Wednesday, April 15, 2015

Laci



Dulu, waktu saya masih kerja di sebuah kantor riset pemasaran di Jalan Sudirman, saya pernah dinobatkan jadi pemilik kubikal paling rapi. Padahal, rapi itu bukan identitas asli saya lho. Apalagi kalau anda tanya, “Riri tu orangnya rapi ya?”, dan nanyanya pada Ibu atau Kakak saya, pasti mereka akan menggeleng sekeras mungkin.

Rahasia saya, sejak dulu, adalah laci.

--

Waktu ada ‘Perlombaan Kebersihan Kubikal’ di kantor itu, tidak ada satu orang juripun yang ngecek laci ataupun lemari-lemari yang tertutup di kubikal saya. Coba mereka cek. Pasti saya nggak menang.

Dulu waktu kecil dan masih sekamar dengan kakak saya, kami diberi sebuah rak buku besar dalam kamar. Rak itu punya 2 lemari kecil. Satu untuk saya, satu untuk kakak saya. Demikian selalu Ibu saya mempertimbangkan dengan seksama semua barang yang kami miliki: harus selalu adil dapat hal yang sama dua-duanya.

Nah. Lemari kakak saya isinya selalu rapi jali. Sebaliknya. Untuk membuka lemari saya, harus sangat hati-hati kalau tidak mau isinya tumpah bubrah semua. Segala macam barang ada disitu. Mulai dari kotak sepatu bekas, botol bekas, mainan masak-masakan, sampai album foto dan buku cerita. Dan kalau sudah tumpah, cuma saya yang tahu gimana caranya supaya barang itu masuk semua dan pintunya bisa ditutup lagi. Keren kan?.

Kalau belum dimarahi oleh salah satu (atau semua) dari kedua perempuan dalam hidup saya yang selalu saya anggap Dewi Kembar Kebersihan itu, saya belum akan bereskan isi lemari saya.

Sekarang kebiasaan saya ya masih tetap sama. Permukaan rapi jali, tapi laci dan lemari pasti berantakan. Cuma bedanya dengan dulu, sekarang saya punya kebiasaan sekian bulan sekali (yang bisa jadi berarti 12 bulan sekali, atau 3 bulan sekali – tergantung tingkat kemalasan saya saja), saya audit dan rapikan isi laci-laci dan lemari-lemari saya.

--

Weekend ini saya sudah merencanakan akan melakukan audit itu untuk beberapa rak dan lemari yang sudah lama sekali tidak pernah saya sentuh. Saya sudah membayangkan apa yang harus saya buang, dan akan saya masukkan sebagai gantinya.

Beberapa hari ini juga saya sedang merencanakan perjalanan singkat dengan sahabat-sahabat saya semasa SMA. WA group kami sedang sibuk dengan segala macam ide.

Dan namanya saja sahabat, merencanakan sesuatu dengan ngobrol ngalor ngidul sudah campur aduk jadi satu. Dan layaknya bernostalgia – segala rupa ceritapun muncul.

Dan tiba-tiba saya berpikir tentang ini: laci di hati.

Iya lho. Hati kita itu sebetulnya juga pasti banyak lacinya. Ada laci perasaan yang menyenangkan dan semua yang berkaitan dengannya, ada laci perasaan yang tidak menyenangkan. Ada rak terbuka juga pasti disitu – tempat kita memajang segala hal yang membuat kita tersenyum, tertawa, atau menangis bahagia. Tapi mungkin ada juga terselip laci yang kita kunci rapat-rapat. Kuncinya mungkin sudah kita buang. Karena perasaan yang ada di dalamnya terlalu menyakitkan untuk dibuka kembali.

Ngobrol dengan sahabat-sahabat saya itu membuka kembali banyak laci di hati saya. Dan menyenangkan sekali membuka lagi laci-laci berdebu itu satu persatu. Tertawa bersama. Mengingat kembali kekonyolan, sekaligus kebodohan kami jaman SMA.

Ada juga laci yang terbuka tanpa saya ingin waktu kami berhaha-hihi seru itu. Tapi waktu dia terbuka pun, saya tetap tersenyum karena yang ada di dalamnya pernah membuat saya amat bahagia.

Saya lalu juga mengingat-ingat apa ada ya laci yang sengaja saya kunci dan kuncinya saya buang?. Rasanya sekarang tidak ada. Dulu pernah ada. Lalu kemudian saya memutuskan untuk membongkar paksa laci itu, dan membersihkan sambil memaafkan semua yang ada di dalamnya supaya saya bisa berjalan ke depan tanpa beban.

--

Melakukan audit berkala pada laci-laci di dalam hati, rasanya sama pentingnya dengan melakukan audit berkala itu pada laci dan lemari di rumah.

Di rumah pasti selalu ada barang yang tak terpakai. Siapa tahu barang itu masih berguna buat orang lain sementara kita biarkan dia teronggok di lemari. Mubazir, dosa katanya sih (tapi sumpah bukan gara-gara takut dosa saya melakukan audit berkala. Numpuk barang artinya sama dengan bikin saya susah beli barang baru, bingung nanti disimpan dimana...itu aja).

Kalau di hati buat apa mengaudit laci-laci juga?. Lha ya buat apa menyimpan perasaan usang. Apalagi kalau itu adalah perasaan marah, yang akhirnya cuma menggerogoti  hati. Atau perasaan sedih berkepanjangan, padahal dunia menawarkan banyak keindahan kalau saja kita mau berbesar hati dan melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Laci yang pernah saya kunci rapat-rapat berisi kemarahan yang luar biasa. Kemarahan yang pernah membuat saya berpikir bahwa pembalasan yang terbaik adalah dengan tidak memaafkan dan menganggap orang-orang yang sudah membuat saya marah itu sudah hilang dari muka bumi. Kalaupun tiba-tiba ketemu, saya anggap mereka nggak ada (padahal saya nggak punya kemampuan memandang tembus pandang. Agak runyam memang jadinya saat beneran kejadian ketemu dengan mereka...).

Tapi ada satu saat dimana lalu tiba-tiba saya mikir: ngapain lu bawa-bawa tu laci. Udah jelek, debuan, kuncinya juga udah lu buang, bikin jelek ruang hati lu aja tauk!.

Saat itulah saya memutuskan bahwa saya bodoh. Bodoh karena telah menyimpan sampah.

Lalu saya bongkar laci itu. Saya hadapi kemarahan saya sendiri. Saya hadapi mereka yang membuat saya marah. Saya tumpahkan perasaan saya sejujur-jujurnya, tanpa berharap bahwa mereka akan meminta maaf. Tujuan saya ya cuma satu kok: buang sampah. Mereka akan minta maaf atau tidak, saya tidak peduli.

Setelah itu, lega sekali rasanya.

Ruang hati saya terasa jauh lebih rapi. Sama dengan perasaan puas saya kalau sudah memandang laci dan lemari yang rapi dan lowong setelah saya bereskan (horreeee bisa beli barang baru... ups..).

Dan hati juga rasanya lebih ringan. Karena laci busuk di hati sama saja dengan bagasi yang kebanyakan saat kita jalan-jalan. Dan saya bukan orang yang senang bawa bagasi berat – travel light, adalah salah satu mantra saya. 


Jadi, siapkah anda mengaudit hati?. Coba deh. It can be very revealing as well as refreshing.. 


(R I R I)

2 comments:

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts