Sunday, April 27, 2014

Jadi Guru Sehari, Memahami Makna ‘Semaksimal Mungkin’



Sebagai ibu yang punya anak usia sekolah dasar, seperti banyak ibu-ibu yang lain, setiap tahun saya pasti sempat nyampah di sosmed tentang kurikulum, tentang beban pelajaran yang sedemikian berat, dampaknya terhadap kehidupan saya sebagai ibu yang juga bekerja, dan tentang sulitnya anak saya menghadapi beban pelajarannya. 

Setiap tahun pula, saya sebetulnya punya pertanyaan besar buat para guru: bagaimana caranya para guru menghadapi beban tersebut?. Apa sebetulnya yang terlintas di kepala mereka tentang apa yang harus mereka berikan pada semua anak muridnya?. Bagaimana lalu mereka sendiri menghadapi apa yang harus dihadapi anak-anak mereka?.

Saya pernah menanyakan hal itu pada guru kelas Tara, anak sulung kami. Jawaban beliau hanya sebuah senyum harap maklum kalau dalam bahasa saya, atau kurang lebih, senyum pasrah, mungkin. Dan beliau hanya menjawab, “Sudah tanggung jawab kami Bu, kami cuma berusaha semaksimal mungkin”.

Semaksimal mungkin. Itu jawaban yang mungkin buat banyak orang normatif. Tapi yang terdengar di telinga saya adalah: tidak terbatas.

Tapi saya tetap tidak punya bayangan, seperti apa sih ‘semaksimal mungkin’ itu.

Ibu saya, waktu beliau baru lulus dari Sekolah Guru di Padang Panjang, pernah jadi guru SD di pedalaman hutan Sumatera Barat saat perang PRRI. Beliau dengan tiga temannya mengajar tanpa dibayar, kecuali sesekali dengan satu sisir pisang, sebuah pepaya, atau sekantong beras. Saya pernah bertanya juga pada beliau, seperti apa rasanya mengajar saat itu.

Jawaban beliau: menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senang karena beliau bahagia dikelilingi anak-anak dan membuat mereka bisa jadi sedikit lebih pintar walaupun sedang masa darurat perang. Sedih, karena beliau tahu ada banyak hal yang bisa dilakukan tapi terbatas oleh perang. Dan beliau lontarkan ini, “Ya kita sih cuma usaha sebisa kita, semaksimal yang kita bisa waktu itu, mau gimana lagi”. Sekali lagi, ada kata ‘semaksimal’.

Di saat perang, apa pula artinya itu. Apalagi dengan cerita lainnya, yang membuat saya meneteskan air mata, tentang alasan kenapa beliau harus berhenti mengajar. Suatu hari ada serangan tentara, dan sekolah pas berada di tengah daerah yang diserang. Salah satu murid beliau, tewas terkena peluru di kepala, di ceruk tempat mereka berlindung, hanya berjarak 2 anak dari beliau. Sejak itu Datuk melarang ibu saya untuk kembali mengajar.  

Lalu, semaksimal apakah yang harus diberikan seorang guru di saat kacau seperti itu?.  

Bapak mertua saya juga guru SMA di Ungaran. Cip sering cerita soal Bapak yang harus mengajar sana sini supaya anak-anak beliau juga bisa sekolah setinggi mungkin dengan pendapatan guru yang terbatas. Tapi Bapak masih selalu punya waktu untuk bercerita untuk anak-anaknya. Dan Cip juga cerita tentang Bapak yang tertidur di meja dengan tumpukan-tumpukan kertas ulangan. Dan terkadang ada saja murid beliau yang berkunjung ke rumah mereka, minta diajarkan kembali oleh Bapak. Selelah apapun beliau, pasti akan beliau layani.  

Dalam kepala saya, sekali lagi, itu juga mungkin ekspresi semaksimal mungkin beliau.

Tapi jujur saja, kata semaksimal mungkin itu kan seringkali kita sok paham, padahal belum tentu paham benar.

Jadi waktu saya memutuskan untuk mencoba jadi guru sehari lewat Kelas Inspirasi Jakarta 3, saya mencanangkan: saya akan berusaha semaksimal mungkin supaya jadi guru sehari versi saya, tidak sia-sia. Tidak sia-sia untuk anak-anak, dan tidak sia-sia demi diri sendiri yang sudah merasa berdosa hanya bisa nyampah di sosmed soal pendidikan di negeri indah yang saya cintai ini, tapi sebetulnya TIDAK TAHU APA-APA tentang kenyataan yang ada di lapangan.  Dan yang tidak pernah paham betul ‘semaksimal mungkin’ para guru itu sebetulnya seberapa.

Dan apa yang saya temui?.

Di akhir hari mengajar sehari itu, hari panjang yang dimulai sejak jam 4.30 pagi sampai jam 7 malam saat saya sampai kembali di rumah karena harus bekerja dulu setelah mengajar, saya disambut Lila si bungsu kami.

Dia memeluk lalu mencium saya sambil berkata, “Bunda ejanya (kerjanya) lama banget sih”.

Saat itu, tiba-tiba saja semua yang saya jalani hari itu lewat di kepala seperti sebuah video super cepat. Dan, saya RASANYA tahu apa maksudnya semaksimal mungkin itu.

Saya merasakan betapa susahnya membuat anak-anak itu memberikan perhatiannya buat saya. Saya merasakan suara saya yang hampir habis berlomba dengan suara jeritan anak-anak dan suara dari kelas-kelas lain. Saya merasakan betapa panasnya kelas-kelas itu, plus keharusan naik turun tangga beberapa kali dalam jangka waktu 6 jam kami di sekolah itu. Saya merasakan betapa sulitnya mempersiapkan bahan pelajaran – tentang profesi saya, dalam bahasa sederhana yang bisa dipahami anak-anak.

Saya juga merasakan energi mereka saat saya bertanya tentang cita-cita mereka. Saya merasakan keharuan yang luar biasa melihat anak-anak dengan seragam yang lusuh, ada yang robek di sana-sini, ada yang memakai sepatu yang sudah sangat usang – tapi dengan semangat yang sama untuk sekolah dan belajar, bahkan dengan semua keterbatasan mereka. Saya merasakan sangat kecil artinya apa yang saya berikan, dibanding apa yang guru-guru mereka lakukan setiap hari, saat mereka berkerumun meminta tanda tangan kami layaknya selebriti, sementara guru-guru mereka memandang sambil tersenyum lebar. Ah, saya malu.

Rasanya, di akhir hari yang panjang itu, saya paham apa yang dimaksud para guru dengan semaksimal mungkin. Mungkin ini: memberikan yang terbaik dari diri mereka, setiap hari. Memberikan energi itu pada setiap anak-anak, agar mereka juga bisa memberikan yang terbaik dari diri mereka, setiap hari. Sepanjang tahun. Dan itu, sama sekali tidak mudah.

Pasti banyak orang yang secara normatif sudah tahu jadi guru itu tidak mudah. Tapi bayangkan bahwa mereka, memberikan yang terbaik dari diri mereka setiap hari, untuk anak-anak kita, anak-anak penerus negeri. Lalu apakah kita masih tega tidak membantu mereka?. Apakah kita masih tega ngomel dan nyampah di sosmed tentang pendidikan?. Dan satu lagi: masih nggak malukah kita mengeluh lelah, saat anak-anak kita (dan tolong jangan berpikir anak-anak kita itu hanya untuk yang punya anak, karena anak-anak negeri ini, adalah anak-anak kita semua!) paling tidak 5 atau 6 jam sehari, mendapatkan energi dari orang-orang hebat itu, day in day out?.

Memikirkan itu, dengan Lila di pelukan saya, saya berjanji: Riri, no more nyampah saat elo udah tahu elo bisa berbuat dan membantu...pikirkan anak-anak ini, yang sedang elo peluk, maupun yang sudah elo temui tadi di sekolah...omelan loe, gak membantu diri loe sendiri, dan pastinya tidak membantu mereka.

Saya harus mengusap air mata sebelum Lila melihatnya, lalu saya jawab pertanyaannya, “Iya, lama ya bunda kerja hari ini ya, tapi bunda ketemu anak-anak hebat seperti kamu dan kakak. Satu hari, ikut ya, ketemu mereka”.

Iya. Itu rasanya usaha semaksimal mungkin versi saya selanjutnya: membuat anak-anak saya paham bahwa mereka BERUNTUNG tidak pernah merasakan keterbatasan apapun. Mereka harus tahu bahwa ada anak-anak lain yang tidak seberuntung mereka, dan sebagai sebuah kesatuan, mereka semua adalah anak-anak yang jadi masa depan negeri indah ini. Dan kita, orang tua mereka, punya tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan cita-cita negeri ini lewat mereka. 

Some day, one day, saya tahu mereka bisa berdiri tegak dan tersenyum bersama. Aamiiin.

Kami ditugasi mengajar di SDN 6 Pagi Kembangan Utara. Di kelas 3A, salah satu kelas yang saya ajar, ada anak yang kidal karena tangan kanannya cacat. Semangat belajarnya luar biasa. Saya ingat Tara yang juga kidal dan walaupun tidak cacat, tapi lemah di bagian kanan tubuhnya dan sering sekali mengeluh dan marah-marah kalau harus gunakan kedua tangannya dan dia merasa kesulitan. Saya ingin Tara ketemu dengan anak ini - supaya tahu apa artinya 'semaksimal mungkin'. Dengan tangan satu, anak ini berusaha semaksimal dia bisa, setiap hari, untuk belajar dan menembus keterbatasan. Saya doakan cita-citanya tercapai. Aamiiin..
(R I R I)

No comments:

Post a Comment

A place

There is a place I go to When I’m weary and troubled And need a time alone There is a place I go to A small cabin on a hill ...

Popular Posts