Sunday, February 21, 2010

Sendiri untuk Bersama

Kadang-kadang, Cip dan saya suka ngobrol remeh temeh tentang kami. Dan akhir-akhir ini, frekuensinya jadi agak sering. Karena kami sedih, prihatin, dan juga, ada sedikit rasa takut. Beberapa kali kami menerima kabar teman-teman terdekat kami mengalami kesulitan dengan perjalanan kebersamaan. Dan itu membuat saya dan Cip jadi suka ngobrol dan melihat ke dalam, apa kita ini sudah cukup solid?.

Salah satu pertanyaan yang dulu sering sekali ditanyakan oleh ibu saya di awal perkawinan kami adalah, mau jadi pasangan seperti apa sih kami ini. Satu pergi, satu ada di Jakarta. Kadang kami berselisih jalan di airport. Waktu itu belum ada Tara. Setelah ada Tara-pun, kami berdua masih sering terpisah jarak. Padahal, di awal perkawinan saja kami sudah terpisah selama setahun. Dan waktu Tara masih berupa janin 4 bulan, kami terpisah lagi selama hampir 5 bulan.

Lalu waktu Tara sudah berusia 3 tahun, kami bikin kesepakatan. Kami tidak akan mungkin bisa menghentikan desakan hati untuk menjelajah apa yang bisa kami jelajahi di bumi ini. Tapi tidak mungkin untuk selalu memboyong Tara ke semua tempat yang ingin kami jelajahi. Jadi, sepakatlah kami bahwa kalau ada waktu untuk salah satu di antara kami untuk pergi ke suatu tempat, pergi saja. Dan itu membuat baik saya maupun Cip beberapa kali traveling sendirian, dan bergantian sekaligus jadi ayah dan bunda untuk Tara selama beberapa waktu.

Beberapa kali saya, dan mungkin lebih sering Cip, ditanya oleh teman-teman kami. Kok bisa sih jalan sendiri-sendiri terus?. Iya ya, kok bisa ya?. Rasanya jawabannya cuma satu: kami memang sama-sama butuh ruang itu.

Saya pernah tanya pada Cip, ”Are you sure kita ini akan baik-baik saja dengan kebutuhan kita untuk punya ruang pribadi yang sedemikian besar?”. Dia cuma melihat saya dan bilang, ”Kalau kita nggak punya ruang pribadi, terus kita ini mau jadi apa?. Kamu ya kamu, aku ya aku, nggak akan pernah bisa jadi satu orang, ya kan?”.

Dan iya sih. Saya rasanya akan jengkel juga kalau Cip tidak mengizinkan saya sendirian sekali-sekali, dan sebaliknya. Kami berdua mungkin ketemu pada saat kami sudah demikian terbiasa dengan kesendirian, dan melakukan banyak hal sendiri. Jujur saja waktu kami memutuskan menikah, the idea of having to meet the same person day in day out, itu agak mengerikan buat saya. Jadi waktu kami menikah dengan penuh kesadaran bahwa 3 bulan sesudahnya Cip akan pergi ke Eropa untuk setahun, itu buat saya jadi semacam pembenaran, bahwa anyway saya memang tidak akan pernah bisa menjalani 4L: Loe Lagi Loe Lagi.

Dan karena kami sering terpisah, baik karena pekerjaan ataupun desakan hati untuk bertualang, saya malah jadi makin menikmati pada saat kami bersama. Detik saya membuat tulisan ini, Cip ada di hadapan saya. Dengan muka tertekuk mengerjakan PR dari bos barunya. Tapi saya menikmatinya. The fact that he’s there, is more than enough. Rasanya mungkin kalau kami ketemu terus setiap hari, saya tidak akan pernah bisa menikmati detik-detik sederhana dari sekedar keberadaan fisiknya. Dari sekedar melihat kernyitan dahinya yang semakin banyak seiring matanya menatap nanar layar laptop. Dari sekedar mendengar helaan nafasnya. Dari sekedar membatin melihat kebiasaan buruknya minum es pada jam berapapun. Hal-hal remeh-temeh yang, saat dia tidak ada, saya kangeni.


Semalam, kami ngobrol lagi tentang kami. Dan dia bilang sesuatu yang buat saya, was very true, sekaligus juga membuat saya jadi amat mengerti kenapa dia tidak pernah keberatan walaupun kadang ditinggal sendirian.

Dia menggambarkan perasaannya waktu minggu lalu saya tinggal ke Singapura, ”Aku seneng bisa nikmatin kesendirian, seneng karena bisa pulang jam berapapun tanpa tahu ada yang nungguin. Tapi yang paling penting, aku tahu aku punya tempat pulang, aku nggak sendirian ngejalanin hidup. Ada kamu dan Tara walaupun waktu itu secara fisik kalian nggak ada”.

Kebersamaan memang harus diresapi, dirasakan di hati. Dan bukan melulu dianggap sebagai cara menjalani kehidupan fisik, yang akhirnya mungkin membuat kita jadi take things for granted. Cara kami menjalaninya, adalah dengan berpisah sekali-sekali. Karena keterpisahan membuat kami sadar, bahwa kami memang saling membutuhkan. Dan sejauh apapun kami berjalan, baik saya dan Cip akan pulang kepada ’kami’. Lalu berharap, apa yang dibawa dari berkelana sendiri itu, akan mengayakan perjalanan batin sebagai ’kami’.

Mari meresapi kebersamaan, bagaimanapun caranya.


Cip di Vietnam, Desember 2009. Saya biarkan dia bertualang sendirian, karena hanya dengan cara itu saya bisa mengenal Ciptadi secara utuh...


(RIRI)

Books to Treasure


I just finished immersing myself in a series of books which I think, are worth to keep for the next generation to read.

The Mysterious Benedict Society. So imaginative, and has captivating plots. A rich story about friendship, working together, and coping to live with others though sometimes they can be annoying.

I love each of the main characters:

  • Reynard 'Reynie' Muldoon. An orphan who is good at practical problem solving. Very observant, can read between the lines. Often looked at by his friends for his ability to make the complicated, simple.
  • George Washington, or Sticky. A fast reader, reads everything, and everything that he reads, sticks in his mind. Hence the nickname. He knows everything that's in every written material. He has photographic memory. But different from Reynie who is very calm, Sticky is a nervous boy. Polishing his glasses when he is nervous is his habit.
  • Kate Wetherall. Very resourceful, athletic teen. She carries a bucket filled with all sorts of things - from a Swiss army knife to a bag of marbles. She is fearless, and will fight with anyone who is trying to harm her or her friends
  • Constance Contraire. A two years old with such intelligence. She also has a psychic mind - able to detect things before they happen. But being a two year old, she is also stubborn, and sometimes projects herself as someone who lacks manners.


These four geniuses met in the Mysterious Benedict Society - formed by a Mr. Nicholas Benedict, or Mr. Benedict. They passed several tests (described meticulously in the first book) that Mr. Benedict developed to screen those who could be part of this group. One of the questions that I really loved in that test was: Do you enjoy watching TV? (or something in that relation, I forgot what the actual question was). And these four kids’ answer was NO. Oh how I adored that part!. To me it’s a support to my belief that kids who enjoy doing other things more than watching TV, will have a lot more in their heads.

Mr. Benedict himself is a brilliant thinker. But he is not only a genius; he is also compassionate, and eager to teach the kids about how to live this life with a heart and not just with a brain.

The society was formed to fight a Ledrophta Curtain, who was actually Mr. Benedict’s twin brother who was separated at birth.

In the first book, Mr. Curtain wanted to rule the world by erasing everyone’s memory with a machine called The Whisperer. And so the four kids, with Mr. Benedict, his two assistants and a secret agent named Milligan (who later was found to be Kate’s father), had to put up quite a strategy and real fights to abort Mr. Curtain’s evil scheme.

--

I have finished reading the second book, which was as captivating as the first one. These books are filled with interesting riddles, and puzzles, and cute little dramas of the kids when they got on each other’s nerves. Especially when Constance threw some of her not-so-great moods, being a toddler. The dynamic between the four personalities, as well as between the kids and the adults around them, is so touching as well as it is mind-opening. How the adults treat each kid with respect – when sometimes kids are ‘seen but not heard’. How Mr. Benedict always tries to tell the kids a lesson or two about life, and about people, when they are confused and scared.

I really recommend this series to be kept ready in your bookshelf. If your kids love adventure, I am sure they will love them.

If they don’t, or you havent' got kids, well, you will still be able to enjoy it. It’s a dreamland that we have forgotten to immerse in thanks to our duties. To me it’s a reminder to step back and just let my mind wander off. To remember what I felt when I pretended to be a pirate when I was a child. It’s simply delightful.



the second book - reunion after a year of the first adventure, that led the kids to yet another adventure




I have not read this third book, but am sure it will be as captivating as the first two books...

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts