Wednesday, July 15, 2015

Apa yang dimenangkan?



Meraih kemenangan.

Itu selalu tema utama yang diusung menjelang hari raya Idul Fitri. Memenangkan perang dengan hawa nafsu. Mencapai ‘fitri’ seperti dulu ketika dilahirkan.

Kenyataannya, saya malah jarang sekali merasa menang setiap habis Ramadhan. Justru, saya sering merasa saya kalah, KO. Boro-boro merasa ‘fitri’, merasa ‘lebih baik dari kemarin’ saja tidak pernah bisa.

Saya mungkin menang perang melawan lapar. Perang melawan ngantuk. Perang melawan ketololan maksimal dan akut setiap jam 2 siang sampai 5 sore selama puasa Ramadhan.

Tapi apakah saya menang perang melawan keinginan mencela orang?. Mungkin nggak diucapkan, tapi selaluuu saja ada yang tercetus dalam hati. Walaupun selalu diikuti ‘astaghfirullah’ sesudahnya. Apakah saya menang melawan ngomel? – pada anak, pada rekan kerja, pada suami, pada ART, pada orang sekitar yang saya anggap menjengkelkan lah. Nyatanya, kadang masih ngomel juga. Walaupun, ya itu, pasti diikuti ‘astaghfirullah’ dalam hati.

Kenyataannya, memang sulit menjaga hati. Padahal tujuan Ramadhan adalah membersihkan hati dan jiwa dari segala karat yang lalu. Dan bukan cuma ibadah siang malam. Tapi itu bukan pekerjaan mudah. Bikin laporan penelitian jauh lebih mudah dibanding menjaga dan membersihkan hati. Makanya saya bisa bikin laporan dalam waktu 3 hari. Tapi dalam waktu 30 tahun lebih ini, rasanya saya masih belum bisa menjaga hati.

Saya percaya bahwa Allah tidak segalak guru saya waktu SD dulu, yang pasti langsung menjewer telinga kami kalau tidak bisa menjawab pertanyaan di depan kelas. Allah dengan segala ke-Maha-annya, saya yakin punya ruang yang luas untuk memahami ciptaan-Nya yang super lemah dan super bodoh ini. Jadi saya juga percaya Allah akan memahami usaha kita untuk menjadi baik, bahkan dengan kesalahan-kesalahan yang selalu berulang kita lakukan.

Tapi ya saya tidak tahu sih apa sebetulnya definisi menang di mata Allah. Saya tidak akan pernah tahu, pastinya, sampai kelak saya kembali pada-Nya mungkin.

Jadi saya tidak pernah merasa menang karena saya tidak tahu definisinya. 

Apakah dengan melakukan tarawih di setiap malam Ramadhan?. Apakah dengan menegakkan tahajjud di setiap malamnya?. Atau dengan menunaikan zakat fitrah?. Atau dengan mengheningkan diri di penggalan malam di 10 malam terakhir Ramadhan, dengan doa yang tulus memohon ampun dan merendahkan diri di hadapan-Nya?. Apakah dengan melakukan semuanya kita terjamin menang?. Saya tidak tahu. Kemenangan yang hakiki buat saya adalah di saat saya berpulang kelak. Di saat perhitungan demi perhitungan yang dilakukan di saat itu bisa membawa saya pada posisi yang paling baik di sisi Allah.

Dan dengan tidak merasa menang, semoga saja setiap kali Ramadhan saya bisa terus bertahan untuk melawan kebodohan diri sendiri. Untuk selalu bisa bilang pada diri sendiri, “Nyong, loe tuh belum melakukan apa-apa. Ibadah dan amalan loe masih jauuuuuhhhh bahkan dari kata cukup, tahu?!”.

Dan setiap kali merasa demikian, setiap kali pula saya merasa ngelangut saat Ramadhan akan berakhir. 10 malam terakhir Ramadhan selalu terasa seperti sebuah kesedihan panjang sebelum ditinggal kekasih tercinta. Di malam takbiran, yang terasa hanya kepasrahan, dan selalu ada sepenggal penyesalan, perasaan bahwa saya belum memanfaatkan waktu yang diberikan sebaik mungkin. Dan saya masih menjadi manusia yang merugi.

Semoga saja saya masih dikasihani oleh Allah yang Maha Penyayang, masih diberi kesempatan untuk berusaha makin dekat pada definisi-Nya tentang menang, yang adalah hanya hak Dia untuk menentukan dan memberikan predikat Pemenang itu kelak.

Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga kita tidak pernah lupa bahwa kita mungkin belum menang...apalagi, fitri...

Sampai Ramadhan berikutnya. Aamiiin... 

(R I R I)

No comments:

Post a Comment

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts