Saturday, June 7, 2014

Awal Persahabatan



Di hutan Tanah Tinggi, di sebelah utara Danau Hijau, tinggallah Linglung dan Langit. Mereka adalah anak-anak burung hantu yang tinggal di sebuah pohon beringin tua di hutan Tanah Tinggi. 

Linglung senang sekali makan. Dan, dia punya kelemahan: dia sering sekali kebingungan sendiri mencari sarangnya karena dia pelupa!. Karena itulah ia dipanggil si Linglung oleh teman-temannya. 

Sementara si Langit, suka sekali bertualang. Dia suka sekali mengajak Linglung berjalan-jalan. Tapi adakalanya Linglung lebih suka makan dibanding jalan-jalan bersama Langit. 

Malam ini, Langit ingin sekali jalan-jalan ke daerah lain di sekitar hutan Tanah Tinggi. Dia mengajak Linglung, “Lung, ke arah barat yuk. Kita kan belum pernah kesana. Aku ingin tahu disana ada apa”.
“Malas ah. Aku masih lapar niiiih”. “Ah kamu”, tukas Langit, “Lapar melulu. Makan kan bisa nanti”. “Ohohoho tidak bisaaaa sahabatkuuu, makan itu pentiiiing”, kata Linglung sambil melihat ke bawah mengincar siapa tahu ada tikus yang lewat. 

Karena kesal, Langit akhirnya terbang sendiri. “Hei, mau kemana kamu?”, teriak Linglung. “Jalan-jalan!”. “Hati-hati ya”, kata Linglung, yang lalu menggumam sendiri, “Senang sekali sih dia jalan-jalan, lebih enak juga makan”. 

Linglung akhirnya menyantap 3 ekor tikus lagi. Kekenyangan, dia bertengger di salah satu dahan pohon beringin tempatnya dan Langit tinggal. “Hmmm....mana ya si Langit, kok lama sekali dia pergi”, gumamnya. Linglung lalu terbang ke arah pohon yang paling tinggi di hutan. Dia bertengger di puncak pohon, berusaha melihat ke kejauhan, siapa tahu dia melihat Langit. Tapi, sejauh matanya memandang, dia tidak melihat sahabatnya itu. Dan dia mulai khawatir. 

“Kemana ya dia, biasanya dia kalau pergi sendirian tidak selama ini”, pikir Linglung. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari sahabatnya itu. 

Dia terbang kesana kemari. Tapi tak kunjung dia jumpai sahabatnya. Sampai di Bukit Merah, tempat sekelompok serigala tinggal, dia melihat ada seekor anak serigala sedang duduk di batu. “Hey, anak serigala, apakah kamu melihat ada anak burung hantu lewat sini?”. 

“Anak burung hantu?, tidak. Aku dari tadi duduk disini dan tidak lihat siapa-siapa. Memang kenapa?”, tanya si anak serigala itu. “Aku mencari sahabatku, Langit. Dia pergi tadi, dan dia belum juga pulang. Aku khawatir”, ujar Linglung. 

“Namamu siapa”, tanya si anak serigala. “Aku Linglung, kamu siapa?”. “Aku Lolong. Aku bantu saja kamu mencari sahabatmu itu”. “Wah terima kasih. Kebetulan, soalnya aku kadang bingung kalau terbang jauh dari rumahku, aku suka tidak tahu jalan pulang”. “Ah pantas namamu Linglung. Ayo kita cari temanmu”. 

Mereka berduapun berjalan menyusuri hutan. Tak lama, mereka mendengar suara ramai dan juga ada cahaya di hadapan mereka. “Apa itu ya”, ujar Lolong. “Coba deh aku lihat dari dekat, aku bisa terbang mendekat tanpa mereka mendengar aku”, kata Linglung. Ia lalu terbang mendekat ke salah satu pohon. Ia lalu melihat ada rumah-rumah kecil (yang ia tidak tahu adalah rumah-rumah itu disebut tenda), dan sekelompok manusia sedang berkumpul di tengah api unggun. Tapi yang membuatnya sangat kaget, ada sebuah kotak berpintu (yang dia juga tidak tahu itu disebut sangkar), dan ada Langit di dalam kotak itu!. Langit terlihat ketakutan dan kebingungan. 

Linglung terbang kembali ke tempat dimana Lolong menunggu, dengan terengah-engah, ia berkata pada Lolong, “Aduh, itu sekelompok manusia. Mereka sedang duduk mengelilingi api unggun. Dan, aku lihat, Langit terkurung dalam sebuah kotak!. Aduuuuhh sahabatku, kenapa ia bisa tertangkap manusia”. 

