Friday, October 2, 2015

Yang penting, intonasi :)



Beberapa hari ini, grup WA para emak-emak dari sekolah Tara rame. Isunya kali ini: ada seorang guru yang (ternyata) sudah lama dianggap mempunyai sikap yang kurang elok dan sudah ‘memakan’ korban beberapa anak-anak. Kurang elok gimana? – suka marah-marah untuk sebuah pertanyaan sederhana dari anak, mengancam anak harus mengulang ulangannya kalau tidak begini begitu, dan ada beberapa contoh lainnya. 

Sebagai emak yang kurang gaul alias saya hanya ke sekolah kalau saatnya ambil rapor dan orientasi orang tua, dan nggak pernah ikut kegiatan apapun, bisa dipastikan saya nggak pernah ngobrol langsung dengan para emak yang lain, dan juga dengan guru-guru. Jadi saya agak kaget juga wah ternyata guru ini sedemikian rupanya ya bikin kesel para ibu-ibu ini dan ternyata juga sudah berlangsung sejak kelas 4. 

Karena merasa tidak tahu apa pasalnya, dan Tara juga nggak pernah mengeluh apapun tentang guru-gurunya, saya memilih diam saja. Tapi mau nggak mau saya kepo juga dong, apa iya si guru segalak itu sih sampai anak-anak katanya ada yang mikir kelasnya aja udah gemeteran. Hari gini...tahun 2015, di sekolah swasta pula...masa iya ada, pikir saya. 

Semalam sebelum tidur, setelah selesai ngarang cerita tiga sahabat buat anak-anak dan saya lihat Tara masih belum ngantuk, saya tanya dia, “Eh Kak, emak-emak lagi ributin gurumu si anu. Emang dia gimana sih kalau di kelas?”. 

Tara, “Emang suka marah-marah sih Bun. Kemarin aja temenku kena marah karena nggak bisa shut down komputernya”. 

Saya, “Marahnya emang kasar banget?”. 

Nah yang bikin saya kaget adalah jawaban Tara berikutnya, “Sebetulnya sih yang dia bilang itu baik, dia pengen kita disiplin dan tahu harus ngapain. Tapi intonasinya selalu tinggi, jadinya kita suka bingung apa maksud dia”. 

Saya berpandang-pandangan dengan Cip, sambil senyam senyum. 

Cip, “Oh...jadi intonasinya yang salah ya Kak, bukan pesannya?”. 

Tara, “Iya Yah. Kalau dia ngomongnya nggak nada tinggi melulu mungkin kita juga nggak jadi bingung. Kan kalau bingung malah jadi makin nggak tahu harus ngapain. Eh malah tambah marah deh dia”. 

Saya dan Cip senyam senyum lagi. 

Cip, “Kalau ayah, intonasinya tinggi nggak?”. Tara, “Nggak mau bilang”, sambil nutup mukanya dengan bantal. Saya, “Kalau Bunda gimana Kak?”. Tara, “Nggak mau bilang juga”, sambil masih nutup mukanya dengan bantal. 

Ah Tara, terima kasih sudah menyadarkan kami berdua: yang penting intonasi, karena dia paham, isi pesannya sebenarnya baik. 

See, yang belajar banyak itu kita sebagai orang tua. Nggak usah sotoy jadi orang tua... *self-talk*

(R I R I)

No comments:

Post a Comment

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts