Ke Sumba sekitar 4 tahun lalu karena lihat Pasola (
http://paragraflepas.blogspot.com/2015/03/sumba-land-of-warriors.html),
dan punya kesempatan lihat beberapa tempat di Sumba Barat Daya dan Barat, malah
menyisakan penasaran di benak gue bertahun kemudian.
Dan karena juga waktu kami ke Sumba dulu itu pas musim hujan, banyak tempat
yang kami datangi juga mendung atau berawan gelap. Penasaran juga seperti apa
tempat-tempat itu kalau terang benderang.
And I’ve seen Sumba yang hijau di musim hujan. Katanya, di musim kering,
pemandangan savanna dan perbukitan yang kering pun cantik.
Dan begitulah, gue rencanakan perjalanan kembali ke Sumba. Menyambangi
ingatan lalu, dan melihat yang baru. Kali ini, gue akan lebih banyak eksplor Sumba Timur yang dulu belum sempat kami datangi.
--
Gue berangkat dari Jakarta ke Tambolaka. Dari Jakarta gue sudah pesan mobil
dari tempat gue nginap (yang kebetulan punya teman, di pantai Newa, nama tempatnya
Newa Sumba Resort). Sampai di Tambolaka sudah sore, dan gue memutuskan buat
langsung ke pantai Mananga Aba menunggu sunset.
Gue pernah menginap di hotel Mario di pantai ini. Dari pantai, kita bisa
menikmati BOTH sunrise dan sunset. Waktu itu, gue nggak pernah punya kesempatan
lihat sunset dari pantai karena selalu pulang sudah gelap. Jadi kali ini, sunset
adalah tujuan utama gue ke pantai ini lagi.
Hari kedua, gue agak terombang-ambing antara dua destinasi. Ke Wanokaka dan
Lamboya – nyambangi lagi lembah cantik itu, atau ke daerah Kodi nyambangi lagi
Ratenggaro dan sekitarnya.
But then ini musim kering, jadi ya most likely lembah Lamboya akan coklat, padahal
gue mau ke Sumba Timur dan pasti juga ada di sana pemandangan yang tidak jauh
beda. Jadi akhirnya, gue memilih ke Kodi lagi. Lagipula memang kalau di Kodi
lebih banyak yang bisa didatangi.
Tapi yang utama, tentu saja, kampung adat Ratenggaro. Dengan rumah beratap
tinggi. Dan under the sun, OMG….benarlah ini: everything looks more amazing under
the sun.
Dari Ratenggaro, gue sambangi lagi Weekuri. Danau air asin. ‘Menjadi’ danau karena dikelilingi karang dan ‘terpisah’ dari laut
lepas. Weekuri mendapat airnya dari sela-sela bawah karang. Saat laut pasang
naik, ya airnya jadi dalam. Tapi kalau surut ya surut juga.
Dari sana, lanjut ke pantai Mandorak yang dulu mempesona gue dengan deburan
ombak, pasir putihnya, dan karang-karangnya.
Setelah itu, lanjut ke pantai Pero.
Sebetulnya di daerah Kodi ada yang namanya pantai Bawana. Gue menemukannya
via Google sebelum berangkat. Bagus sih katanya, dengan karang-karang
bolongnya. Tapi gue udah agak pegal pegaaaalll terpelanting-pelanting di mobil
karena jalan di Kodi cuma sedikit yang bagus. D
an karena besoknya gue harus jalan darat
menuju Sumba Timur, gue memutuskan menyimpan energi dan pulang setelah dari Pero.
Menikmat sunset di pantai Newa.
The big day came untuk berangkat ke Sumba Timur. Sumpah gue penasaran buanget sama Sumba Timur. Jadi amat
sangat excited hari itu mau ke sana. Dan amazed banget lihat pemandangan yang
berganti-ganti. Sumba Barat dan Tengah hijau sekali. Banyak perkebunan sayur,
coklat, kopi, sawah. Begitu masuk Timur ada yang kering coklat tapi juga diselang
seling kehijauan. Ah cakep banget lah.
Tapi sedikit peringatan nih kalau mau dicoba jalan darat. Jalannya berkelok-kelok
sekaliii. Jadi kalau mudah mabuk darat yaaaa siap-siap lah. Perjalanannya makan
waktu 3,5 – 4 jam kalau nyewa mobil. Kalau naik bis juga bisa, setengah hari.
Ya gue yang manja ini lebih baik nyewa mobil dong ya kaaaannn. Daripada juga
diomelin suami kelewat bangor iseng banget naik bis.
Sampai Waingapu baru jam 12an kurang waktu itu. Istirahat sebentar, jam 1
gue udah cabut lagi.
Setelah makan siang, destinasinya ke bukit Tanarara dan pantai Walakiri.
Walakiri memang HARUS pas sunset. Tapi sabar yaaa, banyak oraaang. Gue sampai gemeeessss
mau motoin pohon susaaaahhh banget karena banyak orang nyantol pohon buat
foto-foto. Pantai ini ditumbuhi bakau dan ya kena temaramnya cahaya sore sampai
terbenam matahari memang magis banget sih pemandangannya.
 |
| Tanarara |
 |
| Walakiri |
Besoknya, ngotot berangkat jam 8 pagi. Eh iya harus ngotot. Karena yang gue
alami, 4 tahun lalu juga, para pengendara mobil sewaan ini selalu mintanya jam
9. Padahal jarak satu tempat ke tempat lainnya di Sumba manapun ini minimal satu
jam dengan jalan yang panjang-panjang dan sepi. Jadi satu jam itu jaraknya bisa
lumayan jauh. Kalau berangkatnya baru jam 9, modyar deh. Modar kena panas, dan
bisa jadi tidak terkejar pemandangan-pemandangan yang bagus karena sinar
matahari yang keburu terlalu silau.
Hari kedua di Sumba Timur, ke air terjun Waimarang dulu. Ya udah deh ya
nggak usah mikir mandinya gimana wong airnya jernih anggap saja sudah mandi walaupun
nggak bersabun, yes?.
Ke air terjun ini jalan naik turunnya yaaa lumayan laaah. Worth dua jam
jogging lah kalau kecepatan jogging loe macam gue, alias sejam 6 - 7km.
Agak menyesakkan dada sih kalau main ke air terjun: gerah turunnya, segar
nyeburnya, gobyos kemringet lagi naiknya
. Anyway enjoy sajaa.
Yang asik di air terjun ini (dan lainnya juga), airnya
tosca!. Mirip warna air laut. Bebatuan kapur dan dasar kali (atau sungai? Gitu deh)
yang berpasir bikin air warnanya jadi begitu.
Dari situ lanjut ke Praiyawang di Rende, kampung para raja. Di sini, ada
makam megalitik. Gue juga ke kampung ini karena ingin lihat tenunan mereka yang
masih pakai warna alam.
Oh di jalan menuju Praiyawang, ada Bukit Kembar. Persis seperti gambar anak SD. Jalan di tengah. bedanya, ujungnya bukan gunung, bukitnya malah di samping jalan...hehehe...
 |
| Bukit Kembar |
 |
| Beberapa anak di Praiyawang |
Dari Rende, kita ke Watu Parunu. Nah ini karangnya bolong-bolong jugaaa.
Jadi if you missed Bawana ya loe dapetlah di sini. Walaupun kata Lius, supir
mobil sewaan gue, pemandangan sih lebih bagus Bawana. Tapi waktu gue tanya,
"Jalan ke sananya cakepan mana?". Dia nyengir, "Ya mendingan ke
Watu ini sih Bu". Nah.
Hari ketiga, gue agak ngotot-ngototan dengan Lius.
Saran dari yang atur perjalanannya, hari ini kami ke Puru Kambera, pantai
Cemara dan ke Wairinding lihat sunset. Gue tanya pantai Cemara ada apa,
dijelaskan ini adalah pantai dengan pasir putih dan deretan pohon cemara. Doh.
Bosen kalik lah di kepala gue itu kan.
Gue lebih tertarik ke Tanggedu. Yang rupanya nggak dimasukin ke skedul
(walaupun gue udah fotoin list yang udah gue bikin dari Jakarta ke si pengatur
skedul, dan jelas ada Tanggedu di situ). Alasannya kalau kata Lius ke Tanggedu
itu jalannya sangat jelek. Banyak batu tajam dan kadang ada saja kasus ban
mobil kena lah. Badan mobil kena lah. Jadi kalau gue mau ngotot, ada charge
tambahan.
Chargenya tidak begitu mahal sih ternyata. Dan gue paham lah mereka butuh
jaminan in case gara-gara perjalanan itu mobilnya harus diperbaiki atau
bagaimana.
So done deal. Jadi hari ketiga ini kami ke air terjun Tanggedu dulu. On the
way, melewati Puru Kambera. Savana dimana sering ada kuda banyak sekali.
Sayangnya pas gue sampai situ, tidak ada kuda.
Tapi yaah Sumba Timur kan lahannya kuda,
everywhere you will see them.
Tanggedu. Iniiii....hmmmm....kasih tahu nggak ya...
Jalan ke sananya....memang ternyata harus melalui jalan yang berbatu-batu. Jadi
memang jadi agak melambat di beberapa tempat. Ada ruas jalan yang masih sedang
diperbaiki jadi harus mutar dan lewat jalan tanah. Ada bagian jalan yang melipir
jurang, sampe gue nggak mau lihat kanan, dan baliknya, nggak mau lihat kiri.
Ngiluuuu...
Musim hujan, lupakan ke tempat ini. Lius bilang tidak akan ada yang mau. Hahaha…yaiya,
menyabung nyawa buat lihat air terjun?, hmmmmm….
Pemandangan sepanjang perjalanan tapi asik lah. Perbukitan. Bisa lihat sawah
yang spider web itu dari jauh dan sungai yang airnya hijau kebiruan membelah
lembah. Dan seperti air terjun yang warna airnya tosca, ya begitu juga
sungainya. Amazingly different compared to yang pernah gue lihat di tanah Jawa,
Sumatera dan Sulawesi.
Naik turun menuju air terjunnya menurut gue yaaa...nggak separah di
Waimarang. Tapi ya tetap sih lumayan. Dan bedanya juga, di Waimarang itu, jalan
yang datar itu di tengah pepohonan jadi adem. Ke
Tanggedu...hehehehehe....savana memang temaaan. Ladang orang. Jadi ya
bermandikan cahaya matahari yang asoy itu. Jadi pastikan terhidrasi dengan baik.
Dan pakailah sepatu yang nyaman yang solnya nggak gampang ndlosor kalau kena
tanah berpasir yang 'lepasan' terutama di jalan yang turun. Dan supaya di air
terjun juga enak melangkah ke sana kemari nggak khawatir terpeleset.
Tapi sumpah...worth every step you make to Tanggedu. Cakeeeeppp
bangeeeetttt. Not to be missed. Loe boleh skip Waimarang, tapi tidak Tanggedu.
Serius.
Dan jangan sampai ke Tanggedu nggak nyebur atau nggak naik turunin batu-batu
yang akan kasih kita lihat bertingkat-tingkatnya air terjun ini. Gorjes lah
pokoke.
Dari Tanggedu kami ke Taneu, atau Bukit Seribu.
Tadinya kami mau mampir ke
Morinda hotel. Hotel ini, letaknya katanya bagus dan bisa lihat sunset juga di
perbukitan (gue tadinya mau nginep sini tapi fuuullll). Tapi setelah hitung-hitung
waktu sepertinya tidak cukup untuk ke Morinda. Sementara menurut Lius sayang
kalau lihat sunset di perbukitan ke Wairinding karena, “Tempatnya ya lebih
biasa lah dibanding Bukit Seribu”. Ya sudah, gue mah percaya sajalah.
Dan dia benar sih. Salah satu yang jadi destinasi wajib Waingapu itu adalah
bukit Wairinding (film Pendekar Tongkat Emas itu salah satunya adegannya
diambil di situ). Tapi, setelah gue ke Tanarara, Bukit Seribu, dan Bukit
Persaudaraan, Wairinding memang jadi biasa saja sih...
Dan harus ke Bukit Seribu mendekati sunset dan tunggu sampai matahari
tenggelam.
Dan akhirnya hari terakhirpun tiba. Gue terbang ke Denpasar dari bandara
Umbu Mehang Kunda jam 15.20, jadi masih lumayan banyak waktu untuk masih lihat
beberapa tempat.
Jadi kami ke bukit Padadita, dimana bisa lihat landasan pacu pesawat dan
sungai yang membelah. Lalu gue juga ke tempat Om Titus namanya, perajin tenun
yang masih setia pada warna alam. Terakhir, mampir di Wairinding dan Bukit
Persaudaraan sebelum ke bandara.
 |
| Wairinding |
 |
| Bukit Persaudaraan |
--
Itinerary ini jadi begini karena gue sudah pernah ke Sumba Barat Daya dan Barat.
Kalau belum pernah, then do this island justice. Explore each part properly.
Karena ada emosi yang berbeda yang akan tertangkap saat di Barat Daya, ke
Barat, Tengah lalu Timur.
Dan akan bisa terasa betapa tanah Sumba itu amazingly different dari satu
landscape ke landcape berikutnya. Well sudah bakal terasa dari sejak ke
Waimarang sih. Warna tanahnya, yang gue perhatikan, ada empat. Hitam. Iya benar-benar
hitam – bukan karena dibakar tapi memang hitam. Lalu ada putih berpasir. Ada tanah
merah. Dan ada tanah yang coklat muda sampai tua. Dan batunya ada yang persis
seperti batu karang di dasar laut, ada yang seperti batu-batu vulkanik, ada
bebatuan kapur.
Yang menurut gue memang paling seru kalau mau ke Sumba Barat Daya dan Barat,
disesuaikan dengan jadwal pasola. Jadi sekalian dapat semua: acara budaya yang
unik, dan alamnya. Rasakan pasola di beberapa tempat saja (kami dulu kalau
tidak salah hanya ke dua atau tiga tempat), explore Sumba Barat Daya dan Barat,
baru kemudian ke Timur.
Cuma ya memang kalau mau ke Sumba Timur dan harus ke Tanggedu itu, mau tidak
mau harus musim kering. Sementara pasola tidak pasti jadwalnya. Jadi ya monggo
lah direncanakan yang terbaik.
In short, Sumba is an amazing land. Terasa purba, menyimpan cerita dan misteri
yang sulit diterka. Jalan yang agak menantang di sana sini jangan menyurutkan niat kalau memang ingin ke Sumba. It all adds up to your experience.
(Perjalanan di Sumba Timur - sewa mobil dan penentuan rute setiap hari, dibantu atur oleh Sumba Bible, kontak: Sri 0818359092. Mereka juga bisa mengatur perjalanan di Sumba Barat Daya).