“Tenang dulu Linglung. Tenang. Ayo kita pikirkan bagaimana kita bisa membebaskan Langit”, kata Lolong menenangkan Linglung yang sudah nyaris menangis.\

“Ah aku punya akal. Begini. Aku akan melolong. Manusia biasanya takut kalau mendengar lolongan serigala. Nah kamu gunakan keahlianmu terbang tanpa bunyi itu, untuk menakut-nakuti mereka. Buat suara-suara di semak-semak, dan di pohon-pohon di atas mereka. Nanti pasti lama-lama mereka akan ketakutan dan mudah-mudahan mereka akan meninggalkan api unggun. Saat itulah kita selamatkan Langit”, jelas Lolong. 

“Ide cemerlang!, ayo kita coba!”, kata Linglung. 

Mulailah Lolong melolong sepanjang napasnya. Lalu ia pindah ke tempat yang lain dan mulai lagi melolong. Begitulah ia berpindah-pindah tempat sambil terus melolong. 

Sementara Linglung terbang ke semak-semak. Ia gerak-gerakkan dedaunan. Ia petik buah-buah cemara dan ia lemparkan ke arah manusia-manusia itu. Semua ia lakukan tanpa terlihat oleh para manusia. 

Kelompok manusia itupun mulai terlihat panik. Mereka lari kesana kemari, kebingungan. Anak-anak mulai menangis. Para orang dewasa mengambil obor dan menerangi hutan, mencari sumber suara serigala. Tapi Lolong sangat pandai bersembunyi sehingga tidak bisa dilihat oleh para manusia. 

Lalu tiba-tiba Linglung melihat ada sebuah kain putih di belakang salah satu tenda. Ia lalu menyelinap ke bawah kain itu, lalu terbanglah ia di atas para manusia. Mereka langsung menjerit, “Hantuuuuuuuuuu!!!!!”. Lalu semuanya berlari menjauh dari tenda, dari api unggun, dan, dari sangkar berisi Langit. 

Melihat para manusia itu lari, Linglung bergegas hinggap di sebuah dahan dan melepaskan dirinya dari kain. Ia terbang ke sangkar, “Langit, kamu tidak apa-apa?”. “Ya ampun itu kamu...tidak aku tidak apa-apa. Kamu bisa buka pintu ini?”. Linglung berusaha sekuat tenaga, dan untunglah pintu sangkar itu bisa terbuka dengan mudah. Langit pun keluar dari sangkar dan memeluk sahabatnya, “Kamu tidak tahu betapa leganya aku melihat kamu. Tadi aku kira itu hantu betulan!. Terima kasih ya Linglung, kamu telah menyelamatkan aku”, kata Langit. 

“Aku tidak sendirian, aku dibantu teman baruku, nih kenalkan, namanya Lolong, anak serigala dari Bukit Merah”. “Hai Langit, senang bisa kenal denganmu”. “Wah terima kasih ya Lolong. Baru kenal saja kamu sudah baik hati mau membantu sahabatku mencari aku. Terima kasih banyak”, kata Langit.

“Dia ini lho tadi yang punya akal menakut-nakuti para manusia itu. Kalau aku, sudah mau pingsan tadi melihat kamu dalam kotak terkunci itu”, kata Linglung. “Kamu hebat sekali!, idemu luar biasa!”, kata Langit. “Ah itu kan cuma ide biasa, aku hanya menggunakan yang aku tahu dari ajaran orang tuaku tentang manusia”, kata Lolong tersipu-sipu karena dipuji teman barunya. "Idemu jadi hantu juga super keren lho!", ujar Lolong kepada Linglung. "Hehehe....padahal, aku juga takut hantu lho", kata Linglung. 

“Ayo kita pergi, sebelum para manusia itu kembali lagi kesini”, kata Lolong. 

Lalu merekapun dengan cepat pergi dari tempat itu. Dan sejak malam itu, Linglung, Langit dan Lolong tidak terpisahkan. Mereka bermain dan bertualang bersama. Dengan kedua sahabatnya, Linglung tidak lagi pernah malas menjelajahi hutan di sekitar mereka. Dan bersama, mereka akan menjalani banyak sekali petualangan-petualangan yang seru. 


(R I R I) 


(Cerita ini awal dari seri Lolong, Langit dan Linglung yang kami ceritakan pada anak-anak, mengarang bebas, setiap sebelum tidur. Mengalahkan segala keterbatasan imajinasi kami sebagai orang tua, setiap malam kami 'putar otak' membuat petualangan baru dari tiga sahabat. Dan berharap dari cekakak cekikik mendengarkan cerita karangan bebas yang sering ngawur ini, ada yang tertanam di benak dan hati mereka. Paling tidak, tentang kebersamaan dan kasih sayang...)

No comments:

Post a Comment

A place

There is a place I go to When I’m weary and troubled And need a time alone There is a place I go to A small cabin on a hill ...

Popular Posts