Wednesday, November 11, 2009

Ternyata saya mencintai Jakarta...

Pernikahan mengubah orang.

Pasti itu banyak yang meyakini. Baik atau tidaknya perubahan itu, wallahualam. Tergantung pribadi masing-masing, mungkin. Tergantung kacamatanya – minus atau plus. Dan tergantung bagaimana menyikapi perubahan itu sendiri.


Buat saya, pernikahan saya dengan seorang Ciptadi, mengubah saya dalam banyak hal. Baik atau tidak?, hanya saya, Tuhan, dan Ciptadi yang akan saya biarkan menilai. Yang lain, tutup mulut.


Salah satu yang berubah sejak saya menikah dengan Cip, adalah bagaimana saya memandang Jakarta.


--


Saya hidup di kota ini seumur hidup saya.


5 tahun pertama hidup saya, kami tinggal di pinggir kali Angke yang waktu itu masih terlihat dasarnya, di Pesing (coba cari di peta Jakarta). Teman-teman saya anak nelayan, atau anak tukang kayu di sekitar kali. Papa pernah menangkap lobster dari kali di belakang rumah. Kami punya 7 ekor anjing. Saya juga masih ingat pohon asam raksasa di halaman depan rumah, katanya ada hantunya tapi untung saya tidak pernah lihat. 4 atau 5 pohon flamboyan di pinggiran halaman, yang membuat tanah halaman warna warni dengan bunganya yang berjatuhan. Kadang-kadang kami lihat biawak berjemur. Di pinggir kali. Di bawah jemuran. Atau ular yang memutuskan untuk berjalan-jalan ke dalam rumah.


Waktu pabrik Kedaung dibangun dan beroperasi di pinggir kali Angke, ayah dan ibu saya memutuskan untuk pindah. Alasannya: karena ibu saya jadi parno setiap kali pulang kantor dan menemukan bagian dalam hidung anak-anak perempuannya hitam seperti jelaga.


Kami pindah ke Mampang. Walaupun saya dan kakak sempat ngamuk karena halaman main yang jauh lebih kecil dibanding rumah kami yang lama, tapi Mampang menawarkan sesuatu yang lain. Dingin. Pagi berkabut. Sore-sore berbaju hangat. Pohon-pohon dan kebun-kebun. Jalan-jalan tikus yang menyambung satu gang dengan gang yang lain, yang di kepala kanak-kanak saya seperti labirin yang memanggil untuk ditelusuri. Sapi melenguh dari kandang sapi tetangga di belakang rumah.


Nah. Itu jejak-jejak ingatan awal saya tentang Jakarta. Indah.


Seiring dengan saya beranjak dewasa, saya makin kehilangan rasa itu. Mungkin sama dengan banyak teman yang lain, di mata saya Jakarta jadi raksasa yang kotor, padat, berdebu, tidak bersahabat (apalagi kalau status kita adalah ‘pejalan kaki’), panas. Dan tidak enak-tidak enak lainnya.


Lalu, saya ketemu Ciptadi.


--


Dari Cip saya jadi melihat Jakarta dari kacamata yang lain. Cip selalu membahasakan dirinya ’anak desa’. Dia tidak besar di Jakarta. Dan mungkin, karena itu Cip bisa melihat hal-hal yang masih indah, yang sulit untuk saya lihat.

Cip pernah mengajak saya napak tilas ke daerah jelajah keluarga kami waktu saya masih kecil. Menelusuri daerah jalan-jalan keluarga saya dulu: Glodok, Kota Tua, daerah pelabuhan, all the way to Pesing, lalu, Marunda. Hampir seharian kami keliling Jakarta Pusat dan Utara waktu itu. Dan saya melihat daerah yang sekarang kotor dan terlupakan itu dengan kaca mata yang lain.

Bendera-bendera perahu-perahu nelayan yang berjejer itu cantik. Pelabuhan dengan kapal-kapal besarnya kalau malam, bisa jadi pemandangan indah juga (dan memang iya. Waktu kami kecil, kalau malam minggu, Papa sering mengajak kami nongkrong di pinggir jalan dekat pelabuhan, minum sekoteng, sambil melihat kerlap kerlip lampu kapal-kapal besar). Tempat pelelangan ikan dengan jalan rusaknya itu, pasti asik kalau kita datangi subuh-subuh. Pantai terbuka di KBN itu, enak juga buat leyeh-leyeh di mobil siang-siang, kalau lagi bosan lihat yang rapi-rapi. Dan seterusnya.


Lalu Cip juga yang membuat saya meng-apresiasi ulang Pasar Seni di Ancol. Lalu Monas. Lalu Taman Suropati. Lalu Taman Gajah di Menteng. Kaki lima di Menteng. Kaki lima di Jalan Sabang. Jalan Jaksa. Daerah Menteng dan bangunan-bangunan tuanya. Distro di Tebet. Dan deretennya jadi semakin panjang.


Ada beberapa hal yang Cip apresiasi sekarang, sudah saya lakukan sebagai anak kecil, atau remaja. Thanks to him, saya diingatkan lagi tentang hal-hal itu. Dan untung juga saya ketemu dengan Cip. Kalau tidak, rasanya nggak kebayang harus tetap tinggal di Jakarta yang makin penuh ini, kalau pasangan saya tidak bisa melihat Jakarta dengan kacamata yang lain: ’hidup’, asik, seru, berwarna, indah dengan segala kekotorannya, dan, sedang belajar berbudaya dengan segala rupa polesan acara kebudayaan. Ya lumayanlah, sudah belajar.

--

Mungkin kata-kata ’mencintai’ terlalu romantis dan ’dalem’ untuk digunakan. Tapi yang pasti,
ini kota gue, tempat gue lahir dan besar. Magelang dan Suliki, asal kedua orang tua saya, itu adalah halo. Bayangan suci yang sakral tentang ’akar’ saya. Tapi Jakarta is ingrained in me, karena saya bernapas di udaranya sejak saya lahir.

Jadi, kalau saya tidak belajar mencintainya sekarang, kapan lagi?. Sebelum dia tenggelam, entah oleh tsunami atau ulah kita yang menanamkan beton-beton besar di sendi-sendi tuanya.

(RIRI)

2 comments:

  1. Ya, ternyata saya juga mencintai Jakarta. Nice piece!

    ReplyDelete
  2. nice. jakarta ternyata memang bisa juga dicintai. ;)

    ReplyDelete

Belajar tentang survival dari sebuah kejatuhan

No I’m not a successful entrepreneur. Lha wong saya baru mau 8 tahun punya bisnis sendiri. Alasannya baru mulai hampir 8 tahun lalu juga...

Popular Posts