Saturday, May 3, 2014

Singing Songs of Nature at the Mollucas part 1: Ambon island, and Ora Beach at Seram








I was not really sure what to expect as I boarded that very early flight to Ambon from Makassar. All I wanted to have was a little break, a little adventure on my own again, after two weeks of nerve-wrecking days at work. 
Little did I know that I would be surprised at every single corner. 

This part of my country, the Mollucas, have always been a mystery to me. With its rich spice history, and stories of Bandaneira from some of my relatives who happen to come from that part of Mollucas, have always been intriguing. Yet all I could imagine was dark, blue, deep sea at some parts; and crystal clear sea with beautiful coral gardens at others. With hints of smell of cloves here and there. A very exotic picture, even for me as an Indonesian. 

So when I arrived in Ambon, I couldn’t wait to explore.

And yup. I was D.E.L.I.G.H.T.E.D by my short stay there...to enable me to say confidently, that I will be back one day, I must!.

As a brief introduction to Ambon, sometimes people forget that the island of Ambon actually covers two peninsulas: Leitimur, and Leihitu or Hitu. Leitimur is dominated by Christians, while in Leihitu it is predominantly muslims.

Leitimur is where city of Ambon, the capital of South Maluku, lies. And perhaps driven by that fact, this peninsula is a lot more developed than Leihitu. And so places of interests are also a lot more developed (though I have to warn whoever is reading this, developed does not always mean great. I think my countrymen and women need  a long training on how to keep a place clean...). 

Leihitu on the other hand, is more rural and traditional. But it was EXACTLY that that really touched my heart and got my liking. It was here that I’ve finally found traditional houses of Ambon with their charming thatched roof and the adaptation of European facade with the tropical weather.

So whoever is going to Ambon, don’t just roam around Leitimur. Don’t just think of Ambon as a transit place to go further out to Seram or Banda or the Kei islands. Explore the peninsulas first – you’ll be surprised at what you’ll find. 


Ambon – the City of Music, and other amazing parts of Leitimur

Leitimur - my first point to explore

I read in many reviews that Ambon is often described as a small, crowded, city. I guess there is some truth in it. But, don’t let that discourage you. I actually find Ambon very charming with its landscape. And it definitely made me soooo jealous of whoever lives there, for you can reach so many great beaches within minutes!. 

And the title, City of Music, really describes the whole ambiance of the city. Everywhere I turned, there would be music in my ears. Every single angkot, or inner city transport, will have a blaring music from its sound system.













 Leihitu - a place in history 


Since the first time I browsed about Ambon, I knew I had to go to Hila. This was the point where Islam finally flourished in Ambon. And interestingly enough, the oldest mosque AND church in Ambon, reside in Hila.

And when I visited Siwa Lima museum, I saw the miniatures of the church and mosque and learned about the story of the mosque. My interest rose!.

But what I did not expect, was that I would find many traditional Ambon houses in this place. I tried searching for them while roaming around in Leitimur, but couldn’t find any. So I was so delighted to see them in Hila.









Ora Beach at Seram island 


Seram island is part of Central Maluku. Masohi, the capital of Central Maluku, is located on this island. 

I did not plan to go to Ora, was planning to visit Saparua because I knew it took 6 - 7 hours from Ambon to go to Ora and that seemed to be too much for a short visit. But when I was already in Ambon, locals convinced me to go to Ora. So I planned to spend 2 nights there. Unfortunately, all rooms were full booked for the 2 night I planned to stay there so I had to be happy with just one night. 

Apparently, the 6 - 7 hours journey was not hard at all because all roads were smooth, and the view everywhere was just great to enjoy. 

And I was very impressed at the speed boat I took from Tulehu to Masohi. It was very organised!. Everyone got a seat number - whether you took the Executive or the Regular class. And, the best thing was, it was on time - both ways. This was so different from my experience using speed boat or ferry in Java and Sumatra, where it tends to be quite unorganised, chaotic even at busy times. To experience such regularity and order, was such a nice surprise.  

And if you think you’ll find roads that are not in good condition in this place so far out, well, be ready to get surprised. Roads are very smooth. I only experienced 30 minutes of dirt road towards Saleman, just before crossing to Ora beach. 

And Ora beach itself. Well....it was heaven on earth.


















And with all those visual memories in my head, I can only say it was time well spent. Even that only one night at Ora, though I had to go at 7 from Ambon to arrive at Ora beach resort at 2pm only to go again at 10 the next morning, was not a night I regretted.

But of course, I haven't gotten enough dose of South and Central Maluku. I only barely touched it. So I will be back, one day. 

I miss the sky, the clear water, the charming friendly people, the crazy blaring music from the angkot, and also the food!





Sunday, April 27, 2014

Jadi Guru Sehari, Memahami Makna ‘Semaksimal Mungkin’



Sebagai ibu yang punya anak usia sekolah dasar, seperti banyak ibu-ibu yang lain, setiap tahun saya pasti sempat nyampah di sosmed tentang kurikulum, tentang beban pelajaran yang sedemikian berat, dampaknya terhadap kehidupan saya sebagai ibu yang juga bekerja, dan tentang sulitnya anak saya menghadapi beban pelajarannya. 

Setiap tahun pula, saya sebetulnya punya pertanyaan besar buat para guru: bagaimana caranya para guru menghadapi beban tersebut?. Apa sebetulnya yang terlintas di kepala mereka tentang apa yang harus mereka berikan pada semua anak muridnya?. Bagaimana lalu mereka sendiri menghadapi apa yang harus dihadapi anak-anak mereka?.

Saya pernah menanyakan hal itu pada guru kelas Tara, anak sulung kami. Jawaban beliau hanya sebuah senyum harap maklum kalau dalam bahasa saya, atau kurang lebih, senyum pasrah, mungkin. Dan beliau hanya menjawab, “Sudah tanggung jawab kami Bu, kami cuma berusaha semaksimal mungkin”.

Semaksimal mungkin. Itu jawaban yang mungkin buat banyak orang normatif. Tapi yang terdengar di telinga saya adalah: tidak terbatas.

Tapi saya tetap tidak punya bayangan, seperti apa sih ‘semaksimal mungkin’ itu.

Ibu saya, waktu beliau baru lulus dari Sekolah Guru di Padang Panjang, pernah jadi guru SD di pedalaman hutan Sumatera Barat saat perang PRRI. Beliau dengan tiga temannya mengajar tanpa dibayar, kecuali sesekali dengan satu sisir pisang, sebuah pepaya, atau sekantong beras. Saya pernah bertanya juga pada beliau, seperti apa rasanya mengajar saat itu.

Jawaban beliau: menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senang karena beliau bahagia dikelilingi anak-anak dan membuat mereka bisa jadi sedikit lebih pintar walaupun sedang masa darurat perang. Sedih, karena beliau tahu ada banyak hal yang bisa dilakukan tapi terbatas oleh perang. Dan beliau lontarkan ini, “Ya kita sih cuma usaha sebisa kita, semaksimal yang kita bisa waktu itu, mau gimana lagi”. Sekali lagi, ada kata ‘semaksimal’.

Di saat perang, apa pula artinya itu. Apalagi dengan cerita lainnya, yang membuat saya meneteskan air mata, tentang alasan kenapa beliau harus berhenti mengajar. Suatu hari ada serangan tentara, dan sekolah pas berada di tengah daerah yang diserang. Salah satu murid beliau, tewas terkena peluru di kepala, di ceruk tempat mereka berlindung, hanya berjarak 2 anak dari beliau. Sejak itu Datuk melarang ibu saya untuk kembali mengajar.  

Lalu, semaksimal apakah yang harus diberikan seorang guru di saat kacau seperti itu?.  

Bapak mertua saya juga guru SMA di Ungaran. Cip sering cerita soal Bapak yang harus mengajar sana sini supaya anak-anak beliau juga bisa sekolah setinggi mungkin dengan pendapatan guru yang terbatas. Tapi Bapak masih selalu punya waktu untuk bercerita untuk anak-anaknya. Dan Cip juga cerita tentang Bapak yang tertidur di meja dengan tumpukan-tumpukan kertas ulangan. Dan terkadang ada saja murid beliau yang berkunjung ke rumah mereka, minta diajarkan kembali oleh Bapak. Selelah apapun beliau, pasti akan beliau layani.  

Dalam kepala saya, sekali lagi, itu juga mungkin ekspresi semaksimal mungkin beliau.

Tapi jujur saja, kata semaksimal mungkin itu kan seringkali kita sok paham, padahal belum tentu paham benar.

Jadi waktu saya memutuskan untuk mencoba jadi guru sehari lewat Kelas Inspirasi Jakarta 3, saya mencanangkan: saya akan berusaha semaksimal mungkin supaya jadi guru sehari versi saya, tidak sia-sia. Tidak sia-sia untuk anak-anak, dan tidak sia-sia demi diri sendiri yang sudah merasa berdosa hanya bisa nyampah di sosmed soal pendidikan di negeri indah yang saya cintai ini, tapi sebetulnya TIDAK TAHU APA-APA tentang kenyataan yang ada di lapangan.  Dan yang tidak pernah paham betul ‘semaksimal mungkin’ para guru itu sebetulnya seberapa.

Dan apa yang saya temui?.

Di akhir hari mengajar sehari itu, hari panjang yang dimulai sejak jam 4.30 pagi sampai jam 7 malam saat saya sampai kembali di rumah karena harus bekerja dulu setelah mengajar, saya disambut Lila si bungsu kami.

Dia memeluk lalu mencium saya sambil berkata, “Bunda ejanya (kerjanya) lama banget sih”.

Saat itu, tiba-tiba saja semua yang saya jalani hari itu lewat di kepala seperti sebuah video super cepat. Dan, saya RASANYA tahu apa maksudnya semaksimal mungkin itu.

Saya merasakan betapa susahnya membuat anak-anak itu memberikan perhatiannya buat saya. Saya merasakan suara saya yang hampir habis berlomba dengan suara jeritan anak-anak dan suara dari kelas-kelas lain. Saya merasakan betapa panasnya kelas-kelas itu, plus keharusan naik turun tangga beberapa kali dalam jangka waktu 6 jam kami di sekolah itu. Saya merasakan betapa sulitnya mempersiapkan bahan pelajaran – tentang profesi saya, dalam bahasa sederhana yang bisa dipahami anak-anak.

Saya juga merasakan energi mereka saat saya bertanya tentang cita-cita mereka. Saya merasakan keharuan yang luar biasa melihat anak-anak dengan seragam yang lusuh, ada yang robek di sana-sini, ada yang memakai sepatu yang sudah sangat usang – tapi dengan semangat yang sama untuk sekolah dan belajar, bahkan dengan semua keterbatasan mereka. Saya merasakan sangat kecil artinya apa yang saya berikan, dibanding apa yang guru-guru mereka lakukan setiap hari, saat mereka berkerumun meminta tanda tangan kami layaknya selebriti, sementara guru-guru mereka memandang sambil tersenyum lebar. Ah, saya malu.

Rasanya, di akhir hari yang panjang itu, saya paham apa yang dimaksud para guru dengan semaksimal mungkin. Mungkin ini: memberikan yang terbaik dari diri mereka, setiap hari. Memberikan energi itu pada setiap anak-anak, agar mereka juga bisa memberikan yang terbaik dari diri mereka, setiap hari. Sepanjang tahun. Dan itu, sama sekali tidak mudah.

Pasti banyak orang yang secara normatif sudah tahu jadi guru itu tidak mudah. Tapi bayangkan bahwa mereka, memberikan yang terbaik dari diri mereka setiap hari, untuk anak-anak kita, anak-anak penerus negeri. Lalu apakah kita masih tega tidak membantu mereka?. Apakah kita masih tega ngomel dan nyampah di sosmed tentang pendidikan?. Dan satu lagi: masih nggak malukah kita mengeluh lelah, saat anak-anak kita (dan tolong jangan berpikir anak-anak kita itu hanya untuk yang punya anak, karena anak-anak negeri ini, adalah anak-anak kita semua!) paling tidak 5 atau 6 jam sehari, mendapatkan energi dari orang-orang hebat itu, day in day out?.

Memikirkan itu, dengan Lila di pelukan saya, saya berjanji: Riri, no more nyampah saat elo udah tahu elo bisa berbuat dan membantu...pikirkan anak-anak ini, yang sedang elo peluk, maupun yang sudah elo temui tadi di sekolah...omelan loe, gak membantu diri loe sendiri, dan pastinya tidak membantu mereka.

Saya harus mengusap air mata sebelum Lila melihatnya, lalu saya jawab pertanyaannya, “Iya, lama ya bunda kerja hari ini ya, tapi bunda ketemu anak-anak hebat seperti kamu dan kakak. Satu hari, ikut ya, ketemu mereka”.

Iya. Itu rasanya usaha semaksimal mungkin versi saya selanjutnya: membuat anak-anak saya paham bahwa mereka BERUNTUNG tidak pernah merasakan keterbatasan apapun. Mereka harus tahu bahwa ada anak-anak lain yang tidak seberuntung mereka, dan sebagai sebuah kesatuan, mereka semua adalah anak-anak yang jadi masa depan negeri indah ini. Dan kita, orang tua mereka, punya tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan cita-cita negeri ini lewat mereka. 

Some day, one day, saya tahu mereka bisa berdiri tegak dan tersenyum bersama. Aamiiin.

Kami ditugasi mengajar di SDN 6 Pagi Kembangan Utara. Di kelas 3A, salah satu kelas yang saya ajar, ada anak yang kidal karena tangan kanannya cacat. Semangat belajarnya luar biasa. Saya ingat Tara yang juga kidal dan walaupun tidak cacat, tapi lemah di bagian kanan tubuhnya dan sering sekali mengeluh dan marah-marah kalau harus gunakan kedua tangannya dan dia merasa kesulitan. Saya ingin Tara ketemu dengan anak ini - supaya tahu apa artinya 'semaksimal mungkin'. Dengan tangan satu, anak ini berusaha semaksimal dia bisa, setiap hari, untuk belajar dan menembus keterbatasan. Saya doakan cita-citanya tercapai. Aamiiin..
(R I R I)

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts