Thursday, February 22, 2018

Pendidikan yang lemah, dan negeri serba gegar



Baca tulisan tentang anak Indonesia yang nggak tau seberapa bodohnya mereka, itu bener banget (silahkan cek disini: http://indonesiaetc.com/indonesian-kids-dont-know-how-stupid-they-are/).

Yang dewasa juga demikian. Salah satu contoh deh: kita ini bahkan sampai detik ini kayaknya nggak sadar-sadar seberapa bodohnya kita dimainin oleh para politikus.

Kita kira yang bisa ngomong tentang agama ya memang murni ingin berjuang tentang agama. Padahal, pret. Maaf, tapi itu kenyataan yang harus diakui. Akui sajalah bahwa agama memang dagangan yang paling laris. Dan kita ora uwis uwis bodohnya untuk menyadari itu. Dan ora uwis uwis bodohnya untuk sekedar menyadari, betapa tidak ada gunanya beli dagangan agama di atas tanah Indonesia dengan beragam agama yang justru adalah kekayaan sejarah dan masa depan negeri ini kalau kita bisa pelihara dengan baik. Gemes saya.

Kenapa ya bisa begini?.

Pendidikan yang nggak kunjung dibenahi padahal anggaran pendidikan sudah dinaikkan sedemikian rupa rasanya memang jadi akar dari semuanya.

Saat kita berharap ada perubahan, tahu-tahu gebrakan yang keluar adalah gerakan mengantar anak ke sekolah di hari pertama sekolah. Et dah…no wonder sampeyan dipecat.

Sekarangpun saya rasanya belum merasa ada perubahan berarti.

Sudah tahun 2018, tapi sekolah masih saja tetap meminta murid untuk menghafal. Pelajaran yang diberikan dengan tujuan supaya anak mendapatkan pengalaman indrawi, rasanya sangat sedikit dilakukan, jika bukan langka. Padahal dengan cara itulah anak bisa merasa bahwa belajar itu asik dan menyenangkan. Dan apa yang dipelajari akan meresap ke batin dan benak mereka. Oh I’m not talking about harus menggunakan sistem Montessori yang super mahal itu. Tapi as simple as keluar kelas mengamati tumbuhan, misalnya. Cari ulet. Cari cacing. Itu sebetulnya sederhana tapi bisa dilakukan sekolah manapun asal disediakan guidance yang benar.

Ada saja yang bilang ah masa sih seburuk itu. Saya sekarang ingin mengingatkan bahwa anda jangan-jangan terlalu urban biased. Atau jangan-jangan, sekolah swasta (yang mahal) biased – yang memang sudah berusaha untuk mengubah bagaimana pelajaran diberikan, dengan semua keterbatasan yang ada. Ingat bahwa sebagian besar penduduk Indonesia justru tidak punya akses terhadap sekolah yang menurut anda sudah berkurang kecenderungan untuk hafalan dan sudah mulai ada pencernaan ilmu melalui pengalaman. Jadi jangan gunakan pengalaman orang kota sebagai kacamata.

Dan kondisi pendidikan seperti itu sudah berjalan berpuluh tahun lamanya. Dengan konteks seperti itulah bangsa ini terbangun. Dan sepertinya karena itulah kita ini juga jadi sebuah negeri yang serba gegar.

Kalau kita mundur sekian tahun ke belakang, jaman Mbah Harto almarhum, mungkin masih ada yang ingat betapa industrialisasi digenjot habis-habisan. Sawah dan perkebunan banyak yang disulap menjadi pabrik-pabrik besar.

Jiwa Indonesia yang berakar pada tradisi agraris – yang bertumpu pada kebaikan alam dan Sang Maha dan semua yang serba perlahan sesuai proses alamiah, dihadapkan pada perubahan besar. Dan, kitapun mungkin tanpa sadar mengalami gegar pertama: gegar industri.

Kaget menghadapi banyak hal tiba-tiba bisa menjadi serba cepat, walaupun saat itu belum instan. Banyak hal tiba-tiba menjadi lebih mudah. Dan perlahan kita lupa bahwa semua yang terjadi, butuh proses.

Gegar itu diikuti lagi dengan gegar teknologi – internet membuka dunia yang sedemikian luas. Mendekatkan semua yang tadinya begitu jauh dari kita. Lalu kitapun mengalami gegar berikutnya: gegar keterbukaan informasi yang terjadi sedemikian cepatnya seiring runtuhnya pemerintahan simbah.

Kegegaran juga sangat kuat saya rasakan kalau saya mengamati apa yang terjadi di media sosial.

Apapun hot issue yang dilempar ke timeline – dari pelakor sampai politikus busuk, akan dilahap seperti sekelompok piranha yang diberikan daging segar. Dan kelihatannya media sosial yang ‘identity-less’, membuat orang mengalami gegar yang lain: gegar kesopanan. Baca saja komentar-komentar pada tulisan yang kontroversial – anda bisa jadi pusing, muntah, sakit perut, atau kalau anda cukup religius mungkin anda akan berdoa dalam hati semoga yang berkomentar mendapat hidayah (ini kekinian banget sekarang….).  

Semua kegegaran ini kelihatannya tidak pernah sangat terolah dan terobati dengan baik. Dan saya sejak dulu memang menyalahkan sistem pendidikan yang tidak pernah cukup cepat untuk membuat masyarakat beradaptasi dengan semua perubahan. Paradigma pendidikan yang ada rasanya masih sama: yang penting nilai bagus, dan bukan pada pengayaan jiwa dan pemahaman yang dalam terhadap apa yang dipelajari yang terjadi dari proses belajar yang indrawi.  
--

Lalu kita kudu opo?.

Rasanya sih, kita harus kembali pada diri sendiri. Cukup repot kalau kita lagi lagi mengharap pemerintah akan melakukan sesuatu. PR pemerintah sudah cukup bejibun. Negeri ini sudah dibiarkan dalam status quo sekian puluh tahun. Ada banyak hal yang harusnya dikerjakan, belum juga dikerjakan. Pendidikan cuma salah satu di antaranya. 

Mungkin memang kita harus kembali pada masyarakat kecil, dan yang terkecil: keluarga. Sadari dan awasi apa gejala kegegaran yang terjadi di keluarga kita sendiri – anak-anak kita, dan hadapi. Bukan ditakut-takuti dan dengan kepanikan, ya. Eh tapi kalau anda suka ditakut-takuti ya silahkan. Saya lebih suka menggunakan jalur kuno tapi selalu efektif: komunikasi face to face.

Dan saya juga percaya orang tua adalah contoh terbaik (atau terburuk) buat anak. Saya sering tidak bisa paham pada mereka yang menuntut ini itu pada sekolah untuk membentuk akhlak anak. Hello, your children are still your responsibility. And they are only at school for 7 – 8 hours maximum. Sisanya di tempat les, mungkin 2 – 3 jam. Selebihnya? – di rumah kan? (semoga, iya…).

Anda ingin anak anda nggak melototin gadget? – are you doing it?. Seberapa sering anda menjauhkan telpon genggam anda saat bersama anak? (ini sambil self-toyor).

Anda ingin anak anda sopan di media sosial? – perilaku anda, gimana?. How are you commenting?. Apa yang anda bagi di Whatsapp Group keluarga dimana bukan tidak mungkin anak anda juga lihat?. Apa yang anda bagi di Whatsapp Group sekolah?. Yang anda share di Instagram anda?. Anything positive? Uplifting? Atau malah downgrading others, and, yourself?.

Anda ingin anak anda bisa memilih dengan baik dan dengan nalar yang sehat? – anda sendiri pernahkah mengajarkan bagaimana caranya mendapatkan informasi yang baik dan berargumen dengan sehat?. Ini tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Jadi yaaaa….kalau memang mau anak kita lebih pandai dari sebagian besar anak yang terjaring di tes yang diulas dalam link di awal tulisan ini, PR besarnya tetap ada di kita sebagai orang tua. Sistem pendidikan tentu tetap perlu. Tapi dengan yang ada sekarang, rasanya kita sebagai orang tua yang harus lebih rajin meluangkan waktu buat mendidik mereka dan memastikan mereka mendapat pengalaman indrawi yang tidak didapatkan di sekolah.

Jangan pusing baca tulisan saya kali ini. Ditulis spontan karena gemes, sekaligus khawatir dengan masa depan negeri penuh kegegaran ini. Semoga saja, bisa berubah.. 

Oh dan disclaimer: tulisan ini dibuat spontan tanpa baca latar belakang sejarah dan sebagainya, cuma pengamatan dan pengalaman pribadi hidup di Indonesia selama 40 plus tahun ini. Konsumsi blog, beda dengan konsumsi akademis. Mungkin ada yang tertarik bikin tulisan serius tentang ini, sumonggo. 

hmmm.... #sedih




No comments:

Post a Comment

A place

There is a place I go to When I’m weary and troubled And need a time alone There is a place I go to A small cabin on a hill ...

Popular Posts