Sunday, October 16, 2016

Dua konser, dua dunia, untuk satu jiwa



Dalam seminggu kemarin, saya dua kali nonton konser musik. Yang menarik buat saya, adalah betapa bertolak belakangnya kedua konser itu.

--

Yang pertama, konsernya Morrissey.

Jujur saja saya bukan fans beratnya bapak ini. Punya suami dengan selera musik macem-macem yang bikin saya terpapar dengan pemusik ini. Dan memang setelah saya tadinya nggak sengaja dengerin Morrissey dari CD koleksi Cip di mobilnya, saya suka dengan lagu-lagunya.

Ada beberapa lagu Morrissey yang sarat kritik sosial, yang kadang menurut saya diutarakan dengan cara yang cukup kasar kalau dengerin liriknya. Ada juga beberapa lagu yang, kalau didengerin, bukannya jadi seneng, malah bisa jadi depresi karena terlalu banyak kenyataan hidup yang pedih dan bikin nyesek yang dia utarakan dengan cara yang lugas. Tapi ada beberapa lagu yang jadi favorit saya, misalnya Suedehead, First in the Gang to Die, dan ada beberapa yang jujur saya nggak tahu judulnya...hahaha. 

Saya diajak nonton konser ini sebagiannya karena waktu Cip beli tiketnya, dia tahu saya sedang suntuk. Menurut dia kesuntukan saya bisa selesai lewat sesuatu yang beda: nonton konser musik dari pemusik yang nyeleneh. 

Saya nggak nolak juga diajak. Yaelah gratis, ya mosok ditolak. Dan yang ngajak pacar, ya mosok ditolak. Lalu ya kapan lagi saya nonton pemusik nyeleneh kalo nggak sama Cip.

Nah waktu nonton konsernya hari Rabu minggu lalu, di salah satu lapangan terbuka di Senayan (yang becek dan berlumpur karena sehari sebelumnya hujan deras), kami datang agak awal. Konser dimulai jam 8, kami sudah ada disitu sejak jam 7 lewat. Jadi kami sempat nunggu.

Waktu nunggu itu kami disuguhkan kompilasi dari berbagai video clips. Super campur sari. Dari Tina Turner sampai entah penyair siapa. Tapi benang merahnya kurang lebih sama: ada kegetiran, ada kritik sosial, ada kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Ya pokoknya seperti melihat hidup yang naik turun ini lah (tsaaahhh....).

Waktu akhirnya konser dimulai, saya baru paham apa wanti-wanti Cip sebelum nonton: ini pemusik yang sesuka hatinya kalau nyusun line up lagu. Apa yang jadi hits-nya malah belum tentu dia akan nyanyiin, jadi siap-siap aja malah bingung.

Dan iya sih, bener aja. 2 lagu pembuka, saya seneng karena tahu lagunya. Dan terasa juga keseruan para penonton (yang kebanyakan kelihatannya millenials kalau lihat kepala yang belum beruban dan pakaiannya), yang ikut jijingkrakan di 2 lagu pertama.

Begitu lagu ketiga, saya sampai ketawa. Sepertinya orang bingung harus bereaksi seperti apa.

But anyway...sampai sebelum lagu terakhir, saya menikmati sekali walaupun saya nggak kenal beberapa lagunya. Saya menikmati eksperimen Morrissey dengan beberapa alat musik dari negara lain. Termasuk, sebuah gong besar di belakang pemain drumnya. Walaupun eksplorasinya tidak segila dan setotal Sting, tapi saya tetap suka.

Seperti yang sudah dibahas di koran Kompas hari Minggu ini, memang konser ini berhenti mendadak. Setelah lagu yang isinya protes terhadap kebiasaan kita makan daging, protes terhadap gimana para pemakan daging membiarkan pembunuhan terhadap hewan yang dimakan, gimana para pemakan daging seperti menutup mata pada proses yang tidak layak pada banyak hewan di rumah pejagalan, tahu-tahu, dia ngilang. Begitu saja. Penonton ngegerundel. Tapi yaaa....nggak ada tuh yang protes yang gimana gitu.

Menarik banget lihat reaksi penonton yang antara percaya nggak percaya kalau si Morrissey mengakhiri konsernya begitu aja. No goodbye, nothing. Ya belakangan baru saya tahu kalau dia ngambek liat ada penonton yang merokok (memang masukpun dilarang bawa rokok dan tas diperiksa habis di 3 point pemeriksaan. Dasar akal kita ya, atau dasar perokok, I dare say...nemu aja jalan nyelundupin yang nggak boleh).

Waktu belum tahu alasan dia berhenti gitu aja, buat saya itu menarik bahwa penonton seperti pasrah walaupun bingung. Bahwa loe harus punya karya yang cukup gila untuk bisa dimaafkan berperilaku abnormal. Untuk bisa punya sikap bahwa, “Gue di atas panggung karena gue mau dan gue menikmatinya, bodo amat loe suka atau nggak pokoknya gue suka”, yang jelas banget kelihatan dari gimana dia berinteraksi dengan penonton dengan kata-kata seenak udelnya, dari susunan lagu yang dia pilih.

Kalau karya Morrissey bukan yang sarat dengan kritik, dengan pahit getirnya kehidupan yang dia sajikan dengan begitu lugas, mungkin penonton nggak bisa selegowo itu nerima kelakuannya kemarin itu. 

Ini dia pasti sengaja milih pakai Bahasa Indonesia di akhir lagunya yang lumayan bikin depresi karena saya masih makan daging dengan latar video yang luar biasa nyata tentang segala perlakuan terhadap hewan di rumah pejagalan
 -- 


Konser kedua yang saya tonton Sabtu minggu lalu, kali ini dengan si sulung, adalah Vienna Boys Choir.

Sekelompok anak laki yang kebanyakan dari Austria tapi ada juga dari negara lain, dengan suara jernih, menyanyikan komposisi-komposisi dari para komposer terkenal di dunia. Dari Ave Maria, lalu sejumlah lagu klasik, sampai lagu permainan suara binatang, lalu Jali-jali,  Edelweiss, Santa Lucia, dan sejumlah lagu lain yang dinyanyikan dengan suara alto dan soprano sejumlah anak laki yang bikin saya bingung itu latihannya gimana; karena di kepala saya, ngatur anak laki berusia mungkin sekitar 8 – 11 tahunan, bukan masalah mudah.

Indah, tertata, rapi, manis, santun.

Mendengarkan Vienna Boys Choir buat saya seperti menemukan oase di tengah hiruk pikuknya dunia. Bahwa kejernihan suara sekelompok anak-anak, yang membawakan lagu-lagu indah dengan kepolosan mereka, itu pengingat bahwa sekejam-kejamnya hidup, masih ada hal-hal yang menyembuhkan jiwa. Musik, adalah penyembuh. Dan melodi yang dibawakan suara jernih kanak-kanak, adalah penyembuh yang paling manjur bagi luka-luka dalam jiwa.

Lebay ya?. Tapi harus ada yang mau berpikir sedikit lebay saat nonton sejumlah anak di panggung bernyanyi dengan sepenuh hati dan dengan tingkat presisi nada yang luar biasa. Lebay itu perlu saat mendengarkan melodi-melodi lembut mengalun indah. Kalau itu tidak menyembuhkan jiwa, lalu, buat apa ada musik seindah itu?.

--  

Dua konser yang sangat berbeda, tapi buat saya, sama-sama karya yang hebat. Sama-sama menunjukkan dedikasi yang gila.

Ya bayangin, sejumlah anak laki usia segitu, pasti latihannya berjam-jam untuk bisa nyanyi demikian indahnya. Padahal di usia mereka mungkin kalau dibiarin ya mendingan main sepeda, atau lari-larian di lapangan. Seperti kata Tara, “Kok bisa sih ya mereka nyanyi sebagus itu, boys temen-temenku aja kalau ada kerja kelompok aja banyakan mainnya. Mereka ini gimana ya latihannya”.

Sementara Morrissey, pada jalur kegilaannya yang unik dan buat sebagian orang mungkin aneh, tapi buat saya menunjukkan kejujurannya berkarya dari hidup yang memang kadang pahit ini. Dia mendedikasikan dirinya pada kepahitan hidup,  sepertinya. Sementara karya lain mungkin sibuk pada kisah cinta, harus ada penyeimbang macam Morrissey yang mengangkat sisi-sisi gelap kehidupan.

Dua konser yang seperti datang dari dua dunia yang berbeda. Tapi sebetulnya sama-sama menunjukkan betapa musik, jika saja kita mau berhenti dan menghargai setiap nada, lirik, dan bagaimana setiap lagu diciptakan, punya dampak yang besar pada kehidupan, dan pada dunia dalam masing-masing pribadi.

Dengerin Morrissey, saya seperti diingatkan bahwa hidup memang getir, jadi jangan terlena saat kita dalam kebahagiaan karena bisa jadi itu semua semu. Sementara dengan Vienna Boys Choir, saya diingatkan bahwa segetir-getirnya hidup, selalu ada muara-muara ketenangan asal saya masih mau mencarinya dan tidak menyerah pada kegetiran.

--
 
Yah begitulah. Sebuah minggu yang menarik buat saya gara-gara dua hal itu. Entah kapan ada lagi pengalaman menarik seperti itu.

(R I R I)





No comments:

Post a Comment

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts