Friday, October 16, 2015

Terdampar, dan Tertampar



Ini malam terakhir kami di Istanbul. Sudah seminggu kami kelayapan di kota ini, dan beberapa tempat diluar kota. 

Ini perjalanan yang sempat kesandung, hampir saja batal karena beberapa alasan. Salah satunya: ibu kami khawatir melepas dua anak perempuannya kelayapan di negeri yang menurut beliau berbahaya. Rupanya, berita-berita ISIS, adanya WNI yang hilang entah diculik atau melenyapkan diri disini untuk bergabung dengan ISIS, dan ada cerita anak temannya yang sempat hilang beberapa hari, membuat beliau khawatir luar biasa. 

Iya. Umur kami memang sudah kepala 4. Saya sudah punya anak 2. Salah satunya hampir remaja. Tapi yaaa namanya mamak-mamak susah untuk tidak khawatir. Tapi saya nggak akan cerita tentang drama jadi mamak (yang saya rasakan siiih...adakalanya saya ingiiin waktu sesekali berhenti supaya anak-anak tidak cepat besar...hiks...). 

Anyway, seperti biasa kami percaya insya Allah akan baik-baik saja asal tetap eling lan waspada. Jadi sudah, berangkatlah kami. 

Begitu kami tiba, needless to say Istanbul was mind-boggling. Kota ini besaaaarrr. Penduduknya 14 juta jiwa. Straddling between Europe and Asia. Dengan gang-gang kecilnya. Dengan kepadatannya. Dengan ketidakteraturan tapi juga teratur – nah bingung kan?. To top it off: dengan keterbatasan bahasa. Kami nggak ngerti bahasa Turki, pastinya, mereka juga terbatas sekali bahasa Inggrisnya. 

Tapi...ada yang selalu menyelamatkan kami: kebaikan hati. 

Saat pusing di pinggir jalan nyari di Google Maps dimana letak sebuah gedung, tahu-tahu ada shopkeeper nyamperin (yang tadinya saya cuekin karena setelah beberapa hari disini, ada satu hal tentang pria Turki: selain ganteng, mereka doyaaan merayu...jadi mendingan usaha sendiri dulu sebelum nanya terus malah mereka ngerayu). Dia nanya, “What are you looking for?”, dengan bahasa Inggris yang sangat bagus (not to mention ganteng juga...hadeuh...salah fokus melulu deh pokoknya disini). Saya bilang lagi cari kantor pos. Dan dia nunjukin jalannya. Dan kami nggak dirayu supaya mampir di tokonya. 

Di saat lain, kami naik bis keluar kota. Tahu-tahu pak ‘kenek’ (kelewat keren sih dibilang kenek wong berseragam rapi kok yaaa...), lewat bawa nampan isi kue. Kami nggak ambil karena kami pikir harus bayar. Kakak saya tanya pada ibu di sebelah kami dan dia yang akhirnya jelasin kalau semua gratis: kue, air, Coke...you name it. Si ibu panggil si Kenek Keren (nggak yang ini nggak ganteng, tapi kan kasian dibilang kenek ngebayangin kayak yang di Jakarta...beda banget soale), supaya dia bawain lagi kuenya buat kami.

Ibu yang sama pula yang nolongin kami waktu tahu-tahu bis berhenti, lalu ada tentara bersenapan masuk. Panik dong. Ternyata pengecekan identitas. Makin panik, karena baru sadar paspor kami semua ada di hotel. Ibu itu yang nolong jelasin ke si tentara bahwa kami turis, dan ke kota ini hanya untuk berkunjung sehari lalu balik ke Istanbul di hari yang sama. Selameettt... (pake deg-degan setengah modar....pake senapan boookkk...serius benerrr). 

Di stasiun, saat kami sadar jumlah uang di Istanbul Card (ini kartu yang bisa dipakai untuk naik trem, kereta, dan ferry) sudah menipis, kami ke mesinnya untuk nambah kredit. Karena nggak ngerti gimana caranya, dan ya pastinya lah instruksinya dalam bahasa Turki dan nggak ada bahasa Inggrisnya, kami berdiri di belakang seorang bapak untuk observasi gimana caranya. Eh, tahu-tahu dia berbalik, ngomong dalam bahasanya, tapi intinya dia mau nolongin kami menambah kredit di kartu kami. 

Dia tunjuk uang yang saya pegang, dia ambil kartu dari tangan saya, dia masukkan uangnya dan voila – kartu sudah terisi. Dia nanya, apakah kami akan naik kereta (dengan bahasanya pula), kami nunjuk ke arah trem. Kami berpisah, setelah berjabat tangan dan saying a simple goodbye dan saya ber-thank you thank you berkali-kali.

--
Entah sudah berapa kali sebetulnya saya mengalami these random acts of goodness dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan. Tapi mengalaminya di negeri asing, yang bahasanya saya nggak ngerti sama sekali, rasanya seperti menemukan oasis di padang pasir (not that I’ve experienced that...tapi kalau baca cerita Tintin sih kebayang deh rasanya gimana). 

Saya tidak pernah percaya agama akan menyelamatkan dunia (dengan resiko saya dibenci beberapa pemeluk agama yang fanatik...yang mudah-mudahan nggak pernah tahu saya tinggal dimana). Tapi saya percaya bahwa kebaikanlah yang bisa melakukan itu. Selama masih ada orang baik di dunia, rasanya masih ada harapan.

Nah pertanyaannya nih yang jleb jleb jleb saat saya bertanya pada diri sendiri sambil ngelamun tadi di trem: kapan loe terakhir melakukan random acts of goodness to a total stranger?. Eeerrrrrrr.....kok lama sekali saya harus mikir ya. Yes, ketampar bolak balik. Yes, maluuuu....

Lha kalau baik sama teman, saudara, kenalan, itu mah biasa. Tapi berbuat baik pada orang yang kita nggak kenal? – itu doing goodness for goodness’s sake bukan?. Yang menurut saya kayaknya nilainya lebih tinggi karena nggak ada agenda selain ya berbuat baik aja gitu. 

--
Kita baru saja masuk tahun baru Hijriyah, dan sebentar lagi 2015 pun bakal berakhir. Mungkin, ini saatnya saya mencanangkan resolusi: do as many random acts of goodness as you possibly can to total strangers, supaya dunia terus berputar... (eh mampus, bikin resolusi kok di blog yang dibaca banyak orang ya...haha...jangan ngecek ya nanti gue udah kerjain atau belum!. Yang penting niaaaatttt). 

Dan saya akan cerita ke Ibu saya – bahwa Istanbul nggak membahayakan kok, karena masih ada orang baik disana sini.


(R I R I – menemukan kebaikan di Istanbul yang sensual ini, ternyata sama menyenangkannya dengan melihat banyaknya cowok ganteng disini #eh).

No comments:

Post a Comment

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts