Tuesday, November 15, 2016

The lives we've touched



Waktu tadi pagi saya nyalakan telpon genggam dan melihat di beberapa grup WA seliweran berita duka tentang Prof. DR. Sarlito W. Sarwono, atau yang kami di Fakultas Psikologi UI kenal akrab sebagai Mas Ito, saya spontan menangis. 

Padahal, kalau dibandingkan dengan beberapa teman-teman lainnya, saya tidak pernah punya interaksi yang dekat dengan beliau. Saya hanya pernah jadi mahasiswi yang duduk di setiap kelas yang beliau ajar, dan setiap kali pula saya terinspirasi.

Ada banyak hal yang diam-diam saya pelajari dari Mas Ito.

Pertama: beliau adalah orang pertama yang membongkar persepsi di kepala saya bahwa lulusan psikologi nanti ujungnya jadi psikoterapis atau kerja di bidang kepegawaian atau HRD. Pandangan klasik itu terbongkar oleh kuliah perdana Mas Ito yang saya sekarang sudah lupa di semester berapa, mata kuliah apa. The mind forgets, but the heart remembers how it felt. Begitulah kurang lebih.

Beliau membuka mata saya bahwa pada hakekatnya psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia. Jadi, dimanapun ada manusia terlibat di dalamnya, psikologi bisa diterapkan. Dan nggak perlu punya ijin praktek sebagai psikolog untuk melakukannya.

Kedua: beliau mengenalkan filsafat dengan cara yang sangat membumi. Beliau dan Prof. Fuad Hasan adalah dua orang yang mengubah bagaimana saya memandang mata kuliah filsafat. Bukan lalu berarti saya jadi senang baca buku filsafat, tapi mereka berdualah yang berhasil membuat saya tidak merasa ‘bego-bego banget’ saat harus berurusan dengan mata kuliah filsafat.

Ketiga: beliau membuat saya tertarik mengamati gejala sosial.

Salah satu mata kuliah yang beliau ajar adalah Psikologi Sosial (dan juga Psikologi Seksual – yah ini namanya saja udah bikin saya rajin datang kuliah...dengan beliau sebagai pengajar, makin rajin lagi saya hadir karena cara beliau ngajar selalu seru). Gara-gara beliau saya memutuskan mengambil topik skripsi yang menurut saya akan punya relevansi yang jauh lebih besar buat komunitas tertentu dan bukan cuma jadi sekedar syarat buat lulus. Beliau menginspirasi saya buat menulis sebuah karya buat masyarakat, at least, buat teman-teman saya di fakultas begitu saya lulus.

Beliau memang nggak jadi pembimbing skripsi saya, padahal saya ngarep banget. Tapi bagaimanapun juga, ada banyak hal dari Mas Ito sebagai salah satu tokoh Psikologi Sosial yang punya pengaruh besar buat saya saat saya menyusun skripsi yang makan waktu setahun buat kelar itu.

Selepas kuliah, saya rajin menunggu tulisan-tulisan beliau di media massa. Terutama saat ada kejadian-kejadian tertentu di masyarakat. Tulisan beliau selalu bernas, diulas persis sama dengan cara beliau mengajar di kelas – to the point, tanpa basa basi, tapi ‘nancep’.

Demikianlah peran seorang Mas Ito di hidup saya. Dan untuk semua itu ada begitu banyak air mata yang saya keluarkan buat beliau sejak tadi pagi.

--

Sejak semalam saat saya menerima kabar beliau koma, saya sudah berniat: kalau ini adalah saat terakhir Mas Ito, maka saya harus datang to pay my last respect. Saya harus berucap terima kasih, walau cuma dalam hati, atas  semua yang telah saya dapatkan dari beliau.

Saya bilang Cip kalau saya akan melayat.

Sambil siap-siap, saya bilang dia, “Di umur kita ini, udah nunggu aja ya. Ortu siapa yang akan pergi. Guru kita yang mana yang bakal pergi juga. Kadang-kadang tahu-tahu ada temen juga yang pergi. Harusnya udah giliran kita ya ninggalin legacy...kita gimana nih...ninggalin apa kita?”.

Cip, yang sudah sangat sering dengar saya melontarkan keresahan semacam, cuma senyum dan bilang, “Ah kamu...”.

Tapi bagaimanapun juga pikiran itu tetap menggantung di benak saya. Lalu pergilah saya masih dengan pertanyaan itu di kepala, ke rumah duka tadi pagi. Dan saya terhenyak.

Para tamu yang tak henti datang. Lalu kenangan-kenangan akan beliau yang terus menerus mengalir, baik di dinding-dinding media sosial, di grup WA, semua menyadarkan saya akan banyaknya hidup yang telah tersentuh oleh beliau.

Lalu saya jadi merenung lagi sepulangnya dari melayat: have I touched other people’s lives in a meaningful way that when I’m gone, people can feel that my life was worth something?.

Atau jangan-jangan perasaan saya selama ini benar, bahwa saya masih saja terlalu sibuk mengurusi diri sendiri, masih saja belum memampukan diri untuk menyumbangkan waktu saya untuk orang lain, selain tentunya untuk keluarga (bahkan untuk keluarga pun jangan-jangan masih kurang). Sehingga kelak, jangan-jangan memang saya tidak meninggalkan jejak berarti bagi kemanusiaan, paling tidak pada diri manusia-manusia yang pernah berinteraksi dengan saya.

Atau jangan-jangan, saya malah membuat terlalu banyak orang jadi sebal dan muak dengan kehadiran saya yang egois. 

Bukan karena ingin dihormati saya jadi mikir kayak gitu. Tapi saya percaya bahwa inti dari jadi manusia di bumi ini adalah menjadi sosok yang punya manfaat buat manusia lainnya. Dan itu buat saya artinya manfaat buat manusia-manusia di luar keluarga saya – karena bermanfaat buat keluarga ya sudah kewajiban mutlak, tidak bisa ditawar. Tapi buat mereka di luar lingkaran keluarga,  itu adalah kewajiban dalam arti yang lebih luas: kewajiban kemanusiaan. 

Buat apa saya hidup kalau cuma bisa menunaikan kewajiban yang memang tidak bisa ditawar?.

--

Susah sekali menjawab pertanyaan itu. Sudah 10 tahun lebih saya punya pertanyaan itu, dan setiap mau tutup tahun saya selalu bertanya pada diri sendiri, “OK, loe udah melakukan apa tahun ini, udah menyentuh hidup orang lain dengan cara apa, yang bikin hidup loe bermanfaat buat orang lain selain keluarga loe, selain sedekah ya bok?”. 

Dan selalu, saya tidak pernah bisa menjawab. Atau, jawabannya selalu, “Belum cyiiiinn....udah ngapain gueee???....gak tauuukkk....”.

Dan hasilnya saya selalu tiba pada perasaan ngelangut yang sama. Nelangsa karena masih merasa diri jalan di tempat.  

Darn it. It’s gonna be 2017 soon. I will turn 46. 4 years to 50. What will I do with my life?, with those years that will disappear?.

Mungkin...mungkin...jawabnya ada pada bagaimana saya harus menyikapi hidup. Mungkin. Atau mungkin as simple as jadi orang yang tidak menyebalkan di media sosial, di tempat kerja, di rumah, saat ngumpul sama teman.

Ah. Another excuse. 

Terima kasih lho Mas, sampai Mas Ito pergipun tetap menginspirasi...

(R I R I)


No comments:

Post a Comment

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts