Thursday, April 9, 2015

Mbok Jamu



Sudah lebih dari 4 tahun saya tidak lagi kerja di sebuah gedung kantor. Artinya juga sudah lebih dari 4 tahun saya tidak berada di sebuah gedung kantor pas waktu makan siang, yang dulu biasanya adalah ajang cuci mata. Kalau bukan lihat pekerja-pekerja pria ganteng entah dari lantai berapa, ya lihat sesama pekerja perempuan dan menilai penampilan dan baju yang mereka kenakan.

Hari ini saya harus ke sebuah gedung kantor untuk meeting. Saya datang terlalu cepat – pas waktu makan siang. Saya juga kelaparan. Jadi saya cari tempat makan di gedung itu. Saya pilih sebuah restoran yang tidak terlalu ramai.

Saya sendirian. Dan seperti biasa kalau saya sendirian, saya mulai mengamati sekitar saya. Ada meja dengan beberapa bapak-bapak, tampaknya sedang negosiasi bisnis. Ada lagi meja dengan beberapa pekerja-pekerja perempuan mengenakan business suits, dandanan lengkap dengan bulu mata lentik, alis terukir sempurna. Entah sedang ngobrol apa tapi kelihatannya seru.

Ada sebuah meja lain. Seorang perempuan duduk sendirian. Seperti yang lain, dandanannya lengkap. Bikin saya mikir pantesan ibu saya selalu protes kalau lihat saya berangkat kerja – ke pasar atau kerja nggak ada bedanya, kecuali baju. Dia sedang sibuk dengan handphonenya. Wajahnya serius.

Selesai makan, saya ke kantor klien saya. Berpapasan dengan perempuan-perempuan lainnya. Beberapa terlihat sangat seksi dan cantik.

Selesai meeting, saya pulang. 

--

Taksi menyusuri jalan Sudirman. Jalan agak tersendat. Lalu tiba-tiba saya lihat dia. Mbok jamu.

Usianya mungkin sudah 50 tahun lebih. Saya hanya menebak dari kerutan di wajahnya. Bakul jamunya tergeletak dekat kakinya. Dia sedang duduk di pinggiran pagar gedung. Di dekatnya ada seorang pria – sedang memegang gelas, mungkin sedang beli jamu dari si mbok. 

Mbok jamu. Dengan kebaya sederhana dan jarik batiknya. Wajahnya putih terulas bedak. Bibirnya merah, mungkin dari lipstik, mungkin juga gara-gara makan sirih.

Sudah. Itu saja dandanannya.

Wajahnya terlihat ceria. Air mukanya segar. Tawanya lepas ngobrol dengan si bapak.

Dia tidak terlihat kelelahan. Padahal bakulnya pasti berat. Saya jamin dia pasti sudah berjalan berkilometer jauhnya. Yang kalau kita disuruh melakukannya mungkin sudah nangis di tengah jalan dan memilih menyetop taksi. Dan dia melakukannya TIAP HARI, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun.

Tapi tidak terlihat sedikitpun kesusahan di wajahnya. Ada cahaya disitu. Dalam segenap kesederhanaannya.

--

Tiba-tiba saya teringat perempuan-perempuan di gedung kantor tadi.

Mungkin saya berlebihan. Tapi kok saya merasa wajah si mbok lebih bercahaya dibanding wajah beberapa perempuan yang sebelumnya saya lihat. 

Padahal, semuanya sama-sama kerja.

Yang satu kerja di bawah terik matahari, bedaknya bercampur dengan debu jalanan dan tiap langkahnya dijalani di jalanan Jakarta yang penuh ranjau alias lubang. Lainnya kerja di gedung tinggi, ber-AC.   

Yang satu memanggul bakul yang mungkin beratnya bisa 10 kilogram (perhitungan kasar saya saja. Kalau satu botol penuh kira-kira mungkin 1 – 1,5 liter, setara dengan sekilo sampai sekilo setengah. Biasanya mbok jamu bawa sekitar 6 – 7 botol. Lalu ada gelas juga). Lainnya bawa laptop – paling berat 2kg plus kabelnya (ini kalau kantornya seperti perusahaan saya – belum mampu beliin pegawai laptop tipis yang beratnya cuma sekilo atau kurang itu. Maap deh...), dan tas jinjing yang mungkin beratnya  1 -  1,5 kg kalau diisi 2 handphone, 1 power bank, mungkin 1 tablet (pastinya bukan tablet Panadol yang saya maksud), tas kosmetik, dompet dan entah apa lagi pernak pernik perempuan.

Beda nasib. Beda rejeki. Beda cahaya wajah juga.

Yang menurut kita lebih susah, wajahnya justru lebih sumringah. Paling tidak itu menurut pengamatan saya tadi siang.

-- 

Ironi kehidupan. Dia ada dimana-mana.

Ironi kehidupan yang membuat saya berpikir. Pada akhirnya, apa sih yang memberikan cahaya pada wajah kita?. Kalau kata orang bijak, kemampuan bersyukur dan keikhlasan. Kata orang Jawa, kemampuan untuk ‘nrimo. Kata ibu saya, rajin sholat (glek...ada yang ketampar gak?).

Apa iya?. Wah saya sayangnya nggak punya kesempatan untuk ngobrol sama si mbok jamu atau dengan para pekerja yang saya temui. Jadi saya juga tidak tahu mana dari semua itu yang ada di diri mereka.

Yang saya tahu mbok jamu adalah salah satu simbol ketangguhan menghadapi hidup. Dia juga adalah tonggak sebuah budaya, salah satu penjaga bukan cuma kuliner tapi juga rahasia kecantikan dan kesehatan yang alami, asli Indonesia. Jadi kalau wajah si mbok jamu begitu sumringah – ya mungkin adalah gabungan semuanya: ketabahannya menghadapi hidupnya, dan rahasia kecantikan alami yang ada di ujung tiap jemarinya. 

Analisa ngawur?. Ya memang. Mana pernah saya serius. 


Ini gambar di salah satu kaos saya. Gambaran romantis mbok jamu gendong. Memang selalu digambarkan cantik dan seksi. Mungkin, ketangguhan mereka yang membuat mereka selalu terlihat demikian...


(R I R I)



No comments:

Post a Comment

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts