Wednesday, April 3, 2013

Palembang Selayang Pandang



Palembang. Top of mind?: Jembatan Ampera, dan Pempek. 

But just like with other areas in this lovely country, I’ve always been intrigued to find out, “What else is there?”. 

Dan setelah selalu jalan di daerah Jawa, Bali, Lombok, rasanya tahun ini kami ingin lakukan sesuatu yang berbeda. Dan keluar deh idenya Cip: let’s make 2013 a ‘Visit Sumatra’ year. Dan, jadilah (eh...bukan kunfayakun lho maksudnya :D). Keluar deh rencana: Palembang, Ranah Minang, Medan dan Aceh...across the year. 

Bagian pertama, Palembang. Kebetulan pas: ada long weekend, dan Tara baru selesai UTS. Jadi, both bunda dan Tara butuh liburan :D 

Kami tiba di Palembang di sore hari. Tanpa buang waktu, jelang dos, pempek!. Pas sudah lapar pulak (and we all know what airline food’s like). Meluncurlah ke Pempek Candy yang ramainya ajiiibbb sekaliii. Setelah itu, kami meluncur ke Jembatan Ampera. 

My very first impression saat menuju Ampera: ini kok jalannya menarik ya, naik turun. Tiba-tiba teringat San Fransisco. No I’ve never been there. Tapi kan di pelem-pelem sering lihat, so it should count lah yauw :D 

Anyway, kenapa inget SF?. Karena kontur naik turun itu tadi di sepanjang jalan menuju Ampera. Kan di SF juga selalu digambarkan kontur jalannya naik turun. Nah itu ya kurleb mirip laaah. Plus, jembatan di penghujungnya. 

Kami parkir di depan Benteng Kuto Besak. Ini ‘kraton baru’ yang pembangunannya diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, tapi baru dilaksanakan oleh penerusnya Sultan Mahmud Bahauddin. Dari luar, dan dengan lampu redup, kelihatannya tempat ini keren untuk dijelajahi. Sayangnya, tempat ini masih jadi markas tentara, jadi saya bunuhlah niat exploring tempat ini di hari berikut...hiks... 

Hari sudah gelap saat kami tiba disitu. Nah, di sepanjang pelataran itu, banyak sekali tukang jajanan. Yaaa basic-lah, mie goreng, nasi goreng, dan segala jajanan rakyat lainnya. Tapi buat orang Jakarta yang selalu kesulitan cari oasis, sekedar tempat jalan kaki sambil dapat pemandangan dan angin malam, tanpa diklakson dan kena macet, pelataran ini menghibur sekali. Hiburan murah, tepatnya. Nikmat sekali rasanya malam-malam sekedar bercanda lari sana sini sama anak-anak di tempat ini. Dengan temaram lampu, suara tukang ngamen sumbang sana sini, kelap kelip lampu Jembatan Ampera di kejauhan. Dan bangunan bisu benteng. Nice. 

Benteng Kuto Besak di temaram lampu

Tukang jajanan dengan kursi-kursi pendeknya

Jajanannya mie tek-tek, ada bakso dan jajanan-jajanan sederhana lain.



Capek lari sana sini, kami ke hotel. Kami menginap di Novotel. Karena kabarnya tempat ini dibuat di tanah bekas pabrik gula, dan mereka masih membiarkan cerobong asapnya berdiri tegak. Wah, saya sudah semangat 45 pengen lihat tu cerobong!. Tapi, sayangnya harus kecewa. Karena ternyata mereka merobohkan cerobongnya beberapa waktu lalu, karena banyak tamu yang complain: itu tempat mistis. 

Yak. *tepokjidat* moment indeed!!!!!. Khas orang Asia (or, Indonesia??), banget inih!. Yang menghubungkan segala yang kuno dengan mistis, hantu dan semacamnya. Padahal kan baguuuussss. Dan, unik kan?. Mana ada hotel yang punya ‘monumen’ semacam itu. Hadeuuuhhh... Anyway untungnya hotel ini juga punya lanskap yang menarik. Bentuknya yang sirkular, dengan kolam renang di tengahnya, lucu juga. 

Kami memulai petualangan esok harinya dengan menyeberang Ampera ke arah Ulu. Destinasi: Stadion Jakabaring. Iya, lokasi Sea Games 2011. Sampai sana, jujur saya merasa harus angkat topi pada para pemrakarsa lokasi ini. Keren lho, diluar Jakarta bisa punya stadion seluas dan semegah itu. Tapi sayangnya memang terkesan kurang dipelihara. Jadi ya agak gak terbayang juga 3 tahun dari sekarang akan jadi apa tempat itu. 

Thanks to the heat (iya gilak panas beeeeeuuuutttt!!!!), kami agak malas keluar mobil dan berfoto-foto di tempat ini. Kita muter-muter di kompleks itu saja. Kagum dengan konsep indoor aquatic stadium-nya, dan disainnya yang lumayan futuristik. Suka dengan bangunan kompleks atlitnya yang terkesan modern. Dan dengan stadion utamanya yang gede. By the way di halaman stadion ini kami lihat tuh teronggok gitu aja bekas tempat nyala api Sea Games. Sekali lagi, *tepokjidat* moment dong. Itu kan harusnya dipelihara ya, bukan dibiarkan jadi besi tua. 

Kepanasan. Kelaparan. Kami berhenti di restoran Pindang Meranjat. Kata Cip ini salah satu tempat yang terkenal pindangnya. Dan melihat tempat yang kayaknya juga asik untuk nongkrong, saya mah iya aja. 

Kami pesan pindang baung dan pepes patin. Dan begitu makanan datang, nyem nyem nyem...seru deh pokoknya. Ada 4 macam sambal: sambal mangga, sambal jeruk, sambal terasi dan sambal teri. 

Pepes patin ternyata diolah dengan tempoyak. Jujur walaupun saya suka sekali duren, tapi gak pernah tertarik coba tempoyak karena buat saya, duren ya duren, gak oke dicampur cemacem. Etapi, saya harus jilat air liur saya sendiri karena pepes patin ini wenaaaakkk sumpah!. Sambalnya rasanya gak sesegar sambal jeruk, tapi ya, itu, enak!. 

Pindang Baung-nya juga aduhai rasanya. Kuah yang segar, agak asem pedes plus bau kemangi, melengkapi makan siang yang maknyus di siang panas hore itu. 

Empat macam sambal, ada juga ikan apa saya gak nanya, yang digoreng kering

Nah ini si pepes patin dengan sambal tempoyaknya. Yummyyyy


Selesai makan siang, kami mencari Kampung Kapitan tepat di tepi sungai Musi. 

Ini kampung sisa-sisa peradaban Tionghoa, yang berawal dari datangnya perwira China dari Dinasti Ming sekitar abad 14. Saat Belanda menjajah, para pendatang ini dijadikan pengawas atau pengatur kawasan ini. Mereka yang paling tinggi status sosialnya, diangkat menjadi Kapitan atau Kapten. Dan karena status sosialnya yang tinggi, Sang Kapitan ini memiliki rumah yang paling besar di kawasan itu.

Di kampung ini ada sekitar 15 rumah, dengan campuran gaya arsitektur Cina, kolonial, dan Palembang. Saya tidak menghitung sih sebetulnya ada berapa rumah yang sekarang ada disana.

Yang paling mencolok adalah rumah inti si Kapitan, dua rumah besar. Dari cerita orang sekitar, keluarga Kapitan yang terakhir sudah tidak memiliki kekayaan yang sama seperti dulu, sehingga tidak lagi mampu merawat rumah peninggalan itu. 

Nevertheless, one can still see the beauty of the past. Traces of Chinese culture masih terlihat sangat kuat di sana sini. Di rumah utama ini bahkan tersimpan panggung untuk Wayang Potehi. 

Rumah panggung di depan gang

Masih dengan lampion khas Cina
Rumah inti si Kapitan. Nurut saya benda di tengah itu agak mengganggu...

Anak-anak lokal berteduh di bawah rumah tua


Panas yang luar biasa memaksa kami tidak berlama-lama di Kampung Kapitan ini. Kami menelusuri tepi Sungai Musi dan menemukan Klenteng Dewi Kwan Im. Ternyata, sedang ada perayaan hari ulang tahun (or something...pokoknya sedang ada perayaan), sang Dewi. Jadi ada banyak sekali lampion-lampion khas Cina, dan orang-orang yang datang untuk berdoa. 

Saya ajak Lila masuk ke klenteng ini. Hihi....dia lumayan bengong dengan bau asap hio, patung di sana sini, dan orang-orang yang sembahyang. Nice introduction to the different side of life. 

Lampion yang kalau malam membuat tempat ini gemerlap

Masuk ke klenteng
Salah satu meja persembahan


Di dermaga menuju klenteng ini ada masjid kecil. Di jalan kecil tepat diluar klenteng ini ada toko yang menjual buku-buku agama Islam. Ada kursus baca Al-Quran. Berdampingan rapi dengan klenteng dimana di dalamnya ada persembahan daging bagi. Tuh. Kerukunan beragama. Toleransi. Tapi kenapa kita selalu bolak balik dengar berita miring tentang agama berbeda yang bertengkar?!. Dari tempat ini saja kelihatan betapa kepercayaan yang berbeda ini sudah lama berdampingan dengan damai. Lalu kenapa harus ribut-ribut tuh yang lain-lain? *gemesmodeon*. Some heads deserve some good smack. Or tepatnya, butuh pelajaran sejarah dan sedikit usaha mblusu’an untuk kenali negerinya sendiri!. 

Beranjak dari klenteng, kami berusaha cari Kampung Arab. Tapi karena minimnya tanda, dan minimnya pula keterangan di peta-peta yang ada di tangan Cip, kami hanya menemukan tempat yang ternyata adalah pabrik es batu untuk industri milik keluarga Alwi Asegaf. Siapa mereka?. Jangan tanya saya, wong saya juga tahunya dari tulisan di gedungnya. Gedung pabriknya yang cantik yang bikin kami berhenti sejenak. Tepat di seberang, berdiri tegak pabrik Pupuk Sriwijaya, atau Pusri. 

Kelihatannya ini gedung kantornya...

...dan ini gedung pabriknya. I like the building. Well built and well preserved


Menyeberang balik ke Musi Ilir, maksud hati menjelajahi musium Sultan Badaruddin. Ini adalah bekas istana. Alas, it was under renovation!. Hwaaaa....terpaksa gagalkan niat. 

Untungnya juga hari mulai agak teduh. Saat yang tepat untuk naik perahu ketek menyusuri sungai Musi menuju Pulau Kemaro. 

Ada 2 pilihan untuk ke Pulau Kemaro ini. Bisa menggunakan perahu ketek, atau perahu motor biasa; atau speed boat. Makan waktu sekitar 30 - 40 menit dari dermaga di dekat Pasar 16 Ilir untuk menuju ke pulau kalau dengan perahu ketek. Dan 20 menit dengan speedboat. Tapi jauh lebih menarik dengan perahu ketek, karena bisa nikmati pelan-pelan kehidupan di tepian Musi dan rumah-rumah panggung mereka, dan melewati kapal-kapal besar kecil. 

melewati bawah jempatan Ampera

Hehehe...kasian Pak Supir, difoto deh :)

Nikmati pemandangan dari sungai ini menarik. Rumah-rumah panggung, dan yang jadi favorit saya: mesjid-mesjid kampung TANPA KUBAH. That's a refreshing view, seriously!. A totally local architecture.

Ini salah satu masjid bersejarah

Pulau Kemaro di kejauhan


Pulau Kemaro ternyata punya cerita. Ada sebuah legenda, yang ditulis di prasasti di pulau ini. Orang-orang lokal membangun kuil atau klenteng di tempat ini untuk menghormati legenda tersebut.

silahkan dibaca apa legendanya :)

tempat-tempat persembahan

prajurit gagah perkasa

'stupa' tinggi di kejauhan


Beranjak dari Pulau Kemaro sekitar jam 5 lewat, kami disuguhi pemandangan matahari terbenam yang romantis ke arah Jembatan. Bangunan pabrik Pusri cakep juga lho dengan cahaya matahari terbenam!...hehe.. 

Cakep juga kan pabrik ini begitu matahari mulai terbenam? :)






Sampai di darat, kami nikmat sebentar gedung istana sang Sultan yang sekarang diterangi lampu. Cantik sekali gedung ini. Mudah-mudahan setelah renovasi bertambah cantik. 



Our last day in Palembang, sebelum terbang balik ke Jakarta esok siangnya, kami ingin habiskan dengan mengunjungi musium-musium. Ada 2 yang ingin kami kunjungi: Musium Tekstil dan Musium Balaputradewa. Sayang, apes lagi.

Musium Tekstil sedang dalam proses alih fungsi menjadi....heritage hotel!!!. Wah padahal saya ngarep banget bisa lihat koleksi-koleksi kain-kain khas Palembang. Dengan sejarah songketnya dan songket-songket tuanya. Hiks...

Mencari musium Balaputradewa juga bukan perkara mudah saudara-saudara!. Dari peta, Cip tahu bahwa arah musium ini adalah ke arah bandara. Dan dari beberapa info dari internet, Cip tahu gedung musium ini juga cukup besar. Naaahhh....kami berasumsi gedungnya di pinggir jalan. Tapi setelah celingukan, gak juga ketemu musium itu. 

Akhirnya ketemunya pun gak sengaja. Cip lihat plang dengan tulisan Musium Balaputradewa, di ujung sebuah belokan kecil!. Waduuuhhh....musium kok nyempil. Dan gak ada tanda yang maksimal. Kami jadi wonder, ini siapa kira-kira yang akan datang ke musium ini ya. 

Dan benar saja. Sepi sekali musiumnya. Pengunjungnya hanya kami, dan ada satu pasangan lagi. Musium ini supposed to keep the story of tanah Sriwijaya. Nah saya agak punya high expectation nih, having been to Trowulan dan musiumnya yang koleksinya bikin bangga. Considering ini adalah Sriwijaya, saya ngarep bisa ketemu peninggalan-peninggalan pentingnya, plus koleksi yang sama massive-nya dengan Trowulan. 

Ternyata, kuciwa lagi. Semua relief, dan barang-barang batu terutama, hanya replika. Kami menduga aslinya mungkin sudah ‘pindah’ ke Jakarta (semoga di Musium Nasional). Dan koleksinya secara umum lumayan sedikit. Ada 3 ruang pameran, dan hanya sedikit yang dipamerkan. Saya nggak tahu apakah karena masih dalam proses pendataan, atau memang hanya itu, atau memang sudah pindah ke lokasi lain misalnya Musium Nasional itu. Nevertheless, agak sedih juga lihat koleksinya di tempat yang sepenting Palembang dengan sejarah Sriwijayanya. 

Diorama pelayaran Melayu

Patung-patung di belakang Tara itu semua replika. Rather sad, sih...




Sebagai obat kuciwa, target berikutnya adalah belanja. Kami ke daerah kerajinan songket. Nah di daerah ini juga, waktu kami celingak celinguk mencari toko yang pas, sekelebatan kelihatan banyak rumah-rumah panggung. Saya jadi gemes, pengen mblusu’an dan lihat-lihat. 

Akhirnya setelah belanja, karena hari masih panas dan kayaknya gak pas untuk mblusu’an tanpa resiko pening kepanasan, kami ngadem sebentar di KFC. Haha....long live modernity!. Kenapa ke KFC?. Simple: cari es krim!. Dan gak seperti di Surabaya atau Semarang yang punya toko es krim legendaris, di Palembang ini (sepertinya, at least kami gak nemu info dimanapun) gak ada. Padahal panaaasss asoy. Jadilah, KFC itu tadi :D

Setelah ngeskrim, kami nyebrang ke Kambang Iwak Family Park yang teduh gak jauh dari KFC. Ini juga oasis banget. Mirip seperti Situ Lembang, bedanya ini lebih besar dan lebih teduh. 

Kayak di hutan ya?


Setelah matahari sedikit lebih ramah, kami balik ke daerah songket. Saya sendirian sedikit mblusu’an di kampung sekitar. Nikmati kehidupan sore. Diikutin anak-anak yang tertarik ingin tahu saya ngapain dengan kamera saya. Dan nikmati sisa-sisa rumah-rumah panggung cantik disana sini.

mancing sore-sore

that charm somehow stays in these houses

ngobrol sore-sore

7 hari dari hari kami di Palembang, akan ada Pilkada. Rupanya kampung ini adalah stronghold dari salah satu kandidat: Sarimudo. Bapak ini semangat sekali minta saya foto, dan minta, "Kasih lihat orang Jakarta nak? Ini kampungnyo Sarimudo, pilihan kami". Siap Pak! :)

Bahkan dengan segala 'tumpukan' pun, rumah-rumah ini tetap kelihatan charming. Oh well, need some imagination. Di imajinasi saya, saya sedang mblusu'an di 'Indonesian's Venice'...

Another charm that lasts...

Ini saya lupa nama masjidnya tapi termasuk salah satu masjid kuno. Sekali lagi saya suka sekali dengan non-kubah style-nya. Go local architecture!



Yah gitu deh sekelebatan Palembang. Jujur kami sedang sedikit malas mengeksplorasi saat kami disana. Panasnya agak membuat kami sedikit repot untuk me-manage anak-anak. Hihi...bukan karena takut hitam, tapi takut mereka semaput kepanasan :D 

But those 4 days and 3 nights were nice to know this place though not a lot. Sekali lagi kami belajar: Indonesia itu, indah dalam segala kemajemukannya.

No comments:

Post a Comment

A place

There is a place I go to When I’m weary and troubled And need a time alone There is a place I go to A small cabin on a hill ...

Popular Posts