Monday, March 24, 2014

Sejarah



Harusnya saya nggak nulis ini karena ada 2 reports yang harusnya saya selesaikan sebelum hari Kamis dan saya sibuk menjelajah Ambon dan sekitarnya. 

Tapi seperti biasa, kalau sedang dikejar deadline, otak saya malah mengembara kemana-mana. Dan seperti biasa kalau harus pergi sendirian seperti sekarang, saya selalu bawa novel. Kali ini, saya bawa novel Pulang karya Leila S. Chudori, salah satu penulis yang saya cintai sejak saya remaja. 

Novel ini cerita soal tapol yang meninggalkan Indonesia. Orang-orang yang berlari dari tanah air setelah kericuhan PKI di tahun 1965. Tentang perjalanan hidup mereka di negeri orang, mereka yang ditinggalkan di tanah air dan perjuangan mereka, anak-anak mereka kelak, kemarahan yang terpendam, kerinduan tak berujung, dan mencari perdamaian dengan sejarah. To cut the story short, novel ini bikin keran air mata saya terbuka beberapa kali. 

Saya belum selesai baca seluruh novelnya. Tapi cerita ini membuat saya bertanya-tanya. Kelak, saat anak-anak saya dewasa, sejarah macam apa yang akan mereka ingat tentang kami, orang tuanya. 

Saya kebetulan tumbuh dengan penggalan-penggalan sejarah tentang kedua orang tua, juga tentang kakek dan nenek saya. Ibu saya sangat rajin bercerita tentang PRRI dan apa maknanya bagi beliau kakak beradik, dan kedua orang tuanya – Datuk dan Nenek saya. Saya tumbuh dengan imajinasi anak kecil tentang perjalanan kabur ke hutan. Tentang Datuk yang dicari-cari di zaman Jepang. 

Di novel Pulang diceritakan tentang Bersih Diri – saat seseorang akan masuk ke lingkungan pegawai negeri akan diselidiki latar belakangnya. Ibu saya bercerita tentang beberapa om saya yang harus menjalani pemeriksaan itu karena nama mereka muncul dalam daftar PRRI yang dulu dianggap sebagai lawan pemerintah. 

Singkatnya, saya tumbuh dengan sejarah. Glorious, fiery, scary at times. 

Tapi lalu saat saya berpikir tentang anak-anak saya, Tara dan Lila, saya berpikir ke belakang. Saya punya sejarah apa ya. 

Yah ada sejarah patah hati. Ada usaha menguasai sesuatu yang saya tidak suka jaman kuliah. Setahun bikin skripsi dengan teknik yang tidak populer dan topik yang sama tidak populernya. A few years mencoba apa yang namanya kerja sebelum lulus. Hidup sendiri di negeri orang untuk beberapa tahun. Dan mungkin beberapa tahun ke depan cerita tentang bagaimana saya dan para partners saya yang hebat mencoba membangun Eye to Eye jadi perusahaan yang bisa dibanggakan. 

Tapi....they all seem so trivial, almost......unimportant. 

Saya jadi mikir, apakah anak-anak saya akan merasa seperti saya saat saya sedang berimajinasi tentang perjuangan Datuk dan Nenek. Apakah mereka juga akan merasakan semangat yang menggelora. Ketakutan. Kekecewaan akan kekalahan. Perjuangan membangun kembali hidup yang tercabik-cabik. 

Kadang-kadang saya dan Cip berpendapat kehidupan anak-anak kami enak sekali. Mulyo, kalau kata Cip yang selalu kembali ke boso Jowo kalau kehabisan ekspresi dalam bahasa Indonesia. Dan itu membuat kami takut. Apalagi lalu saya melihat ke belakang dan melihat perjuangan saya tidak sehebat ibu dan ayah saya, Datuk dan Nenek yang sudah menyumbang sebagian dari usia mereka untuk negeri. Kalau saya ceritakan pada anak-anak saya, mungkin mereka akan bilang, “Ah Bunda, itu kan gak ada apa-apanya”. Hmmmm..... 

Saya tumbuh dengan sejarah, yang bagaimanapun juga memberikan saya contoh tentang hidup yang tercerai berai dan bagaimana kita harus kuat membangunnya kembali. Sejarah yang juga mengajarkan saya bagaimana mencintai negeri ini apapun keadaannya. And I can’t help thinking bagaimana caranya agar anak-anak kami bisa belajar tentang hal-hal yang sama dalam ke-mulyo-an hidup mereka. 

Bukan pertanyaan yang bisa saya jawab sekarang, pastinya. Waktu yang kelak akan membuktikan apakah sejarah di hidup saya dan Cip, apa yang kami berdua jalani sebagai pasangan hidup, sebagai orang tua, dan juga sebagai pribadi-pribadi yang terpisah, kelak akan membantu anak-anak kami menjalani hidup mereka masing-masing. 

At least one thing I know, I sure hope sejarah hidup kami kelak bukan sejarah tentang hidup yang disia-siakan. 

(R I R I)

No comments:

Post a Comment

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts