Thursday, May 7, 2009

Sekelebatan perbincangan anak SMA

Sejak minggu lalu, saya tiba-tiba menemukan bahwa ada banyak sekali waktu di tangan saya. Walaupun bingung pada awalnya, karena saya amat terbiasa dengan jadwal padat yang mengharuskan saya merencanakan jam demi jam yang saya lalui, tapi lama-lama saya menikmati menjalani hari demi hari tanpa harus mempunyai rencana yang jelas.

Tapi tetap ada kerutinan yang saya jalani, dan nikmati. Setiap pagi saya mengantarkan Tara ke sekolahnya. Setelah itu, kalau saya sedang tidak malas bergerak, saya menghabiskan waktu satu jam di sebuah tempat fitness dekat sekolahnya. Atau, saya mengunjungi seorang dokter cantik, teman SMA saya, di kliniknya dan membiarkan wajah saya diutak atik selama kurang lebih dua jam (ini keisengan saya yang baru – salah satu bentuk pendobrakan dinding kebiasaan saya yang tidak pernah peduli dengan penampilan. Saya ingin tahu sampai kapan saya betah berlama-lama melakukan hal ini).

Manapun kegiatan yang saya pilih – fitness atau klinik kecantikan (atau kadang juga, salon), biasanya saya pasti akan membuang sisa waktu menunggu Tara selesai sekolah dengan ‘hinggap’ di McD CafĂ©, Kemang. Ada banyak alasan kenapa saya selalu ke tempat itu – pertama karena tempat ini paling dekat dari sekolah Tara. Kedua karena rasa kopinya sangat bisa diterima dan harganya sangat masuk akal. Dan ketiga – saya suka sekali mengamati orang-orang yang datang ke tempat ini.

Hari ini, setelah mengantarkan Tara, saya memilih untuk ke tempat fitness dan setelah itu ke McD Cafe. Dan saya amat beruntung, karena tempat duduk favorit saya ternyata kosong!. Tempat ini amat sulit untuk didapatkan – karena memang nyaman untuk duduk berlama-lama. Dan kenapa jadi tempat favorit saya – karena dari tempat ini saya bisa melihat seluruh wilayah McD tanpa halangan...dan memuaskan kebiasaan saya mengamati orang.

Tak lama saya duduk, masuklah 5 orang anak SMA – semua perempuan. Dan mereka memilih meja yang jaraknya hanya sekitar satu meter dari tempat saya.

Mereka ngobrol dengan suara yang cukup keras – sehingga saya mudah menangkap apa yang mereka bicarakan: orang tua masing-masing. Awalnya, mereka membicarakan ibu mereka. Salah seorang bercerita tentang ibunya yang selalu protes dengan setiap baju yang ia kenakan – sehingga satu kali ia memutuskan untuk memakai abaya (baju muslim panjang), untuk menutupi apa yang sebetulnya ia kenakan di balik abaya itu (dan saya sangat ’gatal’ ingin menanyakan: memangnya kamu pakai apa di balik abaya itu?).

Yang lain bercerita bahwa ia pernah tidak berbicara selama satu bulan dengan ibunya – karena kesal dengan kebiasaan sang ibu membongkar-bongkar tas sekolahnya. Menurut dia, itu tidak pantas (hmmm....iya, saya setuju....).

Ada lagi yang bercerita kalau ia sering berdebat dengan ibunya karena menurut beliau ia membuang terlalu banyak waktu dengan ikut berbagai kegiatan setelah jam sekolah. Sementara ibunya ingin setelah pulang sekolah, ia pulang, dan belajar. Menurut si anak ini, ibunya sangat ”Kolot, norak, dan ngeselin banget!”. Temannya yang lain menimpali dengan menceritakan kalau ia sendiri juga terkadang mengalami hal yang sama – dan biasanya ia akan meminta perlindungan pada sang kakak. Nah, cerita ini hanya membuat anak yang pertama menjerit, ”Ya elo enak punya kakak, gue kan gak punya siapa-siapa!” (saya hanya bisa menduga ia anak tunggal, atau mungkin bahkan ia adalah anak pertama!).

Lalu bergulirlah cerita mereka tentang hal-hal yang menurut mereka konyol, yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Ada satu cerita yang hampir membuat saya tertawa keras.

Cerita ini diceritakan oleh si anak yang saya duga anak tunggal itu (yang juga tampaknya paling banyak berbagi cerita kekesalannya terhadap orang tuanya). Sekali waktu ia nonton dengan ibunya, di Citos. Singkat cerita, setelah film selesai, mereka menunggu dijemput oleh sang ayah. Lama mereka menunggu tapi sang ayah tidak kunjung tiba. Akhirnya sang ibu menelepon ayahnya. Ternyata....bukannya menjemput mereka di Citos, sang ayah menjemput mereka, di PIM (dan cerita ini mirip sekali dengan cerita salah satu teman saya – janjian dengan teman lain di sebuah mall di daerah Jakarta Selatan. Dan yang terjadi: teman saya menunggu di PIM, dan teman yang berjanji untuk bertemu itu pikir mereka harusnya bertemu di....Kelapa Gading).

Anyway....saya antara terharu dan tersentak mendengar kelebatan-kelebatan perbincangan lima anak SMA itu. Saya jadi ingat pada saat saya seusia mereka. Betapa sulitnya kadang menerima perlakuan orang tua. Dan saya juga ingat dulu saya punya tiga orang sahabat tempat saya ‘curhat’ – dan sama seperti kelima sahabat yang saya amati itu, kami juga sering menghabiskan waktu berjam-jam berkeluh kesah tentang orang tua kami (well....dari kami berempat yang paling sering berkeluh kesah rasanya sih hanya tiga, salah satunya tentunya saya).

Pastinya salah satu hal yang sering kami keluhkan adalah sama seperti kelima sahabat tadi – kenapa sih orang tua selalu berpikir mereka tahu yang terbaik buat kita dengan memberlakukan berbagai larangan, yang menurut kita belum tentu baik buat kita. Atau yang lebih pasnya – belum tentu menurut kita hal yang ingin kita lakukan itu adalah sesuatu yang salah!. Membolak-balik hal ini, sekarang, saya jadi tersentil dengan betapa seringnya saya menganggap bahwa saya tahu yang terbaik buat Tara. Dalih yang sering digunakan tentunya – kita sudah ‘lebih tahu’ tentang ‘hidup’. Padahal, apa iya?. Apalagi jaman terus berubah, sementara, apakah kita juga terus berubah seiring jaman?. Jangan-jangan jawabannya adalah tidak, atau paling tidak, belum (dan pasti ada saja yang mengelak, dan menganggap, sudah mengikuti jaman...hmmm....punya BB belum jadi jaminan mengikuti jaman lho ).

Lalu, saat remaja, tema lain yang paling sering mencuat juga adalah perlakuan ‘tidak adil’, kalau orang tua mulai membandingkan dengan adik, atau kakak. Wah saya sangat menderita gara-gara hal yang satu ini. Karena saya sangat berlawanan dengan kakak saya yang manis, rajin belajar, selalu juara 2 atau 3 sampai ia SMA. Sementara saya....masih ingat saya harus sekolah setiap hari saja sudah bagus.

Nah, tentang membanding-bandingkan anak membuat saya ingat sebuah obrolan lain. Semalam saya bertemu dengan seorang teman – yang bercerita bahwa dengan sangat sadar, ia berusaha untuk tidak membandingkan kedua anaknya. Dan secara sangat sadar, ia dan istrinya berusaha tidak mengulang perlakuan mereka terhadap anak pertama, kepada si bungsu. Sehingga si bungsu tidak merasa bahwa ia adalah bayang-bayang kakaknya, dan sebaliknya. Menarik, menurut saya. Tidak mudah untuk dilakukan – tapi memang rasanya, kalau mau betul-betul adil, kuncinya adalah dengan sadar tidak membandingkan dan menyamakan perlakuan pada satu anak dengan yang lain. Sehingga mereka bisa menjadi pribadi yang berdiri sendiri, dengan segala keunikannya.

Apakah itu akan menjamin si anak tidak berkeluh kesah kelak?. Rasanya sih, mendengar cerita kelima sahabat itu, pasti tidak. Yang (saya duga) anak tunggalpun punya segudang keluh kesah padahal ia mungkin tidak mengalami pembandingan, atau paling tidak, tidak selangsung mereka yang mempunyai kakak atau adik. Yah, mungkin sudah kealamiahan manusia yang tidak mudah puas, atau mungkin juga kealamiahan remaja yang selalu punya keluhan tentang dunia dan terutama, tentang orang tua mereka. Tapi yang pasti – terlepas dari anak kita akan mengeluh tentang kita atau tidak kelak, usaha untuk melihat setiap anak sebagai pribadi yang unik dan harus diperlakukan secara unik pula, seperti yang dilakukan teman saya itu, menurut saya sangat pantas untuk dicoba.

Tapi ya memang, jadi orang tua sama sekali tidak gampang. Saya sekarang salut dengan kedua orang tua saya yang pasti seringkali harus mengelus dada melihat kelakuan dan segala pembangkangan saya terhadap norma-norma yang berusaha mereka tanamkan. Sekarang, saya jadi menyesal juga dulu sering berkeluh kesah tentang mereka – dan kadang juga menertawai apa yang mereka lakukan, seperti kelima sahabat yang saya amati tadi pagi. Karena thanks to them, saya sekarang baik-baik saja (Alhamdulillah...).

Melihat kelima sahabat itu, saya juga jadi membatin, bagaimana ya kelak Tara akan melihat ayah bundanya. Kami ingin menjadi temannya, berjalan disisinya dan bukan di depan atau di belakangnya. Tentunya itu sulit untuk dilakukan. Pasti kelak akan ada friksi antara kami, ada perbedaan nilai. Saya sekarang hanya bisa berharap saya punya telinga yang cukup lebar, hati yang cukup luas dan mulut yang cukup bisa dibungkam, untuk bisa menerima Tara apa adanya, mendengarkan dia di saat ia butuh seseorang, dan mengarahkan dia saat ia membutuhkannya dan bukan mendikte apa yang harus ia lakukan.

Dan kelihatannya, saya sudah harus melakukan itu sebentar lagi....dan bukan 8 atau 10 tahun lagi saat ia remaja. Hmmm....apakah saya siap?. Demi menyiapkan diri, pelajaran yang saya dapat hari ini adalah, rasanya saya harus lebih sering hinggap di McD Cafe yang sering didatangi anak-anak sekolah ini...dan belajar dari mereka, tentang hidup. Dan mengatakan pada diri saya sendiri - bahwa mereka juga lebih tahu tentang hidup daripada saya, karena kehidupan mereka, unik.


(RIRI)

No comments:

Post a Comment

A place

There is a place I go to When I’m weary and troubled And need a time alone There is a place I go to A small cabin on a hill ...

Popular Posts