Sunday, October 16, 2016

Dua konser, dua dunia, untuk satu jiwa



Dalam seminggu kemarin, saya dua kali nonton konser musik. Yang menarik buat saya, adalah betapa bertolak belakangnya kedua konser itu.

--

Yang pertama, konsernya Morrissey.

Jujur saja saya bukan fans beratnya bapak ini. Punya suami dengan selera musik macem-macem yang bikin saya terpapar dengan pemusik ini. Dan memang setelah saya tadinya nggak sengaja dengerin Morrissey dari CD koleksi Cip di mobilnya, saya suka dengan lagu-lagunya.

Ada beberapa lagu Morrissey yang sarat kritik sosial, yang kadang menurut saya diutarakan dengan cara yang cukup kasar kalau dengerin liriknya. Ada juga beberapa lagu yang, kalau didengerin, bukannya jadi seneng, malah bisa jadi depresi karena terlalu banyak kenyataan hidup yang pedih dan bikin nyesek yang dia utarakan dengan cara yang lugas. Tapi ada beberapa lagu yang jadi favorit saya, misalnya Suedehead, First in the Gang to Die, dan ada beberapa yang jujur saya nggak tahu judulnya...hahaha. 

Saya diajak nonton konser ini sebagiannya karena waktu Cip beli tiketnya, dia tahu saya sedang suntuk. Menurut dia kesuntukan saya bisa selesai lewat sesuatu yang beda: nonton konser musik dari pemusik yang nyeleneh. 

Saya nggak nolak juga diajak. Yaelah gratis, ya mosok ditolak. Dan yang ngajak pacar, ya mosok ditolak. Lalu ya kapan lagi saya nonton pemusik nyeleneh kalo nggak sama Cip.

Nah waktu nonton konsernya hari Rabu minggu lalu, di salah satu lapangan terbuka di Senayan (yang becek dan berlumpur karena sehari sebelumnya hujan deras), kami datang agak awal. Konser dimulai jam 8, kami sudah ada disitu sejak jam 7 lewat. Jadi kami sempat nunggu.

Waktu nunggu itu kami disuguhkan kompilasi dari berbagai video clips. Super campur sari. Dari Tina Turner sampai entah penyair siapa. Tapi benang merahnya kurang lebih sama: ada kegetiran, ada kritik sosial, ada kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Ya pokoknya seperti melihat hidup yang naik turun ini lah (tsaaahhh....).

Waktu akhirnya konser dimulai, saya baru paham apa wanti-wanti Cip sebelum nonton: ini pemusik yang sesuka hatinya kalau nyusun line up lagu. Apa yang jadi hits-nya malah belum tentu dia akan nyanyiin, jadi siap-siap aja malah bingung.

Dan iya sih, bener aja. 2 lagu pembuka, saya seneng karena tahu lagunya. Dan terasa juga keseruan para penonton (yang kebanyakan kelihatannya millenials kalau lihat kepala yang belum beruban dan pakaiannya), yang ikut jijingkrakan di 2 lagu pertama.

Begitu lagu ketiga, saya sampai ketawa. Sepertinya orang bingung harus bereaksi seperti apa.

But anyway...sampai sebelum lagu terakhir, saya menikmati sekali walaupun saya nggak kenal beberapa lagunya. Saya menikmati eksperimen Morrissey dengan beberapa alat musik dari negara lain. Termasuk, sebuah gong besar di belakang pemain drumnya. Walaupun eksplorasinya tidak segila dan setotal Sting, tapi saya tetap suka.

Seperti yang sudah dibahas di koran Kompas hari Minggu ini, memang konser ini berhenti mendadak. Setelah lagu yang isinya protes terhadap kebiasaan kita makan daging, protes terhadap gimana para pemakan daging membiarkan pembunuhan terhadap hewan yang dimakan, gimana para pemakan daging seperti menutup mata pada proses yang tidak layak pada banyak hewan di rumah pejagalan, tahu-tahu, dia ngilang. Begitu saja. Penonton ngegerundel. Tapi yaaa....nggak ada tuh yang protes yang gimana gitu.

Menarik banget lihat reaksi penonton yang antara percaya nggak percaya kalau si Morrissey mengakhiri konsernya begitu aja. No goodbye, nothing. Ya belakangan baru saya tahu kalau dia ngambek liat ada penonton yang merokok (memang masukpun dilarang bawa rokok dan tas diperiksa habis di 3 point pemeriksaan. Dasar akal kita ya, atau dasar perokok, I dare say...nemu aja jalan nyelundupin yang nggak boleh).

Waktu belum tahu alasan dia berhenti gitu aja, buat saya itu menarik bahwa penonton seperti pasrah walaupun bingung. Bahwa loe harus punya karya yang cukup gila untuk bisa dimaafkan berperilaku abnormal. Untuk bisa punya sikap bahwa, “Gue di atas panggung karena gue mau dan gue menikmatinya, bodo amat loe suka atau nggak pokoknya gue suka”, yang jelas banget kelihatan dari gimana dia berinteraksi dengan penonton dengan kata-kata seenak udelnya, dari susunan lagu yang dia pilih.

Kalau karya Morrissey bukan yang sarat dengan kritik, dengan pahit getirnya kehidupan yang dia sajikan dengan begitu lugas, mungkin penonton nggak bisa selegowo itu nerima kelakuannya kemarin itu. 

Ini dia pasti sengaja milih pakai Bahasa Indonesia di akhir lagunya yang lumayan bikin depresi karena saya masih makan daging dengan latar video yang luar biasa nyata tentang segala perlakuan terhadap hewan di rumah pejagalan
 -- 


Konser kedua yang saya tonton Sabtu minggu lalu, kali ini dengan si sulung, adalah Vienna Boys Choir.

Sekelompok anak laki yang kebanyakan dari Austria tapi ada juga dari negara lain, dengan suara jernih, menyanyikan komposisi-komposisi dari para komposer terkenal di dunia. Dari Ave Maria, lalu sejumlah lagu klasik, sampai lagu permainan suara binatang, lalu Jali-jali,  Edelweiss, Santa Lucia, dan sejumlah lagu lain yang dinyanyikan dengan suara alto dan soprano sejumlah anak laki yang bikin saya bingung itu latihannya gimana; karena di kepala saya, ngatur anak laki berusia mungkin sekitar 8 – 11 tahunan, bukan masalah mudah.

Indah, tertata, rapi, manis, santun.

Mendengarkan Vienna Boys Choir buat saya seperti menemukan oase di tengah hiruk pikuknya dunia. Bahwa kejernihan suara sekelompok anak-anak, yang membawakan lagu-lagu indah dengan kepolosan mereka, itu pengingat bahwa sekejam-kejamnya hidup, masih ada hal-hal yang menyembuhkan jiwa. Musik, adalah penyembuh. Dan melodi yang dibawakan suara jernih kanak-kanak, adalah penyembuh yang paling manjur bagi luka-luka dalam jiwa.

Lebay ya?. Tapi harus ada yang mau berpikir sedikit lebay saat nonton sejumlah anak di panggung bernyanyi dengan sepenuh hati dan dengan tingkat presisi nada yang luar biasa. Lebay itu perlu saat mendengarkan melodi-melodi lembut mengalun indah. Kalau itu tidak menyembuhkan jiwa, lalu, buat apa ada musik seindah itu?.

--  

Dua konser yang sangat berbeda, tapi buat saya, sama-sama karya yang hebat. Sama-sama menunjukkan dedikasi yang gila.

Ya bayangin, sejumlah anak laki usia segitu, pasti latihannya berjam-jam untuk bisa nyanyi demikian indahnya. Padahal di usia mereka mungkin kalau dibiarin ya mendingan main sepeda, atau lari-larian di lapangan. Seperti kata Tara, “Kok bisa sih ya mereka nyanyi sebagus itu, boys temen-temenku aja kalau ada kerja kelompok aja banyakan mainnya. Mereka ini gimana ya latihannya”.

Sementara Morrissey, pada jalur kegilaannya yang unik dan buat sebagian orang mungkin aneh, tapi buat saya menunjukkan kejujurannya berkarya dari hidup yang memang kadang pahit ini. Dia mendedikasikan dirinya pada kepahitan hidup,  sepertinya. Sementara karya lain mungkin sibuk pada kisah cinta, harus ada penyeimbang macam Morrissey yang mengangkat sisi-sisi gelap kehidupan.

Dua konser yang seperti datang dari dua dunia yang berbeda. Tapi sebetulnya sama-sama menunjukkan betapa musik, jika saja kita mau berhenti dan menghargai setiap nada, lirik, dan bagaimana setiap lagu diciptakan, punya dampak yang besar pada kehidupan, dan pada dunia dalam masing-masing pribadi.

Dengerin Morrissey, saya seperti diingatkan bahwa hidup memang getir, jadi jangan terlena saat kita dalam kebahagiaan karena bisa jadi itu semua semu. Sementara dengan Vienna Boys Choir, saya diingatkan bahwa segetir-getirnya hidup, selalu ada muara-muara ketenangan asal saya masih mau mencarinya dan tidak menyerah pada kegetiran.

--
 
Yah begitulah. Sebuah minggu yang menarik buat saya gara-gara dua hal itu. Entah kapan ada lagi pengalaman menarik seperti itu.

(R I R I)





Saturday, October 8, 2016

Membangun jembatan dalam 1 akhir pekan



Bukan, ini bukan mau bikin cerita tandingan Bondowoso yang berusaha bikin seribu candi buat si cantik Roro Jonggrang. 

Ini cerita tentang membangun jembatan hati. Yang memang, nggak mungkin juga terbangun cuma dalam 1 akhir pekan. Tapi rasanya, usaha menuju kesana, bisa dimulai dari suatu akhir pekan.

--

Waktu remaja, saya ngalami berdebat dengan ibu saya tentang hal-hal yang menurut saya sepele. Saya yang nggak pernah rapi, nggak pernah sudi pakai rok kecuali ke sekolah dan acara pesta, yang kamarnya selalu berantakan kecuali hari Minggu (karena itu hari dimana saya beresin kamar). Dan sederetan hal lain yang selalu sukses bikin saya kena omel. 

Katanya, anak perempuan memang akan mengalami itu dengan ibunya. Akan terjadi gesekan di usia remaja, karena ibu punya ekspektasi tertentu tentang ‘menjadi perempuan’ dan pastinya si anak juga punya ekspektasi dan keinginan yang lain, yang bukan nggak mungkin bertentangan dengan maunya si ibu. Saya, nggak luput dari yang begitu itu.

Lalu ada almarhum Papa. Orang yang dalam masa-masa itu saya anggap sebagai ally, sekutu terbaik karena beliau jarang berkomentar. Dan yang paling saya ingat: sederetan perjalanan berduaan dengan beliau. Saat kami bercerita tentang banyak hal remeh temeh, saat saya kenal siapa Pak Rustam di masa kecil dan masa-masa perang di tanah Jawa.

Saat-saat itu terpatri kuat di benak dan hati saya. Saya hanya ingat sekelebatan kecil tentang tempat-tempat yang kami datangi – yang seringkali entah ada di mana. Tapi, sampai sekarang, saya masih ingat rasa yang ditimbulkannya: nyaman, hangat, aman.

--

Begitu punya anak, yang dua-duanya perempuan, ketakutan saya kembali pada ingatan saya di masa remaja saat saya sering berdebat dengan Mama. Saya tahu hal itu tidak mungkin dihindari, tapi saya juga ingin paling nggak saya masih bisa nyambung dengan mereka.

Masalahnya, saya punya stok sabar yang lumayan tipis.

Cip menjuluki saya ‘the dog whisperer’, karena dua hal. Pertama karena entah gimana anjing galakpun bisa diam kalau saya dekati pelan-pelan. Kedua, karena menurut Cip (dan belakangan saya terpaksa mengiyakan observasinya), kalau saya sudah marah pada anak, keluarlah suara dalam, berat, nggak kenal kompromi, dengan kalimat-kalimat singkat, macam pelatih anjing yang bilang, “Blacky, sit”. Ganti saja itu dengan, “Tara, bisa nggak dengerin aku”. Atau, “Lila, beresin mainannya”. Dan memang, kalau saya sudah begitu, tidak ada satupun yang bakal berani membantah saya.

Cip juga bilang kalau saya kadang terlalu keras pada Tara. Terlalu sering meminta dia melakukan ini itu. Terlalu sering bilang kalau dia salah melakukan sesuatu. Terlalu sering ngomel. Dan dia sering mengingatkan saya supaya kalau mau marah pada Tara, stop and breathe, supaya saya menahan diri dan tidak bikin dia merasa terlalu sering dikritik oleh bunda.

Diingatkan seperti itu pastinya bikin saya takut. Saya berusaha nahan diri kalau sadar darah mulai naik saat menghadapi Tara. Tapi gimanapun juga selalu ada saat-saat dimana suara meninggi dan kami jadi berdebat – apalagi sekarang, saat hormon perempuan di tubuhnya mulai beraksi.

--

Suatu hari, saat Cip dan saya sedang duduk-duduk di warung di siang yang panas di kompleks Angkor Wat, kami ngobrolin anak-anak. Saya menyuarakan kekhawatiran saya: saya sadar saya sering kehilangan kesabaran, apa mungkin nanti Tara akan tetap bisa merasa saya adalah ibu yang bisa jadi tempat dia cerita. Apakah mungkin saya bisa mematri rasa itu di benaknya: nyaman, hangat, aman.

Dan, datanglah tantangan itu dari Cip.

“Travel gih berdua Tara. Over the weekend aja dulu. Nggak usah jauh-jauh. Kalau kalian bisa nggak bertengkar selama 2 hari itu, aku ganti semua expenses kamu di perjalanan”.

Dua hal di ide itu: travel dan tantangan, kontan saya terima. Itu, adalah kesempatan terbaik buat membangun pelan-pelan jembatan yang lebih kuat di antara hati kami. Jembatan yang dibangun di atas sebuah petualangan kecil. Yang mengingatkan saya pada apa yang dulu saya alami bersama almarhum Papa.

Dan saya selalu percaya: perjalanan mengeluarkan kita dari comfort zone. Dan saat itu, kita akan jadi siapa kita yang sebenarnya – tanpa topeng. Itu, adalah saat terbaik buat membuka diri pada siapapun.

Dengan itu, saya mulai petualangan kami yang pertama.

--

Sebuah perjalanan pendek, ke Borobudur dan Punthuk Setumbu untuk lihat sunrise, jalan-jalan ke Yogya, dan ke Prambanan dan sekitarnya.

Perjalanan, yang ternyata, seperti yang saya duga, belum bisa imun dari pertengkaran (dan pastinya, saya nggak jadi dapat ganti biaya perjalanan deh :D).

Tara menikmati naik ke Borobudur dan menunggu sunrise. Tapi ternyata minta dia bangun jam 4 pagi, lagi, keesokan harinya untuk ke Punthuk Setumbu adalah sebuah kesalahan. Kombinasi dia capek karena hari sebelumnya kami jalan cukup lama, dan fakta bahwa, “Ini kan liburan, kenapa sih jadinya aku harus bangun pagi terus”, itu ternyata killer combination untuk bikin dia jengkel.

Tapi kami menikmati kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Kami ketawa ngakak saat Google Maps membuat kami tersesat ke jalan desa yang buntu dan sedang diperbaiki. Kami menikmati obrolan-obrolan remeh temeh. Saya ketawa dengerin Tara cerita tentang sekolah dan teman-temannya.

Saya ganggu dia tentang periode naksir-naksiran, yang ternyata, belum dia rasakan. “Kak, kalau nanti ada cowok bilang suka sama kamu, gimana”. Dan dia jejeritan sambil ketawa bilang, “Aaah bunda, ngapain sih ngomongin itu”. “Lho Kak, itu akan terjadi satu hari nanti lho. Kamu juga akan suka sama cowok satu hari nanti. Sekarang aja belum”. 

Dan dia ngakak nggak bisa berhenti – ngebayangin naksir cowok buat dia ternyata masih sebuah hal yang aneh, lucu, dan ini yang asik: jijik. Saya bilang, “Sekarang mungkin njijik’i, nanti, kalau kamu lebih besar lagi, that may be one of the best feeling you can have: to like and be liked by a guy. Percaya kata bunda deh”. Dan dia malah makin ngakak. 

Di tengah ketawa-ketawa itulah saya coba sisipkan pesan-pesan sederhana tentang menjaga diri dan kehormatannya sebagai perempuan. Saya juga ceritakan kekhawatiran saya tentang masa depannya dan kenapa, saya mungkin sering ngomel. Tapi ternyata, di mata Tara, “Bunda emang kadang-kadang bossy, nyebelin banget kalau lagi gitu. Tapi bunda konyol. Kelakuan bunda kadang-kadang aneh gitu, jadinya lucu aja”. Hmmm....kredibilitas macam apa yang sedang saya bangun di mata anak saya, ya....hahahaha. 

Obrolan-obrolan yang terjadi mengalir begitu saja. Saya juga nggak bermaksud menasehati dia, tapi untuk lebih memahami dia, dan mendengarkan dia dengan sepenuh jiwa raga saya.

Saya juga belajar dalam dua hari itu, bahwa saya yang harus berubah. Saya yang harus beradaptasi.

Perjalanan kemarin mengajarkan saya bahwa saya harus mulai menghormati area yang dia inginkan. Saya harus mulai melibatkan dia, menyusun itinerary misalnya, mencari tempat-tempat asik untuk nongkrong dan makan. Saya harus belajar untuk nggak pakai agenda saya saat merancang perjalanan. 

Saya belajar bahwa mendengarkan dia, sesepele apapun ceritanya, adalah hal yang menyenangkan. Bahkan saat saya nggak ngerti apa yang dia ceritakan, tetap menyenangkan. 

Tara sedang baca sebuah novel karya Tere Liye, dan dia menceritakan cuplikan-cuplikan cerita dari novel itu. I had no idea what she was talking about, tapi mendengarkan dia, yang seperti ingin mengajak saya menyelami apa yang sedang dia nikmati, rasanya menyenangkan sekali. 

--

Waktu nunggu pesawat pulang ke Jakarta, saya kirim pesan via WA ke Cip: I had a great time. Nggak tau apakah Tara juga had a great time. 

Jawaban Cip bikin saya senyum: ah dia kan sebenernya bangga dan sayang sama bundanya, pasti seneng jalan sama kamu, nggak usah ditanya. 

Ya mungkin. Entah, saya memang nggak nanya. Yang jelas, ada candu baru di hidup saya: perjalanan berdua saja dengan dia, dan kelak akan saya lakukan juga dengan adiknya, membangun jembatan-jembatan kecil, yang bikin nyaman, hangat dan aman. 

Kenapa harus berdua saja? – karena, saat itulah saya bisa bikin dia merasa, bahwa saya ada disitu cuma buat dia. Persis seperti yang saya rasakan dulu setiap almarhum Papa ngajak saya pergi berdua. Saat-saat yang kami nikmati sepenuhnya. Cerita-cerita yang kami pupuk pelan-pelan. Dan rasa yang terpatri kuat. Itu, tak tergantikan. Jadi jembatan hati yang abadi, tak lekang oleh waktu.

(R I R I)
Kami sama sekali nggak mirip, kecuali, sama-sama temperamental mungkin :) Moga-moga jembatan-jembatan kecil yang sedang berusaha saya buat, kelak akan tetap bikin kami nyambung, even with all the differences and arguments as she grows up
 

Thursday, September 8, 2016

Beda generasi, atau, telat berubah?




Akhirnya kesampaian juga saya nonton film Tiga Dara yang direstorasi.

Mengingat film ini dibuat tahun 1957, ‘baru’ 12 tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, saya jujur saja punya bias terhadap kehidupan masa itu. Sebagiannya dari cerita-cerita orang tua, sebagian lagi sebetulnya rekaan otak saya saja sebagai orang yang hidup jauuuh setelah masa itu.

Di bayangan saya, tutur kata si tiga dara dalam film ini pasti yang modelnya masih lemah lembut pada orang tua. Nggak ada tuh bantah-bantahan dengan orang tua – apalagi dengan nenek. Bapaknya pasti tipe yang cuek banget, nggak bisa diajak ngobrol, nggak bisa diajak kolaborasi dan kompromi.

Dengan segala asumsi itu, semalam saya nonton. Dan amat sangat menikmati filmnya. Dan ada rasa bangga juga dengar lagu-lagu gubahan almarhum om saya yang nggak pernah sempat saya kenal, Saiful Bahri.

Selesai nonton, saya malah jadi mikir ini: apa iya sih tiap generasi itu berbeda?.

--

Nonton film ini terus terang buat saya feelingnya ya seperti nonton interaksi antara orang tua dengan anak jaman sekarang saja. Ketiga dara ini sangat open bicara pada ayahnya, bahkan pada neneknya. Nggak mau ya bilang nggak mau. Nggak suka ya bilang nggak suka. Mau ganggu ayah atau neneknya ya diganggu aja. Nggak ada sungkan. Nggak ada batas-batas yang tadinya di kepala saya pasti kaku banget lah.

Nah nggak tau ya apakah memang karena ini film. Tapi salah satu yang bikin saya suka nonton film adalah karena percaya bahwa film menggambarkan sebagian kenyataan dalam masyarakat. Pasti ada bumbunya, tapi saya selalu percaya kalau mau merasakan sebagian denyut suatu masyarakat, nonton lah filmnya.

Film-film Eropa misalnya, selalu terkesan pabeulit. Ada segmen cerita ini, lalu cerita itu, lalu cerita anu, tapi tahu-tahu nanti muaranya satu. Entah gimana ntar pokoknya pasti saling nyambung. Dan...umumnya akhir ceritanya bikin melongo. Entah melongo karena aduuuh ampuuuunn tragisnya (tapi ya hidup memang tragis...piye...), atau melongo karena oalaaah ngono tooooh, atau melongo karena aduh kok ya begitu ya bagusnya (yang ini biasanya karena pemandangannya).

Itu buat saya menggambarkan Eropa yang multidimensi, beragam, dan dihantui masa lalu yang sebetulnya tragis gara-gara Hitler dan saya percaya itu mempengaruhi bagaimana orang Eropa memandang hidup.  

Nah film Tiga Dara kurang lebih buat saya menggambarkan jiwa di masa itu. Indonesia yang sedang membangun, sedang semangat. Filmnya terasa sekali energi positifnya – bahkan dengan topik yang buat perempuan kayak saya yang ngerasain dirasani orang karena umur 30 belum juga menikah, bikin gemes...hahaha. Neneknya pengen ‘tak pites.

Tapi yang saya nikmati sekali adalah bagaimana film ini membuka mata saya tentang interaksi ortu dan anak di masa itu. Ternyata ya, di jaman apapun, kelakuan anak ke ortu ya sama aja kok: ngebantah juga, ngeyel juga. Dan di film itu digambarkan ngebantahnya ya sama aja dengan saya dulu, atau Tara sekarang. Bapaknya juga walaupun sibuk tapi ternyata seru – bisa diajak kompromi dan kolaborasi demi kedamaian kakak beradik itu.

Tapi setelah nonton film itu semalam saya jadi ingin tahu juga sih: jangan-jangan model interaksi seperti itu belum lazim sebetulnya di jaman itu. Jangan-jangan film itu bikin heboh di jamannya karena mendobrak pakem. Nah saya belum sempat browsing tuh. Dan nggak tahu juga apakah ada cerita-cerita tentang bagaimana film yang sangat sukses di jamannya ini, mempengaruhi pandangan masyarakat kala itu.

--
That aside, kita kan suka ngomel ya, “Anak sekarang blablablabla....”. Dan blablabla itu beragam dari dimensi yang positif sampai negatif. Dari yang makin pinter dan kreatif sampai makin kurang ajar dan nggak tahu adat.

Tapi nonton film semalam saya jadi mikir: jangan-jangan itu ketidakadilan penilaian buat generasi selanjutnya. Mungkin iya benar bahwa konteks kehidupan berubah, sarana yang mengelilinginya berubah, sehingga pasti ada sisi-sisi perilaku yang berubah. Tapi jangan-jangan yang kita tuduhkan pada mereka juga tidak benar.

Jangan-jangan kita yang TERLAMBAT berubah. Kita yang masih gagap meningkahi semua perubahan. Masih pakai kacamata lama untuk melihat sesuatu yang sudah jauh berbeda. Jadi alih-alih menyalahkan generasi selanjutnya, jangan-jangan kita yang harus berhenti menilai mereka dan mulai menilai diri sendiri: sudahkah saya paham apa yang sedang terjadi dengan dunia?, dan dengan itu paham bagaimana saya harus beradaptasi?.

--
PR besar, itu: memahami bagaimana kita harus berubah. Karena itu terjadi dengan alami buat anak-anak kita – mereka sedang tumbuh dan besar bersama perubahan itu. Lha kita, gimana nih. Jadi sebetulnya, sama seperti pesan yang saya tangkap dari film Tiga Dara itu adalah, bagaimana kita sebagai orang tua mau mengikuti perubahan yang sedang dialami anak-anak kita. 

Termasuk menghargai setiap pengaruh perubahan itu pada perilaku mereka – selama itu baik. Dan menggiring mereka ke koridor yang baik DAN SESUAI DENGAN PERUBAHAN JAMAN, saat kita merasa arah mereka mulai melenceng. Definisi melenceng pun jangan-jangan harus dikalibrasi juga setiap kali jaman berubah.

Saya sih bisa nulis gini. Pada prakteknya, masih berjuang. Sama sekali tidak mudah. Butuh waktu-waktu dimana saya harus diam dan kontemplasi, terutama saat saya marah pada anak-anak. Lalu bertanya: adilkah saya marah?, is it them or me who was wrong in thinking that they are wrong to be like that?. Ah kadang malah bikin gemes sama diri sendiri.

Mari kita belajar bersama. Semoga kita bisa jadi orang tua yang lebih baik dan lebih ‘change friendly’ :)

(R I R I)


Tuesday, September 6, 2016

Jadi yang biasa aja



Yang butuh cuti adalah mereka yang baru saja cuti. 

Itu selalu berlaku di hidup saya kayaknya. Entah karena yang namanya Murphy’s Law itu benar adanya, atau ya memang itu cuma cara hidup menyeimbangkan keadaan: setelah senang tibalah susah, dan sebaliknya. 

Tanpa bermaksud mengeluh, minggu lalu rasanya berat sekali saya lewati. Padahal baru saja libur. Dan setelah Senin dan Selasa yang juga nggak semudah yang saya kira, baru rasanya ada sedikit waktu buat napas dan berhenti sejenak (ho’oh...padahal wiken rasanya baru kemarin...). 

Dan mungkin saya memang ibu yang sedikit abnormal. Sudah ada di rumah sejak jam 6, saya memang tidak segera cari anak-anak. Yang saya cari adalah kamar dan ketenangan dan kesendirian. Saat sebentar dimana saya bisa sekedar berbaring, memejamkan mata tidak untuk tidur, tapi untuk membiarkan otak saya mengembara kemana-mana.  

Pengembaraan otak saya sore tadi bermuara di satu topik: keadaan ‘biasa aja’, rata-rata, tidak istimewa tapi juga tidak gagal. Topik yang mengganggu saya sejak tadi pagi. 

Ini semua mungkin separonya gara-gara saya sedang baper. 

Sudah September!. Bukan cuma itu, udah lewat tahun ke-5!. Dan saya merasa yang saya lakukan sedang jalan di tempat. Perusahaan yang dibilang rugi ya nggak (alhamdulillah), tapi mau dibilang berkembang ya nggak juga – dia jalan di tempat. 

Not a bad position to be, sih, saya akui. Masih bisa menggaji 8 orang pegawai itu bagaimanapun juga sangat saya syukuri. Tapi bagaimanapun juga, kadang saya nggak bisa menghindari pertanyaan klasik itu: mau dibawa kemana lagi?. 

--

Susah ya kadang-kadang tahu emang kita masih bisa stretch?. Atau juga ini: emang kalau kita lebarkan lagi, kita paksa meluaskan diri, kita sanggup?. Lalu apa konsekuensinya?. 

Saya pernah kerja di perusahaan asing, dimana target selalu dibawa naik-naik ke puncak gunung. Sampai kadang bikin saya bingung ini yang bikin target memang sedang ingin naik gunung atau lagi hang over sehingga dia kira dia burung yang bisa terbang tinggi, tinggi sekali. 

Saya terbiasa dipertanyakan: kenapa cuma segini, apa lagi yang bisa dilakukan; dan saya selalu merasa terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 

Saya selalu kembali pada pertanyaan yang sama: emang kenapa dengan yang sekarang?, kan udah naik, walaupun nggak ke puncak gunung?. Menurut loe orang-orang ini belum kerja sekeras yang loe mau?. Dan biasanya diskusi itu akan berakhir dengan saya yang menyerah berargumen dan cuma bisa bilang: OK now what do you want us to do?. Dan di akhir tahun saya mengirimkan surat cinta yang gegap gempita tanpa sensor sebagai catatan akhir tahun pada bos saya. Cuma buat memuaskan rasa kesal saya saja sih. Dan sedikit harapan saya di-PHK karena terlalu kurang ajar. Tapi sayang saya nggak pernah seberuntung itu walaupun sudah cari gara-gara. 

Saya muak dengan keadaan itu setelah 4 tahun – setelah saya merasa cukup sampai disini saya belajar untuk dipecut dan menahan ngilu karena pecutan. Lalu memutuskan untuk keluar dari lingkaran setan itu.

--

Sekian tahun sesudahnya. Disinilah saya. Di persimpangan itu: mau jadi yang ‘biasa aja’, atau mau dibawa lari lebih kencang lagi?.

Sejak kecil saya rasanya sudah selalu menargetkan diri untuk jadi yang ‘biasa aja’. 

Juara kelas nggak pernah. Juara perlombaan apapun nggak pernah. Saya juara cuma waktu les nari Bali – beberapa kali jadi murid terbaik di tingkatan tari tertentu. Tapi itu juga saya nggak pernah anggap luar biasa – karena saya suka jadi buat saya lumrah saja saya jadi yang terbaik lha wong emang saya suka banget kok. Ajaran almarhum Papa adalah itu: kalau kamu suka buktikan dengan memberikan hasil yang baik.

Tapi sampai sekarang rasanya saya memang nggak pernah niat sampai jungkir balik untuk jadi yang terbaik atau untuk jadi ‘yang tidak biasa-biasa aja’. Semua saya biarkan mengalir. Dan, I never had any problem with that.

Until now.

Mungkin ini juga pertanyaan klasik para wirausaha: mau digedein, atau segini aja?. Kalau digedein, mau segede apa?. Kalau mau dibawa lari, mau seistimewa apa?. Dalam industri dimana the impossible triangle (murah, cepat dan bagus – go figure...) masih sering digunakan untuk membeli jasa, mau gimana supaya tidak bisa dipaksa mengikuti segitiga peyot itu?.

Pening kepala saya mikirinnya. Dan tetap saja saya nggak tahu jawabannya apa. 

Kalau mau jujur kadang-kadang ada keinginan untuk satu waktu saya berhenti melakukan ini (terus yang baca dan kenal saya panas dingin nggak ya....hahahaha...). Cuma lalu ada pertanyaan lain: terus mau ngapain?. Nulis buku cerita anak – ide yang bagus, tapi masalahnya saya juga nggak kreatif-kreatif banget. Jadi travel agent? – ah terlalu pusing ngurusin orang.

--
Aaaand as a consolation to myself, saya mengakhiri pengembaraan otak saya tadi dengan ini: apa sih yang tidak biasa saat di atas langit masih ada langit, di atas yang bagus masih ada yang lebih bagus?. Mau dikejar sampai mana?. Kan sekarang walaupun biasa aja tapi loe baik-baik aja. You still have a life. You can still enjoy your other hobbies. You can still enjoy being a mother of two. Jadi yaaa....it’s OK lah to be mediocre. Untuk tidak jadi ‘sesuatu’, hanya salah satu dari sekian pemain.

Saya tahu banget mikir seperti itu artinya minta dimarahin oleh salah satu rekanan bisnis saya: gilak...mikirnya kayak gitu mah gak maju-maju.

Ah entahlah. Sekarang saya mau bilang it’s OK to be mediocre. Cause without us, there are no stars :) (jadi ceritanya saya minggir, supaya yang lain bisa jadi bintang...that sounds to be a good excuse for now...supaya saya bisa tidur nyenyak malam ini).


There's rainbow after the rain...there are pots of gold at the end of every rainbow... 
#edisibapergalaudikuartalakhirtahunini

(R I R I)

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts