Friday, January 30, 2015

Bis Kota



Siang ini, separo karena ingin menghilangkan kalori dari duren berbutir-butir semalam, separo lagi karena saya bosan naik taxi, saya berhentikan Kopaja untuk pulang dari Kalibata, tempat basecamp Eye to Eye berada. 

Saya sudah tidak ingat kapan terakhir saya naik bis kota. Pasti sudah terlalu lama.

--
Padahal dulu, dari saya SD sampai kuliah, merekalah teman-teman baik saya. Yang setiap hari saya naiki untuk sekolah, kursus, main ke rumah teman; dan waktu sudah pacaran, untuk pergi sama pacar. Dulu, nggak pernah terpikir kalau makin lama para pengemudi bis kota makin ugal-ugalan. Apalagi yang namanya Kopaja dan Metro Mini, terkenal lah dengan kebiasaannya berhenti seenaknya, nggak pernah berhenti dengan sempurna sehingga harus selalu siap lompat kalau nggak mau tahu-tahu tersungkur di jalan, saling serobot di jalan. Pokoknya setan jalanan lah mereka itu. 

Tapi nggak pernah sekalipun terlintas di kepala saya rasa takut. Ya sebagian besarnya karena tidak punya pilihan – kalau nggak naik bis mau naik apa?. Kami bukan keluarga berada yang punya mobil lebih dari 1 lengkap dengan supir. Jadi dari usia SD saya terbiasa naik bis kota. 

Begitu saya lulus kuliah, kerja, saya tidak pernah lagi naik bis. Dan mulailah saya melihat bis kota ini sebagai benda yang menakutkan.

--
Siang tadi, kebetulan bis yang saya tumpangi kosong. Saya dapat duduk di kursi paling belakang. Dan saya teringatkan kembali kenapa dulu ini adalah kursi favorit saya kalau kebetulan ada yang kosong. Sensasi terombang ambing seperti di kapal, cuma bisa dirasakan kalau duduk di deretan kursi ini. Apalagi kalau supirnya menyetir seperti orang kesetanan. Kalau anda bukan orang yang mudah mabuk, asik sekali rasanya. Walaupun ya artinya juga harus cari pegangan kalau tidak ingin terlempar. Kalau tidak ada pegangan? – berdoa sambil menjejakkan kaki rapat-rapat ke lantai bis. Itu yang tadi saya lakukan sambil senyam senyum sendirian. 

Ada pengamen yang sedang menyanyi entah apa di depan. Mesin bis yang meraung, kontan menutup suaranya. Saya diingatkan lagi, sejak dulu saya salut pada para pengamen di bis kota. Lha iya. Bayangkan susahnya bersaing dengan suara mesin yang luar biasa kerasnya itu. Belum lagi harus menjejakkan diri di bis yang terombang ambing, sambil memainkan gitar. Mereka dulu selalu mengingatkan saya bahwa seberapa kecilnyapun uang jajan saya (beneran, saya selalu merasa paling kere dibanding teman-teman), saya masih jauh lebih beruntung dari mereka. Dan saya masih kecil, belum jadi orang dewasa  yang mungkin harus membiayai orang lain. Padahal kelihatannya jadi pengamen tidak memberikan hasil yang cukup bahkan untuk diri mereka sendiri. 

Saya juga jadi ingat dulu saya punya bis favorit!. Waktu saya SMA, saya selalu jalan kaki bersama beberapa teman, dari sekolah di Jalan Sisingamangaraja, ke terminal bis Blok M. Kami lebih senang melakukan itu dibanding harus naik bis kota dari sekolah ke Blok M, karena kami jadi punya lebih banyak waktu untuk ngobrol. 

Saya biasanya naik Metro Mini S-75. Ada 1 bis favorit saya karena: jendelanya bertirai, bersih, dan supirnya baik hati. Dia selalu berhenti dengan sempurna, selalu bilang, “Hati-hati turunnya!” dengan logat Batak yang kental, dan selalu memastikan penumpang sudah duduk sebelum menjalankan bisnya. Dia juga seperti yang lain, membiarkan bisnya penuh. Tapi, dia tidak pernah membiarkan bis penuh seperti kaleng sarden. Di mata saya dia bis yang paling OK lah. Jadi kalau sampai di terminal dan saya bisa naik bis ini, saya senang sekali. Atau kalau pagi waktu berangkat sekolah saya ketemu bis ini, saya juga bahagia banget. 

Kenangan tentang bis favorit itu membekas di kepala saya sampai sekarang. Mengingatnya lagi, mengajarkan saya bahwa ada hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di keseharian kita, dengan segala keterbatasan kita, untuk membuat orang lain bahagia. Yang dilakukan si supir bis itu dengan bisnya dan bagaimana dia memperlakukan penumpangnya, was not a big thing, but it made a real difference in my experience setiap kali saya menumpang bisnya. That’s the essence of service, a good service, that is. 

--

Jalan tadi tidak macet. Jadi dalam waktu kurang dari setengah jam, saya sudah harus berhenti melamun dan turun. Seperti jaman sekolah, saya melompat kecil turun dari bis. Haha...itu kebahagiaan tersendiri: masih bisa lompat kesana kemari di usia segini. 

Saat saya naik tangga penyeberangan dan bis yang tadi saya tumpangi berlalu, saya jadi berpikir: those things that we survived from when we were younger, were very helpful. Bis yang bergajulan, pengamen yang kesusahan, kepanasan dalam bis yang penuh. Semua itu besar maknanya sekarang. 

Dan saya baru sadar tadi kalau calon TK-nya Lila dilewati bis itu. Sesekali, mungkin saya harus ajak dia naik bis yang berjalan seliar kehidupan ini. Menakutkan mungkin, nevertheless, they are still valuable. 

(R I R I)

Buluk, brengsek, setan jalanan. Itu asosiasi saya dengan bis ini sekarang. Padahal dulu...tanpa mereka, saya pusing juga...

No comments:

Post a Comment

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts