Saturday, July 18, 2009

02:15 Dinihari, Starbucks Thamrin, dan Bom 17 Juli


Jam 2 dinihari. Hampir satu jam saya duduk di sini. Memilih sofa beludru hijau, tepat disamping jendela kaca yang menghadap perempatan Sarinah Thamrin, bersandar sofa rendah setengah telentang. Ini Starbucks. Tak penuh. Tak juga lengang.
Tepat di hadapan saya, empat orang muda-mudi Tionghoa sedang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun kecil-kecilan. Menyalakan lilin dari sebuah cake mungil berbungkus Bread Talk. Tepat disebelahnya 4 lelaki muda tenggelam dalam laptop, koran, dan lamunan. Dibalik punggung saya, ada beberapa kali letupan bahak-bahak tawa..
Sementara dinding Starbucks berdengung lembut oleh lagu-lagu Fleet Foxes. Vokal Robin Pecknold seperti melayang-layang di antara pucuk-pucuk pinus, dan bunyi genta gereja di pinggir desa-desa di Alaska.
Di beranda terbuka, separuh meja kosong. Tiga perempuan muda berpandangan kosong, menekuni permainan kartu mereka. Sementara kursi-kursi lain terisi oleh percakapan santai tanpa masalah, seakan ledakan besar tadi pagi tak pernah terjadi.
Ya. Jakarta di bom lagi. Anda semua tahu ceritanya.
Tadi saat memesan Iced CafĂ© Late, si barista berbisik pada temannya: “Eh gila, langsung ngaruh ya! Sepi nggak sih, rasanya?”. Buat saya ini hiruk-pikuk. Ada sekitar 40-an orang di Starbucks Thamrin dini hari: hidup, sibuk, dan cuek. Seperti layaknya Jakarta sehari-hari..
Semula saya mengharapkan deretan mimpi kecil Amerika – Burger King, Starbucks, Pizza Hut, dan McDo – di bilangan Thamrin yang menyala hampir sepanjang 24 jam ini akan lengang. Sewajarnya, orang waspada dengan bahaya menyusul ledakan. Yang saya lihat adalah pemandangan ganjil. Untuk standar orang rumahan seperti saya, ini menyerupai pasar malam kecil.
In a way, saya amat bersyukur dengan keganjilan ini. Sebagian orang Jakarta, mungkin sebagian besar, meneruskan hidupnya seperti biasa, bahkan setelah tragedi yang biaya ekonomi dan psikologisnya belum bisa kita perkirakan ini. Mengunjungi tempat ini dinihari, saya ingin menyaksikan sendiri: apakah orang bereaksi, atau melakukan perlawanan? Apakah tempat-tempat berbau Barat ini akan dihindari atau tetap dihampiri?
[…]
Baru beberapa jam sebelumnya, saya menceritakan pada seorang teman, betapa saya mengagumi daya perlawanan komunitas Muslim Sarajevo sepanjang perang Balkan di tahun 90-an. Terutama dalam menghadapai bertahun-tahun kepungan dan pembunuhan brutal dari separatis Serbia. Dalam hujan mortir, kelaparan, dan desingan platina panas yang dibidikkan oleh sniper dari perbukitan, orang mencoba hidup seperti biasa.
Salah satu perlawanan terbesar, muncul dalam bentuk yang paling ganjil. Bukan bambu runcing, bukan mobilisasi massa atau sabotase militer. Tapi kontes kecantikan, dalam tajuk “Miss Sarajevo,” yang dilakukan di sebuah basement, dan direkam secara amatir untuk dipertontonkan ke seluruh dunia. Sebuah pernyataan bahwa Sarajevo tak akan jatuh bahkan jika seluruh Tank Serbia dikerahkan untuk membuatnya luluh lantak. Kontes ini diselenggarakan pada tahun 1993, tahun-tahun paling gelap dalam sejarah Eropa pasca perang Dunia II. Ketika genocida di halaman rumah mereka sendiri, dibiarkan berlangsung begitu saja..

Melawan bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan banyak cara. Spanduk "Dont Let Them Kill Us!", ditengah-tengah kontes kecantikan di Sarajvo (1993)

Dua tahun kemudian, U2 – band Irlandia itu – mengabadikan peristiwa tentang kekuatan jiwa manusia ini dalam lagu yang sama: “Miss Sarajevo”. Sejujurnya, salah satu komposisi paling indah yang pernah dibuat oleh Bono dan teman-temannya.

Dan Anda semua tahu. Sarajevo tak pernah jatuh. Berdiri di atas bahu belasan ribu penduduknya yang melawan dan terbunuh. Bangkit kembali seperti phoenix dalam legenda-legenda Cina. Dan pelahan lahir kembali menjadi kota penuh pesona di Eropa Timur.

[…]

Starbucks dini hari, bom di Mariott dan Ritz, dan Miss Sarajevo. Tragedi adalah satu hal. Entah mengapa, ada yang memimpikan negeri ini terperosok ke dalam kegelapan. Tapi ada hal lain yang lebih penting. Dan ini tentang kita. Tentang semangat. Orang-orang kebanyakan seperti saya dan teman-teman mungkin punya satu tugas saja. Tetap memancarkan hidup, tetap berjalan, tetap berusaha bahagia dan sebisa mungkin berbagi kebahagiaan. Saya memilih hal yang paling tidak penting, dengan duduk-duduk cuek di Starbucks Thamrin.

Stay strong, Jakarta! I Love You!

(CIP)

No comments:

Post a Comment

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts