Thursday, August 27, 2009

La Ilaha Ila Allah, Rumi, dan Odading..

Puasa selalu mendorong saya untuk membuka kembali buku-buku agama di rak lantai atas yang cenderung berdebu karena jarang tersentuh. Diantaranya adalah buku-buku tentang kumpulan hikmah dalam kisah-kisah ringan..

Salah satu diantara kisah kisah kuno penuh hikmah yang paling berkesan, menceritakan kehidupan para siswa di sebuah padepokan teologi di Jawa Tengah, di abad pertengahan. Di sana siswa dididik filsafat dan teologi keagamaan, agar kelak menjadi para pendakwah dan pemikir yang merintis penyebaran Islam ke seluruh penjuru Jawa.

Mereka mendalami logika Aristotelian, sekaligus mempelajari perdebatan Tahafut antara Ibn Rusyd dan Al Ghazali. Mereka terampil membuktikan keberadaan Tuhan menggunakan nalar maupun perumpamaan. Mereka mempelajari sifat-sifat Allah dan bagaimana membahasakannya ke alam pikir Kejawen. Mereka menguasai teknik debat untuk bertanding dengan para Mpu. Mereka mengenal baik aturan-aturan fikih, dan bagaimana membuat orang terpesona pada agama baru yang demikian trend di Tanah Jawa waktu itu..

Pendek kata mereka adalah anak-anak muda terpilih. Para perintis.

Syahdan, salah satu diantara para siswa, Ngabdi, adalah yang paling bodoh diantara mereka. Ngabdi selalu lambat memahami persoalan teologi yang pelik, terbata-bata dalam perdebatan, dan gagal merujuk nama Imam-Imam besar pada tiap argumen-argumennya. Ngabdi betah menempati nilai terendah di tiap ujian.

Meski terbelakang, Syaikh Puteh, demikian nama guru besar di padepokan ini, mencintai dan bersikap amat sabar pada Ngabdi. Siswa lain tak mengerti. Menurut mereka, dengan logika dan referensi yang tumpul, Ngabdi bukanlah calon paderi perintis sejati.

Sampai tibalah hari itu, ujian terpenting dari yang paling penting. Saat tiap siswa diminta menjelaskan makna La Ilaha ila Allah..

Fulan menjelaskan dengan luar biasa, menyebut semua aliran yang dikenal di dunia Islam, untuk memaparkan keluasan konsep “Tiada tuhan selain Tuhan”. Siswa yang lain memaparkannya dalam bahasa yang puitis. Dan semua, dengan caranya sendiri, menghasilkan argumen-argumen tentang Tuhan – dalam sudut pandang Islam – secara mengesankan.

Tibalah giliran Ngabdi.

Ketika kepadanya ditanyakan makna La Ilaha Ila Allah, si Bodoh gemetar. Dari mulutnya, tak sepatah katapun keluar. Dan yang ia lakukan selanjutnya, adalah berlari ke pekarangan padepokan, mendaki pohon kelapa paling tinggi dan segera menjatuhkan dirinya ke bawah.

Semua siswa terkejut, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Ngabdi. Mereka berteriak menghambur keluar, untuk mendapati teman mereka terbaring di tanah, memar-memar kesakitan. Diantara erangan, Ngabdi menjelaskan secara lirih: bahwa La Ilaha Ila Allah adalah menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan tanpa syarat. Kata-kata tak bisa menggambarkan kedalamannya. Dan tindakan adalah segalanya...


[…]

Kisah Ngabdi, mengingatkan saya pada sebuah bait milik Rumi. Dalam kumpulan “Permata Zikir” itu, buku yang dulu sering saya keloni saat masih kost, Rumi bilang:

A spiritual warrior, first give a way his bread,
But when the light of devotion strikes upon him,
He give away his life..

Seorang pejuang ruhani, pertama-tama akan membagikan harta benda miliknya.
Namun saat cahaya penghambaan menyentuhnya,
Ia menyerahkan hidupnya (untuk pelayanan)..





[...]

By the way, menyerahkan hidup, tak selalu berhubungan dengan tema-tema besar: seperti melayani kemanusiaan, atau menghadapi maut demi keadilan. Bisa juga kejadiannya sehari-hari. Dan ngomong-ngomong tentang kost, di tempat inilah salah satu pengalaman keagamaan paling berkesan pernah saya alami. Sesuatu yang amat sehari-hari. Kejadiannya Ramadhan juga, belasan tahun yang lalu, waktu saya masih kost di Bandung.

Di tempat kami waktu itu, salah satu makanan populer yang banyak ditenteng pedagang kaki lima, blusukan diantara gang-gang kost mahasiswa, adalah “odading”. Orang Jawa menyebutnya bolang-baling. Odading ini biasanya muncul di pagi menjelang orang berangkat kerja, atau sore hari saat anak-anak membutuhkan cemilan. Odading demikian dicintai karena murah, hangat, dan mengenyangkan..

Jadi bunyi teriakan “ooooo-daaa-ding…!” adalah musik yang sangat akrab dengan telinga saya tiap pagi dan sore, kecuali di saat Ramadhan. Mengapa demikian?

Ternyata di bulan Ramadhan, para pedagang odading menyesuaikan ritme jualannya dengan jadwal sahur dan buka kebanyakan orang Jawa Barat, yang mayoritasnya Muslim. Mereka biasanya mulai keluar jam satu dinihari dan bertahan sampai sekitar jam empat pagi menjelang shalat subuh.

Dapat Anda bayangkan situasinya, bukan hanya mereka harus bekerja ekstra keras dengan keluar rumah tengah malam. Omset dagangan mereka -- menurut pengakuan salah satu pedagang yang pernah saya ajak ngobrol -- pun tinggal sepertiga dari biasanya. Ya bayangkan saja, siapa mau sahur atau berbuka dengan ganjel perut bernama odading? Tidak cukup bergizi untuk sahur, dan kurang nikmat untuk berbuka.

Meski demikian, bapak itu tersenyum, waktu saya tanya: “Apa tidak sebal, Pak, tiap Ramadhan tiba? Kan dagangan Bapak jadi tidak laku?”

Jawaban bapak Odading, sungguh diluar dugaan kepala saya yang waktu itu penuh dijejali oleh rumusan agama dan filsafat:
“Ya, enggak atuh, Den! Ramadhan kan nikmat. Lagian kalau Allah menciptakan perut, Allah pasti bertanggung-jawab untuk membuatnya kenyang. Nyamuk saja, makhluk leutik, bisa kenyang. Apalagi saya, Den, makhluk paling mulia di sisi Tuhan. Allah pasti kasihan sama saya. Meski tidak gampang, rejeki Insyaallah teh, selalu ada….”

Jawaban sederhana penuh penghayatan itu membuat hati saya gegar. Bapak ini tentu tidak hidup serba berkecukupan. Namun demikian, kesulitan hidup tak mendorongnya berbuat zalim, menggerutu, atau putus asa.

Alih-alih, si Bapak tetap menjalani hidup dengan penuh keyakinan akan rahmat dan rejeki Allah, yang mengalir melalui benda paling tak penting, bernama odading, yang ia jajakan itu.

Pendek kata, ia menyerahkan diri dan hidupnya, sebagaimana bait puisi Rumi, dan kisah si Ngabdi di atas.





Semenjak kejadian itu, tiap saya mendengar teriakan “oooooo-daa-ding….!” -- atau penjaja makanan lain, di jam-jam yang paling muskil -- yang saya dengar adalah himne tentang keagungan Tuhan. Tasbih, tahmid, dan takbir. Bunyi yang keluar dari kerongkongan si bapak pada dini hari sepi nan gulita itu, mungkin memang nama dari makanan paling remeh yang pernah dibuat manusia: odading.

Tapi nafas yang menggerakkannya untuk tetap yakin pada rejeki Allah, bahkan pada dini hari buta, adalah kepasrahan pada Tuhannya..

Maha Suci Tuhan! Salam Odading! Salam Ramadhan!


(CIP)

No comments:

Post a Comment

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts