Monday, January 29, 2018

Pisau, dan hal-hal sepele



Dulu, waktu saya kecil, saya suka bingung kalau Mama marah-marah masalah pisau dapurnya.

Sebagai ibu bekerja, beliau selalu masak di akhir pekan. Ada asisten rumah tangga atau tidak, pasti setiap akhir pekan beliau masak. Nah beliau itu selalu punya pisau andalan. Apapun yang mau dimasak, pisau itulah andalannya.

Yang paling asik, kalau si pisau andalan itu raib, atau tumpul pas beliau akan mulai masak. Kelar deh nasib semua orang di rumah. Tahu kenapa pisau itu raib atau tumpul, atau tidak, tanpa ampun semua pasti kena getahnya.

Dan buat Riri kecil waktu itu, saya selalu sebal kalau itu terjadi karena idiiiiihhh kenapa siiiih ribut cuma gara-gara pisau!. Padahal, di dapur kami itu selalu ada satu laci yang isinya ya itu, pisau!. Jadi selalu ada juga pisau-pisau lain yang di kepala saya yaelah ye, pakai saja yang lain kenapa sih?.

Bukan cuma itu, Mama juga kelihatannya selalu in the quest of finding the best knife in the entire universe. Kemanapun kami pergi, kalau ada toko kelontong, beliau pasti selalu akan bertanya tentang pisau. Atau kalau sedang keluyuran ke luar kota, dan kalau Mama tahu disitu ada tempat pembuatan pisau bagus, pasti harus kesana.

Lalu waktu berlalu dan kelihatannya pisau bukan lagi jadi hal yang penting buat beliau. Itu juga karena semakin berumur, beliau semakin tidak kuat untuk memasak. Walaupun kadang kalau beliau sedang kebetulan masuk dapur dan ingin memasak, hal pertama yang akan beliau cari ya tetap sama sih: mana pisau yang tajam. Tapi beliau tidak lagi punya pisau khusus.

Nah. Saya kira, ya sudah. Kisah tentang pisau berakhir disitu.

Lalu saya menikah.

Di kepulangan kami ke kampung halaman Cip pertama kali sebagai suami Istri, waktu kami akan kembali ke Jakarta, Ibuk memberikan saya sebuah bungkusan. “Ri, ini bawa ya. Pisau bagus nih, buatan sini. Kuat, tahan karat dan nggak cepet tumpul”.

Sebagai menantu yang baik, ya saya senyum saja dan bilang terima kasih. Padahal jujur, dalam hati saya membatin, “Astaga. Another pisau story?. What’s with moms and knives?!”.

Di jalan, saya tanya Cip apakah Ibuk seperti Mama yang punya obsesi terhadap pisau. Ternyata oh ternyata, cerita yang kurang lebih sama seperti yang saya alami waktu kecil terjadi juga di masa kecil Cip. Yaaa mungkin derajat emosinya lebih rendah, karena Ibuk dan Mama adalah dua perempuan yang sangat berbeda. Tapi ya itu, pisau is the center of their kitchen universe. Apparently. Amazingly.

Berbeda dengan Ibuk maupun Mama saya tidak suka memasak lauk pauk. Hobi saya bikin kue. Jadi begitu saya menikah, ya saya juga hanya masuk dapur hanya kalau saya mau membuat kue. Jadi, pisau dari Ibuk pun terlupakan oleh saya.

Dan saya kira, cerita pisau berhenti sampai disitu.

Begitu punya anak, entah kenapa saya tergerak untuk masuk dapur dan berhadapan dengan perabotan dapur lebih sering. Yang pasti biasanya untuk membuatkan bekal ke sekolah dan sarapan anak-anak. Atau akhir pekan tertentu kalau anak saya minta dibuatkan sesuatu (suami? – ah thank God for Go Food).

Tapi tetap saja frekuensinya tidak sesering Ibuk maupun Mama. Jadi, tadinya, saya tidak pernah merasa harus punya alat andalan.

But one fine day, I found myself becoming like Ibuk dan Mama.

Saya tiba-tiba merasa sebal karena selalu tidak pernah menemukan pisau yang pas dengan keinginan saya. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk punya pisau sendiri.

Iya, saya niat beli pisau sendiri. Yang modelnya beda dengan semua pisau di laci pisau di dapur kami (iya…masih tetap ada satu laci yang isinya pisau. Tapi sekarang juga bercampur dengan peralatan bikin kue saya). Yang warnanya beda sendiri. Dan, tidak ada yang boleh pakai pisau itu kecuali saya.

Satu kali, pisau itu raib saat saya harus bikin sarapan anak-anak. Jeng jeeeng. And that day was ruined just because I lost my knife.

Lalu apa yang saya lakukan?. Beberapa hari sesudah hari itu saya beli pisau baru. Merek yang sama. Model yang sama. Warna yang sama. 

Dan saat itu saya jadi paham kenapa buat Mama dan Ibuk kelihatannya that seemingly insignificant tool, was the center of their kitchen universe.

Tanpa benda andalan, yang tajamnya saya tahu, yang pegangannya pas di tangan saya, yang warnanya bikin hati senang, memasak jadi berkurang kenikmatannya. The act of creating something with your own hands, hanya jadi sesuatu yang rutin, yang tak berjiwa.

Atau ya as simple as mengganggu saja sih. Tiba-tiba harus ganti pakai alat lain, yang walaupun fungsinya sama, tapi yaaaa kurang pas saja gitu lah.

#tsaaahh moment sekali ya?. Kelihatannya memang idih banget. Sok romantis. Yaelah pisau buat memotong aja gitu looh. Tapi wait a minute.

Buat sebagian perempuan, memasak adalah the extension of herself. Of her love. Of the whole her. For the family (atau buat siapapunlah yang jadi penerima masakan itu). Jadi yaaa jangan-jangan any tool yang buat si perempuan itu jadi andalan, adalah sesuatu yang memungkinkah dia meletakkan seluruh perasaannya pada apa yang diolah.

Mungkiiiin sama dengan sebuah dasi andalan seorang eksekutif muda. Atau bolpen andalan seorang mahasiswa.Atau kaos kaki andalan seorang pemain sepak bola. 

You know, things yang sebetulnya sepele. Bisa tergantikan kok, kalau mau. Cuma yaaa somehow ada saja sesuatu yang membuat si penggunanya merasa, dengan benda itu, hasil kerja atau karyanya akan jadi sesuatu yang punya nilai lebih. Bukan buat orang lain, tapi buat dirinya sendiri. Sebuah kepuasan batin yang hanya dia yang bisa merasakan. Dan kenikmatan sebuah proses pembuatan, yang cuma dia sendiri yang bisa menghayati. Dan hanya dengan si benda andalan itu.

And I’m not sure if we have ever spared time to think about it.

Tentang benda sepele yang sebetulnya membuat apapun yang kita kerjakan dengan itu, yang mungkin sebetulnya adalah pekerjaan atau kegiatan rutin yang bisa jadi sebetulnya membosankan, tapi jadi berarti dan menyenangkan. Benda yang saat dia hilang, kita bisa kalang kabut. Yang saat dia rusak, kita bisa jadi sedih tanpa nalar (hmmmm….apa ada ya sedih pakai nalar…). Dan saat digunakan orang lain, bisa membuat kita kehilangan kesabaran tanpa sebab.

Yah. Sesekali marilah berpikir tentang hal-hal sepele seperti itu. Siapa tahu, dengan itu, kita malah jadi lebih bisa menghargai apapun yang sudah kita lalui, dengan benda itu sebagai elemen kecil dalam hidup kita. 

Atau, malah jadi bisa lebih mensyukuri semua elemen-elemen kecil dalam hidup, yang jangan-jangan sudah membuat hidup ini jadi berwarna.

Who knows. 

Bahkan pisaunya sudah hilangpun, tidak ada rupanya yang berani membuang tutup pisau saya yang hilang itu. See...benda sepele yang bisa berpengaruh sedemikian besar :D

Thursday, January 18, 2018

Teknologi mencegah pikun



“Lila tadi main piano langsung didenger ayahnya?”, tanya ibu saya. 

“Iya, kan kalau lewat Whatsapp ada fungsi yang bisa langsung kirim audio”, saya jawab.

 “Ayahnya bisa langsung denger?”. 

“Iya, itu kan tinggal kirim aja. Disana ayahnya tinggal klik aja langsung bisa dengerin. Tadi juga kirim video Lila main piano”. 

Ibu saya geleng-geleng kepala, “Hebat ya teknologi jaman sekarang. Dunia udah jadi kecil aja rasanya”. 

“Tadinya malah mau video call, tapi Cip tadi masih di ruang meeting jadi ya udah kirim suara sama video aja”. 

Geleng-geleng kepala lagi beliau.

She is 80 now. Pensiunan sebuah bank.

Beliau sudah berusia 40 plus waktu dulu saat masih kerja tiba-tiba jaman berubah dan beliau harus belajar menggunakan komputer. Bukan cuma itu, beliau lalu harus mengepalai sebuah tim yang pekerjaannya justru berurusan dengan data management. Padahal, latar belakang beliau adalah sarjana muda Pendidikan Anak dari IKIP Jakarta. Beliau tidak punya latar belakang teknologi informasi sama sekali.

Beliau pernah keranjingan Pacman, game yang ngehits di tahun 80an. Kadang bisa main sampai jam 12 malam. Sepulang kerja, makan malam, sekitar jam 7 atau 8 biasanya beliau akan mengusir saya dari meja tempat komputer kami, karena beliau ingin main game itu.

Dunia lalu berputar begitu cepat. Perputaran teknologipun lama kelamaan semakin sulit untuk beliau ikuti.

Sampai sekarang beliau tidak punya telpon genggam. Pernah saya belikan, tapi lalu beliau sendiri yang menyerah dan memutuskan untuk tidak mau berurusan lagi dengan telpon genggam. “Bingung ah. Lagian kalau pergi kan Mama pasti sama yang punya handphone. Nomer telpon kamu aja Mama bawa nanti kalau butuh Mama kasih ke siapa ajalah yang punya handphone”. 

Jadi, sekarang ini saya pastikan semua orang dengan siapa beliau sering pergi, punya nomor telpon genggam saya.

Itulah interaksi ibu saya dengan teknologi.

Saya, punya cerita yang berbeda dengan beliau.

Saya pernah harus les komputer karena belajar sendiri cuma bikin saya ngomel. Lalu belakangan saya belajar program yang baru dengan teman ibu saya.  

Saya generasi yang kenal dengan floppy disk. Mengalami mencetak tugas kuliah dan skripsi menggunakan printer dot matrix, yang kalau sedang mencetak, bunyinya dijamin bisa mengalahkan suara yang paling cempreng. Di tahun terakhir kuliah, saya juga kerja. Jadi skripsi selalu harus saya kerjakan setelah saya pulang kerja, dan selalu berlanjut sampai dini hari. Saya masih ingat kalau saya harus kejar waktu ketemu dosen pembimbing skripsi di pagi harinya, saya harus mencetak draft skripsi di tengah malam atau dini hari, saya harus tutup printer itu dengan tumpukan bantal supaya bunyinya tidak bikin seisi rumah bangun dari tidur lelap.

Lalu saya masuk dunia kerja ‘beneran’, dan saya harus kenalan dengan sejumlah program lain. Saya sempat tertatih-tatih belajar dengan seorang sekretaris yang baik hati luar biasa mau mengajari saya di jam makan siang. Saya juga kenalan dengan yang namanya e-mail, dan mesin fax.

Belakangan, saya juga kenalan dengan yang namanya laptop atau notebook computer, lalu telpon genggam yang jenisnya masih feature phone. Lalu Blackberry. Lalu smartphone.

Di rumah tangga, lalu saya kenal dengan microwave, food processor, dan dalam bentuk yang paling sederhana, timbangan kue digital.

Saya punya anak, dan sekarang, anak saya yang tertua sering mengenalkan saya pada aplikasi yang sedang nge-hits di kalangan teman-temannya. Kadang saya juga harus menginstall beberapa apps gara-gara hobi, atau karena pekerjaan.

--

Teknologi, memang luar biasa.

Dia menjadikan dunia jadi terasa lebih kecil dan memudahkan komunikasi. Teknologi juga membuat hidup lebih mudah, dalam banyak hal.

Tapi begitu saya tadi ngobrol dengan ibu saya, tiba-tiba saya terpikir satu hal lagi: bahwa teknologi juga mencegah kita jadi cepat pikun.

Bagaimana tidak. Gara-gara teknologi, kita dipaksa belajar banyak hal. Atau kadang juga tidak perlu dipaksa, kita sendiri yang dengan senang hati jadi ingin belajar tentang apa yang ditawarkan teknologi.

Seperti percakapan dengan ibu saya tadi misalnya. Pasti ada yang terangsang di otak beliau saat saya cerita tentang bagaimana anak saya berkomunikasi dengan ayahnya saat ayahnya berada di benua yang berbeda. Mungkin ada yang tergetar di kumpulan sel abu-abu beliau, yang entah bagaimana akan membuat otak beliau aktif. Dan katanya kan, aktifitas sel otak itulah yang akan mencegah pikun.

Atau juga apa yang harus beliau lakukan dulu saat di usia 40 lebih. Saat beliau ‘terpaksa’ belajar tentang komputer dan data management padahal beliau tidak tahu apa-apa tentang teknologi informasi. That must have done something to her brain. Dan jangan-jangan ya itu juga yang membuat beliau masih punya daya pikir, yang menurut saya, masih sangat cemerlang di usia beliau yang sudah 80. Ditambah juga memang beliau tidak pernah berhenti membaca hingga saat ini.

Dan begitu juga generasi saya, yang sampai di usia yang tergolong pemuda sekarang ini (definisi WHO lho, sampai 60 tahun masih pemuda), tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan teknologi.

Kami padahal bukan generasi yang begitu melek, sudah berhadapan dengan teknologi yang sedemikian cepatnya. Kami dibesarkan di era analog. Baru belakangan kami mengenal digital.

Tapi jangan-jangan itu yang akan membuat generasi ini dan selanjutnya, nanti tidak cepat pikun. Karena keharusan untuk tetap relevan dengan waktu, dan keharusan supaya tetap produktif, membuat kita tidak punya pilihan lain selain terus belajar tentang atau dengan selimut teknologi yang berubah sedemikian cepatnya.

Jadi ya alih-alih menganggap teknologi adalah sebuah gangguan - apalagi para pelaku bisnis yang suka baper pada perusahaan start up, memang rasanya kita harus menggandengnya.

Cuma rasanya kita tetap harus eling, supaya kita tetap menjadi majikannya teknologi, dan bukan sebaliknya. Karena kalau tidak, bisa jadi yang diceritakan di banyak film science fiction akan terjadi. Dimana teknologi merampas begitu banyak aspek kehidupan sehingga kita lupa menjadi manusia yang dianugerahi begitu banyak fakultas fisik dan mental yang membuat kita sebenarnya adalah spesies yang terkuat di bumi.

Lalu itu menimbulkan pertanyaan lain di benak saya: siapkah kita untuk jadi majikan dan bukan malah jadi budaknya teknologi?.

Hmmmm…..let’s see.



Wednesday, January 17, 2018

To learn or not to learn, is that a question at all?



Yang butuh libur adalah yang pulang liburan.

Not sure how many times I’ve heard of that line. Dan entah berapa kali pula saya pernah menuliskannya di dinding media sosial saya.

Kenyataannya memang itu benar. Karena kadang perjalanan itu menyisakan kelelahan fisik, walaupun hati senang, jadi butuh istirahat lagi. Atau, perjalanan itu menyisakan kenangan yang terlalu indah untuk ditinggal di belakang, sehingga ingin balik lagi. Atau, ada alasan melarikan diri saat melakukan perjalanan, apapun yang dicoba untuk dijauhi, sehingga kembali ke kenyataan cuma bikin hati nelangsa, dan merasa butuh libur lagi.

Apapun alasannya, so many times that’s so true.

Saya baru saja kembali dari liburan kurang dari 2 minggu yang lalu. And the next thing I knew, I am planning the next holiday.

Bukan karena saya kelelahan dengan liburan akhir tahun kemarin, tapi saya merasa bahwa ada sesuatu yang belum kunjung saya selesaikan dengan diri sendiri. Dan saya butuh sejenak waktu buat sendiri dan berpikir ulang. Apaan sih?.

Gini.

Sebetulnya kegelisahan yang tidak kunjung selesai sejak 2 tahun lalu. I’ve been ‘diving’ in marketing research for the past 20 plus years. Dan sejalan dengan bergulirnya waktu, lama-lama saya merasa makin sulit to stay relevant.

To stay relevant dengan ilmu yang ada. To stay relevant to my client’s needs. To stay relevant to my team. Banyaklah.

Saya sering merasa the more I do, the less I know. Malah merasa makin bodoh lah. Dan ujungnya, saya sering merasa perlu buat belajar lagi. Tapi juga bingung – belajar apa ya?.

Akhirnya memang saya belajar lagi. Belajar Zumba dengan pelatih senam saya. Belajar piano lagi sejak beberapa bulan yang lalu. Belajar untuk menyelami puisi-puisi Rumi – sesuatu yang sudah sejak dulu saya ingin lakukan. Saya juga sedang berpikir ingin mencoba terjun payung – just for the sake of knowing apakah saya akan pingsan di udara atau tidak, karena aslinya saya takut setengah mati pada ketinggian.

Lha apa hubungannya dengan pekerjaan saya ya?. Tidak ada, memang.

Mungkin saya sedang ingin melarikan diri saja dari kejemuan dan kejenuhan dengan diri saya sendiri yang sudah sekian lama melakukan pekerjaan yang sama. I still like doing it, I still love some parts of it. Tapi harus saya akui bahwa saya bosan melakukannya dengan pola pikir yang menurut saya jalan di tempat. But at the same time, I don’t know how to change and where to start to change it.

Tadi siang, demi tidak diajak ngobrol oleh supir taksi online di tengah kemacetan dan hujan yang bikin murung, saya iseng browsing dengan kata kunci try and learn. Dan ketemu ini. 




Don’t ask me siapa Thomas H. Huxley itu. Saya nyomot ini dari Google bukan karena siapa yang nulis tapi karena kata-katanya.

Tulisan ini bikin saya tersentak. Have I really learned everything about something?. Kalau mau dikaitkan dengan pekerjaan saya – have I really learned everything about marketing research?. Dan saya tidak tahu jawabnya. Rasanya sih, belum.

Lalu pertanyaan lain menggelitik di hati saya: do you want to learn everything about it?, will you spend time to do it?.

Nah ini dia yang bikin saya jadi nyengir sendiri – should I?, adalah pertanyaan lain yang spontan muncul di kepala.

Aaahhh I don’t know. I guess this may just be another crisis – krisis jelita. Atau memang saya sedang ingin melepaskan diri dari kestabilan dan menantang diri saya dengan malah melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan keseharian saya.

Whatever it is, I think what Mr. Huxley has written benar adanya. Itu harus dibalik menjadi pertanyaan yang harus bisa kita jawab kalau memang kita ingin terus melangkah maju dan tidak ketinggalan saat dunia berlari sedemikian kencang dan kadang bikin kita sesak napas.

Yang jelas, rasanya, mendefinisikan dengan ajeg tentang apa yang ingin kita pelajari, yang ingin kita coba, dan bagaimana kita ingin semua itu membentuk siapa kita ke depan, adalah PR yang penting dan tidak mudah.

Atau mungkin, kadang kita juga harus berdamai dengan merasa bahwa yang penting kita masih belajar, for the sake of learning. Atau ya kalau para jelita seperti saya, supaya tidak cepat pikun.

Saya, rasanya butuh liburan lagi, buat mendefinisikan yang mana yang saya mau.

Anda, gimana?.  

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts