Tuesday, October 31, 2017

Life lessons


You know those videos about life lessons, or what you should do to make this life bearable, to not give up easily, any topics in that line?.

I watched some of those. Then they got me thinking. If it was me (not that anyone will ask me to make a video or to talk in front of an audience about it), what would I say?.

I thought long and hard about it (just to make you think I put some thought into it). And I came up with 5 points.

5 things that I think many times, have saved my ass from feeling that life is a bitch. Rather, it really is, a beach..


Be good at something, be really good at it.

Actually it was my father who taught me that. "If you can say you like doing something but you are not that skillful in doing it, then, it’s all useless" (his way of saying it's all bullshit...). He used to say that to me.

Being very good at something will not only safe your life one day because you really know how to go about it to make a living if you must, but it will also give you a feeling that you have achieved something.

And it doesn’t have to be a big thing. As long as it is something worth doing, and something that makes you feel good about doing it, be very good at it.

And don’t start thinking of doing it for the money. But if you are very good at it, eventually someone will take notice, and pay you for doing it.  


Be kind, but don’t forget you have your own needs.

We have all been taught for being kind. And as I’ve grown older I’ve also appreciated this: be kind to others because you don’t know what they have gone through.

But then I also learned something else. Being kind, without using your brain a bit and think of what you need for yourself, is not really good for you. There must be a limit in being kind because we also need to take care of ourselves. Being kind can drain your emotional energy. And when that happens, it can be quite debilitating.

So be kind, you must, but be aware that you are also an important person in the world. If you don’t take care of yourself, you are not useful for others. Take care of your emotional energy.


Have a good laugh, even when your heart hurts.

Smile, when your heart is aching. Smile, even though it’s breaking. Those have always been my favourite lines in ‘Smile’, the song first composed without lyrics by Charlie Chaplin and Nat King Cole recorded its first version with lyrics and made it so famous until now.

I don’t have to explain much I guess, that if a smile helps you to get through a bad time, then, laughter IS the best medicine.

Although maybe it only works for a while, but at least, once you’ve laughed, you can see life with a different pair of glasses. It looks bright, even for a split second before you suddenly feel that pain again pinching you on the side. But that brightness, will give you a sudden boost that makes you feel that it is stupid to linger in the heartache.

And anyway, nothing lasts forever. When you've been hurt, the wound will still be there. Don’t ever believe anyone who says time heals it. But believe this: time will teach you how to cope with the pain, and one way to do it, is to laugh.

Being able to laugh at yourself is a sign of mental health. So, practice it. Often.


Count the little things. Little things, count.

Many of us in the midst of a fast-paced life, operate on auto pilot. And in doing so, we often  forget the little things that contribute so much to how our life evolves.

We forget to stop for a while and enjoy the chirping birds. We forget to stop and just, breathe. We jump right out of the bed (or, just go right back to sleep to then panic for being late), forgetting to just close our eyes just for a wee bit to enjoy that morning stillness and silence. We forget to stop and look at those people with whom we’ve lived. The wrinkles they have developed. Their smile. That twinkling star in your spouse’s eyes as he makes silly jokes.

We take things for granted because they are not the big things that we always associate with bigger rewards. Be them money, pride, joy. We are too busy chasing the bigger things that are harder to come by.

Let’s stop and learn from children. They laugh at how a caterpillar moves. They look in awe at birds that fly so high above them. They know how to enjoy the little things.

Let’s count them. Before those little things disappear into thin air and we realise what we are after are nothing but bubbles.


It’s not just you. It’s everybody’s.

I always dislike people who can easily say, “I have achieved this because I blablabla”. Nothing is ever because of us alone. There is always someone else. Or, maybe even a bunch of others. Who support us. Help in their own ways. Even, in prayers.

We often think that we have achieved something because we have strived for it. Oh yes of course we all have struggled to get to where we are now. But please have a moment of silence and think: who were there with you?.

And also think of those whom you’ve probably never even met. The farmers who have planted the seeds so you can eat your vegetables. The cleaner who has cleaned your office so you can come in the morning not worrying about your empty glass you left on your table yesterday. The workers who have made it possible for you to live in your comfortable home.

Think of whether you can live your life now, without those people. No man’s an island. No achievement, is individual.


There. My two cents on life lessons.

Oh if none of the above works, that's why I've gone back to diving. It's so peaceful and quiet down there that I can forget I have to deal with the world. So there is a 6th lesson: everyone needs an escape once in a while. Find your escape route, to regain your sanity when you feel that you've had enough of what's happening around you. 







Saturday, October 28, 2017

Yang muda, yang mampu dan harus dimampukan



Sudah hampir 7 tahun, saya dan teman-teman mengelola Eye to Eye. Perusahaan kecil yang kami dirikan dengan awal yang mungkin bisa jadi terdengar sedikit konyol: bosen kerja buat orang lain dan keharusan beradaptasi dengan maunya orang lain.

Waktu itu saya sedang hamil 7 bulan, umur sudah 40. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi kalau harus mengurus bayi lagi di usia sekian plus harus ikut maunya orang. Dengan pemikiran itu, akhirnya, setelah lebih dari 10 tahun kerja di beberapa perusahaan, saya temukan keberanian buat mulai usaha sendiri saja.

Langkah yang paling penting berikutnya tentunya adalah cari partner usaha. Yang berkecimpung di dunia yang sama, yang tahu apa artinya melakukan riset pemasaran yang baik, yang tahu bahwa mengurus klien itu tidak gampang.

Dan waktu itu, pilihan saya cuma jatuh pada satu orang: Sita. Anak muda yang usianya terentang 10 tahun lebih dari saya.

--

Bertahun sebelumnya, kami pernah kerja bareng di perusahaan multinasional yang sama. Saya yang mewawancarai dia untuk masuk ke dalam tim kami waktu itu. Saat itu, saya juga tahu kalau ini bassist-nya Basejam yang sedang ingin banting setir sebentar dari dunia musik.

Anak muda yang sederhana. Rambutnya panjang, dikuncir buntut kuda. Datang mengenakan celana panjang, blus putih, dan sepatu pantofel biasa. Tidak ada kesan ini adalah anggota band yang di tahun 90an pernah sangat hits dengan beberapa lagu yang sampai bertahun setelahnya masih diputar di radio. Tidak ada kesan ini anak komisaris salah satu perusahaan besar di negeri ini. Lulusan S2 dari Inggris.

Ngobrol tanpa neko-neko. Jawabannya tegas. Selesai wawancara, saya tahu: ini harus gue rekrut karena dia punya dedikasi dan ketangguhan yang jarang saya bisa lihat seketika dari anak muda seusianya.

Kurang lebih 3 tahun kami kerja bareng di perusahaan yang sama. Lalu terpisah saat akhirnya masing-masing memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu.

Beberapa tahun setelahnya, saat saya terpikir harus cari partner, pikiran saya kembali pada Sita.

Calon partner bisnis yang lain sempat bertanya waktu saya cerita siapa yang akan saya gandeng buat mengelola bisnis ini on day to day basis, “Are you sure?. Dia kan di bawah kamu banget dari segi pengalaman di research. Apa nanti kamu nggak capek sendirian ya jadinya?”.

Saya sadar penuh itu adalah resiko yang harus saya ambil. “I know I’ll work my ass off like crazy mungkin di 5 tahun pertama. Tapi, di mataku, cuma dia saat ini pilihan terbaik dengan semua attitude dan ketangguhan yang dia punya. In this business, without those, we won’t survive”. 

Dan sekarang, hampir 7 tahun kemudian, saya tahu saya telah mengambil keputusan yang benar.

--

Sering sekali ya kita meragukan mereka yang lebih muda. Apalagi buat mendirikan sebuah usaha. Lalu apa yang dulu bikin saya berani menggandeng seorang yang jauh lebih junior dibanding saya?.

Saya cuma punya satu keyakinan: attitude defines people, age only defines how long you’ve lived. Intinya sih, mau tua atau muda, yang penting sebetulnya adalah sikap yang benar tentang kerja. Apalagi kalau untuk awal usaha.

Percuma menggandeng yang sudah sama seniornya tapi lalu maunya juga usaha ini cepat naik atas dasar kita sudah sama-sama berpengalaman. Buat saya itu adalah ilusi. Apapun usahanya, tidak ada yang namanya hasil yang cepat. Instan, tidak pernah ada di kepala saya, kecuali when it comes to foods and drinks. Dan punya partner yang lebih muda, menyenangkannya ya karena itu: kami sama-sama sadar it’s not going to be easy. 

Dan namanya usaha, selalu ada naik turun. Iya betul bahwa kadang yang berusia lebih matang mungkin lebih tangguh menghadapi kejatuhan. Tapi juga jangan-jangan, karena terbiasa mapan, malah jadinya lebih mudah panik. Sementara yang lebih muda, sometimes they have less to lose. Kalau jatuh, lebih cepat pula mereka bisa recover.

Hal lain yang penting juga buat saya waktu itu, adalah menggandeng partner yang mau diajak ‘berlari’ buat jangka waktu yang panjang.

Baru memulai usaha di umur 40, saya sadar sekali bahwa akan ada satu titik dimana saya pasti akan merasa kelelahan. Bukan cuma karena menjalankan bisnisnya, tapi juga fakta bahwa bidang pekerjaan saya ini mentally demanding. And I’ve been in this industry for more than 20 years. Though I love doing it, tapi adakalanya saya berpikir untuk melakukan hal lain yang less demanding. Makin tambah umur, bukan tidak mungkin keinginan itu akan makin kuat.

Itu juga alasan saya mencari partner yang lebih muda. Supaya suksesi kepemimpinan, kelak diteruskan oleh yang lebih punya ‘stamina’ buat melanjutkan.

Memang, tugas untuk memastikan mereka yang lebih muda ini punya keahlian yang mumpuni, yang at least setara atau bahkan lebih baik dari saya agar saat melanjutkan mereka juga bisa mempertahankan kualitas kerja yang sama, juga ada di pundak saya. Dan karena itu jugalah, buat saya bukan seberapa senior atau pengalaman yang dimiliki orang tersebut, tapi attitude. Terutama, kemauan buat belajar, sesusah apapun yang harus dipelajari.

Dan so far, saya cukup beruntung menemukan mereka yang mau belajar.

Lalu ada pula  kemampuan berinovasi. Saya sering sekali merasa saya makin bodoh menghadapi semua kemajuan teknologi dan ilmu. Saya sudah ada di tahap dimana saya mulai meragukan kemampuan diri untuk terus menelorkan ide baru. Dan disitulah nikmatnya kerja dengan mereka yang lebih muda.

Otak yang lebih fresh, ditambah sikap yang baik tentang belajar dan berusaha, sering sekali membuat para anak muda di tim saya ini menelorkan ide-ide yang kreatif. Not necessarily ide yang super breakthrough, tapi seringkali ide merekalah yang bikin kerja jadi lebih menarik, dan proses kerja juga jadi menyenangkan.

--

Tapi kerja dengan mereka yang lebih muda juga menuntut kita yang lebih ‘berumur’ untuk berubah.

Ada tuntutan yang lebih tinggi untuk punya sudut pandang yang cukup luas dan terbuka. Harus punya sisi hati yang legowo untuk membiarkan mereka bereksperimen dan belajar dari kesalahan mereka, bahkan saat kadang kesalahan itu lumayan bikin pusing buat diselesaikan. But at least, they’ll learn. We’ll all, learn.

Saya juga jadi amat sangat sering mengingatkan diri sendiri buat cukup memberi arahan, kasih contoh apa yang harus dikerjakan, make sure mereka paham standard kualitas seperti apa yang harus diberikan, lalu, mundur dan mengobservasi saja dari jauh.

Saya bukan orang yang suka melakukan micromanagement, tapi harus saya akui saya kadang lumayan control freak. Sementara, bagaimana saya bisa pastikan mereka akan bisa mengambil alih kelak kalau saya juga tidak membiarkan mereka buat mencoba.

Jadilah saya sering sekali harus marahi diri sendiri supaya stop being a control freak. Membiarkan adanya ketidaksempurnaan selama nanti semua itu diidentifikasi lalu dicari solusinya supaya kelak bisa lebih baik.   

Dan karena bisnis ini bergulat di bidang melayani klien, pasti ada saja gesekan dengan klien yang tidak mau dilayani dengan yang lebih junior. Di saat itulah saya juga harus cukup sabar merayu klien dan meyakinkan bahwa saat saya percaya dengan junior saya untuk mengerjakan sebuah tugas, artinya saya sudah yakin dengan kemampuan orang itu dan saya meminta klien untuk memberikan kesempatan. Toh saya juga tetap ada untuk mengawasi dari jauh and will jump in if anything major happens.

Not that easy sometimes. Resikonya juga besar, saya harus siap menerima keluhan klien (atau keluhan sang junior…hehe). Tapi demi anak-anak muda yang bisa punya keahlian yang mumpuni, it’s worth the effort.

--

Jadi yaaa belum tentu anak muda yang pengalamannya belum setara dengan kita tidak bisa diajak usaha bareng. Asalkan yang bersangkutan punya attitude yang OK, dan mindset yang benar tentang kerja, usaha, dan terus belajar, saya yakin kok yang muda juga bisa.

Pertanyaan terbesarnya: seberapa siapkah yang lebih tua buat mengubah diri demi membuat yang muda juga punya keahlian yang sama buat meneruskan perjalanan?. Nah ini, mari merenung. Karena generasi berikut, butuh kita-kita yang lebih berumur untuk bisa adaptasi dengan perubahan jaman.

Are you ready to change?.

  

Monday, October 16, 2017

Mikir, yuk



Sebagai yang kerjanya berusaha memahami perilaku konsumen lewat metode penelitian kualitatif, saya seriiing pake banget ditanya ini, “Emang cukup ya sampelnya cuma segitu?”.

Atau pertanyaannya dibalik, “Sampelnya harus berapa ya supaya datanya valid?”.

Penelitian kualitatif memang nggak seperti partnernya, penelitian kuantitatif, yang keluarannya angka dan persentase sehingga relatif lebih mudah untuk dipahami dan membuat orang merasa ‘aman’ dengan hasilnya. Penelitian kualitatif nggak bersandar pada banyaknya sampel dan pengolahan statistik.

Dulu waktu pertama kali saya kerja di bidang ini, salah satu banyolan yang selalu diarahkan pada kami tim kualitatif adalah, “Ah anak kual kan kerjanya cuma ngobrol sama ngelamun, terus tahu-tahu keluar deh reportnya”.

To some extent mungkin bisa terlihat demikian.

Kerjaan kami menemui responden, lewat diskusi atau wawancara- yang kelihatannya emang cuma ngobrol aja. Lalu dengan metode pengolahan data yang namanya analisa isi (atau kerennya content analysis), kami bikin reportnya - yang bisa juga kelihatannya lagi ngelamun. Analisa isi ini sebetulnya adalah memahami konteks dan makna dari setiap narasi, atau sederhananya cerita tentang sebuah perilaku, yang kami dapat dari responden.

Sepertinya mudah, padahal, kalau tidak sensitif pada hal-hal yang tersirat, hasil penelitian kualitatif ini mudah sekali jadi cuma sekedar subjective judgment dari si penganalisa.

Demikian juga kalau tidak memahami konteks atau situasi dan bahkan juga faktor sosial budaya dan ekonomi yang melingkupi kehidupan responden yang diajak ngobrol. Analisa juga bisa ngelantur entah kemana.

Untuk menghindari hal-hal seperti itulah maka dalam setiap penelitian yang menggunakan metode kualitatif, ada beberapa pakem yang tetap harus dijaga supaya hasilnya baik.

Misalnya, tetap saja ada jumlah sampel minimal yang harus diambil. Walaupun hasil akhirnya adalah pemahaman narasi, tapi dasar bagaimana pemahaman itu dibentuk harus ajeg. Dan harus jelas ada benang merah atau keterkaitan antara narasi satu responden dengan responden lainnya. Benang merah itu yang dalam kualitatif, jadi pegangan peneliti bahwa data yang didapat, memang cukup dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi misalnya, untuk wawancara, minimum sampelnya adalah 3 untuk setiap target responden yang sama. Misalnya kalau mau tahu kenapa orang suka sekali beli KFC, ya minimal harus ada 3 konsumen yang dalam seminggu minimal beli KFC dua kali.

Kenapa harus 3? – karena kalau kita mewawancara 2 orang lalu menemukan perbedaan atau persamaan narasi, belum tentu bisa dipertanggungjawabkan bahwa memang kedua orang itu sama atau berbeda karena bisa saja itu adalah kebetulan. Adanya responden ke-3, akan bisa mendukung perbedaan atau persamaan itu dengan lebih baik karena ada pembanding.

Makin banyak responden tentunya makin baik. Tapi tidak seperti penelitian kuantitatif yang mencari keluasan data, kualitatif mencari kedalaman data buat menjelaskan sebuah gejala. Jadi yaaa memang ndak perlu banyak-banyak sampai ratusan sih respondennya. Asal, prinsip dasar adanya benang merah di paling sedikit 3 responden kalau wawancara, atau 2 kelompok kalau diskusi kelompok, terjadi.

Terus kenapa tahu-tahu saya ngomongin ini?.

Tergelitik dengan sebuah deskripsi perilaku orang tua yang secara rutin membawa anaknya ke salon sekali sebulan, yang lalu dianalisa panjang lebar oleh seorang psikolog senior, yang cukup bikin saya bengong.

Sebetulnya sih bukan masalah perilaku apa yang beliau bahas. Sah-sah saja kok kalau mau beropini tentang sesuatu. Tapi yang membuat saya jadi mengerenyitkan kening (padahal kening ini sudah tidak butuh kerutan tambahan), adalah bagaimana beliau membuat kesimpulan.

Berdasarkan pada wawancara singkatnya dengan petugas salon yang mengurus rambut 2 orang anak, beliau bisa menjabarkan sebuah perilaku dengan semua konsekuensinya. Ini bicara tentang pola asuh juga, lho.

Lalu keluarlah analisa (buat saya sih itu sesederhana pendapat pribadi ya, bukan analisa) bahwa membawa anak ke salon sama artinya dengan mengajarkan gaya hidup hura-hura padahal hidup tidak selalu indah dan berduit. Ke salon dan membuat si anak mematut diri di depan cermin salon adalah mengajarkan pemujaan terhadap kecantikan fisik padahal di usia tersebut (6 – 8 tahun kalau tidak salah), penting juga mengajarkan sisi kecantikan lain.

Itu sebagai hasil dari wawancara dengan petugas salon dan observasi singkat terhadap 2 orang anak. Tanpa ada orang tua satupun yang melakukan hal tersebut, yang diajak ngobrol.  

Saya sebagai praktisi penelitian jelas jadi melotot. Hello, what were you trying to do, mam?.

Yes true bahwa beliau tidak sedang melakukan penelitian. Tapi, yang sangat mengganggu di mata saya adalah karena beliau public figure. Dan profesi beliau adalah seorang praktisi psikologi.

Dalam profesi tersebut ‘penelitian’ adalah satu hal yang mau tidak mau terlekatkan. Melakukan penelitian tentang gejala yang dihadapi adalah tanggung jawab profesi sebelum bisa melontarkan sebuah pendapat, atau dalam konteks konseling, untuk bisa memberikan terapi.  

Saya masih ingat salah satu ajaran yang selalu ditekankan saat kami mulai menghadapi klien: jangan berasumsi, jangan menggunakan personal judgment sebelum terkumpul data yang lengkap.

Saya ingat betul betapa saya dulu harus bolak balik menghadap dosen karena dianggap data yang saya dapat belum menyeluruh karena belum tercakup semua yang harusnya saya ajak bicara untuk dapat kedalaman data yang baik. Itu dulu baru untuk kuliah praktek konseling lho, belum konseling beneran.

Jadi sebagai praktisi yang sudah dikenal publik, beliau justru harusnya jauh lebih sadar untuk tidak jumped into conclusion hanya berdasar pada observasi sesaat. Bicara tentang pola asuh tanpa ngobrol dengan beberapa orang tua untuk memahami motivasi mereka. Itu sudah salah pake banget. Pun jika mungkin benar perilaku itu terjadi di masyarakat, tapi rasanya pengutaraan pendapatnya harusnya bisa jauh lebih berkualitas dengan berdasarkan pada beberapa contoh kasus yang juga melibatkan orang tua yang diajak ngobrol.

Di mata saya, tulisan beliau itu jadi tidak ada bedanya dengan mendengarkan tetangga saya ngegosipin tentang gimana tetangga lainnya merawat anaknya.

Yang lebih membuat saya kuatir adalah, tulisan-tulisan seperti itu beresiko menjadikan masyarakat jadi lebih pintar menyudutkan orang lain tanpa berpikir kritis. Apalagi kemudian implikasi dari tulisan beliau, menurut saya juga tidak main-main karena isinya cukup keras, dengan unsur pembahasan keimanan segala. Padahal, ada kesalahan membangun pendapat yang sangat mendasar di tulisan itu: it was not based on enough NEUTRAL facts.  

 Kata kuncinya itu: fakta yang netral, bukan yang berselimutkan emosi seorang ibu-ibu. Sebagai seorang psikolog, sejatinya beliau harusnya sadar bahwa pengutaraan pendapat beliau tidak bisa dilepaskan dari profesi tersebut. Artinya juga bahwa beliau harusnya menjaga kenetralan dalam mengutarakan sesuatu dan tidak melibatkan emosinya.

Saya sedih melihat gejala demikian, yang pastinya memang bukan hanya dilakukan oleh beliau seorang tapi oleh begitu banyak public figure. Orang-orang yang harusnya punya tanggung jawab, atau at least MERASA PUNYA tanggung jawab yang jauh lebih besar dari orang awam, untuk menegakkan kejernihan berpikir yang baik dan berlogika yang benar.

Opini pribadi is one thing, tapi saat opini itu punya resiko menjadi viral, harusnya bukannya si penulis lebih berhati-hati membangun argumennya?. Apalagi jika si penulis punya embel-embel profesi yang bersentuhan sangat dekat dengan pembangunan kejiwaan, yang sebetulnya sangat dibutuhkan oleh banyak lini di negeri ini.

Ah tapi mungkin ya saya saja yang aneh, ya. Karena toh kenyataannya, pengikutnya banyak.

Ya semoga saja sih mereka yang mengikuti beliau juga bisa menyaring mana yang baik untuk diaplikasikan karena merupakan nilai universal kejiwaan yang dibutuhkan buat membesarkan anak, dan mana yang opini pribadi berselimut emosi. Karena yang terakhir, kalau saya amati, ujungnya cuma bikin panik tanpa solusi. Rasanya kok kita nggak butuh lagi yang begitu. There are enough panic reactions di negara ini. Yang ujungnya cuma bikin pertentangan gak berguna. Enough.

Saya juga nggak berharap semua jadi peneliti. Tapi saya kok ya juga yakin, berpikir kritis itu kan harusnya terjadi setiap saat ya, apapun profesi anda.

Mari, belajar bersama.





Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts