Saturday, October 8, 2016

Membangun jembatan dalam 1 akhir pekan



Bukan, ini bukan mau bikin cerita tandingan Bondowoso yang berusaha bikin seribu candi buat si cantik Roro Jonggrang. 

Ini cerita tentang membangun jembatan hati. Yang memang, nggak mungkin juga terbangun cuma dalam 1 akhir pekan. Tapi rasanya, usaha menuju kesana, bisa dimulai dari suatu akhir pekan.

--

Waktu remaja, saya ngalami berdebat dengan ibu saya tentang hal-hal yang menurut saya sepele. Saya yang nggak pernah rapi, nggak pernah sudi pakai rok kecuali ke sekolah dan acara pesta, yang kamarnya selalu berantakan kecuali hari Minggu (karena itu hari dimana saya beresin kamar). Dan sederetan hal lain yang selalu sukses bikin saya kena omel. 

Katanya, anak perempuan memang akan mengalami itu dengan ibunya. Akan terjadi gesekan di usia remaja, karena ibu punya ekspektasi tertentu tentang ‘menjadi perempuan’ dan pastinya si anak juga punya ekspektasi dan keinginan yang lain, yang bukan nggak mungkin bertentangan dengan maunya si ibu. Saya, nggak luput dari yang begitu itu.

Lalu ada almarhum Papa. Orang yang dalam masa-masa itu saya anggap sebagai ally, sekutu terbaik karena beliau jarang berkomentar. Dan yang paling saya ingat: sederetan perjalanan berduaan dengan beliau. Saat kami bercerita tentang banyak hal remeh temeh, saat saya kenal siapa Pak Rustam di masa kecil dan masa-masa perang di tanah Jawa.

Saat-saat itu terpatri kuat di benak dan hati saya. Saya hanya ingat sekelebatan kecil tentang tempat-tempat yang kami datangi – yang seringkali entah ada di mana. Tapi, sampai sekarang, saya masih ingat rasa yang ditimbulkannya: nyaman, hangat, aman.

--

Begitu punya anak, yang dua-duanya perempuan, ketakutan saya kembali pada ingatan saya di masa remaja saat saya sering berdebat dengan Mama. Saya tahu hal itu tidak mungkin dihindari, tapi saya juga ingin paling nggak saya masih bisa nyambung dengan mereka.

Masalahnya, saya punya stok sabar yang lumayan tipis.

Cip menjuluki saya ‘the dog whisperer’, karena dua hal. Pertama karena entah gimana anjing galakpun bisa diam kalau saya dekati pelan-pelan. Kedua, karena menurut Cip (dan belakangan saya terpaksa mengiyakan observasinya), kalau saya sudah marah pada anak, keluarlah suara dalam, berat, nggak kenal kompromi, dengan kalimat-kalimat singkat, macam pelatih anjing yang bilang, “Blacky, sit”. Ganti saja itu dengan, “Tara, bisa nggak dengerin aku”. Atau, “Lila, beresin mainannya”. Dan memang, kalau saya sudah begitu, tidak ada satupun yang bakal berani membantah saya.

Cip juga bilang kalau saya kadang terlalu keras pada Tara. Terlalu sering meminta dia melakukan ini itu. Terlalu sering bilang kalau dia salah melakukan sesuatu. Terlalu sering ngomel. Dan dia sering mengingatkan saya supaya kalau mau marah pada Tara, stop and breathe, supaya saya menahan diri dan tidak bikin dia merasa terlalu sering dikritik oleh bunda.

Diingatkan seperti itu pastinya bikin saya takut. Saya berusaha nahan diri kalau sadar darah mulai naik saat menghadapi Tara. Tapi gimanapun juga selalu ada saat-saat dimana suara meninggi dan kami jadi berdebat – apalagi sekarang, saat hormon perempuan di tubuhnya mulai beraksi.

--

Suatu hari, saat Cip dan saya sedang duduk-duduk di warung di siang yang panas di kompleks Angkor Wat, kami ngobrolin anak-anak. Saya menyuarakan kekhawatiran saya: saya sadar saya sering kehilangan kesabaran, apa mungkin nanti Tara akan tetap bisa merasa saya adalah ibu yang bisa jadi tempat dia cerita. Apakah mungkin saya bisa mematri rasa itu di benaknya: nyaman, hangat, aman.

Dan, datanglah tantangan itu dari Cip.

“Travel gih berdua Tara. Over the weekend aja dulu. Nggak usah jauh-jauh. Kalau kalian bisa nggak bertengkar selama 2 hari itu, aku ganti semua expenses kamu di perjalanan”.

Dua hal di ide itu: travel dan tantangan, kontan saya terima. Itu, adalah kesempatan terbaik buat membangun pelan-pelan jembatan yang lebih kuat di antara hati kami. Jembatan yang dibangun di atas sebuah petualangan kecil. Yang mengingatkan saya pada apa yang dulu saya alami bersama almarhum Papa.

Dan saya selalu percaya: perjalanan mengeluarkan kita dari comfort zone. Dan saat itu, kita akan jadi siapa kita yang sebenarnya – tanpa topeng. Itu, adalah saat terbaik buat membuka diri pada siapapun.

Dengan itu, saya mulai petualangan kami yang pertama.

--

Sebuah perjalanan pendek, ke Borobudur dan Punthuk Setumbu untuk lihat sunrise, jalan-jalan ke Yogya, dan ke Prambanan dan sekitarnya.

Perjalanan, yang ternyata, seperti yang saya duga, belum bisa imun dari pertengkaran (dan pastinya, saya nggak jadi dapat ganti biaya perjalanan deh :D).

Tara menikmati naik ke Borobudur dan menunggu sunrise. Tapi ternyata minta dia bangun jam 4 pagi, lagi, keesokan harinya untuk ke Punthuk Setumbu adalah sebuah kesalahan. Kombinasi dia capek karena hari sebelumnya kami jalan cukup lama, dan fakta bahwa, “Ini kan liburan, kenapa sih jadinya aku harus bangun pagi terus”, itu ternyata killer combination untuk bikin dia jengkel.

Tapi kami menikmati kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Kami ketawa ngakak saat Google Maps membuat kami tersesat ke jalan desa yang buntu dan sedang diperbaiki. Kami menikmati obrolan-obrolan remeh temeh. Saya ketawa dengerin Tara cerita tentang sekolah dan teman-temannya.

Saya ganggu dia tentang periode naksir-naksiran, yang ternyata, belum dia rasakan. “Kak, kalau nanti ada cowok bilang suka sama kamu, gimana”. Dan dia jejeritan sambil ketawa bilang, “Aaah bunda, ngapain sih ngomongin itu”. “Lho Kak, itu akan terjadi satu hari nanti lho. Kamu juga akan suka sama cowok satu hari nanti. Sekarang aja belum”. 

Dan dia ngakak nggak bisa berhenti – ngebayangin naksir cowok buat dia ternyata masih sebuah hal yang aneh, lucu, dan ini yang asik: jijik. Saya bilang, “Sekarang mungkin njijik’i, nanti, kalau kamu lebih besar lagi, that may be one of the best feeling you can have: to like and be liked by a guy. Percaya kata bunda deh”. Dan dia malah makin ngakak. 

Di tengah ketawa-ketawa itulah saya coba sisipkan pesan-pesan sederhana tentang menjaga diri dan kehormatannya sebagai perempuan. Saya juga ceritakan kekhawatiran saya tentang masa depannya dan kenapa, saya mungkin sering ngomel. Tapi ternyata, di mata Tara, “Bunda emang kadang-kadang bossy, nyebelin banget kalau lagi gitu. Tapi bunda konyol. Kelakuan bunda kadang-kadang aneh gitu, jadinya lucu aja”. Hmmm....kredibilitas macam apa yang sedang saya bangun di mata anak saya, ya....hahahaha. 

Obrolan-obrolan yang terjadi mengalir begitu saja. Saya juga nggak bermaksud menasehati dia, tapi untuk lebih memahami dia, dan mendengarkan dia dengan sepenuh jiwa raga saya.

Saya juga belajar dalam dua hari itu, bahwa saya yang harus berubah. Saya yang harus beradaptasi.

Perjalanan kemarin mengajarkan saya bahwa saya harus mulai menghormati area yang dia inginkan. Saya harus mulai melibatkan dia, menyusun itinerary misalnya, mencari tempat-tempat asik untuk nongkrong dan makan. Saya harus belajar untuk nggak pakai agenda saya saat merancang perjalanan. 

Saya belajar bahwa mendengarkan dia, sesepele apapun ceritanya, adalah hal yang menyenangkan. Bahkan saat saya nggak ngerti apa yang dia ceritakan, tetap menyenangkan. 

Tara sedang baca sebuah novel karya Tere Liye, dan dia menceritakan cuplikan-cuplikan cerita dari novel itu. I had no idea what she was talking about, tapi mendengarkan dia, yang seperti ingin mengajak saya menyelami apa yang sedang dia nikmati, rasanya menyenangkan sekali. 

--

Waktu nunggu pesawat pulang ke Jakarta, saya kirim pesan via WA ke Cip: I had a great time. Nggak tau apakah Tara juga had a great time. 

Jawaban Cip bikin saya senyum: ah dia kan sebenernya bangga dan sayang sama bundanya, pasti seneng jalan sama kamu, nggak usah ditanya. 

Ya mungkin. Entah, saya memang nggak nanya. Yang jelas, ada candu baru di hidup saya: perjalanan berdua saja dengan dia, dan kelak akan saya lakukan juga dengan adiknya, membangun jembatan-jembatan kecil, yang bikin nyaman, hangat dan aman. 

Kenapa harus berdua saja? – karena, saat itulah saya bisa bikin dia merasa, bahwa saya ada disitu cuma buat dia. Persis seperti yang saya rasakan dulu setiap almarhum Papa ngajak saya pergi berdua. Saat-saat yang kami nikmati sepenuhnya. Cerita-cerita yang kami pupuk pelan-pelan. Dan rasa yang terpatri kuat. Itu, tak tergantikan. Jadi jembatan hati yang abadi, tak lekang oleh waktu.

(R I R I)
Kami sama sekali nggak mirip, kecuali, sama-sama temperamental mungkin :) Moga-moga jembatan-jembatan kecil yang sedang berusaha saya buat, kelak akan tetap bikin kami nyambung, even with all the differences and arguments as she grows up
 

No comments:

Post a Comment

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts