Saturday, July 18, 2009

02:15 Dinihari, Starbucks Thamrin, dan Bom 17 Juli


Jam 2 dinihari. Hampir satu jam saya duduk di sini. Memilih sofa beludru hijau, tepat disamping jendela kaca yang menghadap perempatan Sarinah Thamrin, bersandar sofa rendah setengah telentang. Ini Starbucks. Tak penuh. Tak juga lengang.
Tepat di hadapan saya, empat orang muda-mudi Tionghoa sedang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun kecil-kecilan. Menyalakan lilin dari sebuah cake mungil berbungkus Bread Talk. Tepat disebelahnya 4 lelaki muda tenggelam dalam laptop, koran, dan lamunan. Dibalik punggung saya, ada beberapa kali letupan bahak-bahak tawa..
Sementara dinding Starbucks berdengung lembut oleh lagu-lagu Fleet Foxes. Vokal Robin Pecknold seperti melayang-layang di antara pucuk-pucuk pinus, dan bunyi genta gereja di pinggir desa-desa di Alaska.
Di beranda terbuka, separuh meja kosong. Tiga perempuan muda berpandangan kosong, menekuni permainan kartu mereka. Sementara kursi-kursi lain terisi oleh percakapan santai tanpa masalah, seakan ledakan besar tadi pagi tak pernah terjadi.
Ya. Jakarta di bom lagi. Anda semua tahu ceritanya.
Tadi saat memesan Iced CafĂ© Late, si barista berbisik pada temannya: “Eh gila, langsung ngaruh ya! Sepi nggak sih, rasanya?”. Buat saya ini hiruk-pikuk. Ada sekitar 40-an orang di Starbucks Thamrin dini hari: hidup, sibuk, dan cuek. Seperti layaknya Jakarta sehari-hari..
Semula saya mengharapkan deretan mimpi kecil Amerika – Burger King, Starbucks, Pizza Hut, dan McDo – di bilangan Thamrin yang menyala hampir sepanjang 24 jam ini akan lengang. Sewajarnya, orang waspada dengan bahaya menyusul ledakan. Yang saya lihat adalah pemandangan ganjil. Untuk standar orang rumahan seperti saya, ini menyerupai pasar malam kecil.
In a way, saya amat bersyukur dengan keganjilan ini. Sebagian orang Jakarta, mungkin sebagian besar, meneruskan hidupnya seperti biasa, bahkan setelah tragedi yang biaya ekonomi dan psikologisnya belum bisa kita perkirakan ini. Mengunjungi tempat ini dinihari, saya ingin menyaksikan sendiri: apakah orang bereaksi, atau melakukan perlawanan? Apakah tempat-tempat berbau Barat ini akan dihindari atau tetap dihampiri?
[…]
Baru beberapa jam sebelumnya, saya menceritakan pada seorang teman, betapa saya mengagumi daya perlawanan komunitas Muslim Sarajevo sepanjang perang Balkan di tahun 90-an. Terutama dalam menghadapai bertahun-tahun kepungan dan pembunuhan brutal dari separatis Serbia. Dalam hujan mortir, kelaparan, dan desingan platina panas yang dibidikkan oleh sniper dari perbukitan, orang mencoba hidup seperti biasa.
Salah satu perlawanan terbesar, muncul dalam bentuk yang paling ganjil. Bukan bambu runcing, bukan mobilisasi massa atau sabotase militer. Tapi kontes kecantikan, dalam tajuk “Miss Sarajevo,” yang dilakukan di sebuah basement, dan direkam secara amatir untuk dipertontonkan ke seluruh dunia. Sebuah pernyataan bahwa Sarajevo tak akan jatuh bahkan jika seluruh Tank Serbia dikerahkan untuk membuatnya luluh lantak. Kontes ini diselenggarakan pada tahun 1993, tahun-tahun paling gelap dalam sejarah Eropa pasca perang Dunia II. Ketika genocida di halaman rumah mereka sendiri, dibiarkan berlangsung begitu saja..

Melawan bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan banyak cara. Spanduk "Dont Let Them Kill Us!", ditengah-tengah kontes kecantikan di Sarajvo (1993)

Dua tahun kemudian, U2 – band Irlandia itu – mengabadikan peristiwa tentang kekuatan jiwa manusia ini dalam lagu yang sama: “Miss Sarajevo”. Sejujurnya, salah satu komposisi paling indah yang pernah dibuat oleh Bono dan teman-temannya.

Dan Anda semua tahu. Sarajevo tak pernah jatuh. Berdiri di atas bahu belasan ribu penduduknya yang melawan dan terbunuh. Bangkit kembali seperti phoenix dalam legenda-legenda Cina. Dan pelahan lahir kembali menjadi kota penuh pesona di Eropa Timur.

[…]

Starbucks dini hari, bom di Mariott dan Ritz, dan Miss Sarajevo. Tragedi adalah satu hal. Entah mengapa, ada yang memimpikan negeri ini terperosok ke dalam kegelapan. Tapi ada hal lain yang lebih penting. Dan ini tentang kita. Tentang semangat. Orang-orang kebanyakan seperti saya dan teman-teman mungkin punya satu tugas saja. Tetap memancarkan hidup, tetap berjalan, tetap berusaha bahagia dan sebisa mungkin berbagi kebahagiaan. Saya memilih hal yang paling tidak penting, dengan duduk-duduk cuek di Starbucks Thamrin.

Stay strong, Jakarta! I Love You!

(CIP)

Tuesday, July 14, 2009

Di Balik Kemenangan SBY – Cerita kecil tentang seorang pendukung SBY di Pamekasan

“Nanti ayo makan siang disini, saya bikin soto Madura buat merayakan kemenangan SBY”

Kami sedang berada di rumah Ibu Soraya, seorang pengrajin batik yang cukup tersohor di Pamekasan, Madura. Ajakan beliau ini sangat menggiurkan, karena tepat di saat perut kami sudah keroncongan setelah hampir dua jam memanjakan mata (dan menguras dompet), menikmati berbagai corak batik Pamekasan. Selama dua jam itu pula kami sudah berbincang-bincang panjang lebar dengan janda beranak satu, yang lima tahun lalu memutuskan cerai dari suaminya.






Alasan beliau membuat semacam syukuran untuk kemenangan SBY cukup mengilik rasa ingin tahu kami. Suami saya spontan berkomentar, “Iya ya Bu, kabarnya orang-orang Jawa Timur bangga ya SBY dan Boediono yang menang Pemilu, kan dua-duanya orang Jawa Timur”.

Ibu pengrajin batik yang sudah membatik sejak berusia 8 tahun, serta mulai berbisnis dengan serius sejak ia kuliah di IKIP Malang dan berhasil membiayai kuliahnya sampai selesai dengan hasil penjualan batiknya, lalu menggulirkan sebuah cerita menarik.

Beliau rupanya seorang ‘die hard’ SBY supporter. Ia sangat percaya dengan program-program presiden yang terpilih kembali ini. Apalagi yang berkaitan dengan rakyat kecil. Dalam melakukan bisnis batiknya, Ibu Soraya banyak bergaul dengan wong cilik di desa-desa tempat pengrajin-pengrajinnya tinggal. Dari sinilah ia melihat, program-program seperti BLT dan Askeskin sangat besar artinya bagi mereka. Dan ia sangat ingin semuanya tetap berjalan. Satu-satunya cara supaya itu terwujud, adalah jika SBY jadi presiden lagi.


Tapi rupanya, beberapa saat sebelum Pemilu, teman-temannya mengatakan padanya supaya menemui tim sukses JK dan Wiranto. Alasannya, “Kamu kan orang Arab, masa mau milih yang istrinya nggak pakai jilbab?”. Memang terlihat jelas jejak-jejak Arab di wajah ibu yang berkulit gelap ini. Belakangan baru saya mengetahui bahwa Ibu Soraya ini keturunan Yaman dan Cina. Kakeknya yang berasal dari Yaman suatu hari memutuskan untuk meninggalkan tanah Yaman untuk berdagang ke Indonesia. Dan ketika singgah di Cina, beliau menikahi seorang perempuan Cina untuk kemudian dibawa ke Indonesia dan menetap di Madura.

Ibu Soraya menolak mentah-mentah untuk mendukung JK dan Wiranto, dan dia utarakan ketidaksetujuannya dengan kata-kata yang bisa jadi membuat panas kuping orang-orang tertentu,
“Pelacur saja pakai jilbab, terus kenapa saya harus pilih yang berjilbab, belum tentu juga bersih kan?” (terus terang saya setuju sekali pada pendapat si ibu ini. Saya juga sangat ingin bilang, apa juga ya bu hubungannya ibu yang keturunan Arab, dengan harus pilih yang istrinya berjilbab).

Ibu Soraya sadar ia punya potensi untuk menjadi tim sukses SBY. Beliau mempunyai hubungan erat dengan puluhan pengrajin batik binaannya di 13 desa sekitar Pamekasan. Ini, menurutnya, adalah salah satu modal untuk bisa ikut menyukseskan Pemilu. Ibu Soraya lalu menemui tim sukses SBY – Boediono. Ia berani menjanjikan bahwa para pengrajinnya, dan juga tiap desa dimana para pengrajin tinggal, akan memilih SBY.


Caranya, katanya, mudah saja. Dia tinggal bilang pada para pengrajin, kalau desa mereka tidak memenangkan SBY, maka tidak akan ada lagi pesanan batik darinya. Wah, siapa yang tidak takut diancam begitu ya, apalagi di desa. Luar biasa juga si ibu ini, begitu batin saya sambil meneguk teh manis. Perut keroncongan terpaksa menunggu si soto Madura, sampai ibu Soraya menuntaskan ceritanya.

Lalu si ibu ini meminta 1500 kaos, 1500 baliho, dan 1500 stiker pada tim sukses SBY – Boediono. Tentunya para pengelola tim sukses berpikir dia akan memberikan ini kepada para pengrajin binaannya. Ternyata, ibu Soraya malah mengatakan rugi kalau semua diberikan hanya pada pengrajin yang kebanyakan adalah ibu-ibu dan sibuk menyelesaikan batiknya di rumah masing-masing. Lalu untuk apa dong kaos, baliho dan stiker sebanyak itu?.

Segera setelah ia mendapatkan barang-barang yang diminta, ibu Soraya memanggil sebanyak mungkin tukang becak di Pamekasan. Ia kumpulkan mereka di rumahnya. Lalu, kampanye informal dimulai. BLT, Raskin, Askeskin diusung sebagai tema utama.

Selesai beliau berkampanye, ia tegaskan bahwa para tukang becak harus memilih SBY. Tidak hanya mereka, tapi juga keluarga dan teman. Ini penting, agar di daerah mereka tinggal, SBY menang. Kalau tidak, segala bantuan yang sudah biasa mereka terima akan berhenti. Untuk membuktikan ancamannya, si ibu tidak lupa menelepon ketua tim sukses SBY. Fungsi speaker phone diaktifkan, supaya semua tukang becak bisa mendengar kata-kata ketua tim sukses, “Kalau tidak sampai hasil 50% di daerah sampeyan, ‘tak bilang ke pusat nanti biar bantuan Askeskin nggak sampai ke daerah sampeyan lagi”.

Tentunya tidak ada satupun dari si tukang becak ini yang ingin kehilangan itu. Berjanjilah mereka pada Ibu Soraya bahwa mereka, dan juga teman dan keluarga pasti memilih SBY. Setelah itu dibagikanlah kaos, baliho dan stiker – dan mereka harus berjanji pada ibu Soraya bahwa mereka akan menyebarkan baliho-baliho dan stiker-stiker itu. Dan tidak ada yang berani mangkir dari janjinya, karena si ibu ini hampir setiap hari mengecek apakah baliho dan stiker memang sudah tersebar. Dan mengingat Pamekasan dengan luas 792km2 bukan tempat yang besar, agaknya juga tidak sulit untuk mendeteksi kebenaran janji para tukang becak itu dengan meluangkan sedikit waktu berkeliling kota.

Pertemuan sekaligus kampanye non-formal ini ditutup ibu Soraya dengan berfoto dengan para tukang becak, dengan dua jari teracung atas perintahnya.

Kami tidak bertanya apakah setelah penyontrengan tanggal 8 Juli, ibu Soraya mengecek berapa persen perolehan suara untuk SBY di tiap desa pengrajinnya, atau desa-desa tempat para tukang becak tinggal. Tapi begitu tahu bahwa SBY memenangkan Pemilu kali ini dengan telak, si ibu merasa sudah sepantasnya ia mengadakan syukuran atas kemenangan itu. Dan ia senang telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mendukung kemenangan sang orang pilihan.

Saya tidak tahu berapa persen peran Ibu Soraya terhadap kemenangan SBY di Pamekasan. Yang jelas, saya bayangkan kalau di tiap kabupaten ada 10 orang Ibu Soraya, itu suatu kekuatan politik yang rasanya patut diperhitungkan. Apa yang diceritakan ibu Soraya ini persis seperti jaringan MLM, yang jika sudah terbentuk, bisa jadi jaringan yang sangat rapat dan kuat.

Dan sebagai pemilih perempuan, komitmen ibu Soraya pada pilihannya juga patut diperhitungkan. Apalagi mengingat bahwa ibu Soraya merasa selama pemerintahan SBY, bisnis yang ia jalankan makin berkembang. Dan sekarang dengan adanya jembatan Suramadu, omset bisnisnya yang dulu hanya sekitar Rp 1 – 3 juta sehari, sekarang bisa mencapai Rp 8 – 10 juta sehari. Sebagai single parent, yang akibat perceraiannya lima tahun yang lalu harus kehilangan sebagian besar hasil bisnis batiknya, tentunya pelonjakan angka yang demikian amat berarti.

Bayangkan kalau kemudian ia menularkan kepercayaannya pada pemerintah ini kepada pengrajin batik di 13 desa binaannya, dengan paling tidak 20 perempuan di tiap desa. Tentunya itu bisa jadi jejaring kekuatan perempuan yang luar biasa.

Ah yang jelas, saya sih tidak terlalu memikirkan politik waktu mendengarkan cerita Ibu ini. Saya menikmati ceritanya sebagai intermezzo dalam liburan kami. Saya menikmati semangatnya, mengagumi kesumringahan wajahnya bahkan pada saat ia menceritakan sekelumit kisah perceraiannya. Saya mengagumi karya-karyanya yang tertoreh di bermeter-meter kain panjang. Sambil berharap saya punya kekuatan karya dan keuletan beliau. Dan tentunya juga, saya sangat menikmati soto buatannya yang enak sekaligus unik.


Soto Madura buatan Ibu Soraya - belum pernah sebelumnya saya menemukan soto semacam ini


Kain-kain panjang batik Pamekasan yang terpajang di showroom Ibu Soraya di rumahnya - yang saya jamin tidak mudah ditemukan di tanah Jawa. Ibu Soraya yang mendisain semua batik untuk kemudian ditulis oleh para pengrajinnya, dan beliau pula yang mengontrol proses pewarnaan. Suatu bentuk ekspresi kecintaan beliau pada warisan budaya luhur negeri ini


Ketika akhirnya kami bisa menikmati soto buatan Ibu Soraya, sambil makan, dalam hati saya membatin. Moga-moga kepercayaan Ibu Soraya pada presiden yang terpilih kembali ini, tidak sia-sia. Semoga.

Sunday, July 12, 2009

In other words: save yourselves

Have you ever sat at the seats right by the emergency exits of a plane?. I have, several times. But never did I get an experience like what I witnessed on our flight back home from Surabaya.

We sat right behind the seats by one of the emergency windows. My husband was already busy reading, and I was just busy covering myself with my shawl. Then, a commotion happened.

A couple just walked in, and apparently, they were supposed to sit on the two seats left by the emergency exits in front of us. The stewardess, rather than letting them sat on their seats, asked my husband and a man beside him to switch seats with this couple. The reason: a woman is not supposed to seat by these exits. At that point I thought, how thoughtful (though I also wondered, didn’t the person at the check-in counter know about this rule and hence, should have not given these seats to any woman at all?. Anyway…this is Indonesia, anything can, or cannot, happen).

Without arguing, my husband and the man beside him switched seats. And about 2 minutes after they were seated, the same stewardess came and briefed them about: how to open the windows (“There is ‘that’ handle to pull and then push so it can open”), what signs to watch for before the windows can be opened (“Watch out for any signs of fire, smoke, no obstructions in front of it, and make sure it is safe to open”), there are slides outside the windows (“There are slides outside the window that will automatically inflate in emergency situation once the windows are opened”), where their life vests are located (“Your life vests are under your seat, make sure you know how it works, and only inflate it once you are out of the windows”), how to get out of the window (“Get one of your feet out first then your head”), and finally, a safety information card to read (“There is a safety information card in front of you, please read it carefully”). All that, in less than three minutes, then she walked away.

I watched her, and watched the expression of a man sitting by the emergency window on the other side. During all her talks, that man’s expression grew from: staring at her, then his forehead formed some curves, and more and more and more curves until she finished and his lips began to form an ugly inverted U curve.

I was not sure what he was thinking (and I did not dare asking, he looked very angry, or maybe he was actually very worried…not sure). But, I personally thought, OK, all that in three minutes and you think you are off the hook if anything happens, lady?. Even if the stewardess has to brief passengers sitting by the emergency exits, I don’t think a less than three minutes briefing will help anyone to remember what he has to do, especially in emergency situations (and mind you, no Q&A after the brief briefing, meaning, no checking if these 6 clueless men actually understood all that she said, pity them with the heavy burden on their shoulders). As for me, once she finished and walked away, I prayed, even harder than usual (cause I actually hate flying), that nothing would happen to our flight.

For the sake of my safety in the face of law, to not be seen as tainting one’s image (if you do not live in Indonesia, it is a trend nowadays to sue anyone saying anything on public media that can be perceived to damage one’s image – a person or company), I will not tell you which airline it was. But, maybe you must make sure you do this from now on if you are a male: ask when you check in if you are seated by any emergency exits, or you will suffer the less than 3 minutes briefing, if the airline has the same procedure like the one we were in (you never know what rule an airline has – surely each has their own peculiarities). You would not want unnecessary stress ruin your flight, either, would you? (unless you are an addict for agony).

Enjoy your flights.


(RIRI)

Wednesday, July 8, 2009

Pak Noe'man, Kaligrafi Kufi, dan Rumah Yang Penuh Cinta

Riri, pacar saya, suka menanyakan dua hal dengan dekorasi di rumah mungil kami. How come tidak ada satupun foto kami terpajang di dinding rumah? Itu yang pertama. Dan kedua, apa yang akan dibilang Mama-nya, ibu mertua saya, jika mendapati tak satupun ornamen yang menggambarkan identitas Islam -- kaligrafi atau sejenisnya -- menghiasi rumah kami.

Yang pertama saya tak ambil pusing. Dari dulu, kami memang tak punya kebiasaan memajang foto. Kecuali belakangan. Itu pun di facebook. Lain hal-nya dengan yang kedua. Ada masa-masa dimana saya juga sangat ingin menonjolkan Islam sebagai identitas. Terutama sekarang. Saat kami punya rumah sendiri. Sayangnya setelah semua perburuan, tidak ada satupun yang benar-benar sreg. Semua dekorasi yang kami temukan, memiliki referensi visual pada masa lalu.

Sampai akhirnya, minggu malam kemarin ketika kami tak sengaja menemukan sepasang cetakan kaligrafi dengan corak Khat Kufi dalam sebuah cuci gudang. Kufi, adalah salah satu gaya font tertua dalam penulisan kaligrafi Arab. Lekukan-nya bercorak kotak-kotak kaku..

Ada hal lain -- selain karena desainnya yang kontemporer -- yang membuat saya serta-merta jatuh hati pada kaligrafi ini. Ialah saat saya mengenali bubuhan tanda tangan asli, berwarna keperakan di bagian kanan bawah-nya: Achmad Noe’man, 2006. Kaligrafi dengan langgam geometris, simetris, dan minimal ini ternyata adalah buah tangan dari dosen arsitek di kampus saya dulu, ITB.

Kaligrafi rancangan Pak Noe'man, bertuliskan Arrahmaan dan Arrahiim, Maha Pengasih dan Penyayang. Font dicetak menggunakan langgam Kufi..

Selain mengajar, dan mendorong diskusi-diskusi mengenai arsitektur dan seni Islam, sendirinya Pak Noe’man adalah juga arsitek projek-projek besar seperti Masjid At-Tien (Taman Mini) – dimana beliau harus berhadapan dengan tradisi tanam kepala kerbau ala orang Jawa pada peletakan batu pertamanya – dan Al-Markaz Al-Islami (Makassar), yang menjadi penanda kebangunan kesadaran Muslim di Indonesia Timur. Keduanya, walau besar, bukan favorit saya. Terutama karena sosoknya yang massif. Buat saya, keduanya lebih menyerupai benteng, daripada masjid.

Menurut saya, keduanya kurang sebanding dengan mahakarya beliau semasa muda: Masjid Salman ITB. Dibangun pada tahun 1964, masjid Salman memiliki kubah terbalik dan aplikasi modern minimalis yang radikal.Dulu, kakak-kakak senior saya suka mengulang-ulang cerita tentang kubah terbalik Masjid Salman ITB. Inti dari kubah terbalik ini, tepatnya menyerupai wajan segiempat, menggambarkan daya tampung, kesediaan untuk menerima, dan keluasan untuk mewadahi. Layaknya semangat asli masjid, yang bersedia menerima siapapun yang merindukan Tuhan-nya atau membutuhkan pengampunan, apa-pun mazhab keagamaan, aliansi spiritual, maupun ideologi-nya.Menurut saya, ini juga menggambarkan sifat asli Islam: terbuka, open-minded, dan merayakan perbedaan atau pluralisme.

Masjid Salman ITB (1964). Muda, modern, romantis, reformis..

Pak Noe’man, seorang penikmat fanatik jazz, pendiri radio legendaris KLCBS, juga beberapa kali memenangi kontes kaligrafi internasional. Antara lain kontes internasional kaligrafi Kufi di Istanbul tahun 2001. Beliau juga merancang Masjid Istiqlal di Bosnia-Hercegovina (2002). Hadiah masyarakat muslim Indonesia untuk Bosnia pasca perang. Istiqlal sendiri artinya adalah Kemerdekaan.

Masjid Istiqlal di Sarajevo, Bosnia (2002). Bingkisan Muslim Indonesia, untuk Bosnia pasca perang. Rancangan Pak Noe'man melalui Birano - Biro Arsitektur Achmad Noe'man.

Terakhir, Saya juga jatuh cinta pada poster print ini karena pasangan tulisan kaligrafi “Ar-rahman” dan “Ar-rahim”. Menurut ortodoksi Islam, keduanya adalah sifat paling penting dari Tuhan yang diterjemahkan secara terbatas, sekaligus membatasi, menjadi “Pengasih” dan “Penyayang”. Saya membayangkan keluasan konsep kedua kata ini dalam bahasa asli-nya – Rahmaan dan Rahiim – melampaui segala yang bisa dijelaskan dengan terjemahan “kasih-sayang”.

Tapi apa pun terjemahannya, kedua sifat inilah yang pada dasarnya menjadi daya hidup dan penggerak bagi kehidupan. Itulah mengapa setiap Muslim disarankan memulai tindakan baik-nya dengan “Bismillahirahmaanirahiim..” atau ‘bersama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Itu semacam pengingat bagi tiap Muslim, bahwa apa pun tindakan mereka, pada akhirnya harus bermuara pada kasih sayang dan kebaikan..

Jadi selain identitas, dua kaligrafi ini adalah semacam doa juga. Kurang lebih berbunyi: semoga – lebih dari sekedar kecukupan ilmu, kesehatan, dan materi – rumah dan keluarga kami juga berkelimpahan dengan kasih sayang. Meminjam kata-kata teman saya: semoga rumah ini sanggup menghirup cinta untuk bisa menghembuskan pelayanan dan kebaikan hati.

Demikan pula doa saya bagi teman-teman semua. Bagi rumah baru atau lama, rumah kontrakan, kamar, kost-kostan, atau apartemen Anda. Amin..

(Ciptadi, maghrib, hari pemilu presiden, 8 Jul 2009)

Tuesday, June 30, 2009

Looking at you.....

Before there was you
I never thought a feeling like this
Would be able to entrap me

Before there was you
I thought it was silly to cry
Over a blurry image on the screen of the USG machine
A scene that I often saw in the movies

Before there was you
I thought I was a strong woman
Strong enough to think that even if I had to be alone
I would still be able to make it on my own

And now
Every time I look at you I think….
I was stupid
Stupid to think that I would be able to resist your temptation

When I look at you
I see God’s great love to me
For you have brought me into Cloud 9
Every time you look me in the eyes

Looking at you
Now I understand why I have to be strong
Because you need the strength
So you can grow into a strong woman, too, when the time comes

Looking at you
Puts sense in everything that I do
Even when we were being two silly people doing non-sense
But with you, there is always a good sense in everything

(even when Mommy stays at home writing this silly poem when you are not around…I know there is a sense in doing this….)

Thank you God
For granting me the chance to feel like this




RIRI

Tuesday, June 23, 2009

Ucapan indah di hari yang indah.....

Saya hanya ingin berbagi sebuah ucapan yang, menurut saya, indah dan amat bermakna...

Simpul tali perkawinan itu sangat kuat sehingga dibutuhkan dua orang untuk mengikatnya. Selamat hari ulang tahun perkawinan, semoga menjadi pasangan yang kuat dan saling menguatkan. Laksana dua pohon yang akan berbuah manis ketika keduanya saling menyerbuki dan tumbuh bersama...


Saya dapatkan ini dari salah satu anggota keluarga besar kami yang sudah menikah selama 14 tahun. Sembari mengucapkan terima kasih, saya katakan padanya lewat SMS bahwa ucapannya sangat menyentuh dan bermakna. Jawaban yang ia berikan kemudian, membuat saya makin sadar bahwa perjalanan ini baru sepenggal kecil dari sederetan kerja keras yang harus kami berdua lakukan...


Kata-kata itu muncul di benakku setelah akupun sekian lama berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga simpul itu, agar selain kuat, juga indah...



How true...bahwa bagaimanapun juga, perkawinan adalah kerja sepanjang hidup. Yang jika dimaknai dengan baik, ini adalah suatu kerja yang tidak hanya mulia, tapi juga, mengayakan batin.

Kami baru menjalani setengah dari apa yang sudah dijalani oleh saudara saya ini. Belum apa-apa. Semoga kami tetap bisa menjaga kekuatan simpul kami, dan membuatnya semakin indah, dengan segala usaha.

Dan doa saya pula untuk semua teman-teman yang telah menikah dan sedang menapaki perjalanan yang sama. Semoga teman-teman dikaruniai simpul-simpul yang erat, yang tak lekang oleh terpaan badai, diwarnai oleh pelangi cinta, dan dimaknai oleh pengalaman batin dua manusia. Amin.


RIRI

Monday, May 25, 2009

Pertanyaan kecil tentang kematian di suatu siang

Hari Jumat yang lalu, saya ajak Tara berenang. Ini permulaan dari janji saya kepada diri sendiri bahwa selama saya tidak bekerja, Tara harus makin mahir berenang dengan ajaran saya sendiri.

Karena kami sudah dua malam menginap di rumah kedua kami di BSD, pilihan tempat berenang kami jatuh pada Ocean Park. Tiba disana, sudah ada antrian panjang untuk membeli tiket. Lalu saya mintalah pengasuh Tara untuk mengantri, sementara saya menemani Tara.

Dekat dengan kami, ada sebuah televisi. Kebetulan sekali, sedang ada ulasan tentang kecelakaan pesawat Hercules beberapa hari sebelumnya. Kebetulan pula, sedang disorot sebuah keluarga yang sedang menangis di hadapan sebuah peti mati.

Tara lalu bertanya pada saya, tanpa mengalihkan pandangannya dari TV, "Bunda, kenapa sih mereka nangis". Saya jawab, "Karena ada yang meninggal sayang". Tara spontan melihat kepada saya dan bertanya lagi, "Kenapa kalau ada yang meninggal, mereka nangis?".

Hmmm....saya sempat terdiam sebentar, iya ya, kenapa.

Pertanyaan Tara yang polos itu mengusik hati saya sedikit. Kalau dipikir-pikir, apakah setiap kehilangan memang harus ditangisi. Kadang, kalau saya berpikir tentang Papa, Datuk (kakek), nenek saya, dan beberapa om atau tante saya yang sudah tiada, kemudian saya melihat kehidupan saat ini, saya sering mengucap syukur bahwa mereka tidak harus melihat apa yang terjadi saat ini. Mereka tidak harus melihat betapa republik ini semakin tidak menentu - sementara mereka berjuang demi kemerdekaan tanah air yang sekarang kita injak-injak dengan segala perilaku yang tidak pantas: korupsi, ketidak sopanan terhadap sesama, 'dingin'nya hati terhadap penderitaan sesama...itu hanya beberapa hal yang sering kita temui di berita-berita.

Suami saya pernah berkata - harusnya, kematian adalah sesuatu yang dirayakan dengan suka hati. Karena, yang sudah tiada, sudah melanjutkan perjalanan mereka. Sementara kita, masih disini, masih merayap, mencoba mencakar-cakar sedikit demi sedikit sisa kebaikan dalam hidup, dan berharap perjalanan kita kelak akan menjadi lebih baik, dibandingkan hidup kita sekarang.

Jadi, harusnya, kita menangis karena diri kita sendiri, bukankah begitu?. Karena kita tidak tahu, dan mungkin tidak pernah tahu, apakah kita siap untuk menghadapi perjalanan itu kelak. Sementara yang meninggalkan kita, sudah tahu apa yang ia harus hadapi. Sudah pupus satu pertanyaan terbesarnya, "Akan seperti apakah kelak dunia kematian itu?".

Kembali ke pertanyaan Tara, akhirnya saya jawab, "Karena, mereka tidak bisa ketemu lagi dengan yang sudah meninggal itu, selama-lamanya". Tarapun terdiam, dan kemudian asyik memperhatikan anak-anak lain dan lupa dengan perbincangan kami.

Saya tidak tahu, kapan saya bisa menjelaskan pada Tara kenapa kita harus menangisi kematian, dengan menggunakan logika seperti yang saya utarakan di atas. Tapi yang jelas, satu hari nanti, rasanya ia harus bisa melihat kematian dengan perspektif yang berbeda - bahwa kehilangan seseorang selama-lamanya tidak berarti buruk, dan bahwa ia harusnya berbahagia bahwa orang itu telah melanjutkan perjalanan. Dan kelak ia harus bersiap diri pula untuk melanjutkan perjalanannya.

Masih di hari yang sama, malam harinya, saat saya sudah lupa apa yang ia tanyakan siang itu, Tara bertanya lagi, "Bunda, kalau gitu, nanti kalau bunda meninggal, Tara nggak bisa lagi dong ketemu sama bunda, selama-lamanya". Saya hanya membelai kepalanya, dan berkata, "Iya sayang. Kalau ada hidup ya ada mati, itu aja".

Ah anak kecilku...Bunda tidak tahu apakah kamu akan menangis semalaman kelak kalau Bunda dipanggil sebelum kamu oleh Yang Maha Memiliki, seperti saat Bunda kehilangan Opamu. Sulit memang untuk tidak menangisi kepergian seseorang. Tapi satu hari, kamu mudah-mudahan akan tahu, bahwa kepergian juga membawa kebahagiaan, dengan caranya sendiri.

(RIRI)


Pada akhirnya, kematian hanyalah sebuah istirahat yang panjang...

Pippi Longstocking – a liberating role model


I grew up with great books from Enid Blyton, the stories of Laura Ingalls, and the comics of Tintin. Those were the regulars that I got. But one day my father bought me a different book, about a little girl with carrot coloured hair wearing non-matching stockings, Pippi Longstocking. The original of Pippi was Pippi Langstrump, written by a Swedish writer Astrid Lindgren – who apparently created Pippi to amuse her daughter who was ill and bedridden.

And from that first encounter, as a character Pippi stays with me until now. Apart from her carrot coloured hair which is always on two protruding pony tails on each side of her head, and her un-matching stockings, I also love the way she behaves. She practically does whatever she wants. She lives alone in Villekula Cottage with a horse (which she can easily lift with one hand) and Mr. Nilsson, her monkey. She has lots and lots of adventure, which she shares with 2 other kids – Thomas and Annika (it was assumed that Annika was actually a reflection of Astrid’s own daugher, Karin Lindgren).

Pippi is such an extraordinary girl, having wild thoughts – or perhaps to us adults they are wild thoughts while I think they are what every kids are actually dreaming of (when we adults do not stop them all the time). Pippi loves cooking for her friends, gives away her treasure to other kids when she goes shopping – she has a trunk full of golden coins. She does not go to school – because she thinks learning too much is not good for a kid (some truth in that, too!). She cannot count properly, but she can solve any problem, in a cute ‘kid’ kind of thinking.

She has travelled the world – on a huge ship with her father (a sailor who then becomes a king of a remote island). She has even been to Jakarta and Kalimantan! – I felt exhilirated reading it, imagine, these books were created on 1944!. And Pippi has a very interesting way to describe what life was like at those places that she has visited. For instance, she said in Egypt everyone walks backwards, in India people walk with their hands and their feet up in the air. Of course much of what is in the story book was imagination, but these stories were stuck in my mind and made me wanted to know those places even more.

After years of first reading these books as a child, about a year ago I was thrilled to have found a Pippi movie DVD. I bought it and watched it with my daughter, and she instantly loved this Pippi character which she described as, “Looks naughty but kind hearted, and I like the horse”. And last month I again re-read the three series of Pippi.

Watching the movie and reading the books again as an adult, I can’t help thinking how much I have lost that ability to imagine things, to be ‘daring’ enough to break the barriers, to say things that should have been said. In Pippi’s description, an adult knows no fun, only deals with lots of work that is not exciting, adults have strange ways of thinking – filled with silly beliefs. And according to Pippi she will need one hour practice everyday to be able to behave according to all the rules that adults want kids to behave. I think in some ways, she is right – and I am sure that is what many kids are thinking of us too!.

What I also love is Pippi’s views of school. To a lot of extent, I think we should take some learning from what she said about school. Apart from her thinking that studying too much can make even the healthiest kid sick, she also said that too much knowledge can make her dizzy. That she chose to just sit by the classroom’s window and asked the teacher from time to time throw ‘just a little knowledge’ for her to know bits of things, because inside the classroom she feels suffocated by all the knowledge that is packed in the room. I really love that. Because in reality, how often do we learn and learn and learn, but at the end of the day we cannot even remember what we have learned because we just have too much in our head. And if I look back to the time when I was at school, Indonesia’s education system being so centered around memorising things that sometimes I did feel like my head was going to explode. And when we are growing up, sometimes we cannot even think of how the knowledge can help ourselves, or others. Isn’t having more knowledge is supposed to make us more useful for others too?.

If Enid Blyton books taught me the spirit of friendship and adventure, Tintin comics and Pippi’s stories gave me a zest to travel the world. These books affected me the same way – a yearning to see the places on this earth, to know people’s habit on those places, to see how they live.

And Pippi’s stories gave me another thing: a wisdom to look at life. It sounds strange, but nevertheless, in its purest way of thinking, Pippi has a lot to offer even to us adults in the way we should look at our lives. How we have forgotten how to have fun, many times. And when we have kids – how often we have actually ‘strangled’ their imagination with our rules which we think will govern them. How we sometimes emphasise too much on these rules for our convenience rather than thinking what good they will be for our kids, that they become barriers for kids to explore the world and find out things for themselves. How we think school is great for kids – while sometimes it can become a place where kids’ imagination is trapped and they become bogged down with details and theories which, may not help them very much to survive this life if without knowing the practical side of life (e.g. cooking, cleaning, standing up and looking after yourself). How we often forget to let kids be kids, with their ‘wild’ imagination, and just let them see how far it will take them.

I have to say that Astrid Lindgren’s contribution to children storybooks by creating Pippi is tremendous. She has created a character so liberating, so out of the box, and yet, so real in the way she thinks about many things. And best yet, it is not just about adventures of a little girl, it is about pushing our own boundaries when we think of things around us, of how we think of kids. And the stories are relevant for any kids, at any point in time. They will be able to give kids a way to vent out their imagination.

Yes it may seem that Pippi is a wild little girl who cannot follow rules – but, in reality, which kid wants to follow any rule!. So, why don’t we at least let them have that ‘liberating moment’ by reading what Pippi does. At least at imagination level, we should give them time to get out of the boundaries of rules and ‘must do’s’ once in a while. And who knows, maybe they will question us about our rules the way Pippi does – which is always good for reality check for us. Because sometimes (or many times?) as parents, we think we know best, but I don’t think we do. At least half the time, we actually know nothing.


(RIRI)

"Jadi ingat kenapa dulu aku menikahi kamu"

Itu penggalan kecil dari pesan yang lumayan panjang di telepon genggam saya, dari suami tercinta, di sebuah siang bolong, saat kepala saya sedang lelah-lelahnya berpikir. Tentunya pesan itu made my day very much. Lucunya, tak lama setelah itu, ada pesan lanjutan yang bunyinya, ”Jangan salah sangka ya, bukannya aku pernah lupa, tapi aku baru lihat sesuatu yang mengingatkanku lagi”.

Saya tidak pernah terlalu memikirkan apakah Cip akan selalu ingat dengan alasannya menikahi saya, atau tidak. Fakta bahwa dia dengan setia mendukung setiap langkah saya dan membiarkan saya menjadi diri saya sendiri, itu sudah lebih dari cukup. Dan buat saya, lupa itu manusiawi, seperti halnya lapar, haus, lelah dan sebagainya. Jadi kalaupun satu saat dia lupa, saya juga tidak akan marah. Tapi kedua pesan tersebut membuat saya sempat berpikir, apa iya, bahwa satu saat kita bisa melupakan alasan kita mencintai seseorang? Lupa kenapa kita di suatu hari memutuskan untuk menikah dan menghabiskan jam demi jam, selama bertahun-tahun dengan orang yang sama.

Saya jadi berpikir apa ya hal-hal yang demikian hebat, yang dapat membuat sepasang kekasih, atau salah satunya, lupa kenapa mereka memilih untuk berdiri bersama menantang hidup, dan bukannya sendirian saja?.

Baru-baru ini seorang sahabat bercerita tentang keprihatinannya. Betapa banyak temannya yang sudah menikah – sebagian besar baru menikah dengan hitungan tahun yang masih satu angka – tapi mereka begitu tidak bahagia. Sahabat saya ini kebetulan belum menikah. Cerita teman-temannya membuat dia merasa, bahwa memang ada benarnya Tuhan belum mempertemukan dia dengan sang jodoh, karena rasanya, dia tidak akan sanggup menghadapi segala tantangan pernikahan.

Dia berceritalah tentang temannya yang merasa sudah ’berkorban’ untuk pernikahan itu dengan menghanguskan mimpinya demi mengikuti keinginan sang suami. Adalagi yang merasa jadi orang asing dalam pernikahan – dan mengatakan pada sahabat saya bahwa merasa sendirian pada saat single, jauh lebih baik daripada merasa sendirian dalam pernikahan (saya merinding mendengar yang satu ini – tragis). Adapula yang memilih berpisah – karena merasa tidak punya kesamaan lagi untuk dipertahankan.

Saya tidak tahu apakah mereka pernah berusaha mengingat-ingat kembali kenapa mereka menikahi pasangan mereka. Tapi gara-gara sepenggal pesan dari suami saya itu, saya jadi terpikir bahwa memang ada gunanya kita sekali-sekali walk down the memory lane. Paling tidak, itu akan membuat kita tersadar akan hal-hal kecil yang kita cintai dari pasangan kita, dan mungkin bisa membantu kita melupakan segala hal yang mengesalkan. Daripada kita berlarut-larut mengasihani diri sendiri yang sudah kehilangan mimpi pribadi, atau mencaci maki nasib yang tidak sesuai dengan harapan, apa tidak lebih baik kita ingat-ingat apa yang dulu membuat kita mengatakan, ”Iya, saya mau menikah denganmu”.

Kalau saya meminjam kata-kata dari Hercule Poirot, detektif luar biasa yang jadi favorit saya: “…with the passage of time, the mind retains a hold of the essentials and rejects superficial matters”. Mungkin kita sudah melupakan segala rayuan gombal pada saat PDKT, mungkin kita juga sudah melupakan saat-saat kita bertengkar di jaman pacaran, bahkan mungkin kita sudah melupakan film-film yang pernah kita tonton bersama-sama sambil makan popcorn berdua atau berpegangan tangan seolah ada lem maha lengket di antara tangan kita. Tapi memaknai kata-kata Poirot, harusnya, pikiran dan hati kita digunakan untuk menyimpan jejak-jejak ingatan yang paling esensial, dan membuang semua ‘sampah’ yang tidak penting. Dan rasanya tidak mungkin bahwa yang esensial itu adalah hal-hal yang buruk. Kalau itu adalah hal-hal yang buruk, mana mungkin kita memutuskan menikahi pasangan kita, dulu? Itu logika naif saya.

Untuk suami saya, memori itu mengambil bentuk sebuah foto. Buat saya, ada jejak-jejak ingatan tentang kami, banyak diantaranya kuat menancap. Ada kenangan tentang kepenatan berbelanja pernak pernik seserahan dan membuat kami bersumpah anak kami tidak akan kami buat susah dengan tradisi, atau kenangan tentang jadi turis miskin mengelana di sebagian Eropa Barat, atau kenangan tentang Ciptadi mengajak anak kami berjalan-jalan di taman Suropati saat saya sedang bermil-mil jauhnya dari Jakarta. Ada segudang SMS dari Cip saat saya hamil dan ia tidak di sisi saya, dan banyak lagi. Nah, bagaimana dengan teman-teman?. Mungkin ada gunanya teman-teman membongkar kembali album foto, atau potongan-potongan surat cinta, atau sekedar memejamkan mata dan membiarkan pikiran menerawang ke masa lalu. Asal kemudian tidak dibiarkan liar mengingat hal-hal yang harusnya dilupakan. Jangan-jangan teman-teman akan menemukan kejutan di sel-sel kelabu itu, seperti ketika Ciptadi menemukan kejutannya waktu membongkar lemari foto kami.

Hari itu, saya menanyakan ke Cip, foto yang ia lihat itu mengingatkannya pada apa. Jawaban yang ia berikan, masih via SMS, membuat saya meleleh…
“That u r irresistible. Ada foto kamu yg luar biasa bgt showing ur quality. I wonder knp dulu aku gak punya saingan. Dos guys were really blind n stupid…hehe..."

Apapun itu, yuk kita saling mengingatkan pasangan tentang apa yang membuat kita bersedia melangkah bersama. Dan sebuah pesan singkat di siang bolong, rasanya selalu bisa membuat siapa saja tersenyum di tengah kepenatan, dan membuat rasa cinta itu selalu hidup.


(ditulis tanggal 19 Februari 2009, saat saya menikmati malam yang sepi dan tersenyum-senyum sendiri melihat-lihat lagi semua SMS yang pernah Ciptadi kirimkan pada saya. I love this man…. Dan sekarang, hal-hal sederhana seperti torehan pada pasir pantai Tamban Indah, Malang, ini jadi bagian jejak ingatan saya tentang Ciptadi - a loving father to our daughter)

(RIRI)

Friday, May 15, 2009

Marx, Freud dan Islam, di sebuah Jumat yang indah


Marx, ya, Karl Marx, barangkali adalah pemikir sosial yang paling disalahpahami. Padahal inti dari pemikirannya adalah kritik ideologi. Semacam perangkat untuk mempertanyakan: jangan-jangan yang diterima masyarakat sebagai kesepakatan bersama, bukanlah yang terbaik, dan diam-diam mengusung kepentingan kelas yang berkuasa untuk mempertahankan dominasi dan penghisapan sistematis.

Salah paham yang lain juga terjadi pada Sigmund Freud, yang dianggap sebagai psikolog yang mereduksi manusia sebagai makhluk yang hanya digerakkan oleh agresi dan sex. Padahal pelajaran paling penting dari Freud adalah ajakan agar kita mengalahkan trauma, mempertanyakan motif personal, dan keberanian untuk berhadapan dengan diri kita yang asli dan kadang-kadang gelap. Untuk kemudian melampauinya..

Dua-duanya, in a way, pernah menjadi pahlawan saya. Mereka berdua mengajari saya untuk mempertanyakan. Pertama, mempertanyakan masyarakat. Namun lebih utama lagi, mempertanyakan diri sendiri. Intinya melakukan kritik. Bertanya, by the way, adalah salah satu anugerah terbesar yang dihadiahkan Tuhan kepada manusia. Kritik, berpikir kritis, adalah anugerah besar yang lain.

Saya mencintai Islam, salah satunya, juga karena semangat untuk mempertanyakan, semangat untuk mengkritik ini. Betapa tidak? Agama ini mengajarkan bahwa dasar untuk berserah diri atau menemukan kebenaran, adalah dengan ‘menidakkan’, atau ‘mempertanyakan ulang’. Simak saja kredo dasarnya: tidak ada tuhan selain Tuhan.
Guys, note this: Ini adalah satu-satunya agama yang memulai imannya dengan kata "tidak".

Intinya, untuk menemukan Tuhan yang sebenarnya, kita harus menidakkan/ mempertanyakan tuhan-tuhan yang lain: uang, kekayaan, kecerdasan, kuasa, prestise, juga prestasi, ego pribadi, nafsu dan ambisi. Bagaimana Anda tahu apa artinya ‘menyerah’ tanpa pernah ‘memberontak?’

Pada tahun-tahun awal risalah, Nabi Muhhammad saw, acapkali mengkritik masyarakat yang berpuas pada pemikiran yang diterima umum, mengekor buta pada kebiasaan-kebiasaan lama, dan enggan mempertanyakan apa yang sudah kadung diwariskan. Simak saja, misalnya..

Apabila diserukan pada mereka kebenaran, mereka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami dapatkan dari bapak dan pemimpin kami. Dan apakah mereka akan mengikuti para pendahulu mereka, padahal belum tentu para pendahulu ini mengetahui apa-apa, dan tidak pula mendapat petunjuk?
(Al Maidah: 104)

Sayangnya, tidak sedikit yang menganggap ayat ini sebagai sejarah saja. Sementara, saya membayangkan, etos dari bait suci ini bersifat abadi: yakni untuk terus membuka diri dan mempertanyakan. Apakah ajaran ini dari ulama anu yang hidup sepuluh abad yang lalu, adalah satu-satunya interpretasi yang benar? Mungkinkah ada pemahaman yang lebih baik dari warisan ajaran turun temurun ini?

Hayyaahh… serius banget nih, untuk sebuah Jumat yang indah! He he..Dan kayaknya gak cocok buat kotbah Jumat.. :) Anyway, guys, happy Friday. May your day blessed with Baraka.
I love you all!!

(CIP)




Thursday, May 14, 2009

The Ghosts Of Istanbul On The Streets Of Singapore


I have been to Singapore many times – but never explored the city properly. Most of the time I was there for work, and of course after work what was there to left doing in Singapore but shopping and eating, naturally.

So when my husband asked if I would like to go to Singapore, just the two of us, on his birthday, I immediately said yes. Well – who would refuse a free trip!. Plus, I thought it would be good to explore the CITY and not only the malls (must admit I also had IKEA hanging at the back of my mind ever since we have finished renovating our coccoon).

Like in any other trips, I always prepared a book to read while waiting for the plane and on the plane. Especially since I had to go on my own, to meet my husband later in the afternoon as I have planned to leave earlier than him. I debated between bringing a collection of Hercule Poirot stories, with a book written by a Turkish writer, Orhan Pamuk. My choice fell with Pamuk’s book: Istanbul – The Memories of A City (or rather the Bahasa translation version of his book).

There were two reasons why I wanted to bring Pamuk’s book – one because I have always wanted to go to Istanbul. Somehow Turkey has always fascinated me – the same way Italy and Egypt have mesmerised me with the stories of the glories of the past. The second reason would be – to me Singapore has always imprinted an image of a sterile city, a fabricated place to live that provides a high level of comfort. The story about Istanbul from Pamuk, I had hoped, would bring a flavour of difference to this trip: a flavour of chaos, though only in a written format.

And so I immersed myself in this book as soon as I found a place to sit waiting for boarding. I was prepared for the melancholy that this book would bring. I once attended a book discussion about it sometime back – where we discussed about a deeply melancholic aura in the book as it talks about the vast cultural change that has rocked Turkey. A melancholy that is communal, that somehow reflects how the society looks at life in Istanbul – with its unending battle between the modern and the receding past.

And the more I flipped the pages of this book, the more I got fascinated by the way the glories of the past seem to sit side by side with modernity that is accepted awkwardly by the society. Somehow the book really got me ‘feel’ what the society feels – not really a part of Europe but not really Asian; once was the biggest Khalifatul of Islam and now left to ruins; wanting to stay true to Islam values as well as wanting to embrace the Western values…so many contradictions and conflicts that the society has faced. And Pamuk described all the ruins of the past so well, he also put a lot of pictures of Istanbul as well as of his family’s, that my imagination just run wild thinking of how life was when the glory was still in the city, and how life is for the people now.

What’s that got to do with our Singapore trip?. To me Singapore is a bubble – a somehow made up life with everything so stable, comfortable, clean, structured, predictable. I never really found a real surprise on the streets of Singapore – no chaos on the street, no litter on the ground, no drunken crazy people walking around at 2am on a Friday night; to name a few that I have found in other cities.

I am not saying that it is bad – I am actually glad that there is a place like Singapore on the face of this earth. Because people need stability and comfort and predictability from time to time. Yet reading Pamuk as a company to this trip, and finally having the opportunity to really look at Singapore as a city, somehow has made me understood why all this time, I never really feel the urge to explore it anyway. Walking around Singapore without shopping as my main interest, I felt that somehow I lost the power of imagining the glories of the past on the streets of the Merlion city. All the colonial buildings and monuments are so nicely preserved – that I lost the urge to stop, reflect and imagine how they would be like in the past. My imagination sort of stopped functioning because all these buildings are so nicely arranged and cleaned and preserved.

I would imagine that if I did have a chance to visit Istanbul one of these days, I would have to call all the faculties in me to imagine how life was. And reading Pamuk’s descriptions – I really cannot wait to do that one day. Reading the pages of Istanbul made me remembered the first time we arrived in Rome – I really felt like we just turned back the time and we were in another dimension of time. The traces of the past were everywhere – and at many places do not seem to be ‘properly cleaned’ and yet, it gives them the personality and flavour. The same feeling I got when we were in Venice, or when I walked around looking at the old palaces in Delhi, or roaming around Kauman area in Yogya, even around the Old Batavia or old part of Jakarta. And these feelings, I did not get at all in Singapore.

We missed visiting some colonial places of Singapore on this trip – but there was nothing in me that said, it was a loss. Well, one because Singapore is close anyway so in a sense, I can go there again easily. But more acutely is this feeling that I am not losing a thing by not visiting them. Because they will be there: clean, preserved, stable – that looking at them will be like looking at a flat, 2 dimensional picture, that will not call upon me the urge of thinking about their past life.

And what I missed also is the soul of the city. Istanbul describes so vividly the profound shared melancholy by the inhabitants of the city. I do not know if that is true in reality or was it just because Pamuk itself was on the verge of depression when he wrote the book, but the book really brings the feeling to life. I did not even get a hint of the city’s emotion in Singapore – or maybe I just have not spent enough time in there.

Yet overall, it was an interesting experience to combine both images – those from the real trip and the ones I received from a book. Each enriches the other – the imagination of Istanbul makes me appreciates the comfort of Singapore; and the sterility of Singapore makes me long for the seemingly chaotic, melancholy and reality of a contradictive life in a city like Istanbul.

(RIRI)

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts