Showing posts with label Indonesiana. Show all posts
Showing posts with label Indonesiana. Show all posts

Sunday, July 4, 2021

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, dengan Jawa atau tepatnya Jakarta sebagai pusatnya.

Saat saya menulis ini, kami sekeluarga sudah menghabiskan sembilan hari di luar Jakarta, delapan hari di pulau Bali.

Saat kami berangkat, angka kasus sedang merayap naik.

Saya sebetulnya sudah agak ragu untuk berangkat karena banyak alasan selain keadaan pandemi. Tapi lalu saya berpikir juga: memang kalau saya di Jakarta saja, saya bisa mencegah apa?. Dan saya butuh waktu untuk menjauh dari Jakarta, dan mengumpulkan kembali energi mental.

Maka, berangkatlah kami, 25 Juni 2021. Another family road trip, from Java to Bali.

Saat saya menulis ini, kami sedang di Padangbai. Tempat menginap ketiga kami, setelah Taman Nasional Bali Barat dan Ubud. Kami masih akan melanjutkan perjalanan ini ke Seminyak, sebelum kembali ke Jakarta tanggal 10 Juli nanti.

--

Ada banyak hal yang saya rasakan selama perjalanan ini.

Antara lega karena jauh dari Jakarta sebagai apa yang saya dan Cip definisikan sebagai ‘pusat badai’, dan juga sedih karena setiap hari kami menerima kabar teman yang terkena Covid.

Antara senang karena kami, terutama anak-anak, bisa menghirup udara segar di alam Bali yang asri, dan sedih karena kehilangan seorang sahabat saat perjalanan ini baru saja dimulai, juga sedih melihat bagaimana di banyak tempat kami melihat puing-puing bisnis yang berguguran.

Antara senang melihat kepatuhan banyak orang di sebagian besar tempat yang kami datangi, juga prihatin melihat mereka harus kena imbas dari sesuatu yang sebetulnya bukan salah mereka.

Dan saya jadi banyak sekali bertanya dalam hati: apa maksud Tuhan membuat bencana besar ini?. Mematikan sedemikian banyak manusia. Membuat kita menjauh dari satu sama lain. Manusia jadi bahaya bagi manusia lainnya, tanpa perlu jadi orang jahat. Membuat banyak sekali orang mengalami kesulitan hidup.

Saya tak tahu apa jawabnya.

Ya, ya, yaaaaaa pasti supaya kita belajar sabaaar, lebih tawakkal, dan sebagainya dan seterusnya. Bukan itu yang saya cari, sih. Bukan jawaban berdasar iman. Bukan saya tidak lagi percaya, tapi, entahlah. Saya rasa saya hanya ingin ada jawaban lain, entah apa. Entah siapa yang bisa menjawab.

--  

Saya sedang mempertanyakan hal yang sama saat memandang langit bertabur bintang di atas Padangbai, saat lagu Imagine-nya John Lennon mengalun dari speaker yang tersambung pada playlist di Spotify yang dibuat oleh salah satu anak kami, yang isinya kompilasi sejumlah lagu kesukaan masing-masing dari kami. Sengaja dibuat untuk menemani road trip kami kali ini.

 

Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us, only sky

Imagine all the people
Livin' for today
Ah

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion, too

Imagine all the people
Livin' life in peace
You

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed…

 

Mungkin Tuhan ingin kita membayangkan dunia seperti yang John Lennon bayangkan. Dunia tanpa negara. Dunia tanpa pemisahan. Dia ciptakanlah sebuah virus yang dihadapi oleh semua orang. One common enemy. Kita jadi lupa buat saling berperang. Lupa buat saling membunuh. Kita hanya ingin mengalahkan satu saja: virus sialan ini.

Eh tapi lalu saya ingat kalau: masih ada yang berebut susu (ya Tuhan…susu!!!!!). Masih ada yang tidak bisa antri untuk vaksin padahal salah satu yang harus dihindari adalah kerumunan. Masih ada yang tidak mau pakai masker. Masih ada yang tidak mau divaksin dengan sejuta alasannya, dan memilih dengan sadar untuk tidak percaya pada ilmu pengetahuan.

Lalu kita bingung kenapa selalu saja ada bencana yang dialami seluruh dunia?. Katanya, setiap 100 tahun ada bencana yang rata dialami semua. Apakah 100 tahun lagi, kejadian seperti sekarang akan berulang, karena kita tidak pernah belajar?.

Saya sudah mati saat itu terjadi. Semoga saja sih, tidak terjadi lagi. Kasihan generasi mendatang.

Imagine. A world in peace. Forever.

Matahari tadi pagi di Campuhan saat saya dan Cip jalan pagi. Tiap terbitnya matahari, adalah harapan baru. Tapi kadang saya takut berharap, karena saya tidak ingin kecewa... 


Wednesday, August 26, 2020

B O H O N G

Siapa yang tidak pernah bohong pada orang tua?.

Bohong tentang apa?.

Ya tentang berbagai hal. Dari hal kecil semisal harusnya belajar tapi malah main, sampai bohong soal uang misalnya.

Saya ya jelas sering bohong. Lha wong ndablek sejak kecil mana mungkin saya suci dari hal yang demikian.

Dari perkara harusnya belajar bareng teman, malah ngobrol. Ngakunya teman, padahal pacaran. Ngakunya mengerjakan tugas kelompok, malah jalan-jalan. Ah banyak lah.

Perkara uangpun, ya pernah. Dan ada satu kejadian yang jumlahnya lumayan besar.

--

Saya baru punya SIM waktu sudah kuliah semester 2. Lha wong memang waktu itulah umur saya baru cukup buat ambil SIM. Dan saya lupa di semester berapa, almarhum ayah saya membelikan mobil bekas.

Mobil itu jarang saya pakai kuliah. Alasannya satu: saya harus bayar bensin sendiri kalau mau pakai mobil tiap hari. Minta? – wuidih, cuma dilirik thoooookkk.

Uang saku saya saat itu, tahun 90 awal, Rp 150.000 dan harus cukup dalam sebulan. Itu juga bukan dari orang tua. Uang itu jatah bulanan dari Bank Indonesia, tempat kerja ibu saya waktu itu, bagi anak pegawai yang harus saya pertahankan dengan nyetor nilai IPK minimal 3 tiap semester.

Uang saku sejumlah itu lumayan cukup buat ongkos dan makan saya tiap hari di kampus. Tidak ada tambahan lagi dari orang tua kecuali kalau untuk beli buku. Yaaa kadang megap-megap juga sih, tapi untungnya, di fakultas Psikologi selalu saja ada yang bisa dikerjakan dari kakak-kakak kelas buat sekedar uang jajan.

Tapi kalau untuk uang bensin, tidak cukup layaw.

Jadi buat apa dong dibelikan mobil?.

Buat antar jemput ibu saya ke dan dari kantor. Buat antar ibu saya ke dan dari pasar setiap hari Minggu. Cerdas memang almarhum ayah saya. Buat beliau yang waktu itu sudah pensiun, memang terbayang sih malasnya harus bangun pagi-pagi, antar istri ke kantor, nanti jemput lagi sore-sore dengan Jakarta yang waktu itu sudah lumayan macet.

Saya sih senang-senang saja dilimpahi tugas itu. Karena, mengantar jemput ibu saya artinya adalah bensin diisi oleh beliau, full tank. Naaahhhh di antara waktu antar jemput, kan saya bisa pakai mobil itu. Jadi kalau sudah diisi full tank, biasanya saya sesekali pakai ke kampus apalagi kalau saya tahu pulangnya akan sore. Sekalian jemput dulu ibu saya di kantornya di Jalan Thamrin sana. Ceritanya anak berbakti (padahal mah akalnya bulus banget).

Singkat cerita, tibalah masa dimana saya membuat skripsi.

Sebelum ujian sarjana, skripsi harus difotokopi 10 kali. Dan waktu itu, kebetulan skripsi saya nyaris setebal Yellow Pages (yang sudah tidak tahu apakah benda ini, silakan cari di Google), dengan pendamping data yang tebalnya 2cm.



(Yang kiri skripsinya, kanan data pendukung. Entah apa yang merasukiku dulu kok ya bisa menulis skripsi setebal itu...)

Di saat yang sama, mobil kecil itu bannya sudah gundul. Sebetulnya saya waktu itu sudah kerja paruh waktu di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris, dengan gaji bulanan yang lumayan jumlahnya. Saya sebetulnya bisa mengganti ban tersebut dengan uang saya sendiri, tapi entah kenapa, saya malah cari akal bagaimana caranya supaya ban itu diganti menggunakan uang ayah saya.

Minta? – jelas beliau tidak akan kasih. Pelit?. Tergantung darimana melihatnya. Saya yakin kalau ayah saya sebetulnya sedang mengajarkan nilai barang, dan bagaimana sulitnya memelihara sesuatu. Dan bahwa semua butuh biaya jadi sebaiknya kalau punya uang jangan dibelanjakan seenaknya. “Kalau mau pake uang tu mikir dulu”, begitu beliau dulu sering katakan pada kami.

Lagipula saya tahu jawaban beliau apa kalau saya minta, “Lho kamu kan udah kerja, beli sendiri dong”. Apalagi karena saya memang jadi sering harus mondar mandir ke kampus, lalu mengajar, lalu jemput ibu saya, ya memang saya jadi sering pakai mobil itu.

Tapi pokoknya waktu itu saya memang sedang ingin dibayari. Mungkin separuhnya karena saya merasa selama saya kuliah 6 tahun, 2 tahun terakhirnya saya tidak pernah meminta uang termasuk uang buku karena saya sudah punya gaji bulanan. Saya sudah bayar bensin sendiri. Pengerjaan skripsi termasuk semua biaya yang ada di dalamnya, saya tanggung sendiri. Beliau hanya bayar uang kuliah saya saja yang waktu itu cuma Rp 180.000 per semester.

Jadi fair, dong, kalau saya ingin beliau yang belikan ban baru. Tapi bagaimana cara memintanya tanpa ditolak ya.

Pilihan saya jatuh pada, berbohong.

Saya tunjukkan pada beliau skripsi saya yang tebal itu dan lampiran data yang juga tebal, dan saya bilang kalau saya harus fotokopi keduanya sebanyak 10 kali, dan skripsi harus hard cover (padahal sih tidak perlu). Dan untuk itu semua, saya butuh Rp 2.000.000.

Ayah saya, walaupun dengan sedikit mengerenyitkan dahi, memberikan saya uang yang saya minta (ya kan mintanya dengan tampang memelas tentunya….susaaaahhh banget gitu kayaknya).

Sebelum itu saya sudah mencari tempat fotokopi yang murah tapi bagus di daerah Depok, dan juga cek harga ban baru. Fotokopi kedua dokumen itu, sudah dengan hardcover untuk skripsinya saja, butuh Rp 800.000. Harga 4 ban baru, Rp 2.000.000.

Lho, tekor dong?. Hehehe….that’s not the point. Pokoknya waktu itu saya puas bisa beli 4 ban baru dengan uang dari ayah saya. Skripsi? – ya saya fotokopi dengan uang saya sendiri laaah. Wong gaji bulanan saya waktu itu lebih besar kok dari uang untuk fotokopi itu. Hehe…

Ngeselin?.

Well. Saya ceritakan itu semua pada ibu saya.

Di hari ban yang baru telah terpasang, saya jemput ibu saya ke kantor beliau, saya tunjukkan ban itu, dan saya ceritakan semuanya.

Reaksi beliau? – ngakak!. Padahal saya sudah takut dimarahi, dianggap anak tak tahu diri. Eh beliau malah siap bilang ban itu diganti oleh beliau, kalau ayah saya tanya-tanya. Padahal bukan itu maksud saya cerita pada beliau. Saya hanya ingin cerita saja, entah kenapa. Mungkin sebetulnya ingin mengurangi rasa bersalah. Dan, takut ndak lulus ujian sarjana karena kualat. Paling tidak kan saya jujur pada salah satu orang tua saya, walaupun tetap saja ayah saya tidak tahu kalau saya bohongi.

Entah karena jujur pada ibu saya, atau memang karena kebetulan penguji skripsi saya sudah kadung kagum sejak saya berikan skripsi saya yang nyaris setebal Yellow Pages itu, saya bisa lulus sarjana dengan nilai nyaris sempurna kalau saja tidak pernah dapat nilai D.

Sampai ayah saya meninggal, rahasia itu tersimpan rapi di antara saya dan ibu. Saya tidak tahu apakah kalau saya cerita, beliau akan memaafkan saya atau tidak. Yang jelas, sekarang kalau saya lihat skripsi yang ada di salah satu rak buku di rumah kami, saya kok ya malah ketawa. Parah yo.

--

Saya jadi bernostalgia tentang ini gara-gara tadi siang melihat postingan bapak Sutrisna Wibawa, Rektor UNY, tentang mahasiswa yang membohongi orang tuanya tentang biaya kuliah.



Apapun alasannya, harus diakui itu salah jika orang tua kita memang harus susah payah membiayai kita menempuh pendidikan yang layak. Mereka, pasti ingin hidup kita lebih baik, makanya banting tulang cari uang. Lha kok malah dibohongi.

Saya tidak bilang kelakuan saya dulu membohongi ayah saya benar hanya karena orang tua saya kebetulan bukan orang susah. Tetap saja sih, salah. Tapi saya tidak makin membuat hidup mereka susah karena saya tidak membuat ayah saya misalnya jadi usaha keraaasss untuk mengeluarkan uang itu. Justru karena saya tahu beliau punya uang, saya berani sebandel itu.

Tapi kalau untuk hidup sehari-hari saja sudah sulit, ditambah harus mencari uang sekuat tenaga demi membiayai sekolah kita, lalu malah dibohongi, lha njuk piye.

Kalau masih jadi mahasiswa saja sudah mental maling, mau jadi apa negeri ini kelak?. Bohong ya boleh, silakan, lha wong dosanya ditanggung sendiri kok. Tapi ya kalau pada orang tua sendiri ya bohongnya mbok pakai perasaan juga gitu lhooo. Dikira-kira. Gemes akutu.

Saya yakin satu hari nanti, anak-anak saya pasti berbohong juga pada kami. Atau ya mungkin malah sudah. Tapi saya berharap apapun kebohongan mereka kelak, itu bukan sesuatu yang massif, yang dilakukan karena kecacatan karakter, tapi semata karena keusilan berpikir anak terhadap orang tuanya. Karena kalau yang terakhir saya yakin, semua anak pernah melakukannya.

Kalau sudah membohongi institusi, lalu membohongi orang tua, secara tidak sadar itu memelihara bibit korupsi. Koruptor terbaik, adalah mereka yang tidak punya hati, bahkan terhadap orang tuanya sendiri. Dan membaca postingan bapak Sutrisna tadi siang, saya takut bibit-bibit itu sedang tumbuh subur. Semoga saja saya salah.

Tapi lalu masuk pesan WA dari kakak saya yang cerita ada temannya yang bekerja di UI mengelola dana untuk mahasiswa yang tidak mampu. Membaca ceritanya, kok ya saya sepertinya harus mengelola harapan saya.

Ah. Negeriku. Banyak sekali kepedihan yang harus kau tanggung.


Thursday, August 6, 2020

MELAMBAT, MERASAKAN HIDUP

Sudah hampir sebulan anak-anak kembali sekolah. Artinya, kami juga kembali ke rutinitas normal karena anak-anak mulai sekolah jam 7.30 lagi.


Pagi, artinya adalah kembali menyiapkan sarapan anak-anak dan Cip. Setiap malam, artinya adalah bertanya pada anak-anak, terutama Lila, "Besok pagi mau sarapan apa?".


Minggu lalu, Lila minta dibuatkan, "Nasi goreng bunda itu lho, yang pakai sosis sama telor". I made it. Dan karena sekolah di rumah, nasi goreng itupun ludes saat mereka istirahat pertama di jam 10.


Semalam, LIla minta dibuatkan pancakes. Easy now, sudah tak perlu bahan pancakes yang ready mix, thanks to her Uncle who gave me the recipe (yaah bisa cari di Cookpad, sama pasti, tapi gimanapun juga, something that was given by your own relative, always feels more meaningful, yes?).


So I made it this morning. Gue buat juga beberapa pancake cimik timik yang sekarang sedang viral ituuuhh. Iseng aja, sampai lalu merasa kok lama banget, dan bikin ukuran biasa. Hahaha... No pictures this time, sudah habis semua dan kamera handphone gue pagi ini nggak lapar.


Setiap pagi juga, karena Cip berangkat ke kantor relatif lebih siang (no matter how much I want him to just work from home, tapi ya gimana, di rumah, dia akan tergoda baca komik daripada kerja. Rumah, adalah 'sarang', katanya), kami berempat selalu punya waktu lebih lama buat duduk bersama di meja makan. Sarapan bareng, lebih tenang karena nggak ada yang buru-buru harus berangkat. Anak-anak akan cerita tentang hari mereka kemarin, dan apa yang akan mereka pelajari hari ini.


Sebuah rutinitas yang sebelum pandemi ini, sudah selalu kami lakukan. Bedanya: sekarang semua terjadi dengan lebih lambat.


Tidak ada ketergesaan. Yang ada adalah ritme yang menyenangkan, sampai di waktu masing-masing harus mulai melakukan aktifitasnya, dan gue mengucapkan, "Have fun learning girls!" pada anak-anak sebelum mereka ke meja belajarnya masing-masing. Dan, "Have fun at work" pada Cip yang siap-siap ke kantor (dan gue selalu melepasnya dengan segudang doa dalam situasi serba tidak pasti ini....may God protect him, and us).


Kadang kita lupa betapa rutinitas, adalah sesuatu yang juga membuat kita 'hidup'. Dan bahwa ketergesaan di tengah rutinitias kita, seringkali merampas sesuatu dari hidup. Entah itu kehangatan, kedekatan, atau sekedar waktu buat merasa, "I'm fine. I'm OK. I'm grounded".


Pandemi ini membuat kita melambat, tapi tidak selalu berarti buruk. Ketergesaan, juga tidak selalu berarti kita kehilangan sesuatu. I guess it all depends on how you balance those two out.


Jangan-jangan, pandemi ini sekarang hadir untuk mengingatkan betapa sering kita tenggelam dalam ketergesaan yang membuat kita lupa untuk betul-betul 'hidup'. Mungkin, perlambatan ini hadir supaya kita kembali pada 'rasa' dan kemampuan untuk merasakan semua hal yang mengayakan hidup. Memampukan kita 'merasa hidup' lagi.


Seperti kemarin saat salah satu teman mengirimkan foto ini, dan bilang bahwa melihat pemandangan ini, sambil memikirkan cashflow, rasanya kok ngelangut. Buat gue sebaliknya: pusing memikirkan cashflow, tapi masih bisa menikmati pemandangan dengan perlahan, dan meresapinya, adalah anugrah tersembunyi. Itulah, merasakan hidup dan semua di dalamnya. 





Friday, January 24, 2020

PANIC PARENTING


Pagi ini iseng scrolling IG. Lalu melihat salah satu akun yang saya ikuti, mem-post foto ini.
Saya baca dengan seksama. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Dan saya tertegun.

Harus, ya, segitunya kita harus bereaksi karena adanya kasus ini itu yang menyangkut anak-anak yang depresi lalu bunuh diri?.

Tolong dicatat dulu.

Saya bukan bilang bahwa kasus-kasus tersebut bisa diabaikan. Tentu kita semua harus prihatin, dan refleksi diri: apa yang sudah (atau belum) saya lakukan sebagai orang tua untuk memastikan anak-anak saya tidak mengalami hal yang sama?. Apa yang sudah (atau belum) saya lakukan supaya anak-anak saya bermental kuat apapun yang harus mereka hadapi, ada orang tuanya ataupun tidak?. Sudahkah saya mempersiapkan anak-anak saya menghadapi berbagai tantangan di luar sana?. Adakah dukungan yang cukup saat anak saya harus menghadapi tantangan yang membuat perasaannya terganggu?.

Tapi tidak lalu bereaksi terhadap lagu, yang saya yakin banyak sekali orang di Indonesia ini yang kenal, dan menyarankan mengubah kata-katanya. Bagi saya, itu adalah reaksi kepanikan. Dan sebagaimana panik, tidak pernah produktif dan tidak pernah menyelesaikan masalah.

Saya dan juga banyak sekali orang tua di Indonesia ini, pasti dibesarkan dengan lagu itu juga. Pertanyaan saya: apakah saat ini saya, atau anda, depresi atau jadi orang yang lembek terhadap tantangan hidup?. Jika jawabannya iya, pertanyaan selanjutnya: apakah karena saya, atau anda, jadi lembek karena dulu wkatu kecil menginternalisasi lagu tersebut sebagai 'kalau ada kejadian yang tidak enak maka kita harus bersedih dengan kekacauan perasaan'?.

Saya yakin jawabannya tidak.

Kita tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang kompleks. Kita semua. Ada sekolah, ada rumah, ada tempat les dan sebagainya. Interaksi antar manusia adalah salah satu hal yang paling kompleks di dunia ini. Penuh dengan emosi, reaksi - aksi, bahasa dan sebagainya.

Ada pula berbagai hasil budaya, misalnya film, musik, tarian dan sebagainya.

Semua itu, membawa dampak pada bagaimana kita terbentuk sebagai manusia yang utuh. Apakah dampaknya baik atau tidak, tergantung lagi pada bagaimana kita 'dibentuk' oleh orang tua di rumah. Iya. Saya selalu yakin rumah, adalah sumber segala pendidikan.

Jadi mudah 'jatuh' atau tidak karena tantangan hidup, juga dibentuk dari rumah. Apa yang dilatihkan oleh orang tua kita, siapapun orang tua itu (karena ada juga kan yang dirawat bukan oleh orang tua kandung), menggunakan stimulus apapun, akan berbekas di benak dan hati kita dan membuat siapa kita sekarang. 

Dan dalam kadar yang berbeda ada pula para guru dan pendidik sekitar kita yang berperan menyumbangkan pecahan-pecahan ilmu akademis maupun hidup, yang menyatu dalam diri kita.

Kembali pada lagu tadi, saya malah melihat dalam karya aslinya, lagu itu bisa membantu anak mengetahui apa perasaannya. Sesuatu yang juga harus diajarkan. Mengenali emosi, adalah juga cara untuk mengajarkan anak belajar empati. "Apa yang kau rasakan kalau balonmu meletus?", itu kan pertanyaan wajar saja. Kalau jawabannya sedih, terus kenapa?. Lha iya kan, rasa itu ada. Kenapa dinegasikan?.

Tapi ya tentunya PRnya orang tua adalah mengolah, kenapa tidak apa-apa sedih. Seberapa lama boleh sedih. Apa yang bisa dilakukan kalau sedang sedih kehilangan balon, atau boneka, atau nilai yang diinginkan, atau kelak, pacar. Lebih jauh lagi, apa yang bisa dia lakukan kalau dia menghadapi ORANG LAIN yang mengalami kehilangan itu. Dia tahu apa rasanya, jadi apa yang dia bisa lakukan untuk membantu orang tersebut melalui proses kehilangan.

Proses ini tetap perlu dirasakan, dialami, dibicarakan. Supaya anak menjadi kuat karena mengerti apa yang dia rasa dan bagaimana menghadapinya. 

Dan lebih jauh lagi jika dia tahu bahwa dia bisa merasa seperti itu, maka orang lain yang mengalami situasi yang sama, bisa jadi mempunyai rasa yang sama. Itu adalah dasar empati.

Jadi, ya jangan salahkan lagunya, atau dalam bentuk lain misalnya filmya, atau puisinya. Tapi lihat bagaimana kita bisa menggunakan lagu, film, atau tarian, atau puisi, apapun itu, sebagai alat untuk membentuk anak secara benar.

Saya sering jadi khawatir sekali dengan bagaimana sebagian masyarakat kita ini bereaksi terhadap sebuah kejadian. Sering terlihat lebay dan panik di mata saya. Lalu memunculkan himbauan ini itu lah, larangan lah, fatwa lah, sampai ya itu, saran mengubah lirik lagu. Ada yang namanya Hak Cipta lho. Anda mau kena tuntutan pelanggaran undang-undang hak cipta?.

Lalu sadarkah kita, sikap seperti itulah justru yang jika diobservasi anak, yang dalam pengalaman saya sebagai Ibu, mereka itu jagoan mengobservasi dalam diam lalu disimpan di benaknya untuk kemudian dicontoh, malah membuat mereka jadi lembek dan tidak tangguh?. Merasa  selalu ada yang melindungi, alih-alih belajar menghadapi.

Mari kita semua belajar berpikir logis, kepala dingin, dan tidak reaktif. Belajar untuk tidak selalu membuat pagar setiap kali ada kejadian tidak enak terjadi. PR kita sebagai orang tua adalah menguatkan mental anak dengan cara yang masuk akal. Menghilangkan stimulus-stimulus yang MENURUT KITA negatif, itu tidak membantu. Mereka hanya akan tumbuh dalam gelembung kenyamanan, dan akhirnya, tumbuh jadi manusia-manusia yang lembek dan mudah menyerah.

Biarkan anak menghadapi dunia apa adanya. Tapi juga siapkan diri kita buat ada dalam hidup mereka seutuhnya. Hadir di sisi mereka. Menjadi tonggak penguat yang bisa mengajak mereka berdialog tentang perasaannya dan apa yang harus dilakukan, secara logis.

Let's not do panic parenting. It does no good to anyone.

Have a good Friday.

Monday, November 25, 2019

Menjaga Nilai


Punya remaja tuh gampang-gampang susah.
Setelah badai di awal ke-ABG-an waktu Tara kelas 5, dengan episode banting pintu, lomba diem-dieman, dan beberapa kali ngomel pakai WA daripada ketemu dan akhirnya sama-sama ngamuk, akhirnya kami berdua menemukan titik temu.
Beberapa tahun terakhir ini kami berdua aman tenteram damai. Sampai Cip pernah komentar, “Kalian sekarang rukun banget. Gitu kek dari dulu”. Hahaha....si ayah ini. Oh dia mah lain lagi masalahnya sama anak-anak. Nanti kapan-kapan gue berbagi.
Tapi saat internal udah adem ayem, ya ada aja ya dari luar yang lalu mengganggu dia.
Yang paling anyar, masalah pandangan gurunya tentang aliran Syiah, yang so happens dianut omanya. My mother.
Dia nggak cerita ke gue, tapi gue tahu justru dari ART kami yang memang sudah lama pake banget kerja di rumah kami. Tara memang nyaman cerita- cerita sama si mpok ini.
Jadi suatu hari, gue lagi bikin kue, ceritalah si mpok yang memang suka ngobrol itu, kalau Tara pernah cerita ke dia bahwa gurunya bilang Syiah itu sesat dan yang menganut akan masuk neraka.
"Dia nggak berani ngomong sama bundanya. Waktu itu juga bisik-bisik nanya ke saya, nanya dulu ada oma nggak di rumah?. Omanya emang lagi pegi. Terus dia cerita dah ada gurunya yang bilang gitu. Dia nanya masa oma masuk neraka mpok. Oma kan rajin sholat, baik sama orang. Kayaknya bingung banget gitu dia mbak”. 
Yah namanya juga gue ya, darah langsung spontan naik. “Terus, loe bilang apa?”.
“Ya saya bilang ya nggak gitu kali Kak. Emang Allah nggak lihat perilaku orang?. Mau gimana kek tapi kan Allah nanti yang bakal menilai Kak. Nggak usah dipikirin Kak. Itu urusan Allah nanti”.
“Terus dia gimana loe bilangin gitu?”.
“Yaa kayaknya ngarti sih mbak. Tara kan pinter mbak”.
“Iya gue tahu dia pinter. Tapi dia kan juga orangnya sensitif dan nyimpen. Diem-diem dipikirin. Ntar yang ada stres sendiri mikirin omanya”. 
Sejujurnya, insting pertama gue adalah bertanya pada dia. Tapi, gue menghargai privasi dia. Dia bukan nggak mau cerita ke bundanya, tapi mungkin karena dia cukup kenal bundanya untuk tahu kalau cerita seperti itu, cuma bakal bikin gue telpon ke sekolah untuk bertanya dan mengusut.
Gue nggak pernah berisik soal tugas dan fasilitas sekolah, but when it comes to values taught to my children, biasanya gue memang nggak akan diam. Anak-anak tahu gue nggak akan bawa nama mereka dan nggak pernah mempermalukan mereka, tapi yah namanya juga anak-anak. Selalu ada ketakutan nanti gurunya akan bertanya langsung pada dia. Apalagi Tara sebentar lagi mau ujian.
Jadi bagaimana dong. Ini kan dilema ya, antara menghargai ruang privasi anak, dengan memastikan bahwa dia memang paham bahwa itu bukan nilai yang keluarga kami anut. Bahwa kami menghargai apapun cara orang lain menuju Tuhan dan tidak akan pernah menilai apakah jalan tersebut sesat atau tidak karena akhirnya, hanya Tuhan yang berhak menilai. 
Dan bagaimana pula gue memastikan dia terbebas dari beban emosional macam ini: mikirin bagaimana nasib omanya kelak saat beliau tiada. Dengan bayangan neraka yang luar biasa menyakitkannya. Itu bukan sebuah imaji yang gue ingin tertanam di kepala anak-anak.
Seminggu gue berdebat dengan diri sendiri. Tanya ke Tara atau nggak ya tentang kejadian itu. Gue hanya ingin memastikan dia tahu nilai mana yang harus dia anut, dan bahwa dia ‘kelar’ dengan pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang timbul gara-gara kejadian itu.
Sampai satu hari, omanya siap-siap untuk berangkat ke Iran.
Dia tanya, “Bun, kenapa sih oma tiap tahun harus ke sana?”. 
Dan berdialoglah kami tentang perbedaan cara mencari Tuhan dan mencari apa yang menyamankan kita dalam diri tentang apakah kita sudah melakukan yang terbaik bagi Tuhan atau belum. Bahwa beragama adalah juga tentang perjalanan tak henti untuk mencari jalan yang terbaik, buat kita. Tapi bahwa yang terbaik buat kita belum tentu yang terbaik buat orang lain, dan sebaliknya, AND THAT IS FINE. Karena hanya Allah yang berhak menilai.
“Jadi, kita harus kayak oma juga nggak?”. 
“Kakak, aku sama ayah bukan penganut Syiah. Apakah itu bener?. Ya gak tau. Apakah oma salah?. Ya gak tau juga. Semua baru kita tahu saat kita kembali pada Allah, Kak. Jadi, kamu nggak usah bingung. Nggak usah pula ngerasa kamu harus ngikutin orang lain karena takut masuk neraka misalnya. Pegangannya kan jelas: apa yang ada dalam Al-Quran. Itupun interpretasi Al-Quran itu kan luas banget. Tapi apa Al-Quran ngajarin kita buat ngejudge orang lain?. Ayat-ayat yang bilang masuk neraka kalau begini atau begitu justru harus dibacanya gini Kak: itu adalah kalimat-kalimat Allah. Jadi ya emang hanya Allah yang berhak menilai dan mengatur hukumnya!. Dan ada banyak sekali perbuatan yang dianjurkan dan dilarang Al-Quran, yang bisa kita lakukan adalah sebaik mungkin menghindari yang dilarang dan lakukan yang dianjurkan. Apa itu menjamin kita nggak masuk neraka?. Ya nggak juga!. Tapi kan kasih sayang Allah itu luas. Jadi, ngapain kita yang sibuk ngejudge orang lain sekarang, ya nggak?”. 
Dia diam beberapa saat. Gue sebetulnya nunggu cerita itu keluar dari mulutnya. Tapi, “Iya ya bunda. Kita aja nggak tahu nanti kita masuk neraka atau nggak, ngapain juga nuduh orang lain masuk neraka”. 
Dan itu, siraman air sejuk banget buat gue. Artinya, dia ngerti nilai yang harusnya dia pegang. Dan, bahwa dia menemukan jawaban atas apapun yang mungkin masih bersarang di kepalanya.
--
Pelajaran dari kejadian ini buat gue pribadi ada tiga:
  1. Menjaga privasi anak jauh lebih penting dibanding membela apa yang orang tua ingin luruskan pada anak. Jangan pernah tersinggung kalau dia nggak cerita ke kita. Tapi bersyukurlah kalau dia masih punya orang-orang yang dia tahu dia bisa percaya untuk cerita.
  2. Pastikan saja orang-orang tempat dia cerita itu, adalah juga orang-orang yang menganut nilai yang kurang lebih sama dengan kita. Kalaupun hal ini tidak bisa kita kontrol, dan akan selalu ada yang berbeda nilai dengan kita, paling tidak pastikan saja jumlahnya tidak banyak. Atau ya pastikan anak kita tahu bagaimana caranya berpegang teguh pada nilainya. Bagaimana cara tahunya? - itulah pentingnya komunikasi dan observasi perilaku anak. Amati dari jauh. Tapi tidak buat mengontrol dan mengatur. Lebih supaya kita tahu lingkungan sosial seperti apa yang dia dekati.
  3. Pekalah pada kesempatan-kesempatan dimana kita bisa membahas masalah yang dia tidak ingin ceritakan pada kita. Lalu bahas dengan netral. Dan yakini ini saja: walaupun mungkin sepertinya anak tidak atentif, tapi sebetulnya mereka mendengarkan lho. Gue sendiri sering kaget kok kadang dua atau tiga hari setelah ngobrol sesuatu, anak-anak ini suka melontarkan ucapan yang intinya apa yang mereka pelajari dari obrolan yang sudah lalu itu. So they listen. Gayanya aja mungkin cuek
Kalau soal belajar agama, ah gue serahkanlah pada kepatutan dan nilai yang dianut masing-masing keluarga. Kami sendiri masih belajar. Tapi kami percaya bahwa menjunjung tinggi kemanusiaan dengan tidak menilai kesesatan orang lain, salah satunya, adalah juga menjalankan perintah agama dan belajar beragama dengan baik. Itu saja.
Gue hanya ingin berbagi cerita ini pada teman-teman karena siapa tahu ada yang pernah mengalami. 
Gue sedih karena ada kejadian seperti ini dalam hidup anak-anak gue, sesuatu yang dulu nggak pernah gue alami saat gue tumbuh besar. 
May our children grow up to be those who know that this world needs compassion and empathy. More than it needs those who hold religion blindly. Aamiiin... 
Foto ini terpampang di salah satu rak buku di lantai atas rumah kami, yang setiap sebulan dua kali jadi tempat pengajian Mama. Anak-anak terbiasa melihat perangkat yang berhubungan dengan Syiah di rumah. Mereka tumbuh dengan itu. Mereka berdua pernah bertanya itu apa, atau itu foto siapa, dan gue dan Cip selalu jelaskan. Tapi apakah kami akan mengikuti jalan yang sama? - itu hak hati kami masing-masing kelak untuk memilih. Apakah My Mom melakukan sesuatu yang bidah? - itu gue serahkan pada Allah untuk menilai. Tapi gue sedih dengan mereka yang dengan mudah mengomentari bagaimana salahnya seseorang atau sebuah golongan menjalankan apa yang mereka percaya, padahal hidup berdampingan dengan damai adalah anugerah Allah yang paling besar bagi kita semua...jika saja kita mau belajar. Paling tidak, belajar menahan lidah, dan jari di gawai.

Friday, August 16, 2019

Rekaman Perjalanan di Pulau dengan 4 Warna Tanah


Ke Sumba sekitar 4 tahun lalu karena lihat Pasola (http://paragraflepas.blogspot.com/2015/03/sumba-land-of-warriors.html), dan punya kesempatan lihat beberapa tempat di Sumba Barat Daya dan Barat, malah menyisakan penasaran di benak gue bertahun kemudian.

Dan karena juga waktu kami ke Sumba dulu itu pas musim hujan, banyak tempat yang kami datangi juga mendung atau berawan gelap. Penasaran juga seperti apa tempat-tempat itu kalau terang benderang.

And I’ve seen Sumba yang hijau di musim hujan. Katanya, di musim kering, pemandangan savanna dan perbukitan yang kering pun cantik.

Dan begitulah, gue rencanakan perjalanan kembali ke Sumba. Menyambangi ingatan lalu, dan melihat yang baru. Kali ini, gue akan lebih banyak eksplor Sumba Timur yang dulu belum sempat kami datangi.

--

Gue berangkat dari Jakarta ke Tambolaka. Dari Jakarta gue sudah pesan mobil dari tempat gue nginap (yang kebetulan punya teman, di pantai Newa, nama tempatnya Newa Sumba Resort). Sampai di Tambolaka sudah sore, dan gue memutuskan buat langsung ke pantai Mananga Aba menunggu sunset.

Gue pernah menginap di hotel Mario di pantai ini. Dari pantai, kita bisa menikmati BOTH sunrise dan sunset. Waktu itu, gue nggak pernah punya kesempatan lihat sunset dari pantai karena selalu pulang sudah gelap. Jadi kali ini, sunset adalah tujuan utama gue ke pantai ini lagi.  






Hari kedua, gue agak terombang-ambing antara dua destinasi. Ke Wanokaka dan Lamboya – nyambangi lagi lembah cantik itu, atau ke daerah Kodi nyambangi lagi Ratenggaro dan sekitarnya.

But then ini musim kering, jadi ya most likely lembah Lamboya akan coklat, padahal gue mau ke Sumba Timur dan pasti juga ada di sana pemandangan yang tidak jauh beda. Jadi akhirnya, gue memilih ke Kodi lagi. Lagipula memang kalau di Kodi lebih banyak yang bisa didatangi.

Tapi yang utama, tentu saja, kampung adat Ratenggaro. Dengan rumah beratap tinggi. Dan under the sun, OMG….benarlah ini: everything looks more amazing under the sun.






Dari Ratenggaro, gue sambangi lagi Weekuri. Danau air asin. ‘Menjadi’ danau karena dikelilingi karang dan ‘terpisah’ dari laut lepas. Weekuri mendapat airnya dari sela-sela bawah karang. Saat laut pasang naik, ya airnya jadi dalam. Tapi kalau surut ya surut juga.






Dari sana, lanjut ke pantai Mandorak yang dulu mempesona gue dengan deburan ombak, pasir putihnya, dan karang-karangnya.





Setelah itu, lanjut ke pantai Pero.


Sebetulnya di daerah Kodi ada yang namanya pantai Bawana. Gue menemukannya via Google sebelum berangkat. Bagus sih katanya, dengan karang-karang bolongnya. Tapi gue udah agak pegal pegaaaalll terpelanting-pelanting di mobil karena jalan di Kodi cuma sedikit yang bagus. Dan karena besoknya gue harus jalan darat menuju Sumba Timur, gue memutuskan menyimpan energi dan pulang setelah dari Pero. Menikmat sunset di pantai Newa. 


The big day came untuk berangkat ke Sumba Timur. Sumpah gue penasaran buanget sama Sumba Timur. Jadi amat sangat excited hari itu mau ke sana. Dan amazed banget lihat pemandangan yang berganti-ganti. Sumba Barat dan Tengah hijau sekali. Banyak perkebunan sayur, coklat, kopi, sawah. Begitu masuk Timur ada yang kering coklat tapi juga diselang seling kehijauan. Ah cakep banget lah.

Tapi sedikit peringatan nih kalau mau dicoba jalan darat. Jalannya berkelok-kelok sekaliii. Jadi kalau mudah mabuk darat yaaaa siap-siap lah. Perjalanannya makan waktu 3,5 – 4 jam kalau nyewa mobil. Kalau naik bis juga bisa, setengah hari. Ya gue yang manja ini lebih baik nyewa mobil dong ya kaaaannn. Daripada juga diomelin suami kelewat bangor iseng banget naik bis.

Sampai Waingapu baru jam 12an kurang waktu itu. Istirahat sebentar, jam 1 gue udah cabut lagi.

Setelah makan siang, destinasinya ke bukit Tanarara dan pantai Walakiri. Walakiri memang HARUS pas sunset. Tapi sabar yaaa, banyak oraaang. Gue sampai gemeeessss mau motoin pohon susaaaahhh banget karena banyak orang nyantol pohon buat foto-foto. Pantai ini ditumbuhi bakau dan ya kena temaramnya cahaya sore sampai terbenam matahari memang magis banget sih pemandangannya.

Tanarara
Walakiri

Besoknya, ngotot berangkat jam 8 pagi. Eh iya harus ngotot. Karena yang gue alami, 4 tahun lalu juga, para pengendara mobil sewaan ini selalu mintanya jam 9. Padahal jarak satu tempat ke tempat lainnya di Sumba manapun ini minimal satu jam dengan jalan yang panjang-panjang dan sepi. Jadi satu jam itu jaraknya bisa lumayan jauh. Kalau berangkatnya baru jam 9, modyar deh. Modar kena panas, dan bisa jadi tidak terkejar pemandangan-pemandangan yang bagus karena sinar matahari yang keburu terlalu silau.

Hari kedua di Sumba Timur, ke air terjun Waimarang dulu. Ya udah deh ya nggak usah mikir mandinya gimana wong airnya jernih anggap saja sudah mandi walaupun nggak bersabun, yes?.

Ke air terjun ini jalan naik turunnya yaaa lumayan laaah. Worth dua jam jogging lah kalau kecepatan jogging loe macam gue, alias sejam 6 - 7km.

Agak menyesakkan dada sih kalau main ke air terjun: gerah turunnya, segar nyeburnya, gobyos kemringet lagi naiknya . Anyway enjoy sajaa.

Yang asik di air terjun ini (dan lainnya juga), airnya tosca!. Mirip warna air laut. Bebatuan kapur dan dasar kali (atau sungai? Gitu deh) yang berpasir bikin air warnanya jadi begitu. 
 



 Dari situ lanjut ke Praiyawang di Rende, kampung para raja. Di sini, ada makam megalitik. Gue juga ke kampung ini karena ingin lihat tenunan mereka yang masih pakai warna alam.

Oh di jalan menuju Praiyawang, ada Bukit Kembar. Persis seperti gambar anak SD. Jalan di tengah. bedanya, ujungnya bukan gunung, bukitnya malah di samping jalan...hehehe...


Bukit Kembar


Beberapa anak di Praiyawang


Dari Rende, kita ke Watu Parunu. Nah ini karangnya bolong-bolong jugaaa. Jadi if you missed Bawana ya loe dapetlah di sini. Walaupun kata Lius, supir mobil sewaan gue, pemandangan sih lebih bagus Bawana. Tapi waktu gue tanya, "Jalan ke sananya cakepan mana?". Dia nyengir, "Ya mendingan ke Watu ini sih Bu". Nah.

 






Hari ketiga, gue agak ngotot-ngototan dengan Lius.

Saran dari yang atur perjalanannya, hari ini kami ke Puru Kambera, pantai Cemara dan ke Wairinding lihat sunset. Gue tanya pantai Cemara ada apa, dijelaskan ini adalah pantai dengan pasir putih dan deretan pohon cemara. Doh. Bosen kalik lah di kepala gue itu kan.

Gue lebih tertarik ke Tanggedu. Yang rupanya nggak dimasukin ke skedul (walaupun gue udah fotoin list yang udah gue bikin dari Jakarta ke si pengatur skedul, dan jelas ada Tanggedu di situ). Alasannya kalau kata Lius ke Tanggedu itu jalannya sangat jelek. Banyak batu tajam dan kadang ada saja kasus ban mobil kena lah. Badan mobil kena lah. Jadi kalau gue mau ngotot, ada charge tambahan.

Chargenya tidak begitu mahal sih ternyata. Dan gue paham lah mereka butuh jaminan in case gara-gara perjalanan itu mobilnya harus diperbaiki atau bagaimana.

So done deal. Jadi hari ketiga ini kami ke air terjun Tanggedu dulu. On the way, melewati Puru Kambera. Savana dimana sering ada kuda banyak sekali. Sayangnya pas gue sampai situ, tidak ada kuda. Tapi yaah Sumba Timur kan lahannya kuda, everywhere you will see them.

Tanggedu. Iniiii....hmmmm....kasih tahu nggak ya...

Jalan ke sananya....memang ternyata harus melalui jalan yang berbatu-batu. Jadi memang jadi agak melambat di beberapa tempat. Ada ruas jalan yang masih sedang diperbaiki jadi harus mutar dan lewat jalan tanah. Ada bagian jalan yang melipir jurang, sampe gue nggak mau lihat kanan, dan baliknya, nggak mau lihat kiri. Ngiluuuu...

Musim hujan, lupakan ke tempat ini. Lius bilang tidak akan ada yang mau. Hahaha…yaiya, menyabung nyawa buat lihat air terjun?, hmmmmm….

Pemandangan sepanjang perjalanan tapi asik lah. Perbukitan. Bisa lihat sawah yang spider web itu dari jauh dan sungai yang airnya hijau kebiruan membelah lembah. Dan seperti air terjun yang warna airnya tosca, ya begitu juga sungainya. Amazingly different compared to yang pernah gue lihat di tanah Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Naik turun menuju air terjunnya menurut gue yaaa...nggak separah di Waimarang. Tapi ya tetap sih lumayan. Dan bedanya juga, di Waimarang itu, jalan yang datar itu di tengah pepohonan jadi adem. Ke Tanggedu...hehehehehe....savana memang temaaan. Ladang orang. Jadi ya bermandikan cahaya matahari yang asoy itu. Jadi pastikan terhidrasi dengan baik. Dan pakailah sepatu yang nyaman yang solnya nggak gampang ndlosor kalau kena tanah berpasir yang 'lepasan' terutama di jalan yang turun. Dan supaya di air terjun juga enak melangkah ke sana kemari nggak khawatir terpeleset.

Tapi sumpah...worth every step you make to Tanggedu. Cakeeeeppp bangeeeetttt. Not to be missed. Loe boleh skip Waimarang, tapi tidak Tanggedu. Serius.

Dan jangan sampai ke Tanggedu nggak nyebur atau nggak naik turunin batu-batu yang akan kasih kita lihat bertingkat-tingkatnya air terjun ini. Gorjes lah pokoke.







 
Dari Tanggedu kami ke Taneu, atau Bukit Seribu.

Tadinya kami mau mampir ke Morinda hotel. Hotel ini, letaknya katanya bagus dan bisa lihat sunset juga di perbukitan (gue tadinya mau nginep sini tapi fuuullll). Tapi setelah hitung-hitung waktu sepertinya tidak cukup untuk ke Morinda. Sementara menurut Lius sayang kalau lihat sunset di perbukitan ke Wairinding karena, “Tempatnya ya lebih biasa lah dibanding Bukit Seribu”. Ya sudah, gue mah percaya sajalah.

Dan dia benar sih. Salah satu yang jadi destinasi wajib Waingapu itu adalah bukit Wairinding (film Pendekar Tongkat Emas itu salah satunya adegannya diambil di situ). Tapi, setelah gue ke Tanarara, Bukit Seribu, dan Bukit Persaudaraan, Wairinding memang jadi biasa saja sih...

Dan harus ke Bukit Seribu mendekati sunset dan tunggu sampai matahari tenggelam.







Dan akhirnya hari terakhirpun tiba. Gue terbang ke Denpasar dari bandara Umbu Mehang Kunda jam 15.20, jadi masih lumayan banyak waktu untuk masih lihat beberapa tempat.

Jadi kami ke bukit Padadita, dimana bisa lihat landasan pacu pesawat dan sungai yang membelah. Lalu gue juga ke tempat Om Titus namanya, perajin tenun yang masih setia pada warna alam. Terakhir, mampir di Wairinding dan Bukit Persaudaraan sebelum ke bandara.



Wairinding

Bukit Persaudaraan
--


Itinerary ini jadi begini karena gue sudah pernah ke Sumba Barat Daya dan Barat. Kalau belum pernah, then do this island justice. Explore each part properly. Karena ada emosi yang berbeda yang akan tertangkap saat di Barat Daya, ke Barat, Tengah lalu Timur.

Dan akan bisa terasa betapa tanah Sumba itu amazingly different dari satu landscape ke landcape berikutnya. Well sudah bakal terasa dari sejak ke Waimarang sih. Warna tanahnya, yang gue perhatikan, ada empat. Hitam. Iya benar-benar hitam – bukan karena dibakar tapi memang hitam. Lalu ada putih berpasir. Ada tanah merah. Dan ada tanah yang coklat muda sampai tua. Dan batunya ada yang persis seperti batu karang di dasar laut, ada yang seperti batu-batu vulkanik, ada bebatuan kapur.

Yang menurut gue memang paling seru kalau mau ke Sumba Barat Daya dan Barat, disesuaikan dengan jadwal pasola. Jadi sekalian dapat semua: acara budaya yang unik, dan alamnya. Rasakan pasola di beberapa tempat saja (kami dulu kalau tidak salah hanya ke dua atau tiga tempat), explore Sumba Barat Daya dan Barat, baru kemudian ke Timur.

Cuma ya memang kalau mau ke Sumba Timur dan harus ke Tanggedu itu, mau tidak mau harus musim kering. Sementara pasola tidak pasti jadwalnya. Jadi ya monggo lah direncanakan yang terbaik.

In short, Sumba is an amazing land. Terasa purba, menyimpan cerita dan misteri yang sulit diterka. Jalan yang agak menantang di sana sini jangan menyurutkan niat kalau memang ingin ke Sumba. It all adds up to your experience.

(Perjalanan di Sumba Timur - sewa mobil dan penentuan rute setiap hari, dibantu atur oleh Sumba Bible, kontak: Sri 0818359092. Mereka juga bisa mengatur perjalanan di Sumba Barat Daya).

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts