di sofa. Mengikhlaskan Chevrolet Luv penuh kenangan, satu-satunya mobil yang pernah beliau beli dari showroom, untuk kami jual karena kami tidak sanggup merawatnya. Mengikhlaskan saya tidak akan pernah lagi terima surat dari beliau selama 1,5 tahun yang masih harus saya jalani di negeri orang saat itu. Mengikhlaskan bahwa beliau tidak akan ada di meja akad nikah, melepas saya ke jenjang kehidupan berikutnya.

Pokoknya tiba-tiba ada beberapa hal yang berarti, yang harus diikhlaskan untuk tiada. Dan itu berat sekali rasanya (Dilan, kamu tidak tahu kalau masih ada yang lebih berat dari rindu….).

Sekarang, 20 tahun kemudian, saya masih nggak tahu apakah saya sudah betul-betul ikhlas atau belum. Jujur saya juga nggak tahu ukuran ikhlas itu apa sih. Tapi kalau ditanya apakah saya masih sedih kehilangan beliau, maka jawabannya adalah tidak.

Karena dunia sudah jadi sesuatu yang amat berbeda dibanding dulu saat beliau masih hidup. Saya rasanya tidak ingin juga beliau melihat seperti apa dunia sekarang, apalagi Indonesia dengan segala hiruk pikuk politiknya karena saya tahu betapa cinta beliau pada negeri ini. Dan rasanya saya juga tidak akan tega melihat beliau merenta, menua, makin rapuh sementara saya tahu betapa beliau mencintai kelayapan kesana kemari, dan tahu beliau pasti tidak akan tahan sakit…hehe…

Jadi sekarang saya bisa bilang bahwa beliau pergi di saat yang tepat. Dan jika itu adalah ukuran ikhlas, maka yaaa….saya sudah disitu.

Dan sekarang, saya rasanya sedang diletakkan dalam perjalanan mengikhlaskan selanjutnya.

Mama, sudah berusia 81 tahun. Perempuan kuat yang jarang mengeluh, yang sudah menempa saya buat paham bahwa jadi perempuan bukan berarti menunduk pada kehendak sosial untuk selalu mengalah. Beliau adalah pejuang di mata saya.

Dalam setahun terakhir, fisik beliau makin lemah. Beliau memang tidak punya penyakit serius. Suara dan tawa beliau masih tetap gegap gempita. Mata beliau yang sudah sulit untuk melihat masih bersinar berapi-api jika diajak ngobrol soal politik. Tapi tulang-tulang tua beliau makin lama makin harus menyerah pada serangan sang waktu.

Puncaknya 2 bulan lalu dimana akhirnya sampai sekarang, beliau harus menjalani berbagai terapi fisik untuk mengurangi kesakitan di salah satu bagian tulang punggungnya.

Saya yang selalu mengantar beliau ke dokter, dan ke sebagian besar sesi terapinya, harus mendengar semua penjelasan para praktisi kesehatan itu.

Satu hal yang membuat saya tiba-tiba tersadar bahwa ini rasanya adalah cara Tuhan untuk bikin saya mengikhlaskan, adalah ucapan salah satu dokter, “Tugas kami para dokter adalah memastikan kondisi Ibu tidak makin menurun, jadi bukan menyembuhkan karena ini ada unsur usia, tapi yang penting adalah Ibu bisa nyaman bergerak dan kondisinya tidak makin buruk”.

Saya seperti disadarkan bahwa ini jangan-jangan adalah cara Tuhan membuat saya ikhlas jika satu saat nanti beliau dipanggilNya untuk pulang. Jika dulu Papa dipanggil tiba-tiba dan perjalanan mengikhlaskan itu saya jalani dengan tertatih-tatih, sekarang, rasanya saya justru sedang dituntun pelan-pelan untuk bisa melepas dengan legowo satu hari nanti.

Saya tidak tega melihat Mama kesakitan hampir setiap kali beliau berjalan. Saya tidak tega melihat beliau harus menghentikan beberapa rutinitasnya karena gerakannya yang makin terbatas. Sepaham-pahamnya saya dengan apa yang dinyatakan dokter, saya juga tahu apa yang tersirat dari situ, bahwa semua ini harus diterima sebagai bagian dari perjalanan menua, meluruh, menyerah. 

Dan semua ketidaktegaan itu akhirnya bermuara pada satu hal: saya tahu bahwa kepulangan yang terakhir akan melepaskan beliau dari semua penderitaan itu, dan karenanya, saya ikhlas melepas beliau, kapanpun.

Dan jujur saja, menyadari itu, melegakan buat saya. Paling tidak, saya tahu bahwa saya tidak lagi harus melewati jalan panjang kesedihan dan beratnya hati mengikhlaskan ketiadaan. Atau yah paling tidak, saya tahu bahwa perjalanan itu sepertinya tidak akan seberat apa yang harus saya jalani saat kehilangan itu terjadi dengan mendadak tanpa ada tanda apapun.

Tidak akan pernah mudah untuk menerima dan menghadapi ketiadaan. Tapi paling tidak, sekarang saya lebih punya ruang untuk menerimanya dengan legowo.

Dan untuk itu, saya bersyukur. Bersyukur pernah mengalami keduanya: ketiadaan yang dengan terpaksa saya harus terima tanpa daya, dan merasa 'disiapkan' untuk menerima ketiadaan itu kelak. 



Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts