Friday, May 20, 2011

BB = Buru-buru?

OK, akhirnya, setelah sekian lama saya menolak punya Blackberry, saya akhirnya mengalah.

Alasannya sederhana. Demi bisnis. Hehe…yeah. Dengan penuh kesadaran bahwa sebentar lagi label saya adalah ‘wiraswasta’ yang berarti harus lebih rajin mencari peluang, saya merasa sepertinya punya BB akan membantu saya melakukan itu. Mudah-mudahan. Aamiiinn.

Sekarang, sudah hampir 3 minggu saya punya benda itu. My verdict: what a helpful annoying little thing it is. Iya betul, helpful, tapi annoying juga.

Jelas helpful. Ada banyak urusan yang bisa selesai dengan cepat karena saya bisa mengontak orang-orang dengan cepat pula. Apalagi saya sekarang sudah teramat malas keluar rumah. BB membantu saya menyelesaikan banyak hal, bahkan sambil tiduran.

Annoying-nya karena, katanya smart phone tapi kok baterainya sama sekali tidak smart. Saya cinta sekali dengan Nokia saya karena baterainya yang tahan sampai 3 hari. Menggunakan BB yang mengharuskan saya men-charge tiap hari itu menyebalkan. Padahal saya sudah matikan benda itu selama jam tidur saya (yang pasti lebih panjang dari jam tidur teman-teman karena status pengangguran sekaligus ibu hamil ini..hehe).

Tunggu. Saya bikin tulisan ini bukan buat berkeluh kesah tentang BB. Resiko lah. Kalau mau punya sesuatu, ya tanggung saja semua resiko yang berkaitan dengan kepemilikan benda itu. As simple as that.

Saya cuma ingin cerita ngalor ngidul tentang perilaku pengguna BB.

Seperti orang lain, saya menggunakan fasilitas BBM, pastinya. Dan saya tetap memperlakukan message yang masuk seperti saya memperlakukan email dan SMS: saya balas kalau saya ada waktu. Seperti email dan SMS, saya tetap menganggap pesan di BBM itu bukan masalah hidup atau mati yang harus dijawab sesegera mungkin. Tapi yang sering membuat saya senyum-senyum sendiri, selalu ada saja balasan pesan ‘maaf ya tadi gue lagi…..’ kalau saya mengirimkan pesan dan tidak dibalas dengan cepat. Padahal saya juga tidak pernah berharap dibalas sesegera mungkin.

Saya jadi mikir. Jangan-jangan, BB ini melatih kita untuk berpikir dan berperilaku instan juga. Padahal, apa iya harus instan?. Kadang-kadang ada juga pesan yang masuk dan harus diolah dulu supaya bisa memberikan jawaban yang ajeg dan tidak ngalor ngidul. Tapi sepertinya, bunyi ‘tang’, atau ‘ting’, atau ‘tong’, atau ‘ping’ dari BB itu selalu saja membuat orang bereaksi langsung. Terburu-buru, atau merasa diburu-buru, untuk bereaksi.

Padahal, apa iya harus seperti itu?. Sudah cukup banyak rasanya hal-hal di dunia ini yang membuat kita merasa harus buru-buru. The heart of the matter is – apakah itu membuat hidup kita lebih berarti?.

Seperti tadi pagi, saya tersadarkan pada realita yang bikin miris. Saya dapat kiriman gambar lewat BBM yang membuat saya ketawa ngakak. Gambar yang kalau dilihat lama-lama, sebetulnya bikin kening berkerut.

Pasti kebanyakan teman-teman kenal baik dengan gambar ini. Yang sekian tahun kita selalu lihat di kaleng biscuit Khong Guan. Yang menggambarkan kehangatan dan kebersamaan keluarga.












Dengan sedikit pelesetan, lihat gambar itu sekarang. Saya ketawa miris melihatnya, karena memang itu yang sekarang sering terjadi di masyarakat kita: duduk bersama, tapi semua sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Entah untuk apa.

Mungkin kalau tidak selalu ada di tangan, tidak secepatnya menjawab apapun yang harus dijawab lewat si gadget itu, nanti kehilangan berita, atau kehilangan kontak, atau kehilangan peluang bisnis. Tapi kok ya tidak ada rasa takut untuk kehilangan kehangatan bersama orang-orang yang harusnya lebih kita eman-eman kalau kata orang Jawa, dibanding segala gadget itu.

Gadget, is gadget. Apapun yang dia bisa BANTU, dia tetaplah alat bantu. Tapi kenapa ya, meminjam kata-kata teman saya, kita rela sekali diperbudak para alat yang harusnya jadi pembantu kehidupan ini.

Hmmm….atau mungkin saya yang harus lebih membiasakan diri diperbudak si gadget itu ya. Tapi rasanya kok tidak sepadan ya. Rasanya sayang sekali hidup ini dihabiskan untuk semua yang serba buru-buru.

Jadi, mohon maaf kalau saya tidak selalu membalas pesan di BBM secepat kilat. Atau bahkan BB saya mati saat ada yang mengirimkan pesan, itu pasti saya sedang menikmati waktu tidur saya, mumpung masih bisa memiliki jam tidur yang panjang :-)


(R I R I)

No comments:

Post a Comment

Saat agama jadi angka

Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali. Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI...

Popular Posts