Friday, May 15, 2009

Marx, Freud dan Islam, di sebuah Jumat yang indah


Marx, ya, Karl Marx, barangkali adalah pemikir sosial yang paling disalahpahami. Padahal inti dari pemikirannya adalah kritik ideologi. Semacam perangkat untuk mempertanyakan: jangan-jangan yang diterima masyarakat sebagai kesepakatan bersama, bukanlah yang terbaik, dan diam-diam mengusung kepentingan kelas yang berkuasa untuk mempertahankan dominasi dan penghisapan sistematis.

Salah paham yang lain juga terjadi pada Sigmund Freud, yang dianggap sebagai psikolog yang mereduksi manusia sebagai makhluk yang hanya digerakkan oleh agresi dan sex. Padahal pelajaran paling penting dari Freud adalah ajakan agar kita mengalahkan trauma, mempertanyakan motif personal, dan keberanian untuk berhadapan dengan diri kita yang asli dan kadang-kadang gelap. Untuk kemudian melampauinya..

Dua-duanya, in a way, pernah menjadi pahlawan saya. Mereka berdua mengajari saya untuk mempertanyakan. Pertama, mempertanyakan masyarakat. Namun lebih utama lagi, mempertanyakan diri sendiri. Intinya melakukan kritik. Bertanya, by the way, adalah salah satu anugerah terbesar yang dihadiahkan Tuhan kepada manusia. Kritik, berpikir kritis, adalah anugerah besar yang lain.

Saya mencintai Islam, salah satunya, juga karena semangat untuk mempertanyakan, semangat untuk mengkritik ini. Betapa tidak? Agama ini mengajarkan bahwa dasar untuk berserah diri atau menemukan kebenaran, adalah dengan ‘menidakkan’, atau ‘mempertanyakan ulang’. Simak saja kredo dasarnya: tidak ada tuhan selain Tuhan.
Guys, note this: Ini adalah satu-satunya agama yang memulai imannya dengan kata "tidak".

Intinya, untuk menemukan Tuhan yang sebenarnya, kita harus menidakkan/ mempertanyakan tuhan-tuhan yang lain: uang, kekayaan, kecerdasan, kuasa, prestise, juga prestasi, ego pribadi, nafsu dan ambisi. Bagaimana Anda tahu apa artinya ‘menyerah’ tanpa pernah ‘memberontak?’

Pada tahun-tahun awal risalah, Nabi Muhhammad saw, acapkali mengkritik masyarakat yang berpuas pada pemikiran yang diterima umum, mengekor buta pada kebiasaan-kebiasaan lama, dan enggan mempertanyakan apa yang sudah kadung diwariskan. Simak saja, misalnya..

Apabila diserukan pada mereka kebenaran, mereka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami dapatkan dari bapak dan pemimpin kami. Dan apakah mereka akan mengikuti para pendahulu mereka, padahal belum tentu para pendahulu ini mengetahui apa-apa, dan tidak pula mendapat petunjuk?
(Al Maidah: 104)

Sayangnya, tidak sedikit yang menganggap ayat ini sebagai sejarah saja. Sementara, saya membayangkan, etos dari bait suci ini bersifat abadi: yakni untuk terus membuka diri dan mempertanyakan. Apakah ajaran ini dari ulama anu yang hidup sepuluh abad yang lalu, adalah satu-satunya interpretasi yang benar? Mungkinkah ada pemahaman yang lebih baik dari warisan ajaran turun temurun ini?

Hayyaahh… serius banget nih, untuk sebuah Jumat yang indah! He he..Dan kayaknya gak cocok buat kotbah Jumat.. :) Anyway, guys, happy Friday. May your day blessed with Baraka.
I love you all!!

(CIP)




No comments:

Post a Comment

Merdeka itu, semu

Seminggu lagi, kita bakal merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Tadi pagi, sambil duduk di toilet, tempat yang paling sering m...

Popular Posts