Thursday, December 20, 2018

Catatan akhir tahun 2018: Keriangan di balik kesulitan.



Saya diingatkan Fesbuk kalau saya pernah melayangkan kata-kata di atas itu di laman saya, tepat di tanggal yang sama, 20 Desember, tahun lalu. Dan kok ya pas, hari ini saya sedang ingin menuliskan catatan akhir tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan tulisan itu pas dengan apa yang saya pelajari tahun ini.

Waktu tahun lalu saya lontarkan postingan itu, jujur saya cuma berpegang pada kata-kata yang terakhir, bahwa semua yang terjadi dalam hidup pasti ada maknanya. Tapi bahwa you can smile through the tears, itu bikin saya membatin yo opo, piye carane. 

Tapi tahun ini, terutama tahun ini, entah kenapa, saya merasa saya sedang sangat diajarkan buat mengerti arti itu semua.

--

Tahun 2018 dimulai dengan kehilangan yang beruntun.

Februari: kehilangan kolega dengan siapa saya sudah kerja bareng selama hampir 10 tahun – and a brilliant talent too yang sudah di plot untuk jadi generasi kedua di perusahaan!. Wedew mak. Rasanya.

Belum lagi sembuh dari kehilangan yang pertama, di bulan April ada dua kejadian: kehilangan uang – dalam jumlah yang lumayan untuk ukuran perusahaan semungil kami, lalu kehilangan Bapak mertua yang mendadak.

Pembuka tahun yang bikin nyesek.

Tentunya ya rasanya campur aduk. Kesal. Sebal. Sedih. Nelongso. Dan ada kekosongan yang tertinggal terutama dengan ketidakberadaan kolega saya, dan kepergian Bapak.

Tapi, setelah semuanya berlalu, saya sadar bahwa it was not all that bad. Tiap kejadian itu memberikan kesempatan untuk kejadian lainnya terjadi. In a good way.

Dan tiga itu justru bikin saya lebih siap menghadapi yang lainnya di tahun ini. Dan memaknai dengan lebih baik kehilangan-kehilangan lain di tahun sebelumnya. 

--

Kehilangan sering bikin kita merasa sedih. Ya kan?. Dan kadang jadi tergoda sekali untuk melihat bahwa kejadian-kejadian apes atau menyebalkan itu ya memang cuma bikin sebal. Tapi tiga kejadian di awal tahun ini cukup bikin saya sadar, bahwa di balik hal yang bikin mewek, atau jengkel, selalu ada yang bikin senyum. You really can smile through your tears!.

Sesuatu yang lumrah ya?. Tapi dalam kenyataannya, kan susah ya sebetulnya untuk bisa kita akui. Mewek ya mewek aja, gimana bisa senyum! #nyolot

Tapi betul sih, it was not all that bad.

Gara-gara kehilangan uang, tim kami tidak jadi pergi di bulan April. Alhasil, saya ada di Jakarta dan bukan beribu kilometer dari kota ini, saat kami menerima kabar tentang Bapak. Dan kami sekeluarga bisa mengikuti semua prosesi pemakaman Bapak di Pudak Payung. Buat saya yang sudah mengalami kehilangan Papa dengan mendadak juga tapi di saat saya bermil-mil jauhnya dari rumah, rasanya memang sudah cukup mengalami itu sekali saja seumur hidup. Jadi ada kelegaan saya hadir saat itu.

Saat saya menangis kehilangan Bapak mertua yang amat sangat baik pada kami anak-anaknya, saya tersenyum karena bisa mengucapkan selamat tinggal pada beliau.

Kehilangan rekan kerja yang handal, juga memberikan kesempatan lain.

Saya jadi bisa melihat dengan lebih jelas apa yang sebetulnya tim kami butuhkan. Jadi lebih bisa mencari kesempatan-kesempatan yang lain untuk mengisi kekosongan talenta. Ya tentunya bukan sesuatu yang mudah, tapi ternyata kami bisa melaluinya. Dan malah terasa makin kompak, sayapun jadi punya ruang buat memahami orang-orang lain di tim kami, dan mencari kombinasi-kombinasi yang terbaik.

--

Buat saya yang derajat sabarnya sangat tipis, melalui tiga kejadian itu tidak mudah. Maunya, rasa kehilangannya langsung pupus. Maunya, kekesalan yang ada karena kehilangan uang ya cepat pupus juga. Maunya, saya dapat pengganti kolega keren saya itu secepat mungkin.

Tapi hidup kan tidak begitu.

Dan akhirnya ada satu titik dimana saya merasa bahwa tidak ada salahnya melambat sesekali. Kelelahan mental obatnya bukan dengan terus berlari dan mengabaikan apa yang saya rasa, tapi justru saya harus diam sejenak.

Hening. Breathe in breathe out. Seperti dasar laut yang teraduk, dan bikin pandangan jadi kabur, kita butuh memberikan waktu agar air itu tenang. Menunggu pasirnya pelan-pelan mulai mengendap, supaya kita bisa melihat dengan lebih jernih.

Saat saya di titik lelah, dan memilih dengan sadar untuk hening dan berhenti untuk berdebat terutama dengan diri saya sendiri (ini yang paling susah!), di saat itulah saya bisa tersenyum dan melihat dengan jelas bahwa yang apes itu tidak selalu apes. Bahwa yang apes atau menyebalkan atau bikin sedih itu justru membuka jalan buat saya menyadari ada keriangan atau kesempatan yang lain. Bijak ya? #toyor

Tapi memang kita kadang sering lupa memberikan keheningan pada diri sendiri. Kita sibuk dengan debat di kepala, juga suara dari luar, tanpa sadar bahwa semua itu mengaburkan penilaian kita, mengaburkan suara yang paling jujur dari semua yang kita dengar: suara hati.

Saya percaya bahwa suara hati adalah bisikan Sang Maha buat kita. Dan di saat kita lelah, all that you need is some silence to search for that voice, listen to your heart, to what makes sense. To see that the horizon right in front of you, offers a clear view of what’s still and will be good in your life.

Dan setelah keheningan itu, yang ada adalah kejernihan. Dan juga, kesiapan buat menghadapi apapun yang lain yang akan terjadi.

Setelah merasa capek dan babak belur rasanya seperti ditabrak an invisible fast train berkali-kali, dan beberapa kali menyadarkan diri saya buat hening dan ‘merasa’ apa yang saya rasa, akhirnya malah bikin saya menghadapi tahun ini dengan, “OK deh. You want to mess with me?. You think I can’t face them?. Fine. BRING THEM ON!!”. 

Yaiya. Ada lagi lah kejadian-kejadian lain yang bikin kaget, melongo, dan tetap ada kehilangan-kehilangan lain. Tapi at least, saya bisa menghadapinya dengan kejernihan: ada keriangan di balik tiap kesulitan. Jadi, buat apa susah? #nyanyik

--

Bukan pelajaran yang heboh gimana gitu ya, tapi entah kenapa kok ya saya ‘kena’ kali ini dengan apa yang sudah dikirim ke jalan saya.

Dan semoga saja dengan itu, jalan ke tahun depan bisa lebih mudah karena saya sudah belajar buat melambatkan diri dan memberikan waktu bagi saya sendiri untuk menemukan kejernihan yang saya butuhkan. Life is never going to be easier nor simpler, but, I can make myself better in facing whatever challenges there are.

Mari sambut 2019 dengan kesiapan untuk sesekali melambat dan hening, supaya kita temukan lagi suara hati yang memberikan kejernihan. 


 


Dan, biarkan saya menghimbau karena 2019 juga akan ada kejadian penting di negeri ini: #Jokowi1periodelagi #tetapJokowi #Jokowiajalah #pesansponsor #jangankomennyampah

Di ujung pencarian

Dulu, saya juga pernah minta cuti 2 bulan. Saya capek ternyata menghadapi semua tanggung jawab dan kerusuhan memimpin perusahaan. Padaha...

Popular Posts