Wednesday, June 13, 2018

A place


There is a place I go to
When I’m weary and troubled
And need a time alone

There is a place I go to
A small cabin on a hill
With some big trees nearby
Where birds come and sing every morning 

There is a place I go to
With a veranda with hanging flowers
From where I can see the ocean and the small islands nearby 
While sipping coffee

There is a place I go to
With yellow flowers in the garden
And reds and pinks accentuated the yellows
With a Labrador and a German Shepherd

There is a place I go to
When I'm tired of people
Or of my own expectations of people
To put a halt to everything

There is a place I go to
Where I can be with myself
Feeling the breeze on my face
Enjoying the warm morning sun
Walking on the vast meadow with my dogs

There is a place I go to
Where I can sit on the veranda with my books
Or ride my bike when I want to go to a nearby village and meet people
Or tending my small beautiful garden
Or walking on the long beach line below the hill
Or go diving from a nearby island and have a small picnic on the beach
See people when I want to see them

The place I go to
Is in my head
I made it myself, combining many things I’ve seen on my travels
With my own wishes
I go there from time to time
Closing my eyes and feel the peace
Alone

Seeking the voice that only I can hear
The voice of my Guardian
Telling me that I will be OK
Because He will never leave my side
Even when I’m alone
In the cabin on a hill 

(Nearing the end of Ramadhan, 2018. At the edge of nothingness...)

Friday, May 25, 2018

PR baru



Beberapa waktu lalu gue pernah terlibat di studi yang ngecek alat edukasi untuk ningkatin awareness remaja bahwa pernikahan dini itu dampaknya panjang. Bahwa pursuing education is still their best bet, baru setelah itu, silahkan memikirkan pernikahan.

Gara-gara studi itu juga gue kan jadi denger ya cerita mereka dan juga para ortu dan pengajar di daerah itu tentang kenapa sih pernikahan dini sering dilakukan di daerah itu.

Alasannya beragam, dari tekanan ekonomi sampai takut anaknya nanti berzina.

Lalu gue bingung juga. Ini daerah miskin. Para ortu ini pasti ngalamin beratnya hidup kan ya. Pasti ngalamin apa rasanya jadi perempuan yang pendidikannya terbatas, tiba-tiba harus ikut menghidupi rumah tangga dengan anak yang bererot karena uang dari suami nggak cukup (dan kenapa juga sih gak KB. Aduh ampun....njelimet kalik lah).

Lah terus, ngapa gitu masih mikir menikahkan anaknya cepet-cepet itu adalah solusi?. Kok gue lihatnya, maaf ya, ini jahat. Menurut ngana mereka bisa apa saat menghadapi kesulitan dalam pernikahan?. Not to mention pertaruhan nyawa saat melahirkan anak di usia dini. Udahlah, kepala gue sakit mikirnya...

Sementara cerita di urban, beda lagi. Terutama perempuan, yang udah berumur 25 tahun apalagi lebih, dan masih single, pasti sering ditanya, “Kapan nikah?”. By the way, jombloers, siap-siap. Bentar lagi musim halal bihalal. Udah punya jawaban belom?.

Dan gue juga lihat di sisi lain, ada gejala banyak juga di urban yang menikah sesegera mungkin setelah lulus kuliah (atau pas masih kuliah). Itu adalah sesuatu yang ada di checklist (macam gue bikin checklist belanjaan. Atau kerjaan yang harus dikelarin sebelum jam 5 sore).

Gue gak tahu juga alasan sebenarnya apa. Tapi yang pernah gue denger sendiri adalah ini: biar nanti kalau anaknya udah gede dia juga masih cantik. Atau bisa jadi mahmud yang masih bisa tampil walaupun udah punya anak.

Itu dikemukakan dengan raut muka serius, by the way. Dan mungkin gue yang udah terlalu tua dan emang udah ngalamin generation gap dengan generasi ini, di kepala gue langsung, “Seriously?. Really?. Are these girls mad or was that really seriously an expectation of life?”.

Nah, kemaren gue baca tulisan ini https://linimasa.com/2018/05/24/biru-yang-membilu/. Tentang mempertahankan pernikahan.

Di tulisan itu, ada cerita ini:

Seorang teman yang sudah menikah cukup lama, pernah berujar seperti ini saat kami bertemu:
I still don’t get it, kenapa orang-orang kita, terutama keluarga besar, suka sekali menyuruh orang untuk menikah. Tapi nggak ada sama sekali satu pun dari mereka yang pernah bilang bahwa mempertahankan pernikahan itu beratnya luar biasa! Nggak ada sama sekali yang pernah kasih tips how to survive marriage and keep it last, bisanya cuman nyuruh doang. Kesel kan gue?! Apa jangan-jangan mereka cari temen seperjuangan yang sama-sama menderita ya? Jadi pas tau kita struggle to keep the marriage afloat, jangan-jangan mereka teriak dalam hati, “Welcome to the club!””

Gue nyengir baca bagian itu. Karena dulu gue juga sering mikir gitu tuuuuh.

Gue masih asik-asik aja dengan diri gue sendiri sampai lulus S2. Lalu balik ke tanah air, kerja. Dan ya emang gue yang mau kalo sampe umur 29 gue belom juga nikah?. Iya sih dalam hati selalu ada pertanyaan: elo udah kelar beloom sama kemauan loe?. Tapi ada satu lagi: belom kunjung dipertemukan sama yang bisa bikin gue yakin bahwa tantangan apapun dalam pernikahan, gue bisa jalanin nih sama orang ini. Jadi yaaa…udah lah ya.. Mau bilang apa kan?.

Nah dalam masa-masa itu dulu ada aja entah tante atau sepupu yang bilang, “Apa lagi sih yang ditunggu. Kapan mau nikah?”. Dan berbagai versi lainnya tapi ya miriplah ujungnya.

Dalam hati gue suka membatin: elo lagi cari temen susah ya?. Lah kehidupan elo contoh tuh buat gue betapa susahnya nikah apalagi sama orang yang salah!, malah nyuruh-nyuruh gue nikah (dan yang paling bikin gue manyun kalo ada embel-embel demikian: gak usah pilih-pilih tebu banget lah…et dah…elus dada aja deh dulu). Sopo sing gendheng. Tapi yaaaa itu cuma tersebut di hati, gak pernah gue keluarin. Segila-gilanya Riri, gue masih cukup waras buat ngejaga nama emak gue di keluarga.

Tapi ya bener banget itu kan, kenapa sih masyarakat kita demen banget ya mikir nikah secepatnya itu baik. Yang ngejalanin juga bukan dia, lho.

Dan baca that specific part of the article, gue juga jadi mikir: berapa banyak sebetulnya mereka yang berpikir, dan sadar sesadar-sadarnya, bahwa pernikahan itu adalah tantangan, dan pekerjaan baru lho!, sebelum mereka mutusin akan menikah. It’s not a walk in the park. Urusannya panjang pake banget. A walk in the park aja gak semudah kelihatannya, lah kalo tahu-tahu keinjek pup anjing, emang enak? (opo sih Riii....).

Jadi setelah baca itu, gue tersadar ada dua hal yang harusnya kita sadari. Pertama, udah deh berhenti nanya-nanya para jombloers kapan nikah. Siapa tahu mereka amat sangat waras, ngerti tantangannya apa and hence pengen yakin seyakin-yakinnya bahwa orang yang dipilih adalah yang bisa diajak susah bareng. We never know their struggle inside lho. 

Dan gue juga pernah baca ini: it's better being single than being with the wrong person. Nah. Tuh. 

Dan kedua, we have to educate our children dengan narasi bahwa menikah dan semua ‘transaksi’ yang ada di antara kedua orang yang menikah itu gak mudah dijalani. Butuh kedewasaan emosional. Butuh kepala dingin. Butuh kelegaan hati. Dan butuh kompromi disana sini. 

Dan bahwa ngebayangin yang susah-susah dulu itu pentiiiing bingits. Bikin skenario dan diomongin berdua itu penting. Mau sampe berantem ya malah bagus (haha...ups...ketahuan deh gue dulu gimana), karena kan jadi tahu ini orang gimana kalo harus ngadepin yang gak asik gak asik. 

Berhentilah creating stories in your head, and others’, bahwa it’s gonna be happy ever after. Kecuali kalo elo hidup di dalam sebuah buku cerita.

Tulisan itu menyadarkan gue, bahwa itu adalah PR kita sebagai orang tua.

Ih. Makin banyak aja ya PR.

Selamat hari Jumat. Gak usah mikirin PR dulu kali ya. Besok weekend. 

This is NOT a fairy tale. At least, not to me...

Monday, March 26, 2018

Saat agama jadi angka


Si bungsu saya yang baru kelas 1 SD itu konsisten sekali.

Sejak awal sekolah, dia sudah bilang, “Aku paling nggak suka pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)”. Kalau ditanya,"Kenapa?", jawabannya selalu sama, “Susah. Banyak banget yang harus dihapalin”.

Awalnya tentu saja kami anggap itu karena masa adaptasi. Sampai lalu di akhir semester 1, saat terima rapot dan hasil ulangannya dibagikan bersama rapotnya, kami berpikir bahwa mungkin memang buat dia, pelajaran yang satu ini tidak semenarik pelajaran lainnya. Dan bahkan mungkin, terlalu abstrak untuk bisa menjadi pelajaran yang sekedar bisa dihafalkan. Dan, terlalu berbahaya untuk dibiarkan jadi pelajaran yang sekedar bermuara pada hafalan dan sebentuk nilai.

Di ulangan PAI-nya semester lalu, ada pertanyaan: Apakah budi baik dari Nabi Adam SAW yang harus dicontoh?. Jawaban dia: perbuatan baik.

Waktu saya dan kakaknya membaca jawaban itu, kami ketawa. Lalu ayahnya tanya, “Emang jawabannya apa harusnya?”.

Si bungsu cuma menggeleng dan jawab, “Gak tau. Aku lupa”.

Kakaknya, “Bertakwa pada Allah dong adek” (which, menurut bukunya, inilah jawabannya).

Ayahnya, “Salah. Itu kan semua nabi juga begitu (ini juga yang ada di kepala saya waktu menemani si bungsu belajar dan membaca bukunya). Dan Nabi Adam kan manusia pertama yang diciptain Tuhan, emangnya punya pilihan apa dia selain bertakwa sama yang udah nyiptain dia?”. 

Kakaknya diam, dan bilang, “Iya juga ya. Terus apa dong jawabannya”. 

Sambil senyum-senyum ayahnya jawab, “Nabi Adam suka makan buah”. 

Spontan saya dan si Kakak ketawa. Adiknya, bingung, “Maksudnya?”. 

Dan ceritalah ayahnya tentang Nabi Adam yang memakan buah khuldi. “Iya sih dia diusir dari surga, menurut sejarahnya. Tapi kan makan buah itu tetap bagus. Dia diusir dari surga bukan karena makan buah, tapi salah pilih buah. Jadi, bener kan aku, makan buahnya kan perbuatan baik dan harus dicontoh. Tapi ya pilih-pilihlah buah yang paling baik. Dan di cerita Nabi Adam, Tuhan sudah bilang buah apa yang nggak boleh dimakan. Jadi, percayalah kalau Tuhan itu pasti hanya akan memberi petunjuk yang benar. Makanya harus dipatuhi”. 

That sounds just like a joke to you?. Atau bahkan penistaan terhadap nabi?. To me, it was neither.

Buat saya, itu jangan-jangan cara paling sederhana buat bikin anak seumur si bungsu jadi tertarik belajar tentang sejarah nabi dalam agamanya. Dan bikin dia paham apa maksud dari isi buku pelajarannya. Membuatnya menjadi less pedantic, less boring and dare I say, more human.

Dan sore ini, saya mendapat pesan Whatsapp dari gurunya kalau si bungsu harus mengulang ulangan PAI-nya. I was not at all surprised. Tapi di saat yang sama tiba-tiba saja saya jadi terhenyak: mosok agama cuma jadi sebuah angka?.

--

Rasanya dulu waktu saya SMA dan sekolah di sebuah sekolah Islam, saya juga memperlakukan pelajaran-pelajaran agama sama saja dengan yang lain: hasil akhirnya adalah nilai.

Alhasil, yes silahkan menghujat saya, waktu ulangan tulis hafalan Al-Quran dan terjemahannya, yang saya lakukan adalah membuat kebetan dan diselipkan ke dalam Al-Quran. Menghafal surat-surat yang akan diuji dan terjemahannya? – oh get real. There were too many to memorise. Belum lagi keharusan menghafal pelajaran lainnya. Modar. 

Iya saya akui itu bukan kelakuan yang pantas. Tapi yaaa, waktu itu, di kepala saya sebagai murid, pelajaran itu tidak ada bedanya dengan pelajaran Fisika (yang penuh rumus sihir di mata saya). Dan kalau ada nilai jelek di rapot saya, bisa-bisa saya tidak bisa masuk universitas negeri padahal saya yakin Papa tidak akan mau membiayai sekolah saya kalau saya masuk swasta (exaggerating. Tapi beneran sih, dulu saya mikirnya begitu….takut banget….).

Sepraktis itu pikiran saya. Dan pasti bukan cuma saya yang berpikir demikian (walaupun mungkin banyak yang tidak mau ngaku).

Kok bisa begitu ya?. Rasanya sih, jangan-jangan, karena agama selalu diajarkan sebagai sebuah doktrin. Sesuatu yang harus diikuti tanpa ampun. Kalau tidak, kita akan masuk neraka.

Tentu dalam agama apapun, sisi itu akan selalu ada. Itu tidak bisa dihindari (dan karena itu saya bisa memahami kenapa ada orang yang memilih jadi agnostik). Tapi rasanya, agama juga adalah rasa.

Agama adalah perbuatan dan refleksi diri tentang apa makna jadi orang beragama. Agama, adalah cinta. Dan rasanya, dalam bagaimana pelajaran agama diajarkan, sisi ini jarang disentuh. Yang seringkali disentuh, adalah perilaku yang salah dan benar, mana yang bisa bikin kita masuk neraka atau surga. Dua konsep yang sangat abstrak, sangat jauh dari kita, sejauh angan-angan. Dan akhirnya berujung pada beragama karena takut masuk neraka.

Dan itu, sangat menakutkan buat saya. Karena agama jadi kehilangan keindahannya. Kehilangan cintanya.

Kalau saja, agama dan apapun di dalamnya diajarkan melalui pengolahan rasa, melalui cerita, melalui refleksi, melalui lelucon (karena saya yakin kok, para nabi dan rasul juga pasti berkelakar…mereka kan, manusia juga…), mungkin akan lebih menarik. Lebih ‘menghujam’ ke dalam. Dan walaupun akan tetap berujung pada sebuah nilai, paling tidak, mereka menikmatinya. Seperti cerita si bungsu yang selalu excited saat cerita tentang eksperimen pelajaran Science. 

Salah satu guru favorit saya di SMA adalah guru pelajaran Fiqh. Beliau sangat pandai bercerita. Sangat animatif. Setiap perintah ibadah, beliau ceritakan sejarahnya dengan sangat menarik. Saya selalu menantikan pelajaran beliau dulu. Dan memang nilai saya yang paling baik dari semua pecahan pelajaran agama saat SMA dulu ya di pelajaran beliau. Karena cerita beliau tidak berhenti di kuping, tapi terserap sampai ke hati. Yang lain? – masuk kuping kiri keluar kuping kanan, atau sebaliknya. Sama seperti pelajaran Fisika (yang jangan-jangan malah tidak ada yang masuk ke kuping. Makanya nilai ujian akhir saya buat mata pelajaran menyebalkan itu cuma 5).

The point is, sering saya berharap ada sisi yang lebih eksperimentatif saat pelajaran agama diberikan. Ada sisi pengolahan rasa. Mengolah pengalaman dan refleksi diri. Dan tidak berhenti pada doktrin. Atau malah, berhenti bilang kalau tidak ini maka masuk neraka. Yes while there are things like those in the Bible, or Al-Quran, atau apapun kitabnya, tapi kan itupun bisa diajarkan tidak dengan cara yang menakutkan.

Atau di usia anak bungsu saya, mengajarkan mereka melalui role play atau cara teatrikal lainnya dengan setting yang sesuai dengan jaman mereka. Membayangkan dengan imajinasi mereka apa yang akan mereka lakukan now that they know a certain verse, atau tahu tentang sebentuk perilaku nabi dan rasul. Memaknainya sebagai anak jaman now - apa yang bisa mereka lakukan. Dan bukan cuma pandai menghafal dengan ‘kosong’ dan demi nilai.

Itu juga yang sering membuat saya bertanya kenapa sering sekali sekarang orang ingin anaknya hafal Al-Quran?. After memorizing, then what?. Kalau dia punya nilai yang tinggi dalam hafalannya, apa jaminannya perilakunya akan seiring dengan apa yang dia hafalkan?. Apakah pemaknaan juga dinilai, atau juga dibahas dan dipastikan bahwa mereka bukan cuma hafal tapi juga tahu bagaimana bersikap sesuai dengan ayat itu?. Not sure.

Dengan saat seperti sekarang dimana kutipan ayat dengan mudah tersebar kesana kemari. Saat indoktrinasi paham tak berdasar bisa jadi adalah ancaman yang nyata dalam masa depan kita sebagai bangsa, saya sebetulnya khawatir dengan si bungsu saya yang bilang PAI itu pelajaran paling sulit. To me that sounds a mental block. Dan apa jadinya kalau dia punya mental block untuk belajar tentang agamanya di usianya yang masih masih dini ini?.

Anyway. Mungkin saya saja yang overthinking, as usual. Yaaahhh emaknya yang ngebet di Al-Quran juga doesn’t turn out so badly. Masih percaya bahwa pilihan yang ada saat ini dalam diri saya adalah pilihan yang terbaik karena membuat saya tenang dan merasa punya jangkar. Surga atau neraka yang kelak jadi rumah abadi saya? - ah itu urusan saya dengan Sang Maha. Kalian tidak punya hak menilai and I don't give a damn of what others think of where I will go to in the after life anyway.

But maybe, I actually have a point about how religion is being taught in this country. Bahwa jangan-jangan memang harus berubah. Jangan-jangan harusnya pelajaran agama bukan bermuara pada sebuah nilai di rapot, tapi pada pemaknaan yang dalam, yang tidak bisa dilihat dari nilai. Dan karenanya, tidak bisa ada retake dalam ulangan mata pelajaran ini karena itu cuma hanya bikin anak makin alergi dengan pelajaran ini karena, “Susah”. 

Padahal, rasanya sih menurut akal dangkal saya, harusnya belajar agama itu dibuat mudah. Karena Tuhan pasti tidak ingin kita susah buat percaya bahwa Dia ada, lewat pemahaman agama. Apapun agamanya. Mosok untuk mengenal Dia adalah cinta, dibuat susah. Walaupun jatuh cinta juga bukan masalah mudah sih, tapi ya jangan dibuat susah juga, dong.

Atau mungkin harusnya saya mikirnya yang sederhana saja: bikin si bungsu mau belajar PAI supaya tidak pernah retake lagi. Dengan ancaman bahwa kalau dia tidak demikian, rapotnya jelek, dan dia tidak naik kelas.

Ish. 






Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts