Thursday, February 17, 2011

You and I, we can conquer the world

(ditulis di akhir tahun 2009)


Kemarin, kepala saya rasanya mumet. Jarang-jarang saya minum Panadol di kantor, dan bukan gara-gara saya terserang gejala flu. Tapi kemarin, saya harus minum obat karena pusing yang tidak hilang-hilang sejak malam sebelumnya. Mungkin gara-gara kebanyakan minum kopi, mungkin karena hal lain. But anyway, saya menulis ini bukan mau cerita tentang penyebab pusing.

Setengah hari di kantor, saya meluncur ke tempat lain. Menikmati nyetir sendirian, menikmati fasilitas kantor suami (sampai sekarang saya masih mendoakan siapapun yang menciptakan automatic transmission, God bless them!), menikmati musik di tengah deru mobil dan motor di Jakarta tengah hari. Saya menikmati salah satu album lama Stevie Wonder (ketahuan kan umurnya, yeah so what, saya bangga kok hampir punya umur berkepala 4. Jangan bangga karena masih muda, soalnya, masih panjang perjalanan untuk di-abuse oleh kehidupan!).

Lalu, ada lagu itu, You and I. Favorit saya sejak SMP. Dan saya paling suka dengan kalimat yang satu itu. You and I, we can conquer the world.

Lagu ini sebetulnya cerita tentang menemukan seseorang. Seseorang yang menjadi jangkar. Yang memberikan kekuatan. Yang memberikan cahaya. Iya, lagu cinta, apa lagi. Tapi, mungkin karena pusing saya yang hilang itu berganti jadi energi lain, lagu ini malah membuat saya melihat ke belakang. 12 bulan di belakang.

Pikir-pikir, jangan-jangan saya punya siklus dua tahunan untuk menjalani perubahan drastis dalam hidup. Lihat saja.

2005. Baru melahirkan. Masih kebingungan, tapi juga harus mengurusi ‘balita’ lain yang lebih bikin pusing dibanding mengurus bayi betulan.

2007. Si balita sudah seusia anak SD, tapi tiba-tiba jatuh menggelinding jauh ke kaki bukit. Dan selama setahun para anggota keluarga sama-sama pusing menarik si anak ini supaya bangkit lagi. Mengobati lukanya, dan supaya ia berdiri dengan kaki yang lebih kokoh. Sakit tauk, jatuh sejauh itu!.

2009. Ada yang mengadopsi si anak kecil itu. Dan saya memilih untuk berhenti menjadi care taker-nya, karena aturan dan budaya di perusahaan pengadopsi bikin saya pusing tujuh keliling. Daripada pusing sepanjang tahun, saya memilih tempat lain yang, juga bisa bikin saya pusing, tapi paling tidak cuma sehari.

Saya mengingat-ingat semua itu kemarin. Dan yes, kalimat itu, you and I, we can conquer the world. Itu berdentam lagi di kepala saya.

Di setiap kejadian, selalu ada orang-orang di sekitar saya yang menguatkan. Selalu ada orang yang membuat saya merasa, ah ini kan belum seberapa. Atau membuat saya berpikir tentang jalan keluar yang lain. Intinya, saya tidak pernah sendiri.

Pernahkah teman-teman berpikir, bahwa keberadaan orang di sekitar teman-teman itu sebetulnya adalah sumber kekuatan?. Siapapun dia. Tapi seberapa sering kita, pada saat sudah berhasil, mengingat bahwa di dalam pencapaian itu, ada sumbangan orang lain disitu?. Biasanya kita ingat ’sumbangan’ pasangan kita, atau orang tua, atau anak. Tapi seberapa sering kita mengingat sumbangan orang lain, si pak satpam, office boy, supir yang tiap hari menyupiri mobil di tengah kemacetan, bahkan pembantu di rumah yang biasanya hanya diingat betapa mereka bikin kita kesal kalau sedang berulah.

Saya ingat salah satu obrolan dengan supir saya. Waktu itu saya sedang pusing menimbang-nimbang, haruskah saya meninggalkan si anak usia SD itu, atau tetap menjadi care taker-nya.

Saya tanya, ”Pak, kalau Bapak nggak jadi pegawai kantor lagi, nggak ada asuransi dan tunjangan kesehatan lagi, juga harus terima gaji yang lebih kecil, gimana?”. Si supir, tanpa pikir panjang, menjawab, ”Ya nggak apa-apa Bu, kan itu namanya bukan rejeki saya. Saya jadi supir keluarga Ibu senang, saya ikhlas terima apa adanya saja Bu”.

Glek. Saya terdiam. Ini dia yang saya cari, kebesaran hati. Padahal, keputusan saya akan lumayan banyak mengubah hidupnya. Tapi tetap dengan senyum, dia menjawab seperti itu. Kalau ada yang melihat kejadian ini dengan sinis dan bilang, ya iya dia pasti bilang seperti itu, cari pekerjaan sekarang kan susah, saya akan jitak orang itu. Buat saya semua harus dilihat dari sisi positif. Di momen itu, saya juga merasa Tuhan sedang mengajari saya untuk ikhlas. Untuk belajar menerima keadaan yang tidak bisa saya ubah, dan mengubah apa yang bisa saya ubah.

Itu cuma secuil kejadian di antara banyak sekali hasil belajar saya, tahun ini, dengan banyak orang. Teman, saudara, supir taxi, asisten toko di ITC, responden, pengasuh anak, pembantu, pengrajin batik, petugas museum....dan daftarnya jadi panjang sekali, kalau saya ingat-ingat semuanya.

Ya, You and I, we CAN conquer the world. Kita hanya perlu berdiri sejajar, dan sadar bahwa tidak ada satupun manusia yang bisa menyelesaikan masalahnya, sendiri. Kita cuma perlu membuang kesombongan, supaya kita bisa belajar bahkan dari mereka yang kita pandang punya kehidupan yang ‘kurang’ dibanding kita.

Dan satu lagi, dengan cinta. Buat apa kita memelihara kebencian, kalau dengan mencintai orang lain kita bisa punya kehidupan yang lebih nyaman.

Seperti kata Stevie Wonder di refrain lagu ini…

And in my mind

We can conquer the world

In love

You and I, You and I, You and I


(R I R I)

Wednesday, February 2, 2011

Semakin sering ditipu, (harusnya) kita semakin cerdas

Hanya ingin share saja, pengalaman yang sebetulnya sudah dua kali terjadi, dengan 'peran utama' yang berbeda, di keluarga saya.

Modus Operandi (MO) basilah: telpon ke rumah, bilang bahwa anak saya jatuh dari tangga sekolah dan dibawa ke rumah sakit oleh gurunya. Dia menyebutkan nama si guru (yang saya tahu sedang cuti melahirkan sampai bulan April), memberikan nomor telepon genggam si guru (yang saya tahu juga bukan nomernya), dan mengatakan Tara dibawa ke rumah sakit MMC (yang membuat saya juga sempat bertanya dalam hati kok ke MMC, kan sekolah punya kerjasama dengan Brawijaya yang notabene cuma 5 menit dari sekolah). Saya sudah 'sedikit' curiga. Tapi yang namanya dengar anak jatuh dari tangga (dan saya tahu anak saya punya kelemahan yang memungkinkan dia limbung saat naik turun tangga), sebagian darah dan denyut jantung saya sudah hilang entah kemana, jadi saya tetap telpon si 'ibu guru' tersebut.

Yang menjawab telepon, lebih tidak masuk akal lagi. Bersuara dibuat-buat. Saya kenal betul suara si ibu guru ini karena dia guru Tara sejak TK A dan kami sering berkomunikasi. Si ibu guru palsu ini kemudian bilang supaya saya bicara langsung pada seorang 'Dokter', yang bilang bahwa Tara harus dioperasi dan membutuhkan alat khusus yang hanya bisa didapat di perusahaan bla bla dengan nomor telpon sekian sekian. That was it for me untuk meyakinkan ini adalah penipuan. Seperti yang saya bilang: MO basiiiiiii bangeeeetttttt (bangsaaaat!...maaf...sebal soalnya).

Setelah menutup telpon dengan 'pak dokter', saya langsung telpon supir saya, yang sedang duduk manis di pintu sekolah seperti biasa. Dan menurut dia memang tidak ada kejadian apa-apa. Tak lama, ada telpon lain yang masuk lagi ke rumah, mengaku dari perusahaan tempat alat itu tadi. Dan itu cuma memberikan saya kesempatan untuk memaki-maki dirinya (maaf ya Dek yang di perut bunda, yang pasti bisa mendengar makian bunda...I just couldn't help it....).

Beberapa tahun lalu kejadian yang sama juga pernah menimpa ibu saya. Ceritanya persis sama, bedanya cuma peran utamanya saja: waktu itu dikabarkan saya dan suami saya kecelakaan dan sekarat. Untung masih ada orang yang menolong ibu saya yang saat itu sudah pergi ke bank, antri di depan teller, siap men-transfer dana yang diminta.


It's just amazing how these people keep trying to play tricks on your mind, then your money. Tapi sebetulnya yang lebih mengerikan adalah bagaimana di jaman dimana segala informasi mudah didapatkan, itu juga berarti kita semakin vulnerable.Dimana ruang publik semakin besar, disitu pulalah kita dituntut untuk lebih arif, lebih waspada, dan lebih berkepala dingin.

Dan sekarang ini penipuan dilakukan lewat beraneka ragam media. Dari telpon, sms, sampai email. Apa itu berarti kita juga harus membatasi diri dengan tidak menggunakan ruang publik?. Rasanya itu juga bukan jawaban. Tapi coba kalau diperhatikan, MO yang digunakan juga biasanya selalu sama, dari tahun ke tahun. Jadi, harusnya sih kita saja yang memperpintar diri, dan making sure bahwa kita punya banyak 'warning signs', sementara para penipu itu masih berkutat di MO yang persis sama.

Berkaitan dengan kejadian saya, pelajaran dari semua ini buat kita para orang tua adalah:

- Kenali kebiasaan sekolah pada saat-saat darurat. Coba teman-teman ingat-ingat dari sekarang, dulu saat mendaftar sekolah, nomor-nomor darurat siapa saja yang anda berikan pada pihak sekolah, dan apa prosedur yang akan dilakukan sekolah saat kejadian darurat. Tadi itu saya sudah membatin kok telpon ke rumah. Karena saya tahu pasti nomor darurat pertama yang saya berikan adalah nomor telepon genggam saya, lalu nomor telepon genggam ayahnya. Dan saya sudah pernah ditelepon sekolah waktu Tara kebetulan sakit di sekolah

- Kenali jaringan sekolah - terutama rumah sakit, klinik atau puskesmas terdekat. Karena logikanya, guru tidak mungkin membawa anak yang membutuhkan pertolongan dokter sesegera mungkin, ke tempat yang jauh dari sekolah (dari Prapanca ke MMC di Kuningan, di Jakarta yang macet ini?..gila kali loe...)

- Kenali siapa saja guru yang bertanggung jawab di kelas anak, dan keberadaan si guru

- Kalaupun anda malas berpartisipasi aktif di Parent Association (seperti saya...hehe), tetap kenali dan menjalin hubungan dekat dengan orang kunci di PA. Karena semua informasi yang berhubungan dengan sekolah, akan bisa anda dapat dari si orang tersebut

- Rasanya sekarang ini sangat perlu membuat semua anggota keluarga, termasuk para asisten rumah tangga, tahu siapa yang akan menghubungi siapa dalam setiap keadaan darurat. Kalau perlu, buat 'pengumuman' di ruang publik di dalam rumah, misalnya ditempel di kulkas. Supaya mereka juga tetap waspada dan tidak cepat panik

Terakhir sih rasanya tetap percaya sajalah pada perlindungan Allah Yang Maha Pengasih. Saat semua dalam kegelapan, rasanya cuma Dia yang bisa menerangi. Tidak ada gunanya juga parno - karena yang namanya kejahatan dan akal bulus manusia tidak akan ada habisnya sampai di akhir jaman. At the end of the day, it's us taking care of ourselves. And who takes care of us if not God....

Semoga berguna.


(R I R I)

Tuesday, February 1, 2011

"Apa sih arti rumah ini buatmu?"

(ditulis tahun 2009)

Alhamdulillah. Tujuh tahun menikah, dan akhirnya kami bisa juga mencicil rumah. Petak mungil tanpa kamar pembantu, dan juga tanpa tetangga muka. Hanya cemara besar, kecil, tegak atau condong, dan sesekali suara deru kereta.

Beberapa bulan terakhir ini, rumah mungil ini adalah tujuan akhir pekan kami. Melupakan taman, merry-go-round, mal, museum, Sudirman-Thamrin, toko buku, dan galeri. Bermalas-malasan sepanjang hari sembari sesekali mengaktifkan alat pacu jantung. Sekedar menengok facebook atau sesekali bergelut dengan tenggat. O iya, alat pacu jantung adalah istilah mesra kami untuk laptop..

Di rumah ini, saya menghidupkan kembali kebiasaan kampung saya tanpa merasa risih. Selonjoran di teras rumah, makan siang dengan kaki ditumpangkan ke kursi, juga di teras rumah. Bahkan pernah juga menarik kabel, mendengarkan Fleet Foxes dari compo murah yang di-jembreng di teras rumah.

Saya juga memandikan Tara dengan selang, di halaman depan, seperti saya sering melihat anak-anak kecil dimandikan sore hari, puluhan tahun yang lalu di kampung kami di Ungaran.

Kalau berhasil mengelabui anak kami, saya dan Riri tak jarang melarikan diri ke sini. Sekedar berlama-lama menikmati keheningan, berdua saja.

Seperti sore itu, ketika ia bertanya: “Apa sih, Cip, arti rumah ini buat kamu?”

Saya berhenti sejenak, tapi segera menjawab: “Freedom! Rumah ini berarti freedom, buatku..”

Dia hanya mengusap-usap punggung saya, dan tersenyum, “Lucu banget sih, formulasinya..”


Saya sendiri lupa menanyakan, bahkan sampai sekarang. Kalau buat dia, apa arti rumah mungil kami? Belakangan jawabnya saya terka sendiri. Di suatu sore, di tengah suntuknya saya melihat angka-angka penjualan, sebuah catatan kecil melayang ke kotak surat saya. A Fleeting Moment Of Happiness, catatan Riri tentang sebuah sore bersama Tara di rumah mungil kami..

Membacanya, saya mengerti. Buat dia, rumah kami berarti “Kebahagiaan sederhana”.


A Fleeting Moment of Happiness

17 Apr at 9:42pm, by Riri

This week started just as usual. I have experienced the losing of my daughter’s sitter before. So this week created no panic, and thankfully this time Tara’s sitter was sensible enough to tell me 3 weeks before she had to go, so I had time to ensure work was fine so I could be with my daughter fully while she is away.

Today, just like any other day since Monday, I took her to school. Afterwards I have promised her that we would go to our coccoon – just to clean the place up for tomorrow until Sunday as we are planning to spend some nights there for the very first time.

At 11, I picked her up, went to pick up some stuff first, and then off to our ‘second’ home. When we arrived there, rain was pouring. The car port did not have any roof (talk about budget – these days house renovation can really kill one’s appetite to do anything more on the house once the basics are done!). We both had to rush getting out of the car so we did not get too wet. We entered the house laughing ourselves silly, because the umbrella that we used was too small so we had to squeeze and ended up getting rather wet anyway.

In the house Tara immediately lounged herself comfortably at the sofa, singing, creating stories, while I was busy cleaning up. Then she helped me, or rather watched me, making the beds so they are ready for tomorrow. And all the time her little mouth just did not stop talking, singing, asking questions, and just making me felt so happy that there were just the two of us in the house so I could fully enjoy her sometimes non-sensical yet mind-intriguing talks.

Tired of cleaning up and feeling a bit peckish, I made myself some instant noodle. Tara asked for the same. I very rarely allow her to eat that poisonous stuff but I thought what the heck, her last noodle was 2 months ago. So I made her the same thing and she said very sweetly, “Thank you mommy” while hugging me from behind.

The rain has stopped outside – leaving the fresh air and cool wind. And suddenly I realised it was already 4pm. I gave Tara her shower, and afterwards asked her to play outside while I sat on the front veranda.

And that was a moment when I felt really very good inside. The wind was cool, the street where our home is located was very peaceful, there were only sounds of the crickets and Tara singing at our little front garden, while she was busy making her feet wet on the grass and puddles of water on the street. I watched her and wondered how many more times will I have these kinds of moments. When there are just the two of us enjoying a peaceful afternoon.

As a working mom, I have had my guilt. But when I am really alone with her, many times I think I have done justice to her and to myself. Those scarce moments when we can really be together, actually blow up the happiness when we are together. I am not looking for excuses for not being able (or rather, not willing) to be a ‘stay home’ mom – but I think we are better off like this. The scarcity of times when we can really be like what we were this afternoon – actually made us enjoyed it fully.

There was once my husband said that in this life, sometimes we are not looking for the ‘big happiness’. Many times, we are after the ‘fleeting moment of happiness’, because the ‘big ones’ are harder to come by. I think, this afternoon was one of those moments for me. It was not long – but as I cruised the car along the toll road to go back to our ‘first’ home, with the easy listening jazz songs from Ecoutez, and Tara entertaining herself (and me) from the back seat, I could not help smiling along the way.

That moment: of us in the house alone chatting about non-sense, Tara singing loudly at the front garden with the crickets singing at the background, was a moment that really crafted a beautiful picture in my heart and mind. A picture, that I can go back to whenever I need to momentarily feel good (which I guess, happens often amidst the games and tears and wears of the corporate world!).

As soon as we were home, I sent a text message to my husband who is now miles away from Jakarta. I just told him I enjoyed the day very much. And his reply to me was, “Uve been workin very hard. U deserve it once in a while…”

I wonder, if we all have to be working ‘that’ hard to deserve these fleeting moments of happiness. I am sure, we do not have to. I am still looking for that answer myself (and yet at the same time I know, the control, after all, is in my own hands).


(CIP & RIRI)

Sunday, January 30, 2011

Aim High! (and I mean real high….)

When we graduated from college, or maybe even before that, I am sure everyone of us had a dream of what we wanted to become, what kind of career we wanted and what kind of life we would want to lead. And when we graduated, we embarked on the journey. Some of us continued on the path that we have dreamed on, and made it. Others found that the journey was not smooth and chose another journey. Some of us are perhaps on the verge of thinking: Is this STILL the right journey, or shall I take another one, a different one?. But whatever it is, most of us continue walking, or maybe perhaps even running.

The end of that journey sometimes is very clear to us, other times, it’s not. But how many of us have actually defined what that end will be – aside from a better life in the future…whatever ‘better’ means which again will be different from one person to the other.

I work in an industry where it is actually difficult to find good talents – and I mean real, good, talents who have enough commitment to stay on and ‘make it’ as their definition of their end of the journey, or to continue on the journey. And sadly, in the whole of my career, I don’t often come across people who are in this industry and really want to ‘make it’. Yes, market research is tough. At times it drives us mad with deadlines and all. But, aren’t all industries have the same story?. It’s all in the mind and our attitude towards it, isn’t it?.

And when I say ‘make it’ – I mean making ourselves indispensable to the industry, not just to the company we work in. And this is not just in the industry I work in, but in any industry. Have we actually aimed that high – not just about climbing the career ladder, but more, to make a stamp, to create a story about us…some sort of an ‘urban legend’ for the industry in which we work.

I keep thinking about this as I sometimes sadly look around me. And again I maybe just talking about market research – where, sometimes, the so called ‘experts’ are still people from out of this country. I have no negative sentiments to them – but, I feel sorry for my own country men and women who actually, if they try hard enough, if they learn hard enough from those expatriates, they can be the same expertise, too!, if not even more.

I see talented people sometimes do not realize they have good talents, and they do not focus on their talent, which is a real pity. And often we look at others and think that we will never get there, rather than think that we CAN get there if we focus and try hard enough.

Sometimes work becomes just as ‘work’ – something routine that we do everyday. But, is that how we want to look at it for the rest of our lives?. Is going up the ladder at work, at the company where we work, is the only aim that we can have?.

I personally stay in market research because I love it. I never care about going up the ladder – as long as I can do what I love doing, that is enough for me. Then one day I stopped and thought, is that it? Is that a high enough aim for my life?. If I love doing what I do now, then, shouldn’t I aim higher than just doing it for the love of it?.

Then I began thinking about making a ‘stamp’. Not having anything to do with pride, but, I believe, that as an Indonesian who loves working in an industry where talents are scarce, it is my tribute to this country too to make myself indispensable to the industry. I should be making a noise, not some foreigners. I should raise the bar for my own country men. If I cannot do it then I cannot claim that I love doing it – an expression of love, is when others can feel it and can benefit from it. At least, that’s what I believe.

If we, as Indonesians, sometimes think that no one in this country does something good for the business, then have we actually done something ourselves?. Everything starts small and most of the time, we should start from ourselves. I always believe Indonesians are creative and smart – I mean, if we can survive these years of difficulty, there must be something good in us.

Or, am I dreaming too much about seeing more of my country men and women to lead the way and make more noise?. I hope I’m not….


(R I R I)

Monday, January 24, 2011

Popo, Cucu dan Air Bah

Di pedalaman Sumatera, di sebuah sungai di tengah hutan, tinggal seekor kura-kura air tawar bernama Popo. Popo mempunyai sahabat bernama Cucu, seekor anak ikan mas.

Popo dan Cucu sangat suka berenang-renang kesana kemari, dan berteman dengan banyak hewan air yang tinggal di sungai itu. Mereka suka menjelajah sampai ke dasar sungai, dan bermain-main di air sungai yang jernih. Jika tiba saat Popo harus keluar dan berjemur, Cucu biasanya akan berenang-renang sendirian bermain dengan teman-temannya yang lain.

Suatu hari, saat Cucu baru saja akan berpamitan pada orang tuanya untuk bermain dengan Popo, ia mendengar ayah dan bundanya yang sedang mengobrol. “Bunda, sadar tidak, kalau banyak sekali akhir-akhir ini ranting-ranting kayu yang hanyut di sungai ini”, kata ayah. “Iya, kadang-kadang ranting-ranting itu melukai teman-teman kita juga lho Yah. Dulu tidak pernah ya. Kalaupun ada ranting, ya ranting kecil dari pohon di pinggiran sungai ini saja”, jawab ibu. “Kata temanku yang dari hulu, ada sekelompok manusia menebang banyak sekali pohon disana. Mungkin itu yang membuat ada banyak ranting dan sisa-sisa pohon ini”. “Wah, kalau pohon ditebangi, bagaimana dengan nasib sungai ini nanti Yah?”. “Ah tak tahulah Bunda, semoga saja tidak akan ada apa-apa”.

Cucu lalu berenang mencari sahabatnya, dan menceritakan apa yang baru saja ia dengar.

“Po, memang kalau pohon ditebangi, apa yang bisa terjadi?”. “Wah Cu, mana aku tahu. Tapi kan sekarang sungai ini baik-baik saja, jadi sudahlah, jangan risaukan pikiranmu dengan obrolan orang tuamu”.

Lalu pergilah mereka bermain-main, dan Cucu melupakan obrolan orang tuanya.

Sekitar seminggu setelah itu, datanglah musim hujan. Cucu dan Popo senang sekali. Karena di musim hujan sungai menjadi semakin dalam, sehingga mereka semakin asik menyelam.

Tapi hujan bertambah deras. 3 hari 3 malam turun tanpa henti. Popo dan orang tuanya harus berlindung di bawah bebatuan di pinggiran sungai, dan tidak bisa bermain dengan Cucu. Cucu sendiri diharuskan orang tuanya untuk tinggal di sarang mereka, sebuah gua kecil yang terbentuk dari gundukan batu.

Di akhir hari ketiga, di tengah derasnya hujan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Dan tanpa disangka, air beserta banyak sekali ranting dan sisa-sisa pohon, mengalir dengan derasnya, dan makin lama semakin besar tanpa bisa dibendung.

Air dan semua ranting serta sisa pepohonan itu, menerjang semua yang ada di hadapan mereka. Termasuk, sarang Popo dan keluarganya. Derasnya air bahkan membuat gundukan batu tempat Cucu dan orang tuanya berlindung, runtuh.

“Cucuuuu, selalu dekatlah dengan kami!” kata ayah dalam kepanikannya. Cucu sangat takut. Ia juga terpikir akan nasib Popo, sahabatnya. Sementara itu Popo dan orang tuanya juga berjuang menyelamatkan diri mereka dari terjangan ranting dan pepohonan.

Dalam air yang deras dan penuh ranting itu, Cucu merasa sangat kelelahan. Dan tiba-tiba ia tersadar bahwa orang tuanya tidak lagi terlihat. “Ayaaaahhhh……bundaaaaa……kalian dimanaaaa?!”. Tapi tidak ada jawaban. Cucu susah payah menghindari setiap ranting. Ia juga melihat teman-temannya berjuang menyelamatkan diri. Dan tiba-tiba ia melihat Popo, “Popoooo….aku disiniiiii!”.

Dua sahabat itu lalu berenang semampu mereka. “Cucu, ayo berenang di bawahku, kau akan terlindung dari ranting”. Dan berenanglah keduanya. Sampai akhirnya mereka tiba di air yang lebih tenang, dan mereka bisa menyelamatkan diri mereka ke pinggir.

Dalam kelelahannya, Popo bertanya, “Cu, mana orang tuamu?”. “Aku tidak tahu, tahu-tahu mereka sudah tidak ada di dekatku. Kau bagaimana?”. “Aku juga tidak tahu”. Dan mereka terdiam.

Setelah air tenang dan kedua sahabat pulih dari kelelahan mereka, Cucu berkata, “Mungkin ini yang dimaksud ayahku. Semua pohon yang ditebang itu jadi merusak sungai kita saat dihanyutkan oleh air dari atas. Tidak ada lagi yang menahan air, jadi semuanya masuk ke sungai, dan membuat melimpahnya air seperti tadi itu. Mengerikan ya Po. Dan sekarang kita tidak punya orang tua”. “Iya ya Cu. Kalau saja para manusia itu tahu apa yang telah mereka lakukan….”, lanjut Popo sedih.

“Ah sudahlah Po, daripada kita bersedih-sedih, yuk kita jelajahi saja tempat baru ini. Siapa tahu kita bisa bertemu teman-teman yang lain”, tukas Cucu. Dan pergilah mereka menjelajahi tempat itu.

Merekapun menemukan beberapa teman mereka yang juga terpisah dari orang tuanya. Walaupun mereka tidak bisa lagi bertemu dengan orang tua mereka, tapi Popo, Cucu, dan anak-anak ikan serta kura-kura lainnya, senang karena mereka tidak sendirian. Dan merekapun berharap, mereka tidak pernah lagi harus mengalami kejadian yang sama kelak. Mereka sama-sama berdoa, semoga manusia sadar bahwa perilaku merusak alam, telah membuat sengsara para binatang penghuni sungai.


(R I R I)

Bayangkan

Saat saya menulis ini, Indonesia sedang mengalami badai kedua (atau bahkan ketiga?), yang mengakibatkan naiknya kasus dan tingkat kematian, ...

Popular Posts