Tuesday, September 6, 2016

Jadi yang biasa aja



Yang butuh cuti adalah mereka yang baru saja cuti. 

Itu selalu berlaku di hidup saya kayaknya. Entah karena yang namanya Murphy’s Law itu benar adanya, atau ya memang itu cuma cara hidup menyeimbangkan keadaan: setelah senang tibalah susah, dan sebaliknya. 

Tanpa bermaksud mengeluh, minggu lalu rasanya berat sekali saya lewati. Padahal baru saja libur. Dan setelah Senin dan Selasa yang juga nggak semudah yang saya kira, baru rasanya ada sedikit waktu buat napas dan berhenti sejenak (ho’oh...padahal wiken rasanya baru kemarin...). 

Dan mungkin saya memang ibu yang sedikit abnormal. Sudah ada di rumah sejak jam 6, saya memang tidak segera cari anak-anak. Yang saya cari adalah kamar dan ketenangan dan kesendirian. Saat sebentar dimana saya bisa sekedar berbaring, memejamkan mata tidak untuk tidur, tapi untuk membiarkan otak saya mengembara kemana-mana.  

Pengembaraan otak saya sore tadi bermuara di satu topik: keadaan ‘biasa aja’, rata-rata, tidak istimewa tapi juga tidak gagal. Topik yang mengganggu saya sejak tadi pagi. 

Ini semua mungkin separonya gara-gara saya sedang baper. 

Sudah September!. Bukan cuma itu, udah lewat tahun ke-5!. Dan saya merasa yang saya lakukan sedang jalan di tempat. Perusahaan yang dibilang rugi ya nggak (alhamdulillah), tapi mau dibilang berkembang ya nggak juga – dia jalan di tempat. 

Not a bad position to be, sih, saya akui. Masih bisa menggaji 8 orang pegawai itu bagaimanapun juga sangat saya syukuri. Tapi bagaimanapun juga, kadang saya nggak bisa menghindari pertanyaan klasik itu: mau dibawa kemana lagi?. 

--

Susah ya kadang-kadang tahu emang kita masih bisa stretch?. Atau juga ini: emang kalau kita lebarkan lagi, kita paksa meluaskan diri, kita sanggup?. Lalu apa konsekuensinya?. 

Saya pernah kerja di perusahaan asing, dimana target selalu dibawa naik-naik ke puncak gunung. Sampai kadang bikin saya bingung ini yang bikin target memang sedang ingin naik gunung atau lagi hang over sehingga dia kira dia burung yang bisa terbang tinggi, tinggi sekali. 

Saya terbiasa dipertanyakan: kenapa cuma segini, apa lagi yang bisa dilakukan; dan saya selalu merasa terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 

Saya selalu kembali pada pertanyaan yang sama: emang kenapa dengan yang sekarang?, kan udah naik, walaupun nggak ke puncak gunung?. Menurut loe orang-orang ini belum kerja sekeras yang loe mau?. Dan biasanya diskusi itu akan berakhir dengan saya yang menyerah berargumen dan cuma bisa bilang: OK now what do you want us to do?. Dan di akhir tahun saya mengirimkan surat cinta yang gegap gempita tanpa sensor sebagai catatan akhir tahun pada bos saya. Cuma buat memuaskan rasa kesal saya saja sih. Dan sedikit harapan saya di-PHK karena terlalu kurang ajar. Tapi sayang saya nggak pernah seberuntung itu walaupun sudah cari gara-gara. 

Saya muak dengan keadaan itu setelah 4 tahun – setelah saya merasa cukup sampai disini saya belajar untuk dipecut dan menahan ngilu karena pecutan. Lalu memutuskan untuk keluar dari lingkaran setan itu.

--

Sekian tahun sesudahnya. Disinilah saya. Di persimpangan itu: mau jadi yang ‘biasa aja’, atau mau dibawa lari lebih kencang lagi?.

Sejak kecil saya rasanya sudah selalu menargetkan diri untuk jadi yang ‘biasa aja’. 

Juara kelas nggak pernah. Juara perlombaan apapun nggak pernah. Saya juara cuma waktu les nari Bali – beberapa kali jadi murid terbaik di tingkatan tari tertentu. Tapi itu juga saya nggak pernah anggap luar biasa – karena saya suka jadi buat saya lumrah saja saya jadi yang terbaik lha wong emang saya suka banget kok. Ajaran almarhum Papa adalah itu: kalau kamu suka buktikan dengan memberikan hasil yang baik.

Tapi sampai sekarang rasanya saya memang nggak pernah niat sampai jungkir balik untuk jadi yang terbaik atau untuk jadi ‘yang tidak biasa-biasa aja’. Semua saya biarkan mengalir. Dan, I never had any problem with that.

Until now.

Mungkin ini juga pertanyaan klasik para wirausaha: mau digedein, atau segini aja?. Kalau digedein, mau segede apa?. Kalau mau dibawa lari, mau seistimewa apa?. Dalam industri dimana the impossible triangle (murah, cepat dan bagus – go figure...) masih sering digunakan untuk membeli jasa, mau gimana supaya tidak bisa dipaksa mengikuti segitiga peyot itu?.

Pening kepala saya mikirinnya. Dan tetap saja saya nggak tahu jawabannya apa. 

Kalau mau jujur kadang-kadang ada keinginan untuk satu waktu saya berhenti melakukan ini (terus yang baca dan kenal saya panas dingin nggak ya....hahahaha...). Cuma lalu ada pertanyaan lain: terus mau ngapain?. Nulis buku cerita anak – ide yang bagus, tapi masalahnya saya juga nggak kreatif-kreatif banget. Jadi travel agent? – ah terlalu pusing ngurusin orang.

--
Aaaand as a consolation to myself, saya mengakhiri pengembaraan otak saya tadi dengan ini: apa sih yang tidak biasa saat di atas langit masih ada langit, di atas yang bagus masih ada yang lebih bagus?. Mau dikejar sampai mana?. Kan sekarang walaupun biasa aja tapi loe baik-baik aja. You still have a life. You can still enjoy your other hobbies. You can still enjoy being a mother of two. Jadi yaaa....it’s OK lah to be mediocre. Untuk tidak jadi ‘sesuatu’, hanya salah satu dari sekian pemain.

Saya tahu banget mikir seperti itu artinya minta dimarahin oleh salah satu rekanan bisnis saya: gilak...mikirnya kayak gitu mah gak maju-maju.

Ah entahlah. Sekarang saya mau bilang it’s OK to be mediocre. Cause without us, there are no stars :) (jadi ceritanya saya minggir, supaya yang lain bisa jadi bintang...that sounds to be a good excuse for now...supaya saya bisa tidur nyenyak malam ini).


There's rainbow after the rain...there are pots of gold at the end of every rainbow... 
#edisibapergalaudikuartalakhirtahunini

(R I R I)

No comments:

Post a Comment

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts