Friday, May 20, 2011

BB = Buru-buru?

OK, akhirnya, setelah sekian lama saya menolak punya Blackberry, saya akhirnya mengalah.

Alasannya sederhana. Demi bisnis. Hehe…yeah. Dengan penuh kesadaran bahwa sebentar lagi label saya adalah ‘wiraswasta’ yang berarti harus lebih rajin mencari peluang, saya merasa sepertinya punya BB akan membantu saya melakukan itu. Mudah-mudahan. Aamiiinn.

Sekarang, sudah hampir 3 minggu saya punya benda itu. My verdict: what a helpful annoying little thing it is. Iya betul, helpful, tapi annoying juga.

Jelas helpful. Ada banyak urusan yang bisa selesai dengan cepat karena saya bisa mengontak orang-orang dengan cepat pula. Apalagi saya sekarang sudah teramat malas keluar rumah. BB membantu saya menyelesaikan banyak hal, bahkan sambil tiduran.

Annoying-nya karena, katanya smart phone tapi kok baterainya sama sekali tidak smart. Saya cinta sekali dengan Nokia saya karena baterainya yang tahan sampai 3 hari. Menggunakan BB yang mengharuskan saya men-charge tiap hari itu menyebalkan. Padahal saya sudah matikan benda itu selama jam tidur saya (yang pasti lebih panjang dari jam tidur teman-teman karena status pengangguran sekaligus ibu hamil ini..hehe).

Tunggu. Saya bikin tulisan ini bukan buat berkeluh kesah tentang BB. Resiko lah. Kalau mau punya sesuatu, ya tanggung saja semua resiko yang berkaitan dengan kepemilikan benda itu. As simple as that.

Saya cuma ingin cerita ngalor ngidul tentang perilaku pengguna BB.

Seperti orang lain, saya menggunakan fasilitas BBM, pastinya. Dan saya tetap memperlakukan message yang masuk seperti saya memperlakukan email dan SMS: saya balas kalau saya ada waktu. Seperti email dan SMS, saya tetap menganggap pesan di BBM itu bukan masalah hidup atau mati yang harus dijawab sesegera mungkin. Tapi yang sering membuat saya senyum-senyum sendiri, selalu ada saja balasan pesan ‘maaf ya tadi gue lagi…..’ kalau saya mengirimkan pesan dan tidak dibalas dengan cepat. Padahal saya juga tidak pernah berharap dibalas sesegera mungkin.

Saya jadi mikir. Jangan-jangan, BB ini melatih kita untuk berpikir dan berperilaku instan juga. Padahal, apa iya harus instan?. Kadang-kadang ada juga pesan yang masuk dan harus diolah dulu supaya bisa memberikan jawaban yang ajeg dan tidak ngalor ngidul. Tapi sepertinya, bunyi ‘tang’, atau ‘ting’, atau ‘tong’, atau ‘ping’ dari BB itu selalu saja membuat orang bereaksi langsung. Terburu-buru, atau merasa diburu-buru, untuk bereaksi.

Padahal, apa iya harus seperti itu?. Sudah cukup banyak rasanya hal-hal di dunia ini yang membuat kita merasa harus buru-buru. The heart of the matter is – apakah itu membuat hidup kita lebih berarti?.

Seperti tadi pagi, saya tersadarkan pada realita yang bikin miris. Saya dapat kiriman gambar lewat BBM yang membuat saya ketawa ngakak. Gambar yang kalau dilihat lama-lama, sebetulnya bikin kening berkerut.

Pasti kebanyakan teman-teman kenal baik dengan gambar ini. Yang sekian tahun kita selalu lihat di kaleng biscuit Khong Guan. Yang menggambarkan kehangatan dan kebersamaan keluarga.












Dengan sedikit pelesetan, lihat gambar itu sekarang. Saya ketawa miris melihatnya, karena memang itu yang sekarang sering terjadi di masyarakat kita: duduk bersama, tapi semua sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Entah untuk apa.

Mungkin kalau tidak selalu ada di tangan, tidak secepatnya menjawab apapun yang harus dijawab lewat si gadget itu, nanti kehilangan berita, atau kehilangan kontak, atau kehilangan peluang bisnis. Tapi kok ya tidak ada rasa takut untuk kehilangan kehangatan bersama orang-orang yang harusnya lebih kita eman-eman kalau kata orang Jawa, dibanding segala gadget itu.

Gadget, is gadget. Apapun yang dia bisa BANTU, dia tetaplah alat bantu. Tapi kenapa ya, meminjam kata-kata teman saya, kita rela sekali diperbudak para alat yang harusnya jadi pembantu kehidupan ini.

Hmmm….atau mungkin saya yang harus lebih membiasakan diri diperbudak si gadget itu ya. Tapi rasanya kok tidak sepadan ya. Rasanya sayang sekali hidup ini dihabiskan untuk semua yang serba buru-buru.

Jadi, mohon maaf kalau saya tidak selalu membalas pesan di BBM secepat kilat. Atau bahkan BB saya mati saat ada yang mengirimkan pesan, itu pasti saya sedang menikmati waktu tidur saya, mumpung masih bisa memiliki jam tidur yang panjang :-)


(R I R I)

Wednesday, May 4, 2011

Kosmetik, atau esensi?

Serba salah. Itu yang selalu saya rasakan kalau saya membuka koran, atau news websites di internet. Dibaca, bikin marah. Kalau saya tidak baca berita, saya akan ketinggalan banyak hal apalagi karena saya tidak nonton TV.

Seperti pagi ini. Sambil sarapan, saya buka Kompas yang sudah bertahun-tahun setia menemani keluarga kami di pagi hari. Berita Osama – OK, basi, sejak kemarin rasanya di internet sudah ramai. Buka halaman kedua, aaahhh berita-berita tentang penyusupan teroris dan sebangsanya bahkan di partai politik (membuat saya membatin lha yang teroris ini sebetulnya siapa sih: mereka yang menyinggung perasaan rakyat atau mereka yang suka membom kanan kiri?. Di mata saya sih sama saja anehnya dua-duanya…). Buka halaman berikut. Ngek. Mulai mendidih.

Kepala beritanya: Biaya Satu RUU Rp 8,47 Miliar. Dan di bawahnya ada sub-title: Anggaran Kunjungan ke Luar Negeri Naik.

OK, OK. Saya sering sekali akhir-akhir ini membaca status di FB yang kurang lebih bilang berhentilah menghujat orang lain, lihat diri sendiri dsb, dsb, dsb. All good. Dan saya tidak bermaksud menghujat siapa-siapa dengan tulisan ini (kalau merasa terhujat yaaaa…..alhamdulillah masih punya mata hati). Saya cuma gemmmeeeessss….dan cara satu-satunya mengurangi kegemesan saya adalah dengan membagi kegemesan itu ke orang lain lewat tulisan. Hehe…cara efektif untuk membuang kekesalan.

Saya baca badan berita ini. Isinya antara lain katanya, kenaikan anggaran untuk tahun depan itu untuk memungkinkan anggota DPR naik kelas Eksekutif, dan bukan kelas Bisnis. Karena sekarang ini biayanya adalah untuk kelas bisnis, sehingga sering tidak mencukupi untuk naik kelas Eksekutif sehingga para anggota dewan yang (apakah) terhormat itu harus nombok.

Hwarakadah. Kenapa harus kelas Eksekutif?. What’s wrong with business class?. Bukannya itu saja sudah perlakuan istimewa?. Bukannya business class itu juga sudah nyaman untuk long haul trips?. Apa mereka tidak ingat darimana anggaran itu didapat?.

Iiiihhhhh tuh kan bikin gemes.

Saya jadi ingat obrolan saya dengan bos saya di perusahaan multinasional terakhir yang saya singgahi untuk mencari uang. Kebetulan jabatannya adalah CEO Asia Pacific. Seorang perempuan. And one of the most humble women with a high flying career I’ve ever met in my entire working life. Selalu berpakaian sederhana, dengan kuncir rambutnya yang khas. Selalu menyapa semua orang dari office boy sampai Direktur kalau dia berkunjung ke kantor kami. Mau diajak makan di pinggir jalan. Sangat advonturir bahkan mau diajak naik Bajaj. Seorang yang to some extent, sangat tidak over conscious dengan jabatan yang dia bawa di pundaknya.

Waktu itu kami berdua harus menemui klien. Dan bos saya ini tetap dengan dandanan sederhananya: rok dan blus yang, kalau dilihat selintas, tidak akan memberikan tanda apa-apa kalau (1) dia adalah CEO Asia Pacific, dan (2) kami akan ketemu one of the most important clients – the head of the business. Dia tetap saja sederhana. Dan saya juga mengenakan pakaian yang sama saja kasualnya – lebih karena kebiasaan, dan kenyataan bahwa saya sudah lama sekali tidak pernah punya proper business suit.

Karena waktu itu saya baru saja di promosi menjadi pengelola perusahaan di Indonesia, ada rasa tidak enak juga dengan cara saya berpakaian. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, ini si ibu sebetulnya keberatan nggak sih saya berpakaian sesantai ini padahal saya bisa dibilang mewakili bisnis perusahaan di Indonesia, dan kita akan ketemu dengan klien yang penting.

Akhirnya daripada penasaran, saya bertanya, “I’ve worked in this company for 3 years now. And never even once I saw any of the heads of the businesses, in any meetings whether client or internal, wearing any business suits. Doesn’t it bother you?”. Sambil tersenyum dia menjawab, “Do consumers wear suits?. And I mean your grass root consumers, don’t talk about the high class ones. They don’t, do they?. And what’s our business? – understanding consumers. So if we really want to understand them well, if we want to know what they feel and experience, be like them. Even when we are in office. So we don’t lose sight of what’s important to our consumers, every single second in our working moments”.

Wow. Saya orang yang memang senang berbusana kasual – dan di company ini saya senang-senang saja bisa mengenakan jins setiap hari. Tapi saya tidak pernah sekalipun berpikir seperti si ibu CEO ini. Saya tidak pernah mengaitkan kebiasaan kasual kami itu dengan bisnis kami. Jawaban dia waktu itu membuat saya kaget juga. And it’s very true, di mata saya.

Lalu apa hubungannya dengan DPR tadi itu?.

Kalau dipikir-pikir, apa sih tugas mereka ya?. Kalau saya tidak salah sih, harusnya mereka mengusung suara rakyat. Iya bukan?. Lalu, apakah rakyat Indonesia banyak yang bisa melakukan perjalanan dengan kelas Eksekutif?. Yang bisa naik kelas bisnis saja sedikit, bukan?. Lalu apa memang iya amat sangat perlu untuk para anggota dewan itu meng-upgrade sedemikian rupa?.

Kalau mau dikembalikan ke logika ex-boss saya itu, bagaimana mau mendengarkan apalagi mengusung suara rakyat kalau yang dipikirkan adalah melulu fasilitas. Yang saya selalu bahasakan dengan kosmetik. Kenyamanan di perjalanan is one thing. Tapi bukannya dengan kelas bisnis itu tadi sudah dapat kenyamanan?.

Saya juga jadi ingat pembicaraan lain. Dengan Cip. Tentang BB – Blackberry bukan Bau Badan.

Buat saya BB adalah fungsi. Kalau tidak karena perubahan hidup yang menuntut saya untuk keep in touch with the world quickly, saya tidak akan pernah mau punya BB. Dan karena di otak saya adalah ‘fungsi’, saya jadi tidak terlalu peduli dengan model terbaru. Yang penting mana yang bisa cepat, tidak pernah ‘hang’, dengan harga yang tidak membuat saya jengkel kalau benda ini rusak.

Nah sementara, menurut Cip, punya BB kelak akan jadi marketing gimmick buat saya. Apa yang saya miliki, akan jadi simbol saya ini siapa. Saya sempat mengerenyitkan dahi. Saya bilang apa hubungannya, lha wong yang saya jual kan kemampuan otak saya, bukan apa yang saya punya dan pakai. Lagipula kalau saya ketemu dengan klien, saya juga tidak akan mengeluarkan BB saya, semua akan tersimpan manis dalam tas saya. Tapi Cip tetap berkeras bahwa itu ada nilainya. Dan rupanya dia mengaitkannya dengan nilai yang sekarang ada dalam masyarakat: siapa kamu, dinilai dari apa yang kamu punya dan kamu pakai.

Saya jadi ketawa. Akhirnya saya bilang, as long as otak saya masih bisa berpikir waras, saya masih bisa berkarya sebaik yang saya mampu, saya tidak peduli orang mau melihat saya bagaimana. It’s my brain that counts, and what I can do with my thoughts that will prove who I am. Tipe dan model BB yang saya punya akhirnya juga tidak akan mempengaruhi bagaimana otak saya bekerja toh. Akhirnya suami saya tercinta itu mengalah – walaupun terpaksa…hehe..

Membaca berita si DPR itu saya jadi senyum-senyum sendiri juga. Lha perjalanan ke luar negeri itu juga buat apa ya. Kosmetik – sekedar kelihatan ‘ada kerjaannya’, atau memang akan menyumbang sedemikian rupa kepada pembuatan segala undang-undang di negeri ini?. Lalu dengan kenaikan anggaran, dengan naik kelas eksekutif, apakah kinerja juga akan membaik?. Esensinya apa sih sebetulnya?.

Hmmmhhhh….mungkin semua ini cuma renungan ibu hamil kurang kerjaan. Tapi selama orang belum bisa memisahkan antara ‘kosmetik’ dengan esensi dari pekerjaannya, saya meragukan akan sampai dimana pencapaian banyak lembaga di negeri ini. Sayangnya kita tidak punya proses audit publik, yang mungkin bisa membangunkan para pejabat bahwa mereka punya tanggung jawab yang teramat besar.

Oh well. Just another silly thought of mine. Daripada gemes dan sebal sendirian…


(R I R I)

Thursday, April 28, 2011

Jika ada saatnya, sanggupkah kita mengubah gaya hidup?


Akhirnya saya nonton juga film ini, seperti biasa via DVD bajakan (aduh maaf sekali lagi Hollywooders – mau nonton yang resmi kok sudah keburu terganti dengan Suster Keramas 2…blame it on my government).

Awalnya saya ingin nonton ini karena memang saya selalu senang dengan topik berbau korporat – karena bisa digunakan untuk bahan pelajaran untuk TIDAK berperilaku seperti itu. Jujur saja rasanya ketidakpercayaan saya terhadap dunia korporasi sudah terlanjur mendarah daging, sejak saya kuliah. Dan semakin kuat begitu usia saya makin bertambah dan terjun langsung ke dunia ini.

Jadi begitu saya lihat judulnya, saya penasaran ingin tahu film ini cerita tentang apa. Plus lihat siapa pemainnya juga rasanya film ini harusnya lumayan tonton-able.

Cerita film ini berkisar pada 3 tokohnya: Bobby (Ben Affleck), Gene (Tommy Lee Jones) dan Phil (Chris Cooper) yang terkena downsizing di perusahaan tempat mereka bekerja saat Amerika terkena dampak krisis ekonomi. Bobby hidup dalam typical American dream: rumah besar di suburb, karir cemerlang, Porsche, keanggotaan eksklusif di golf club. Gene – salah satu dari pegawai pertama sekaligus pendiri perusahaan, sahabat dan tangan kanan dari CEO, yang pastinya tidak pernah mengira dia juga akan terkena dampak downsizing mengingat perjuangan hidupnya yang seiring dengan perjuangan perusahaan mencapai sukses. Sementara Phil adalah juga salah satu ‘orang lama’ yang juga berpikir karirnya tidak akan terancam setelah lebih dari 30 tahun mengabdi di perusahaan ini.

Tapi kenyataannya, apapun yang telah diberikan pegawai pada perusahaan, akan bermuara pada satu hal: angka. Saat angka terancam, maka pegawai adalah hal pertama yang dilihat untuk dikurangi. Performa kerja yang cemerlang, pengabdian puluhan tahun, bahkan pertemanan, jadi tidak berarti. Dan mereka bertiga terpuruk dalam kolam yang bernama pengangguran.

Yang paling ‘tenang’ tentunya adalah Gene – yang telah memiliki saham jutaan dolar karena ia adalah salah satu pendiri perusahaan. Dari ketiga tokoh ini, Gene adalah yang paling tidak terpengaruh dari segi gaya hidup.

Lain lagi Phil, yang akhirnya bunuh diri, karena frustrasi dengan kenyataan bahwa dia tidak dapat lagi membiayai sekolah anak-anaknya di universitas yang ternama.

Sementara Bobby yang sudah terbiasa dengan jas mahal, mengendarai Porsche, rumah besar, keanggotaan eksklusif, mencoba meneruskan hidup tapi cukup menderita dengan 'status' barunya itu. Dan di film ini, Bobby terlihat enggan meninggalkan gaya hidupnya walaupun sudah berbulan-bulan menganggur. Sampai akhirnya tiba cek gajinya yang terakhir, dan dia mau tidak mau harus bangun dari mimpi panjangnya that everything is going to be alright, karena nyatanya, everything sucks. Akhirnya dia harus melepaskan Porsche-nya, menjual rumah besarnya dan pindah ke rumah orang tuanya, dan akhirnya, harus rela bekerja dengan kakak iparnya.

Diperankan oleh Kevin Costner, si kakak ipar adalah seorang home builder. A self-employed man, bekerja bukan dengan jas keren, tapi dengan baju tukang, tangan dan tenaga, dimana tentunya keahlian ‘eksekutif’ Bobby tidak berlaku. Bobby akhirnya harus belajar untuk menurunkan harapannya sendiri, belajar untuk ‘bekerja kasar’ berurusan dengan paku, semen, pasir, papan dan batu, dan belajar untuk melepaskan dirinya dari kungkungan gaya hidupnya.

Menonton film ini, akhirnya yang saya pelajari adalah hati-hatilah dengan gaya hidup.

Tentunya seiring dengan kesejahteraan dan kemakmuran, gaya hidup kita akan berubah. Ada barang-barang atau kegiatan-kegiatan yang akhirnya kita konsumsi, atas nama kemakmuran dan alasan “Saya sudah bisa beli, jadi kenapa nggak?”. Dan tanpa kita sadar, kita biarkan diri kita terbelenggu hal-hal yang superficial itu.

Tapi menonton film ini jadi membuat saya bertanya, “Apa iya semua itu dibutuhkan?. Apa iya semua harus barang bermerek yang dibeli di mal dengan lantai mengkilap?. Lalu kalau sudah melakukan itu semua apa kemudian hidup jadi lebih bernilai?”. Hmmmm….kalau mau jujur banget sih, jawaban saya adalah tidak. Tapi kadang-kadang we just want to feel good about ourselves. Saya sendiri kadang begitu.

Saya pernah tanpa pikir panjang membeli sebuah tas dari Nine West. Padahal saya tidak pernah sebelumnya mau beli tas bermerek. Waktu itu saya beli karena dua alasan: saya sedang suntuk, dan saya merasa itu tadi, kan saya punya uang. Tapi seminggu sesudahnya, saya melihat tas itu dan bertanya pada diri sendiri, “Ngapain sih gue beli tas ini. Bentar lagi juga bosen. Lagian emang apa juga nilai tambahnya buat gue ya – kemana-mana juga gue dekil, mau pake tas apa juga gak ngaruh. Kenapa gue gak beli yang lebih murah aja ya”. Tapi yaaa….begitulah. Ada keinginan untuk menyenangkan diri sendiri, dan ada kesadaran bahwa ‘saya bisa beli’ itu tadi. Dua jebakan Batman yang paling berbahaya…

Tapi hal-hal remeh temeh itu sering sekali menggoda, kita sadari atau tidak. Dan, kita sadari atau tidak, itu terjadi berulang kali dan menjadi pola. Dan kalau sudah begitu, rasanya susah untuk dikatakan bahwa itu adalah ‘ketidaksengajaan’.

Padahal, seperti yang ditunjukkan di film ini, roda kehidupan akan bergulir. Adakalanya kita di atas, tapi akan ada saatnya kita di bawah. Nah, pada saat kita di bawah, sanggupkah kita mengalahkan ego diri sendiri untuk tidak terpaku pada hal-hal superficial seperti segala barang dan kegiatan ‘kosmetik’ itu, dan kembali pada kebersahajaan, kesederhanaan. Cause at the end of the day, kebaikan seorang manusia tidak pernah diukur dari mobilnya, bajunya, tasnya atau klubnya. Tapi dari bagaimana dia menyikapi hidupnya.

Ya mudah-mudahan kita tidak pernah harus menghadapi hal yang seberat Bobby – dengan catatan kita sekarang ini belum sebegitunya membiarkan diri terbelenggu pada hal-hal superficial tadi. Kalaupun sudah terlanjur, ya mudah-mudahan kita masih diberikan kekuatan untuk bisa kembali pada ‘ketiadaan’ dan menghadapi kesulitan dengan selalu berbesar hati. Bagaimanapun juga, rezeki Tuhan juga ada pada hal-hal kecil, yang sayangnya mungkin kita sering lupakan. Dalam dunia konsumtif sekarang ini, mungkin ada baiknya kita mulai makin menghargai hal-hal kecil, dan bukan cuma barang atau kegiatan yang kita bisa dapatkan atau nikmati dengan membelanjakan ratusan atau jutaan rupiah. Supaya saat kita ‘jatuh’, kita tidak kaget, dan masih mampu tersenyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak.


(R I R I)

Thursday, April 14, 2011

This feeling...that start of the journey...

Somehow, I knew this year is gonna be different.

I’ve hit my 40 – which felt great. Never thought hitting that age could make me felt so exhilarated. I didn’t expect it would actually give me so much energy to keep on going. Energy to do something different and new. Something that I never thought I’d ever have the courage to do.

But then life always offers some surprises. I turned around a bend and suddenly felt, eh, what was I doing here?. Why did I feel so awful about myself?. Why did I suddenly feel I haven't contributed much?. Why did I suddenly feel like a zombie, just moving along aimlessly and losing the grip to what I've always held dear in my heart: the passion to create something new no matter how little, every single day?. Where has that feeling gone?. Why did I feel trapped and suffocated?.

And one fine day, it dawned on me what happened and what I should do next. I can't and SHOULD NOT, stop here. I have to move on. I have my life ahead of me and I don't want to waste any single moment anymore. I have to make my dreams come true in the ways that I KNOW how.

So now, here I am. Looking at that long road ahead with a big smile on my face and a belief in my heart that though this road is going to be tough, I will make it to the end.That though this road is going to be bumpy, but at least I know I am behind the wheel, and I have co-drivers and crew that I can rely on. I am no longer a lone voice screaming to the wall. I am no longer a zombie moving along without a clear vision in front of me. I am, what I am again: wanting to see things happening, not wanting to stop at one point, not being easily satisfied and yet not too ambitious to reach for too many things. I want to live with passion and fire that keeps on burning.

I’m having a ball, don’t stop me now!



Don't Stop Me Now (Queen)

Tonight I'm gonna have myself a real good time
I feel alive and the world it's turning inside out Yeah!
I'm floating around in ecstasy
So don't stop me now don't stop me
'Cause I'm having a good time having a good time

I'm a shooting star leaping through the skies
Like a tiger defying the laws of gravity
I'm a racing car passing by like Lady Godiva
I'm gonna go go go
There's no stopping me

I'm burning through the skies Yeah!
Two hundred degrees
That's why they call me Mister Fahrenheit
I'm trav'ling at the speed of light
I wanna make a supersonic man of you

Don't stop me now I'm having such a good time
I'm having a ball don't stop me now
If you wanna have a good time just give me a call
Don't stop me now ('Cause I'm having a good time)
Don't stop me now (Yes I'm having a good time)
I don't want to stop at all

I'm a rocket ship on my way to Mars
On a collision course
I am a satellite I'm out of control
I am a sex machine ready to reload
Like an atom bomb about to
Oh oh oh oh oh explode

I'm burning through the skies Yeah!
Two hundred degrees
That's why they call me Mister Fahrenheit
I'm trav'ling at the speed of light
I wanna make a supersonic woman out of you

Don't stop me don't stop me don't stop me
Hey hey hey!
Don't stop me don't stop me
Ooh ooh ooh (I like it)
Don't stop me have a good time good time
Don't stop me don't stop me
Ooh ooh Alright
I'm burning through the skies Yeah!
Two hundred degrees
That's why they call me Mister Fahrenheit
I'm trav'ling at the speed of light
I wanna make a supersonic woman of you

Don't stop me now I'm having such a good time
I'm having a ball don't stop me now
If you wanna have a good time
Just give me a call
Don't stop me now ('Cause I'm having a good time)
Don't stop me now (Yes I'm having a good time)
I don't wanna stop at all

La la la la laaaa
La la la la
La la laa laa laa laaa
La la laa la la la la la laaa hey!!....


(R I R I)

Sunday, March 27, 2011

An outfit that fits – finding ways to self-renaissance

About two years ago, I met a friend who was transferred by her company to their office in France. I asked her why she wanted to go. And, she gave me a non- typical answer compared to what I have learned from my fellow Indonesians before (or perhaps I just haven’t talked to enough number of people!). Usually the answer I found was: wanting to learn more, wanting to know what it’s like to work with others with different cultural backgrounds, and wanting to earn more money than what he or she can make here.

This friend of mine, was different. She said, she’s become a big fish in a small pond, her outfit got too snug for her and it made her difficult to move. She wanted to again become a small fish in a big pond, wanted to feel again of what it was like to be afraid coming to office. These feelings she didn’t get anymore. She knew that anything she said or did would not create any criticism anymore, no one would challenge her, even if she was actually talking bullshit.

I was stunned. There she was, a person with enough self-humility to say that she NEEDED to feel afraid again. To me that was such an admirable self-awareness, a refusal to self-complacency, that I do not often find anymore. Many times if someone is already at a certain level – she or he will want to stay there, perhaps out of comfort, perhaps out of a feeling that the unknown is now too risky to explore, or perhaps it is just unthinkable to get out of that outfit.

I ask myself, will I be able to do so when my outfit gets too snug for me?. Not by going off to a place far away – but just to do something that is very challenging, or something that is totally new that it will require a lot of effort for me to ‘be known’ again. My friend did not go to a different industry – she will do what she does well here. But she will do it with a bunch of different people, from a different culture, in a foreign country. To me that required a lot of effort because there is a lot of uncertainty there to face and learn and adjust to.

Talking to her has certainly sparked my spirit to never stop challenging myself. Often we are bound too much to our current lives by our fears and worries, feeling that we would never be able to do something different. While if only we search ourselves hard enough, we actually have learned more than enough to make new steps. And at times, these steps do not have to be huge, little steps will do as long as we do not stop and be lazy to think of the next steps. Little steps, are what making big things evolve.

Well, self-renaissance is a continuous process, or so I believe. And I thank God that in my journey, I have found many intriguing people that have inspired me, and told me indirectly, that stopping is certainly not the way to go. There are more ponds to find, more outfits to try on, so why not – there are always ways to go back to where we were as long as we have enough self-humility to admit mistakes, and enough courage to continue walking.


(R I R I)

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts