Thursday, October 15, 2009

Menggugat, atau digugat, cinta?




Lolita.


Saya nonton film ini tahun 1998. Dibintangi oleh Jeremy Irons dan Dominique Swain. Ceritanya tentang Prof. Humbert Humbert yang jatuh cinta berat pada anak induk semangnya. Dolores Haze, atau Dolly, atau Lolita, atau Lola. Dia lalu menikahi si induk semang demi selalu dekat dengan Lolita. Ndilalah si istri kemudian menemukan buku harian sang profesor yang isinya adalah segala impian dan keinginannya sebagai laki-laki kepada perempuan, yang notabene adalah anak remajanya.


Si istri marah, merencanakan melarikan diri bersama anak perempuannya, tapi lalu ia meninggal karena tertabrak motor tidak jauh dari rumah mereka. Merdekalah si profesor, dan ia berkelana dengan Lolita, berkeliling Amerka, dan bertualang atas nama cinta.


Sejak nonton filmnya, saya tertarik untuk membaca karya asli dari Vladimir Nabokov ini, salah satu dari beberapa karya sastra yang paling berpengaruh di dunia. Beberapa minggu lalu, akhirnya saya selesai baca novel terjemahannya (oh kapan ya novel-novel berbahasa Inggris bisa lebih terjangkau harganya....mimpi dulu deh). Dan, saya jadi kasihan juga pada Prof. Humbert Humbert.


Dalam ilmu psikologi, ada label yang diberikan buat orang-orang seperti si profesor. Pedofil. Hiiii....sebagai seorang ibu yang mempunyai anak perempuan, saya selalu merinding kalau membaca berita-berita yang berkaitan dengan kelainan yang satu itu. Tapi, membaca Lolita, saya melihatnya dari kacamata yang berbeda.


Lolita ditulis dengan menggunakan sudut pandang si profesor. Betapa ia menderita karena secara tiba-tiba kehilangan pujaan hatinya saat ia remaja. Dan bayangan sang pujaan hati itu yang ia bawa sampai ia dewasa, sampai akhirnya ia merasa bertemu lagi dengan sang dewi dalam bentuk seorang Lolita. Tapi itu jadi perjalanan cinta yang berujung tragis. Sang profesor terjebak, terkungkung, tersiksa.


Sampai akhirnya ia berhasil berkelana dengan Lolita selepas kematian ibunya, Prof. Humbert tahu bahwa ia tidak pernah memiliki hati Lolita. Sementara ia mencurahkan segalanya untuk sang dewi, Lolita memperlakukannya sebagai gudang uang. Lolita ternyata juga tidak sepolos yang Prof. Humbert kira – hubungan seks sudah dikenal oleh gadis kecil itu. Dan akhirnya, yang saya terjemahkan adalah, Prof. Humbert-lah yang dimanipulasi oleh Lolita, dan bukan sebaliknya.


Ada satu masa di tengah pengelanaan mereka dimana Prof. Humbert sangat ingin Lolita juga mencintainya seperti ia mencintai Lolita. Tapi Lolita tidak pernah merasakan hal yang sama. Dan meranalah Prof. Humbert dengan perasaan curiga dan ketakutan, bahwa satu hari, Lolita akan pergi meninggalkan ia sendiri.


Akhirnya memang Lolita berhasil melarikan diri dari Prof. Humbert. Dan bertahun-tahun si profesor merana menahan perasaannya, tidak menemukan lagi sang dewi dalam anak kecil manapun yang ia lihat. Sampai kemudian ia mendapatkan surat dari Lolita yang ketika itu sudah berusia 17 tahun, sedang hamil, miskin, dan membutuhkan uang.


Prof. Humbert datang menemui Lolita, dengan masih membawa cintanya. Masih berharap Lolita akan kembali, membiarkannya mencintainya, dan berharap Lolita satu hari bisa memberikan cintanya. Tapi Prof. Humbert harus pulang dengan tangan hampa, lagi, sendiri.



Di bagian ini saya tersentak. Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca membayangkan si profesor melangkah gontai dengan wajah tertunduk. Sekali lagi harus kehilangan cintanya.


Can you imagine feeling that way?. Watching the one you love slipping away, turning her or his back on you? Not caring for what you are feeling for her or him?.


Memang buku ini bercerita tentang seorang pedofil, yang dari kacamata kita, abnormal. Tapi, perasaan yang dipunyai Prof. Humber juga sangat normal kan?. Itu perasaan yang kita semua bisa miliki. Dan pada akhirnya, novel ini untuk saya adalah bercerita tentang cinta yang menggugat, atau digugat, oleh si perasa cinta itu. Pedofilia atau tidak.


Saya bukan akhirnya memihak pedofil dan bilang bahwa itu adalah perilaku yang bisa diterima. Tapi buku ini mudah-mudahan bisa jadi pengingat buat saya, bahwa yang kita lihat sebagai abnormal juga punya sisi-sisi yang normal. Dan pada akhirnya abnormalitas atau normalitas itu selalu relatif.




(Note saja. Waktu saya cari informasi tentang Lolita, dan saya ketik di google, saya jadi nyengir sendiri melihat hasilnya: beratus-ratus pornographic site. Setelah membaca novelnya, saya agak sedih juga. Karena Lolita, sebetulnya cerita yang menyentuh tentang cinta dan kesendirian. Hanya karena bungkusnya tentang pedofilia, lalu terkesan sangat seksual. Padahal di novelnya, penggambaran hubungan seks antara Humbert dan Lolita itu sangat halus dan tidak vulgar. Ah manusia, memang punya daya interpretasi yang menarik :))



(RIRI)


3 comments:

  1. wowww, aku suka banget ama gaya bertuturnmu. ringan. menari. Cool, Ri! :)

    ReplyDelete
  2. like the review mbak, melihat dari sudut pandang berbeda!

    ReplyDelete

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts