Showing posts with label Faith. Show all posts
Showing posts with label Faith. Show all posts

Thursday, March 25, 2021

SETAHUN PANDEMI

Setahun pandemi, apa ya pelajaran buat diri gue sendiri?.

Yang pertama banget sih ini: gue merasa semakin dekat ke alam terbuka. Pandemi yang bikin sesama manusia jadi ancaman, menjadikan alam terbuka jadi teman yang betul-betul merangkul. Di sana gue sangat merasa aman, nyaman, dan bebas. Pernah nggak berpikir bahwa mungkin saja Tuhan membuat pandemi ini supaya kita sadar tanpa alam yang dipelihara dengan baik, kita ini nggak ada artinya?.

Lalu, pastinya sih belajar pasrah dan ikhlas. Ya itu sih belajarnya sepanjang hidup, ya. Tapi pandemi ini makin mengajarkan gue bahwa gak berguna rencana ini itu anu, lha wong banyak hal jadi sangat nggak pasti. Ikhtiar yang
terbaik
, selalu, tapi pasrahkan. Dan ikhlas terima apapun hasilnya.
Belajar buat nggak bikin banyak rencana. No plan is sometimes a good plan. Pandemi mengingatkan gue kalau kadang, gue kelewat controlling terhadap banyak hal di 'piring' gue sendiri. Sudahlah, lepaskan. Yang penting kan tahu apa yang harus dikerjakan, rencanakan dengan baik yang mau dilakukan, tapi ya jangan terlalu menekankan semua harus bisa gue kerjakan. Balik ke poin atas juga: pasrahkan, ikhlas.
Syukuri hal-hal yang remeh temeh sehari-hari. Sesuatu yang sesederhana bisa berkumpul bersama saja, suka terlupakan kalau itu adalah rejeki!. Pandemi ini seperti menampar gue bahwa dari hal yang kecil itulah, bisa terjadi hal besar seperti bagaimana gue punya energi mengejar mimpi.
Belajar tuli dan buta terhadap segala hal yang nggak bisa gue kontrol dan ubah di rumah. Lebih banyak berada di rumah, dengan seorang sepuh yang juga punya tekanan emosinya sendiri karena tidak bisa bebas juga melakukan kegiatannya, lalu beliau salurkan emosinya pada hal-hal yang seringkali ndak bisa gue ubah, jujur saja membuat gue stres. Lalu gue belajarlah buat tidak peduli - dan belajar bilang pada diri sendiri bahwa tidak peduli bukan berarti gue jadi anak durhaka (oh well, akhirnya toh gue sendiri nanti yang harus bertanggungjawab. Allah pasti mengerti). Gue mengambil sikap seperti itu demi kesehatan mental sendiri, yang juga penting karena ada banyak hal yang harus gue urus. Dan belajar jadi tuli dan buta terhadap apa yang diucapkan dan ditunjukkan saat itu bukan hal yang menurut gue penting diubah, atau bisa gue ubah, jadi jalan keluar. Kalau istilah gue, "Iyain ajalah, biar cepet. Dikerjain atau nggak urusan nanti". Daripada membuka perdebatan terbuka yang cuma akan beresiko menghasilkan luka. Sudahlah.
Belajar tuli dan buta itu juga gue terapkan pada banyak hal. Gue sudah setahun ndak baca koran Kompas langganan. Hampir setahun tidak ikuti grafiknya Covid. Ada beberapa orang yang gue unfollow (tambahan deretan panjang sejak Pilkada...hahaha). Tidak nambah nilai dalam hidup selama pandemi, menurut gue. Balik lagi: demi kesehatan mental.
Teknologi hanya memudahkan hidup, tapi tidak akan pernah bisa mengganti koneksi dengan mereka yang bisa menambah nilai dalam hidup. Untungnya gue bukan orang yang suka menggadang-gadang kemajuan teknologi. I think it's bullshit jika tidak diiringi dengan kesadaran bahwa kemanusiaa berada di atas segalanya. Dan rasa kemanusiaan yang baik hanya bisa didapat lewat koneksi dengan orang-orang yang tepat. Dan itu tidak tergantikan dengan teknologi. Kehangatan berbincang langsung, tetap gue rindukan, walaupun gue juga menikmati jarak yang terbentang yang membuat gue bisa menikmati ruang gue sendiri. Tapi gue ternyata merindukan kedekatan dengan mereka yang bermakna dalam hidup dan kemanusiaan gue.
--
Itu sih sepertinya pelajaran-pelajaran besar bagi gue dalam setahun pandemi. Beberapa di antaranya pelajaran lanjutan dari masa-masa sebelumnya...haha...nggak kelar-kelar, ujiannya banyak, nggak lulus-lulus 😃
Seperti naik sepeda: kadang ketemu jalan lurus, kadang ketemu tanjakan, kadang ketemu kubangan. Dikayuh saja terus, daripada tertahan di satu tempat lalu bingung mau ngapain di situ 🙂



Sunday, June 7, 2020

Hidup itu serba sementara


Itu mah gue juga tahu.

Hehehe…. Iya, gue juga pernah tuh mikir gitu. Nggak perlu dikasih tahu emang iya kok, semua yang ada di hidup kita kan sementara aja.

Tapi, ya, memang lebih mudah bilang, “Ah gue juga tahu”, saat kita belum ngalami sendiri apa rasanya harus menghadapi kesementaraan yang meninggalkan luka.

Tamparan yang paling sakit bagi gue sebagai pengingat terhadap kalimat itu, adalah saat Papa meninggal. Begitu mendadaknya. Hanya selang sehari dari kali terakhir gue dengar suara beliau lewat telepon. Tiba-tiba saja, beliau pergi. No sign. No goodbye. He’s gone. For good.

Bertahun-tahun setelahnya, lukanya nggak sembuh-sembuh. Kehilangan yang terlalu menyakitkan. Dan butuh waktu cukup lama untuk bisa menyembuhkan diri gue sendiri dari rasa kehilangan, rasa bersalah karena tidak bisa lagi ucapkan terima kasih secara langsung, dan bahkan, rasa marah pada Tuhan karena mengambil beliau begitu mendadak.

Tapi ternyata, perjalanan menghadapi kehilangan Papa dan semua yang terkait dengan itu, membantu mempersiapkan gue menghadapi kesementaraan-kesementaraan lainnya dalam hidup.

Jatuh bangun saat harus mimpin sebuah perusahaan dan angka penjualan tiba-tiba jatuh ke jurang. Setengah mati menyemangati diri sendiri, dan tim, supaya jangan menyerah. Bahwa kejatuhanpun, adalah hal yang sementara.

Mulai lagi dari awal saat memutuskan berhenti dari dunia korporasi, saat jabatan saat itu sudah lumayan tinggi. Sempat kerja paruh waktu. Sampai lalu memutuskan gabung ke perusahaan teman dengan jabatan yang sama dengan yang gue jalani 8 tahun sebelumnya. Tapi apa sih artinya jabatan dan semua fasilitasnya? – kesementaraan dalam pekerjaan, itu saja.

Memulai usaha sendiri. Lalu jatuh bangun membesarkannya bersama tim. Dan dalam kurun waktu hampir 10 tahun ini, mengalami banyak sekali hal yang membuat gue kadang ketawa sendiri. Kesementaraan-kesementaraan yang lucu-lucu. Dari mulai anggota tim yang keluar masuk, pencapaian target yang naik turun, sampai semangat yang hilang timbul untuk terus bergerak. Lucu, sekarang. Menjalaninya sih, ya kesel, sedih, frustrasi. Tapi ya itu, semuanya sementara. Lewat juga kok.

Lalu sekarang ada pandemi.

--

Saat gue menulis ini, sudah 3 bulan kami sekeluarga lebih banyak di rumah saja. Cip baru kerja ke kantor hampir setiap hari, di 3 minggu terakhir dari 3 bulan itu.

Pekerjaan dia dan gue dalam kondisi yang sama sulitnya. Bisnis melambat. Mungkin nasib gue masih lebih beruntung daripada Cip yang harus bertanggungjawab pada korporasi besar, dan apa yang dia harus putuskan juga mau tidak mau terkait pada korporasi. Dia juga punya tim yang lebih besar. Dan dia adalah kepala keluarga.

Sementara gue, ‘cuma’ bertanggung jawab pada 3 rekanan bisnis, dan 5 anggota tim. Punya keleluasaan buat memutuskan apa yang harus dilakukan, tanpa harus tunggu siapapun.

Mudah?. Hmmmm…..nggak juga sih.

Salah satu ketakutan gue sejak dulu, yang menahan gue dari bikin usaha sendiri bertahun-tahun lamanya padahal Cip sudah selalu mendorong untuk mulai, adalah takut bangkrut. Sekarang, ketakutan itu membayangi gue. Setiap bulan pertanyaan yang mengemuka adalah: masih punya uang berapa kita buat bayar gaji karyawan?. Walaupun karyawan kami dihitung dengan jari di dua tanganpun tidak habis, tetap saja, mereka adalah tanggung jawab.

Tapi yaaa itulah. Sejak pandemi ini terjadi, gue kembalikan pada hal yang sama: semua hanya sementara. Virusnya mungkin nggak sementara. Itu sih gue yakin dia akan stay seperti halnya virus flu. Tapi pasti kita akan menemukan jalan keluar dari segala yang jadi akibat dari pandemi ini. Lha kita ini dianugerahi otak tuh buat apa kalau bukan dipakai berpikir, “What’s next?”. Mau namanya new normal kek, new abnormal kek, abnormal yang normal kek, apalah apalah apalah jargon yang mau dibuat, intinya kan satu: ada jalan keluar, kok.

Cuma mungkin kita memang perlu keteguhan mental dan ‘cara’ supaya mental ini teguh menghadapi semua kesementaraan dalam hidup.

Gue biasanya berpegang pada 3 hal ini: jangan pernah bereaksi ‘terlalu’, jangan pernah mengaitkan diri pada jabatan dan harta, dan jangan pernah lupa berbuat baik pada sekitar.

Terlalu senang, terlalu sedih, terlalu cinta, terlalu benci, semuanya payah. Perasaan harus dikontrol oleh otak supaya tidak terjebak dalam yang terlalu-terlalu itu. Sehingga saat ada kehilangan, kita juga bisa cepat santuy dan berpikir logis di alur yang benar.

Jabatan dan harta – salah dua dari hal yang menurut gue paling sementara dalam hidup. Hari ini Managing Director, besok jadi kuli. Hari ini dompet ada isinya, minggu depan kering kerontang.

Roda hidup selalu berputar. Dan gue selalu yakin bahwa perputaran itu, KITA yang bikin. Keputusan-keputusan kita dalam hiduplah yang memutar roda hidup kita sendiri. Dan bagaimana kita menyikapi hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, ya tergantung pada kita menyandarkan diri kita pada apa. Dan saat kita menyandarkan diri pada jabatan dan harta, menurut gue sih, we are asking for trouble.

Misalnya ya buat gue, jadi MD ya memang tetap saja kuli sih. Lha wong kita tetap kerja karena dan buat orang lain kok. Intinya kan cuma satu: bekerja dan berkarya. Itu yang dipegang. Jadi kadang gue bingung kalau ada yang turun jabatan lalu jiwanya meronta. Santai brosis. Masih hidup toh?. Masih punya otak toh?. Pakailah buat cari jalan keluar. Jangan dipakai buat merintih.

Berbuat baik membuka pintu-pintu rejeki. Gue amat sangat percaya pada yang satu itu. Banyak contohnya. Dalam hidup gue sendiri, sering sekali gue menemukan jalan-jalan terbuka di saat-saat gue bingung, dan gue selalu meyakini itu adalah jalan yang dibukakan oleh apapun kebaikan yang pernah gue lakukan. Bukan berarti gue bilang gue orang baik, lha wong gue sering dibilang galak. Tapi sepertinya sih ada laaahhh saat-saat gue cukup eling lalu berbuat baik. Apapun itu.

Dan berbuat baik juga bukan hanya pada manusia. ‘Sekitar’ kita ini bukan cuma banyak manusia kan?. Ada hewan, tumbuhan. The earth, is our universe. Jadi berpikirlah juga bahwa berbuat baik itu, bisa pada apapun yang ada di sekitar kita. Bahkan pada seekor semut kecil yang nggak sengaja tercemplung dalam minuman kita, kita tolong dia keluar, itu sudah berbuat baik. Paling tidak itu menurut gue.

--

Jadi yaaah santuylah brosis. Seberat apapun beban yang saat ini harus kita jalani, yakini saja, semua hanya sementara. Asal sandaran kita benar, bukan pada istri atau suami orang #eh, yakini saja bahwa semua yang susah dan berat sekarang, akan bisa dilalui. And we will come out stronger.

And God is good. Jika anda percaya itu. Kalau ndak ya monggo, asal percaya pada kemampuan otak anda buat keluar dari masalah. Karena otak orang lain belum tentu paham apa yang badan dan hati anda inginkan.

Semangat!.  

Tulisan ini dibuat untuk kelak gue bisa mengenang suatu masa di tahun 2020 saat pandemi melanda dunia. Seperti gue mengenang semua perjalanan yang pernah gue lakukan, baik di alam lepas, maupun alam dalam diri sendiri

Monday, November 25, 2019

Menjaga Nilai


Punya remaja tuh gampang-gampang susah.
Setelah badai di awal ke-ABG-an waktu Tara kelas 5, dengan episode banting pintu, lomba diem-dieman, dan beberapa kali ngomel pakai WA daripada ketemu dan akhirnya sama-sama ngamuk, akhirnya kami berdua menemukan titik temu.
Beberapa tahun terakhir ini kami berdua aman tenteram damai. Sampai Cip pernah komentar, “Kalian sekarang rukun banget. Gitu kek dari dulu”. Hahaha....si ayah ini. Oh dia mah lain lagi masalahnya sama anak-anak. Nanti kapan-kapan gue berbagi.
Tapi saat internal udah adem ayem, ya ada aja ya dari luar yang lalu mengganggu dia.
Yang paling anyar, masalah pandangan gurunya tentang aliran Syiah, yang so happens dianut omanya. My mother.
Dia nggak cerita ke gue, tapi gue tahu justru dari ART kami yang memang sudah lama pake banget kerja di rumah kami. Tara memang nyaman cerita- cerita sama si mpok ini.
Jadi suatu hari, gue lagi bikin kue, ceritalah si mpok yang memang suka ngobrol itu, kalau Tara pernah cerita ke dia bahwa gurunya bilang Syiah itu sesat dan yang menganut akan masuk neraka.
"Dia nggak berani ngomong sama bundanya. Waktu itu juga bisik-bisik nanya ke saya, nanya dulu ada oma nggak di rumah?. Omanya emang lagi pegi. Terus dia cerita dah ada gurunya yang bilang gitu. Dia nanya masa oma masuk neraka mpok. Oma kan rajin sholat, baik sama orang. Kayaknya bingung banget gitu dia mbak”. 
Yah namanya juga gue ya, darah langsung spontan naik. “Terus, loe bilang apa?”.
“Ya saya bilang ya nggak gitu kali Kak. Emang Allah nggak lihat perilaku orang?. Mau gimana kek tapi kan Allah nanti yang bakal menilai Kak. Nggak usah dipikirin Kak. Itu urusan Allah nanti”.
“Terus dia gimana loe bilangin gitu?”.
“Yaa kayaknya ngarti sih mbak. Tara kan pinter mbak”.
“Iya gue tahu dia pinter. Tapi dia kan juga orangnya sensitif dan nyimpen. Diem-diem dipikirin. Ntar yang ada stres sendiri mikirin omanya”. 
Sejujurnya, insting pertama gue adalah bertanya pada dia. Tapi, gue menghargai privasi dia. Dia bukan nggak mau cerita ke bundanya, tapi mungkin karena dia cukup kenal bundanya untuk tahu kalau cerita seperti itu, cuma bakal bikin gue telpon ke sekolah untuk bertanya dan mengusut.
Gue nggak pernah berisik soal tugas dan fasilitas sekolah, but when it comes to values taught to my children, biasanya gue memang nggak akan diam. Anak-anak tahu gue nggak akan bawa nama mereka dan nggak pernah mempermalukan mereka, tapi yah namanya juga anak-anak. Selalu ada ketakutan nanti gurunya akan bertanya langsung pada dia. Apalagi Tara sebentar lagi mau ujian.
Jadi bagaimana dong. Ini kan dilema ya, antara menghargai ruang privasi anak, dengan memastikan bahwa dia memang paham bahwa itu bukan nilai yang keluarga kami anut. Bahwa kami menghargai apapun cara orang lain menuju Tuhan dan tidak akan pernah menilai apakah jalan tersebut sesat atau tidak karena akhirnya, hanya Tuhan yang berhak menilai. 
Dan bagaimana pula gue memastikan dia terbebas dari beban emosional macam ini: mikirin bagaimana nasib omanya kelak saat beliau tiada. Dengan bayangan neraka yang luar biasa menyakitkannya. Itu bukan sebuah imaji yang gue ingin tertanam di kepala anak-anak.
Seminggu gue berdebat dengan diri sendiri. Tanya ke Tara atau nggak ya tentang kejadian itu. Gue hanya ingin memastikan dia tahu nilai mana yang harus dia anut, dan bahwa dia ‘kelar’ dengan pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang timbul gara-gara kejadian itu.
Sampai satu hari, omanya siap-siap untuk berangkat ke Iran.
Dia tanya, “Bun, kenapa sih oma tiap tahun harus ke sana?”. 
Dan berdialoglah kami tentang perbedaan cara mencari Tuhan dan mencari apa yang menyamankan kita dalam diri tentang apakah kita sudah melakukan yang terbaik bagi Tuhan atau belum. Bahwa beragama adalah juga tentang perjalanan tak henti untuk mencari jalan yang terbaik, buat kita. Tapi bahwa yang terbaik buat kita belum tentu yang terbaik buat orang lain, dan sebaliknya, AND THAT IS FINE. Karena hanya Allah yang berhak menilai.
“Jadi, kita harus kayak oma juga nggak?”. 
“Kakak, aku sama ayah bukan penganut Syiah. Apakah itu bener?. Ya gak tau. Apakah oma salah?. Ya gak tau juga. Semua baru kita tahu saat kita kembali pada Allah, Kak. Jadi, kamu nggak usah bingung. Nggak usah pula ngerasa kamu harus ngikutin orang lain karena takut masuk neraka misalnya. Pegangannya kan jelas: apa yang ada dalam Al-Quran. Itupun interpretasi Al-Quran itu kan luas banget. Tapi apa Al-Quran ngajarin kita buat ngejudge orang lain?. Ayat-ayat yang bilang masuk neraka kalau begini atau begitu justru harus dibacanya gini Kak: itu adalah kalimat-kalimat Allah. Jadi ya emang hanya Allah yang berhak menilai dan mengatur hukumnya!. Dan ada banyak sekali perbuatan yang dianjurkan dan dilarang Al-Quran, yang bisa kita lakukan adalah sebaik mungkin menghindari yang dilarang dan lakukan yang dianjurkan. Apa itu menjamin kita nggak masuk neraka?. Ya nggak juga!. Tapi kan kasih sayang Allah itu luas. Jadi, ngapain kita yang sibuk ngejudge orang lain sekarang, ya nggak?”. 
Dia diam beberapa saat. Gue sebetulnya nunggu cerita itu keluar dari mulutnya. Tapi, “Iya ya bunda. Kita aja nggak tahu nanti kita masuk neraka atau nggak, ngapain juga nuduh orang lain masuk neraka”. 
Dan itu, siraman air sejuk banget buat gue. Artinya, dia ngerti nilai yang harusnya dia pegang. Dan, bahwa dia menemukan jawaban atas apapun yang mungkin masih bersarang di kepalanya.
--
Pelajaran dari kejadian ini buat gue pribadi ada tiga:
  1. Menjaga privasi anak jauh lebih penting dibanding membela apa yang orang tua ingin luruskan pada anak. Jangan pernah tersinggung kalau dia nggak cerita ke kita. Tapi bersyukurlah kalau dia masih punya orang-orang yang dia tahu dia bisa percaya untuk cerita.
  2. Pastikan saja orang-orang tempat dia cerita itu, adalah juga orang-orang yang menganut nilai yang kurang lebih sama dengan kita. Kalaupun hal ini tidak bisa kita kontrol, dan akan selalu ada yang berbeda nilai dengan kita, paling tidak pastikan saja jumlahnya tidak banyak. Atau ya pastikan anak kita tahu bagaimana caranya berpegang teguh pada nilainya. Bagaimana cara tahunya? - itulah pentingnya komunikasi dan observasi perilaku anak. Amati dari jauh. Tapi tidak buat mengontrol dan mengatur. Lebih supaya kita tahu lingkungan sosial seperti apa yang dia dekati.
  3. Pekalah pada kesempatan-kesempatan dimana kita bisa membahas masalah yang dia tidak ingin ceritakan pada kita. Lalu bahas dengan netral. Dan yakini ini saja: walaupun mungkin sepertinya anak tidak atentif, tapi sebetulnya mereka mendengarkan lho. Gue sendiri sering kaget kok kadang dua atau tiga hari setelah ngobrol sesuatu, anak-anak ini suka melontarkan ucapan yang intinya apa yang mereka pelajari dari obrolan yang sudah lalu itu. So they listen. Gayanya aja mungkin cuek
Kalau soal belajar agama, ah gue serahkanlah pada kepatutan dan nilai yang dianut masing-masing keluarga. Kami sendiri masih belajar. Tapi kami percaya bahwa menjunjung tinggi kemanusiaan dengan tidak menilai kesesatan orang lain, salah satunya, adalah juga menjalankan perintah agama dan belajar beragama dengan baik. Itu saja.
Gue hanya ingin berbagi cerita ini pada teman-teman karena siapa tahu ada yang pernah mengalami. 
Gue sedih karena ada kejadian seperti ini dalam hidup anak-anak gue, sesuatu yang dulu nggak pernah gue alami saat gue tumbuh besar. 
May our children grow up to be those who know that this world needs compassion and empathy. More than it needs those who hold religion blindly. Aamiiin... 
Foto ini terpampang di salah satu rak buku di lantai atas rumah kami, yang setiap sebulan dua kali jadi tempat pengajian Mama. Anak-anak terbiasa melihat perangkat yang berhubungan dengan Syiah di rumah. Mereka tumbuh dengan itu. Mereka berdua pernah bertanya itu apa, atau itu foto siapa, dan gue dan Cip selalu jelaskan. Tapi apakah kami akan mengikuti jalan yang sama? - itu hak hati kami masing-masing kelak untuk memilih. Apakah My Mom melakukan sesuatu yang bidah? - itu gue serahkan pada Allah untuk menilai. Tapi gue sedih dengan mereka yang dengan mudah mengomentari bagaimana salahnya seseorang atau sebuah golongan menjalankan apa yang mereka percaya, padahal hidup berdampingan dengan damai adalah anugerah Allah yang paling besar bagi kita semua...jika saja kita mau belajar. Paling tidak, belajar menahan lidah, dan jari di gawai.

Wednesday, May 29, 2019

Berdamai dengan dosa (bagian 5 - habis)

(Bagian satu, bagian dua, bagian tiga, bagian empat).

Kenapa tiba-tiba gue nulis panjang lebar tentang berdamai dengan dosa?. Karena gue sudah muak dengan betapa mudahnya sekarang ini kita ‘menasehati’ orang lain tapi di balik itu sudah tertera sebuah penilaian tentang dosa orang lain.

Berdamai dengan dosa, bagi gue, bukan berarti kita tidak peduli apa yang kita lakukan. Bukan berarti kita asik-asik aja berbuat segala yang dilarang Tuhan. Bukan itu.

Berdamai dengan dosa, adalah tentang menyadari bahwa memang ada perilaku yang seharusnya tidak kita lakukan, dan itu dosa. Merenunglah. Minta maaflah. Dan sadarlah bahwa perbuatan itu bisa menghasilkan karat di hati kita.

Tapi ya itu: sadarilah untuk diri sendiri saja dulu.

Dalam salah satu buku berjudul Iqro’, karangan Ustadz (yang juga ganteng) bernama Pardamean Harahap yang secara nggak sengaja gue ikuti kajiannya beberapa kali, dibahas tentang kesadaran. Atau bahasa keren yang sekarang sering sekali digunakan: mindfulness.

Bahwa dalam menjalani kehidupan, yang berarti dan bermakna adalah dimana kita saat itu. Sadarlah apa yang kita rasakan di saat itu. Apa yang kita pikirkan. Fokuskan di saat itu. Dan saat kita melakukannya, maka masa lalu dan masa depan akan mengikuti kesadaran kita di titik tersebut. Dan jika selalu berusaha untuk sadar tentang apa yang kita sedang rasakan, pikirkan, kita juga tidak akan sibuk dengan memikirkan bagaimana orang lain.

Bukan berarti kita jadi tidak peduli dengan orang lain, tapi kita sadari dulu diri kita bagaimana, dan dengan kesadaran itu kita membangun hubungan dengan orang lain. Kesadaran ini membuat kita tidak sibuk memikirkan orang lain melakukan apa, tapi lebih pada apa yang kita bisa lakukan supaya kita dulu yang menjadi baik sehingga yang kita lakukan dengan orang lainpun jadi baik.

Dan buat gue itu pula cara untuk berdamai dengan dosa – kita sendiri dan orang lain. Berdamai dengan dosa kita sendiri – dengan menyadari semuanya dan menyadari apa rasanya semua itu di hati. 

Dan berdamai dengan dosa orang lain: bahwa itu bukan urusan kita karena kitapun masih punya banyak urusan dengan kesadaran akan dosa kita sendiri. Karena pada kenyataannya, kita sering sekali dalam keadaan tidak sadar. Berapa banyak waktu yang kita habiskan, sebetulnya, untuk sekedar berlalu dalam hidup.

We think we are conscious, but in actual fact, we don’t. We are actually never present. We are always busy either to think of the future, or dwell over the past, but we often never really spend time to be conscious of our present.

Dan kadang dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar, kita sibuk mengurusi kemungkinan dosa orang lain. Dan gue seringkali melihatnya sebagai pelanggaran privasi. Nothing wrong dengan menyeru pada kebaikan, tapi rasanya, ada baiknya kita berdamai dengan membiarkan orang lain melakukan dosanya karena kitapun jangan-jangan masih perlu diserukan untuk berjalan di jalan kebaikan. 

Mungkin kedengarannya jadi egois. Tapi sejujurnya, ada terlalu banyak seruan tanpa contoh kebaikan yang gue lihat seliweran di masyarakat saat ini, sehingga gue sering merasa semuanya cuma pepesan kosong. Dan itu, melelahkan.

Jalan menuju damai memang sulit dan panjang. I am also still learning. Entah apakah kita akan pernah ada di titik dimana kita tidak selalu merasa perlu mengkoreksi orang lain supaya mereka tidak berdosa, karena kita terlebih dulu sadar kita ada dimana. Semoga saja kita semua bisa ketemu di titik itu kelak. 

Aamiiin. 
















Monday, May 20, 2019

Berdamai dengan dosa (bagian 4)

(Bagian satu disini. Bagian dua disini. Bagian tiga disini) 


Di suatu hari, yang gue udah lupa waktu itu cerah atau tidak, Mama mengikrarkan diri bahwa beliau meyakini Syiah. Gue sudah lupa sih tepatnya bagaimana beliau mengutarakannya, kami sedang apa, yang gue ingat cuma, “Mama sekarang Syiah”.

Gue cuma bilang, OK. Ya harus bilang apa?. 

Pertama, bagi gue, that was actually none of my business. Selama beliau masih percaya adanya Tuhan dan bahwa hanya Tuhanlah yang patut dijadikan sandaran hidup, dan tidak mengajarkan bahwa darah mereka yang berbeda halal untuk dibunuh, yo ben, monggo saja memilih aliran apa.

Kedua, balik ke perjalanan gue memahami apa artinya beragama dan ber-Tuhan, bahwa masing-masing dari kita akan bertanggung jawab pada Tuhan tentang jalan yang kita pilih untuk menuju padaNya. Siapalah gue menilai apakah jalan itu benar atau tidak. Lah gue saja masih belum tahu apakah jalan gue benar atau tidak. 

Tapi belakangan, gue terbentur-bentur pada beberapa hal. Tapi semuanya bermuara pada dua pertanyaan (dan seringkali bikin gue meradang dalam hati): (1) why do so many people think they (1) have the right to claim that they are right, and (2) they have the right to question how others do what they believe they should do to reach God?.

-- 

Di pertengahan 2000-an, Syiah mulai menampakkan wajahnya dengan lebih berani di bumi pertiwi ini. Dan sumpah ya gue sampai sekarang tidak pernah mengerti kenapa hal itu lalu menjadikan banyak sekali orang meradang.

Padahal kalau saja orang mau belajar sejarah penyebaran Islam, dan apa saja ajaran-ajaran dan perayaan-perayaan Islam yang ada di berbagai daerah di nusantara ini, banyaaaaaakkkk sekali jejak Syiah di negeri ini lhoooooo. Tapi selalu tidak mau diakui, atau tidak ada yang paham, atau tidak mau paham karena kadung menganggap itu sesat. Nggemesi toh?. 

Dan bukan cuma sekali gue ditanya baik oleh teman maupun saudara, tentang apa yang dijalankan oleh Mama. Pertanyaan-pertanyaan seperti: benar atau tidak sih bahwa dalam Syiah tidak ada kalimat syahadat, benar atau tidak sih sholatnya cuma tiga waktu, benar atau tidak sih Syiah tidak mengakui Rasulullah SAW, emang iya katanya Syiah kitabnya beda?. And so on and so forth.

And you know what, setiap kali itu terjadi, sejujurnya gue ingin sekali bilang, “That’s none of my business, none of yours. Beresin aja deh ibadah dan keadaan hati loe. Ngapain sih ngeributin gimana emak gue beribadah?. Loe udah bener?”. 

Tapi atas nama menjaga tali silaturahmi, biasanya gue cuma menarik napas panjang sebelum menjawab, “Gimana kalau loe tanya aja langsung deh sama nyokap gue. Gue nggak pernah nanya-nanya. Sepengetahuan gue, beliau masih percaya Allah dan Rasulullah bahkan mengagungkan sampai ke cucu-cucu Rasulullah, beliau masih ngucap syahadat. Kalo sholatnya gue nggak pernah nanya dan nggak pernah lihat lha sholat gue aja masih kacau ngapain gue nanyain sholatnya nyokap?”. 

Biasanya sih lumayan ampuh bikin lawan bicara gue diam. 

Dan bukan cuma sekali pula ada yang bilang kalau itu aliran yang tidak benar, dosa, tidak sesuai dengan Al-Quran dan hadits dan seterusnya. Jawaban gue cuma, “Kita siapa sih?, emang Tuhan sampai kita tahu itu dosa nanti masuk neraka?. Yakin banget kalau itu salah dan kita yang bener”. Oh ya tentunya dengan nada ketus.

Gue saat itu bukan sedang membela Mama, tapi membela hak tiap orang untuk menempuh apa yang menurut HATInya benar. Yang menurut hatinya memudahkannya menghadirkan Tuhan disitu. Terus kenapa harus dibuat ribut sih?. 

Dan walaupun ada prinsip-prinsip Syiah yang membuat gue tidak bisa mengikuti jalan ini (gue tidak akan pernah bahas apa saja itu, itu daerah privasi gue yang tidak seorangpun berhak untuk bertanya), tapi gue juga melihat mereka ini sebetulnya hanya berusaha untuk menegakkan cara beribadah yang menurut mereka patut dijalankan.

Dalam Islam ada hablumminallah dan hablumminannas – menjaga hubungan dengan Allah dan dengan sesama. 

Dengan Allah – ya siapalah kita untuk tahu bagaimana tiap pribadi melakukannya?, ye kan?. Apa pula hak kita untuk menilai apa yang dilakukan tiap pribadi untuk mencapainya?. Tapi yang gue lihat justru ini yang seriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing pakai bangeeeeeeeeeeeeet untuk dibahas dan dipertanyakan. Ya itu, pertanyaan-pertanyaan di atas itu. Padahal, ya ampun, kalaupun itu yang mereka lakukan, dan ternyata salah dan jadi dosa, ya tanggung jawab pribadi dengan Allah, bukan?.

Dalam hal menjaga hubungan dengan sesama. Nah buat gue, ini yang lebih penting. Dan bolehlah dibilang ini mungkin ranahnya manusia untuk bisa menilai. Ini menilai akhlak dan perilaku, yang sejatinya juga adalah cerminan dari apa yang dijalankan dan disimpan dalam hati. Makna dari beragama yang benar, menurut gue, ya ini. 

And in my eyes, tidak ada yang salah dengan bagaimana kaum Syiah ini menjaga hubungan mereka dengan sesama.

Tidak pernah gue lihat mereka menutup diri. Tidak pernah gue dengar mereka secara agresif memaksa orang lain mengikuti ajarannya. Tidak pernah gue dengar ada Ustadz mereka yang agresif dalam ajarannya (gue tahu karena Mama mengadakan pengajian di rumah kami. Tadinya sebulan sekali, lalu ‘beranak’ jadi dua kali sebulan). Dan gue kenal beberapa ustadz yang dekat dengan Mama, semuanya lemah lembut. Tidak pernah ceramah teriak-teriak bikin kaget anak bayi yang sedang tidur. 

Tidak pernah gue dengar mereka mencaci pemimpin – baik pemimpinnya sendiri maupun pemimpin negara. Tidak pernah gue dengar mereka mencaci kaum minoritas lainnya. Kalau yang terakhir ini ya bisa saja ada yang mengajukan argumen bagaimana mereka mau mencaci lha wong mereka juga minoritas. Ah. Alasan selalu bisa dicari, tapi mari berbaik sangka bahwa itulah akhlak yang tertampil saat seseorang beragama dengan baik, gimana? #senyummanis.   

Jadi apa yang harus dibenci dan dibilang salah?. Malah sampai ada ancaman akan dibunuh segala. Gue mengalami suatu masa dimana gue takut ada apa-apa setiap kali Mama pergi ke tempat pemeluk Syiah berkumpul, karena semua ancaman-ancaman yang ada saat itu. 

--

Tantangannya bukan cuma dari luar. 

Ada satu masa dimana hubungan kami, anak dan menantu, dengan Mama pun jadi tegang karena menurut Mama, apa yang kami jalani, tidak benar menurut dalil yang beliau pelajari. Ada masa dimana kami sering diceramahi, tentang bagaimana Syiah dan apa yang benar menurut Syiah. Dan sebaliknya apa yang salah dalam Sunni.

Nah ini runyam, yes?. 

Tapi gue kembali ke pengalaman masa kecil gue saat gue sering diomeli karena sholat yang tambal sulam. All that she wanted to do was to protect me from sins, karena dosa adalah penderitaan. Dan ibu mana yang bisa membayangkan anaknya mengalami penderitaan, bahkan saat itu adalah ‘baru cerita’ tentang bayaran di neraka akibat tidak sholat.

Jadi, disitu ada proses psikologis yang gue bisa pahami kenapa beliau seperti itu. Tapi ya tetap saja, pendekatan gue ke beliaupun sama saja: this is my way, my responsibility, I deal with it later when I have to. 

Butuh waktu sampai akhirnya beliau berhenti menceramahi kami. Mungkin karena tahu tidak didengar. Gue tahu mungkin menyakitkan buat beliau bahwa semua anak dan menantunya tidak ada yang mendengarkan dan mengikuti apa yang dia mau, dan dia sudah yakini benar. But, I guess that’s what we all have to deal with: dosa orang lain itu bukan urusan kita. Titik. 
 
-- 

Penggalan perjalanan menerima perbedaan di bawah atap rumah sendiri dengan semua dinamikanya, gue percaya itupun isyarat dari Allah.

Isyarat untuk tidak mengurusi hubungan orang lain dengan Tuhan. Untuk tidak mengomentari cara orang menuju Tuhan. Itu adalah perjalanan yang teramat pribadi, dan bukan sesuatu yang mudah untuk dicerna oleh mereka yang tidak menjalaninya. 

Dan jika gue percaya Allah bersemayam di hati, dan Dia pula yang mengijinkan semua perbedaan untuk ada di bumi ini, maka gue juga harus terus belajar untuk menerima perbedaan sebagai salah satu cara menjaga kebersihan hati. Hanya dengan itu maka gue akan selalu menyediakan tempat bagi Allah di hati ini.

Jadi menjaga hati bukan melulu tentang tidak melakukan sesuatu yang bukan dosa, tapi juga belajar menerima keniscayaan hidup. Sebab hanya karena Allah-lah semua keniscayaan itu ada. 

(Bersambung)

 













Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts