Thursday, April 6, 2017

Berhentilah belajar jadi Tuhan



Sudah seminggu saya wara wiri ke beberapa penjuru Jakarta buat sebuah kerjaan yang mengharuskan saya ketemu dengan horang-horang kayah yang asetnya milyaran. Seminggu pula saya sudah dengar banyak sekali cerita menarik dari setiap individunya.

Salah satunya, 2 hari lalu.

--

Seorang bapak, usianya 55 tahun. Pengusaha yang asetnya sudah 2 digit milyar, anak sudah besar-besar. Gayanya santai, sangat terbuka, ramah, dan sangat rendah hati.

Cerita ngalor ngidul tentang bisnisnya, dan beberapa hal lain, saya tiba di pertanyaan tentang agama karena kebetulan si bapak menyinggung tentang keadaan saat ini yang dia gambarkan sebagai, “Ngeri sekali lho. Orang kenapa ya nggak ngebiarin aja orang mau beragama kayak apa, itu kan urusan masing-masing sama Tuhan”. 

Saya tanya si bapak memang agamanya apa. Dan bergulir sebuah cerita menarik.

Dia mengaku ‘mencari agama’ sejak remaja. Terlahir di keluarga muslim, dengan seorang nenek yang dia sebut sebagai Ustadzah, dan keluarga yang cukup taat, ternyata tidak cukup membuat dia merasa inilah agama yang benar.

Dia mencari dan belajar dari banyak orang dan ustadz, termasuk neneknya. Tapi masih ada ketidakpuasan di hatinya. Masih ada pertanyaan: apakah iya ini yang paling benar?.

Lalu di usia remaja, dia ikut-ikut teman yang kebetulan beragama Kristen. Dia pun kembali mencari orang-orang terbaik, pendeta-pendeta yang menurut orang paling bagus dalam mengajarkan pakem-pakem dalam alkitab. Tapi tetap saja dia merasa belum puas.

Kemudian dia belajar tentang agama Katolik. Dia menyebutkan nama beberapa pemuka agama Katolik yang saya juga pernah dengar katanya bagus. Tapi itupun, belum membuat dia puas. 

“Akhirnya, saya memutuskan, agama itu malah bikin orang jadi bingung. Si A menerjemahkan 1 ayat begini, nanti ngobrol dengan si B, lain lagi. Nah, gimana kita tahu mana yang benar?. Padahal itu kan ayat katanya dari Tuhan, tapi yang menerjemahkan siapa? Manusia kan?. Nah, gimana kita tahu mana manusia yang bener nerjemahinnya?. Jadi mulai dari situ saya mutusin ah nggak penting agama apa, yang penting saya percaya pada Tuhan yang sudah menciptakan saya, bumi dan langit. Itu saja. Sudah cukup. Jadi kalau ditanya agama saya apa, di KTP sih Kristen, tapi saya nggak beribadah dengan cara Kristen. Saya memilih untuk berdialog langsung dengan Tuhan, tanpa segala batasan kitab dan ayat. Dan terbukti kok, sejak itu, rejeki saya lancar. Saya nggak lagi ngerasa gelisah, tenaaang rasanya hati ini”.

Dan memang, sejak ketemu pertama kali, saya memang menangkap kesan teduh dan adem itu dari si bapak. Wajah yang sangat menenangkan. Seperti ketemu seorang bapak yang siap mengayomi, siap mendengarkan keluh kesah kita. Suaranya lembut. Dalam menjelaskan sesuatu  juga tenang, runut, dan tidak ada sedikitpun dari suaranya yang merendahkan. Tidak ada kesombongan disitu.

Beda pake banget dengan suara pak Ustadz dari masjid belakang rumah yang selalu teriak-teriak sampai saya kesel, dan bikin saya beberapa kali pakai sumbat kuping daripada terus merutuki baik suara maupun isi ceramahnya. Atau air muka so-called habib yang saat ceramah di mata saya terlihat beringas, tidak ada alur kasih sayang pada sesama pada ekspresinya.

--

Apa yang dia ceritakan, bagaimana dia menceritakannya, dan kesan yang ditinggalkan si bapak, melekat erat di benak saya.

Perjalanan seseorang mencari Tuhan-nya, yang buat saya sangat inspiratif. Saya tidak pernah melakukan itu. Sebagiannya sih jujur saja karena saya takut menemukan hal-hal yang akan membuat keimanan saya goyah. Rasanya saya belum cukup kuat untuk menghadapi kegoyahan semacam itu. Tapi sebagiannya lagi untungnya saya masih menemukan ada saja yang meyakinkan saya bahwa saat ini, menjadi muslim, masih bisa menjaga hubungan saya dengan Tuhan.

Tapi saya juga percaya bahwa ada begitu banyak jalan menuju Tuhan – dalam arti harafiah kematian maupun menemukan siapakah Tuhan dan bagaimana cara terbaik menjalin hubungan dengan Sang Pencipta. Saya tidak pernah terlalu peduli dengan segala aliran, dan jujur juga, agama. Buat saya, setiap agama mengandung kebenaran. Jadi bahkan apa yang dianut si bapak inipun, mengandung kebenaran.

Dan hubungan tiap manusia dengan Tuhan adalah sangat personal. Tidak ada yang berhak menghakimi dan melabel. Karena kitapun tidak tahu apakah Tuhan sebetulnya berkenan atau tidak dengan bagaimana cara seseorang menggamit dan berdialog dengan Dia. Jika benar ada hari akhir, dimana semua amal ibadah kita akan dinilai oleh Sang Empu, maka itulah kebenaran yang hakiki. Bukan disini. Bukan di bumi, and certainly bukan oleh kita.

Lalu kenapa kita tidak pernah belajar untuk berhenti belajar jadi Tuhan, ya?. Kenapa ada banyak sekali orang yang masih saja sibuk menilai tingkat keimanan dan kepercayaan orang lain terhadap Tuhan, padahal, siapakah dia? siapakah kita untuk melakukan itu?.

Mungkin yang baca tulisan ini ada yang membatin dalam hati: kebenaran kan sudah tergariskan dalam ayat-ayatNya, gue nggak lagi belajar jadi Tuhan kok, gue cuma ngikut apa yang ada dalam ayatNya.

Atau jangan-jangan ada yang membatin: itu si bapak sesat banget sih, masa kayak gitu.

Nah, saya juga ingin bertanya balik: tiap agama, dalam tiap kitabnya, jangan-jangan punya lho ayat yang sama yang menyatakan bahwa jalan itulah yang paling benar menuju Tuhan. Lalu, mau sampai kapan kita berdebat?. Kenapa tidak belajar legowo menerima bahwa perbedaan itu ada!. Buat apa terus melabel, terus mencari pembenaran atas ini dan itu, terus merasa gue yang paling benar?.

Whatever your religion is, bahkan ber-Tuhan atau tidak, itu kelak masing-masing dari kitalah yang harus bertanggung jawab. Dan jangan-jangan,  ya, nanti kita juga ditimbang berdasarkan pertanyaan ini: seperti apakah kamu sudah memperlakukan mereka yang berbeda, mereka yang juga Aku ciptakan tapi memilih jalan kepadaKu dengan cara yang berbeda denganmu?.

Nah. Kamu, gimana mau jawab pertanyaan itu?.

Siapa yang akan diberikan cahaya oleh Tuhan, dengan cara apa, ya terserah Tuhan, bukan begitu?

(R I R I)

Saturday, April 1, 2017

Buat sebuah Rasa


Adalah rasa
Yang membuat kita
Disebut manusia

Adalah juga rasa
Yang membedakan kita
Dari hewan yang digembala

Adalah rasa
Yang sejatinya
Memampukan kita untuk berkarya

Dan rasa
Yang harusnya
Membuat kita lebih peka

Tapi kemana dia
Kemana rasa yang harusnya kita pelihara
Supaya kita tidak menyakiti sesama

Kemana dia
Saat harusnya
Kita bisa berdiri bersama

Mungkin kita lupa
Bahwa dengan rasa
Harusnya semua jadi indah 

Rasa apa?
Ah, kamu tahu rasa apa
Atau rasa yang mana

Kalau kamu tidak tahu
Mungkin kamu harus bertanya
Pada para hewan yang dibelenggu

(Jogging di Bonbin Ragunan pagi ini, masih disesapi kesedihan. Kesedihan akan apa yang terjadi saat ini. Dan tiba-tiba, saya ingin mendoakan sebuah rasa…).
 
R I R I

Sunday, March 5, 2017

Consistently consistent



Beberapa tahun yang lalu, saya dan teman sekantor dikenalkan dengan istilah ini: consistently inconsistent. Konsisten dengan inkonsistensi.

Pas dulu pertama denger kita semua bingung, apa nih maksudnya. Begitu dijelaskan lengkap dengan sederet contoh, kita jadi manggut-manggut.

Jadi begini. Kita ini sering sekali nggak konsisten entah dalam bersikap maupun mengambil keputusan. Misalnya kalau contoh jaman dulu di kerjaan kami, katanya mau memperbaiki hasil riset yang diberikan ke klien dengan cara lebih kritis ketika menerima permintaan untuk melakukan riset. Nggak membabi buta bikin proposal tanpa pertama tanya dulu ke klien kenapa dirasa perlu melakukan riset. Minta ketemu dulu atau paling nggak telpon dulu lah supaya jelas isi permintaannya karena kadang yang tertulis dengan yang bisa dijelaskan verbal bisa saja beda.

Nyatanya, demi yang namanya ‘kejar setoran’, kita sering lupa melakukan itu. Begitu terima permintaan riset, langsung bikin proposal tanpa peduli tanya dulu ke klien. Hasilnya, kadang kalah pitching, kadang kliennya iya saja tapi waktu melakukan risetnya malah jadi berantakan karena saling belum paham duduk masalahnya apa. Ujungnya alih-alih bisa kejar setoran malah tekor dari segi profit karena terlalu banyak masalah yang makan biaya sana sini.

Itu baru satu contoh masalah. Ada banyak contoh lah kala itu yang bikin kami kalau lagi ngebahas lalu jadi cengar cengir sambil, “Iya ya, kita ini consistently inconsistent banget emang”.

Bertahun-tahun setelahnya, saya selalu berusaha inget itu saat harus melakukan sesuatu dan berusaha nggak kayak gitu. Nah ndak tahu juga apakah tim saya sekarang masih lihat saya consistently inconsistent, atau nggak. Saya nggak pernah nanya juga sih. Mungkin harus saya tanya kapan-kapan.

Tapi saya tiba-tiba inget itu bukan karena sedang inget dengan urusan kantor. Tapi justru karena seminggu ini saya terpapar dengan sesuatu yang berlawanan dengan itu. Justru, saya melihat sesuatu yang consistently consistent.

--

Mereka yang besar di tahun 80an, harusnya kenal Krakatau. Sebuah band fusion yang keren banget lah di jaman mereka pertama keluar dulu. Lagu-lagunya menemani Riri remaja dulu.

Tahun 2014, mereka bikin Krakatau Reunion. Masih dengan personel yang sama: Indra, Dwiki, Pra, Gilang, Donny dan Trie Utami.

Hari Selasa lalu mereka manggung di kafe Rolling Stone di Jalan Ampera. Saya dan Cip tentunya nggak mau ngelewatin momen itu. Nontonlah kami. Dan masih tetap terpesona.

Masih dengan aransemen yang asik didengar. Masih dengan campuran rock, jazz, pop. Indra dan Dwiki dengan duet yang keren di keyboard maupun keytar, Gilang yang tabuhan drum-nya masih punya power yang asoy, Pra di bass yang masih saja ciamik mendampingi Donny di gitar. Dan Trie Utami. Si kecil centil yang kalau nyanyi selalu ekspresif banget. Dan suara tingginya masih tetap powerful membawakan nada-nada susah yang selalu jadi ciri khas Krakatau (or should I say, Indra?).

They are already in their 50s. Tapi tetap luar biasa konsisten dengan musikalitas mereka. Konsisten dengan power yang dimiliki masing-masing personel, dan sebagai suatu kesatuan. Dan konsistensi mereka mengirimkan kami para pendengarnya terlempar-lempar ke masa lalu sekaligus ke masa kini dengan frekuensi yang sama indahnya.  


--
 Di kali lain, hari Jumat lalu, saya dan beberapa teman nonton Air Supply. Sekali lagi band yang lagu-lagunya dulu jadi teman di masa remaja. Terutama, teman saat jatuh sekaligus putus cinta.

Air Supply sudah malang melintang selama 42 tahun. Graham Russell pada gitar dan vokal, dan Russell Hitchcock – the lead singer, sudah berusia 60an. Dua-duanya dari segi penampilan sudah ‘meng-kakek’. Rambut sudah putih semua. Tapi, di konser lalu, penampilan mereka tetap mampu membuat para pecintanya terlena dengan aransemen yang di-twist disana sini.

Russell Hitchcock masih mantap membawakan nada-nada melengking, dengan napas yang masih prima. Mereka masih nyanyi sambil mondar-mandir di panggung. Bahkan turun dari panggung untuk menyapa para penggemarnya. Graham masih memainkan gitar sambil lompat-lompat. Gonta ganti gitar berkali-kali. Dan suara mereka tetap stabil. Amazing, considering their age, really.

Bandingkan dengan cerita Cip yang nonton Guns and Roses, dia cerita kalau Axl Rose waktu nyanyi ada nada yang fals. Napas sudah tidak sekuat dulu.

Sementara, si duo-kakek dua minggu lalu itu, tetap prima. Mereka manggung 2 jam dengan lagu yang lumayan sambung menyambung satu sama lain. Beyond my expectation, jujur.  


--


Hari ini saya nonton Opera Ikan Asin dari Teater Koma, yang sudah malang melintang selama 40 tahun. Siapa sih yang nggak kenal teater yang satu ini. Setiap produksinya selalu nyentil. Karcis selalu habis. Padahal, setiap kali mereka tampil tidak pernah sebentar. Minimal 3 jam. Dan garapan mereka ceritanya nggak selalu ringan. Tapi tetap dinanti.

Saya sekali lagi menyaksikan teater yang bukan cuma penuh pesan sosial, khasnya Teater Koma, tapi juga permainan prima dari semuanya. 

Tata panggung yang bagus. Peralihan antar adegan yang halus. Cerita yang menarik. Musik yang mungkin buat beberapa kuping akan terdengar kasar dan kurang latihan dengan nada yang ajaib, tapi buat saya justru itu khasnya teater Koma: cukup terpoles tapi tidak kelewatan sophisticated sehingga tidak pernah berjarak dengan penontonnya. 

 --

Semua itu bikin saya inget dengan kata-kata sakral nyelekit itu: consistently inconsistent. Yang saya lihat di minggu ini adalah kebalikan dari itu. Mereka justru menunjukkan gimana, kalau kita bisa ngalahin inconsistency, dan bisa consistently consistent, maka kita akan bisa bertahan selama sekian dekade.

Mereka nunjukin bahwa punya keahlian prima aja tuh nggak cukup. Butuh dedikasi, disiplin, dan keteguhan prinsip buat bertahan di jalur itu, sekaligus cukup fleksibel untuk bisa selalu beradaptasi dengan jaman yang berubah supaya bisa tetap ‘nyambung’. Dan, menyatukan semua itu dengan konsisten, dalam semua lini yang berhubungan dengan apa yang dilakukan.

Apakah lalu ini cuma berlaku di dunia seni?. Saya rasa kok nggak ya. Rasanya kemampuan untuk bisa melakukan itu berlaku untuk semua profesi, kalau memang mau bertahan di jalur yang sama.

Bersandar pada years of experience dan keahlian yang mumpuni saja tanpa lalu konsisten melihat ke bagaimana kita bisa beradaptasi dengan jaman, konsisten mencari cara baru supaya tetap relevan, ya percuma. Sudah mencoba beradaptasi dan fleksibel, tapi melakukannya setengah hati, sebentar iya sebentar nggak, ya percuma. Disiplin membangun prosedur yang benar, tapi pelaksanaannya antara hidup dan mati, ya percuma.

Memang tidak mudah untuk bisa konsisten. Saya juga masih cari cara gimana supaya konsisten untuk bisa melakukan yang diperlukan supaya tetap relevan dengan jaman. Dan namanya juga manusia, ada yang namanya lupa, males, dan kalau perempuan, mood (oh yeah….the beauty of being a woman is that you can always blame the hormones!).

Tapi melihat contoh-contoh di minggu ini, saya jadi malu. Lha kalau mereka saja yang sudah lebih tua bisa, masa saya nggak bisa ya?. Kita, masa nggak bisa?.

Ya mari, kita coba. Mulai besok. Mumpung Senin. Dan masih awal bulan Maret.

(R I R I)

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts