Sunday, November 30, 2014

Rendang



Almarhum Papa saya orang Jawa asli. Mama saya orang Minang asli. Keduanya besar di tanah kelahiran mereka masing-masing. Mereka bertemu di periuk bernama Jakarta, di tahun 60an. 

Berbeda dengan Mama yang selalu berusaha untuk mengenalkan kami pada budaya Minang terutama tentang apa artinya kami yang cucu-cucu perempuan dari anak perempuan, dengan konsep ninik mamak, anak kemenakan dan segala rupa tentangnya; almarhum Papa tidak pernah mengenalkan kami pada apa artinya menjadi orang yang berdarah Jawa. Padahal rumah almarhum Eyang di Magelang adalah sebuah rumah tua romantis yang bernuansa Jawa yang kental, yang baru saya kenal belakangan setelah hampir dewasa. Tapi yang ada di kepala saya tentang Papa dan kakak-kakak beliau adalah perbincangan dalam bahasa Belanda di ruang tengah keluarga kami. Dan perbincangan Papa dengan para keponakannya dalam bahasa Indonesia – yang sesekali diselipi bahasa Jawa yang tidak pernah saya pahami, dan Papa juga tidak pernah berusaha mengenalkan kami pada bahasa Jawa. 

Dengan latar belakang seperti itu, saya kurang lebih memang lebih kenal dengan ke-Minang-an saya ketimbang sebagai turunan orang Jawa. Mungkin juga karena Datuk dan Nenek masih hidup saat saya tumbuh, dan sebagian besar kakak-kakak dan adik-adik Mama juga tinggal di Jakarta, sehingga kami masih merasakan berkumpul paling tidak setiap Idul Fitri. Mama dengan kakak dan adiknya pun masih berbincang dalam bahasa Minang. Walaupun jujur mungkin hanya sedikit sekali yang nempel di benak saya tentang segala yang berkaitan dengan ‘jadi orang Minang’ dan segala ‘aturan’ budayanya, tapi saya masih merasa kenal dengan bagian itu. 

Nah pastinya, saya juga lebih kenal dengan makanan Minang. Tanpa jadi orang Minang-pun rasanya orang Indonesia rata-rata pasti tahu makanan Minang, karena let’s face it, tak ada tanah sejengkalpun yang tidak ‘ditumbuhi’ Rumah Makan Padang, apalagi di Jakarta.


Salah satu yang dekat sekali dengan hidup saya adalah Rendang. Setiap lebaran, ini pasti jadi hidangan wajib. Sebagai Riri kecil, saya masih lihat nenek memasak rendang ini di atas tungku kayu yang dibuat di halaman rumah mereka di Cipete. Bau dan rasanya? Jangan ditanya. Luar biasa. Tidak bisa ditemukan di Jakarta pastinya. Saya baru menemukannya lagi, terutama aroma asap yang khas di daging dan bumbunya, waktu menemani Mama pulang kampung beberapa bulan yang lalu.  

Sampai sekarang, saya tidak pernah tergerak sedikitpun untuk mencoba memasak rendang ini. Alasannya jelas lah: lama. Apalagi kalau rendang hitam. Membuatnya jadi hitam, tapi bukan karena hangus, itu makan waktu lama. Masak satu jenis masakan selama 3 – 4 jam?. No way. Saya cukup tahu saja bagaimana membuatnya, tidak melakukannya.


Satu pagi, kebetulan ada rendang di atas meja makan. Kelaparan, saya ambil nasi panas, dan saya makan. Pelan-pelan. Saya biarkan rasa itu menyesap di lidah. 

Lalu saya tertegun. Ah...perjalanan rendang ini luar biasa ya sebetulnya.

Bayangkan saja.

Sebelum dia bisa jadi hidangan. Ada berbutir-butir kelapa yang harus diperas santannya. Kalau mau enak, 1 kg daging butuh santan dari 4 butir kelapa. Mencari kelapa yang pas tuanya juga ada seninya.

Memeras kelapa, bukan pekerjaan mudah. Dan tahu berapa jumlah air yang pas untuk bisa menghasilkan santan yang kental, juga bukan masalah sepele.

Santan ini harus dimasak dulu sampai mendidih. Dan selama dimasak, tidak bisa berhenti mengaduk. Ditinggal sebentar, santan akan pecah dan masakan tidak sempurna.

Setelah itu masuk daging dan segala bumbu. Diaduk lagi. Diaduk sesekali. Terus menerus. Antara 3 sampai 4 jam. Sampai dia masak dengan sempurna.


Luar biasa ya, filosofi di belakang sepiring rendang. Bahkan kalau saya tidak salah ingat, salah satu pelajaran dari Mama adalah tentang filosofi 'marandang' - atau membuat rendang. Bahwa segala sesuatu itu harus dicapai dengan usaha, kadang mungkin dengan air mata (poetically dan literally - masak rendang pakai kayu dan sabut kelapa itu asapnya memang bisa bikin air mata mengalir), tapi kalau kita tidak mudah menyerah, hasilnya akan nikmat. Ya seperti rendang yang enak itu.

Sesuatu yang mungkin sekarang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk dunia yang serba instan. Dan kadang saya ingin tahu apakah generasi-generasi berikut akan tahu ada cerita apa di balik segala hal yang enak-enak itu.  

Media sosial memberikan kita segala hal – dengan semua dampak baik dan buruknya. Ada Mbah Google yang siap diakses kapanpun. Ada fast food dimana-mana dengan deliverynya (termasuk juga rumah makan Padang). Kadang-kadang malah sampai karirpun maunya instan dan cepat melejit.

Makan rendang pagi itu membuat saya membatin dengan pikiran blo’on saya: kalau tidak tahu perjalanan sebuah hidangan bernama rendang, karena terpapar dengan segala yang instan – yang selalu siap ‘terhidang’ di hadapan mereka, lalu generasi berikut apakah masih bisa menghargai sebuah perjalanan panjang untuk mencapai sesuatu?. 

Mari tidak bicara tentang kesempurnaan karena saya tidak percaya itu akan pernah hadir. Tapi as simple as sebuah pencapaian yang terbaik saja. Akankah satu saat akan ada satu generasi dimana itu bukan sesuatu yang penuh makna dan perjuangan, tapi sesuatu yang ‘harus diberikan’ dan jadi hak, yang harus ‘siap terhidang’ dan bukannya diusahakan?.


A generation blames the generation that came before, and looks down to the generation after it. Mungkin pernyataan itu benar. Dan saya sering berharap itu salah. Tapi salahkah saya kalau saya khawatir?.

Louis Armstrong dalam lagunya ‘What a Wonderful World’ berlantun: I heard babies cry, I watch them grow. They’ll learn much more than I’ll ever know.  

Iya memang. Kalau saya lihat anak-anak saya, dalam usianya sekarang, mereka telah belajar begitu banyak hal. Tidak terbayang dulu bahwa di usianya yang 10 tahun, Tara sudah bisa mengoperasikan Word, Powerpoint dan Excel. Saya malah belajar beberapa fungsi Powerpoint dari dia!.

That part, I enjoy. Karena saya juga jadi belajar banyak hal tentang diri saya sendiri, tentang dunia saya, dan ketertinggalan saya.

Tapi kadang saya juga khawatir mereka tidak belajar hal-hal sederhana tapi bermakna. Ya seperti perjalanan rendang itu.


Saya percaya solusinya ada di tangan kita para orang tua. Mungkin memang kita harus sering mengingatkan mereka bahwa ada banyak hal diluar sana yang juga bisa mereka pelajari, sambil main, sambil ngobrol, bahkan, sambil makan.

Pertanyaannya: apakah kita para orang tua ini masih menghargai hal-hal itu juga?.

Mari kita renungkan. Sambil makan rendang, kalau ada.


(R I R I - 30 November 2014. Pikiran ngelantur sambil nemenin Tara belajar untuk UAS...sebuah perjalanan panjang buat saya menemukan kesabaran, dan buat Tara untuk selesaikan masa sekolahnya.. Ah hidup memang indah :) )
  




No comments:

Post a Comment

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts