Sunday, January 23, 2011

Negeri morat marit ini, tanah airmu, Nak

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

Melambai-lambai

Nyiur di pantai

Berbisik-bisik

Raja Klana

Memuja pulau

Nan indah permai

Tanah airku

Indonesia!

(Rayuan Pulau Kelapa, ciptaan Ismail Marzuki)


Itu salah satu lagu favorit bunda, Nak

Bunda senang menyanyikan lagu itu

Itu juga salah satu lagu yang dulu sering bunda nyanyikan

Untuk meninabobokan Kakak Tara

Sambil membayangkan Lembah Anai di tanah kelahiran nenek kalian

Atau hamparan pantai-pantai indah berpayung ratusan pohon kelapa

Atau hamparan sawah berbatas hutan

Tempat ayah kalian dulu menghabiskan masa kecilnya

Atau sungai berkilauan diterpa cahaya matahari sore di tengah kebun teh

Berkelok-kelok bagai kalung mutiara

Tempat bunda dan tante kalian bermain di akhir minggu di masa kecil dulu


Bunda tidak tahu, Nak

Apakah kelak saat kalian dewasa

Masih ada tempat-tempat seperti itu untuk kalian nikmati

Tapi tenang saja, Nak

Ayah bunda bertekat untuk terus menjelajah

Dan menyimpan setiap jejak dalam foto

Yang bisa kalian simpan dan lihat kelak

Habis bagaimana lagi, Nak

Ayah bunda bukan birokrat

Yang punya kuasa dan cukup uang

Untuk menahan tangan-tangan rakus

Yang selalu ingin memperkosa tempat-tempat indah di negeri ini


Dan mungkin, Nak

Saat kalian dewasa

Kalian akan bertanya

Apanya yang aman dan makmur?

Sementara ada begitu banyak anak jalanan

Tak terurus dilupakan negara

Banyak sekali orang miskin disana sini

Yang sakitpun tak boleh

Karena ke rumah sakit hanya akan bikin makin sakit

Belum lagi perampokan disana sini

Padahal katanya ini negeri yang subur dan makmur

Jadi harusnya masyarakatpun hidup nyaman


Morat marit memang, Nak

Seperti kain batik tulis indah yang tercabik disana sini

Bunda tidak tahu kenapa jadi begitu

Gara-gara salah urus, katanya

Gara-gara orang-orang yang cuma peduli

Pada kepentingan diri mereka sendiri


Mungkin saat kalian dewasa

Orang sudah lupa akan kasus-kasus menyakitkan hati

Yang menunjukkan betapa tak berdayanya kita

Menghadapi para tikus dan ular

Di setiap pojok ruang pemerintahan

Yang menggerogoti apa yang harusnya jadi milik rakyat

Atau jangan-jangan saat kalian dewasa

Akan ada kasus-kasus yang lebih heboh

Yang lebih menyakitkan hati


Nak, bunda tidak suka menjadi orang pesimis

Tapi kadang ada garis tipis antara pesimis dan realistis

Walaupun yang tipis-tipis itu bikin makin miris

Tapi mau bagaimana lagi, Nak

Rasanya makin lama makin jauh titik terang itu


Pesan bunda pada kalian hanya satu

Apapun yang kalian dengar dan lihat

Cobalah gunakan ‘rasa’

Cobalah tetap mencintai negeri ini

Walaupun satu saat

Mungkin sulit bagi kalian untuk menemukan keindahannya

Mungkin satu saat

Pemerkosaan hak azazi, hak alam untuk berkembang, dan hak-hak lainnya

Akan makin hebat

Tapi, Nak

Orang hanya bisa punya satu tanah air

Dan ini adalah tanah air kalian


Kalian boleh melangkah sejauh apapun kalian mau

Dan meninggalkan ayah bunda tua renta

Menyaksikan kebusukan-kebusukan negeri ini kelak

Jika sang penyelamat tak kunjung datang menyelamatkan keindahannya

Tapi ingatlah, Nak

Ini akar kalian

Dimana kalian lahir dan dibesarkan

Morat maritnya negeri ini

Bukan cermin Indonesia

Itu cuma cermin sekelompok orang-orang biadab

Yang meletakkan uang jadi Tuhan mereka


Mereka lupa, Nak

Bahwa Tuhan sudah menggariskan

Mereka jadi bagian dari tanah air ini

Mereka lupa

Untuk menghormati keputusan Tuhan

Dengan berbuat hal-hal yang baik untuk negeri ini

Janganlah kalian menjadi yang demikian


Nak

Ada pepatah, hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Bunda tidak akan pernah meminta kalian mengikuti pepatah itu

Kalau kata orang Inggris, bullshit

Carilah kehidupan dimanapun kalian ingin

Kehidupan yang bisa membuat kalian punya sesuatu yang lebih

Tapi bukan untuk diri kalian sendiri


Berbuatlah, Nak

Kapanpun kalian berkelebihan

Bukan hanya materi, tapi setiap cuil diri kalian

Berbuatlah sebanyak kalian mampu

Untuk banyak orang yang terlupakan di negerimu

Raga kalian boleh jauh dari ranah Indonesia

Tapi jangan hati kalian

Mungkin kalian hanya akan bisa membantu 10

Dari jutaan orang yang tidak mampu membela diri mereka sendiri

Tapi ingatlah, Nak

Sekecil apapun yang bisa kalian lakukan

Artinya buat orang lain bisa lebih besar

Dari yang kalian bayangkan


Ingatlah, anak-anakku

Leluhur kalian berjuang untuk negeri ini

Kalian tidak kenal dengan mereka

Mereka tinggal cerita dan gundukan makam

Tapi, Nak

Mereka telah berkorban begitu banyak

Untuk memerdekakan tanah ini

Jadi apakah kita juga akan jadi orang yang mengkhianati

Pengorbanan mereka dengan menutup mata hati

Dari penderitaan orang-orang di sekitar kita?


Kita cuma bisa punya satu tanah air, Nak

Dan betapapun kacau balaunya

Inilah tanah air kalian

Cintailah, melalui mencintai sesama yang sedang dalam kesusahan

Hiburlah mereka, sebisa kalian

Dimanapun kalian kelak berada


(R I R I, dalam kegundahan Bunda mengingat akan jadi apa negeri ini saat kalian dewasa kelak. Cuma Allah yang tahu, dan cuma Allah jua tempat kita meminta yang terbaik. Dan Allah hanya ingin, kita tidak hanya mengingat Dia, tapi juga mengingat semua ciptaanNya, sebagai tanda bahwa kita bukan orang-orang yang lupa untuk apa kita diciptakan. Insya Allah...aamiiin)

No comments:

Post a Comment

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts