Saturday, September 13, 2014

Cerita dari Perbatasan



“This country never did anything for me”. 

Saya sering mendengar kalimat itu – dengan berbagai versinya, dari sesama orang Indonesia. There was a point in my life, dimana sayapun mempertanyakan hal yang sama. Apalagi di saat para elit politik mempertontonkan dagelan yang baru. Saat para wakil rakyat makin membuat saya bertanya apa masih pantas mereka disebut wakil rakyat, saat cuma pantatnya saja yang duduk di gedung tempat wakil rakyat harusnya bekerja, tapi hati dan otak mereka ada di kantong masing-masing.

Dan hal yang sama selalu jadi pertanyaan saya ketika saya punya kesempatan jalan-jalan ke pulau-pulau lain di luar Jawa. 



Belum lama ini saya dapat kesempatan ke Bintan. Seperti biasa, kerja sehari, selebihnya saya sempatkan jalan-jalan. Saya ditemani oleh seorang Pak Supir yang punya berbagai macam pengalaman. Dari menemani para Jenderal sampai menjemput TKI. 

Dalam salah satu makan siang kami, setelah kenyang menyantap seafood yang endang bambang dengan harga yang cuma setengah harga di Jakarta, kami ngobrol sambil menikmati pemandangan lepas pantai dan angin yang sepoi-sepoi. 

Dari tempat kami, hanya 30 menit perjalanan dengan kapal cepat ke Malaysia. Dan si bapakpun menggulirkan cerita tentang TKI. 

Baru beberapa bulan lalu beliau dikontak seorang tekong – atau penampung TKI ilegal. Ada sekelompok TKI yang harus dijemputnya di sebuah daerah di Bintan yang memang jadi salah satu titik berangkat para TKI ilegal karena jalur ini adalah jalur nelayan jadi tidak ada pemeriksaan imigrasi. Salah satu dari TKI itu orang Flores, yang sudah 7 tahun tidak pulang ke Indonesia.

Orang ini bercerita apa yang harus mereka jalani untuk sampai ke Indonesia. 

Dia sendiri awalnya berangkat ke Malaysia dengan ijin kerja. Tapi ternyata tiba disana, ada ketidakcocokan gaji dengan majikannya. Sementara paspornya ditahan oleh si majikan. Karena tidak tahan dengan gaji dan kondisi kerja, ia pergi dan mencari kerja di perkebunan yang biasa menerima TKI ilegal dan tidak pusing dengan surat-surat. 

Setelah 7 tahun, ia ingin pulang. Dan apa yang diceritakan Pak Supir kepada saya tentang perjalanan itu yang sekali lagi bikin saya bertanya, apa yang sudah dilakukan negara pada orang-orang seperti ini. 

Dari perkebunan tempat si buruh Flores ini bekerja, ada 60 orang yang diangkut dengan truk kontainer. Mereka menempuh perjalanan selama 3 jam untuk mencapai sebuah pantai. Iya, truk kontainer yang tanpa jendela. Bayangkan 3 jam berada di dalamnya, dengan 59 orang yang lain. Mungkin masih untung mereka berangkat di malam hari. 

Tiba di tempat tujuan, ada 2 orang yang pingsan. Tapi boro-boro diurus, dilirikpun tidak oleh baik supir maupun tekong yang menemani mereka. Kabarnya, kalaupun ada yang meninggal, mayatnya akan dilempar begitu saja di tengah perkebunan ataupun ke laut. As simple as that, seolah-olah badan itu adalah karung berisi benda tak berharga. 

Dari tepi pantai tempat mereka diturunkan di tengah malam itu, mereka harus jalan ke dalam laut menuju kapal cepat yang menunggu mereka beberapa meter selepas pantai. 

Si Flores ini kebetulan membawa handphone dan benda itu terjatuh ke dalam laut saat dia menaikkan barang bawaannya ke atas kapal. Saat dia mau mengambil barang itu, si tekong bilang padanya pilih handphone atau naik ke kapal. Artinya kalau dia memilih ambil handphone, dia akan ditinggal. Tak ada kompromi. Akhirnya dia memilih untuk naik ke kapal. 

Di atas kapal si tekong bilang lupakan sajalah barang yang jatuh itu. Buruh Flores ini tanya kenapa dia tidak diijinkan mengambil. Penjelasannya sederhana: kalau dia mencari dulu barang yang jatuh itu, artinya membuang waktu. Dengan membuang waktu, ada kemungkinan mereka akan tertangkap polisi pantai dan itu membahayakan semua orang. Jadi apa harus mengorbankan semua orang demi satu benda?. A simple logic.

Dan bukan hanya ada satu buruh yang seperti itu. Kita semua juga tahu di Malaysia dan Singapura ada banyak sekali yang seperti itu. Pertanyaan yang muncul di hati saya: apa yang sudah ditawarkan Indonesia kepada orang-orang ini?. 

Ini masalah hidup. Mencari nafkah, memenuhi kebutuhan fisik, hal paling dasar dari hirarki kebutuhan manusia menurut Pak Maslow. Jika ada sekian banyak orang yang berani menyabung nyawa untuk pergi ke negeri seberang, apa artinya?. Sedemikian gagalnyakah Indonesia memberikan penghidupan yang layak?. Negeri yang dikaruniai tanah yang subur makmur loh jinawi, mana buktinya?. 



Ini bukan masalah baru, saya tahu. Kita pasti sering baca di koran atau majalah. Kita bahkan juga berinteraksi dengannya setiap hari – yang paling dekat: para asisten rumah tangga. Kalau ngobrol dengan mereka pasti ada saja cerita serupa dengan versi yang berbeda yang kita akan dengar. 

Tapi berada di pantai cantik itu, memandang ke seberang dimana tampak samar di horizon garis-garis yang menandakan negeri tetangga, saya jadi ingin menangis. Saya ingin menangis mengingat para keluarga yang ditinggalkan. Dan para jiwa yang tak terlindung. Kemana negara?.




"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu." — John Fitzgerald Kennedy. Kita juga kenal dengan kalimat ini. Tapi saya sering bertanya: siapa yang mampu berpikir seperti itu?. 

Saat perut keroncongan, anak harus disekolahkan, rumah reyot bocor setiap hujan, siapa yang sanggup berpikir apa yang dia bisa berikan pada negara?. Dan mereka harus berjuang sendiri mempertaruhkan nyawa, tanpa negara membantu mereka untuk selamat. 

Kita bisa saja bilang orang-orang itu saja yang tidak puas dengan apa yang mereka bisa dapatkan di negeri sendiri. Terlalu mudah tergiur dengan gaji besar. But wait. Kalau taruhannya adalah mati, lalu dilempar ke semak-semak tidak diurus, masa iya semuanya hanya demi gaji yang lebih besar?. Saat saya juga dengar cerita tentang kekayaan yang tertimbun di kantong-kantong orang-orang tertentu saja di sebuah daerah, yang sebetulnya adalah cerita basi, apa iya lalu salah jika ada yang merasa lebih baik mencari hidup di negeri seberang?.   


Ini baru cerita dari salah satu pulau perbatasan. Dan ada begitu banyak pulau, dengan masing-masing cerita pedihnya. Kemana negara?..

.....saya tidak tahu siapa yang bisa menjawab. Saya rasa bahkan bapak-bapak dan ibu-ibu wakil rakyat itu juga banyak yang tidak tahu...  

30 menit dari sini, Malaysia... Salahkah mereka tergoda dengan negara tetangga?


1 comment:

  1. Halloo Mba Riri, saya iseng-iseng dan menemukan blog ini. Bacaan yang menarik.
    Memang miris melihat kondisi TKI khususnya di Malaysia dimana hasil jerih payah mereka dihargai paling rendah dari pada TKI di negara lainnya. TKI jalur prosedural saja dihargai sebelah mata apalagi TKI ilegal khususnya di perkebunan, mereka kadang tak dapat apa-apa dari kerja kerasnya. Saya mendapatkan cerita bahwa di beberapa perkebunan di Malaysia TKI 'dipaksa' menggunakan prostitusi yang perusahaan tersebut bawa saat TKI menerima gaji. Gaji yang tidak seberapa mereka habiskan karena godaan wanita, keluarga di rumah pun semakin merana.
    Tidak sedikit dari keluarga TKI menjadi berantakan, perceraian meningkat dan psikologi anak rusak.
    Tapi tetap saja hal ini tidak jadi lirikan pemerintah, masing-masing hanya memikirkan kantong sendiri. Mereka bertindak saat ada masalah 'yang disorot media', sedangkan masalah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar jadi perhatian. Mirisnya lagi beberapa aparatur negara yang harusnya melindungi ternyata menjadi biang besarnya dalam masalah ini.
    Ya, saya juga bertanya, kemana negara?

    ReplyDelete

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts